Stockholm, 23 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN YANG PICIK DALAM PENEGAKKAN DASAR HUKUM ALLAH SWT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG KELIHATAN ITU WAHABIYIN ROKHMAWAN YANG PICIK DALAM PENEGAKKAN DASAR HUKUM ALLAH SWT

"Contoh yang diajukan oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman dimaksudkan untuk menguatkan argumennya tentang A-Maidah 44, 45, 47. Seperti tulisannya, "Dengan dipakainya kata "man lam yahkum bimaa anzala Allahu fa ulaaika humul kafiruun". Dimana dipakainya kata "man" menunjukkan kepada subjek atau sipelaku atau orang yang berbuat". Jelas sekali Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman telah mencampuradukkan hukum toghut dengan hukum Alloh SWT." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Wed, 22 Sep 2004 22:09:44 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Karena memang kepicikan dan kesempitan pemikiran pandangan, ilmu tentang penegakkan, pelaksanaan syariat Islam, maka Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi terjerumus kedalam jurang kebodohan dan taklid yang menyesatkan. Mengapa ?

Terbukti ketika Ahmad Sudirman mengemukakan isi dan bentuk dasar hukum yang diturunkan Allah SWT dalam Al-Maidah: 44, agar supaya semua orang Islam mengetahui bagaimana itu isi dan bentuk dasar hukum Al-Maidah: 44 ini, dan apakah isi dan bentuk dasar hukum yang diturunkan Allah SWT ini bisa dibandingkan secara tepat dan benar dengan maksud isi dan bentuk dasar hukum yang dipakai di negara-negara sekular seperti Negara RI ini. Sehingga orang-orang di negara RI ini bisa memahami bahwa betapa hebat dan agungnya itu isi kandungan dasar hukum Al-Maidah: 44, yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw.

Setelah Ahmad Sudirman mengupas isi dan bentuk bunyi dasar hukum Al-Maidah: 44 ternyata didalamnya mengandung bentuk dan susunan kata-kata yang selalu dipakai dalam dasar hukum di negara-negara sekular, misalnya di Negara RI. Contohnya perkataan "man" yang selalu dipakai dalam bahasa melayau "barang siapa" yang menunjukkan kepada subjek, sipelaku, orang yang berbuat. Begitu juga dalam bentuk susunan kalimatnya adalah adanya subjek, apa yang dilakukan, dan vonis atau hukuman apa yang ditimpakan atas apa yang dilakukannya.

Nah, itu semua ternyata terkandung dalam isi dan bentuk dasar hukum Al-Maidah: 44, dan memang isi dan bentuk kalimat hukum Al-Maidah: 44 itu adalah isi dan bentuk kalimat yang sering dipakai dalam dunia hukum yang dipergunakan dalam lembaga peradilan negara sekular.

Jadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang otak kalian otak udang, itu dengan Ahmad Sudirman menjelaskan isi dan bentuk kalimat yang tertuang dalam dasar hukum Al-Maidah: 44 dan apa yang tertuang dalam isi dan bentuk kalimat dalam KUHP Pasal 51 ayat (1) bukan berarti "mencampuradukkan hukum toghut dengan hukum Alloh SWT" seperti yang kalian duga dan tuduhkan, melainkan suatu pelajaran dan acuan yang bisa diambil salah satunya dari apa yang diturunkan Allah SWT dalam bentuk dasar hukum.

Karena kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang dangkal dan jahil dalam fiqh terutama dalam hal isi dan bentuk serta penegakkannya dalam lembaga negara, maka ketika kalian membaca penjelasan seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Sudirman, maka langsung saja kalian buka mulut tetapi isinya gombal alias kosong tidak menentu.

Kemudian kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi masih juga bercuap: "Sekali lagi atas pertanyaan saya kemaren, mengapa anda Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman berkeyakinan bahwasanya hadist-hadist mengenai sikap seorang mukmin terhadap penguasa yg dzalim hanya ditujukan kepada Darul Islam dimana hukum-hukum Alloh dapat ditegakkan ?. Kalau seandainya alasan anda sama seperti yg kemaren-kemaren maka jelas itu adalah alasan yg dibuat-buat berdasarkan hawa nafsu."

Wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa hadits-hadits yang kalian kopi itu yang dipakai sebagai alat menyikapi seorang mukmin terhadap penguasa yg dzalim ternyata oleh kalian salah dalam penggunaan dan penempatannya, karena tidak melihat situasi dan kondisi sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw, yaitu dalam situasi dan kondisi kepemimpinan lembaga negara yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Berbeda dengan dasar hukum yang terkandung dalam Al-Maidah: 44 yang tetap eksis sampai hari kiamat, dan bisa ditegakkan dan diberlakukan pada setiap saat yang dihubungkan dan dijadikan acuan bagi dasar dan sumber hukum yang dipakai oleh setiap lembaga pemerintahan dalam satu negara.

Dengan menampilkan dasar hukum "man lam yahkum bimaa anzala Allahu fa ulaaika humul kafiruun (Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)." (QS, Al-Maidah, 5: 44). Isi dan bentuk kalimat yang terkandung didalamnya adalah berlaku untuk setiap saat dan setiap jaman, tidak tergantung kepada sirtuasi dan kondisi apakah itu negara Islam atau bukan, karena yang dilihat disini adalah dasar dan sumber hukum yang dijadikan acuan dalam negara tersebut.

Dan tentu saja, akibat masih tetap berlakunya dasar hukum Al-Maidah: 44 yang tanpa tergantung situasi dan kondisi apakah itu negara Islam atau bukan, maka penjatuhan hukuman atau vonis dengan sebutan kafir oleh Allah SWT akan terus berjalan sampai hari kiamat.

Selanjutnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menyatakan: "Baiklah Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman yang saya persoalkan adalah bukan Al-Maidah 44, 45, 47 karena boleh-boleh saja anda menunjuk hidung orang islam si A, si B termasuk kafir tetapi harus melalui kaidah ilmu salah satunya lewat bimbingan ulama rabbani atau ulama rusydi. Nah untuk yang satu ini (lewat bimbingan ulama rabbani) maka itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tidak bisa menjawabnya padahal sudah berapa kali saya pertanyakan kepadanya, namun sampai detik inipun belum ada jawabannya. Saya ulang pertanyaannya, adakah ulama di dalam tubuh NII, GAM/TNA pada saat sekarang ini ?. Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman (mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir) ?."

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, itu semua ilmu yang Ahmad Sudirman gali, pelajari, hayati, pahami, analisa yang datangnya baik itu melalui kitab-kitab seperti tafsir, ushul fiqh, fiqih, hadits, mushthalah hadits yang ditulis dan dikumpulkan oleh ulama-ulama besar, maka itulah ulama-ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman. Begitu juga ulama-ulama yang pernah Ahmad Sudirman gali ilmunya ketika masih di Negara-Negara Arab, apakah melalui buku-bukunya, atau ceramah-ceramahnya, atau tulisan-tulisannya, atau hutbah-hutbahnya, itulah ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman, walaupun tidak semua jalan pikiran ulama yang dikenal Ahmad Sudirman diterima oleh Ahmad Sudirman. Tetapi sebagai guru dan sekaligus sebagai ulama, maka Ahmad Sudirman sangat menghormatinya.

Kemudian, menyinggung ulama dalam tubuh NII, jelas imam-imam dan pemimpin-pemimpin dalam NII mereka memiliki ulama-ulama yang mereka pelajari ilmu-ilmunya baik melalui kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, tafsir, fiqh, ushul fiqh. Mengapa harus kita perdebatkan siapa ulama-ulama besar yang dipelajari ilmunya oleh para pimpinan dan rakyat NII. Biarkan mereka bebas belajar, menggali, memikirkan, menganalisa, ilmu-ilmu yang diberikan Allah SWT kepada kita umat manusia. Begitu juga bagi rakyat Acheh yang ada di Acheh, atau yang ada dalam ASNLF atau GAM, mereka telah mempelajari ilmu-ilmu agama kepada para ulama, baik melalui karya-
karyanya yang tertuang dalam kitab-kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, fiqh, dan ushul fiqh.

