Stockholm, 30 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO PANDAI MENGUTIP ISI MAJALAH SALAFI TETAPI TIDAK MENGERTI ISINYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN DENGAN JELAS SUMITRO HANYA PANDAI MENGUTIP ISI MAJALAH SALAFI TETAPI TIDAK PAHAM & TIDAK MENGERTI ISINYA

"Kalau dilihat dari tulisannya barangkali hadist yang mendasari tulisan saudara Rokhmawan diantarnya adalah: bahwasanya Rosululloh SAW bersabda kurang lebih artinya "Barangsiapa yang menghidup-hidupkan sunnahku di zaman yg fahsya' ini maka pahalanya sama seperti 100 mati syahid" ( buka kitab Riyadlus solihin bab 2 atau bab 1). "Dan barangsiapa yg mengamalkan sunnahku berarti dia cinta kepadaku dan barangsiapa cinta kpdku maka dia akan masuk syurga bersamaku ( dari kitab Riyadhus Solihn )" (Sumitro mitro@kpei.co.id , Thu, 30 Sep 2004 14:29:39 +0700)

Baiklah Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Setelah Ahmad Sudirman membaca tulisan yang dikutip oleh saudara Sumitro yang menyangkut masalah penerapan, pengamalan Sunnah Rasulullah saw, logika atau mantik, ilmu kalam, ternyata Sumitro hanya pandai sampai tingkat mengkutipnya saja. Mengapa ? Karena ternyata Sumitro tidak mampu memberikan penjelasan mengenai hubungan antara penerapan, pengamalan Sunnah Rasulullah saw dengan situasi dan kondisi dimana umat Islam sekarang tinggal dan hidup. Disamping itu Sumitro tidak mampu memberikan penjelasan mengenai sejauhmana penerapan, penggunaan ilmu logika atau ilmu mantik dan ilmu kalam dalam hubungannya dengan ketauhidan dan sejauhmana keterbatasan ilmu logika atau ilmu mantik dan ilmu kalam ketika dipakai untuk menjelaskan kebesaran, kekuasaan dan fimran-firman Allah SWT.

Saudara Sumitro memang hanya mengutip cerita-cerita yang diambil dari majalah kaum salafiyin saja, tanpa digali, dipelajari, dianalisa, dihayati, disimpulkan terlebih dahulu, sehingga apa yang diinginkan oleh Sumitro untuk menyampaikan maksudnya ternyata bukan mencapai sasaran yang tepat, melainkan hanyalah merupakan rangkaian kata-kata yang tidak menyambung satu sama lain.

Contohnya seperti yang dikutip Sumitro: "Kaidah dalam penerapan Sunnah adalah menyampaikan Sunnah dan tidak memperdebatkannya. Karena memperdebatkan Sunnah hanya akan membawa pada pertikaian yang berbuntut pelecehan terhadap Sunnah Nabawiyah itu sendiri. Berkata Imam Malik rahimahullah: "Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian dan menghilangkan cahaya ilmu dari dalam hati, serta mengeraskan hati dan melahirkan kedengkian. (Syiar a'lamin Nubala', 8/ 106). Demikian pula dikatakan oleh Imam Syafii dan lain-lain. (Syiar A'lamin Nubala', 10/28)"

Nah disini Sumitro tidak mengetahui dan memahami apa yang dikutipnya itu. Mengapa ?

Karena Sunnah Rasulullah saw dihubungkan dengan Imam Malik bin Anas Al Ashbahi yang lahir pada tahun 93 H dan meninggal pada tahun 170 H dan belajar di Yatsrib yang di Yatsrib inilah beliau menulis buku Al-Muwaththa'. Al Muwaththa' inilah merupakan hasil karya besar dari Imam Malik bin Anas Al Ashbahi yang berisikan kumpulan hadits-hadist yang telah disaring dengan sedemikian rupa yang dilihat dari sudut mushthalah hadits, yaitu dengan meneliti dan memeriksa pribadi-pribadi yang mula-mula meriwayatkan hadits tersebut sampai kepada yang meriwayatkan atau perawi yang terakhir, karena memang banyak perawi-perawi yang tidak bisa dipercaya keshahehannya sehingga hadits-haditsnya menjadi lemah dan palsu.

