Stockholm, 27 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN TAKLID PEMIMPIN WAHABI SAUDI & JAHIL DASAR HUKUM ISLAM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN ITU WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN KAUM WAHABI-SALAFI DI RI HANYALAH MENGEKOR PEMIMPIN WAHABI SAUDI YANG SALAH KAPRAH SEHINGGA RANCU MEMAHAMI NEGARA KAFIR RI DAN DASAR HUKUM ISLAM

"Baiklah Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman seandainya anda dan orang-orang NII, GAM/TNA pernah berguru kepada ulama ( ulama rabbani bukan ulama NII ) namun jelas itu pada waktu duluuuuu sekali ( tidak pada saat sekarang ini ) dan belum terjadi fitnah Aceh - RI. Walaupun begitu yang saya maksudkan atas komentar saya kemaren yg tertuang di atas adalah adakah ulama manapun yang setuju dengan cara jihad dan hijrahnya NII, GAM/TNA yaitu dengan perang melawan RI yang sebagian besar muslim ?. Jelas tidak ada seandainya ada sudah pasti itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman segera mencantumkan ulama-ulama yang saya maksud ( termasuk yg mengkafirkan Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya ). Jadi dengan pendeklarannya kemaren hari kamis oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman benarlah mereka semua ( NII, GAM/TNA ) termasuk Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah. Kemudian sampai detik ini itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tidak mau menjawab pengertian taklid dan jahil. Karena memang kedua pengertian tersebut sudah saya bahas walaupun tidak begitu mendetail." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Mon, 27 Sep 2004 00:38:47 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Setelah diperhatikan, dibaca, digali, apa yang dilambungkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi di mimbar bebas ini adalah benar-benar menggambarkan orang-orang yang hanya pandainya mengekor para pimpinan kaum Wahabi Saudi, tanpa adanya kemampuan untuk melihat, membahas, menggali, menganalisa, menyimpulkan tentang dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan pemerintahan dan negara sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Sehingga akibatnya bukan menimbulkan hasil pemikiran yang sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw, melainkan melahirkan pemikiran yang rancu dan penuh kedangkalan, kepicikan, kesempitan, pertentangan, dan perpecahan dalam kalangan umat Islam.

Perhatikan saja salah satu akibat dari kepicikan, kedangkalan, kesempitan cara berpikir, pemahaman, analisa Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah ketika melambungkan hasil pikirannya: "Jelas sekali Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tidak bisa memahami pertanyaan saya. Itu pertanyaan saya seharusnya di jawab dengan kata-kata yg sederhana "ada ulama NII" atau "tidak ada". Kemudian pertanyaan saya pada kalimat terakhir, "Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman (mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir) ?", Juga tidak dijawab oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs."

Nah, setelah dasar-dasar pemikiran yang melahirkan pertanyaan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dijawab oleh Ahmad Sudirman, seperti yang menyangkut ulama rakyat NII, ulama-ulamanya anggota GAM/TNA, begitu juga ulama-ulamanya Ahmad Sudirman yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini.

Dimana Ahmad Sudirman menulis: "jelas imam-imam dan pemimpin-pemimpin dalam NII mereka memiliki ulama-ulama yang mereka pelajari ilmu-ilmunya baik melalui kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, tafsir, fiqh, ushul fiqh. Mengapa harus kita perdebatkan siapa ulama-ulama besar yang dipelajari ilmunya oleh para pimpinan dan rakyat NII. Biarkan mereka bebas belajar, menggali, memikirkan, menganalisa, ilmu-ilmu yang diberikan Allah SWT kepada kita umat manusia. Begitu juga bagi rakyat Acheh yang ada di Acheh, atau yang ada dalam ASNLF atau GAM, mereka telah mempelajari ilmu-ilmu agama kepada para ulama, baik melalui karya-karyanya yang tertuang dalam kitab-kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, fiqh, dan ushul fiqh. (Ahmad Sudirman, 23 September 2004)

Begitu juga ulama-ulamanya Ahmad Sudirman, dimana telah ditulis dalam tulisan sebelum ini yang berbunyi: "itu semua ilmu yang Ahmad Sudirman gali, pelajari, hayati, pahami, analisa yang datangnya baik itu melalui kitab-kitab seperti tafsir, ushul fiqh, fiqih, hadits, mushthalah hadits yang ditulis dan dikumpulkan oleh ulama-ulama besar, maka itulah ulama-ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman. Begitu juga ulama-ulama yang pernah Ahmad Sudirman gali ilmunya ketika masih di Negara-Negara Arab, apakah melalui buku-bukunya, atau ceramah-ceramahnya, atau tulisan-tulisannya, atau hutbah-hutbahnya, itulah ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman, walaupun tidak semua jalan pikiran ulama yang dikenal Ahmad Sudirman diterima oleh Ahmad Sudirman. Tetapi sebagai guru dan sekaligus sebagai ulama, maka Ahmad Sudirman sangat menghormatinya." (Ahmad Sudirman, 23 September 2004)

Jadi dengan ditampilkannya jawaban Ahmad Sudirman ini sudah jelas menggambarkan bahwa ada ulama-ulamanya para imam dan rakyat NII, ulama-ulama para anggota GAM/TNA, dan ulama-ulamanya Ahmad Sudirman.

