Stockholm, 18 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN DANGKAL DALAM MEMAHAMI PROSES TEGAKNYA DAULAH ISLAM DI YATSRIB
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU WAHABIYIN ROKHMAWAN DANGKAL DALAM MEMAHAMI PROSES TERBENTUK DAN TEGAKNYA DAULAH ISLAMIYAH PERTAMA DI YATSRIB YANG DIBANGUN RASULULLAH SAW

"Wah, memang terpaksa saya akui bahwa pengetahuan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman baik itu pengetahuan sejarah umum maupun sejarah Islam memang luas dan disertai dengan referensi yang banyak yang ada di perpustakaannya tetapi dengan pengetahuannya yang luas itu malah mengundang murka Alloh SWT di karenakan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan kroni-kroninya, NII, GAM/TNA hanya pandai berbicara tetapi tidak bisa mencontoh suri tauladan dari sejarah Islam terutama mengenai pembentukan Daulah Islam di Madinnah, sehingga yg terkesan adalah mereka semua bukannya ingin mencontoh bagaimana cara membentuk daulah Islam melainkan hanya mengikuti hawa nafsunya belaka." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Fri, 17 Sep 2004 23:50:07 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sampai detik sekarang ini ternyata Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dalam mempelajari, menelaah, menghayati, menyimpulkan misi dakhwah risalah Rasulullah saw dari sejak di Mekkah sampai ke Yatsrib yang salah satunya menyangkut masalah penegakkan, pembangunan, pembinaan Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib, hanyalah baru sapai sebatas penglihatan matanya, masih belum masuk kedalam pikiran dan hati sanubarinya. Mengapa ?

Karena ternyata dari apa yang telah dijelaskan dan diterangkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dalam emailnya pagi ini, Ahmad Sudirman masih melihat dan membaca sesuatu hal yang masih menghalangi jalan pikiran dan saringan hati sanubarinya tentang contoh misi dakhwah risalah Rasulullah saw dalam hubungannya dengan Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib.

Apakah yang masih menjadi penghalang jalan pikiran dan saringan hati sanubari Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ?

Yang menjadi penghalang jalan pikiran dan saringan hati sanubari Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah kedangkalan dalam pemahaman tentang proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib.

Mengapa Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi masih dangkal dalam memahami proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib ?

Karena, terbukti Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi hanya bisa memberikan dasar argumentasinya dengan pernyataan yang berbunyi: "Saya yakin semua orang Islam yg terlibat di mimbar bebas ini mengetahui sejarah terbentuknya itu Daulah Islam Madinnah walaupun hanya secara garis besarnya saja. Yaitu dengan perjanjian antara Rosululloh dengan para penduduk di Madinnah baik itu muslim, yahudi ataupun nasrani."

Nah dengan ditampilkannya dasar argumentasi tersebut, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi telah mengunci dirinya dalam sebagian kecil dari jalur proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama.

Memang lahirnya pakta perjanjian bersama antara kaum Muhajirin, Anshar dan Yahudi pada tahun 1 Hijrah merupakan puncak dari jalur proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib. Tetapi yang dilupakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah awal dari jalur proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam di Yatsrib ini.

Dimana kalau ditelusuri lebih kedalam, maka akan ditemukan awal proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib adalah dengan timbulnya pertentangan ideologi, yakni antara ideologi Islam yang didalamnya tertanam aqidah, tauhid dengan ideologi non-Islam kaum Quraisy yang penuh dengan syirik dan kebatilan. Timbulnya penentangan dan sikap permusuhan dari pihak penguasa Quraisy Mekkah atas misi Rasulullah saw dalam menyebarkan risalahnya. Timbulnya tindakan-tindakan yang berupa penyiksaan, usaha pembunuhan, penganiayaan, penghinaan terhadap Rasulullah saw dan orang-orang yang baru masuk Islam dari pihak penguasa Quraisy. Timbulnya kesepakatan bersama antara Rasulullah saw dengan orang-orang Yatsrib, terutama dengan suku Aus dan suku Khazraj. Sebagaimana yang telah ditunjukkan ketika enam orang Yatsrib datang ke Mekah dan memeluk Islam di Aqabah pada tahun ke 10 Kenabian (tahun Masehi). Dan dilanjutkan dengan datangnya 12 orang Yatsrib pada tahun ke 11 Kenabian (tahun Masehi) dan melakukan ikrar Aqabah pertama. Kemudian dilanjutkan dengan datangnya 73 orang Yatsrib dari suku Khazraj dan Aus yang juga melakukan ikrar Aqabah kedua pada tahun ke 12 Kenabian (tahun Masehi).

Jadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak melihat itu semua sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh dalam menunjang terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam di Yatsrib ini.

Sekarang, karena Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi masih dangkal dalam memahami proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib ini, maka ketika menghubungkan dengan proklamasi berdirinya Negara Islam Indonesia dan Negara Acheh dengan proklamasi ulangannya, langsung saja Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi berteriak: "Nah sedangkan yang terjadi pada proklamasi NII, GAM/TNA mana ada mereka sempat mengadakan perjanjian dengan penduduk dari kalangan mana saja melainkan itu proklamasi atas perjanjian pejabat NII, GAM/TNA sendiri dengan segelintir penduduk yg pro dg mereka. Dengan begitu jelas mereka telah memaksakan kehendaknya kepada penduduk di seluruh Aceh dan Indonesia untuk mengakui keberadaannya sebagai Negara yg syah baik de jure maupun de fakto."

Nah disini, kelihatan itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak pernah membaca Pakta Perjanjian bersama antara kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi dan siapa-siapa yang ikut dalam Pakta Perjanjian tersebut. Juga Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak mau membaca dan tidak mau mengerti bahwa Rasulullah saw telah mengadakan Ikrar Aqabah pertama dan kedua pada tahun ke 11 dan ke 12 Kenabian (tahun Masehi) yang diikuti pada ikrar Aqabah pertama oleh 12 orang utusan dar Yatsrib, sedangkan pada ikrar Aqabah kedua diikuti oleh 73 orang dari Yatsrib yang diwakili oleh suku Aus dan suku Khazraj.

Jadi kalau memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi paham dan mengerti tentang jalur proses terbentuk dan tegaknya Daulah Islamiyah atau Negara Islam di Yatsrib ini, tidak akan bercuap seenak perutnya sendiri dengan mengatakan: "yang terjadi pada proklamasi NII, GAM/TNA mana ada mereka sempat mengadakan perjanjian dengan penduduk dari kalangan mana saja melainkan itu proklamasi atas perjanjian pejabat NII, GAM/TNA sendiri dengan segelintir penduduk yg pro dg mereka."

Karena pada kenyataannya memang ketika Rasulullah saw mengadakan ikrar Aqabah pertama dan kedua hanya diikuti oleh 79 orang saja dari Yatsrib. Kemudian pada waktu diadakannya Pakta Perjanjian bersama antara kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi di Yatsrib diikuti oleh tokoh-tokoh dari suku Aus, suku Khazraj, bani Awf (suku Yahudi), banu Sa'idah (suku Yahudi), bani-Harts (suku Yahudi), bani tha'ifah, bani Jusyam (suku Yahudi), bani Najjar (suku Yahudi), bani 'Amrin, banu An-Nabiet, bani Aws (suku Yahudi), bani Tsa'labah (suku Yahudi), bani Syuthaibah (suku Yahudi)

Jadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu Rasulullah saw telah mencontohkan dengan siapa dan berapa banyak orang yang melakukan ikrar Aqabah dan ketika diadakan Pakta Perjanjian antara kaum Muhajirin, Anshar dan Yahudi.