Kemudian juga menyinggung Imam Muhammad bin Idris bin Syafi'i yang lahir pada tahun 150 H di Khuzzah dan meninggal di Mesir pada tahun 240 H. Dimana Imam Syafi'i ini adalah murid Imam Malik bin Anas Al Ashbahi dan pernah diminta oleh Khalifah Harun Al Rasyid untuk tinggal di Baghdad. Di Baghdad Imam Syafi'i berjumpa dan berdiskusi dengan ulama-ulama seperti sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah yang lahir pada tahun 80 H dan meninggal tahun 150 H di Baghdad. Dimana Imam Syafi'i pernah menyatakan: "Apabila hadits itu sah, itulah mazhabku, dan buangkanlah perkataanku yang timbul dari ijtihadku".

Jadi, jelas bahwa yang dimaksud dengan menyampaikan Sunnah Rasulullah saw dan tidak memperdebatkannya, jika dihubungkan dengan Imam Malik dan Imam Syafi'i adalah apabila hadits-hadits yang telah disaring sedemikian rupa menurut jalur mushthalah hadist yang diakui kuat dan sah, maka tidak ada alasan lain untuk memperdebatkan keshahehannya. Tetapi, kalau ada hadits yang dilihat dari sudut mushthalahnya ternyata ada kelemahan, maka disinilah masih perlu diperdebatkan Sunnah Rasulullah saw tersebut, apakah Sunnah Rasulullah saw itu lemah, palsu atau shaheh.

Dan memang apabila masih memperdebatkan hadits yang shaheh, maka menurut Imam Malik: "Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian dan menghilangkan cahaya ilmu dari dalam hati, serta mengeraskan hati dan melahirkan kedengkian". Begitu juga menurut Imam Syafi'i: "Apabila hadits itu sah, itulah mazhabku, dan buangkanlah perkataanku yang timbul dari ijtihadku".

Kemudian ada beberapa perkataan yang dikutip oleh saudara Sumitro yaitu: "Sampaikanlah Sunnah dengan menjelaskan dalil-dalilnya secara ilmiah yaitu dengan menunjukkan keshahihan haditsnya dan menjelaskan ucapan para Ulama tentang maknanya. Dengan kata lain kita hanya menegakkan hujjah (dalil/keterangan, red) dan menunjukkan kebenarannya secara riwayat dan dirayah (lihat edisi yang lalu). Adapun masalah hidayah ada di tangan Allah."

Sebenarnya kalau memang hadits tersebut telah diketahui ke shahehannya, seperti yang dikumpulkan oleh Imam Malik, Imam Bukhori dan Imam Muslim, Imam Ibnu Hanbal, At Tirmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasai, yang merupakan induk kitab-kitab hadits yang disusun kemudian, tidak perlu lagi dijelaskan dalil-dalilnya secara ilmiah. Mengapa ?

Karena untuk apa harus ditampilkan dalilnya secara ilmiah, sedangkan hadits tersebut telah ditelaah dari sudut mushthalah-nya dengan sangat teliti dan hati-hati. Dan yang dimaksud dengan dalil ilmiah dalam hal ilmu hadits ini adalah kalau dalam penelitian dan pemeriksaan para perawinya telah disepakati bahwa semuanya bisa dipercaya dan diterima dan tidak ada perawi yang diragukan pribadinya.

Seterusnya tentang apa yang dikutip oleh Sumitro: "Sehingga jika ada sebagian manusia yang membantah atau memperdebatkan Sunnah setelah jelas baginya hujjah, maka itu hanyalah salah satu dari beberapa cara penolakan terhadap Sunnah. Untuk itu mereka harus kita tinggalkan dan kita tidak perlu sibuk melayaninya. Jika kita melayani mereka, maka hal itu hanyalah akan membuang-buang waktu dan tidak akan memberikan faedah sama sekali, bahkan hanya akan menimbulkan madlarat."

Persoalannya adalah karena ada hadits-hadits yang lemah dan palsu yang masih perlu diteliti kebenarannya. Dan hadits inilah yang masih perlu diperdebatkan keshahehannya. Dengan memperdebatkan hadits yang mushthalahnya masih lemah ini bukan berarti menolak terhadap Sunnah Rasulullah saw. Tetapi untuk meneliti keshahehannya, yaitu apakah memang benar hadits tersebut adalah sabda Rasulullah saw yang benar atau hanyalah merupakan satu hasil karangan orang saja.

