Stockholm, 24 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

APAKAH ADA PEMBUBARAN KERAJAAN IRAN PRA ISLAM SEBELUM BERDIRI REPUBLIK ISLAM IRAN?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MENYOROT SEKILAS PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KERAJAAN PERSIA ATAU IRAN SAMPAI MASA REVOLUSI ISLAM IRAN

"Apa kabar Bpk. Ahmad ? (Ada) referensi singkat mengenai pendirian Negara Islam Iran. Disebutkan di sana, sebelum 1979 adalah memiliki kondisi sama dengan NKRI sekarang ini (sekuler/kafir). Setelahnya Raja Reza Pahlevi digulingkan (ntah maksudnya dengan jalan apa digulingkan di sini) oleh Ayatulloh Khameini, maka diterapkan demokrasi secara baik dan memerintahkan (mewajibkan) umat Islam Iran untuk tidak golput dan memilih wakil-wakil mereka di parlemen Iran. Sehingga Ayatulloh khameini dapat secara 'legal' melalui jalur hukum (konstitusi) Iran pra hukum Islam, menegakkan hukum-hukum Islam di Negara Iran. Termasuk hasil dari pemilu di Iran yang mengakibatkan mayoritas wakil-wakil legislatif di isi oleh umat Islam. Lalu bagaimana status Negara Iran tersebut, jika memang benar Negara Islam Iran yang berdasarkan hukum Islam itu didapati dari hasil seperti dikemukakan dalam penjelasan di atas ? Apakah ada dilakukan semacam 'pembubaran' Negara Iran pra Islam terlebih dahulu sebelum digantikan dengan huum Islam dan menjadi Negara Islam Iran ? Karena menurut apa yang saya pahami dari hakikat sebuah Negara dengan sebuah yurespudensi pokok tertentu yang menjadi sistem Negara tersebut tidak mungkin dapat berubah kecuali melalui pembubaran terlebih dahulu." (Imarrahad , imarrahad@eramuslim.com , 23 Sep 2004 02:19:10 -0000)

Terimakasih saudara Imarrahad di Jakarta, Indonesia.

Sebenarnya kalau dilihat lebih kedalam, Iran atau yang dikenal dengan Persia mempunyai sejarah yang jauh menembus kealam 18000 SM - 14000 SM (sebelum Nabi Isa as). Nama Persia diganti dengan nama Iran pada tahun 1935 oleh Reza Shah Pahlavi dari Dinasti Pahlavi.

Disini Persia dibagi kedalam 9 periode:

1 Peridoe Negara Persia pertama: Achemenia Persia 648 SM - 330 SM
2 Periode Persia dibawah Makedonia 330 SM -170 SM
3 Periode Parthia Persia 170 SM - 226 M
4 Periode Sassania Persia 226-650
5 Periode Islam dan Persia 650-1219
6 Periode Persia dibawah kekuasaan Mongolia dan penerusnya 1219-1500
7 Periode kekaisaran Persia: Safavia1500-1722
8 Periode Persia dan Eropah 1722-1935
9 Periode Shah 1935-1979
10 Periode Revolusi Islam Iran 1979 - sampai sekarang

1 Periode Negara Persia pertama: Achemenia Persia 648 SM - 330 SM

Menurut catatan peninggalan sejarah Assyria yang ditemukan pada tahun 800 SM menuliskan bahwa orang Iran atau Persia disebut dengan orang Parsu. Disebutkan pula disamping hidup orang Parsu ini juga hidup orang Arya yang dinamakan orang Madai (Media). Dimana kedua kelompok ini, orang Parsu dan Madai, menduduki daerah Assyria, Babylonia, Scythia.

Dinasti pertama yang menguasai Persia atau Iran ini adalah yang dibangun oleh Achemene, seorang kepala suku Persia sekitar tahun 700 SM. Kemudian Dinasti Achemenia dilanjutkan oleh Teispe putranya Achemene. Dimasa Teispe ini, Persia atau Iran dibangun sebagai sebuah Negara Persia sekitar tahun 650 SM. Kemudian wilayah daerah kekuasaanya yang asalnya di daerah selatan Persia meluas ke wilayah Anshan yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Elam. Tetapi oleh keturunan Teispe wilayah Persia ini dibagi menjadi dua bagian, bagian wilayah yang dikontrol dari daerah Anshan, dan bagian wilayah yang dikontrol dari wilayah Persia diluar Anshan.

Tetapi pada tahun 559 SM, Cyrus menyatukan kedua wilayah Persia ini (Persia dan Anshan), dan mengambil alih kekuasaan Kekaisaran Media yang dikontrol oleh Astyages, Kakek dari Cyrus, dimana Astyages dijatuhkan dari kursi kekuasaannya. Dan pada tahun 550 SM Cyrus menduduki sisa wilayah Kekaisaran Media dan wilayah sebelah timur dan tengah. Sekarang wilayah Persia dan Media berada dibawah kekuasaan Cyrus. Seterusnya Cyrus menduduki daerah Lydia di Asia kecil dan menuasai wilayah Asia Tengah. Akhirnya pada tahun 539 SM Cyrus menduduki daerah Babylonia. Pada saat inilah Raja Cyrus membuat Deklarasi Hak kemanusian yang didalamnya memberikan janji bahwa Raja tidak akan menteror rakyat Babylonia dan tidak akan menghancurkan budaya dan lembaga budaya yang ada di Babylonia. Ketika pecah perang antara Kekaisaran Cyrus melawan Massageta atau Saka, Cyrus terbunuh dalam peperangan tersebut.

