Jakarta, 30 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BEBERAPA KERANCUAN ARTIKEL ABU HAMZAH AL ATSARY DARI BANDUNG
Teguh Harjito
Jakarta - INDONESIA.

 

MELIHAT BEBERAPA KERANCUAN ARTIKEL ABU HAMZAH AL ATSARY DARI BANDUNG YANG DIKUTIP OLEH ROKHMAWAN DARI PESANTREN BUKHORI SOLO

Berikut ini saya komentari sedikit artikel/nasehat dari Abu Hamzah Al Atsari yang disampaikan oleh saudara Rokhmawan (saat mengundurkan diri dari arena diskusi ini).

"NASEHAT UNTUK SALAFIYYIN (?)
Perkara yang tidak diragukan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama...Menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang melakukannya kecuali warosatul anbiya." (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari 2004)

Entah dalil apa yang dipakai oleh Abu Hamzah Al Atsary ini sehingga berani berkata seperti itu.

Apakah Abu Hamzah Al Atsary merasa dirinya sudah lebih pintar & hebat dari Allah swt dan Rasulullah saw? na'udzubillahi min dzalik.

Berikut ini saya tuliskan beberapa ayat Al-Qur'an & hadits Rasulullah saw mengenai amalan yang paling utama di dalam Islam, yaitu jihad fii sabilillah.

1. "tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang2 yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang2 yang duduk satu derajat. Kepada masing2 mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang2 yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, yaitu beberapa derajat daripada-Nya serta ampunan dan rahmat. dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang." [QS. An-Nisaa':95-96]

2. "jika kamu tidak berangkat berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan ditukarnya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudlaratan kepada-Nya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu." [QS. At-Taubah:39]

3. "maka berperanglah pada jalan Allah. tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. muddah-mudahan Allah menolak serangan orang2 kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-Nya." [QS. An-Nisaa':84]

4. "mereka rela berada bersama orang2 yang tidak pergi berperang (wanita, anak2, orang sakit dan prang tua), dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad. tetapi Rasul dan orang2 yang beriman bersama dia, berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka itulah orang2 yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang2 yang beruntung." [QS. At-Taubah:87-88]

5. "satu waktu Rasulullah saw ditanya, "ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling tinggi derajatnya?" Rasulullah Muhammad saw menjawab, "seorang beriman yang berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya." [Shahih Al-Bukhari 4/45]

6. "berdiri satu jam dalam medan pertempuran di jalan Allah lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun." [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Adii dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah (4/6165); Shahih Jami' As-Saghir no.4305]

7. "berjuang di jalan Allah selama pagi atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." [Shahih Al-Bukhari 4/50]

8. "ada ratusan ketinggian derajat di Syurga yang disediakan Allah kepada mereka yang bertempur di jalan-Nya. jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya membentang jauh seperti jarak antara langit dan bumi." [Shahih Al-Bukhari 4/48]

9. "ibadah yang paling tinggi nilainya dalah jihad." [hadits shahih dari Muadz bin Jabal, Shahih At-Tirmidzi]

10. "barangsiapa yang tidak berangkat berjihad, atau tidak menolong mempersiapkan perlengkapan bagi para mujahid, atau tidak menyantuni dengan baik keluarga para mujahid ketika mereka tengah berjihad, maka Allah pasti akan menimpakan kepadanya bencana besar pada hari pengadilan kelak." [hadits hasan, hadits marfu' dari Abu Umamah. Abu Daud 3/22; Ibnu Majah 2/923]

Saya rasa sudah sangat jelas bahwa menurut Rasulullah saw amalan yang paling utama di dalam Islam adalah jihad fii sabilillah. Apakah saudara Abu Hamzah dan/atau Rokhmawan dan/atau rekan2 salafy masih mau membantahnya? silahkan saja kalau berani..?

Dan mengenai melempar anak panah ke leher2 musuh, jika melemparkan panah ke leher2 musuh yang dimaksudkan Abu Hamzah Al Atsary adalah bukan dalam rangka jihad fii sabilillah (misalnya memerangi kaum muslimin hanya karena ingin menegakkan kedaulatan negara sekuler/kafir atau ashabiyah al-wathaniyah) mungkin pendapatnya ada benarnya juga walaupun kebenaran tersebut masih bisa diperdebatkan lagi. Tapi bila sebaliknya, maka melemparkan anak panah ke leher2 musuh adalah amalan/ibadah yang paling mulia/utama.

Selanjutnya Abu Hamzah Al Atsary menulis: "Oleh karena itu barokallahufiik, janganlah antum jadikan perdebatan adalah satu-satunya jalan untuk menyampaikan dakwah dengan hujjah-hujjahmu karena itu bukanlah jalan yang ditempuh salafuna sholih, memaksakan sampainya hujjah-hujjah dengan cara debat adalah tidak benar, sampaikan Al-Haq itu dengan penuh hikmah. Antum harus tahu bahwa para salaf mencela perdebatan karena beberapa hal:
1. Bila perdebatan itu dilakukan dengan menggunakan argumentasi-argumentasi ilmu kalam dan filsafat.
2. Mereka mencela perdebatan bila yang berdebat keadaannya lemah tidak mampu menolak syubhat-syubhat
3. Mereka mencela perdebatan bila lawan debat diketahui ngeyel/membangkang, dll (Dar'u ta'arudh al 'aql wannaql : 7/173)" (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari 2004)

Rasa2nya ketiga hal di atas inilah yang dilakukan oleh saudara Rokhmawan dan rekan2 salafy. Ketiga hal itu juga yang merupakan ciri khas saudara Rokhmawan dan rekan2 salafy dalam melakukan diskusi/perdebatan, dan ujung2nya mengundurkan diri dengan alasan nasehat dari artikel tersebut.