Tetapi karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi picik dan sempit pandangan dan wawasannya, maka jelas sangat sulit untuk mencerna apa yang diungkapkan oleh Ahmad Sudirman itu. Sehingga karena memang kesempitan dalam wawasan dan pandangan yang dimiliki oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini, akhirnya ketika membaca hasil pemikiran Ahmad Sudirman, itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi hanya mampu menyatakan: "Itu pertanyaan saya seharusnya di jawab dengan kata-kata yg sederhana "ada ulama NII" atau "tidak ada". Kemudian pertanyaan saya pada kaslimat terakhir, "Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman (mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir) ?", Juga tidak dijawab oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs."

Nah, kelihatan sekali itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi hanya pandai menelan mentah-mentah apa yang diucapkan oleh para pimpinan kaum Wahabi di Saudi dan Yaman saja. Misalnya, itu para pimpinan kaum Wahabi di Saudi dan Yaman telah mengkafirkan Abdurrahman Wahid ketika Abdurrahnman Wahid menjabat sebagai Presiden RI, sehingga tanpa dipikir panjang langsung saja ditelannya oleh orang-orang dari pergerakan kaum wahabiyin dan salafiyyin di Negara RI ini. Karena yang berlaku dikalangan kaum wahabi yang menjatuhkan pengkafirkan orang Islam adalah para pimpinan mereka, sedangkan para anggota atau aktivisnya hanya mengamini saja. Contohnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Adapun yang dibahas oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini adalah dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dalam Al-Maidah: 44. Dimana yang menjatuhkan hukuman atau vonis dengan sebutan kafir adalah Allah SWT. Sedangkan Ahmad Sudirman, ulamanya pimpinan dan rakyat NII, ulamanya anggota GAM/TNA tidak mengkafirkan, melainkan yang menjatuhkan nama kafir itu adalah Allah SWT melalui dasar hukum-Nya yang tertuang dalam Al-Maidah: 44.

Misalnya kalau Ahmad Sudirman, para pimpinan kaum wahabi atau salafi Saudi, para ulamanya pimpinan dan rakyat NII, para ulamanya anggota GAM/TNA, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi melanggar apa yang tertuang dalam dasar hukum Al-Maidah: 44, maka Allah SWT menjatuhkan vonis atau hukuman dengan sebutan kafir.

Nah, disinilah memang kelihatan itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak paham dan tidak mengerti karena kepicikan, kesempitan, dan kedangkalan ilmu pengetahuannya tentang dasar dan sumber hukum Allah SWT yang dihubungkan dengan penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam negara. Atau dengan kata lain karena kejahilan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dalam hal penegakkan, pelaksanaan, penerapan fiqh dan ushul fiqh dalam Pemerintahan dan Negara.

Terlihat karena Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang picik dan sempit pandangannya, setelah Ahmad Sudirman menanggapi, lalu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kembali memberikan komentarnya: "Baiklah Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman seandainya anda dan orang-orang NII, GAM/TNA pernah berguru kepada ulama (ulama rabbani bukan ulama NII) namun jelas itu pada waktu duluuuuu sekali (tidak pada saat sekarang ini) dan belum terjadi fitnah Aceh - RI. Walaupun begitu yang saya maksudkan atas komentar saya kemaren yg tertuang di atas adalah adakah ulama manapun yang setuju dengan cara jihad dan hijrahnya NII, GAM/TNA yaitu dengan perang melawan RI yang sebagian besar muslim?. Jelas tidak ada seandainya ada sudah pasti itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman segera mencantumkan ulama-ulama yang saya maksud ( termasuk yg mengkafirkan Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya )."

Nah, dari tanggapan yang dilambungkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi diatas, jelas sekali menggambarkan jalan pikiran, cara analisa, dan pemahaman yang dimiliki oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tentang masalah dasar dan sumber hukum Allah SWT, pemerintahan, negara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Kalau ada ulama atau siapa saja yang tidak dan belum mempelajari secara mendalam akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, perjuangan ASNLF atau GAM, TNA, berdiri dan tegaknya NII dihubungkan dengan pertumbuhan dan perkembangan Negara RI, maka jelas tidak akan ada ulama atau siapa saja yang berani memberikan buah pikirannya tentang konflik Acheh, ASNLF atau GAM, TNA dan NII.

Tetapi, memang ada orang-orang yang tanpa mempelajari dan tanpa mendalami akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, ASNLF atau GAM, TNA dan NII, yaitu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Mengapa ? Karena itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah orang-orang picik, bodoh, dungu, budek, yang tidak mahu mempelajari akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, tetapi dengan sok tahu dan dengan kepicikan pandangannya menghamburkan pikirannya yang salah kaprah dan sesat itu sambil mengacungkan senjata khawarij model wahabi atau salafi Saudi.

Coba baca saja tentang tanggapan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tentang konflik Acheh, ASNLF atau GAM, TNA, dan NII di mimbar bebas ini, yang isinya gombal tidak ada kwalitasnya, baik dilihat dari sudut Islam ataupun sudut umum.

Selanjutnya, Ahmad Sudirman telah menjawab lima dasar mengapa itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi melakukan taklid dan jahil.

Dimana pengertian taklid itu sendiri adalah peniruan atau keikutan atau memegang kepada sesuatu paham atau pendapat tanpa menggali dan mengetahui secara mendalam apa yang dijadikan sebagai dasar ata alasannya. Adapun pengertian jahil adalah bodoh, tidak tahu.