Selanjutnya kekuasaan Kekaisaran Persia ini dipimpin oleh Cambyses II, putranya Cyrus.Dimasa Cambyses II inilah Mesir dimasukkan kedalam wilayah daerah kekuasaan Kekaisaran Persia. Kekuasaan Kekaisaran Persia ini mencapai puncaknya ketika dipegang oleh Darius I dimana angkatan perang Persia bisa menduduki wilayah Eropah. Tetapi ketika berusaha menduduki wilayah Yunani, pasukan Darius I dapat dilumpuhkan sewaktu pecah perang di daerah Marathon. Kemudian Xerxes putranya Darius I mencoba kembali untuk menduduki Yunani, tetapi sekali lagi dapat dikalahkan oleh pasukan Yunani dalam perang di daerah Salami pada tahun 480 SM.

Pada masa periode dinasti Cyrus inilah Kekaisaran Achemenia Persia mencapai kebesarannya. Dimana ketika masa Darius I wilayah Persia dibagi kedalam 20 propinsi. Apalagi setelah wilayah Mesopotania berada dibawah kekuasaan Kekaisaran Persia Darius I ini. Pada masa periode Kekaisaran Achemenia Persia inilah Zoroaster menjadi agama Kekaisaran yang dianut oleh sebagian besar orang Persia ini. Dimana agama Zoroaster ini dikembangkan pada tahun 600 SM.

2 Periode Persia dibawah Makedonia 330 SM -170 SM

Ketika Raja Makedonia, Iskandar Agung atau Aleksandria atau Alexander the Great berkuasa, Kekaisaran Achemenia dapat diduduki dan dikuasi oleh Makedonia dibawah pimpinan Iskandar Agung. Kejatuhan Kekaisaran Achaemenia ini diawali dengan melemahnya kekuasaan Darius III, dimana setelah timbulnya kegoncangan yang ditimbulkan oleh Satrap dari Sardia yang menyewa sepuluh ribu orang-orang bayaran untuk mengangkat dirinya menjadi penguasa di wilayah Kekaisaran Achemenia.

Philip II dari Kerajaan Makedonia yang menguasai Yunani dan anaknya Alexander memutuskan untuk mencari keuntungan dari lemahnya Kekaisaran Achemenia ini. Pada tahun 334 SM, pasukan Alexander ini menduduki wilayah Asia Kecil, terus memasuki daerah Lydia, Phoenesia dan Mesir sebelum mengalahkan pasukan Darius III dan menduduki Ibu Kota Susa.

Ketika Kekaisaran Alexander melemah menyusul kematian Alexander, Seleucus, salah seorang putra jenderalnya Alexander, mengambil alih kontrol Persia, Mesopotania, Syria dan Asia Kecil. Dimana kekuasaan Seleucus ini dinamakan Dinasti Seleucia.

Pada periode Dinasti Seleucia ini telah terjadi perubahan besar di Persia. Dimana Yunani tetap menguasai Persia sampai tahun 250 SM. Bahasa Yunani, filosophi dan seni Yunani telah menjadi bagian dari kehidupan rakyat Persia. Ibu Kota dipindahkan dari Seleucia di Mesopotania pindah ke Antioch di Syria.

Pada tahun 238 SM Propinsi Bactria dan Parthia memisahkan diri dari Dinasti Seleucia. Angkatan perangnya Raja Antiochus III berusaha mempertahankan Parthia. Ditambah ketika Dinasti Seleucia menghadapi pemberontakan orang Maccabea di wilayah Judea dan menghadapi serangan dari Kekaisaran Kushan di bagian timur laut Persia, maka akhirnya Dinasti Seleucia dipukul habis oleh Parthia.

3 Periode Parthia Persia 170 SM - 226 M

Daerah Phartia Persia ini sekarang letaknya di bagian Timur Laut Iran. Dimana Phartia ini dipimpin oleh Dinasti Arsacia yang berasal dari suku Persia yang berada di daerah Parthia pada masa Alexander. Mereka menyatakan bebas dan berdiri sendiri dari Dinasti Seleucia pada tahun 238 SM. Ketika Parthia dibawah Mithridatea I pada tahun 170 SM wilayah Parthia bisa meluas ke Parsia. Dimana Dinasti Arsacia bersama Kerajaan Roma bersama-sama memiliki hak milik sungai Euphrat, walapun kedua Kerajaan ini mejadi lawan satu sama lainnya.

Karena tidak adanya kemauan politk untuk bersatu dikalangan Dinasti Arsacia, ditambah pada awal tahun Masehi timbul desentralisasi dimana para peodal yang mengatur daerah masing-masing. Ditambah pecah perang antara Dinasti Arsacia dan Kerajaan Roma di sebelah barat dan Kekaisaran Kushan disebelah timur laut yang mengakibatkan kekuasaan Dinasti Arsacia dari Parthia Iran ini menjadi lemah.

4 Periode Sassania Persia 226 - 650

Dinasti Arsacia hanya memegang kekuasaan di Parthia satu propinsi saja, sedangkan propinsi-propinsi lainnya telah memisahkan diri. Seorang raja lokal pada waktu itu, Ardashir I mengadakan pemberontakan kepada Pemerintah Parthia. Dalam waktu 2 tahun Ardashir I telah menjadi penguasa Kekaisaran Persia yang baru.