Terakhir Abu Hamzah Al Atsary menuliskan identitasnya dengan: "Bandung, 18 Februari 2004. Ditulis oleh yang faqir di hadapan Rabbnya. Abu Hamzah Al Atsary." (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari 2004)

Saya tidak tahu apakah seorang Abu Hamzah Al Atsary, yang notabenenya adalah orang Indonesia (saya berkeyakinan begitu) dan bukan ulama rabbani, lebih didengar oleh saudara Rokhmawan dan rekan2 salafy daripada Imam Al Ghazaly, Sayyid Qutb, dll yang mereka cap sebagai "Ahlul Bid'ah".

Siapa sih sebenarnya Abu Hamzah Al Atsary itu? ustadznya rekan2 salafy? atau mungkin kriteria ulama rabbani adalah ustadz2 yang berasal dari kalangan salafy saja?

Kalau begitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al Atsqalani, dll bukanlah ulama rabbani, karena ulama rabbani versi salafy baru ada setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berhasil mendirikan & memperjuangkan paham wahabi di Jazirah Arab sana.

Pertanyaan saya tentang kriteria ulama rabbani/rusydi dan siapa saja ulama rabbani/rusydi inilah yang tidak berani dijawab saudara Rokhmawan atau oleh rekan2 salafy lainnya. Mungkin takut terlihat sifat & sikap ta'ashubnya yang hanya memandang tinggi kalangan mereka & merendahkan kaum muslimin selain kelompok mereka.

Wallahu a'lam bishshawab.

Teguh Harjito

teguh.harjito@mas-dna.com
Jakarta, Indonesia
---------

Date: Mon, 27 Sep 2004 21:52:35 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Selamat Tinggal Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, NII Dan Anggota GAM/TNA
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillahirrohmanirrahiim
Assalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Selamat Tinggal Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid 'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, NII Dan Anggota GAM/TNA

Saya berjanji setelah kiriman artikel di bawah ini (dari www.salafy.or.id ) maka saya cukupkan sampai disini saja..dan tidak akan kembali di mimbar bebas yang penuh fitnah ini (Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman)

Wallohu 'alam bi showab
Wassalaamu 'alaikum

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------

NASEHAT UNTUK SALAFIYYIN

Kepada Ikhwah Salafiyyin Al mukhtaramiin

Alhamdulillah wasolatu wa salamu 'ala rosulillah wa'ala alihi wa sohbihi wa man waa lah Ama ba'du.

Perkara yang tidak diragkan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama. Dengan demikian, maka bangkitlah para ahlul haq di setiap zaman dan tempat mengangkat bendera kebenaran sebagai pembela Agama Alloh, KitabNya, dan RasulNya, menjadi penasehat umat, merealisasikan firman Allah "Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Alloh"(Q.S. Ali Imran:110). Dan juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam " Akan ada sekelompok dari ummatku mereka nampak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang-orang yang menghinanya tidak pula yang menyelisihinya sehingga datang ketetapan Alloh"(H.R.Bukhari-Muslim)

Akhi barokallahufiik...

"menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang melakukannya kecuali warosatul anbiya"

Menyampaikan Al-Haq itulah tujuan kita, sementara Alloh Ta'ala berfirman :" Serulah (manusia) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik"(Q.S. An-Nahl : 125). Berkata Ibnu Katsir : "Yakni yang dibutuhkan dari kalangan mereka kepada suatu bantahan(jidal) maka, hendaknya dengan bentuk yang baik, dengan cara yang halus, lemah lembut dan ucapan-ucapan yang baik" (Tafsir AlQur'anul adzim 2/616).

Oleh karena itu barokallahufiik, janganlah antum jadikan perdebatan adalah satu-satunya jalan untuk menyampaikan dakwah dengan hujjah-hujjahmu karena itu bukanlah jalan yang ditempuh salafuna sholih, memaksakan sampainya hujjah-hujjah dengan cara debat adalah tidak benar, sampaikan Al-Haq itu dengan penuh hikmah. Antum harus tahu bahwa para salaf mencela perdebatan karena beberapa hal :

1. Bila perdebatan itu dilakukan dengan menggunakan argumentasi-argumentasi ilmu kalam dan filsafat
2. Mereka mencela perdebatan bila yang berdebat keadaannya lemah tidak mampu menolak syubhat-syubhat
3. Mereka mencela perdebatan bila lawan debat diketahui ngeyel/membangkang, dll (Dar'u ta'arudh al 'aql wannaql : 7/173)

Maka, tidak sepatutnya antum tenggelam dalam masalah perdebatan dan membuka front perdebatan dalam menyampaikan al Haq. "Alqi kalimataka wamsyi", sampaikan kalimatmu dan selesai ! Bila ada yang bertanya dan minta penjelasan, sampaikan sebatas ilmu yang antum miliki, ingat Imam Ahmad berkata, "Jangan kamu berbicara tentang suatu permasalahan (agama) kecuali kamu punya pendahulunya."

Bila ada yang bertanya dalam rangka mendebatmu dalam perkara yang antum tidak tahu ilmunya, tinggalkan! Haram hukumnya berdebat tanpa ilmu, bila suatu masalah itu sudah jelas kebenarannya menurut Kitab dan Sunnah serta paham salaf, kemudian ada yang berupaya untuk membuka front debat, tinggalkan! Haram hukumnya berdebat dalam perkara yang sudah jelas kebenarannya. [Al Faqih Wal Mutafaqih: 2/32-33]

Hendaknya antum persempit medan perdebatan, dan ingat! Tidak semua orang dapat masuk ke dalam medan ini karena perdebatan membutuhkan ketakwaan, keikhlasan, dll. Jika perdebatan itu menimbulkan mafsadah yang besar, maka diam adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Demikian dan semoga Allah menunjuki kita kepada apa yang dicintai dan diridhoiNya. Wal 'ilmu 'indallah.