Jadi, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, jangan kalian menganggap bahwa hanya ulama-ulama kaum wahabi Saudi saja yang dikatakan ulama dan yang bisa digali ilmu agamanya. Kalian itu seperti orang yang hidup dalam batok kelapa saja.

Seterusnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menyatakan: "Ingat fatwa seorang atau lebih ulama rabbani atau ulama rusydi terhadap kekafiran seorang islam (Gus Dur, Saddam Husein) bukan berarti semua orang yang di dekatnya termasuk kafir juga. Adakah fatwa ulama rabbani yg mengatakan tentang kekafiran Amin Rais, SBY, Hamzah Haz dll beserta pendukungnya ?. Jelas sekali sampai detik ini pun belum ditemukan fatwa yg dimaksud kecuali fatwa terhadap Gus Dur, Sadam Husein."

Itu soal kalian dan pimpinan wahabi Saudi, itu adalah soal kalian didalam. Siapa yang kalian kafirkan, itu tanggung jawab kalian dihadapan Allah SWT.

Sedangkan yang dikemukakan oleh Amad Sudirman adalah pembahasan dasar hukum Al-Maidah: 44 dihubungkan dengan dasar dan sumber hukum yang diacu dalam satu negara dan pelaku-pelakunya dalam lembaga pemerintahan negara yang tidak menetapkan aturan, hukum, undang-undang menurut aturan, hukum, yang telah diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Dan jelas Ahmad Sudirman tidak mengkafirkan seseorang. Yang mengkafirkan adalah Allah SWT melalui dasar hukum-Nya Al-Maidah: 44.

Jadi dengan dijelaskannya dasar hukum Al-Maidah: 44 kepada seluruh rakyat di Acheh dan di RI, bukan berarti "untuk menyesatkan umat islam di Indonesia dan di Aceh" seperti yang dituduhkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Melainkan untuk memberikan penjelasan dan keterangan bagaimana untuk menegakkan, menjalankan, melaksanakan dasar hukum Al-Maidah: 44 tersebut dalam satu negara.

Kemudian kalau Ahmad Sudirman mengatakan taklid dan jahil kepada Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah:

Pertama, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan tanpa dipelajari, digali, dihayati, disimpulkan, langsung saja ditelan mentah-mentah apa yang diucapkan atau difatwakan pimpinan kaum wahabi Saudi.

Kedua, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jahil dan dangkal pengetahuan dan ilmunya tentang penegakkan, pelaksanaan, penerapan dasar hukum Islam dihubungkan dengan dasar dan sumber hukum yang diacu oleh negara tersebut.

Ketiga, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menganggap diri mereka sendiri yang lurus dan baru ketauhidannya, dan mengganggap orang yang diluar kelompok wahabi menyimpang dan tidak baru ketauhidannya.

Keempat, karena memang kelompok wahabi ini jahil, tidak melihat kedalam diri mereka sendiri dengan apa yang telah dilakukan oleh Amir-amir dan Raja-raja keturunan keluarga Ibnu Saud yang bersekutu dengan Syeikh Muhammad Abdul Wahab, keturunan dan para muridnya untuk bersekongkol dengan Pemerintah Kerajaan Inggris salah satunya usaha untuk menghancurkan dinasti Islam Usmaniyah guna membangun Kerajaan Ibnu Saud. Dan membangun Kerajaan Saudi adalah sudah menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam hal membangun dan menegakkan Daulah Islam atau Negara Islam pertama di Yatsrib.

Kelima, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi taklid kepada pimpinan kaum wahabi Saudi dengan membiarkan dan tidak meluruskan tindakan dan kelakukan para raja-raja Ibnu Saud yang sekarang sudah membelok kepada kebijaksaan politik George W. Bush dan bertekuk lutut dihadapan George W. Bush terutama dalam hal perlindungan kekuatan senjata dan perlindungan negara.

Seterusnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis: "Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, NII, GAM/TNA, HT Serta yang Sejenisnya Penyebab Perpecahan Islam"

Inilah kebodohan dan kemunafikan dari Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Yang justru penyebab perpecahan Islam adalah adanya sikap dan keras kepala dari kaum wahabi dengan raja-raja Saudi-nya.