Begitu juga dengan proklamasi NII pada 7 Agustus 1949. Itu dilakukan setelah melalui jalur proses yang panjang, yaitu ketika pada tahun 1923 S.M. Kartoseowirjo masuk gerakan pemuda Jong Java di Surabaya, dan tidak lama setelah itu menjadi ketua cabang Jong Java di Surabaya. Pada Januari 1925 Berdirinya Jong Islamieten Bond. S.M. Kartoseowirjo terjun ke dalam politik ketika memasuki perhimpunan Jong Java di Jakarta, dimana ia pernah menjadi ketuanya. Ketika anggota-anggota Jong Java yang lebih mengutamakan ke-Islam-annya keluar dari Jong Java dan mendirikan Jong Islamieten Bond pada tahun 1925. Kartoseowirjo pindah organisasi ini, dan tidak lama kemudian menjadi ketua cabang Jong Islamieten Bond di Surabaya. Semenjak tahun 1927, S.M. Kartosuwiryo masuk ke dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Dalam PSII ia secara mendapat pendidikan dari H. Oemar Said Tjokroaminoto. Ia menjadi sekretaris pribadi dari H. Oemar Said Tjokroaminoto sampai tahun 1929. Pada tahun 1931 S.M. Kartosuwiryo terpilih menjadi Sekretaris Umum PSII

Dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) SM Kartoseowirjo menyuarakan politik non-kooperatif dengan pihak Belanda. Karena dalam tubuh PSII ada juga yang menyuarakan kooperatif dengan Belanda seperti yang disponsori oleh Mohammad Roem dan Agus Salim. Sedangkan suara yang non-kooperatif dilambungkan oleh SM Kartosoewirjo dan Abikoesno. Ketika pada tahun 1935 Abikoesno dan Kartosoewirjo meletakkan jabatan dalam PSII dan diserahkan kepada Agus Salim untuk mengadakan pemungutan suara apakah akan melakukan politik non-kooperatif atau politik kooperatif. Ternyata hasilnya banyak yang memilih politik non-kooperatif. Akhirnya pada bulan Juli 1936 ketika diadakan Kongres PSII, kembali Abikoesno dan Kartosoewirjo dipilih untuk memegang pimpinan PSII.

Ketegasan dan konsistensi SM Kartosoewirjo dalam politik non- kooperatif yang berlandaskan Islam yang mengarah kepada pembebasan dari pendudukan dan penjajahan Belanda inilah yang melahirkan semangat juang SM Kartosoewirjo terus menggelora. Ketika SM Kartosoewirjo bergabung kedalam Gabungan Politik lndonesia (GAPI) yang merupakan wadah perjuangan partai dalam bentuk federasi antar partai, ia menentang kebijaksanaan politk GAPI yang menunut pembentukan parlemen Indonesia, karena dianggap sebagai sikap kooperasi dalam bentuk lain. Karena itu SM Kartosoewirjo dikeluarkan dari GAPI. Lalu membentuk Komite Pembela Kebenaran (KPK) PSII yang memakai Anggaran Dasar PSII.

Ketika Perjanjian Renville 17 Januari 1948 ditandatangani, dimana wilayah kekuasan de-jure dan de-facto RI hanya di Yogyakarta dan daerah sekitarnya, maka pihak SM Kartosoewirjo pada 10-11 Februari 1948 di desa Pangwedusan Cisayong, diadakan Konferensi Cisayong yang dihadiri oleh 160 wakil-wakil organisasi Islam. Dimana dalam Konferensi Cisayong ini melahirkan keputusan membekukan Masyumi di Jawa barat dan semua cabangnya dan membentuk Pemerintah daerah dasar di Jawa barat yang harus ditaati oleh seluruh umat Islam di daerah tersebut. Membentuk Tentara Islam Indonesia. Dalam Pemerintah dasar di Jawa Barat yang diusulkan ini yang dinamakan Majelis Islam atau yang juga disebut dengan nama Majelis Umum Islam organisasi-organisasi Islam yang ada harus bergabung. Dimana Majelis Umum Islam ini menggantikan Majelis Islam yang telah ada yang didirikan di Garut dan Tasikmalaya pada tahun sebelumnya. Diman ketua Majelis Umum ini dipilih SM Kartosoewirjo.