Bandung, 18 Februari 2004
Ditulis oleh yang faqir di hadapan Rabbnya.
Abu Hamzah Al Atsary.
----------

MANHAJ SALAF DALAM MENYIKAPI BUKU-BUKU AHLUL BID 'AH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan : "Ahlul Bid'ah itu tidak bersandar kepada Al Kitab (Al Qur'an) dan As Sunnah serta Atsar Salafus Shalih dari kalangan Shahabat maupun Tabi'in. Mereka hanya berpedoman dengan logika dan kaidah bahasa. Dan kamu akan temukan mereka itu tidak mau berpedoman dengan kitab-kitab tafsir yang ma'tsur (bersambung riwayat dan penukilannya). Mereka hanya berpegang dengan kitab-kitab adab (sastra dan tata bahasa) serta kitab-kitab ilmu kalam (filsafat dan logika). Kemudian dari sinilah mereka membawakan pendapat dan pemikiran mereka yang sesat." (Al Fatawa 7/119)

Imam Abu 'Utsman Ismail Ash Shabuni rahimahullah mengatakan (Aqidah Salaf Ashabul Hadits halaman 114-115) --ketika menerangkan sikap dan pendirian Salafus Shalih terhadap bid'ah dan Ahlul Bid'ah-- : "Salafus Shalih membenci Ahlul Bid'ah yang (mereka itu) mengada-adakan perkara baru dalam agama ini yang (justru) bukan berasal dari agama itu sendiri. Salafus Shalih tidak mencintai Ahlul Bid'ah, tidak mau bersahabat dengan mereka, tidak mendengar perkataan mereka, tidak duduk bermajelis dengan mereka, tidak berdebat dengan mereka dalam masalah agama, bahkan tidak mau berdialog dengan mereka. Salafus Shalih selalu menjaga telinga jangan sampai mendengar kebathilan Ahlul Bid'ah yang dapat menembus telinga dan membekas di dalam hati, dan akhirnya menyeret segala bentuk was-was dan pemikiran-pemikiran yang rusak."

Dan mengenai sikap terhadap mereka (Ahlul Bid'ah) ini, Allah Ta'ala berfirman :
"Dan jika kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengadakan pembicaraan yang lain." (Al An'am : 68)

Saya (Abu Ibrahim) katakan :"Salafus Shalih --radhiallahu 'anhum-- telah memperingatkan kita agar tidak memperhatikan kitab-kitab bid'ah yang dapat menimbulkan berbagai kerusakan yang sangat besar. Karena sesungguhnya hati manusia itu sangat lemah, sedangkan syubhat (kerancuan) itu sangat cepat menyambar. Dan sangat disayangkan, karena kebanyakan para pemuda Muslim dewasa ini (lebih senang) membaca buku-buku Ahlul Ahwa' (Ahlul Bid'ah) dan orang-orang yang sesat (menyesatkan), mereka mengembangkan kepribadian mereka dengan berdasarkan buku-buku tersebut, kemudian mereka kembali (setelah merasa cukup menguasainya) untuk memerangi Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Ahlus Sunnah serta memerangi Manhaj Salafus Shalih yang haq. Fa Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un."

Syamsuddin Abu 'Abdillah Muhammad bin Muflih, mengatakan (dalam Al Adabus Syari'ah 1/125) : "Dan adalah Salafus Shalih itu selalu melarang manusia duduk bermajelis dengan Ahlul Bid'ah, membaca kitab-kitab mereka, dan memperhatikan ucapan mereka."

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan (dalam Ath Thariq Al Hakimiyah halaman 227) : "Tidak perlu adanya jaminan (minta izin) untuk membakar buku-buku sesat dan memusnahkannya."

Beliau melanjutkan : "Semua kitab-kitab tersebut isinya mengandung berbagai perkara yang menyeleweng dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tanpa ada tuntunan di dalamnya, bahkan diizinkan untuk merusak dan memusnahkannya. Tidak ada yang lebih besar bahayanya bagi umat ini dibandingkan dengan buku-buku tersebut. Para Shahabat telah membakar segenap mushaf yang menyelisihi mushaf 'Utsman karena mereka takut akan bahaya yang menimpa umat ini akibat perbedaan yang terdapat dalam mushaf-mushaf tersebut. Lalu, bagaimanakah halnya seandainya mereka (para Shahabat tersebut) melihat kitab-kitab sesat yang telah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di tengah-tengah ummat ini??" (Ibid halaman 327-328)

Demikian kata beliau. Maksud ucapan beliau ini adalah, bahwa segenap kitab sesat yang mengandung kedustaan dan kebid'ahan, wajib dirusak dan dimusnahkan dan ini lebih utama (lebih besar pahalanya) daripada merusak alat-alat permainan atau alat-alat musik dan merusak bejana-bejana tempat menyimpan khamer (segala yang memabukkan), karena mudlarat (kerusakan) yang ditimbulkan kitab-kitab sesat ini jauh lebih besar daripada mudlarat yang ditimbulkan oleh alat-alat permainan, musik, ataupun khamer. Maka tidak perlu jaminan (minta izin) untuk merusak dan memusnahkannya sebagaimana tidak perlu jaminan (minta izin) untuk merusak bejana-bejana penyimpanan atau penampungan khamer. (Ibid. Halaman 329)

Saya katakan pula : "Maka bagaimanakah seandainya Ibnul Qayyim rahimahullah melihat tulisan-tulisan Sayyid Quthb, Al Ghazali, dan At Turabi serta tokoh-tokoh Ahlul Bid'ah lainnya, yang semua mengandung kesesatan dalam 'aqidah dan penyimpangan yang sangat jauh dari Manhaj Salafus Shalih --radhiallahu 'anhum--. Wallahu Al Musta'an."

