Stockholm, 15 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO PAKAI KACA MATA HITAM MBAK MEGA TIDAK TAMPAK AT-TAUBAH: 115, AL-ISRA: 15 & AL-MAIDAH: 44, 45, 47
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU SUMITRO KARENA MEMAKAI KACA MATA HITAM MBAK MEGA JADI TIDAK TAMPAK DASAR HUKUM AT-TAUBAH: 115, AL-ISRA: 15 & AL-MAIDAH: 44, 45, 47

"Saudara Ahmad pernah menyatakan bahwa dia bukan yang menyatakan para pemimpin RI sebagai kafir tapi Allah SWT lewat Al Maidah 44,45 dan 47. Padahal di ayat tersebut tidak menyatakan nama seseorang sebagai kafir. Memang, Ayat yang menyebutkan bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT adalah orang yang kafir merupakan bagian dari surat Al-Maidah (seperti tercantum diatas). Namun tidak berarti setiap orang berhak menuduh kafir secara begitu saja kepada siapapun yang menurut anggapannya tidak menjalankan hukum Allah SWT." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Wed, 15 Sep 2004 13:21:19 +0700)

Baiklah Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Sumitro itu soal menghukum atau menjatuhkan vonis seseorang kafir harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Seseorang tidak punya hak untuk mengkafirkan atau menyatakan seseorang keluar dari keyakinan keIslamannya, kecuali semuanya dikembalikan kepada dasar hukum Allah SWT yang telah diturunkan Allah SWT.

Nah sampai disini, apakah saudara Sumitro paham atau tidak kalimat yang ditulis Ahmad Sudirman diatas itu ? Mengapa Ahmad Sudirman bertanya demikian kepada Sumitro ? Karena kelihatannya Sumitro ini tidak paham tentang masalah pengkafiran seseorang.

Ahmad Sudirman telah menjelaskan di mimbar bebas ini tentang masalah pengkafiran seseorang ini. Dimana Ahmad Sudirman hubungkan dengan dasar hukum QS, At-Taubah, 9: 115: "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS, At-Taubah, 9: 115).

Dimana seseorang sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Karena itu seseorang tidak akan diazab oleh Allah karena kesesatannya, kecuali jika orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya.

Kemudian Ahmad Sudirman menghubungkan juga dengan dasar hukum QS, Al-Isra, 17: 15 "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS, Al-Isra, 17: 15).

Nah dari dua dasar hukum diatas itu, yakni QS, At-Taubah, 9: 115 dan QS, Al-Isra, 17: 15 ternyata jatuhnya azab, dimana azab Allah ini sebagai balasan akibat perbuatan sesat karena melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan Allah SWT, terhadap seseorang apabila orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya dan setelah diutus Rasul-Nya.

Artinya, Allah SWT tidak akan mengazab seseorang sebelum diutus Rasul-Nya.

Sekarang, kita hubungkan dengan dasar hukum Al-Maidah: 44. Dimana menurut bunyi dasar hukum Al-Maidah: 44 itu adalah: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maidah: 44)

Kalau kita gali isi kandungan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini ternyata memberikan gambaran kepada kita bahwa akan dikenakan Azab Allah SWT terhadap seseorang yang melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya (QS, At-Taubah, 9: 115) dan setelah diutus Rasul-Nya Muhammad saw (QS, Al-Isra, 17: 15)

Kemudian isi kandungan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini adalah yang menyangkut kepada aqidah atau kepercayaan seseorang terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Nah, berdasarkan pada isi dasar hukum Al-Maidah: 44 ini menunjukkan bahwa "Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir"

Jatuhnya vonis kafir terhadap seseorang ini adalah didasarkan kepada aqidah atau kepercayaan seseorang terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Sekarang, untuk melihat bagaimana aplikasi dari dasar hukum Al-Maidah: 44 ini harus memakai kacamata yang sebagaimana yang telah dipakai oleh Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz yang telah melihat dan menyatakan: "Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan: Pertama, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Kedua, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Ketiga, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka ia kafir dengan kekafiran yang besar. Keempat, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22)

Nah sekarang, sedikit jelas dalam memahami bagaimana proses jatuhnya vonis kafir terhadap seseorang tersebut, setelah kita membuka jalur yang menuju kepada timbulnya atau ketetapan jatuhnya hukuman atau vonis kafir terhadap seseorang.