Disamping itu masih adanya perbedaan pendapat tentang dasar hukum baik itu yang ada dalam Al-Qur'an ataupun Hadits. Contohnya mengenai hukum nikah. Segolongan fuqaha mengatakan bahwa nikah itu hukumnya sunnat. Ulama pengikut mazhab Imam Malik mengatakan nikah itu wajib. Hal demikian itu didasarkan pada kekhawatiran terhadap kesusahan atau kesulitan dirinya. Disamping adanya perbedaan adanya bentuk kalimat perintah dalam dasar hukum nikah QS, An-Nisa, 4: 3 "Fan kihu ma thaba lakum minan nisaa matsna wa tsulasa wa ruba'...(maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat...)" (QS, An-Nisa, 4: 3). Dan hadits "tana kahu fa inni mukatsirun bikumul umamu" (Kawinlah kamu, karena sesungguhnya dengan kamu aku akan berlomba-lomba dengan umat-umat lain).(Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Jil II, hal. 351-352)

Dengan adanya perbedaan pendapat dan perdebatan dalam hal pengertian kata perintah dalam dasar hukum nikah dalam Al Qur'an dan dalam hadits sebagaimana dicontohkan diatas menunjukkan bahwa masih adanya perbedaan dalam hal penafsiran dan pembuatan dasar hukum nikah itu sendiri, dan tentu saja bukan berarti adanya penolakan dan menentang terhadap Sunnah Rasulullah saw.

Selanjutnya Sumitro mengutip: "Para ulama telah mengingatkan kaum muslimin agar mereka jangan memperdebatkan masalah agama. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengamalkan hal-hal yang telah diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan hal-hal yang telah dilarang. Kebinasaan yang telah menimpa orang-orang sebelum kita adalah karena banyaknya perdebatan, protes dan pertentangan serta perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."

Sebenarnya yang dimaksud jangan memperdebatkan masalah agama dalam hal ini adalah memperselisihkan dan melakukan pertentangan kepada para Nabinya. Misalnya para pengikut Nabi Musa as dan pengikut Nabi Isa as. Sedangkan yang pernah dilakukan terhadap Rasulullah saw adalah yang pernah ditentang oleh kaumnya dari bangsa Quraisy yang menentang keras kepada risalah Rasulullah saw.

Dan memang keadaan itu sesuai dengan hadits yang dikumpulkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim: "Rasulullah saw bersabda: "Apa yang aku larang, tinggalkanlah. Dan apa yang aku perintahkan, kerjakanlah sebisa kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya perselisihan dan pertentangan mereka terhadap para nabinya. (HR. Bukhari Muslim)"

Jadi yang dikecam dalam hadits yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim ini adalah menentang dan mendebat risalah Nabi, seperti yang dilakukan oleh bangsa Quraisy dibawah pimpinan Abu Jahal, Abu Lahab.

Selanjutnya Sumitro mengutip: "Jeleknya Ilmu Kalam (Filsafat). Perdebatan terhadap nash-nash yang telah jelas datangnya dari Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang tercela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa ilmu yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Ghafir: 56)"

Disini kelihatan Sumitro memang tidak mengetahui apa yang disebut dengan ilmu kalam. Sebenarnya kalam itu artinya kata. Ilmu kalam itu lahir karena adanya usaha untuk mempertahankan aqidah Islam dari orang-orang yang sebelumnya belum mengenal Islam yang ada didaerah-daerah yang dikuasai oleh penguasa Islam. Bagi orang-orang muslim yang tinggal di Yatsrib, Mekkah, Thaif, Riyadh pada masa Rasulullah saw tidak ada persoalan mengenai kata-kata yang ada dalam Al-Qur'an dan aqidah Islam, karena memang Rasulullah saw langsung yang menjelaskannya.

Tetapi setelah Rasulullah saw meninggal, dan Islam terus menyebar luas, bukan hanya di daerah Hijaz saja, melainkan meluas ke Syria, Irak, Asia Tengah, Asia Kecil, Eropah, Asia Tenggara. Dimana di daerah-daerah yang baru itu sebelumnya telah ada agama-agama lain, seperti Zoroaster di Persia, Hindu dan Budha di Asia, Kristen di Eropah, Yahudi di jazirah Arab. Para pemeluk agama yang bukan Islam ini tidak mudah untuk menerima aqidah Islam sebelum diperdebatkan dan dibandingkan terlebih dahulu dengan agama-agama yang mereka anut berdasarkan dalil-dalil dan hujah-hujah mereka masing-masing.

