Stockholm, 15 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO MASIH TERSELIMUTI PANCASILA UNTUK BISA MEMAHAMI DASAR HUKUM TENTANG TAKFIR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU SUMITRO MASIH KURANG MEMAHAMI DASAR HUKUM TENTANG TAKFIR

"Bang Ahmad anda ini begitu pelupa atau apa yach anda pernah menulis dan mengkafirkan pemimpin RI dan bangsa Indonesia sebagaimana dibawah ini. Jadi bang Ahmad jangan mengelak dari apa yang Ahmad tulis dan sampaikan." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Wed, 15 Sep 2004 17:20:06 +0700)

Baiklah Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Sumitro sebagaimana yang Ahmad Sudirman katakan sebelum ini bahwa saudara Sumitro ini memang tidak mengerti dan tidak paham apa yang terkandung dalam dasar hukum Al-Maidah: 44. Disamping itu Sumitro memang tidak mengerti bagaimana proses penjatuhan hukuman atau vonis kafir terhadap seseorang.

Dan memang Sumitro tidak mengenal dan memahami bahwa soal menghukum atau menjatuhkan vonis seseorang kafir harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Seseorang tidak punya hak untuk mengkafirkan atau menyatakan seseorang keluar dari keyakinan keIslamannya, kecuali semuanya dikembalikan kepada dasar hukum Allah SWT yang telah diturunkan Allah SWT.

Sumitro kalau Ahmad Sudirman mengatakan:

"Tetapi disini Ahmad Sudirman tidak mengatakan demikian, melainkan mengatakan: "para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT, sebagaimana di-Firman-kan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw, maka mereka itu disebut kafir, zhalim, fasik. Kan, jelas itu apa yang dikatakan Ahmad Sudirman. Dimana Ahmad Sudirman tidak menyembunyikan dan memotong sebagian isi dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itu." (Ahmad Sudirman, 27 Juli 2004)

Nah, dalam hal ini sudah berpuluh kali dijelaskan bahwa dasar hukum yang dipakai oleh Ahmad Sudirman itu adalah dasar hukum yang Allah SWT telah menjatuhkan vonis atau hukuman kafir kepada siapa yang tidak memutuskan suatu perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT.

Sumitro, mengapa Ahmad Sudirman menaruhkan nama-nama Pemimpin Negara RI itu dalam hal pembicaraan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini ? Karena yang sedang dibicarakan adalah masalah aturan, hukum, undang-undang, undang undang dasar dalam satu negara.

Karena dalam dasar hukum itu dinyatakan barang siapa, maka dalam hal ini perlu diberitahukan siapa yang duduk dalam lembaga-”embaga pembuat aturan, hukum, undang undang, undang undang dasar.

Bagaimana bisa kita mengetahui yang dimaksud dengan kata-kata "barang siapa " kalau tidak disebutkan pelaku-pelakunya ?. Bisa saja memasukkan pelaku-pelakunya, misalnya Tony Blair, George W. Bush, Putin, Castro, dsb.

Jadi, Sumitro, kalau saudara masih saja terbelenggu dengan kedangkalan jalan pikiran saudara dalam memahami dasar hukum Al-Maidah: 44 itu, maka susah bagi saudara untuk bisa memahami tentang pemahaman mengenai penegakkan, pelaksanaan dan penerapan hukum Islam ini.

Tapi bisa dimengerti karena memang saudara Sumitro bukan bidangnya, sehingga susah untuk mencerna, memahami dan menghayati apa yang telah diturunkan Allah SWT ini.

Kemudian, kalau Ahmad Sudirman menulis: "para Pimpinan Negara kafir RI". Dimana yang dimaksud kafir disini adalah untuk sebutan negara. Yang mana Negara RI disebut dengan Negara kafir RI. Sebabnya adalah karena dasar dan sumber hukum Negara RI adalah pancasila bukan Islam artinya Al-Qur'an dan Sunnah. Sedangkan Negara Islam adalah negara yang dasar dan sumber hukum negaranya Islam, artinya bersumberkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Sedangkan untuk menyaring para pimpinannya apakah termasuk kedalam golongan kafir, zhalim, fasik harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT, seperti Al-Maidah: 44, 45, 47; At-Taubah: 115; Al-Isra: 15.

Kemudian Sumitro menyatakan: "Dibagian tertentu saya tuliskan ahmad CS karena CS anda yang bernama Muhammad Al Qubra juga menyatakan hal yang sama (mengkafirkan seseorang) sebagaimana tulisan dia berikut: "Disatu sisi kalian tidak ingin Sukarno, Suharto, Gus Dur dan Megawati dikatakan kafir sebab mereka satu golongan dengan kalian, namun disisi yang lain anda terus saja bersekongkol dengan mereka.Yang termasuk kafir menurut ayat tersebut bukan saja Sukarno, Suharto, Gus Dur dan Megawati, tetapi juga kalian sendiri beserta seluruh orang-orang yang bersekongkol dalam aystem thaghut Hindunesia Jawa, kecuali orang orang yang bertaqiah, termasuk kaum dhuafa yang tidak berdaya sama sekali, bukan saja di Kepulauan Melanesia tapi juga dimanapun di seluruh Dunia. Ini bukan fitnah tapi kenyataan. Kalian memangnya tidak berpedoman dengan Al Qur-an dalam hidup ini, makanya kalian bantah setiap ayat yang menjelaskan posisi kalian disisi Allah. " (Sandnes, 27 Juli 2004)"

Sebenarnya sama juga apa yang dikatakan oleh saudara Muhammad Al Qubra ini. Kalau semuanya dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT.