Nukilan Imam Adz Dzahabi Dalam Kitab Mizanul I'tidal (1/431)

Sa'id bin 'Amru Al Bardza'i mengatakan : "Saya menyaksikan Abu Zur'ah ketika ditanya tentang Al Harits Al Muhasibi dan kitab-kitabnya, mengatakan kepada si penanya : 'Jauhilah oleh kamu kitab-kitab bid'ah dan sesat ini. Hendaknya kamu berpegang dengan atsar (riwayat) Salafus Shalih, karena sesungguhnya kamu akan dapatkan darinya sesuatu yang mencukupi kamu.' Ada yang berkata kepada beliau : '(Tapi) di dalam kitab-kitab ini terdapat 'ibrah (pelajaran berharga).'

Abu Zur'ah mengatakan : 'Barangsiapa yang tidak dapat mengambil pelajaran dari dalam Kitab Allah, maka tidak ada pelajaran ('ibrah) baginya dari kitab-kitab ini. (Bukankah) telah sampai kepada kalian bahwa Sufyan, Malik, dan Al Auza'i telah menulis kitab-kitab yang membahas tentang bahaya bisikan dan syubhat. Sungguh alangkah cepatnya manusia itu (terlempar) menuju bid'ah.' "

Nasehat

Saudaraku para penuntut ilmu yang Sunni Salafi. Ketahuilah, wajib bagi kamu untuk mendapatkan ilmu syari'at ini dari Al Kitab (Al Qur'an) dan As Sunnah yang shahihah dan dari karya-karya 'Ulama Salafus Shalih, karena di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dan berhati-hatilah kamu, jangan sampai kamu menerima ilmu ini dari Ahlul Bid'ah. Jadi, janganlah kamu mengambil ilmu ini dari kaum Rafidlah (Syi'ah), atau Khawarij, Quburi (yang mengkeramatkan kuburan), Hizbi (fanatik terhadap kelompok dan golongannya dengan cara yang tidak syar'i), atau Sururi.

Dan Muhammad bin Sirrin pernah menyatakan : "Ilmu ini adalah agama, oleh karena itu, perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mendapatkan agama ini." (Mukadimah Shahih Muslim)

Sufyan Ats Tsauri pernah mengatakan : "Barangsiapa yang mendengar (uraian) dari Ahlul Bid'a, maka Allah tidak akan memberinya manfaat tentang apa yang didengarnya itu." (Al Kifayah. Al Khatib Al Baghdadi)

Semoga Allah memberi taufiq kepada kami dan kepada kamu untuk mengikuti dan meneladani Salafus Shalih.

Nukilan 'Abdullah bin Ahmad dari Ayahnya (Imam Ahmad bin Hanbal) dari Al 'Ilal (1/108)

'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : [ Saya mendengar ayah berkata : Salam bin Abi Muthi' adalah orang yang tsiqah (terpecaya). Telah bercerita kepada kami Ibnu Mahdi darinya, (kemudian ayah berkata) : Abu 'Awanah pernah menulis kitab yang berisi kejelekan dan 'aib para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan juga bencana dan fitnah-fitnah. Lalu datanglah Salam bin Abi Muthi' dan berkata : Wahai Abu 'Awanah. Berikan kitab itu kepadaku. Maka Abu 'Awanah memberikan kitab itu kemudian diterima oleh Salam lantas dibakarnya.

Ayahku berkata : Salam itu adalah salah seorang shahabat Ayyub dan ia seorang yang shalih.]

Fatwa 'Ulama Ahlus Sunnah Di Zaman Ini

Syaikh Muhammad bin 'Abdurrahman Al Maghrawi dalam Al 'Aqidah As Salafiyah (halaman 33-49) menyatakan : "Para 'Ulama Ahlus Sunnah di Kordoba menyatakan bolehnya membakar (memusnahkan) kitab Ihya' 'Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Para pelajar (penuntut ilmu) dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah di Kordoba menamakan kitab tersebut dengan Imatatu 'Ulumuddin (Mematikan Ilmu-Ilmu Agama)."

"Penyusun kitab Al 'Aqidah As Salafiyah telah menghimpun beberapa sebab hakiki mengapa kitab Ihya' 'Ulumuddin harus dimusnahkan, kata beliau :

Pertama : Kitab ini penuh dengan kebohongan atas nama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Shahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kedua : Kitab ini merupakan penyebab utama timbulnya bid'ah yang tersebar di kalangan sufi dan yang lainnya.

Ketiga : Di dalam kitab ini banyak terdapat bencana yang mengerikan dan kesesatan dalam 'aqidah.

Keempat : Persaksian para 'Ulama Al Kitab dan As Sunnah tentang Ihya' 'Ulumuddin, bahwa sesungguhnya kitab ini adalah kitab sesat, wajib dibakar dan dijauhkan dari kaum Muslimin agar mereka tidak tersesat oleh kesesatan yang ada di dalamnya."

Syaikh Hamud At Tuwaijiri rahimahullah mengatakan (Al Qaulul Baligh halaman 91)

[ Semoga Allah merahmati Imam Muhammad bin Ismai'il Ash Shan'ani karena menyatakan pujian terhadap Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab dalam bentuk sya'ir :
Telah mereka bakar dengan sengaja

Kumpulan bukti-bukti yang mereka dapatkan di dalamnya terdapat bukti-bukti yang terlalu tinggi untuk dihitung. Melampaui batas yang dilarang dan kedustaan yang terang-terangan, tinggalkanlah jika kau ingin mengikuti petunjuk. Ucapan-ucapan yang tidak pantas disandarkan kepada seorang yang berilmu yang tidak bernilai sepeserpun dibanding dengan uang tunai.

Orang-orang bodoh tersebut menjadikannya sebagai dzikir yang memberikan mudlarat. Mereka memandang lenyapnya bukti-bukti tersebut lebih suci daripada pujian. Sungguh sangat membahagiakanku apa yang datang kepadaku dari jalan beliau ]

Beberapa Catatan Penting
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan (Al Fatawa 4/155) :"Syi'ar Ahlul Bid'ah itu adalah meninggalkan ittiba' (mengikuti) terhadap Salafus Shalih."