Nah contohnya orang jahil adalah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi karena kejahilannya atau kebodohannya tentang dasar dan sumber hukum Allah SWT, yang dihubungkan dengan penegakkan, penerapan, pelaksanaannya dalam satu negara, maka ketika berbicara masalah dasar dan sumber hukum Allah SWT menjadilah salah kaprah dan gombal.

Juga contoh orang-orang yang taklid. Misalnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang pandainya hanya meniru, mengikuti dan memegang paham dan pendapat para pimpinan kaum wahabi Saudi dan Yaman tentang pengkafiran Abdurrahman Wahid ketika menjabat sebagai Presiden RI, maka ketika berbicara dasar hukum Al-Maidah: 44, menjadilah salah kaprah dan ngaco, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak memiliki ilmu pengetahuan yang menyangkut penegakkan, pelaksanaan, penerapan dasar hukum Allah SWT yang dihubungkan dengan negara sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam Negara Islam atau Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Jadi, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ketika Ahmad Sudirman mengemukakan lima alasan dalam tulisan sebelum ini, yaitu mengapa Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu melakukan taklid dan berbuat jahil.

Coba saja perhatikan kembali lima alasan mengapa itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi melakukan taklid dan melakuka kejahilan.

"Pertama, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan tanpa dipelajari, digali, dihayati, disimpulkan, langsung saja ditelan mentah-mentah apa yang diucapkan atau difatwakan pimpinan kaum wahabi Saudi. Kedua, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jahil dan dangkal pengetahuan dan ilmunya tentang penegakkan, pelaksanaan, penerapan dasar hukum Islam dihubungkan dengan dasar dan sumber hukum yang diacu oleh negara tersebut. Ketiga, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menganggap diri mereka sendiri yang lurus dan baru ketauhidannya, dan mengganggap orang yang diluar kelompok wahabi menyimpang dan tidak baru ketauhidannya. Keempat, karena memang kelompok wahabi ini jahil, tidak melihat kedalam diri mereka sendiri dengan apa yang telah dilakukan oleh Amir-amir dan Raja-raja keturunan keluarga Ibnu Saud yang bersekutu dengan Syeikh Muhammad Abdul Wahab, keturunan dan para muridnya untuk bersekongkol dengan Pemerintah Kerajaan Inggris salah satunya usaha untuk menghancurkan dinasti Islam Usmaniyah guna membangun Kerajaan Ibnu Saud. Dan membangun Kerajaan Saudi adalah sudah menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam hal membangun dan menegakkan Daulah Islam atau Negara Islam pertama di Yatsrib. Kelima, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi taklid kepada pimpinan kaum wahabi Saudi dengan membiarkan dan tidak meluruskan tindakan dan kelakukan para raja-raja Ibnu Saud yang sekarang sudah membelok kepada kebijaksaan politik George W. Bush dan bertekuk lutut dihadapan George W. Bush terutama dalam hal perlindungan kekuatan senjata dan perlindungan negara. (Ahmad Sudirman, 23 September 2004)

Selanjutnya itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menyatakan: "Sekarang coba lihat siapa itu GAM/TNA yg melawan atau memberontak RI. Jelas sekali iman dan amal mereka (NII, GAM/TNA) jauh sekali dari yg diharapkan Rosululloh SAW, para sahabatnya bahkan bertentangan dengan beliau. Ini semua dikarenakan mereka melangkahkan kakinya ke bumi ini dengan penuh kebid 'ahan dan menuruti hawa nafsunya (seperti perang sesama muslim) bahkan langkah-langkah syaiton (na 'udzubillaahi min dzalik)."

Disini, memang kelihatan karena Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu jahil dan degil tidak mau mempelajari dan tidak mahu menggali kedalam tentang penyebab akar utama konflik Acheh, dan bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Negara RI, maka ketika berbicara masalah Acheh dihubungkan dengan Negara RI, langsung saja itu mulut Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi bercerita yang isinya gombal tidak menentu alias kosong molongpong yang membuat malu anak murid pesantren Bukhori saja.

Sudah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jahil, ditambah dengan dikutipnya hadits Rasulullah saw: "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tidak seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian(benci, memberontak dll), melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah" (HR.Muslim).

Nah, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini jahil, maka itu hadits Rasulullah saw yang menyangkut pemimpin dihubungkan dan dikenakan kepada pemimpin di Negara kafir RI dan Negara sekular RI. Dimana itu pimpinan Negara kafir RI dan Negara sekuler RI ketika dipegang oleg Soekarno telah merampok, menjajah Negeri Acheh. Bukan hanya menjajah Negeri Acheh saja , melainkan juga membunuh rakyat Acheh dengan alasan memberontak kepada RI. Padahal RI yang dipegang oleh Soekarno itulah yang menelan, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh.

Karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini jahil dan tidak mahu mempelajari sejarah Acheh yang benar dan sejarah proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI yang benar, maka ketika berbicara mengenai konflik Acheh, langsung saja melambungkan hadits diatas, tetapi realitanya, bukan mengikuti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw dengan pemimpin yang tertera dalam hadits, melainkan mengikuti jalan pikirannya yang seenak udel sendiri sesuai dengan kebiasaan para pimpinan kaum wahabi di Saudi yang ikut dan tabi' saja kepada Raja-Raja keturunan Ibnu Saud.

