Stockholm, 20 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ACHEH DIBAWAH VISI & MISI YUDHOYONO TIDAK AKAN BERUBAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ACEH DIBAWAH VISI & MISI MEMBANGUN INDONESIA KHUSUSNYA DI ACHEH YANG AMAN ADIL DAN SEJAHTERA MODEL SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ADALAH HANYA FATAMORGANA DAN PENUH PENIPUAN

Kelihatan Susilo Bambang Yudhoyono akan memegang pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif RI menggeser Megawati.

Kalau membaca, memikirkan, mendalami, menganalisa dari apa yang dijadikan visi dan misi Susilo Bambang Yudhoyono apabil terpilih menjadi Presiden RI ke-6, ternyata hanyalah suatu hasil dari seorang pemimpi disiang hari bolong. Mengapa ?

Karena kalau melihat, jangan dulu terlalu jauh untuk melihat keseluruhan persoalan yang ada, tetapi cukup kita hanya petik sebagian kecil, misalnya yang menyangkut masalah konflik Acheh. Yang mana menurut Susilo Bambang Yudhoyono permasalahan yang ada sekarang terbagi kedalam dua bagian, yaitu permasalahan mendasar dan permasalahan riil kontemporer.

Nah, dalam permasalahan riil kontemporer ini yang salah satunya menyangkut masalah bidang pertahanan dan keamanan. Dimana bidang inilah yang telah dijadikan sebagai merek dagangan dalam kampanye Susilo Bambang Yudhoyono yang dijajakan kepada rakyat di RI dan di Negeri Acheh untuk menarik suara rakyat agar bisa dipakai modal guna mencapai jenjang kursi Presiden RI ke 6.

Dalam masalah bidang pertahanan dan keamanan ini menurut Susilo Bambang Yudhoyono meliputi usaha "bagaimana meningkatkan rasa aman dari tindakan kriminalitas, menghilangkan perseteruan antar kelompok maupun golongan atau tindakan-tindakan anarkis ataupun illegal, dan bagaimana menghilangkan ancaman perpecahan bangsa dan negara."

Nah yang akan disorot disini adalah masalah yang menyangkut "bagaimana menghilangkan ancaman perpecahan bangsa dan negara" Mengapa Ahmad Sudirman menggaris bawahi masalah tersebut ? Karena hal tersebut erat hubungannya dengan konflik Acheh yang telah berjalan lebih dari setengah abad ini.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono untuk menanggulangi masalah "bagaimana menghilangkan ancaman perpecahan bangsa dan negara" yang salah satunya konflik Acheh itu adalah dengan apa yang oleh Susilo Bambang Yudhoyono disebut dengan nama "arahan Indonesia 2004-2009" yang salah satu arahannya mencakup bagaimana "mencapai negara Indonesia yang aman dan damai melalui peningkatan saling percaya dan harmoni masyarakat, menanggulangi bahaya separatisme, mengatasi terorisme, menangani kejahatan lintas negara, dan menanggulangi kriminalitas dan gangguan keamanan."

Sekarang, yang akan disorot disini adalah bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono "menanggulangi bahaya separatisme", karena hal ini menyangkut masalah yang sedang terjadi di Negeri Acheh, Papua, dan Maluku Selatan.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono timbulnya separatisme ini adalah diantaranya masih lemahnya pembangunan karakter bangsa, belum berkembangnya nasionalisme kemanusiaan, belum terinternalisasikannya nilai-nilai utama kebangsaan, dan rentannya sistem kenegaraan dan kebangsaan dalam menghadapi goncangan perubahan.

Dan Susilo Bambang Yudhoyono melambungkan cara penanggulangan apa yang dikatakannya dengan "menanggulangi bahaya separatisme", yaitu dengan cara melalui pengakuan Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sudah final, dan melalui kerangka bentuk negara Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tetap tidak boleh dirubah, dan semboyan bhinneka tunggal ika dalam lambang negara yang harus dihayati dan dipraktikkan.