Kemudian pada tanggal 1-2 Maret 1948 diadakan Konferensi di Cipeundeuy/Baturujeg di Cirebon yang dihadiri oleh cabang-cabang Masyumi dari Banten, Jakarta, Bogor, Priangan, Cirebon. Dalam Konferensi ini dinyatakan peleburan Tentara Hizbullah dan Sabilillah menjadi Tentara Islam Indonesia.

Nah, dengan melihat dan membaca sekilas sejarah awal dari proses terbentuk dan tegaknya Negara Islam Indonesia ini, maka terlihat jelas bahwa diproklamasikannya NII pada 7 Agustus 1949 sebelumnya telah melalui proses dan tahapan penggalangan kekuatan umat Islam yang tergabung dalam PSII, Masyumi, Tentara Hizbullah dan Sabilillah.

Jadi tidak seperti yang diucapkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang menyatakan: "Walaupun proklamasi tersebut tidak memaksakan orang lain untuk beriman tetapi secara nyata mereka memaksakan agar penduduk baik di Aceh, Jawa Barat bahkan Indonesia untuk mengakui terbentuknya sebuah atau lebih Negara di dalam wilayah RI. Yang terjadi pada proklamasi NII, GAM/TNA mana ada mereka sempat mengadakan perjanjian dengan penduduk dari kalangan mana saja melainkan itu proklamasi atas perjanjian pejabat NII, GAM/TNA sendiri dengan segelintir penduduk yg pro dg mereka."

Jelas apa yang dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jelas tanpa dasar. Mengapa ?

Karena pertama, tidak ada pemaksaan dari pihak NII terhadap rakyat di Daerah Jawa Barat, bahwa diundang wakil-wakil dari pimpinan Islam yang tergabung dalam Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia yang ada di Jawa Barat untuk menghadiri Konferensi di Cisayong dan di Cirebon. Dalam konferensi Cisayong dan Cirebon inilah yang dinamakan perjanjian bersama dengan para wakil penduduk Islam di Jawa Barat.

Kedua, NII tidak didirikan di wilayah de-facto dan de-jure RI. Karena pada tanggal 7 Agustus 1949 wilayah de-facto dan de-jure RI di Yogyakarta dan daerah sekitarnya saja. Sama dengan daerah Yatsrib diluar wilayah kekuasan Mekkah.

Begitu juga dengan Proklamasi Negara Islam di Acheh pada 20 September 1953 oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Walaupun perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan NII, Republik Persatuan Indonesia, Republik Islam Acheh akhirnya menemui ujungnya pada bulan Desember 1962 ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, sehingga secara de-jure RIA yang diperjuangkan Teungku Muhammad Daud Beureueh hilang, karena dianggap kembali kepada NKRI dengan pancasilanya. Tetapi perjuangan rakyat muslim Acheh terus berlangsung, dimana pada 4 Desember 1976 diproklamasikan ulang berdirinya Negara Acheh oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dimana Negara Acheh dibawah pimpinan pemimpin perang Teungku Tjhik Maat yang satu hari sebelumnya, 3 Desember 1911 ditembak oleh pasukan Belanda dalam perang di Alue Bhot, Tangse. Sehingga pada tanggal 4 Desember 1911 merupakan hilangnya kemerdekaan Negara Acheh. Karena itu berdasarkan tanggal inilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara simbolis menghidupan dan meneruskan kembali kedaulatan Negara Acheh yang telah lenyap karena diduduki dan dijajah Belanda.