Lihat saja bagaimana dunia Arab hancur berantakan ? karena memang kaum wahabi dari Saudi mengaggap paling benar dari kaum Arab lainnya, baik dalam masalah ketauhidan ataupun dalam masalah politik di Timur Tengah yang ada hubungannya dengan penjajah Israel.

Lihat saja perseteruan antara kaum wahabi dari pengikut Ibnu Saud dengan Mesir. Juga perseteruan kaum wahabi dengan pemimpin-pemimpin pergerakan Mesir yang terjadi sampai detik sekarang ini.

Di Indonesia juga terus itu perseteruan antara kaum pengikut paham wahabi Saudi dengan para pejuang Islam dari Mesir. Kaum pengikut paham wahabi Saudi mengkafirkan para pejuang Islam dari Mesir, dan ini terus berlangsung sampai detik sekarang ini. Apakah ini bukan suatu sebab perpecahan kesatuan umat Islam ?.

Terakhir Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis: "Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman mengapa anda tidak mau mengomentari tulisan emas dari ulama rabbani tentang kebid 'ahan pernyataan adanya tauhid hakimiyah atau mulkiyah ?"

Wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang Ahmad Sudirman jelaskan dari sejak awal di mimbar bebas ini adalah hal yang menyangkut penegakkan dan pelaksanaan syariat Islam, khususnya yang ada hubungannya dengan penegakkan, pelaksanaan dasar hukum Al-Maidah: 44 dihubungkan dengan lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang dan para pelaku lembaga-lembaga pemerintahan dalam negara tersebut. Dimana usaha penegakkan, pelaksanaan, penerapan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini dihubungkan dengan keyakinan kepada Allah SWT dan kebenaran atas dasar dan sumber hukum-Nya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Jadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi apa yang dijelaskan oleh Ahmad Sudirman yang ada hubungannya dengan dasar hukum ini adalah dalam usaha menegakkan, menjalankan, penerapkan dasar hukum Allah SWT diatas bumi ini yang didasarkan kepada keyakinan kepada Allah SWT atas kebenaran apa yang telah diturunkan-Nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 22 Sep 2004 22:09:44 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, NII, GAM/TNA, HT Serta yang Sejenisnya Penyebab Perpecahan Islam
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillaahirrohmaanirroohiim
Assalaamu 'alaikum Wr.Wb

Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, NII, GAM/TNA, HT Serta yang Sejenisnya Penyebab Perpecahan Islam

Semakin lama itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman semakin kelihatan keluguannya di atas kebingungan dan kesesatannya. Coba saja perhatikan tulisannya atas komentar baliknya. Mana ada dia menjawab pertanyaan-pertanyaan inti saya, jelas ini menunjukkan kepengecutannya dalam berdiskusi dan berdebat.

Baiklah Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman yang saya persoalkan adalah bukan Al-Maidah 44, 45, 47 karena boleh-boleh saja anda menunjuk hidung orang islam si A, si B termasuk kafir tetapi harus melalui kaidah ilmu salah satunya lewat bimbingan ulama rabbani atau ulama rusydi. Nah untuk yang satu ini (lewat bimbingan ulama rabbani) maka itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tidak bisa menjawabnya padahal sudah berapa kali saya pertanyakan kepadanya, namun sampai detik inipun belum ada jawabannya.

Saya ulang pertanyaannya, adakah ulama di dalam tubuh NII, GAM/TNA pada saat sekarang ini ?. Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman ( mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir ) ?.

Ingat fatwa seorang atau lebih ulama rabbani atau ulama rusydi terhadap kekafiran seorang islam (Gus Dur, Saddam Husein ) bukan berarti semua orang yang di dekatnya termasuk kafir juga. Adakah fatwa ulama rabbani yg mengatakan tentang kekafiran Amin Rais, SBY, Hamzah Haz dll beserta pendukungnya ?. Jelas sekali sampai detik ini pun belum ditemukan fatwa yg dimaksud kecuali fatwa terhadap Gus Dur, Sadam Husein.