Kakek dari Ardashir adalah pendiri Dinasti Sassania adalah asli orang Persia yang berkuasa di Persia setelah Dinasti Achemenia. Karena itu Dinasti Sassania menganggap diri mereka sebagai penerus dari Darius dan Cyrus.

Dinasti Sassania menyerang Kerajaan Roma dan menangkap Raja Valerian pada tahun 260. Dinasti Sassania ini tidak sama dengan Kerajaan Parthia, dimana kalau Kerajaan Parthia merupakan kerajaan yang desentralisasi, sedangkan Dinasti Sassania merupakan Kerajaan yang sentralisasi.

Dimana rakyat digolongkan kedalam pekerjaannya, seperti pendeta, militer, tata usaha, rakyat biasa. Agama zoroaster diakui sebagai agama kerajaan dan disebarkan keseluruh wilayah. Adapun kalau ada penganut agama lain, tidak dibenarkan dan dibuntuti.

Pada tahun 400, orang Hua Putih melakukan penyerangan dan menduduki daerah timur Persia. Disamping itu pada waktu yang sama kaum Mazdakit melakukan pemberontakan kepada Pemerintah Kerajaan pusat

Raja Khosro I telah berhasil memadamkan pemberontakan Mazdakit dan mengalahkan serangan kaum Hua putih, yang selanjutnya memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke negeri Kristen Antioch dan Yaman.

Pada tahun 605 sampai 629 Dinasti Sassania berhasil menganeksasi Mesir, Levania, Anatolia, bahkan sampai menduduki Konstantinopel, tetapi di Konstantinopel tidak bisa mengalahkan kekuasaan Byzantium disana.

Kekaisaran Heraklius berhasil mengalahkan pasukan bersenjata Dinasti Sassania di Asia Kecil dan di Mesopotania Utara. Tahun 629 Khosro II (Parviz) dibunuh, kemudian Dinasti Sassania masuk kedalam jurang anarki, perpecahan, dan perang bersaudara, setelah pengganti Khosro II, Kavadh II dibunuh. Pada tahun 642 pecah perang bersaudara dan Raja dari Dinasti Sassania dibunuh, akhirnya Dinasti Sassania tidak mampu lagi mengontrol wilayah kekuasaannya.

5 Periode Islam dan Persia 650 - 1219

Ketika Islam berkebang di Jazirah Arab yang dimulai dari Yatsrib (Madinah sekarang) meluas ke luar daerah Jazirah Arab sampai ke Syria dan Persia.

Ketika Dinasti Umayah berkuasa dan untuk menjalankan roda administasi pemerintahannya, dipinjam sistem yang sudah dipakai di Persia dan Byzantium. Wilayah kekuasaan Dinasti Umayah terbentang dari mulai Spanyol sampai ke Indus, dari Laut Aral sampai ke Arab Selatan, dimana Ibu Kota Dinasti Umayah terletak di Damaskus, Syria.

Agama zoroanter yang berlaku di Persia diganti dengan Islam. Masjid-masjid dibangun, bahasa arab telah menjadi bahasa umum. Perempuan-perempuan Persia kawin dengan orang Arab. Dinasti Umayah berkuasa selama seratus tahun. Penguasa-penguasa dari Dinasti Umayah yang dimulai dari Muawiyah I bin Abu Sufyan 661 - 680, Yazid I bin Muawiyah 680 - 683, Muawiya II bin Yazid 683 - 684, Marwan I bin Hakam 684 - 685, Abd al-Malik bin Marwan 685 - 705, Al-Walid I bin Abd Al-Malik 705 - 715, Sulaiman bin Abd Al-Malik 715 - 717, Umar bin Abdul Al-Aziz 717 - 720, Yazid II bin Abdul Al-Malik 720 - 724, Hisham bin Abdul Al-Malik 724 - 743, Al-Walid II bin Yazid II 743 - 744, Yazid III bin Al-Walid 744, Ibrahim bin Al-Walid 744, Marwan II bin Muhammad 744 - 750.

Pada tahun 750 Dinasti Umayah ditumbangkan dari kekuasaannya, digantikan oleh Dinasti Abbasiyah. Dimana Dinasti Abbasiyah inilah Islam mencapai jaman keemasan. Dimana tumbuh dan berkembang ilmu pengetahuan dan matematik, seperti penemu aljabar yang pertama yaitu Al-Khwarizmi pada tahun 810.

Walaupun Dinasti Umayah di Syria bisa ditumbangkan, tetapi penerus Dinasti Umayah meneruskan kekuasaannya di Andaluzie, Cordoba, Spanyol, dimana Abdurrahman III, diangkat sebagai Khalifah 929 - 961, diteruskan oleh Al-Hakam II 961 - 976, Hisham II 976 -1008, Mohammed II 1008 - 1009, Suleiman 1009 - 1010, Hisham II 1010-1012, Suleiman 1012 - 1017, Abdurrahman IV 1021 - 1022, Abdurrahman V 1022-1023, Muhammad III 1023 - 1024, Hisham III 1027 - 1031.