Kemudian sebelum dideklarkan Kemerdekaan ulangan Negara Acheh pada 4 Desember 1976 telah dilakukan konsolidasi dan permupakatan diantara wakil-wakil rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Dimana Negeri Acheh adalah merupakan negeri yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure RI. Hanya dari pihak RIS yang jadi RI dan menjelma menjadi NKRI yang menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

Jadi sekarang terbukti bahwa apa yang dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo- Wahabi-Saudi: "Inilah kebid'ahan yang nyata karena sudah barang tentu mereka (NII, GAM/TNA termasuk Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman) mengetahui bagaimana cara mendirikan sebuah Negara Islam sebagaimana yg di contohkan Rosululloh SAW. Seandainya mereka semua belum mengetahui langkah-langkah mendirikan darul Islam maka ini bisa di maklumi dan kemungkinan besar akan mendapat ampunan dari Alloh SWT (ingat, hukum Alloh SWT tidak diberikan/dijatuhkan kpd orang yg benar-benar tidak tahu)."

Jelas, itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang mengatakan bid'ah dengan memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia dan proklamasi ulangan negara Acheh yang menyusul Proklamasi Negara Islam di Acheh karena tidak mencontoh kepada apa yang dicontohkan Rasulullah saw tidak berdasar. Mengapa ?

Karena kalau dipelajari dari sejak awal proses terbentuk dan berdirinya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat dan di Acheh, juga berdirinya Negara Acheh itu selaras dengan jalur proses terbentuk dan berdirinya Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib yang ditegakkan dan dibangun oleh Rasulullah saw.

Sedangkan NII sekarang berada dalam pendudukan dan penjajahan RI yang dimulai dari masa kepemimpinan Soekarno, diteruskan oleh Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan sekarang Megawati.

Begitu juga dengan Negara Acheh ini, daerah de-facto Negeri Acheh sedang diduduki dan dijajah oleh pihak RI dengan TNI/POLRI-nya.

Jadi rakyat muslim Acheh sampai detik ini masih terus berjuang untuk menghadapi pembunuh, penindas, penjajah RI bersama TNI/POLRI.

Mengenai penegakkan, penerapan, pelaksanaan dasar hukum Islam dalam wilayah NII yang secara de-facto diduduki dan dijajah RI memang tidak bisa dijalankan secara kaffah, karena memang wilayah de-facto NII dalam keadaan dijajah oleh RI. Selama wilayah de-facto NII masih berada dalam tangan penjajah RI, maka selama itu dasar dan hukum Islam tidak bisa ditegakkan dan dijalankan di wilayah NII secara kaffah.

Begitu juga dengan Negara Acheh, wilayah kekuasaan de-facto Negara Acheh sedang diduduki dan dijajah RI. Jadi dasar hukum dan sumber hukum Islam tidak bisa dijalankan secara kaffah dalam wilayah de-facto Negara Acheh. Karena itu sampai detik sekarang ini rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila terus berjuang untuk mempertahankan dan memperjuangkan pembebasan negeri, agama, dan rakyat dari tangan penjajah RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 17 Sep 2004 23:50:07 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman Pengetahuan Sejarahnya yang Luas di Tunjang Referensi yang Banyak Balik Pukul Diri, NII, GAM/TNA
To: ahmad@dataphone.se
Cc: serambi_indonesia@yahoo.com, redaksi@acehkita.com, newsletter@waspada.co.id, redaksi@pikiran-rakyat.com, editor@pontianak.wasantara.net.id, jktpost2@cbn.net.id,
redaksi@detik.com, redaksi@kompas.com, redaksi@satunet.com, redaksi@waspada.co.id, waspada@waspada.co.id, webmaster@detik.com, kompas@kompas.com, solopos@bumi.net.id, editor@jawapos.co.id, achehmerdeka@yahoo.com, redaksi@sinarharapan.co.id, redaksi@forum.co.id, gatra@gatra.com, koran@tempo.co.id

Bismillaahirrohmaanirroohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman Pengetahuan Sejarahnya yang Luas di Tunjang Referensi yang Banyak Balik Pukul Diri, NII, GAM/TNA

Wah, memang terpaksa saya akui bahwa pengetahuan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman baik itu pengetahuan sejarah umum maupun sejarah Islam memang luas dan disertai dengan referensi yang banyak yang ada di perpustakaannya tetapi dengan pengetahuannya yang luas itu malah mengundang murka Alloh SWT di karenakan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan kroni-kroninya, NII, GAM/TNA hanya pandai berbicara tetapi tidak bisa mencontoh suri tauladan dari sejarah Islam terutama mengenai pembentukan Daulah Islam di Madinnah, sehingga yg terkesan adalah mereka semua bukannya ingin mencontoh bagaimana cara membentuk daulah Islam melainkan hanya mengikuti hawa nafsunya belaka.

