Stockholm, 4 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO MIMPI YUDHOYONO DISAMAKAN DENGAN ALI BIN ABI THALIB
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN SUMITRO MIMPI DISIANG HARI BOLONG MENYAMAKAN PRESIDEN MEGAWATI & SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DENGAN KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB

"Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu'awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur'an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Thu, 30 Sep 2004 16:57:24 +0700)

Baiklah Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Memang kelihatan saudara Sumitro dengan mengutip tulisan dibawah berusaha dengan cara paksa untuk mempaskan dan mencocokan Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ali bin Abi Thalib. Tetapi gagal karena tidak nyambung dan tidak kuat dasar argumentasinya, baik dilihat dari sudut Islam ataupun dari sudut umum, seperti politik, hukum, kepemimpinan.

Dimana Sumitro menampilkan bagian akhir kutipannya yang berbunyi: "Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu'awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur'an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal"

Nah disini kelihatan Sumitro ingin menggiring para peserta mimbar bebas ini kedalam kurungan Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono untuk melihat bagaimana pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila dimasukkan kedalam golongan pembangkang yang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dinamakan Khawarij.

Hanya saja, itu Sumitro dangkal pengetahuan mengenai kekhilafahan, latar belakang, motivasi, politik, yang menimbulkan penentangan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Mari kita telusuri sedikit apa yang menyelimuti kekhilafahan Khalifah Ali bin Abi Thalib ini.

Dari kutipan yang diambil oleh saudara Sumitro paling sedikit ada tiga adegan sejarah yang didalamnya melibatkan perang, yaitu perang jamal atau perang unta, perang shiffin, dan perang nahrawan.

Dimana ketiga perang yang terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib ini lebih banyak menjurus kepada perang yang dilandasi oleh motivasi politik dan kepemimpinan atau kekhalifahan.

Kita lihat dan pelajari mengapa timbul perang jamal atau perang unta. Dalam perang jamal atau perang unta ini ada tiga tokoh utama yang merupakan lawan dari Khalifah Ali bin Abi Thalib, yaitu Siti 'Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam.

Dimana Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam adalah dua tokoh yang pernah dicalonkan untuk menggantikan Khalifah Umar bin Khattab, dan juga dicalonkan untuk menggantikan Khalifah Utsman bin Affan yang dibunuh. Tetapi keduanya mengalami kekalahan ketika berlangsungnya pemilihan khalifah pengganti Umar bin Khattab, dan khalifah pengganti Utsman bin Affan. Karena dalam pemilihan pengganti Khalifah Umar bin Khattab yang terpilih Utsman bin Affan, dan ketika dalam pemilihan khalifah pengganti Utsman bin Affan yang terpilih Ali bin Abi Thalib.

Utsman bin Affan dari keturunan Quraisy dari Bani Umayyah terpilih menjadi khalifah dan berkuasa dari tahun 23 H -35 H / 644 M - 656 M. Tetapi pada tahun ke 11 kekhalifahannya terjadi peristiwa yang menggoncangkan dunia Kekhilafahan sepeninggal Rasulullah saw, yaitu Khalifah Utsman bin Affan dibunuh.

Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan telah melahirkan gejolak pertentangan dalam tubuh Khilafah Islamiyah. Dan ketika diadakan pemilihan khalifah pengganti Khalifah Utsman bin Affan diajukan tiga calon, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Ternyata yang terpilih menjadi khalifah pengganti Khalifah Utsman bin Affan adalah Ali bin Abi Thalib.

Ternyata terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah ditentang oleh beberapa Gubernur dari wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah, dan tokoh-tokoh dari Mekkah, seperti Gubernur Syam (Syria) Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Mesir Amr bin Ash, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam keduanya dari Mekkah lawan politik dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Dimana Gubernur-Gubernur dan tokoh-tokoh ini menuduh Ali bin Abi Thalib orang yang dibelakang layar terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan.

Nah disaat inilah Khalifah Ali bin Abi Thalib menghadapi masa jabatan Kekhilafahan yang sulit, karena pada tahun pertama kekhilafahannya tahun 36 H / 657 M menghadapi tantangan dari pihak Siti 'Aisyah istri Rasulullah saw, putrinya Khalifah Abu Bakar, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam.

