Stockholm, 9 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TATI IKUTAN WAHABIYIN ROKHMAWAN TAKLIB BUTA PADA PIMPINAN KAUM WAHABI SAUDI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN ITU WAHABIYAH TATI YANG TAKLID BUTA PADA PIMPINAN KAUM WAHABI SAUDI SEPERTI DITUNJUKKAN WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI.

"Selamat pagi kang Ahmad di Swedia, saya akan membicarakan tentang keraguan Teguh Harjito yang ditujukan kepada pak Rokhmawan ataupun rekannya yg dibandung itu. O yaaa kang ahmad bisa juga menanggapinya. Hmmm sebelumnya ijinkan saya untuk memanggil anda seperti judul di atas yaitu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman (he he he he). Seandainya anda keberatan tetap saja saya memanggil anda dengan gelar yang dicantumka pak Rokhmawan dan rekan-rekan maupun ulama-ulamanya. Begini ya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman di mana anda telah menampilkan komentar dari sdr Teguh Harjito tentang kerancuan. Dimana sebenarnya kerancuan anda telah dijawab oleh pak Mitro dengan hadist yg terdapat di buku riyadlus solihin tersebut, namun perlu saya perkuat dengan hadist Rosululloh yg artinya, " Tidak dibenarkan kamu (para sahabat) pergi ke medan perang semuanya, harus ada sebagian yang menuntut ilmu agama (majlis ilmu) dan berdakwah" (mutafakun 'alaih)." (Tati, narastati@yahoo.com , Fri, 8 Oct 2004 05:56:22 -0700 (PDT))

Baiklah saudari Tati di Jakarta, Indonesia.

Tanpa disadari oleh Tati bahwa dirinya telah ikut taklid buta sebagaimana Wahabiyin Rokhmawan pada pimpinan kaum Wahabi Saudi yang membawakan paham Wahabi dengan gerakan salafi-nya yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang bersekutu dengan Amir Muhammad ibnu Saud yang bersekongkol dengan Kerajaan kafir Inggris untuk salah satunya menghancurkan Dinasti Islam Turki Usmaniyah guna membangun Kerajaan Saudi yang tidak mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam membangun Daulah Islam atau Negara Islam.

Kelihatan Tati dengan bekal taklid butanya pada pimpinan kaum Wahabi yang wakilnya ada di Negara kafir RI telah berusaha mengkopi apa yang telah dikopi oleh saudara Sumitro yang dicaplok bulat-bulat dari majalahnya kaum Wahabi di Negara kafir RI, Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50.

Tati, itu Wahabiyin Rokhmawan yang taklid buta pada pimpinan kaum Wahabi Saudi dengan gerakan salafi atau wahabi-nya itu memang setelah berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas ini, tidak mampu lagi mempertahankan paham Wahabinya, sehingga berjanji tidak akan tampil lagi di mimbar bebas ini.

Itu alasan memakai istilah Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah yang selalu dituliskan oleh Wahabiyin Rokhmawan didepan nama Ahmad Sudirman, jelas tidak ada dasar daruri dan nadharinya atau tidak ada dasar dalil naqli dan dalil aqlinya.

Tetapi karena Wahabiyin Rokhmawan adalah memang seorang yang taklid buta pada pimpiman kaum Wahabi Saudi, maka dia tanpa mempunyai dasar argumentasi yang jelas dan benar menurut dasar dalil daruri dan nadharai, ia dengan membabi buta terus saja memakai istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah didepan nama Ahmad Sudirman.

Celakanya justru istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah yang selau dituliskan oleh Wahabiyin Rokhmawan dipakai juga oleh Tati yang hanya pandainya taklid buta pada apa yang dituliskan oleh para pimpinan kaum Wahabi Saudi dan para pengikutnya di Negara kafir RI seperti Wahabiyin Rokhmawan dari Solo dan Wahabiyin Mazda dari Surabaya.

Ahmad Sudirman memahami kalau Tati yang taklid buta pada pimpinan Kaum Wahabi Saudi ini hanya ikut-ikutan Wahabiyin Rokhmawan yang memakai istilah gombal alias kosong Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah didepan nama Ahmad Sudirman.

Coba saja perhatikan, dimana dan apa yang dijadikan dasar dan dalil daruri dan dalil nadhari oleh Wahabiyin Rokhmawan bahwa Ahmad Sudirman dikatakan dalam berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas ini hanya mempergunakan hawa nafsu saja dan melakukan bid'ah. Coba tunjukkan satu saja. Apa yang dijadikan dasar argumentasi menurut hawa nafsu oleh Ahmad Sudirman dalam berdebat di mimbar bebas ini ?. Dan apa itu bid'ah yang dibuat oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini ?

Tidak ada dasar dan argumentasi yang benar menurut dalil daruri dan dalil nadhari atau dalil naqli dan dalil aqli yang ditampilkan oleh Wahabiyin Rokhmawan yang menyatakan bahwa Ahmad Sudirman dalam berdebat di mimbar bebas ini hanya mengikuti hawa nafsu dan membuat bid'ah.

