Stockholm, 3 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DANREM 011/LW AZMYN YUSRI MENIPU RAKYAT ACHEH DENGAN SYARIAT ISLAM MODEL PANCASILA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU DANREM 011/LW KOLONEL INF AZMYN YUSRI NASUTION MENIPU RAKYAT ACHEH DENGAN SYARIAT ISLAM MODEL PANCASILA

"Pelaksanaan Syariat Islam yang dilaksanakan saat ini, bukan untuk mencari popularitas murahan. Tetapi harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan bersama-sama.Jangan dilakukan setengah-setengah, mari kita laksanakan dengan ikhlas dan sepenuh hati bersama unsur terkait. Dan jangan dilakukan sendiri-sendiri" (Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution, Lhokseumawe, Jumat, 1 Oktober 2004).

Setelah membaca cerita yang dimuat oleh Serambi online yang berubrik "Danrem 011/LW: Syariat Islam jangan Setengah- Setengah", timbul dalam pikiran Ahmad Sudirman, bagaimana itu, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution selaku Komandan Korem 011/Lilawangsa yang telah disumpah demi Sapta Marga sebagai pendukung dan pembela ideologi negara pancasila, dan Sumpah Prajurit yang setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, ternyata pada hari ini, Minggu, 3 Oktober 2004 bercuap tentang pelaksanaan syariat Islam model Pancasila yang mengacu kepada dasar hukum Undang Undang RI Nomor 18 Tahun 2001 yang didalamnya berisikan alat melabu atau alat menipu rakyat muslim Acheh yang masih belum sadar akan pelaksanaan hukum-hukum Islam yang seharusnya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh di negara yang hukumnya bersumberkan kepada Islam.

Bagaimana mungkin itu Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution bicara tentang pelaksanaan syariat Islam, padahal dirinya telah disumpah untuk taat, setia, mendukung dan membela pancasila ?

Karena kelihatan disini itu Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution tidak lebih dari burung beo yang padainya hanya mengikuti dan membeo apa yang dikatakan oleh pimpinan Eksekutif Megawati dan Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu saja.

Dimana Peradilan Syariat Islam di Acheh sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar'iyah yang bebas dari pengaruh pihak mana pun (Bab XII, pasal 25, ayat 1) dan Kewenangan Mahkamah Syar'iyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan atas syariat Islam dalam sistem hukum nasional, yang diatur lebih lanjut dengan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Bab XII, pasal 25, ayat 2).

Dan sistem peradilan nasional atau sistem yang mengatur segala sesuatu pengenai perkara pengadilan yang dijalankan dan dilaksanakan melalui Mahkamah Agung RI adalah hukumnya bersumberkan kepada pancasila dengan mempertimbangkan kepada UUD 1945 sekular.

Karena itu walaupun Peradilan Syariat Islam di Acheh yang pelaksanaannya diatur oleh Qanun Acheh yang Qanun itu sendiri merupakan peraturan daerah sebagai pelaksanaan UU No.18/2001 di wilayah Acheh, tetapi karena sumber hukumnya berdasarkan kepada pancasila dengan mempertimbangkan kepada UUD 1945, maka Peradilan Syariat Islam di Acheh adalah tidak lebih dan tidak kurang hanya merupakan penjabaran-kebawah dari pada sistem peradilan nasional dibawah Mahkamah Agung negara RI.

Inilah yang disebut Peradilan Syariat Islam di Acheh adalah satu alat melabu atau alat menipu rakyat muslim Acheh yang masih belum sadar akan pelaksanaan hukum-hukum Islam yang seharusnya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh di negara yang hukumnya bersumberkan kepada Islam.