Nah dari sinilah asal mulanya lahir ilmu kalam dalam Islam ini. Apalagi didukung oleh Khalifah Al-Mahdi 157 H - 168 H / 775 M - 785 M dari Dinasti Abbasiyah di Irak. Dimasa Khalifah Al Mahdi inilah lahir ilmu kalam yang ditulis oleh dua golongan besar, yaitu golongan Al Jamaah dan golongan Mu'tazilah yang dipelopori oleh Washil bin 'Atha'. Kemudian muncul Abul Hasan Al-Asy'ari yang mengadakan kompromis dari golongan Al Jamaah dan golongan Mu'tazilah dan membentuk golongan baru yang dinamakan golongan Al-Asya'irah.

Jadi ilmu kalam bukan ilmu filsafat seperti yang dikutip oleh Sumitro. Ilmu filsafat memang ilmu tersendiri yang pada pokoknya mengandung empat macam ilmu, yaitu ilmu mantik atau ilmu logika, ilmu alam, ilmu pasti, dan ilmu ketuhanan.

Kemudian Sumitro mengutip sesuatu hal yang menyesatkan yaitu: "Memang orang-orang yang sesat seringkali diberi oleh Allah keahlian dalam berdebat dan bersilat lidah." Dengan menempelkan hadits "Tidaklah sesat satu kaum setelah datangnya petunjuk kecuali setelah diberikan kepada mereka kepandaian debat. (HR. Ahmad) (Syaikh Barjas dalam Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Barjas, hal. 89)

Disini kelihatan itu Sumitro memang dangkal dan tidak menguasai tentang permasalahan lahirnya ilmu kalam dan mengapa adanya perdebatan antara golongan Al Jamaah dan golongan Mu'tazilah terutama yang ada di Irak setelah Kekuasaan Islam dipindahkan dari Damaskus di Syria ke Baghdad di Irak. Dimana cara berpikir orang-orang Islam asal Hijaz (Saudi sekarang) ini berbeda dengan orang-orang arab yang masuk Islam yang berasal dari Irak.

Tentu saja golongan Al Jamaah ini yang dipelopori oleh golongan dari Hijaz (Saudi sekarang) yaitu orang Islam yang ada di Yatsrib, Mekkah, Thaif, Riyadh, tempat dari mana asalnya Islam tumbuh.

Dan dari golongan Al Jamaah inilah lahir kritikan-kritikan tajam kepada pihak orang-orang Islam Irak yang berkumpul dalam kelompok Mu'tazilah yang sekaligus merupakan saingan debat beratnya, sehingga melahirkan sikap dan pernyataan dari golongan orang Islam Al Jamaah ini bahwa ilmu kalam bukanlah ilmu yang bermanfaat. Sampai-sampai berkata Imam Ahmad: "Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul kalam, walaupun ia membela sunnah. Karena urusannya tidak akan membawa kebaikan!" (Al-Ibanah, juz 2/540 melalui nukilan Lamu ad-Duur Minal Qaulil Ma'tsur, Syaikh Jamal Ibnu Furaihan, hal. 40) Begitu juga berkata Abdul Harits: "Aku mendengar Abu Abdillah berkata: "Jika engkau melihat seseorang menyukai ilmu kalam, maka berhati-hatilah kalian dengannya". (Idem)

Sebenarnya wajar dan masuk akal kalau Islam yang mulanya tumbuh dan berkembang di daerah dan wilayah Hijaz saja, ternyata setelah menyebar ke luar wilayah Hijaz, seperti ke Syria, Irak, Asia, Eropah yang sangat berlainan cara berpikir manusianya, adat kebiasaannya, agamanya, maka sudah jelas akan timbul pertentangan, dimana pertentangan ini dilakukan melalui perdebatan tentang hal yang menyangkut aqidah, tauhid, akhlaq, dan sebagainya.

Jadi sangat wajar kalau dari kalangan orang Islam asal Hijaz ini harus mampu memberikan argumentasi dan hujah-hujah yang bisa diterima oleh para pemeluk Islam baru yang sangat berlainan baik itu karakter, adat istiadat, kebiasaan, dan agamanya sebelum memeluk Islam.