Sejalan dengan Dinasti Umayah di Cordoba berdiri, Dinasti Abbasiyyah terus menjalankan kekuasaannya. Dimana Dinasti Abbasiyah ini berasal dari Abbas bin Abdul Muttalib 566 -652, salah seorang paman Rasulullah saw yang termuda. Dinasti Abbasiyah ini menganggap keturunan dari Bani Hasyim yang menurunkan keturunan ke Rasulullah saw. Sedangkan Dinasti Umayah berasal dari Bani Umayah yang bukan dari keturunan Bani Hasyim.

Jatuhnya Dinasti Umayah ketika Marwan II bin Muhammad 744 - 750, banyak sekali yang menentang kepada Khalifah Marwan II ini, termasuk Imam Ibrahim keturunan ke empat dari Abbas yang tangkap dan dipenjarakan pada tahun 747, kemudian meninggal dalam penjara. Perjuangan menentang kepada Khalifah Marwan II dilanjutkan oleh saudaranya Imam Ibrahim, Abdullah yang dikenal dengan nama Abu Al Abbas As-Saffah, yang berhasil mengalahkan kekuatan Marwan II bin Muhammad pada tahun 750, dan pada tahun yang sama menyatakan sebagai Khalifah dari Dinasti Abbasiyah. Khalifah Abul Abbas Al-Saffah berkuasa dari 750 - 754. Setelah itu dilanjutkan oleh Khalifah Al-Mansur 754 - 775.

Ketika kekuasaan Abbasiyah dipegang oleh Al Mansur, Ibu Kota dipindahkan ke Baghdad. Disamping itu berhasil menguasai dan menduduki daerah Asia Kecil. Pada masa Dinasti Abbasiyah ini pengikut dan keturunan dari Ali bin Abu Thalib dikejar-kejar, sehingga Khalifah dari Dinasti Abbasiyah ini tidak begitu populer dikalangan para pengikut dan keluarga Ali bin Abu Thalib. Setelah Al-Mansur turun, digantikan oleh Al-Mahdi 775 - 785, dan selanjutnya diteruskan oleh Al-Hadi 785 - 786.

Ketika kekhalifahan dipegang oleh Harun Al-Rashid 786 - 809 yang menggantikan Al-Hadi, juga pada masa Al-Amin 809 - 813 yang menggantikan Harun Al-Rashid, Dinasti Abbasiyah mengalami masa cemerlang dan keamasan.

Pada masa Abbasiyah ini kerajaan di Afrika dan di Khorasan menyatakan diri bebas dari kekuasaan pusat Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Setelah Al-Ma'mun 813 - 833 digantikan oleh Al-Mu'tasim 833 - 842 yang memberikan kekuasaan kepada budak Turki yang diberikan kekuasaan sebagai pengawal utama Khalifah, sehingga kekuasaan pengawal Khalifah yang dipegang oleh orang budak Turki ini makin kuat sampai pada masa Kahlifah Al-Radi 934 - 940.

Pengganti Khalifah Mu'tasim adalah Al-Wathiq 842 - 847, diteruskan oleh Al-Mutawakkil 847 - 861, Al-Muntasir 861 - 862, Al-Musta'in 862 - 866, Al-Mu'tazz 866 - 869, Al-Muhtadi 869 - 870, Al-Mu'tamid 870 - 892, Al-Mu'tadid 892 - 902, Al-Muktafi 902 - 908, Al-Muqtadir 908 - 932, Al-Qahir 932 - 934, Al-Radi 934 - 940, Al-Muttaqi 940 - 944, Al-Mustakfi 944 - 946, Al-Muti 946 - 974, Al-Ta'i 974 - 991, Al-Qadir 991 - 1031, Al-Qa'im 1031 - 1075.

Ketika Khalifah Al-Qa'im 1031 - 1075 memegang kekuasaan di Baghdad, Persia diserang oleh bangsa Seljuk Turki dari bagian Timur Laut pada tahun 1037. Dimana bangsa Seljuk Turki ini telah membangun kekuasaan Kerajaannya diwilayah Persia sebelah Timur dan Tengah. Bangsa Seljuk Turki ini juga telah dipengaruhi oleh Islam, dan membangun Masjid yang besar di Isfahan.

Pada awal tahun 1200 Seljuk Turki kehilangan kontrol di Persia karena mendapat serangan dari bangsa Turki lainnya dari wilayah Khwarezmia dekat Laut Aral. Tetapi kekuasaan Kerajaan Khwarezmia hanya berkuasa sebenatr di Persia, karena pada tahun 1258 Persia diserang oleh Hulagu Khan jenderal dari Dinasti Mongolia.

Sebelum Persia diserang oleh Gulagu Khan, dan ketika Persia diduduki oleh Kerajaan Seljuk Turki dan oleh Kerajaan Turki Khwarezmia, di Baghdad telah berganti kekuasaan. Dimana setelah Khalifah Al-Qa'im 1031 - 1075 digantikan oleh Al-Muqtadi 1075 - 1094, lalu diteruskan olrh Al-Mustazhir 1094 - 1118, Al-Mustarshid 1118 - 1135, Al-Rashid 1135 - 1136, Al-Muqtafi 1136 - 1160, Al-Mustanjid 1160 - 1170, Al-Mustadi 1170 - 1180, An-Nasir 1180 - 1225, Az-Zahir 1225 - 1226, Al-Mustansir 1226 - 1242, Al-Musta'sim 1242 - 1258.

Begitu juga ketika Khalifah Al-Musta'sim 1242 - 1258 Baghdad diserang oleh Hulagu Khan jenderal dari Dinasti Mongolia dan menghancur leburkan baghdan dan membunuh rakyat yang dimulai pada tanggal 28 Februari 1258.