Jadi disini itu kelihatan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang bodoh, dungu, dan jahil tentang penerapan hadits Rasulullah saw yang menyangkut masalah pemimpin dan bagaimana bersikap kepada pimpinan tersebut.

Karena memang kejahilan dari Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang menerapkan hadits Rasulullah saw yang salah kaprah dalam pelaksanaannya, maka dengan seenak perutnya sendiri menyatakan: "Berarti NII, GAM/TNA atau siapa saja yang mati dalam memperjuangkan nasibnya melawan dan memberontak RI matinya tak lain adalah mati jahiliyah."

Nah itulah salah satu kejahilan, dan kelakuan taklid yang ditunjukkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi di mimbar bebas ini.

Dimana itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang jahil dan taklid kepada para pimpinan kaum wahabi Saudi dan Yaman ini, tidak melihat bahwa itu mereka yang mati demi sistem thaghut pancasila dan UUD 1945 adalah justru yang matinya mati jahiliyah. Artinya mati dengan penuh kebodohan akibat ditipu oleh Megawati, Endriartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu, AM Hendropriyono, Amien Rais, Akbar Tandjung, dan Susilo Bambang Yudhoyono dengan pancasila, UUD 1945, dan bhineka tunggal ika-nya.

Seterusnya itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang jahil dan taklid ini menyatakan: "sedikit menyinggung tentang negara indonesia yang dikatakan oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman sebagai negara kafir. Secara pribadi saya tidak begitu mempermasalahkan, karena bila ditinjau dari segi hukum yg dipakainya memang itu RI belum sesuai dengan yg dikehendaki Alloh dan Rosululloh dan juga belum ada ulama rabbani satupun yg mengataka negara indonesia sebagai darul kufr. Walaupun begitu sering kali di kalangan kami (para ustadz, santri dll) ingin membahasnya, setelah dibahas maka dapat disimpulkan untuk sementara negara indonesia bukan merupakan darul kufr atau negara kafir tetapi merupakan negara muslimin atau bisa dikatakan sebagai darul islam walaupun belum sempurna."

Lihat saja, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi pandainya hanya taklid saja, dia tidak mampu mempelajari, menggali, mendalami, bagaimana sebenarnya Negara RI ini kalau dilihat dari sudut pandang Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib yang dibangun oleh Rasulullah saw dengan Konstitusinya Undang Undang Madinah pada tahun 622 M atau 1 H.

Dimana Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi hanya pandai sampai ketingkat: "setelah dibahas maka dapat disimpulkan untuk sementara negara indonesia bukan merupakan darul kufr atau negara kafir tetapi merupakan negara muslimin atau bisa dikatakan sebagai darul islam walaupun belum sempurna."

Coba kalau memang sudah dibahas mengenai Negara kafir RI atau Negara sekuler RI oleh para pimpinan kaum wahabi atau salafi Saudi baik yang ada di Saudi, Yaman atau di RI, coba tampilkan dalil darurah dan nadhari-nya di mimbar bebas ini. Kita bahas bersama. Apakah memang benar seperti yang disimpulkan oleh kaum wahabi atau salafi ini yang menyatakan bahwa Negara kafir RI atau Negara sekuler RI dengan sebutan "negara muslimin" atau "darul islam walaupun belum sempurna."

Dan kelihatan disini, akibat taklid dan kejahilan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang tertipu oleh para pimpinan kaum wahabi di Saudi dan di Yaman dalam hal melihat Negara kafir RI atau Negara sekuler RI.

Selanjutnya itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis: " Situasi, sifat suatu negara dilihat dari keadaan penduduknya bukan dilihat dari lembaga pemerintahannya. Ambil contoh ada suatu negara dimana UU nya selalu mengatakan aman, tentram, damai, sejahtera, susananya kondusif. Tetapi disaat kita tengok kehidupan para warga atau masyarakatnya bertolak belakang yaitu situasinya tidak aman, tidak tentram, tidak damai, banyak teroris maka tetap saja dikatakan negara tersebut tidak aman. Sebaliknya walapun negara tersebut tidak menggembar-gemborkan kata-kata aman, tentaram dll tetapi apalabila kenyataannya warga dan mayarakatnya dalam suasana yg aman, tentram dll maka orang akan mengatakan negara tersebut aman dll."

Nah disinipun itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan seenak perutnya sendiri menyatakan: "Situasi, sifat suatu negara dilihat dari keadaan penduduknya bukan dilihat dari lembaga pemerintahannya"

Lihat, bagaimana itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak paham dan tidak mengerti arti dari sifat negara. Pengertian sifat itu sendiri, adalah rupa dan keadaan yang nampak pada suatau benda. Kalau dihubungkan sifat dengan negara, maka menjadilah keadaan yang nampak pada satu negara. Nah, kalau dihubungkan dengan sifat negara RI berarti keadaan yang nampak pada Negara RI.

Nah, karena melihat dari keadaan yang nampak pada negara RI, maka perlu dilihat ciri-cirinya atau tanda-tandanya yang kelihatan nampak dalam Negara RI. Dari adanya ciri-ciri atau tanda-tandanya di Negara RI inilah bisa dilihat apakah Negara RI itu adalah negara kafir, atau negara Islam atau negara Agama, atau negara berdaulat, atau negara hukum, atau negara konstitusi, atau negara musyawarah, atau negara parlementer, atau negara republik, atau negara perdamaian, atau negara sekuler.