Yang jelas dan nyata itu Wahabiyin Rokhmawan justru yang tersungkur karena tidak sanggup lagi mempertahankan paham wahabi dengan gerakan dakhwah wahabi atau salafi-nya di Negara kafir RI.

Jadi, kalau Tati mahu ikut-ikutan Wahabiyin Rokhmawan untuk mempergunakan istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah didepan nama Ahmad Sudirman, itu menandakan bagaimana bodoh dan budeknya Tati dalam hal memahami, mendalami, menganalisa sesuatu masalah yang perlu didasarkan pada dalil daruri dan dalil nadhari. Atau seperti burung beo saja.

Nah tentu saja, karena Tati yang taklid buta pada pimpinan kaum Wahabi Saudi ikutan Wahabiyin Rokhmawan, maka disinipun Tati telah menceburkan dirinya kedalam kacah kaum Wahabi, dan mendapat nama baru Wahabiyah Tati.

Lihat dan perhatikan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyah Tati ketika mencoba memberikan tanggapan atas apa yang ditulis oleh saudara Teguh Harjito yang menanggapi tulisan saudara Abu Hamzah Al Atsary dari Bandung yang dikopi oleh Wahabiyin Rokhmawan. Dimana Wahabiyah Tati tidak mengerti dan tidak memahami apa yang menjadi dasar tanggapan saudara Teguh Harjito itu.

Wahabiyah Tati yang taklid buta, itu ketika saudara Teguh Harjito memberikan tanggapan atas tulisan saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung yang berjudul : "Nasehat untuk Salafiyyin". Itu dasarnya adalah karena saudara Abu Hamzah Al Atsary telah menyatakan: "Perkara yang tidak diragukan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama. Menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang melakukannya kecuali warosatul anbiya." (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari 2004)

Dari apa yang diluncurkan oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari itu menyinggung paham wahabi alias salafi yang didalamnya mengandung pembantahan atas kesyirikan dan kesesatan, penghancuran syubhat-syubhat, dan pelenyapan fitnah syahwat, adalah menurut saudara Abu Hamzah Al Atsari merupakan amalan yang paling utama.

Nah itu paham wahabi alias paham salafi yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggap paling utama oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung.

Inilah yang tentang oleh saudara Teguh Harjito.

Dimana saudara Teguh Harjito menyatakan bahwa pengamalan paham wahabi alias salafi itu bukan amalan yang paling utama. Melainkan yang paling utama adalah jihad fi sabilillah. Sebagaimana yang di Firmankan Allah SWT: "tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang2 yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang2 yang duduk satu derajat. Kepada masing2 mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang2 yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, yaitu beberapa derajat daripada-Nya serta ampunan dan rahmat. dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang." [QS. An-Nisaa':95-96] . "...jika kamu tidak berangkat berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan ditukarnya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudlaratan kepada-Nya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu." [QS. At-Taubah:39] . "...maka berperanglah pada jalan Allah. tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. muddah-mudahan Allah menolak serangan orang2 kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-Nya." [QS. An-Nisaa':84] . "Mereka rela berada bersama orang2 yang tidak pergi berperang (wanita, anak2, orang sakit dan prang tua), dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad. tetapi Rasul dan orang2 yang beriman bersama dia, berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka itulah orang2 yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang2 yang beruntung." [QS. At-Taubah:87-88] " (Teguh Harjito, 30 September 2004).

Begitu juga menurut hadits Rasulullah saw: "ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling tinggi derajatnya?" Rasulullah Muhammad saw menjawab, "seorang beriman yang berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya." [Shahih Al-Bukhari 4/45] . "berdiri satu jam dalam medan pertempuran di jalan Allah lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun." [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Adii dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah (4/6165); Shahih Jami' As-Saghir no.4305] . "berjuang di jalan Allah selama pagi atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." [Shahih Al-Bukhari 4/50] . "ada ratusan ketinggian derajat di Syurga yang disediakan Allah kepada mereka yang bertempur di jalan-Nya. jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya membentang jauh seperti jarak antara langit dan bumi." [Shahih Al-Bukhari 4/48] . "ibadah yang paling tinggi nilainya dalah jihad." [hadits shahih dari Muadz bin Jabal, Shahih At-Tirmidzi] . "barangsiapa yang tidak berangkat berjihad, atau tidak menolong mempersiapkan perlengkapan bagi para mujahid, atau tidak menyantuni dengan baik keluarga para mujahid ketika mereka tengah berjihad, maka Allah pasti akan menimpakan kepadanya bencana besar pada hari pengadilan kelak." [hadits hasan, hadits marfu' dari Abu Umamah. Abu Daud 3/22; Ibnu Majah 2/923] " (Teguh Harjito, 30 September 2004).

Jadi Wahabiyah Tati, itulah yang menjadi dasar pemikiran saudara Teguh Harjito ketika memberikan tanggapannya atas tulisan saudara Abu Hamzah Al Atsari yang berjudul "Nasehat untuk Salafiyyin"yang dikutip oleh saudara Wahabiyin Rokhmawan pada tanggal 27 September 2004.