Coba saja perhatikan di Nusantara sebelum Islam datang ke Acheh, Demak, Cirebon, Banten, itu yang menguasai Nusantara adalah orang-orang Hindu dan orang orang Budha. Tetapi karena dari pihak orang-orang Hindu dan Budha ini tidak banyak menampilkan tanggapan-tanggapan secara terbuka dan tertulis terhadap para wali-wali yang ada di Demak, Cirebon, Banten, sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Al Mahdi dari Dinasti Abbasiyah di Irak sebelumnya. Hanya dari pihak orang orang Hindu dan Budha yang ada di Nusantara yang masuk Islam mereka tidak menentang langsung terhadap kepercayaan Islam, melainkan memasukkan unsur-unsur Budha dan Hindunya kedalam Islam. Lihat saja di Jawa. Itu yang namanya kepercayaan Islam sudah bercampur dengan kepercayaan hindu. Misalnya dalam hal tata cara perkawinan, kematian, kelahiran.

Selanjutnya Sumitro mengutip masalah ilmu mantik atau ilmu logika dengan mengkopi: "Imam Syafi'i berkata; "Barangsiapa yang bermantiq, maka dia akan jadi zindiq (sesat)". Beliau juga berkata: "Hukumanku bagi ahlul kalam adalah dipukul dengan pelepah korma dan sandal, dikelilingkan ke kampung-kampung dan diumumkan di hadapan manusia: "Inilah balasan bagi orang-orang yang meninggalkan kitab dan sunnah dan berpaling pada ilmu kalam"". (Syarh
al-Aqidatul ath-Thahawiyah, hal. 72)"

Ilmu mantik atau ilmu logika adalah bagian dari ilmu filsafat. Memang tidak bisa dipecahkan semua masalah ketauhidan, aqidah dengan mempergunakan ilmu mantik atau ilmu logika ini. Tetapi tidak berarti dengan tidak bisanya dipecahkan masalah ketauhidan dan aqidah dengan ilmu mantik, lalu orang yang mempergunakan ilmu mantik dianggap sesat.

Karena ilmu mantik atau ilmu logika ini dipakai dalam dunia teknologi. Tanpa ilmu logika tidak akan mungkin lahir dunia teknologi seperti sekarang ini. Perhatikan saja tanpa adanya ilmu mantik atau logika tidak akan lahir dunia ilmu pengetahuan "software" dalam dunia komputer dan teknologi.

Adapun ilmu mantik atau logika yang dihubungan dengan ketauhidan dan aqidah yang dianggap menyesatkan adalah apabila ilmu logika dipakai untuk alat mencapai kepada adanya Allah SWT. Karena tidak akan mungkin sampai kepada adanya Allah SWT kalau hanya mempergunakan ilmu logika atau ilmu mantik ini. Tetapi ilmu logika atau ilmu mantik bisa dipakai untuk membuktikan hasil ciptaan Allah SWT yang ada di alam raya ini. Kemudian dengan bisanya dibuktikan hasil ciptaan Allah SWT melalui ilmu mantik atau logika ini, lalu ditunjang dengan ilmu tauhid, maka akan sampai kepada tingkat keyakinan akan adanya Allah SWT dan adanya kekuasaan-Nya.

Jadi, keterbatasan ilmu logika atau mantik untuk sampai ketingkat pengakuan adanya Allah SWT bukan berarti ilmu mantik atau ilmu logika menyesatkan, melainkan ilmu logika atau ilmu mantik ini harus ditunjang oleh ilmu tauhid untuk sampai ketingkat pengakuan adanya Allah SWT.

Justru dengan adanya ilmu mantik atau logika inilah yang sangat menunjang untuk sampai kepada pengakuan adanya Allah SWT. Karena didalamnya tidak ada istilah main-main, semuanya serba pasti dan bisa dihitung menurut logika.

Coba saja perhatikan pergerakan bumi mengitari matahai. Berputarnya bumi pada porosnya. Berputarnya bulan pada porosnya dan mengelilingi bumi. Berputarnya planet-planet di gugusan galaksi mengelilingi matahari. Berputarnya bulan-bulan mengelilingi planet-planet. Semuanya didasarkan kepada ilmu logika atau ilmu mantik dengan ditunjang oleh perhitungan yang sangat eksak atau tepat. Denga menggunakan ilmu logika atau ilmu mantik yang dijabarkan kedalam bentuk ilmu software dengan komputernya, maka bisa menghasilkan hasil perhitungan yang sangat tepat dan pasti.