Jadi bukan seperti yang dikemukakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang menyatakan: "sifat satu negara dilihat dari keadaan penduduknya, bukan dilihat dari lembaga pemerintahannya."

Inilah pengetahuan pemerintahan, kelembagaan, dan kenegaraan yang dimiliki oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang masih jahil dan dangkal. Sehingga ketika berbicara masalah sifat negara hanya terpojok kepada keadaan penduduknya saja.

Hal ini memang bisa dimaklumi, karena memang itu yang namanya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah picik dan jahil. Jadi dengan melihat rakyat di Negara kafir RI atau di Negara sekuler RI memeluk Islam, maka menjadilah sifat Negara RI menjadi "negara muslimin" (kalau ada istilah negara muslimin) atau "darul islam walaupun belum sempurna."

Ini persis seperti cuap-cuapnya tukang obat yang merangkap sebagai tukang sulap yang menjajakan obat kuatnya di alun-alun Solo didekat pesantren Bukhori sana itu.

Disamping itu kelihatan memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini jahil dan taklid pada para pimpinan kaum wahabi dan salafi Saudi dan Yaman, dimana ia tidak tahu bagaimana melihat hukum, undang-undang, undang undang dasar dihubungkan dengan lembaga negara, para pelaksananya dan rakyatnya.

Buktinya perhatikan apa yang dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi: "Nah untuk mengatakan suatu negara apakah termasuk negara islam atau negara kafir maka tidak bisa hanya melihat dari UU yang menjadi sumber hukumnya, melainkan harus melihat keadaan mayoritas warganya (syarat ke dua inilah yg penting untuk diperhatikan )."

Disinilah kepicikan dan kedangkalan pengetahuan tentang dasar dan sumber hukum negara dihubungkan dengan dasar dan sumber hukum Islam, dan para pelaksana negara dan rakyatnya. Dan inilah akibat yang diajarkan oleh paham wahabi atau salafi yang tidak mengajarkan masalah kenegaraan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kecuali mengacu kepada Kerajaan Ibnu Saud saja.

Kalau memang benar melihat negara itu, negara yang bersifat kafir tidak hanya melihat dari dasar dan sumber hukumnya saja melainkan juga melihat dari agama yang dianut oleh mayoritas di negara tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, maka jelas akan terlihat dalam dasar hukum Al-Maidah: 44. Tetapi justru yang terlihat dalam Al-Maidah: 44 adalah dasar dan sumber hukum, bukan didasarkan kepada rakyat atau orangnya. Jadi tidak ada digabungkan atau dipertimbangkan dengan agama yang dianut oleh rakyat atau orang di negara tersebut.

Jadi disini menggambarkan bahwa betapa penting dan mendasarnya itu dasar dan sumber hukum yang dijadikan acuan dalam satu negara.

Lihat saja, contohnya di Turki, apakah itu ada yang mengatakan Negara Turki negara Islam atau "negara muslimin" Paling ada yang mengatakan Negara Turki adalah negara sekuler yang rakyatnya masih menganut Ajaran Islam. Begitu juga dengan Negara RI, yaitu Negara sekuler RI yang rakyatnya masih ada yang menganut Ajaran Islam. Atau Negara RI adalah negara kafir RI yang rakyatnya masih ada yang menganut Ajaran Islam.

Terakhir Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis kerancuan tentang Negara Islam, dimana ia mengatakan: "Apabila negara yg dimaksud ternyata warganya banyak mengamalkan syariat islam terutama rukun islam dan beragama islam maka bukanlah sebagai negara kafir atau darul kufur. Sebaliknya walaupun negara tersebut menggunakan hukum-hukum Alloh atau Al-qur 'an dan Al-hadist sebagai dasar negara atau sumber hukumnya, namun ternyata banyak mayoritas warga negaranya tidak mengamalkan syariat islam atau banyak yg non-islam maka negara tersebut bukan pula negara islam atau darul islam."

Nah disinilah logika gombal yang dibuat oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi- Saudi tentang Negara Islam. Dimana logika gombal model Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tentang negara Islam adalah, Apabila negara warganya banyak mengamalkan syariat Islam terutama rukun Islam dan beragama Islam, maka negara tersebut bukan negara kafir atau darul kufur. Sebaliknya, walaupun negara tersebut menggunakan hukum-hukum Alloh atau Al-Qur 'an dan Al-hadist sebagai dasar negara atau sumber hukumnya, tetapi mayoritas warga negaranya tidak mengamalkan syariat Islam atau banyak yg non-Islam, maka negara tersebut bukan negara Islam atau darul Islam.

Inilah ajarah paham kaum wahabi atau salafi Saudi dan Yaman tentang negara Islam dan negara kafir. Jelas ajaran yang dikembangkan oleh paham kaum Wahabi tentang kenegaraan ini tidak dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.

Kita buktikan menurut fakta dan bukti yang ada dan kelihatan, yaitu kita tampilkan contoh negara sekuler Turki.