Walaupun Baghdad dapat dihancurkan oleh Hulagu Khan, tetapi kekuasaan Abbasiyah masih belum lenyap, karena kekuasaan diteruskan di Mesir oleh Al-Mustansir 1261, Al-Hakim I 1262 - 1302, Al-Mustakfi I 1302 - 1340, Al-Wathiq I 1340 - 1341, Al-Hakim II 1341 - 1352, Al-Mu'tadid I 1352 - 1362, Al-Mutawakkil I 1362 - 1383, Al-Wathiq II 1383-1386, Al-Mu'tasim 1386 - 1389, Al-Mutawakkil I 1389 - 1406, Al-Musta'in 1406 - 1414, Al-Mu'tadid II 1414 - 1441, Al-Mustakfi II 1441 - 1451, Al-Qa'im 1451 - 1455, Al-Mustanjid 1455 - 1479, Al-Mutawakkil II 1479 - 1497, Al-Mustamsik 1497 - 1508, Al-Mutawakkil III 1508 - 1517.

Tetapi ketika Khalifah Al-Mutawakkil III 1508 - 1517 ditangkap dan ditawan kemudian di bawah ke Konstantinopel oleh Selim I, maka berakhirlah Dinasti Abbasiyah di Mesir ini.

6 Periode Persia dibawah kekuasaan Mongolia dan penerusnya 1219 - 1500

Pada tahun 1218 Jengis Khan mengirimkan Duta Besar dan utusan misinya ke kota Otrar di daerah Timur Laut Khwariza. Tetapi Gubernur Otrar membunuh Duta Besar dan Utusan Misi Jengis Khan ini. Kemudian Jengis Khan membalas dendam dan menyerang Otrar pada tahun 1219 diteruskan ke Samarkandia dan kota-kota lainnya di wilayah bagian utara.

Hulagu Khan cucu Jengis Khan, meneruskan penyerangan dan perluasan kekuasaannya ke Persia, Baghdad, dan wilayah di Timur Tengah dari mulai tahun 1255 sampai tahun 1258. Dimana Persia menjadi Ilkhanat yaitu wilayah bagian Kerajaan Mongolia sebelah barat. Pada tahun 1295 setelah Ilkhan Ghazan masuk Islam, seluruh rakyat yang ada Persia dibawah kekuasaan Ilkhan Ghazan harus menyatakan kesetiannya kepada Khan yang agung.

Pada tahun 1335, ketika Ilkhan terakhir meninggal, maka berakhirlah kekuasaan Ilkhanat di Persia, dan Persia terbagi-bagi menjadi negeri-negeri kecil.

Pada tahun 1370 kembali Persia diserang oleh Timur Lenk dari Dinasti Mongolia, yang lebih bengis dan biadab dibanding dengan Jengis Khan. Persia hancur diratakan dengan tanah. Selama lebih dari seratus tahun Persia tidak bisa disatukan. Diakhir tahun 1400 Persia dikuasai oleh bangsa Turki dari Emirate "Turki Putih" atau Ak Koyunlu dalam bahasa Turki.

7 Periode kekaisaran Persia: Safavia 1500 - 1722

Shah Ismail I dari Dinasti Safaviyah dari Azerbaijan yang pada waktu itu merupakan bagian dari Persia melakukan penyerangan kepada Emirate Turki Putih ini, dan mendirikan Kerajaan Persia. Shah Ismail I meluaskan wilayah kekuasaannya dari mulai Azerbaijan meluas ke Iran, Iraq, ditambah Afghanistan.

Perluasan dan ekspansi Shah Ismail I distop oleh Dinasti Turki Usmani dalam perang di daerah Chaldiran pada tahun 1514.

Dinasti Safaviyah Persia dalam tahun-tahun berikutnya menjadi Negeri yang kaos. Pada tahun 1588, Shah Abbas penerus dari Dinasti Safaviyah telah melakukan peningkatan dan pembaharuan dalam bidang budaya dan politik. Ibu Kota Dinasti Safaviyah dipindahkan ke Isfahan. Melakukan perjanjian damai dengan Dinasti Turki Usmaiyah. Melakukan reformasi dalam angkatan perangnya. Memoderenisasikan Uzbekistan, dan menduduki pangkalan militer Portugis di Ormus. Kaum Safaviyah ini pengikut shi'ah dan Persia menjadi negara terbesar penganut shi'ah di dunia. n

8 Periode Persia dan Eropah 1722 - 1935

Tahun 1722 Dinasti Safaviyah diduduki. Penyebab utama dari kejatuhan ini adalah adanya serangan dari Kerajaan Afghanistan. Dan pada tahun yang sama Kaisar Peter Agung dari Kekaisaran Rusia menyerang Persia untuk tujuan menguasai wilayah Asia Tengah . Dengan adanya dua serangan dari Kerajaan Afghanistan dan Kekaisaran Rusia yang kemudian Isfahan diduduki.