Karena saudara Sumitro menulis: "Berdasarkan 3 ayat tersebut diatas beberapa waktu yang lalu bang Ahmad CS jelas2 menyatakan bahwa Indonesia (punya rakyat dan pemimpin) sebagia kafir bahkan nyata2 bang Ahmad menyebut Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno sebagia kafir padahal nyata-nyata mereka yang di vonis kafir tersebut adalah muslim."

Dari apa yang ditulis Sumitro diatas itu, ternyata Ahmad Sudirman tidak melihat bahwa Sumitro itu paham dan mengerti proses jalannya penetapan vonis atau hukuman kafir terhadap seseorang. Sehingga melahirkan dugaan dan sangkaan kepada Ahmad Sudirman dengan mengatakan: "bahkan nyata2 bang Ahmad menyebut Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno sebagia kafir padahal nyata-nyata mereka yang di vonis kafir tersebut adalah muslim."

Padahal Ahmad Sudirman tidak pernah mengatakan seperti yang ditulis oleh Sumitro tersebut. Mengapa ? Karena kalau ditelaah kembali apa yang telah dijelaskan oleh Ahmad Sudirman diatas, maka akan jelas siapa yang menjatuhkan vonis atau human kafir terhadap seseorang itu.

Kita buka sedikit. Kemudian kita singgung nama-nama seperti yang dikutip Sumitro, yaitu Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno, lalu kita lihat berdasarkan dasar hukum QS, At-Taubah, 9: 115; QS, Al-Isra, 17: 15; Al-Maidah: 44, dan dalil Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz. Ternyata yang timbul ada empat golongan, yaitu

Pertama apabila Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, karena KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945 itu lebih utama dari syariat Islam, maka Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Kedua, apabila Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, karena KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945 itu sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Ketiga, apabila Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Keempat, apabila Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, namun Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dan Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno kerjakan karena perintah dari atasannya, maka Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

Nah inilah yang telah diterangkan dan dijelaskan oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Jadi Sumitro, tidak ada lagi alasan bagi saudara Sumitro untuk terus mengulang-ulang mengatakan: "Saudara Ahmad pernah menyatakan bahwa dia bukan yang menyatakan para pemimpin RI sebagai kafir tapi Allah SWT lewat Al Maidah 44, 45 dan 47. "

Selanjutnya Sumitro mengatakan: "Terus Ahmad juga dalam mimbar ini menggolongkan suadara Rokhmawan dan kelompoknya sebagai kelompok sesat dan kafir dan bahkan kelompok rokhmawan nyata-nyata dihalalkan untuk di bunuh..Astagfirullah !"

Nah disini saudara Sumitro sudah jauh melantur dalam menceritakan Ahmad Sudirman. Mengapa ? Karena Ahmad Sudirman tidak pernah mengatakan seperti yang dikatakan oleh Sumitro.

Pernah masalah ini diperkatakan juga oleh saudara Joko Riyanto pada tanggal 8 September 2004. Dimana Ahmad Sudirman telah menjawabanya. Karena mungkin Sumitro tidak pernah membaca jawaban Ahmad Sudirman kepada Joko Riyanto, maka disini Ahmad Sudirman akan kutip kembali apa yang telah disampakan kepada Joko Riyanto.

Dimana Ahmad Sudirman mengatakan:

"Kalian Rokhmawan dan salafi-nya di Solo secara sadar dan terang-terangan telah membuka front pertentangan dan permusuhan secara terbuka dengan ASNLF/GAM, TNA, NII, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir, Hizbut Tahir, LDII, dll. Kalian Rokhmawan dan salafi-nya di Solo telah secara sadar dan terang-terangan ikut mendukung dan membantu pembunuhan yang dilakukan oleh TNI/POLRI terhadap rakyat Acheh yang muslim di Negeri Acheh. Rokhmawan dan Salafi-nya kalian secara sadar telah menjadikan ummat Islam yang ada diluar golongan Salafi-nya di Solo yang sesat, munafik, dan teroris sebagai musuh utama kalian. Kalian Rokhmawan dan salafi-nya telah dengan rela, sadar dengan sepenuh hati mendukung dan membela sistem thaghut pancasila yang dipakai untuk menggempur dan membunuh rakyat Acheh yang muslim yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara kafir Pancasila. Wahai kaum muslimin di seluruh Nusantara dan diseluruh dunia, itu Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo telah membuka konfrontasi dan permusuhan terhadap kaum muslimin yang berada diluar kelompok dan golongan Salafi di Solo, seperti ASNLF/GAM, TNA, NII, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir, Hizbut Tahir, LDII, dll. (Ahmad Sudirman, 22 Juli 2004)

Coba Sumitro perhatikan apa yang ditulis Ahmad Sudirman diatas dengan apa yang Sumitro katakan: "Terus Ahmad juga dalam mimbar ini menggolongkan suadara Rokhmawan dan kelompoknya sebagai kelompok sesat dan kafir dan bahkan kelompok rokhmawan nyata-nyata dihalalkan untuk di bunuh..Astagfirullah !"