Jadi ketika Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution mengatakan: "Pelaksanaan Syariat Islam yang dilaksanakan saat ini, bukan untuk mencari popularitas murahan. Tetapi harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan bersama-sama.Jangan dilakukan setengah-setengah, mari kita laksanakan dengan ikhlas dan sepenuh hati bersama unsur terkait. Dan jangan dilakukan sendiri-sendiri", itu semua hanyalah merupakan penipuan terhadap rakyat Acheh. Dan celakanya itu Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution sendiri tidak tahu tentang penegakkan dan pelaksanaan syariat Islam menurut yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan Rasulullah saw ketika membangun Negara Islam pertama di Yatsrib atau Madinah.

Oleh karena itu bagaimana mungkin Syariat Islam dilakukan secara sungguh-sungguh, jangan dilakukan setengah-setengah, kalau penegakkan, pelaksanaan, penerapan syariat islam di Negeri Acheh telah menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Dan memang terbukti dan kelihatan itu Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution hanyalah seperti burung beo dan hanya berbunyi seperti bunyi Mbak Mega dan para anggota DPR yang memutuskan dan menetapkan hukum Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2001 yang salah kaprah dalam hal penegakkan dan pelaksanaan syariat Islam.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

http://pendidikan.bangkapos.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=1448&rubrik=2&kategori=2&topik=5

Rubrik: Serambi Nusa Edisi: Minggu, 03 Oktober 2004
Danrem 011/LW:Syariat Islam jangan Setengah- Setengah

LHOKSEUMAWE - Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel (Inf) Azmyn Yusri Nasution, mengatakan, pelaksanaan Syariat Islam yang dilaksanakan saat ini, bukan untuk mencari popularitas murahan. Tetapi harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan bersama-sama."Jangan dilakukan setengah-setengah, mari kita laksanakan dengan ikhlas dan sepenuh hati bersama unsur
terkait. Dan jangan dilakukan sendiri-sendiri," ujar Danrem, saat menutup Pekan Olah Raga (POR), di Makorem, Jumat (1/10).

Kini, razia jilbab begitu intens dilakukan di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan ini melibatkan Persit, parjurit Korem 011/LW, Kodim 0103, Denpom IM/I, serta petugas
dari Dinas Syariat Islam. Dari serangkaian kegiatan yang digelar, terjaring belasan perempuan yang berbusana menyimpang dari Syariat Islam. Mereka diberikan pengarahan untuk selalu berbusana muslimah yang sesuai dengan Syariat Islam.

Danrem menilai, banyaknya perempuan yang terjaring razia, menunjukkan pelaksanaan Syariat Islam terkesan masih kurang didukung oleh masyarakat. Oleh karena itu, kepada semua pihak
diajak untuk melaksanakan syiar ini secara sungguh-sungguh. Dalam kaitannya dengan aplikasi Syariat Islam, Korem 011/LW juga menggelar beberapa kegiatan. Dia antaranya lomba kuliah
lima menit (kultum), dan baca Al-Quran untuk ibu-ibu Persit Koorcab Rem 011.

Hal lain yang diutarakan Kolonel AY Nasution, berupa imbauan untuk bersatu merapatkan barisan dalam membangun NAD. Terutama berpartisipasi untuk memberantas pemberontak GAM.

Donor Darah

Dalam rilis yang ditandatangani Kapenrem 011/Lilawangsa, Lettu (CHB) Rizal Arifien, kegiatan lain dilaksanakan bhakti sosial berupa donor darah oleh 57 orang prajurit dan beberapa orang
ibu anggota Persit. Khusus untuk kegiatan ini, Danrem, menilai suatu pekerjaan yang sangat mulia, dan kepada pendonor diharapkan ikhlas.

Tentu, darah yang diambil akan diberikan kepada prajurit yang mengalami luka saat tempur atau terkena penyakit yang memang sangat membutuhkan transfusi darah. Pada acara tersebut, Danrem didampingi Kasi Intel, Dandenkes, Karumkit, Ketua Persit Koorcabrem 011, Ny AY Nasution, dan NY Tatang Sulaiman, beserta dengan pengurus Persit lainnya.(swa)
----------