Saudara-saudaraku di mimbar bebas ini, itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman berlagak seperti seorang ulama rabbani yang mengeluarkan fatwa.

Kemudian marilah kita tengok komentar amburadulnya ini,

"Karena Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi masih buta tentang kata-kata dan kalimat-kalimat yang dipergunakan dalam dunia hukum. Dengan dipakainya kata "man lam yahkum bimaa anzala Allahu fa ulaaika humul kafiruun". Dimana dipakainya kata "man" menunjukkan kepada subjek atau sipelaku atau orang yang berbuat. Didalam kata dan kalimat hukum perkataan "man" ini sering dinyatakan, misalnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan kata-kata: "Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.(KUHP, Pasal 48). "Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum."(KUHP, Pasal 49, (1)) "Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana. (KUHP, Pasal 50) "Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana. (KUHP, Pasal 51 (1)) Sekarang dengan memakai dasar hukum inilah jaksa penuntut umum dan hakim dalam satu pengadilan menjatuhkan hukuman atau vonis kepada siterdakwa. Untuk menyatakan si terdakwa itu harus dimasukkan kedalam subjek hukum yang terdapat dalam isi dasar hukum tersebut. Misalnya kita ambil contoh dasar hukum KUHP Pasal 51 ayat 1: "Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana. (KUHP, Pasal 51 (1)) Nah sekarang, untuk memberikan pokok sipelaku atau subjek yang dimaksud oleh isi dari dasar hukum KUHP Pasal 51 ayat 1 itu, maka jaksa penuntut umum dan hakim meberikan nama-nama subjek atau pelaku pelanggaran tindak pidana hukum itu, misalnya Amien Rais, Akbar Tandjung. Kemudian disaring, apakah benar Amien Rais dan Akbar Tandjung melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang ? Kalau jawabannya, "ya", maka hukumannya atau vonisnya adalah Amien Rais dan Akbar Tandjung tidak dipidana." (Ahmad Sudirman, 22 September 2004)

Contoh yang diajukan oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman dimaksudkan untuk menguatkan argumennya tentang AL-maidah 44, 45, 47. Seperti tulisannya, "Dengan dipakainya kata "man lam yahkum bimaa anzala Allahu fa ulaaika humul kafiruun". Dimana dipakainya kata "man" menunjukkan kepada subjek atau sipelaku atau orang yang berbuat".

Jelas sekali Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman telah mencampuradukkan hukum toghut dengan hukum Alloh SWT.

Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman kata-kata dalam hukum pidana maupun perdata tidak sama dengan kata-kata yg ada dalam hukum Alloh SWT ( Al-qur 'an ) dan yang jelas ketika ulama rabbani membahas Al-maidah 44, 45, 47 yang ditujukan kepada Gus Dur, Saddam Husein tidak pernah menggunakan argumentasi seperti itu (hukum perdata dan hukum pidana).

Maka dari itu alasan atau argumentasi anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman adalah sangat lemah sekali, apalagi yang mengatakan itu adalah bukan seorang ulama rabbani melainkan hanya seorang ustadz TPA ( Anak-anak ) bahkan seorang pelarian politik yg pengecut dan penuh kebid 'ahan.

Jelas ini merupakan alasan yg diada-adakan untuk menyesatkan umat islam di indonesia dan di Aceh. Belum lagi kalau kita lihat hasil dari pada apa yg diucapkan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tentang seputar takfir kepada penguasa yg dzalim. Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman akan dianggap oleh seorang islam yg lugu dengan sebutan "mubayyin" atau "ustadz". Namun bagi orang-orang yg faham ilmu agama islam justru sebaliknya, dia ( Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman ) termasuk orang yg berusaha menyesatkan orang islam lainnya. Tahukah bagaimana janji syaiton kepada Alloh terhadap manusia bani adam ?. Karena syaiton di kutuk oleh Alloh SWT bahwasannya dia akan masuk neraka jahannam maka syaiton atau iblis tersebut berjanji kpd Alloh, aku ( syaiton ) akan menyesatkan manusia kecuali orang-orang mukhlishin/mukhsinin. Semoga Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs bukan termasuk golongan tadi.