Nah sekarang, kalau kita pelajari dari apa yang telah dijadikan visi dan misi oleh Susilo Bambang Yudhoyono ini, terutama dalam hal konflik Acheh, maka kelihatan dengan jelas bahwa Susilo Bambang Yudhoyono tidak memiliki visi dan misi yang kongkrit dan jelas yang bisa disodorkan kepada rakyat Acheh, selain dengan menyodorkan jalan pemecahan yang masih bersifat umum yang boleh dikatakan masih melantur jauh dari sasaran.

Mengapa dikatakan melantur jauh dari sasaran ? Karena apa yang disodorkan Susilo BambangYudhoyono untuk pemecahan konflik Acheh hanyalah berkisar sekitar pancasila dan pembukaan UUD 1945 yang sudah final dan menghayati dan mempraktikan semboyan bhineka tunggal ika.

Ternyata disini kelihatan Susilo Bambang Yudhoyono tidak jauh berbeda dengan para pimpinan RI sebelumnya, yaitu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati yang masih tidak mau mengakui dan tidak mau menerima fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang akar utama timbulnya konflik Acheh yang disebabkan oleh pihak RIS yang melebur jadi RI dan menjelma menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950 telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Acheh secara sepihak pada 14 Agustus 1950 tanpa kerelaan, keikhlasan, persetujuan dari seluruh rakyat Acheh dan pimpinan rakyat Acheh.

Dengan Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa pembukaan UUD 1945 sudah final menggambarkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono tetap pertahankan Negeri Acheh yang telah dirampok, ditelan, diduduki dan dijajah RI itu adalah telah menjadi milik RI dan bagian RI, serta mengakui bahwa apa yang telah dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno dengan menelan, mencaplok, menduduki, menjajah Negeri Acheh memakai PP RIS No.21/1950 pada 14 Agustus 1950 dan PERPPU No.5/1950 melalui mulut Sumatera Utara adalah suatu tindakan yang bisa diterima dan bukan suatu pelanggaran hukum internasional dan hukum nasional.

Nah disinilah, Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan mampu dan tidak akan mungkin bisa menyelesaikan konflik Acheh secara aman dan damai sebagaimana yang digembar-gemborkan dalam visi dan misinya diatas.

Justru sebaliknya, Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemecahan konflik Acheh adalah tidak jauh berbeda dengan pemecahan yang telah dilakukan oleh Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati yaitu dengan menggunakan moncong senjata dan kekuatan TNI/POLRI-nya.

Karena itu bagi rakyat Acheh yang dipaksa untuk memilih SusiloBambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden hari ini, Senin, 20 September 2004 adalah telah tertipu kedalam buaian yang sangat berbahaya, yang bisa menjerumuskan Negeri Acheh kedalam kancah yang penuh dengan penyiksaaan, penindasan, pembunuhan, perkosaan, dan kesengsaraan rakyat Acheh secara menyeluruh. Susilo Bambang Yudhoyono tidak mempunyai program yang jelas dan nyata untuk menyelesaikan konflik Acheh secara aman dan damai yang penuh kejujuran.

Cara dan jalan pemecahan konflik Acheh yang aman dan damai dengan penuh kejujuran adalah apabila Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan penyelesaian konflik Acheh ini kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan nasib dan masa depan mereka sendiri melalui jajak pendapat dalam bentuk referendum untuk menentukan sikap apakah YA bebas dari RI atau TIDAK bebas dari RI sdan TNI/POLRI-nya dengan disaksikan oleh PBB.

Inilah menurut Ahmad Sudirman jalan penyelesaian konflik Acheh yang aman dan damai dengan penuh kejujuran, bukan melalui moncong senjata yang akan dipraktekkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/POLRI-nya.

Dan tentu saja istilah separatisme yang selalu digembar gemborkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila adalah salah kaprah. Mengapa ? Karena rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila adalah bukan memisahkan diri, melainkan menentukan nasib sendiri dan menuntut kembali Negeri Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh pihak RIS yang melebur menjadi RI dan menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------