Beliau juga mengatakan : "Tidak ada celanya orang-orang yang menampakkan madzhab Salafus Shalih dan menisbatkan (menasabkan diri) kepada mereka atau menggabungkan diri kepada mereka, bahkan wajib untuk menerima semua itu berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin, karena sesungguhnya madzhab Salafus Shalih itu tidak lain adalah yang haq (yang benar)." (Ibid 4/129)

Fatwa Syaikh Shalih Fauzan

Syaikh ditanya : "Bagaimana pendapat yang haq (benar) tentang orang yang membaca buku-buku bid'ah dan mendengar kaset-kaset ceramah mereka (Ahlul Bid'ah)?"

Beliau mengatakan : "Tidak boleh membaca buku-buku bid'ah, mendengar kaset-kaset mereka kecuali orang-orang yang ingin membantah dan menerangkan kesesatan mereka kepada ummat." (Al Ajwibah Al Mufidah halaman 70)

Fatwa Muhaddits Negeri Yaman, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i hafidhahullah

Tentang bolehnya membakar kitab Al Khuthuth Al 'Aridlah 'Abdur Razzaq As Sayaji ini, Syaikh mengatakan (dalam kaset Min Wara'i At Tafjirat fi Ardlil Haramain) beberapa fatwa tentang kitab ini, di antaranya boleh membakar kitab ini (yakni kitab Khuthuth Al 'Aridlah). Dan Syaikh juga mengingatkan agar kita berhati-hati dari Majalah As Sunnah yang diterbitkan oleh Muhammad As Surur. Beliau menyebutkan bahwa majalah ini lebih pantas dinamakan dengan Majalah Al Bid'ah.

Saya katakan bahwa perkara ini memang seperti yang dikatakan oleh Syaikh. Karena sesungguhnya Majalah As Sunnah itu membawa fitnah dan bencana yang di dalamnya terdapat tikaman (cercaan, caci maki, dan sebagainya) terhadap 'Ulama Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits yang semua itu --ditampilkan mereka seakan-akan-- bernaung di bawah bendera Sunnah dengan kalimat yang haq tapi --sebenarnya-- yang dimaukan mereka adalah kebathilan. Dan majalah ini --dengan berbagai dalil yang mereka keluarkan-- justeru menyimpang jauh dari As Sunnah dan Manhaj Salafus Shalih. Seandainya mereka memang --sungguh-sungguh-- mengajak ummat untuk kembali berpegang dan mengamalkan Sunnah dengan benar, maka salah satu ciri da'i yang mengajak kepada (pengamalan) As Sunnah itu adalah mencintai Ahlus Sunnah dan para 'Ulamanya.

Abu 'Utsman Isma'il Ash Shabuni mengatakan dalam 'Aqidah Salaf (halaman 118) --menukil dari Abu Hatim Ar Razi rahimahumallahu-- :

"Tanda-tanda (ciri-ciri) Ahlul Bid'ah adalah cercaan mereka terhadap Ahlul Atsar (Ahlul Hadits)."

Imam Ahmad bin Sinan rahimahullah mengatakan : "Tidak ada satupun Ahlul Bid'ah di dunia ini melainkan ia pasti membenci Ahlul Hadits. Dan jika seseorang berbuat satu saja kebid'ahan, niscaya tercabutlah manisnya hadits Rasulullah dari dalam hatinya." (Ibid halaman 116)

Fatwa Syaikh Ibrahim bin 'Amir Ar Ruhaili

Beliau mengatakan (Mauqif Ahlis Sunnah 2/630) --tentang hukuman terhadap Ahlul Bid'ah-- : "Dengan membakar dan memusnahkan buku-buku mereka, ini sesungguhnya menjadi hukuman bagi mereka, juga untuk menolak kerusakan yang timbul akibat perhatian manusia terhadap buku-buku mereka dan membacanya sehingga membahayakan (keyakinan dan prinsip) mereka dalam agama mereka. Hal ini telah diperintahkan oleh Salafus Shalih bahkan mereka sangat mendorong ummat untuk melakukannya."

Faidah Dan Pelajaran Yang Dapat Diambil

Muhammad bin Sirrin mengatakan : "Sebenarnya 'Imran bin Haththan adalah seorang tokoh Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kemudian ia menikah dengan seorang wanita Khawarij dengan cara madzhab Khawarij, katanya : 'Saya menikahinya agar dapat membimbingnya.' Namun ternyata wanita itu akhirnya justeru menyesatkannya, lalu sesudah itu iapun menjadi salah satu tokoh Khawarij." (As Siyar 4/214)

Fatwa Imam Malik rahimahullah

Imam Malik, Imam Darul Hijrah, menyatakan : "Tidak boleh menyewakan kitab-kitab Ahlul Ahwa' (pengekor hawa nafsu) dan Ahlul Bid'ah sedikitpun." (Jami' Bayanil Ilmi 2/942 tahqiq Abul Asybal Az Zuhairi)

Dari penjelasan yang telah disebutkan ini, maka jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya Manhaj Salafus Shalih dalam berurusan dengan buku-buku bid'ah tegak dengan kokoh di atas pemahaman yang dalam terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh buku-buku tersebut.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah bersabda : "Barangsiapa yang berbuat curang terhadap kami, bukan dari golongan kami." (HR. Muslim Syarh An Nawawi 4/282. At Tirmidzi dalam Tuhfah 4/544)

Beliau menyatakan demikian dalam perkara jual beli, maka bagaimana pula dengan orang-orang yang menipu (berbuat curang) terhadap ummat ini dalam 'aqidah dan pokok-pokok agamanya. Oleh sebab itu, tidak diragukan lagi bahwa peringatan kepada manusia agar mereka menjauhi buku-buku Ahlul Bid'ah itu lebih diutamakan dan didahulukan dari yang lainnya.