O yaa kita kembali kepada hasil yg di dapatkan dari perkataan takfir seperti Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlu Ahmad Sudirman. Hasilnya yaitu PEMBUNUHAN...sebenarnya ini sudah sering saya bahas lewat komentar-komentar yg telah lalu. Secara garis besarnya saja, bahwasanya kafir harby boleh kita bunuh, nah kalau penguasa atau pejabat RI dan pendukungnya yg beragama islam dinyatakan oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman termasuk kafir maka sudah pasti orang yg teracuni virusnya akan berlomba-lomba membunuh atau melawan mereka semua.

Sekali lagi atas pertanyaan saya kemaren, mengapa anda Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman berkeyakinan bahwasanya hadist-hadist mengenai sikap seorang mukmin terhadap penguasa yg dzalim hanya ditjukan kepada Darul Islam dimana hukum-hukum Alloh dapat ditegakkan ?. Kalau seandainya alasan anda sama seperti yg kemaren-kemaren maka jelas itu adalah alasan yg dibuat-buat berdasarkan hawa nafsu.

Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman ternyata anda begitu lugu sekali terutama mengenai kata-kata TAKLID, JAHIL. Kedua kata ini sudah saya terangkan lewat komentar saya yg lalu-lalu dan mengenai jahil barusan saya terangkan kemaren tetapi mengapa betapa lugunya sekali anda yg mengatakan bahwasannya kami taklid, jahil ?.

Coba terangkan makna yg sesungguhnya dari kata-kata tersebut. Setelah anda (saudaraku di mimbar bebas ini) mengetahui apa yg dinamakan taklid dan jahil bahkan seorang ustadz ataupun ulama dimanapun berada yg sudah pasti mengetahui maksudnya maka tidak akan berani mengatakan kalau kami taklid, jahil ini semua dikarenakan jelas bahwasanya di dalam Manhaj Salafush Shalih terdapat banyak ulama rabbani yg menjadi bimbingan kami dan setiap ikhwan salafy bergerak di atas bumi terutama dalam beragama ada dasar, dalil aqli dan dalil naqlinya shingga tidak terjerumus ke dalam kebid 'ahan.

Sedangkan yang terjadi pada NII, GAM/TNA jelas mereka semua bergerak di atas bumi tidak punya pegangan Sunnah ( kecuali sedikit ) melainkan hanya berdasarkan hawa nafsu belaka dan setelah kami tegur mereka maka merekapun marah-marah, balik memukul kami dan walaupun begitu tetap saja mereka berjalan diatas pendapatnya sendiri yg ternyata merupakan pendapat yg sesat dan menyesatkan maka inilah makna lain dari TAKLID. Bagaimana pendapat anda mengenai seorang pencuri yg ketahuan orang lain ?. Bagaimana pendapat anda mengenai ahli kemaksyiata atau kesyirikan yg di tegur seorang ustadz ?. Mereka semua akan marah, cari alasan dan bisa juga balik pukul kepada sang ustadz.

Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, dengan sikap anda demikian di atas (yang tidak punya ulama pada saat sekarang, taklid, jahil, sesat dan menyesatkan) merupakan sebab dari adanya umat islam yg berpecah belah (perpecahan umat islam).

Secara etimologi, iftiraq berasal dari kata al-mufaraqah (saling berpisah), dan al-mubayanah (saling berjauhan), dan al-mufashalah (saling terpisah) serta al-inqitha' (terputus). Diambil juga dari kata al-insyi'ab (bergolong-golongan) dan asy-syudzudz (menyempal dari barisan). Bisa juga bermakna memisahkan diri dari induk, keluar dari jalur dan keluar dari jama'ah. Secara terminologi, perpecahan adalah keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah dalam masalah ushuluddin yang qath'i, baik secara total maupun parsial.

Perpecahan tidak terlepas dari ancaman dan siksa serta kebinasaan. Tidak demikian halnya dengan ikhtilaf walau bagaimanapun bentuk ikhtilaf yang terjadi diantara kaum muslimin, baik akibat perbedaan dalam masalah-masalah ijtihadiyah, atau akibat mengambil pendapat keliru yang masih bisa ditolerir, atau akibat memilih pendapat yang salah karena ketidaktahuannya terhadap dalil-dalil sementara belum ditegakkan hujjah atasnya, atau karena uzur, seperti dipaksa memilih pendapat yang salah sementara orang lain tidak mengetahuinya, atau akibat kesalahan takwil yang hanya dapat diketahui setelah ditegakkan hujjah.