Benarkah setelah Dinasti Islam Usmaniyah dihancurkan, dasar dan sumber hukum negara Turki bukan Islam, tetapi mayoritas rakyatnya beragama Islam dan menjalankan rukum Islam, maka Negara Turki dikategorikan bukan Negara sekular dan bukan negara kafir, tetapi negara Islam ?.

Jelas jawabannya, tidak benar dan sangat bertentangan dengan Negara Islam yang dibangun oleh Rasulullah saw dan Khilafah Islamiyah yang dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin yang diteruskan oleh Khilafah dari Bani Umayah, Abbasiyah, Fathimiyah, Usmaniyah di Andaluzia, dan Usmaniyah di Turki. Dan yang paling mendasar dan sangat bertentangan dengan Daulah islam Rasulullah saw adalah di Negara Turki tidak diberlakukan dasar dan sumber hukum Islam.

Kemudian kita buktikan juga Negara RI.

Benarkah Negara RI adalah Negara Islam walaupun dasar dan sumber hukum Negara RI bukan Islam, tetapi mayoritas rakyatnya beragama Islam dan menjalankan rukum Islam, sehingga Negara RI dikategorikan bukan Negara sekular dan bukan negara kafir ?.

Jelas jawabannya, tidak benar. Untuk membuktikannya, kita ambil satu dasar hukum Islam, yaitu apakah dasar hukum riba diharamkan di Negara RI ?. Kalau dasar hukum riba dihalalkan di Negara RI, maka Negara RI bukan Negara Islam, tetapi Negara kafir RI dan Negara sekuler RI karena dasar dan sumber hukum negaranya mengacu kepada pancasila yang didalamnya mencakup dasar hukum aturan, KUHP, KUHPerdata, Undang Undang, PP, Keppres, Inspres, Perppu, UUD 1945, walaupun rakyatnya kebanyakan menganut Ajaran Islam dan menjalankan rukum Islam.

Jadi, wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi sadarlah, kalian memang telah sesat dan terjerumus kedalam taklid dan kejahilan yang menyesatkan akibat mengikuti paham wahabi alias salafi yang dikembangkan oleh para pimpinan kaum wahabi di Saudi.

Dan kalianlah wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang memecah belah kesatuan umat Islam dengan pandangan picik dan dangkal kalian dalam hal penegakkan, pelaksanaan, penerapan fiqh dalam negara yang mengacu kepada apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam membangun dan menegakkan Daulah Islamiyah atau Negara Islam pertama di Yatsrib.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 27 Sep 2004 00:38:47 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: ITU SI AHLUL AHWA DAN AHLUL BID 'AH AHMAD SUDIRMAN MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI SEBAGAI AHLUL AHWA DAN AHLUL BID 'AH DAN YANG MENIMBULKAN PERPECAHAN UMAT ISLAM
To: ahmad@dataphone.se
Cc: serambi_indonesia@yahoo.com, redaksi@acehkita.com, newsletter@waspada.co.id, redaksi@pikiran-rakyat.com, editor@pontianak.wasantara.net.id, jktpost2@cbn.net.id,
redaksi@detik.com, redaksi@kompas.com, redaksi@satunet.com, redaksi@waspada.co.id, waspada@waspada.co.id, webmaster@detik.com, kompas@kompas.com, solopos@bumi.net.id, editor@jawapos.co.id, achehmerdeka@yahoo.com, redaksi@sinarharapan.co.id, redaksi@forum.co.id, gatra@gatra.com, koran@tempo.co.id

Bismillaahirrohmaanirroohiim
Assalaamu 'alaikum Wr.Wb

ITU SI AHLUL AHWA DAN AHLUL BID 'AH AHMAD SUDIRMAN MENJELASKAN DIRINYA SENDIRI SEBAGAI AHLUL AHWA DAN AHLUL BID 'AH DAN YANG MENIMBULKAN PERPECAHAN UMAT ISLAM (Simak komentarnya atas komentar saya).

Hari kamis, 23 September 2004 kemaren adalah merupakan hari dimana Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman benar-benar menyatakan dirinya, NII dan GAM/TNA sebagai Ahlul Ahwa dan Ahlul bid 'ah serta Bahlul dan juga sebagai sebab dari perpecahan umat islam. Hanya saja dia tidak terang-terangan untuk mengakuinya melainkan ditegaskannya lewat komentar kemaren, silakan simak sebagai berikut ini.

Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman menuliskan dengan lugunya, "Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, itu semua ilmu yang Ahmad Sudirman gali, pelajari, hayati, pahami, analisa yang datangnya baik itu melalui kitab-kitab seperti tafsir, ushul fiqh, fiqih, hadits, mushthalah hadits yang ditulis dan dikumpulkan oleh ulama-ulama besar, maka itulah ulama-ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman. Begitu juga ulama-ulama yang pernah Ahmad Sudirman gali ilmunya ketika masih di Negara-Negara Arab, apakah melalui buku-bukunya, atau ceramah-ceramahnya, atau tulisan-tulisannya, atau hutbah-hutbahnya, itulah ulama yang digurui oleh Ahmad Sudirman, walaupun tidak semua jalan pikiran ulama yang dikenal Ahmad Sudirman diterima oleh Ahmad Sudirman. Tetapi sebagai guru dan sekaligus sebagai ulama, maka Ahmad Sudirman sangat menghormatinya" (Ahmad Sudirman, 23 September 2004)

Atas pertanyaan saya, "Baiklah Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman yang saya persoalkan adalah bukan Al-Maidah 44, 45, 47 karena boleh-boleh saja anda menunjuk hidung orang islam si A, si B termasuk kafir tetapi harus melalui kaidah ilmu salah satunya lewat bimbingan ulama rabbani atau ulama rusydi. Nah untuk yang satu ini (lewat bimbingan ulama rabbani) maka itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tidak bisa menjawabnya padahal sudah berapa kali saya pertanyakan kepadanya, namun sampai detik inipun belum ada jawabannya. Saya ulang pertanyaannya, adakah ulama di dalam tubuh NII, GAM/TNA pada saat sekarang ini ?. Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman (mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir) ?".