Kan jauh berbeda Sumitro. Makanya kalau membaca tulisan Ahmad Sudirman itu jangan sambil mata pejam. Karena akhirnya kalau mengutip seenaknya lalu dikatakan itu yang dikatakan Ahmad Sudirman, hasilnya jadi salah kaprah dan amburadul. Semua yang Ahmad Sudirman tulisa dan katakan di mimbar bebas ini tercatat dan tersimpan dengan rapih.

Sumitro sekali lagi Ahmad Sudirman mengatakan di mimbar bebas ini bahwa apa yang kalian selalu katakan kepada Ahmad Sudirman: "Menuduh seseorang sebagai kafir memang harus dibuktikan secara syah, karena tuduhan kafir itu berimplikasi yang cukup berat."

Tetapi, memang Ahmad Sudirman memahami mengapa Sumitro selalu mengulang-ulang kalimat tersebut ?. Karena memang Sumitro itu tidak paham dan tidak mengerti mengenai pandangan Islam terhadap penjatuhan hukuman atau vonis kafir terhadap seseorang.

Diharapkan sesudah dijelaskan kembali oleh Ahmad Sudirman diatas, itu Sumitro telinganya bisa mendengar lagi dan otaknya menjadi terbuka dan hatinya menjadi lapang. Jadi tidak dengan seenak perutnya sendiri lagi mengatakan yang bukan-bukan kepada Ahmad Sudirman dengan tuduhan mengkafirkan atau atau melakukan takfir.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>,
ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>,Redaksi Kompas redaksi@kompas.com
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: Hukum orang yang berani men-kafir-kan orang
Date: Wed, 15 Sep 2004 13:21:19 +0700

Assalamu `alaikum War. Wab.

1. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah : 44 )
2. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim (QS. Al-Maidah : 45)
3. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang faqiq. (QS. Al-Maidah : 47)

Berdasarkan 3 ayat tersebut diatas beberapa waktu yang lalu bang Ahmad CS jelas2 menyatakan bahwa Indonesia (punya rakyat dan pemimpin) sebagia kafir bahkan nyata2 bang Ahmad menyebut Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Soeharto, Soekarno sebagia kafir padahal nyata-nyata mereka yang di vonis kafir tersebut adalah muslim.

Nach apakah dalam Islam dibenarkan seseorang menyatakan kelompok atau seseorang sebagai kafir? seperti halnya ahmad CS menyebutkan pemimpin2 Indonesia sebagai kafir?.

Saudara Ahmad pernah menyatakan bahwa dia bukan yang menyatakan para pemimpin RI sebagai kafir tapi Allah SWT lewat Al Maidah 44,45 dan 47. Padahal di ayat tersebut tidak menyatakan nama seseorang sebagai kafir.

Memang, Ayat yang menyebutkan bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT adalah orang yang kafir merupakan bagian dari surat Al-Maidah (seperti tercantum diatas).

Namun tidak berarti setiap orang berhak menuduh kafir secara begitu saja kepada siapapun yang menurut anggapannya tidak menjalankan hukum Allah SWT.

Proses untuk menjatuhkan vonis kafir itu haruslah dilakukan berdasarkan data dan pengajuan aduan ke sebuah lembaga formal yang berwenang, yaitu mahkamah syar'iyah.

Sedangkan mengakfirkan seseorang secara terburu-buru hanya berdasarkan sepotong ayat merupakan ciri khas kelompok khawarij. Sebuah dosa dan maksiat sudah cukup dijadikan bahan untuk mengkafirkan seorang muslim bagi mereka. Sedangkan manhaj ahli sunnah wal jamaah agak ketat dalam masalah pengkafiran ini.

Untuk menghukumi seseorang menjadi kafir, diperlukan proses berlipat, diantaranya adalah harus adanya sebuah mahkamah syar'iyah yang berwenang memanggil orang yang dicurigai sebagai pelaku tindak kekafiran. Setelah dilakukan peneilitian dan disimpulkan bahwa seseorang memang telah dianggap melakukan hal yang membatalkan syahadatnya, maka orang itu diminta untuk taubat atau dikenal dengan istilah istitabah.