Dimana Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam mengumpulkan pasukan mereka dan pergi ke Basrah bersama pasukan Siti 'Aisyah bergabung untuk menghadapi pihak pasukan Ali bin Abi Thalib.

Langkah pertama dilakukan perundingan untuk mengadakan jalan damai. Tetapi perundingan untuk mengadakan jalan damai antara pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pihak Siti 'Aisyah yang bersekutu dengan Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam mengalami kegagalan. Pada tahun 35 H / 657 M Siti 'Aisyah dengan menunggangi unta memimpin para pasukannya yang didampingi oleh pasukan Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam untuk perang melawan pasukan Ali bin Abi Thalib. Tetapi pasukan Siti 'Aisyah yang bersekutu dengan Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam dapat dilumpuhkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib. Dimana perang ini dinamakan perang jamal atau perang unta, karena Siti 'Aisyah memimpin perang sambil menunggangi unta.

Kemudian setelah pihak Siti 'Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam bisa dilumpuhkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib, muncul tantangan lain dari pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan Gubernur dari Syam (Syria). Dimana memang Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Utsman bin Affan ini sama-sama keturunan dari Bani Umayyah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari Bani Hasyim yaitu seketurunan dengan Rasulullah saw. Walaupun kedua Bani ini sama-sama keturunan dari Abu Manaf, yang asal mulanya keturunan dari Fihir bin Malik pendiri kaum Quraisy.

Sebagaimana dijelaskan diatas, pihak Mu'awiyyah bin Abu Sufyan ini menentang terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah dan menganggap Ali bin Abi Thalib dalang dari pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Dari adanya motivasi politik dan kekuasaan yang menyangkut kepemimpinan atau kekhilafahan inilah yang mendorong pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan melakukan penentangan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Karena pertentangan yang makin hebat antara pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan dengan pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib, maka pada tahun 38 H / 659 M pecah perang di daerah Shiffin antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Mu'awiyah yang didukung oleh Amr bin Ash. Perang Shiffin ini berlangsung berbulan-bulan.

Terakhir ternyata sebelum pasukan Mu'awiyah bin Abu Sufyan mengalami kekalahan, diajukan jalur damai dari pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang dibantu oleh Amr bin Ash. Pengajuan jalur damai diterima oleh pihak Ali bin Abi Thalib. Dimana kedua belah pihak setuju melakukan tahkim, yaitu mengirimkan utusan masing-masing dalam meja perundingan guna membicarakan jalan pemecahan yang sedang dihadapi oleh kedua belah pihak.

Ketika tahkim telah disetujui, maka kedua pasukan itu, yaitu pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib kembali ke Kufah. Sedangkan pasukan Mu'awiyah bin Abu Sufyan kembali ke Syam (Syria).

Kemudian pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib mengirimkan utusan Abu Musa Al-Asy'ari, sedangkan dari pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan mengirimkan Amr bin Ash.

Dimana dalam naskah tahkim dari pihak Ali bin Abi Thalib ditulis Inilah yang diputuskan oleh Amirul Mukminin Ali atas Mu'awiyah. Tetapi hak Mu'awiyah menolak penulisan Amirul Mukminin, dan mengajukan usul tulislah namanya dan nama ayahnya. Kemudian pihak Ali bin Abi Thalib menerima usul daru Mu'awiyah ini.

Dalam perundingan tersebut kedua juru runding setuju untuk masing-masing menurunkan kedua pemimpin, Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan dari kursi jabatan pimpinan, lalu setelah penurunan, dipilihlah pemimpin atau Khalifah secara aklamasi.

Ternyata ketika dilaksanakan hasil perundingan yang telah disepakati itu, yang pertama diminta untuk menurunkan pimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Abu Musa Al-Asy'ari. Kemudian yang kedua diminta Amr bin Ash untuk menurunkan pimpinan Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Tetapi ketika giliran Amr bin Ash untuk menyatakan penurunan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Amr bin Ash melakukan kecurangan dengan mengatakan: "Karena pihak Ali bin Abi Thalib telah menyatakan pengundurannya, dan kursi kekhalifahan kosong, maka Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang menduduki kekhalifahan ini."