Oleh karena itu memang pas bagi dirinya gelar yg di cantumkan para ustadz dan ulama rabbani yaitu Si Ahlul Ahwa. Bukan hanya itu saja, mereka dikarenakan membuat-buat dan menyebar-luaskan aturan agama yang tidak pernah di contohkan Nabi maka pas pula gelarnya sebagai Ahlul Bid'ah dan bagi mereka yg hanya ikut-ikutan atau hanya melakukannya dapat dikatakan sebagai Bahlul.

Saya yakin semua orang Islam yg terlibat di mimbar bebas ini mengetahui sejarah terbentuknya itu Daulah Islam Madinnah walaupun hanya secara garis besarnya saja. Yaitu dengan perjanjian antara Rosululloh dengan para penduduk di Madinnah baik itu muslim, yahudi ataupun nasrani.

Nah sedangkan yang terjadi pada proklamasi NII, GAM/TNA mana ada mereka sempat mengadakan perjanjian dengan penduduk dari kalangan mana saja melainkan itu proklamasi atas perjanjian pejabat NII, GAM/TNA sendiri dengan segelintir penduduk yg pro dg mereka.

Dengan begitu jelas mereka telah memaksakan kehendaknya kepada penduduk di seluruh Aceh dan Indonesia untuk mengakui keberadaannya sebagai Negara yg syah baik de jure maupun de fakto. Padahal jelas sekali kalau Alloh SWT sendiri telah menegur Rosululloh SAW agar jangan memaksa mereka (kafir quraisy) untuk beriman. Alloh SWT berfirman : "Apakah kamu (Muhammad) memaksa manusia agar mereka menjadi orang yang beriman ?" [Yunus : 99] "Seandainya engkau (Muhammad) kasar dan keras hati, niscaya mereka lari darimu" [Ali-Imran : 159]. "Engkau (Muhammad) bukanlah sebagai penguasa bagi mereka" [Al-Ghasyiyah : 22]

Jelas sekali bahwasanya menurut ayat di atas menunjukkan kalau kita bukanlah seorang penguasa dan tidak diperbolehkan untuk memaksakan kehendak seperti memaksa orang untuk beriman.

Bagaimana ayat-ayat di atas jika di hubungkan dengan proklamasi NII Kartosuwiryo, GAM/TNA oleh Hasan Tiro ?.

Walaupun proklamasi tersebut tidak memaksakan orang lain untuk beriman tetapi secara nyata mereka memaksakan agar penduduk baik di Aceh, Jawa Barat bahkan Indonesia untuk mengakui terbentuknya sebuah atau lebih Negara di dalam wilayah RI. Walaupun mereka (NII, GAM/TNA) mengatakan wilayahnya berada diluar kekuasaan Indonesia menurut sejarah tetapi perhatikanlah apakah semua penduduk di dalamnya telah menyepakati perjanjian yang dibuat Kartosuwiryo ataupun Hasan Tiro dalam bentuk proklamasinya ? TIDAK, melainkan yang menyepakatinya hanya beberapa gelintir manusia yang tak bertanggungjawab baik dihadapan Alloh SWT maupun di depan manusia secara umum (masyarakat).

Inilah kebid'ahan yang nyata karena sudah barang tentu mereka (NII, GAM/TNA termasuk Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman) mengetahui bagaimana cara mendirikan sebuah Negara Islam sebagaimana yg di contohkan Rosululloh SAW.