Walaupun Isfahan diduduki, tetapi wilayah lainnya Safaviyah Persia tidak bisa direbut oleh Kekaisaran Rusia dan Afghanistan. Hanya makin lama Dinasti Safaviyah makin lemah, apalagi setelah orang-orang Afghanistan melakukan pemberontakan karena dipaksa untuk menukar Sunni dengan syi'ah pada tahun 1722. Akhirnya kekuasaan Dinasti Safaviyah runtuh, kemudian kekuasaan dipegang oleh Nadir Shah dari tahun 1730 sampai 1740. Orang-orang Rusia yang ada di Persia diusir dari Persia, dan membatasi orang-orang Afghanistan tidak boleh keluar dari perbatasan Afghanistan.

Nadir Shah juga melancar aksi pembalasan terhadap musuh lamanya dari kaum Khanat dan Asia Tengah, dimana kebanyakan dari orang-orang Khanat ini dibunuh, ditawan dan dibawa ke Persia. Ketika Nadir Shah meninggal karena dibunuh pada tahun 1747, maka kekuasaan Nadir Shah menjadi lemah, kemudian Persia dipegang oleh Dinasti Zand tetapi hanya dalam waktu singkat saja, karena dari tahun 1779 sampai 1925, Dinasti Qajar muncul untuk menguasai dan pemimpin kerajaan Persia. Walaupun Persia berada ditangan Dinasti Qajar, tetapi tidak mampu bersaing dengan pertumbuhan Kekuasaan Kekaisaran Rusia di Asia Tengah dan kekuasaan Kerajaan Inggris yang meluaskan daerahnya ke India.

Kendatipun Persia dibawah Dinasti Qajar tidak langsung diserang oleh Kerajaan Inggris, tetapi karena masalah ekonomi terutama yang menyangkut penemuan ladang minyak di Persia, maka pihak Kerajaan Inggris melakukan serangan ke Persia di masjid Al Salaman di daerah Persia bagian barat daya. Kemudian Kerajaan Inggris langsung mengklaim bahwa ladang minyak yang ditemukan itu milik Inggris, dan hasil dari ladang minyak itu mengalir ke Inggris.

Setelah perang Dunia I, Kerajaan Inggris dan Kekaisaran Rusia mengklaim Persia sebagai Negara Protektorat dalam usaha untuk mengkontrol ladang minyak.

Tetapi pada tahun 1925 muncul Dinasti Pahlavi dibawh pimpinan Reza Shah Pahlavi yang anti kolonial meduduki dan menguasai Qajar. Tetapi pihak Kerajaan Inggris dan Kekaisaran Rusia tetap memegang kekuatan ekonomi terutama minyak yang ada di Persia.

Dimulai dari tahun 1930 Persia bukan lagi satu kekuatan Kerajaan yang kuat sebagaimana sebelumnya, melainkan hanyalah sebagai senjata politik bagi pihak Barat, maka pada tahun 1935 Reza Shah Pahlavi meminta kepada Dunia untuk memanggil Persia dengan sebutan Iran.

9 Periode Shah 1935 - 1979

Pada masa Pemerintahan Shah Reza Pahlavi Iran menjadi bentuk Kerajaan yang ber-Undang- Undang Dasar. Dimana Parlemen diberikan banyak kekuasaan. Pada awalnya Kerajaan Iran mengalami ketidak stabilan politik. Dan dari sejak tahun 1947 - 1951 telah terjadi 6 kali pergantian Perdana Menteri.

Pada tahun 1951 Perdana Menteri Muhammad Mussadegh, seorang nasionalis, meminta kepada Parlemen untuk menaionalisasikan Perusahaan minyak yang dikuasai Inggris. Dengan adanya sikap penentangan terhadap Inggris dan adanya blokade ekonomi terhadap Iran, maka Muhammad Mussadegh pada tahun 1952 dipaksa untuk turun dari kuris Perdana Menteri. Tetapi tidak lama kemudian bisa naik lagi menduduki kekuasaan, mendeklarkan Iran sebagai Republik, dan memaksa Shah Reza Pahlavi lari. Beberapa hari kemudian atas bantuan CIA, Shah Reza Pahlavi kembali lagi dan menggulingkan Muhammad Mussadegh pada 19 Agustus 1952, dan Iran kembali ke bentuk Kerajaan.

Sebagai balas jasa terhadap Amerika, Shah Reza Pahlavi telah mengizinkan konsorsium internasional untuk masalah minyak, yaitu Inggris memegang 40 %, Amerika 40 %, Perancis 6 % dan Belanda 14 % dalam jangka waktu 25 tahun.

Dari tahun 1950 sampai akhir tahun 1960 di Iran keadaan mulai stabil, sehingga undang undang darurat yang diterapkan sejak tahun 1950 dicabut pada tahun 1957. Dimana Iran menjadi Kerajaan yang lebih banyak terikat kepada Barat. Disamping itu menandatangani perjanjian kerjasama ekonomi dan militer dengan Amerika. Amerika membantu memoderenisasikan Iran.

Adanya usaha kerjasama dengan pihak Barat dan memoderenisasikan Iran, menimbulkan sikap penentangan dari pihak Islam, terutama yang dimotori oleh Mujahiddin Al-Khalq yang mayoritas anggotanya Mahasiswa Iran. Dan pada pertengahan tahun 1960 situasi politik di Iran menjadi tidak stabil.

Pada tahun 1961 Shah Reza Pahlavi melakukan reformasi dalam masalah ekonomi, sosial, dan administrasi, yang dikenal dengan nama Revolusi Putih Shah yang menekankan kepada reformasi pertanahan, moderenisasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penguasaan cadangan-cadangan minyak yang ada.