Seperti yang telah Ahmad Sudirman kemukakan dalam tulisan sebelum ini, dimana disini Ahmad Sudirman kutipkan kembali:

"Sekarang, untuk melihat bagaimana aplikasi dari dasar hukum Al-Maidah: 44 ini harus memakai kacamata yang sebagaimana yang telah dipakai oleh Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz yang telah melihat dan menyatakan: "Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:

Pertama, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Kedua, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Ketiga, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

Keempat, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22)

Nah silahkan oleh Sumitro cari nama-nama lain atau pilih nama-nama seperti George W. Bush, Putin, Tony Blair, Castro, Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Amien Rais, Akbar Tandjung, Endriartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu, AM Hendropriyono, Da'i Bachtiar.

Kemudian hubungkan dengan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47; At-Taubah: 115; Al-Isra: 15, dan pendapat dari Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro <mitro@kpei.co.id>
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>,
ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: RE: SUMITRO PAKAI KACA MATA HITAM MBAK MEGA TIDAK TAMPAK AT-TAUBAH: 115, AL-ISRA: 15 & AL-MAIDAH: 44, 45, 47
Date: Wed, 15 Sep 2004 17:20:06 +0700

Bang Ahmad anda ini begitu pelupa atau apa yach anda pernah menulis dan mengkafirkan pemimpin RI dan bangsa Indonesia sebagaimana dibawah ini. Jadi bang Ahmad jangan mengelak dari apa yang Ahmad tulis dan sampaikan.

Dibagian tertentu saya tuliskan ahmad CS karena CS anda yang bernama M al Qubra juga menyatakan hal yang sama (mengkafirkan seseorang) sebagaimana tulisan dia berikut:

"Disatu sisi kalian tidak ingin Sukarno, Suharto, Gusdur dan Megawati dikatakan kafir sebab mereka satu golongan dengan kalian, namun disisi yang lain anda terus saja bersekongkol dengan mereka.Yang termasuk kafir menurut ayat tersebut bukan saja Sukarno, Suharto, Gusdur dan Megawati, tetapi juga kalian sendiri beserta seluruh orang-orang yang bersekongkol dalam aystem
thaghut Hindunesia Jawa, kecuali orang orang yang bertaqiah, termasuk kaum dhuafa yang tidak berdaya sama sekali, bukan saja di Kepulauan Melanesia tapi juga dimanapun di seluruh Dunia. Ini bukan fitnah tapi kenyataan. Kalian memangnya tidak berpedoman dengan Al Qur-an dalam hidup ini, makanya kalian bantah setiap ayat yang menjelaskan posisi kalian disisi Allah. " (Sandnes, 27 Juli 2004)

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
ahmad.swaramuslim.net

Stockholm, 27 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO JANGAN PUTAR-BALIK DAN TUTUPI AL-MAIDAH: 44, 45, 47
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
 

KELIHATAN DENGAN JELAS SUMITRO TERUS PUTAR-BALIK DAN TUTUPI AL-MAIDAH: 44, 45, 47 GUNA MEMBENTENGI PARA PIMPINAN NEGARA KAFIR RI

"Sumitro, Ahmad Sudirman telah berulangkali menulis dan menjelaskan bahwa Allah SWT yang telah menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT, sebagaimana yang tertuang dalam Firman surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47, dengan sebutan kafir, zhalim, fasik.

Pemahaman dan pengimanan yang mendalam dan sepenuh hati terhadap ayat-ayat dasar hukum surat Al-Maidah inilah yang sampai detik ini tidak terjadi dan tidak dijalankan sepenuh hati oleh saudara Sumitro, sehingga melahirkan pemikiran tersebut diatas.

Coba pikirkan, bagaimana mungkin Ahmad Sudirman akan mampu dan bisa menulis dan menjelaskan tentang mereka para pimpinan Negara RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT, sebagaimana yang tertuang dalam Firman surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47, dengan sebutan kafir, zhalim, fasik, kalau bukan didasarkan kepada nash kuat yang tertuang dalam Firman Allah SWT surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47.

Apakah Ahmad Sudirman yang menjatuhkan hukuman kafir, zhalim, fasik terhadap mereka para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT ?

Jelas, Ahmad Sudirman tidak membuat dan menetapkan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47. Justru yang Menetapkan, Membuat, Menurunkan, Memfirmankan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 adalah Allah SWT yang menurunkan-Nya kepada Rasul-Nya Muhammad saw ketika Haji Wada' pada tahun 10 H.

Jadi, berdasarkan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itulah Ahmad Sudirman melihat apa yang telah dijalankan oleh para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang
telah diturunkan Allah SWT.