Nah, berdasarkan hasil ilmu logika atau ilmu mantik inilah yang kemudian disirami dengan ilmu tauhid, maka akan sampai kepada tingkat pengakuan adanya Allah SWT.

Terakhir saudara Sumitro menuliskan cerita yang "dikisahkan oleh Ma'n bin Isa: "Imam Malik bin Anas rahimahullah pada suatu pernah pulang dari suatu majlis dalam keadaan beliau bertekan pada tanganku. Kemudian beliau ditemui oleh seseorang yang dipanggil dengan nama Abul Hauriyah. Orang ini termasuk orang yang sesat beraliran murji'ah. Ia berkata: "Wahai hamba Allah, dengarkanlah dariku sesuatu. Aku ingin berbicara denganmu menyampaikan argumentasiku kepadamu dan menyampaikan pendapatku kepadamu (yakni mengajak berdebat -pent.)". Maka Imam Malik menjawab: "Bagaimana jika engkau bisa mengalahkanku?" Ia berkata: "Jika engkau kalah, maka engkau harus mengikutiku". Imam Malik berkata lagi: "Jika datang orang ke-3 menyampaikan argumentasinya kepada kita, kemudian ia mengalahkan kita?" Ia menjawab: "Jika kita kalah, maka kitapun mengikutinya". Mendengar jawaban ini, imam Malik berkata: "Wahai hamba Allah, Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam dengan agama yang satu, tetapi aku melihat engkau berpindah-pindah dari satu agama ke agama yang lain". Dalam riwayat yang lain: "Bukanlah agama ini milik para pemenang debat". (Asy-Syari'ah, al-Ajurri, 64)

Kalau kita dalami apa yang dikemukakan oleh Imam Malik bin Anas Al Ashbahi yang hidup pada masa Dinasti Umayyah dari sejak Khalifah Umar bin Abd al-Aziz, Yazid II bin Abd al-Malik, Hisham bin Abd al-Malik, al-Walid II bin Yazid II, Yazid III bin al-Walid, Ibrahim bin al-Walid, Marwan II bin Muhammad, sampai Dinasti Abbasiyah yang dimulai dari Khalifah Abu'l Abbas Al-Saffah, Al-Mansur, dan Khalifah Al-Mahdi. Dimana pada masa Kahlifah Al Mahdi dari Dinasti Abbasiyah inilah telah memuncak perdebatan antara golongan orang-orang Islam asal Hijaz (Saudi sekarang) dengan golongan orang-orang Islam asal Irak.

Kemudian kalau Imam Malik mengatakan: "Wahai hamba Allah, Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam dengan agama yang satu, tetapi aku melihat engkau berpindah-pindah dari satu agama ke agama yang lain".

Disini perlu diperhatikan bahwa pada masa Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah memang hanya Islam yang dijadikan dasar dan sumber hukum. Dimana hanyalah Islam agama yang diakui. Sebelum Islam datang, ada agama Zoroaster yang hidup dan berkembang di Persia, tetapi setelah Muawiyah I bin Abu Sufyan 661 - 680 pegang pimpinan sebagai Khalifah di Damaskus Syria, Persia jatuh ketangan Muawiyah I bin Abu Sufyan, dan agama Zoroaster digantikan oleh Islam.

Jadi yang dimaksud Imam Malik "aku melihat engkau berpindah-pindah dari satu agama ke agama yang lain" bukan berarti Abul Hauriyah berpindah-pindah agama, melainkan pemikiran Abul Hauriyah yang berobah tergantung kepada adanya dasar argumentasi kuat yang dipakai landasan dalam mempertahankan keyakinan masing-masing, yang pada saat awal Pemerintahan Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa Khalifah Al Mahdi sangat gencar dilakukan perdebatan mengenai Islam yang dianut oleh orang-orang asal Hijaz dan orang-orang baru masuk Islam yang berasal dari Irak sendiri. Dimana Imam Malik sendiri lahir di Hijaz, dan dikenal dengan Sayyid Fuqaha al Hijaz. Jadi jelas Imam Malik mempertahankan pendapat dan pemikiran Islam sebagaimana orang-orang Islam asal Hijaz.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas redaksi@kompas.com
Cc: teguh.harjito@mas-dna.com, rokh-mawan@plasa.com,rokh_mawan@yahoo.com, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: TEGUH HARJITO: BEBERAPA KERANCUAN ARTIKEL ABU HAMZAH AL ATSARY DARI BANDUNG
Date: Thu, 30 Sep 2004 14:29:39 +0700

Bapak-Bapak yang terhormat.