Dengan adanya sikap oposisi dari pihak Mujahiddin Al-Khalq, maka pada tahun 1965 Perdana Menteri Hassan Ali Mansur dibunuh. Savak atau Badan Intellijen Iran bekerja sangat aktiv. Diperkirakan antara 13 000 sampai 13 500 orang yang ditangkap oleh Savak dan di tortirnya.

Makin kerasnya aksi oposisi ini, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini di exil pada tahun 1964 di Irak. Hubungan luar negeri dengan Irak memburuk, diakibatkan adanya konflik masalah Shatt Al-Arab yang sudah berlangsung sejak tahun 1937 ketika perjanjian tentang Shatt Al-Arab ditandatangani. Menyusul kejadian bulan April 1969 di Iran, Pemerintah Iran menolak untuk melakukan perundingan dan perjanjian baru dengan Irak sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian 1939. Pada tahun 1970 Pemerintah Iran meningkatkan Anggaran Belanjanya untuk militer. Pada bulan November 1971 Pemerintah Iran menduduki daerah mulut Teluk Persia, sedangkan dari pihak Pemerintah Irak, membalas dengan mengusir ribuan warga negara Iran dari Irak.

Pada tahun 1970 pihak Mujahiddin Al-Khalq membunuh personal militer dan sipil Amerika yang ditempatkan di Teheran dengan tuduhan terlibat dalam kontrak militer. Disamping itu tujuan dari Mujahiddin Al-Khalq dengan aksi pembunuhan terhadap personal militer dan sipil Amerika di Teheran ini adalah dalam rangka memperlemah kekuatan Shah Reza Pahlavi dan menyetop pengaruh dari pihak Pemerintah asing.

Pada pertengahan tahun 1973 Shah Reza Pahlavi menasionalisasi minyak Iran. Menyusul perang Arab Israel pada bulan Oktober 1973. Dimana Iran tidak bergabung dengan Negara Arab lain penghasil minyak untuk melakukan embargo terhadap Barat dan Israel. Malahan sebaliknya uang hasil minyak dipakai untuk mempersenjatai angkatan perang Iran.

Tentang persengketaan dengan Irak, pada tanggal 6 Maret 1975 dilakukan penandatanganan perjanjian antara Iran dan Irak di Al Jazair.

Dengan makin kuatnya oposis dari pihak Mujahiddin Al-Khalq, maka pada bulan September 1978 dideklarkan undang undang darurat militer. Tetapi pada tanggal 16 Januari 1979, Shah Reza Pahlavi tidak mampu lagi mempertahankan kekuasaannya walaupun didukung oleh Savak, akhirnya Shah Reza Pahlavi lari ke Mesir.

10 Periode Revolusi Islam Iran 1979 - sampai sekarang

Setelah Shah Reza Pahlavi jatuh dari kekuasaannya pada tanggal 16 Januari 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini yang berda di exil selama 15 tahun, yaitu di Perancis, Turki, Irak, kembali ke Iran pada tanggal 1 Februari 1979 dari Perancis, dan menggulingkan Pemerintah Kerajaan Iran dibawah Shah Reza Pahlavi pada tanggal 11 Februari 1979, serta menjadi Pimpinan Tertinggi Ulama dan Pemimpin Revolusi, dengan program mengembalikan hukum Islam dan budaya Islam. Melarang budaya Barat.

Sebagai Perdana Menteri diangkat Bazargan, dan partai Republik Islam didirikan. Kemudian ulama-ulama lokal membentuk sel-sel revolusi untuk menjalankan perintah dan komando dari Pemerintah dan dari Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dimana sel-sel revolusi ini menjadi komite lokal, yang akhirnya komite lokal ini menjadi Pengawal Revolusi pada bulan Mei 1979.

Pada tanggal 1 April 1979 diproklamasikan berdirinya Republik Islam Iran. Dan pada bulan Juni 1979 dikeluarkan draft konstitusi yang menyatakan Iran menjadi Republik Islam Iran. Dimana draft konstitusi diserahkan kepada Majelis Syura Islam yang anggotanya baru terpilih, untuk diperiksa dan dikaji kembali. Konstitusi disahkan pada tanggal 3 Desember 1979. Dalam konstitusi yang baru itu dibuat satu pos dengan nama Pemimpin Tertinggi yang diberikan kepada Ayatollah Ruhollah Khomeini. Presiden dipilih 4 tahun sekali, yang mana calon Presiden harus diluluskan terlebih dahulu oleh Pemimpin Ulama Tertinggi. Kemudian Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi Pimpinan Tertinggi Ulama dan Pemimpin Revolusi. Dimana jumlah anggota Majelis Syura Islam menurut konstitusi baru ini adalah 270 kursi. Tetapi pada tanggal 18 Februari 2000 ketika diadakan pemilihan anggota Majelis Syura Islam baru dirubah jumlahnya menjadi 290 kursi.

Pada tanggal 4 November 1979 Kedutaan Besar Amerika di teheran diduduki oleh Mujahiddin Al-Khalq sampai tanggal 20 Januari 1981. Dalam usaha membebaskan sandera di Kedutaan besar Amerika di Teheran, pihak Pemerintah Jimy Carter melakukan embargo ekonomi pada Irak yang berlaku sejak 7 April 1980. Pada tanggal 25 April 1980 misi pembebasan Kedutaan besar Amerika mengalami kegagalan, karena masalah bertabrakannya pesawat helikopter Amerika satu sama lainnya, yang dinyatakan karena adanya gangguan teknik, dan 8 komando pasukan elit Amerika mati. Pada tanggal 24 Mei 1980 Pengadilan Internasional menyerukan untuk segera dibebaskan sandera yang ada di Kedutaan Besar Amerika. Dan pada hari kemenangan Ronald Regan terpilih menjadi Presiden Amerika, para sandera dibebaskan.