Seandainya mereka semua belum mengetahui langkah-langkah mendirikan darul Islam maka ini bisa di maklumi dan kemungkinan besar akan mendapat ampunan dari Alloh SWT (ingat, hukum Alloh SWT tidak diberikan/dijatuhkan kpd orang yg benar-benar tidak tahu).

Adapun mengenai sebuah Negara yang tidak sedang atau tidak berniat untuk menjadikan hukum Alloh SWT menjadi hukum bagi kehidupan Negara maka ini semua di kembalikan kepada niat dan amaliah setiap warganya atau pejabat negaranya.

Jika memang individu yg bersangkutan tidak mau (menolak) berhukumkan dengan hukum Alloh SWT ataupun tidak ada niat untuk itu padahal dakwah telah sampai kepadanya maka laknatlah yg akan di terimanya.

Sedangkan bagi orang Islam yg sudah mendirikan Daulah Islam tetapi tidak mencontoh Rosululloh maka Negara tersebut tidak akan mendapat barkah dan tidak di ridloi Alloh SWT. Karena yang demikan itu adalah BID'AH, setiap bid'ah adalah sesat dan setia kesesatan adalah neraka. Ingat BID'AH lebih dicintai syaiton dari pada amalan maksyiat, syirik dll.

Perlu saya tegaskan lagi mengenai proklamasi NII, GAM/TNA adalah BID'AH karena tidak mencontoh perjanjian antara Rosululloh dengan penduduk di madinnah.

Sedangkan di Indonesia ini yang belum atau bahkan tidak menjadikan Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai sumber hukum maka kemungkinan besar di saat yang akan datang niat itu akan tetap terwujud dikarenakan dakwah-dakwah yg sudah mulai meluas baik dikalangan penduduk maupun pejabat pemerintahan.

Jadi kita jangan pesimis akan terbentuknya pemerintahan yg benar-benar menjadikan Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia ini. Tetapi kita harus bersabar, ingat Alloh bersama orang-orang yang sabar.

Saya tujukan kepada sdr Teguh H, sebenarnya kalau anda benar-benar seorang yang dikarunia ilmu diskusi maka anda pun bisa menarik kesimpulan dari komentar-komentar saya kepada Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman mengenai bagaimana cara membentuk Daulah Islam yang sesuai dengan apa yang di contohkan Rosululloh SAW ketika membentuk Daulah Islam di Madinnah.

Seperti yang anda ketahui lewat mimbar bebas ini baik melalui apa yang diterangkan oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman ataupun yang lainnya seperti sdr Sumitro dll ketika mereka menceritakan bagaimana proses dari awal hingga akhir terbentuknya Daulah Islam di Madinnah oleh Rosululloh SAW, maka itu semua adalah hasil dari pembelajaran mengenai Shiroh Nabawiyah.

Tetapi tentunya langkah-langkah tersebut tidak semuanya kita ambil contoh. Misalnya di situ ada fase Makkah maka jangan di samakan kalau di Indonesia ini juga masih dalam fase makkah, kemudian hijrah pada saat itu jelas atas perintah Alloh SWT karena ada tekanan-tekanan dari pihak kafir quraisy yang memerangi Rosululloh SAW maka di Indonesia sangat berbeda jauh dengan fase makkah, buktinya kita bebas berdakwah asal tidak angkat senjata, banyak komunitas muslim yg kita jumpai, tidak ada masalah kita melakukan ibadah agama Islam yg lainnya seperti sholat, puasa dll.

Sedangkan kalau kita melakukan hijrah (pindah negara) padahal kenyatannya di Indonesia ini bukan lagi fase makkah dan dengan keyakinan bahwa hijrah kita ini sesuai dengan hijrahnya Rosululloh maka sebenarnya inilah pandangan yang sempit. Karena mengapa bisa saya katakana demikian ? jelas di Indonesia bukan lagi dalam fase atau periode Makkah.