Apakah Ahmad Sudirman akan menutupi sebagian dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itu ketika melihat para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan
Allah SWT ?

Kemudian Ahmad Sudirman dengan munafiknya mengatakan: "walaupun para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT, tetapi para pimpinan RI itu tidak bisa disebut kafir, zhalim, fasik, kendatipun bertentangan dengan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47.

Kalau Ahmad Sudirman mengatakan seperti diatas itu, jelas itu menandakan dan menggambarkan bahwa Ahmad Sudirman tidak meyakini sepenuh hati dan tidak mengimani sepenuh keyakinan, dan tidak menjalankan sepenuh hati dan sepenuh tenaga dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 yang telah diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw pada Haji Wada' tahun 10 H.

Jadi dalam hal ini Ahmad Sudirman telah ikut terlibat dan bersekongkol bersama para pimpinan RI itu dalam hal pembangkangan terhadap dasar hukum yang telah ditetapkan dan diputuskan Allah SWT dalam Al-Maidah: 44, 45, 47.

Tetapi disini Ahmad Sudirman tidak mengatakan demikian, melainkan mengatakan: "para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung yang telah membuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, lalu tidak memutuskan, dan tidak menetapkan suatu hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang telah diturunkan Allah
SWT, sebagaimana di-Firman-kan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw, maka mereka itu disebut kafir, zhalim, fasik.

Kan, jelas itu apa yang dikatakan Ahmad Sudirman. Dimana Ahmad Sudirman tidak menyembunyikan dan memotong sebagian isi dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itu."

Saudara Sumitro, apa yang saudara bandingkan antara orang-orang sebagaimana yang diterangkan dalam isi dasar hukum Al-Maidah diatas dengan apa yang saudara tampilkan dalam cerita saudara dibawah ini, yaitu:

"Deringan suara pedang demikian deras. Tiba-tiba seorang sahabat menjatuhkan lawannya dari ubu kafir ke atas tanah Tanpa sangka-sangka, tiba-tiba saja sang kafir berucap "Laa ilaaha illallah-Muhammadan Rasulullah". Sang sahabat berfikir, apa yang diucapkannya itu adalah kebohongan semata. Maka pedangnya pun melebat menebas leher musuhnya tadi. Ia pun meninggal dengan ucapan terakhir "Kalimah Laa ilaaha illallah-Muhammadan Rasulullah". Mendengar kejadian tersebut, Rasulullah SAW memanggil sahabat yang mulia itu. Seorang sahabat yang dikenal kekentalan iman dan loyalitasnya terhadap kebenaran dan pembawanya (Rasulullah SAW). Begitu mendekat, beliau menanyakan: "Apa gerangan yang menjadikan kamu membunuhnya?" Dengan hati yang mantap dijawabnya: "Ia mengucapkan itu karena ketakutan ya Raulullah". Namun Rasulullah kembali menanyakan dengan suatu ungkapan yang tak perlu dijawab karena sekaligus merupakan jawaban (Suaal istifhami): "Hal syaqaqtamin qalbih?" (Apakah anda telah membuka hatinya?). Mendengar itu, sang sahabat agung terdiam seribu bahasa. Serentak ia berkata kepada rekan-rekannya: "Rasanya saya baru saja masuk Islam".(Sumitro, Tue, 27 Jul 2004 08:28:55 +0700)

Jelas, Sumitro, itu berbeda sekali kasus dan masalahnya. Mengapa ?

Karena yang saudara Sumitro gambarkan dalam cerita itu, orang yang ditebas lehernya oleh sahabat Rasulullah saw tidak menyangkut masalah hukum. Apakah orang yang dilibas lehernya itu orang yang memiliki kekuasaan dalam satu lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang dalam satu Negara lalu tidak menetapkan dan tidak menjatuhkan hukuman menurut aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw ?.

Jelas, orang yang ditebas lehernya oleh sahabat Rasulullah saw adalah orang yang bukan digambarkan dalam isi dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47. Karena itu, orang tersebut tidak bisa disaring dan dikenakan hukuman berdasarkan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47.

Jadi Sumitro, ketika Ahmad Sudirman menampilkan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itu sasaran, objek, orang, pelaku, tindakan, perbuatannya sudah jelas bisa dimasukkan kedalam ruang lingkup isi dari apa yang tertuang dalam dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47.

Contohnya, kalau di Negara kafir RI, para pimpimpinan Eksekutif, Legislatif, Yudikatif. Dimana mereka itulah yang berkecimpung dalam pembuatan, penetapan mengenai bidang yang menyangkut masalah peraturan, hukum, undang-undang, konstitusi atau undang undang dasar.

Terakhir, saran saya kepada Sumitro dan yang lainnya, kalau kalian ingin memperdebatkan masalah dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47, maka sebelumnya kalian harus mengetahui dan menguasai permasalahan yang terkandung dalam dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 itu.

Karena kalau kalian tidak menguasai permasalahannya yang terkandung dalam dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47, maka kalian akan melantur kemana-mana, seperti apa yang dilakukan dan ditulis oleh Sumitro dan Rokhmawan bersama Salafi-Solo-nya itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------