Pada tanggal 22 September 1980 Irak menyerang Iran. Dan pecah perang Irak Iran. Pada tahun 1981 Mujahiddin Al Khalq meledakkan bom didepan kantor Partai Republik Islam dan membunuh Menteri Kehakiman Ayatollah Mohammad Beheshti, Presiden Mohammad Ali Rajai, dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar. Kemudian Amerika disebut sebagai Setan besar.

Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal pada tanggal 3 Juni 1989, dan pada tanggal 4 Juni 1989 dipilih Ayatollah Ali Hoseini Khamenei mantan Presiden sebagai pengganti Ayatollah Ruhollah Khomeini oleh Dewan Ulama Senior.

Pada bulan Agustus 1989, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, Ketua Majelis Nasional Iran dipilih sebagai Presiden dengan suara mayoritas. Dan pada tahun 1993 kembali Ali Akbar Hashemi Rafsanjani terpilih sebagai Presiden. Pada tanggal 3 Agustus 1997 Mohammad Khatami Ardakani terpilih menjadi Presiden mengggantikan Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Pada tanggal 8 Juni 2001 Mohammad Khatami Ardakani terpilih kembali menjadi Presiden Iran yang dipilih secara langsung.

Sekarang setelah menelusuri jejak jalur pertumbuhan dan perkembangan Persia yang bertukar nama menjadi Iran dari sejak sebelum Islam masuk ke Persia sampai ke masa Revolusi Islam Iran, dapatlah diketahui bahwa terbentuknya Negara Republik Islam Iran yang diproklamasikan pada tanggal 1 April 1979, adalah sebagai hasil usaha rakyat Iran dalam membangun Negara, agama, dan membela rakyatnya dari tindakan sewenang-wenang pihak Penguasa sebelumnya Shah Reza Pahlavi yang dijatuhkan dari kekuasaanya pada tanggal 16 Januari 1979 untuk kembali menegakkan Islam sebagaimana yang pernah terjadi ketika masih jaya-jayanya Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Persia atau Iran ini.

Dengan diproklamasikan Iran sebagai Negara Republik Islam Iran menggambarkan bahwa secara de-jure dan de-facto kekuasaan Kerajaan Iran di bawah Shah Reza Pahlavi telah hilang digantikan dengan Negara baru Republik Islam Iran dengan konstitusinya yang baru yang disahkan pada tanggal 3 Desember 1979 oleh anggota Majelis Syura Islam yang anggotanya dipilih baru sejak Iran diproklamasikan sebagai Negara Republik Islam Iran.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: 23 Sep 2004 02:19:10 -0000
From: <imarrahad@eramuslim.com>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Subject: Mengenai Iran

Assalamu`alaikum Wr Wbr

Apa kabar Bpk. Ahmad ? Semoga dalam lindungan dan barokah ALloh Swt. amin.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih mengenai penjelasan sejarah Afghanistan. Pagi ini, saya menerima referensi singkat mengenai pendirian Negara Islam Iran. Disebutkan di sana ;

Sebelum 1979 adalah memiliki kondisi sama dengan NKRI sekarang ini (sekuler/kafir). Setelahnya Raja Reza Pahlevi digulingkan (ntah maksudnya dengan jalan apa digulingkan di sini) oleh Ayatulloh Khameini, maka diterapkan demokrasi secara baik dan memerintahkan (mewajibkan) umat Islam Iran untuk tidak golput dan memilih wakil-wakil mereka di parlemen Iran. Sehingga Ayatulloh khameini dapat secara 'legal' melalui jalur hukum (konstitusi) Iran pra hukum Islam,
menegakkan hukum-hukum Islam di Negara Iran. Termasuk hasil dari pemilu di Iran yang mengakibatkan mayoritas wakil-wakil legislatif di isi oleh umat Islam.

Lalu bagaimana status Negara Iran tersebut, jika memang benar Negara Islam Iran yang berdasarkan hukum Islam itu didapati dari hasil seperti dikemukakan dalam penjelasan di atas ? Apakah ada dilakukan semacam 'pembubaran' Negara Iran pra Islam terlebih dahulu sebelum digantikan dengan huum Islam dan menjadi Negara Islam Iran ? Karena menurut apa yang saya pahami dari hakikat sebuah Negara dengan sebuah yurespudensi pokok tertentu yang menjadi sistem Negara tersebut tidak mungkin dapat berubah kecuali melalui pembubaran terlebih dahulu.

Bagaimana kaitannya dengan Sejarah Iran di atas ? Ataukah Negara Islam Iran itu adalah Negara yang menjalankan syariat Islam tapi dasarnya Negara sebenarnya masih Sekuler seperti apa yang diterapkan di provinsi Aceh yang menjalankan syariat Islam tapi masih bernaung di bawah dasar Negara Pancasila NKRI ?

Sekian pak Ahmad, semoga Bpk. berkenan untuk memberikan penjelasannya. Jazakalloh khiran katsiran.

wassalam.
----------