Akhir dari pembahasan ini, tidak lupa saya tunjukkan apa yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali berupa penjelasan beliau mengenai buku-buku Ahlul Ahwa' di jaman ini yang semuanya penuh dengan kesesatan dalam 'aqidah dan Manhaj. Anda akan dapati semua itu dalam karya-karya beliau seperti Adlwa'ul Islamiyah 'ala 'Aqidati Sayyid Quthb, Membongkar Pandangan Al Ghazali Terhadap As Sunnah dan Ahlus Sunnah, dan Jama'ah Wahidah La Jama'at Wa Shirath Wahidah Laa 'Asyarat, dan lain-lain.

Dikumpulkan oleh Abu Ibrahim Muhammad bin Muhammad bin 'Abdullah bin Mani' Al Anasi Al Atsari. Semoga Allah memberi taufiq kepada penyusun, penterjemah, dan pemeriksa serta para pembaca sekalian agar dapat istiqamah di atas Al Haq, Amiin. Manhaj Salaf Dalam Mensikapi Buku-Buku Ahlul Bid'ah (Oleh : Syaikh Abu Ibrahim Muhammad bin Mani' dari SALAFY Edisi XXIX/1419 H/1999 M)
----------

MENIMBA ILMU DAN BERGURU KEPADA AHLUL BID 'AH

Meskipun riwayat merupakan bagian dari mencari ilmu, namun periwayatan memiliki hukum khusus. Maka para ulama ahli hadits hanya mengacu pada kejujuran perawi tanpa melihat status lain, yang penting muslim.

Sebab cara untuk memilah antara hadits shahih dengan yang dhaif hanya dengan cara itu, sehingga sangat mungkin hadits dari ahli sunnah tertolak karena pendusta. Terkadang riwayat ahli bid'ah ditolak untuk menjaga sunnah atau menghalau kebida'ahan karena perawinya propagandis kebid'ahan.

Adapun masalah mencari ilmu dari ahli bid'ah untuk memahami penjelasan dan tafsir nash-nash serta menelusuri hukum-hukumnya, berbeda dengan riwayat, bisa jadi masalah ilmu tidak mementingkan kejujuran ahli bid'ah. Hanya perlu diperhatikan pengaruh kebid'ahan kepada murid dan jenis ilmu yang diajarkan.

Jika kita memperhatikan beberapa atsar dari para ulama salaf, tampak jelas peringatan mereka dalam menuntut ilmu dari ahli bid'ah.

Ali bin Thalib radiyallahu 'anhu berkata,"Lihatlah dari mana kamu mengambil ilmu karena ilmu adalah agama." (At Tankil, Al Khatib Al Baghdadi, hal. 121). Pernyataan ini dinukil dari beberapa ulama salaf seperti Ibnu Sirin Adh Dhahak bin Muzahim dan yang lain. (Lihat Syarh Shahih Muslim, vol I, hal 14, Sunan Ad Darimi, vol. 1 hal 124).

Ibnu Umar radiyallahu anhuma berkata,"Berhati-hatilah terhadap agamamu, sebab dia adalah darah dagingmu. Lihatlah dari mana kamu mengambilnya. Ambillah dari orang istiqomah dan janganlah mengambil dari orang yang menyeleweng." (Al Kifayah, hal 121).

Para sahabat dan tabi'in menekankan, agar kita mengambil ilmu dari orang yang istiqamah bukan dari para penyeleweng, karena ilmu dipelajari untuk diamalkan. Sedangkan ahli bid'ah tidak menanamkan kecuali perkara bid'ah. Bisa jadi para murid terpengaruh, baik dari sisi ilmu maupun pengalamannya. Sehingga sulit untuk diluruskan, apalagi bila belajarnya sejak masa kecil.

Salah seorang ulama Amr bin Qais Al Mala'i berkata, "Jika kamu melihat pemuda belajar sejak kecil kepada guru ahli sunnah berharaplah, dan bila belajar kepada ahli bid'ah, maka anda akan putus harapan." (Al Ibanah Al Kubra, vol 1 hal 205 dan Al Ibanah Ash Shugra, hal. 133).

Ibnu Abdil Bar meriwayatkan pendapat Abdullah bin Mas'ud, "Manusia akan selalu dalam keadaan baik selama mau mengambil ilmu dari para pembesar mereka dan jika mereka mengambil dari Ashaghir dan buruk, mereka pasti hancur." (Jami' Bayan al Ilmi, hal 248).

Yang dimaksud Ashaghir adalah ahli bid'ah seperti yang diriwayatkan Ibnul Abdil Bar, bahwa Abdullah bin Mubarak ditanya, "Siapa Ashaghir itu ?". Ia menjawab,"Orang yang berbicara dengan ra'yu (nalar). Adapun orang yang mengambil dari pembesar bukan termasuk Ashaghir." (Jami' Bayan al Ilmi, hal 246).

Dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahli Sunnah, Al Lalika'i meriwayatkan perkataan Abdullah bin Mubarak,"Ashaghir adalah ahli bid'ah." (Syarh Ushul I'tiqad Ahli Sunnah, vol 1 hal 85).

Imam Asy Syatibi memberi komentar ucapan Ibnu Mubarak, "Ashaghir lebih cocok untuk ahli bid'ah, karena keilmuan mereka sangat kerdil sehingga mereka menjadi ahli bid'ah." (Al I'thisam, vol. 2 hal 174).

