Stockholm, 8 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HADI BURUNG BEONYA AMIEN RAIS IKUTAN KAUM WAHABI SAUDI CERITA JENGGOT ALA WAHABIYIN ROKHMAWAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU HADI BURUNG BEONYA AMIEN RAIS IKUTAN KAUM WAHABI SAUDI SEPERTI WAHABIYIN ROKHMAWAN DENGAN MENGKOPI ISI CERITA PAHAM WAHABI TENTANG JENGGOT TETAPI BUTA PENERAPANNYA.

"Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman, (Meminjam Istilah Pak Rokhmawan ) Itu Hasan Tiro cs dan Anggota GAM/TNA Telah Meniru-niru Perbuatan Orang-orang Kafir, Majusi, Yahudi dan Nasrani." (Hadi , hadifm@cbn.net.id , Fri, 8 Oct 2004 14:05:12 +0700)

Baiklah saudara Hadi di Jakarta, Indonesia.

Rupanya saudara Hadi dari Jakarta ini, yang pandainya mengekor Amien Rais tanpa mempergunakan akal pikirannya, ternyata pagi ini dicaploknya pula beberapa pemikiran dari paham wahabi yang pernah juga dikopi oleh Wahabiyin Rokhmawan dari kelompok Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, dan dikirimkan kepada Ahmad Sudirman, lalu disebarkan juga di mimbar bebas ini.

Coba perhatikan apa yang dinyatakan oleh Hadi pengekor Amien Rais keturunan Arab yang tidak memelihara jenggot dan jambangnya itu tetapi hanya memelihara kumis: "Bagaimanakah yang terjadi pada diri Hasan Tiro cs yang dijadikan Imam ( pemimpin ) bagi Anggota GAM/TNA dan yang bersimpati dengannya ?. Jelas sekali Si Hasan Tiro cs pelarian politik pengecut itu dan Anggota GAM/TNA tidak mau memelihara jenggot dan malah memelihara kumis ( lihat tuh foto-fotonya ). Kumis tebal mirip tambang dadung. Padahal menurut hadist di atas jelas perbuatan tersebut meniru-niru atau menyerupai orang-orang kafir majusi, nasrani dll. Apa yang dilakukan seperti Hasan Tiro itu dan Anggota GAM/TNA menyebabkan dirinya binasa di akhirat kelak jikalau mereka tidak bertaubat. Perhatikan hadist berikut ini, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi golong an mereka" ( HR Ahmad, Abu Daud dan at Tabrani )."

Hadi, itu hadits yang menyangkut masalah pemeliharaan jenggot disesuaikan dengan keadaan pisik masing-masing individu. Secara umum tidak semua individu memiliki pisik yang bisa tumbuh janggut didagunya. Memang pada umumnya pisik orang-orang keturunan Arab memiliki pisik yang bisa tumbuh jenggot didagunya dan kumis diatas bibirnya. Begitu juga orang-orang keturunan Eropah memiliki pisik yang bisa tumbuh jenggot didagunya dan kumis diatas bibirnya. Hanya orang-orang Asia sebagian besar tidak memiliki pisik yang bisa tumbuh jenggot didagunya dan kumis diatas bibirnya, kecuali orang-orang India, Afghanistan, Pakistan.

Nah sekarang banyak orang-orang Eropah yang beragama nasrani yang termasuk akhli kitab, memelihara jenggotnya. Begitu juga orang-orang India yang beragama hindu memelihara jenggotnya. Orang-orang Yahudi yang beragama yahudi yang termasuk akhli kitab, memelihara jenggotnya. Sedangkan orang-orang Indonesia yang sebagian besar tidak tumbuh jenggot didagunya, tetapi memeluk Islam.

Jadi Hadi, walaupun itu isi hadits yang menyangkut jenggot ini berupa kata perintah, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu; Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu. Tetapi harus disesuaikan dengan keadaan pisik masing-masing individu. Bagi orang Islam yang pisiknya tidak memiliki genetik untuk tumbuh jenggot didagunya, jelas perintah "peliharalah jenggot kamu" tidak bisa dikenakan.

Sekarang saudara Hadi harus mengetahui bahwa asal orang-orang yang tinggal dan hidup di Nusantara ini kalau dilihat dari mulai periode zaman batu seperti zaman batu tua (palaeolithicum), zaman batu tengah (mesolithicum), zaman batu baru (neolithicum), sampai zaman perunggu adalah orang-orang yang berasal dari Yunan di Cina Selatan.