Kalau dilihat dari tulisannya barangkalai hadist yang mendasari tulisan saudara Rokhmawan diantarnya adalah: bahwasanya Rosululloh SAW bersabda kurang lebih artinya "Barangsiapa yang menghidup-hidupkan sunnahku di zaman yg fahsya' ini maka pahalanya sama seperti 100 mati syahid" ( buka kitab Riyadlus solihin bab 2 atau bab 1). "Dan barangsiapa yg mengamalkan sunnahku berarti dia cinta kepadaku dan barangsiapa cinta kpdku maka dia akan masuk syurga bersamaku ( dari kitab Riyadhus Solihn )".

Kaidah dalam penerapan Sunnah adalah menyampaikan Sunnah dan tidak memperdebatkannya. Karena memperdebatkan Sunnah hanya akan membawa pada pertikaian yang berbuntut pelecehan terhadap Sunnah Nabawiyah itu sendiri. Berkata Imam Malik rahimahullah: "Perdebatan hanyalah akan membawa pada pertikaian dan menghilangkan cahaya ilmu dari dalam hati, serta mengeraskan hati dan melahirkan kedengkian. (Syiar a'lamin Nubala', 8/ 106). Demikian pula dikatakan oleh Imam Syafii dan lain-lain. (Syiar A'lamin Nubala', 10/28)"

Tapi terlepas dari itu semua maka saya kalau boleh menyampaikan bahwa sebaiknya kita dalam pengamalan atau penyampaian sunnah untuk menyampaikan dengan jelas dan bukan memperdebatkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan ta'atlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
(al-Maidah: 92)".

Sampaikanlah Sunnah dengan menjelaskan dalil-dalilnya secara ilmiah yaitu dengan menunjukkan keshahihan haditsnya dan menjelaskan ucapan para Ulama tentang maknanya. Dengan kata lain kita hanya menegakkan hujjah (dalil/keterangan, red) dan menunjukkan kebenarannya secara riwayat dan dirayah (lihat edisi yang lalu). Adapun masalah hidayah ada di tangan Allah.

Kita tidak bisa memaksa setiap orang untuk menerima hidayah. Sehingga jika ada sebagian manusia yang membantah atau memperdebatkan Sunnah setelah jelas baginya hujjah, maka itu hanyalah salah satu dari beberapa cara penolakan terhadap Sunnah. Untuk itu mereka harus kita tinggalkan dan kita tidak perlu sibuk melayaninya. Jika kita melayani mereka, maka hal itu hanyalah akan membuang-buang waktu dan tidak akan memberikan faedah sama sekali, bahkan hanya akan menimbulkan madlarat.

Allah mengancam mereka yang menolak sunnah setelah jelas baginya dengan Adzab neraka Jahanam, sebagaimaa firman-Nya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisaa': 115)".

Pada suatu hari, Imam Malik pernah ditanya oleh seorang yang bernama Haitsam bin Jamil: "Wahai Abu Abdillah (yakni imam Malik), seorang yang memiliki ilmu tentang sunnah apakah boleh dia berdebat untuk membelanya?" Imam Malik menjawab: "Jangan! Tetapi hendaklah dia menyampaikan sunnah tersebut. Jika diterima, itulah yang diharapkan; namun jika ditolak, maka diamlah". (Jami' Bayanul Ilmih wa Fadlihi, juz 2 hal. 94) Demikian pula Imam Ahmad menyatakan: "Sampaikanlah sunnah dan jangan kalian memperdebatkannya". (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya'la, melalui nukilan Syaikh Barjas dalam Dlaruratul Ihtimam, hal. 89)