Berdasarkan atsar dari Ibnu Mas'ud di atas, dilarang mengambil ilmu dari ahli bid'ah karena bisa mendatangkan kerusakan. Fakta membuktikan banyak orang hancur dan rusak akibat berteman dan menuntut ilmu dari ahli bid'ah. Oleh karena itu, para ulama salaf sangat keras melarang duduk-duduk dengan mereka, berteman dan mendengar riwayat dari mereka. Tidak diragukan lagi, mengambil ucapan mereka penyebab utama kesesatan dan kerusakan.

Ibnu Abdil Barr menukil perkataan Imam Malik,"Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang; orang yang sangat dungu, ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah, orang yang dikenal suka berdusta kepada manusia meskipun tidak mendustakan hadits Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam dan dari orang shalih yang tidak tahu status hadits yang diriwayatkan." (Jami' Bayan Al Ilmi, hal 348).

Begitu juga para sahabat dan tabi'in serta para ulama ahli sunnah melarang mengambil ilmu dari ahli bid'ah.

Imam an-Nawawi dalam menjelaskan macam-macam ghibah yang mubah,"Diantara ghibah yang mubah ketika seorang melihat orang alim sering mengunjungi ahli bid'ah atau fasik untuk mengambil ilmu dan dikhawatirkan akan memberi pengaruh buruk kepada orang alim tersebut, maka boleh bagi orang tersebut memberi nasihat dengan mengungkapkan pribadinya dengan syarat hanya untuk tujuan nasihat." (Riyadhus Sholihin hal 350, Al Adzkar hal 304 dan Syarh Shahih Muslim, hal 16 & hal 143).

Pernyataan Imam an Nawawi mengisyaratkan, larangan mengambil ilmu dari ahli bid'ah, sehingga ketika ada seorang alim sering berkunjung kepada seorang ahli bid'ah harus diperingatkan, meskipun dengan cara ghibah.

Imam Adz Dzahabi berkata,"Jika ada seorang ahli kalam yang juga ahli bid'ah berkata,"Jauhkan kami dari Al Quran dan As Sunnah dan pakailah akal," maka ketahuilah dia adalah Abu Jahal. Bila ahli suluk berkata,"Tinggalkan naql dan akal, pakailah dzauq (perasaan) dan wajd (misteri dalam ibadah), maka ketahuilah dia adalah iblis dalam bentuk manusia. Jika dia mendekatimu, larilah atau perangi hingga kalah dan bacakanlah ayat kursi lalu cekiklah." (Siyar 'Alam an Nubala vol 4, hal 472).

Fatwa ulama Syam, Mesir dan Maroko,"Para ulama mujtahid berijma', dilarang mengambil ilmu dari ahli bid'ah. Zina adalah dosa besar, namun lebih ringan daripada orang yang bertanya tentang masalah agama kepada ahli bid'ah." (Fatawa Aimmah al Muslimin bi Qath'i al Lisan al Mubtadi'in hal 131).

Fatwa ulama' Maroko berbunyi,"Setiap muslim harus beramal sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah. Setiap orang yang benci sunnah berarti kafir, maka harus dijauhi. Bila seorang ulama berbuat bid'ah harus dijauhi dan tidak boleh diambil ilmunya karena akan merusak agama." (Fatawa Aimmah al Muslimin, hal 61).

Syaikh Salim al Hilali berkata,"Ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah, berhak untuk mendapat sanksi agar tidak membahayakan orang lain. Jika dia seorang mujtahid, paling tidak boleh diberi kedudukan dalam agama serta tidak boleh diambil ilmu dan fatwanya." (Al Bid'ah wa Atsaruha As Sayyi' fil Ummah, hal 51).

Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid berkata,"Berhati-hatilah dengan seorang Abu Jahal dan ahli bid'ah yang berakidah sesat dan tertutupi oleh khurafat, menggunakan hawa nafsu dan akal untuk mengubah nash dan mengacak-acak hadits, sehingga Ibnu Mubarak menyebut mereka dengan sebutan Ashaghir." (Al Jami' li Akhlaq Ar Rawi wa Adab as Sami' vol 1 hal 72).

Jika kamu dalam keadaan normal, janganlah mengambil ilmu dari Rafidhah [pengutuk Sahabat Rasulullah, red], Khawarij [penentang pemerintah muslim, red], Murji'ah, Qadriyyah [Penganut kepercayaan ttg taqdir yang menyimpang, red] atau Quburiyah [penyembah kuburan wali, red].

Cukup banyak pernyataan ulama agar ahli sunnah menjauhi ahli bid'ah. Wahai para pelajar, jadilah orang yang bermanhaj salaf dan hati-hati terhadap fitnah ahli bid'ah. Mereka menggunakan ungkapan yang manis, rayuan yang menawan dan keramat yang penuh dengan tipuan. Namun semua sarat dengan kebid'ahan dan membutakan hati serta jiwa. Ambillah ilmu dari ahli sunnah tanpa ragu-ragu, karena ilmu mereka laksana madu dan pembawa harta waris para nabi.

Jadi, para ulama salaf telah membuat garis jelas tentang larangan mengambil ilmu dari ahli bid'ah, karena bisa menjadi sumber bibit fitnah dan kerusakan yang besar. (Hilyah Thalib al Ilmi, hal 28-30). Maka ahli sunnah dilarang untuk mengangkat dan memberi kepercayaan kepada ahli bid'ah untuk memegang lembaga pendidikan dan mengajar. Karena mereka akan menebar kesesatan kepada anak didik dan mendukung mereka untuk menyebarkan bid'ah ke tengah masyarakat.

Syaikh Hamud at Tuwaijiri berkata,"Mengangkat ahli bid'ah menjadi pengajar akan merusak anak didik dan dimanfaatkan untuk menyebarkan aqidah sesat, sehingga akhlaq mereka rusak dan tidak mengindahkan perintah dan larangan ALLAH." (Tuhfah Al Ikhwan, hal 76).