Coba kalau kita melihat dari zaman batu tengah (mesolithicum), maka asal-usul orang-orang yang tergolong mesolithicum ini berasal dari pegunungan Bacson-Hoabink di daerah Tonkin (Indo Cina) yang masuk ke Nusantara melalui dua jalur. Pertama jalur Tonkin - Semenanjung Malaya - Sumatera - Kalimantan. Kedua, jalur Cina - Formosa Pilipina - Sulawesi - Jawa Timur.

Kemudian kalau kita melihat dari zaman batu baru (neolithicum), maka ditemukan jejak-jejak budaya yang berupa kapak persegi yang terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Bali dan Timor. Dan juga ditemukan jejak-jejak budaya yang berupa kapak lonjong yang terdapat di daerah Asia, Jepang, Formosa, Pilipina, Sulawesi Utara, dan Irian. Dimana kebudayaan neolithicum berasal dari Yunan (Indo Cina).

Sekarang perhatikan saudara Hadi, itu nenek moyang orang-orang di Nusantara ini, termasuk nenek moyang saudara Hadi ternyata berasal dari Yunan di Cina Selatan. Mereka melalui sungai pakai perahu sampai ke Tonkin. Dan dari Tonkin inilah menyebar ke Nusantara. Dimana 3000 tahun sebelum Masehi orang-orang Yunan inilah yang membawa budaya neolithicum masuk ke Nusantara dan dinamakan Proto Melayu (Melayu tua). Mereka inilah yang menjadi suku Dayak, suku Toraja, suku Mentawai. Adapun yang datang kira-kira tahun 500 sebelum Masehi, mereka dinamakan Deutero Melayu (Melayu muda) yang membawa kebudayaan perunggu. Mereka tinggal di daerah pesisir, dan yang termasuk keturunan Melayu muda ini adalah suku Acheh, suku Jawa, suku Bugis, suku Minangkau, dll.

Dan tentu saja orang-orang keturunan Yunan dari Cina selatan ini tidak semuanya memiliki genetik yang bisa tumbuh jenggot didagunya. Perhatikan saja apakah saudara Hadi punya jenggot atau tidak. Kalaupun ada jenggot, bisa dihitung dengan jari.

Jadi saudara Hadi, janganlah seenak udel sendiri untuk mengatakan bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang tidak berjenggot. Mengapa ? Karena memang jelas sebagian besar orang-orang Acheh tidak memiliki genetik untuk tumbuh jenggot didagunya, karena asal nenek moyang orang Acheh adalah berasal dari Yunan di Cina Selatan, sama seperti nenek moyang orang-orang Jawa. Kecuali kalau ada orang-orang Acheh yang berasimilasi dengan orang-orang yang datang dari India, Afghanistan, Pakistan. Orang-orang Acheh yang keturunan campuran dari India atau Afghanistan atau Pakistan ini jelas mereka memiliki genetik untuk tumbuh jenggot didagunya.

Nah saudara Hadi, kalau saudara ingin menerapkan hadits tentang jenggot ini, jelas harus melihat kepada keadaan individu muslim itu sendiri, sebelum saudara bercuap dengan seenak perut sendiri: "Jelas sekali Si Hasan Tiro cs pelarian politik pengecut itu dan Anggota GAM/TNA tidak mau memelihara jenggot dan malah memelihara kumis (lihat tuh foto-fotonya). Kumis tebal mirip tambang dadung. Padahal menurut hadist di atas jelas perbuatan tersebut meniru-niru atau menyerupai orang-orang kafir majusi, nasrani dll. Apa yang dilakukan seperti Hasan Tiro itu dan Anggota GAM/TNA menyebabkan dirinya binasa di akhirat kelak jikalau mereka tidak bertaubat."

Jadi Hadi, kalau di dagu saudara tidak tumbuh jenggot, maka jangan harap dikebanyakan dagu orang di RI ini tumbuh jenggot, kecuali pada orang-orang RI dan Acheh yang telah berasimilasi dengan orang Arab, seperti Amien Rais, atau berasimilasi dengan orang India, Pakistan, atau Afghanistan.

Nah kalau Amien Rais tidak memelihara jenggot, perlu dipertanyakan, apakah ia menerima perintah hadits untuk memelihara jenggot dan menipiskan kumis atau tidak.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: "H4D!" hadifm@cbn.net.id
To: <rokh_mawan@yahoo.com>, "H4D!" <hadifm@cbn.net.id>, "warwick aceh" <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, <rpidie@yahoo.com>, <redaksi@sinarharapan.co.id>, <redaksi@manajemenqolbu.com>, <redaksi@forum.co.id>, "Redaksi Waspada" <redaksi@waspada.co.id>, "Redaksi Satu Net" <redaksi@satunet.com>, "Redaksi Detik" <redaksi@detik.com>, <om_puteh@hotmail.com>, "MT Dharminta" <editor@jawapos.co.id>, mitro@kpei.co.id
Subject: HASAN TIRO CS DIGOLONGKAN ALLOH KE DALAM ORANG-ORANG MAJUSI, NASRANI
Date: Fri, 8 Oct 2004 14:05:12 +0700

Assalamualaikum Wr Wb.

Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman,(Meminjam Istilah Pak Rokhmawan ) Itu Hasan Tiro cs dan Anggota GAM/TNA Telah Meniru-niru Perbuatan Orang-orang Kafir, Majusi, Yahudi dan Nasrani.

Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam" (Ali Imran : 19)

Merupakan kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta'ala dan tidak ada kebenaran selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia memilih kebathilan dan dalam keadaan merugi. Allah Ta'ala berfirman : "Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan" (Ali Imran : 83). "Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi" (Ali Imran : 85).

Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta'ala dalam segala segi, segala yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah dijelaskan, sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah mengaturnya. Allah Ta'ala berfirman : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian" (Al Maidah : 3).

Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : "Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.) sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada penyuluhan" (Tafsir Al Quranul Adhim 3/14. Dar Al Ma'rifat).

Pernah datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab radhiallahu 'anhu lalu ia berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." Turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab : "Sesungguhnya aku tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah bertepatan dengan hari Jum'at" (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).

Ayat yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan hari turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu membuat-buat hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari besar yang dirayakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah dan hari Jum'at.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang mereka butuhkan.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata : "Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah dihadapan kami dengan suatu khutbah yang beliau tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang akan berlangsung sampai hari kiamat kecuali beliau sebutkan ilmunya ...." (Shahih Bukhari nomor 6604).

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid Amr bin Akhthab radhiallahu 'anhu, ia berkata : "Rasullullah shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat) beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Dhuhur, beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik lagi ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar, kemudian beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat Ashar) beliau naik ke mimbar lalu mengkhutbahi kami hingga tenggelam matahari. Dalam khutbah tersebut beliau mengabarkan pada kami apa yang telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung ... ."

Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal ini diistilahkan bid'ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau : "Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim no. 867)

Karena, pertama, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap ajaran agama ini belum sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia. Dengan anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta'ala yang memberikan kesempurnaan agama ini.

Kedua, bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara yang belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang berarti ia menuduh beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah berkhianat dalam penyampaian risalah. Padahal para shahabat seperti Abu Dzar radliallahu anhu mempersaksikan : "Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami."

Abu Dzar kemudian berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian" (HR. Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, lihat As Shahihah karya Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari riwayat lain).

Imam Malik rahimahullah berkata : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam Islam sesuatu kebid'ahan dan menganggapnya baik berarti ia telah menuduh Rasulullah telah berkhianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah telah berfirman : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian." Maka apa yang waktu itu (pada masa Rasulullah dan para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini pun bukan bagian dari agama" (Lihat Al I'tisham oleh Imam Syathibi halaman 37).

Ketiga, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan baik yang tidak diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bagaimana bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid'ah atau mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka dijawab bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik atau ikhlas, namun juga harus dibarengi dengan Mutaba'ah Ar Rasul (mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya dari beliau atau tidak.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang artinya) : "Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya" (QS. Al Kahfi : 10) Beliau rahimahullah berkata : Firman Allah : " ... hendaklah ia melakukan amal shalih ... ." Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan firman-Nya : " ... dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya." Yang diinginkan dalam beribadah tersebut adalah wajah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya. Dua rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus dilakukan ikhlas karena Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam" (Tafsir Ibnu Katsir 3/114).

Terhadap firman Allah Ta'ala : "Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian amalannya" (QS. Al Mulk : 2). Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata : "Amalan yang paling baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai keikhlasan namun tidak benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila amalan itu benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima."

Pernah datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah istri-istri beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala diberitahukan kepada mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka berkata : "Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang belakangan." Berkata salah seorang dari mereka : "Aku akan shalat sepanjang malam tanpa tidur selamanya." Yang kedua berkata : "Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka." Yang terakhir berkata : "Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah selamanya." Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : "Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang benci (berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari golonganku (orang-orang yang menjalankan sunnahku)" (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalau kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka yang baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah, namun apakah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyetujui perbuatan mereka? Jawabannya bisa kita lihat dari pernyataan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.

Benar sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu : "Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam perbuatan bid'ah."

Orang-orang yang mengadakan bid'ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak dengan dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : "Siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini dengan yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak" (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya). Dan beliau bersabda : "Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak" (HR. Muslim).

Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah ataupun menguranginya. Tidak ada dalam agama ini istilah pembagian bid'ah menjadi bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) dan bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang jelek) karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan : "Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka" (HR. Muslim dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa'i).

Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika melihat pelaksanaan shalat tarawih secara berjama'ah : "Sebaik-baik bid'ah adalah perbuatan ini" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya).

Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya tersebut adalah pengertian bid'ah secara bahasa, bukan secara syari'at, karena Umar mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan berkumpulnya manusia dibawah satu imam dalam pelaksanaan shalat tarawih, sementara shalat tarawih secara berjama'ah telah disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimana beliau sempat mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama'ah dengan para shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih secara sendiri-sendiri atau dengan jama'ah yang terpisah-pisah (berbilang/berkelompok-kelompok).

Lalu pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu 'anhu, Umar radhiallahu 'anhu mengumpulkan mereka dibawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah dilakukan di zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, karena wahyu telah berhenti turun dengan meninggalnya beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak ada lagi kekhawatiran diwajibkannya perkara tersebut. Dengan demikian Umar radhiallahu 'anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih secara berjama'ah dan ia mengembalikan sesuatu yang sempat terputus, maka teranggaplah perbuatannya tersebut sebagai bid'ah dalam pengertian bahasa, bukan pengertian syari'at, karena bid'ah yang syar'i hukumnya haram, tid ak mungkin Umar radhiallahu 'anhu ataupun selainnya dari kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka tahu peringatan keras dari Nabi radhiallahu 'anhu akan perbuatan bid'ah. (Dzahirut Tabdi', halaman 43-44)

Adapun di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama'ah ini tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan ketika itu beliau disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat, demikian keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al I'tisham, wallahu a'lam.

Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma yang berkata : "Setiap bid'ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik."

Lalu bagaimana hukum membuat bid'ah dalam agama ?. Hukumnya yaitu haram berdasarkan Al Qur'an, As Sunnah, dan ijma' (kesepakatan ulama), karena membuat bid'ah berarti menetapkan syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul Ibtida' fid Dien wa Kullu Bid'atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman 8)

Dalam syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu : Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah, maka beliau bersabda : "Aku datang pada kalian dalam keadaan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri" (HR Ahmad, Abu Daud, Nasa'i dan Baghawi).

Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan dengan syariat Allah yang dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari raya tersebut mengiringi dua amalan besar dalam Islam yaitu haji dan puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan ditetapkan dengan pilihan manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah, halaman15-16)

Apabila kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan (bid'ah), kemudian dinisbahkan kepada agama. Contohnya seperti :

1.Isra' Mi'raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al Masih) umat Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sendiri memperingatkan : "Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum tersebut."
2.Perayaan Nuzul Qur'an.
3.Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru Masehi.
4.Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
5.Dan lain-lain.

Bila ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah mereka (generasi Salafus Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan kecintaanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tidak disangsikan pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya perayaan Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya. Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan dalam agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita yang shalih tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.

Ketahuilah, pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta kepada beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun batin, menyebarkan dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh oleh As Sabiqunal Awwaluna dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kemudian contoh hal-hal yang kelihatannya sepele tetapi fatal akibatnya seperti : Mencukur jenggot dan memelihara kumis. Padahal yg benar didalam sunnah Rosululloh SAW yaitu memelihara jenggot ( bagi yg memungkinkan tumbuh ) dan memotong ( menipiskan ) kumisnya. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori, muslim dan baihaqi, dari abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu".

Dari Abi Imamah, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab"( Hadits sahih, HR Ahmad dan at Tabrani ).

Dari Aisyah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Sepuluh perkara dari fitrah (dari sunnah nabi-nabi) diantaranya ialah mencukur kumis dan memelihara jenggot"( HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasaii dan Ibn Majah ).

Bagi individu yang menjiwai hadits di atas pasti mampu memahami bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam melarang setiap mukmin dari meniru atau menyerupai tatacara orang-orang kafir baik dari golongan Yahudi, Nasrani, Majusi atau munafik. Antara penyerupaan yang dilarang oleh Rasulullah ialah berupa pengharaman ke atas setiap orang lelaki yang beriman dari mencukur jenggot dan jambang mereka. Kemudian Rasulullah melarang pula dari memelihara kumis karena dengan memelihara kumis kemudian mencukur jenggot telah menyerupai perbuatan semua golongan orang-orang kafir. Antara motif utama dari larangan Rasulullah itu ialah agar orang-orang yang beriman dapat memelihara sunnah supaya tidak mudah pupus disamping mengharamkan setiap orang yang beriman dari meniru tata-etika, amalan dan tata-cara orang-orang kafir atau jahiliah.