Jelas sekali Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tidak bisa memahami pertanyaan saya. Itu pertanyaan saya seharusnya di jawab dengan kata-kata yg sederhana "ada ulama NII" atau "tidak ada". Kemudian pertanyaan saya pada kaslimat terakhir, "Apakah ada ulama rabbani yang berpendapat seperti anda wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman (mengatakan dengan terang-terangan atau bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwasanya Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya termasuk kafir) ?", Juga tidak dijawab oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs.

Dan yg paling parah adalah komentar Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman, "Kemudian, menyinggung ulama dalam tubuh NII, jelas imam-imam dan pemimpin-pemimpin dalam NII mereka memiliki ulama-ulama yang mereka pelajari ilmu-ilmunya baik melalui kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, tafsir, fiqh, ushul fiqh. Mengapa haruskita perdebatkan siapa ulama-ulama besar yang dipelajari ilmunya oleh para pimpinan dan rakyat NII. Biarkan mereka bebas belajar, menggali, memikirkan, menganalisa, ilmu-ilmu yang diberikan Allah SWT kepada kita umat manusia. Begitu juga bagi rakyat Acheh yang ada di Acheh, atau yang ada dalam ASNLF atau GAM, mereka telah mempelajari ilmu-ilmu agama kepada para ulama, baik melalui karya-karyanya yang tertuang dalam kitab-kitab tafsir, hadits, mushthalah hadits, fiqh, dan ushul fiqh".
Inilah hal-hal yang ditegaskannya bahwasanya dia cs seorang Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul.

Lihat dan baca serta fahami tulisan saya kemaren, "Salah satu fenomena kerancuan dalam metodologi memahami agama yang merupakan sebab perpecahan umat ialah memisahkan diri dari para ulama rabbani. Yaitu sebagian penuntut ilmu, juru dakwah dan pemuda memisahkan diri dari ulama rabbani. Mereka merasa cukup menimba ilmu agama melalui buku, kaset, majalah dan media-media lainnya. Mereka enggan menuntut ilmu dari para ulama. Hal ini jelas merupakan gejala yang berbahaya bahkan merupakan benih perpecahan umat. Di antara sebab-sebab perpecahan adalah asumsi yang berkembang bahwa mengikuti para imam-imam yang berada di atas hidayah dan ilmu sebagai sikap taqlid (membebek) yang dilarang. Kerancuan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang yang sok tahu. Mereka berkata : "Mengikuti syaikh-syaikh adalah taqlid". Sementara taqlid tidak dibolehkan dalam agama, mereka manusia dan kita juga manusia, kita berijtihad sebagaimana mereka berijtihad, kita memiliki sarana berupa buku-buku, zaman sekarang sarana ilmu tersedia lengkap, mengapa kita harus mengambil ilmu dari ulama ?, inilah pernyataan-pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan/pernyataan-pernyataan maupun perbuatan dari seorang Ahlul Ahwa dan atau Ahlul Bid'ah maupun Bahlul (Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk, NII, GAM/TNA )".

Perhatikan setiap tulisan yang bergaris miring dan tebal antara komentarr saya dan komentar balik Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman.

Baiklah Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman seandainya anda dan orang-orang NII, GAM/TNA pernah berguru kepada ulama ( ulama rabbani bukan ulama NII ) namun jelas itu pada waktu duluuuuu sekali ( tidak pada saat sekarang ini ) dan belum terjadi fitnah Aceh - RI.

Walaupun begitu yang saya maksudkan atas komentar saya kemaren yg tertuang di atas adalah adakah ulama manapun yang setuju dengan cara jihad dan hijrahnya NII, GAM/TNA yaitu dengan perang melawan RI yang sebagian besar muslim ?. Jelas tidak ada seandainya ada sudah pasti itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman segera mencantumkan ulama-ulama yang saya maksud ( termasuk yg mengkafirkan Amin rais, SBY dll beserta pendukungnya ).

Jadi dengan pendeklarannya kemaren hari kamis oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman benarlah mereka semua ( NII, GAM/TNA ) termasuk Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah.
Kemudian sampai detik ini itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tidak mau menjawab pengertian TAKLID dan JAHIL. Karena memang kedua pengertian tersebut sudah saya bahas walaupun tidak begitu mendetail.

Kemudian mengenai 5 alasan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman untuk mrengatakan kami taklid dan jahil, itu semua hanyalah omong kosong. Karena mengapa demikian, coba pelajari arti kata TAKLID dan JAHIL seperti yg kami tuliskan kemaren, jelas sekali itu ke 5 alasan gombalnya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tidak ada hubungannya sedikitpun (dengan arti taklid dan jahil).