Untuk itu kita harus mengetahui hal-hal yang menjadi pokok atau inti bagaimana cara mendirikan Daulah Islam. Di bawah ini akan saya terangkan bagaimana caranya membentuk Daulah Islam yang ditunjang dengan dalil naqli.

Langkah pertama adalah Dakwah dengan hikmah (sunnah) dan bijaksana. Alloh SWT berfirman, "Ajaklah mereka (wahai Muhammad) ke jalan tuhanmu dengan hikmah (sunnah) dan dengan nasehat yg baik (bijkasana). Dan bantahlah dengan cara yg lebih baik (bijaksana). Sesungguhnya tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat di jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang yg mendapat petunjuk" (An-Nahl : 125).

Jelas sekali menurut ayat tersebut, di dalam berdakwah atau mengajak kejalan Alloh termasuk mengajak manusia agar tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum Alloh SWT maka harus dilakukan dengan hikmah (sunnah) dan bijaksana. Lihat firman Alloh SWT dalam surat Yunus : 99, Al-Imron : 159.

Langkah kedua adalah Harus ada banyak orang di suatu Negara yang benar-benar beriman dan beramal sholih. Alloh SWT berfirman, "Alloh telah berjanji kepada orang-orang yg beriman di antara kamu dan yg mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka pemimpin di bumi, sebagaimana Dia telah memberi pemerintahan kpd orang-orang sebelum mereka" (An-nur : 55).

Ayat inilah yang menjadikan kunci dasar dari syarat pembentukan Daulah Islam yaitu dengan banyaknya orang yang berimana kepada Alloh SWT dan yang melakukan amal-amal keshalehan.
Maka apabila kita dan seluruh umat di Indonesia sudah banyak yang beriman dan beramal shaleh maka sesuai janji Alloh SWT kita akan diberi pemerintahan Islam atau pemerintahan yang menjadikan Al-Qur'an dan Al-Hadist sebagai sumber dari segala sumber hukum. An-Nur : 55 itu pulalah yang menggambarkan bahwasanya pemerintahan islam merupakan hasil dari pada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Walaupun begitu kita tetap harus berusaha untuk membangun suatu Negara di mana Hukum-hukum Alloh SWT dapat ditegakkan di bumi ini.

Sedangkan seandainya kita tidak memperdulikan bagaimana syarat utama demi terbentuknya pemerintahan Islam tetapi hanya berdasarkan hawa nafsu ingin segera mewujudkan Daulah Islam maka tetap saja tidak akan berhasil.

Coba lihat apa yang ada pada NII, GAM/TNA, walaupun mereka sudah memproklamasikan diri sebagai negara Islam akan tetapi dikarenakan mereka tidak atau belum benar-benar beriman dan beramal shalih maka sampai detik sekarangpun mereka belum bisa menegakkan hukum-hukum Alloh SWT secara kafah.
 

Kemudian langkah ketiga yaitu Dengan mengadakan perjanjian di antara pemerintahan dengan penduduk Indonesia baik umat Islam maupun yang lainnya. Jelas ini telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW ketika membentuk Daulah Islam dengan cara mengadaka perjanjian dengan penduduk di Madinnah. Bagaimana dengan NII, GAM/TNA ?. Yang jelas proklamasi atau perjanjiannya adalah BID'AH.

Sebenarnya masih ada beberapa langkah ke depan setelah lankah ke tiga tersebut tentunya syarat dengan dalil naqli maupun dalil aqli.

Nah yang terjadi pada NII, GAM/TNA adalah mendahului langkah-langkah yang menjadikan inti dari pokok bagaimana mendirikan Daulah Islam. Mana ada mereka berdakwah dengan hikmah (sunnah) dan bijaksana, mana ada mereka benar-benar beriman dan beramal shalih kecuali hanya sedikit sekali. Namun dengan rasa percaya diri, mereka memproklamasikan diri sebagai Negara Islam. Inilah KEBID'AHAN yg besar. Wallohu 'alam bi showab

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------