Larangan di atas dalam keadaan normal. Namun boleh menggunakan mereka dalam situasi darurat, seperti tidak ada yang mampu mengajar spesialisasi ilmu tertentu kecuali ahli bid'ah dan untuk menjaga kemaslahatan pendidikan, dengan catatan tetap waspada dan tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,"Jika tidak mampu menegakkan kewajiban penyebaran ilmu dan jihad kecuali harus menggunakan jasa ahli bid'ah dan bahayanya lebih ringan daripada meninggalkan kewajiban tersebut, maka boleh meminta bantuan kepada mereka. Namun bila sebaliknya, para ulama berbeda pendapat." (Majmu' Fatawa vol 28 hal 212).

Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid berkata,"Bila beberapa kewajiban terlantar seperti pendidikan, jihad, kedokteran, arsitek dan semisalnya dan tidak mampu terpenuhi kecuali harus menggunakan jasa ahli bid'ah dan bahayanya lebih ringan daripada meninggalkan kewajiban tersebut, maka boleh meminta bantuan kepada mereka. (Hajr al Mubtadi hal 46).

Anjuran ulama di atas lebih tertuju kepada para pemimpin dan pihak yang berwenang. Umat, harus menaati para pemimpin dan pihak yang berwenang serta tetap belajar kepada guru yang telah diangkat oleh pemerintah dengan tetap berhati-hati dari para pengajar ahli bid'ah dan pengaruh buruk mereka, tanpa harus keluar dari menaati pemimpin karena dampaknya lebih buruk.

Bakar Abu Zaid, berkata,"Apa yang saya sebutkan di atas dalam keadaan normal, namun bila anda terikat dengan aturan pendidikan, hendaklah anda tetap berhati-hati dan menjaga diri dari keburukannya dan waspada atas segala syubhat. Ambillah yang bermanfaat dan tinggalkan apinya." (Hilyah Thalih al Ilmi hal 31).

Jadi, boleh bagi pemimpin menggunakan ahli bid'ah sebagai pengajar dalam situasi terpaksa dan boleh memanfaatkan mereka pada lembaga pendidikan ketika aman dari fitnah dan tidak mendatangkan kerugian lebih besar.

Larangan mengambil ilmu dari ahli bid'ah ternyata memiliki dua maksud :
Pertama : Dalam rangka menyelamatkan anak didik dari aqidah yang rusak, sebab bisa saja mereka terpengaruh ucapan dan tingkah laku pengajar dari kalangan ahli bid'ah.

Kedua : Bertujuan untuk memberi peringatan dan sanksi kepada ahli bid'ah. Ini berlaku hanya khusus bagi propangandis bid'ah, karena dia berhak untuk diberi peringatan agar sadar.

Syaikhul Islam berkata,"Pendapat ini hakikatnya adalah maksud dari pernyataan para ulama salaf yang melarang menerima kesaksian ahli bid'ah, shalat di belakangnya, mengambil ilmu dari mereka dan melangsungkan pernikahan dengan mereka sebagai sanksi agar kembali kepada Sunnah. Mereka membedakan antara propagandis bid'ah dengan yang bukan, karena yang berhak mendapat sanksi adalah ahli bid'ah yang menampakkan kebid'ahan. (Majmu' Fatawa, vol 28 hal 205).

Jika menjauhkan ahli bid'ah dari lembaga pendidikan mengakibatkan kerugian lebih besar, maka tidak boleh menafikan kerugian kecil dengan kerugian yang lebih besar. Suatu contoh ketika ahli bid'ah berkuasa, bila tidak digunakan jasa mereka akan memberontak atau membuat kekacauan dalam negeri. Maka sangat tidak menafikan kerugian kecil berupa perekrutan mereka dengan kerugian yang lebih besar, yaitu tidak menggunakan jasa mereka.

Apabila memanfaatkan jasa ahli bid'ah dalam proses pendidikan tidak menimbulkan bahaya, misalnya mengajarkan mata pelajaran yang bukan ilmu syar'i seperti ilmu kedokteran, ilmu bangunan, atau ilmu pembuatan perangkat teknologi, karena mata pelajaran tersebut tidak membahayakan aqidah anak didik, maka boleh menjadikan mereka sebagai pengajar materi tersebut.

Mereka tidak dilarang mengajar mata pelajaran tersebut, kecuali hanya untuk memberi sanksi bila dia propagandis bid'ah dan diharapkan bisa sadar. Bila tindakan tersebut tidak bisa mengubah sikap ahli bid'ah, maka harus tetap diberi kesempatan mengajarkan mata kuliah tersebut bila dua tujuan di atas (memberi pengaruh negatif anak didik dan memberi sanksi) tidak terwujud.

Dengan demikian tampak sikap ahlusunnah dalam mengambil ilmu dari ahli bid'ah dan menggunakan jasa mereka dalam proses pendidikan, yang didukung dengan pernyataan para ulama Salaf dan para Imam sunnah.

Kesimpulan, para ulama salaf melarang mengambil ilmu dari ahli bid'ah karena khawatir anak didik akan terpengaruh oleh pemikiran dan gagasan para pengajar ahli bid'ah yang menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan dan kehancuran. Atau larangan tersebut untuk memberi sanksi dan peringatan keras kepada ahli bid'ah, agar sadar dan kembali kepada Sunnah. Namun dalam keadaan terpaksa, boleh menggunakan jasa mereka dalam proses pendidikan dengan syarat, tidak ada pengajar mata kuliah tersebut selain dia dan dikhawatirkan akan timbul kerugian yang lebih besar akibat meninggalkan ahli bid'ah dalam proses pendidikan tersebut.

Judul asli : Mauqif Ahlusunnah wal jama'ah min ahlil ahwa wal bida', Maktabah al Ghura'a Al Atsriyah 1415 H. Versi Indonesia : Manhaj Ahli Sunnah Menghadapi Ahli Bid'ah, hal 439 - 445. Penulis Dr Ibrahim bin Amir ar Ruhaili.
----------