Kemudian sedikit menyinggung tentang kata-kata Syahidnya tgk iskak daud, ini adalah perkataan dan pernyataan bid 'ah. Jelas sekali bahwasannya yang dikatakan mati syahid menurut beberapa hadist shahih adalah mati ketika :perang melawan kafir (non-islam, menolak islam), saat melahirkan anak bagi ibu muslimah, karena penyakit tho'un. Tidak ada itu mati syahid karena perang melawan penguasa yg muslim, yg masih sholat dll. Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs, tengoklah pada saat perang jamal, perang shiffin dll (perang antar umat slam sendiri di kalangan para sahabat rosululloh SAW ).

Kemudian adakah dari kalangan para tabi 'in-tabi 'in, tabi 'ut-tabi 'in (Salaful Ummah) yang mengatakan mereka yang gugur dalam pertempuran tersebut matinya mati syahid ?. Coba fikirkan masak-masak kadar keimanan dan kezuhudan orang-orang yg terlibat dalam perang jamal. Jelas keimanan para sahabat tersebut baik didalam kubu ali bin abu thalib maupun didalam kubu 'aisyah ataupun mu 'awiyah tidak diragukan lagi. Tetapi karena ini adalah merupakan fitnah terbesar (perang sesama muslim) yg melanda para sahabat maka tidak ada satu ulama generasi dahulu yg mengataka mereka mati syahid.

Sekarang coba lihat siapa itu GAM/TNA yg melawan atau memberontak RI. Jelas sekali iman dan amal mereka ( NII, GAM/TNA ) jauh sekali dari yg diharapkan Rosululloh SAW, para sahabatnya bahkan bertentangan dengan beliau. Ini semua dikarenakan mereka melangkahkan kakinya ke bumi ini dengan penuh kebid 'ahan dan menuruti hawa nafsunya (seperti perang sesama muslim) bahkan langkah-langkah syaiton (na 'udzubillaahi min dzalik).

Rosululloh SAW yg berbunyi, "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tidak seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian( benci, memberontak dll ), melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah" ( HR.Muslim ).

Berarti NII, GAM/TNA atau siapa saja yang mati dalam memperjuangkan nasibnya melawan dan memberontak RI matinya tak lain adalah MATI JAHILIYAH.

Kemudian sedikit menyinggung tentang negara indonesia yang dikatakan oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman sebagai negara kafir. Secara pribadi saya tidak begitu mempermasalahkan, karena bila ditinjau dari segi hukum yg dipakainya memang itu RI belum sesuai dengan yg dikehendaki Alloh dan Rosululloh dan juga belum ada ulama rabbani satupun yg mengataka negara indonesia sebagai darul kufr.

Walaupun begitu sering kali di kalangan kami (para ustadz, santri dll) ingin membahasnya, setelah dibahas maka dapat disimpulkan untuk sementara negara indonesia bukan merupakan darul kufr atau negara kafir tetapi merupakan negara muslimin atau bisa dikatakan sebagai darul islam walaupun belum sempurna.

Situasi, sifat suatu negara dilihat dari keadaan penduduknya bukan dilihat dari lembaga pemerintahannya. Ambil contoh ada suatu negara dimana UU nya selalu mengatakan aman, tentram, damai, sejahtera, susananya kondusif. Tetapi disaat kita tengok kehidupan para warga atau masyarakatnya bertolak belakang yaitu situasinya tidak aman, tidak tentram, tidak damai, banyak teroris maka tetap saja dikatakan negara tersebut tidak aman. Sebaliknya walapun negara tersebut tidak menggembar-gemborkan kata-kata aman, tentaram dll tetapi apalabila kenyataannya warga dan mayarakatnya dalam suasana yg aman, tentram dll maka orang akan mengatakan negara tersebut aman dll.

Nah untuk mengatakan suatu negara apakah termasuk negara islam atau negara kafir maka tidak bisa hanya melihat dari UU yang menjadi sumber hukumnya, melainkan harus melihat keadaan mayoritas warganya (syarat ke dua inilah yg penting untuk diperhatikan ).

Apabila negara yg dimaksud ternyata warganya banyak mengamalkan syariat islam terutama rukun islam dan beragama islam maka bukanlah sebagai negara kafir atau darul kufur. Sebaliknya walaupun negara tersebut menggunakan hukum-hukum Alloh atau Al-qur 'an dan Al-hadist sebagai dasar negara atau sumber hukumnya, namun ternyata banyak mayoritas warga negaranya tidak mengamalkan syariat islam atau banyak yg non-islam maka negara tersebut bukan pula negara islam atau darul islam.

Untuk di Indonesia jelas masyarakatnya mayoritas islam walaupu kadar keimanannya lemah. Dan tenyata banyak syariat islam yg ditegakkan didalamnya oleh mayoritas warga maka negara indonesia merupakan negara muslimin dan bisa juga sebagai negara islam walaupun belum sempurna. Demikian tadi perbincangan-perbincangan yang sering dilakukan di kalangan kami.
Walloohu a' lam bi showab

NB : Alangkah bagusnya apabila anda semua membuka dan membaca situs salafy dengan alamat www.salafy.or.id. Agar anda semua yakin bahwasanya yg dilakukan oleh NII, GAM/TNA adalah salah dan bid 'ah serta sesat maka silakan klik pada kolom MANHAJ dll.

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------