Cara pelaksanaan keputusan tahkim ini yang dilalui melalui cara licik yang dilakukan oleh Amr bin Ash, ternyata menimbulkan kegoncangan dikalangan pihak pasukan Ali bin Abi Thalib. Dimana sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib tidak setuju dengan cara pelaksanaan keputusan tahkim tersebut.

Dimana kegoncangan dikalangan pasukan Ali bin Abi Thalib tidak bisa diredam dan bahkan makin meluas, sehingga akhirnya sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib keluar dan memisahkan diri dari pasukan Ali bin Abi Thalib dan menjadi penentang Ali bin Abi Thalib. Mereka pasukan Ali bin Abi Thalib yang memisahkan diri ini pergi menuju Harura yang letaknya tidak jauh dari Kufah di Irak. Pasukan yang memisahkan dari pasukan Ali bin Abi Thalib ini dipimpin oleh Abdullah bin Kawwa' Al-Yasykuri dan Syabats At-Tamimi. Kelompok inilah yang dinamakan kelompok khawarij.

Akibat yang lebih dalam dari timbulnya tahkim yang dimanipulasi oleh Amr bin Ash dengan cara licik ini adalah memisahnya sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib dan berbalik menentang dan melawan pihak Ali bin Abi Thalib.

Puncaknya adalah ketika salah seorang gubernurnya Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Khabbab bin Al-Art sedang berjalan melewati daerah kekuasaan kaum khawarij bersama budak wanitanya yang sedang hamil, maka golongan khawarij ini membunuh Abdullah bin Khabbab bin Al-Art dan merobek perut budak wanitanya.

Ketika berita pembunuhan Gubernur Abdullah bin Khabbab bin Al-Art sampai kepada Ali bin Abi Thalib, maka pihak Ali bin Abi Thalib menyiapkan pasukannya dan menggempur pihak khawarij di Nahrawan. Dimana pimpinan kaum khawarij Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi, Zaid bin Hishn At-Tha'i, dan Harqush bin Zuhair As-Sa'di dapat dibunuhnya. Sedangkan yang lainnya yang selamat terus bersembunyi. Tetapi usaha pihak penentang Ali bin Abi Thalib ini tidak berhenti dengan dipukulnya pasukan khawarij ini, melainkan pada satu hari Abdurrahman bin Muljim membunuh Ali bin Abi Thalib ketika sedang melakukan shalat Shubuh.

Jadi setelah menelusuri secara singkat kekhilafahan Khalifah Ali bin Abi Thalib diatas, maka terbukalah bahwa timbulnya kegoncangan dan perang jamal, shiffin, dan nahrawan adalah didasarkan kepada motivasi politik terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, kepemimpinan atau kekhalifahan dengan terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, dan sikap terhadap Ali bin Abi Thalib dari sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib yang tidak menerima cara pelaksanaan hasil tahkim.

Sekarang kalau melihat Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono dari RI dengan pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila, yang dihubungkan dengan timbulnya perang jamal, shiffin, dan nahrawan pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, jelas sangat jauh dan berbeda sekali, apalagi kalau ditinjau dari sudut motivasi, kepemimpinan, dan sikap kepada pimpinan.

Jadi dari melihat sekilas sejarah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dibandingkan dengan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negeri RI dan Negeri Acheh, maka jelas kalau ada yang berusaha untuk membandingkan perjuangan rakyat Acheh yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila, dengan pihak golongan pasukan Ali bin Abi Thalib yang melakukan penentangan kepada Ali bin Abi Thalib, maka orang yang melakukan perbadingan tersebut adalah orang yang tidak mengetahui sejarah yang benar tentang masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dan yang tidak mengenal dengan benar sejarah Negeri Acheh dan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: warwick aceh <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>, ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com
Subject: RE: KAFIR LAKNAT INDONESIA JAWA PANCASILA MENGGUNAKAN ISLAM SEBAGAI PROPAGANDA
Date: Thu, 30 Sep 2004 16:57:24 +0700

Ass. War Wab.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali bin Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo'a: "Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik 'arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay'ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim."

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah bin Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur'an di tangan kanannya: "Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur'an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh."

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur'an kepada anak muda itu, "Bawalah Al-Qur'an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur'an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian."

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur'an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Qur'an dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan do'a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. "Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka."

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu'awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur'an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Wass. War.Wab.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------