Bagaimanakah yang terjadi pada diri Hasan Tiro cs yang dijadikan Imam ( pemimpin ) bagi Anggota GAM/TNA dan yang bersimpati dengannya ?. Jelas sekali Si Hasan Tiro cs pelarian politik pengecut itu dan Anggota GAM/TNA tidak mau memelihara jenggot dan malah memelihara kumis (lihat tuh foto-fotonya). Kumis tebal mirip tambang dadung. Padahal menurut hadist di atas jelas perbuatan tersebut meniru-niru atau menyerupai orang-orang kafir majusi, nasrani dll. Apa yang dilakukan seperti Hasan Tiro itu dan Anggota GAM/TNA menyebabkan dirinya binasa di akhirat kelak jikalau mereka tidak bertaubat. Perhatikan hadist berikut ini, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi golong an mereka" ( HR Ahmad, Abu Daud dan at Tabrani ).

Dari Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu: Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Bahwasanya ahli syirik memelihara kumisnya dan memotong jenggotnya, maka janganlah meniru mereka, peliharalah jenggot kamu dan potonglah kumis kamu"( HR. Al-Bazzar ).

Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Janganlah kamu meniru (menyerupai) orang-orang Majusi (penyembah berhala) karena mereka itu memotong (mencukur) jenggot mereka dan memanjangkan (memelihara) kumis mereka" ( HR Muslim ).

Dari Ibn Umar Radiyallahu 'anhuberkata : "Barangsiapa yang menyerupai satu satu kaum, maka dia telah tergolong (agama) kaum itu" ( HR Ahmad, Abu Daud dan at Tabrani ). Menurut keterangan al-Hafiz al-Iraqi dalam (ENI € €֡€) bahwa sanad hadits ini sahih.

Saya perjelaskan lagi pengertian hadist di atas bisa juga seperti ini, barangsiapa yang meniru-niru perbuatan dan pola pikir suatu kaum maka orang tersebut akan dibangkitkan Alloh bersama kaum tersebut.

Keshahihan hadits di atas dapat memberi keyakinan dan penerangan bahwa barang siapa yang meniru atau menjadikan orang-orang jahiliah baik dari kalangan Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagai contoh dan mengenepikan amalan yang telah ditetapkan oleh agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, maka peniru tersebut akan tetap menjadi golongan kafir yang ditiru selagi tidak bertaubat malah akan terus bersama mereka sampai di akhirat. Keshahihan ini dapat diperkuat dan dipastikan lagi dengan hadits sahih di bawah ini: "Tiga jenis manusia yang dibenci oleh Allah (antara mereka) ialah penganut Islam yang masih memilih (meniru) perbuatan jahiliah"( HR al-Bukhari ).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam telah bersabda: "Barangsiapa yang meniru (menyerupai) seperti mereka (orang-orang bukan Islam) sehingga ia mati, maka ia telah termasuk dalam golongan (mereka sehingga ke akhirat)". Memelihara jenggot adalah fitrah Islamiyah yang diamalkan oleh semua nabi-nabi, rasul-rasul 'alaihissalam, para sahabat dan orang-orang yang sholih. Pengertian fitrah Islamiyah boleh difahami dari apa yang telah dijelaskan oleh Imam as Suyuti di dalam kitabnya: "Sebaik-baik pengertian tentang fitrah boleh dikatakan bahwa ia adalah perbuatan mulia dipilih dan dilakukan oleh para nabi-nabi dan dipersetujui oleh syara sehingga menjadi seperti satu kemestian ke atasnya".

Demikian di atas hal-hal yang kelihatannya sepele tetapi jika kita tidak memperhatikannya (mentaatinya) maka akan berbahaya bagi kehidupan kita kelak di akhirat.

Maka marilah kita semua berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari jalan kebid 'ahan. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan keluar dari kebid'ahan jauh sebelum terjadinya bid'ah. Beliau bersabda :

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku" (HR. Hakim dan dishahihkan dalam Shahihul Jami' oleh Syaikh Albani rahimahullah).

Beliau juga menasehatkan : "Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan mendengar sekalipun kalian dipimpim oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah dengan gigi gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap yang bid'ah itu sesat" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih).

Satu-satunya jalan menyelamatkan diri dari bid'ah adalah berpegang teguh pada atau dengan kitabulloh dan Sunnah Rosululloh serta petunjuk Salafush Shalih , pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba'-nya, paling dalam ilmunya dan paling luas pemahamannya terhadap Al Qur'an dan As Sunnah.

Dengan cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya dan bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid'ahan yang menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wallahu a'lam bishawwab
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

Hadi

hadifm@cbn.net.id
Jakarta, Indonesia
----------