Kalau sudah sampai pada proses itu ternyata tersangka tetap membandel dan terang-terangan melawan pihak pengadilan, barulah dia divonis sebagai kafir.Namun proses selanjutnya, orang tersebut harus dihukum sesuai dengan hukum Allah SWT, yaitu dibunuh.

Oleh karena itu konsekuensi menuduh kafir adalah sebuah konsekuansi yang sangat dahsyat. Apalagi ada riwayat yang menyebutkan bahwa siapa yang menuiduh orang muslim sebagai kafir, tetapi tidak benar, maka tuduhan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri.

Terus Ahmad juga dalam mimbar ini menggolongkan suadara Rokhmawan dan kelompoknya sebagai kelompok sesat dan kafir dan bahkan keompok rokhmawan nyata-nyata dihalalkan untuk di bunuh..Astagfirullah !

Bang Ahmad, takfir adalah mengkafirkan seorang muslim atau kelompok muslim yang dianggap tidak sesuai dengan seleranya, entah karena pendapatnya atau mungkin karena tidak berbai`at kepada kelompok atau pemimpin (GAM/ Hasan Tiro). Ciri takfir ini selalu ada dan menjadi ciri khas kelompok yang menyimpang.

Jadi secara psikologis, ahmad dan kelompoknya ingin menanamkan rasa bangga dan ekslusifisme tertentu kepada anggotanya dengan memberi label muslim kepada kelompok mereka dan label non muslim kepada selain mereka (di luar kelompok). Di zaman dahulu, mudah mengkafirkan orang lain oleh sebab dosa atau maksiat adalah ciri dari aliran khawarij. Bukan bagian dari paham aqidah lurus ahli sunnah wal jamaah.

Menuduh seseorang sebagai kafir memang harus dibuktikan secara syah, karena tuduhan kafir itu berimplikasi yang cukup berat. Oleh karena itu, seperti yang saya sampaikan di atas menuduh seseorang secara langsung atau menunjuk batang hidung seseorang sebagai kafir harus dibuktikan dalam sebuah pengadilan. Bila tuduhan itu tidak terbukti, maka yang menuduh itu berdosa dan bahkan ada keterangan yang menyebutkan bahwa justru si penuduh itu sendirilah yang kafir.

Namun bila tudingan kafir itu bersifat umum tanpa menyebutkan nama atau menentukan personal tertentu, maka bukan termasuk dalam kasus ini. Misalnya kita mengatakan bahwa orang yang terang-terangan ingkar pada satu saja dari ayat Allah (Al-Quran), maka orang itu termasuk kafir. Ketika mengatakan itu, kita tidak menyebutkan siapakah orangnya atau tidak menunjuk batang hidungnya. Maka ini bukan tuduhan tapi pernyataan yang bersifat umum dan dapat dibenarkan

Bang Ahmad cs saya ulangi lagi yach.

Dalam dunia Islam terkadang ada orang yang pikiran atau fikrohnya terkontaminasi dengan arus yang sesat. Secara hukum, mereka itu tidak bisa langsung dituduh kafir dan sebagainya. Harus ada sebuah mahkamah (pengadilan) yang melakukan klarifikasi dan konfirmasi atas ungkapan-ungkapan orang tersebut. Benarkah dia mengatakannya? Apakah yang dimaksud dengan ungkapanya itu? Dan banyak pertanyaan lainnya yang harus disampaikan dan dijawab. Bila ternyata para hakim dan qadhi sampai pada kesimpulan bahwa seseorang memang telah betul-betul keluar dari aqidah Islam, maka kepada yang bersangkutan harus dilakukan "istitabah', yaitu memintanya untuk bertaubat dengan mencabut pernyataan kufurnya dan kembali ke dalam aqidah islamiyah yang shahih. Bila istitabah ini tidak berhasil, barulah hakim berhak memutuskan bahwa dia adalah kafir.

Dan kekafirannya itu harus diumumkan beserta dengan segala konsekuensi hukum yang menyertainya. Dan yang paling penting, seorang yang secara nyata dan tegas menyatakan diri keluar dari ISLAM / murtad, maka hukumannya adalah hukuman mati.Dalam kasus aliran sesat atau sekuler, kalau memang benar dia keluar dan menyimpang dari aqidah Islamiyah, maka vonis kafir-tidak nya bukan pada orang per orang tapi pada mahkamah syar`iyah. Dan semua proses penyelidikan itu harus dilakukan terlebih dahulu sampai dengan istitabah. Dan selama tidak ada keputusan hukum yang syah, maka tidak ada yang berhak untuk menuduh seseorang telah kafir.

Demikian dan Wallahu a'lam Bish-shawab.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------