Terburu-buru memvonis orang lain keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah-masalah furu termasuk bid'ah dan penyimpangan yang tidak boleh dilakukan. Sikap seperti itu sangat tercela. Bila ia melihat saudaranya jatuh dalam perbuatan bid'ah, hendaknya mengecek terlebih dahulu, menanyakannya kepada ahli ilmu, serta menganggap orang yang melakukannya jahil, atau melakukannya karena takwil atau ikut-ikutan saja dan butuh nasihat serta bimbingan. Dan hendaknya ia perlakukan saudaranya itu dengan lemah lembut terlebih dahulu. Sebab tujuan kita adalah membimbingnya kepada hidayah bukan memojokkannya.

Perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun relitas dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya!. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikannya melalui hadits-hadits beliau yang shahih dengan beragam lafal. Peringatan terhadap bahayanya juga telah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan. Peringatan yang disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen bahwa perpecahan pasti terjadi tanpa bisa dihindari!.

Beliau menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ( NII, GAM/TNA, HT, LDII dll ) akan memisahkan diri dari umat, akibatnya mereka melesat keluar dari agama. Istilah 'keluar dari agama' bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya adalah keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya. Istilah 'keluar dari agama' kadang kala berarti kekafiran kadang kala tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu dari jama'ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang dilalui oleh Ahlus Sunnah.

Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan Umar Radhiyallahu 'anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya.

Faktor terpenting yang memicu terjadinya perpecahan dan yang terdahsyat efeknya terhadap umat adalah konspirasi dan makar yang dilancarkan oleh berbagai kaum pemeluk agama, seperti kaum Yahudi, Nashrani, Shabi'un (penyembah binatang dan dewa-dewa), Majusi dan Dahriyun (atheis).

Demikian pula barisan sakit hati yang masih menyimpan dendam terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena jihad Islam telah menyudahi kekuasaan mereka dan menghapus kejayaan mereka dari muka bumi. Seperti kerajaan Persia dan Romawi. Di antara mereka masih tersisa segelintir oknum yang bertahan di atas kekafirannya serta masih menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin.

Salah satu fenomena kerancuan dalam metodologi memahami agama yang merupakan sebab perpecahan umat ialah memisahkan diri dari para ulama rabbani. Yaitu sebagian penuntut ilmu, juru dakwah dan pemuda memisahkan diri dari ulama rabbani. Mereka merasa cukup menimba ilmu agama melalui buku, kaset, majalah dan media-media lainnya. Mereka enggan menuntut ilmu dari para ulama. Hal ini jelas merupakan gejala yang berbahaya bahkan merupakan benih perpecahan umat.

Di antara sebab-sebab perpecahan adalah asumsi yang berkembang bahwa mengikuti para imam-imam yang berada di atas hidayah dan ilmu sebagai sikap taqlid (membebek) yang dilarang. Kerancuan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang yang sok tahu. Mereka berkata : "Mengikuti syaikh-syaikh adalah taqlid". Sementara taqlid tidak dibolehkan dalam agama, mereka manusia dan kita juga manusia, kita berijtihad sebagaimana mereka berijtihad, kita memiliki sarana berupa buku-buku, zaman sekarang sarana ilmu tersedia lengkap, mengapa kita harus mengambil ilmu dari ulama ?, inilah pernyataan-pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan/pernyataan-pernyataan maupun perbuatan dari seorang Ahlul Ahwa dan atau Ahlul Bid'ah maupun Bahlul (Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk, NII, GAM/TNA ).
Walloohu 'alam bi showab

NB : Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman mengapa anda tidak mau mengomentari tulisan emas dari ulama rabbani tentang kebid 'ahan pernyataan adanya tauhid hakimiyah atau mulkiyah ?

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------