Para ulama telah mengingatkan kaum muslimin agar mereka jangan memperdebatkan masalah agama. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengamalkan hal-hal yang telah diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan hal-hal yang telah dilarang. Kebinasaan yang telah menimpa orang-orang sebelum kita adalah karena banyaknya perdebatan, protes dan pertentangan serta perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Apa yang aku larang, tinggalkanlah. Dan apa yang aku perintahkan, kerjakanlah sebisa kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya perselisihan dan pertentangan mereka terhadap para nabinya. (HR. Bukhari Muslim)"

Oleh karena itu, kewajiban bagi kita kepada umat adalah menyampaikan sunnah dengan menjelaskan keshahihan riwayatnya dan kejelasan maknanya menurut ulama salaf. Jika mereka menerima dakwah kita, kita ucapkan "Alhamdulillah". Dan kalau mereka menolak dengan mempermasalahkan dan memperdebatkannya dengan akal dan perasaan mereka, maka tinggalkanlah!.

Jeleknya Ilmu Kalam (Filsafat). Perdebatan terhadap nash-nash yang telah jelas datangnya dari Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang tercela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa ilmu yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Ghafir: 56)

Memang orang-orang yang sesat seringkali diberi oleh Allah keahlian dalam berdebat dan bersilat lidah. Tidaklah sesat satu kaum setelah datangnya petunjuk kecuali setelah diberikan kepada mereka kepandaian debat. (HR. Ahmad) (Syaikh Barjas dalam Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Barjas, hal. 89)

Ilmu debat/kalam bukanlah ilmu yang bermanfaat. Bahkan sebaliknya hanya akan membawa madlarat dan kesesatan, karena ilmu kalam adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana membantah dengan akal dan permainan kata-kata. Para ulama telah memperingatkan kita dari bahaya ilmu kalam atau mantiq tersebut. Berkata Imam Ahmad: "Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul kalam, walaupun ia membela sunnah. Karena urusannya tidak akan membawa kebaikan!"
(Al-Ibanah, juz 2/540 melalui nukilan Lamu ad-Duur Minal Qaulil Ma'tsur, Syaikh Jamal Ibnu Furaihan, hal. 40)

Berkata Abdul Harits: "Aku mendengar Abu Abdillah berkata: "Jika engkau melihat seseorang menyukai ilmu kalam, maka berhati-hatilah kalian dengannya". (Idem)

Imam Syafi'i berkata; "Barangsiapa yang bermantiq, maka dia akan jadi zindiq (sesat)". Beliau juga berkata: "Hukumanku bagi ahlul kalam adalah dipukul dengan pelepah korma dan sandal, dikelilingkan ke kampung-kampung dan diumumkan di hadapan manusia: "Inilah balasan bagi orang-orang yang meninggalkan kitab dan sunnah dan berpaling pada ilmu kalam"". (Syarh
al-Aqidatul ath-Thahawiyah, hal. 72)

Ingatlah wahai kaum muslimin, agama ini bukanlah milik para pemenang debat. Tidak mesti mereka yang menjadi pemenang dalam perdebatan adalah orang yang berada di atas kebenaran.

Dikisahkan oleh Ma'n bin Isa: "Imam Malik bin Anas rahimahullah pada suatu pernah pulang dari suatu majlis dalam keadaan beliau bertekan pada tanganku. Kemudian beliau ditemui oleh seseorang yang dipanggil dengan nama Abul Hauriyah. Orang ini termasuk orang yang sesat beraliran murji'ah. Ia berkata: "Wahai hamba Allah, dengarkanlah dariku sesuatu. Aku ingin berbicara denganmu menyampaikan argumentasiku kepadamu dan menyampaikan pendapatku kepadamu (yakni mengajak berdebat -pent.)". Maka Imam Malik menjawab: "Bagaimana jika engkau bisa mengalahkanku?" Ia berkata: "Jika engkau kalah, maka engkau harus mengikutiku". Imam Malik berkata lagi: "Jika datang orang ke-3 menyampaikan argumentasinya kepada kita, kemudian ia mengalahkan kita?" Ia menjawab: "Jika kita kalah, maka kitapun mengikutinya". Mendengar jawaban ini, imam Malik berkata: "Wahai hamba Allah, Allah telah mengutus Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam dengan agama yang satu, tetapi aku melihat engkau berpindah-pindah dari satu agama ke agama yang lain". Dalam riwayat yang lain: "Bukanlah agama ini milik para pemenang debat". (Asy-Syari'ah, al-Ajurri, 64)

Wallahu a'lam

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------