Nah kalau Wahabiyah Tati tidak mengerti dan tidak memahami dasar pemikiran dan masalah yang sangat mendasar dalam tulisan yang ditulis oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari, tidak perlu Wahabiyah Tati ikut nimbrung segala macam dengan pemikiran yang tidak nyambung.

Seterusnya itu menyinggung apa yang dikopi oleh saudara Sumitro tentang masalah syahid dimana Sumitro mengkopi: "Apa Hukum Perkataan Fulan Syahid ? Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya." (Sumitro, Thu, 30 Sep 2004 10:02:40 +0700)

Wahabiyah Tati, tentang mati syahid ini banyak dibahas dalam hadits lainnya juga. Misalnya dari Jabir bin 'Atik, Rasulullah saw. bersabda: "Mati syahid ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang fi sabilillah, yaitu: (1) mati karena penyakit tha'un , (2) mati karena tenggelam ,(3) mati karena penyakit lambung ,(4) mati karena sakit perut, (5) mati karena terbakar, (6) mati karena tertimpa reruntuhan, dan (7) perempuan yang mati karena hamil/melahirkan." (HR.Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, dan Malik)

Mati dimedan perang karena membela agama Allah, itu adalah mati syahid. Rasulullah bersabda: "tha'un itu satu kematian syahid bagi setiap mukmin". (Hendakalh ia sabar dan redha menanggungnya). (Riwayat Muslim). Mati tengelam dan tertimbus oleh bangunan. Mati terbakar. (Riwayat Tabrani). Sabda Rasulullah saw: "Mati akibat sakit perut maka ia mati syahid. Rasulullah bersabda: "barang siapa mati kerana sakit perut maka ia mati syahid". (Riwayat Muslim). Mati dalam nifas.(Riwayat At Tabrani). Rasulullullah bersabda: "orang yang mati karena menanggung penyakit kurus kering ia mati syahid. (Riwayat Tabrani). Mati akibat luka perang di jalan Allah. Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang luka kerana perang di jalan Allah itu mati, maka berarti ia syahid, atau kena pijak oleh unta atau kudanya atau ia mati ditempat tidurnya (setelah berperang itu) dengan sebab apa-apa pun yang dikehendaki oleh Allah, maka sesungguhnya ia adalah mati syahid dan akan masuk syurga". (Riwayat Daud). Mati mempertahankan harta. (Riwayat Bokhari). Rasulullah bersabda: "Barang siapa terbunuh kerana mempertahankan darahnya (dirinya) maka ianya mati syahid. (Riwayat Abu Daud).

Selanjutnya itu menyinggung masalah takfir atau pengkafiran terhadap seseorang. Dimana Sumitro mengkopi tentang masalah "Penjelasan Lembaga Perkumpulan Ulama Besar Saudi Arabia Tentang Celaan Terhadap Sikap Ghuluw -ekstrim- Dalam Mengkafirkan Orang Lain. Dari Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania. Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Alhalabi Al-Atsari." Dari Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50.

Mengenai takfir ini Ahmad Sudirman telah memberikan ulasan dalam tulisan sebelum ini. Dimana Ahmad Sudirman pernah menulis:

"Negara yang dasar dan sumber hukum negaranya tidak mengacu kepada Islam, maka negara itu disebut negara kafir. Contohnya seperti Negara kafir RI. Kerajaan kafir Swedia. Kerajaan kafir Inggris. Negara Federasi kafir Amerika. Nah, walaupun Negara itu negara kafir tetapi tidak berarti rakyatnya semuanya kafir dan para pelaksana lembaga negara semuanya kafir.

Untuk mengetahui apakah kafir para pelaksana lembaga negara itu, maka semuanya harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Karena manusia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atau hukuman kafir kepada seseorang.

Adapun dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT yang dijadikan sebagai pegangan nash adalah sebagaimana yang telah Ahmad Sudirman jelaskan berulangkali adalah QS, At-Taubah, 9: 115 , QS, Al-Isra, 17: 15 , QS, Al-Maidah: 44 , QS, An-Nisa, 4: 115 .

Dimana dengan berpegang kepada dasar hukum dan nash inilah bisa dijadikan sebagai dasar pijakan untuk melihat apakah seseorang itu, baik itu pelaksana lembaga negara ataupun bukan, masuk dalam apa yang dikatakan kafir.

Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya bahwa jatuhnya vonis kafir terhadap seseorang ini didasarkan kepada aqidah atau kepercayaan seseorang terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Kemudian dengan berpijak kepada QS, At-Taubah, 9: 115 , QS, Al-Isra, 17: 15 , QS, Al-Maidah: 44 , QS, An-Nisa, 4: 115 ditambah dengan pegangan yang dikemukakan Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz yang dihubungkan dengan dasar hukum yang dipakai dalam satu negara dan bagaimana sikap dari para pelaksana lembaga negara tersebut terhadap dasar hukum negara itu dibandingkan dengan dasar dan sumber hukum Islam.

Nah, dengan melalui jalur proses yang terbentuk dari dasar nash dan pegangan ulama Islam inilah yang bisa mencapai tujuan untuk melihat dan mengetahui apakah seseorang itu bisa dinamakan kafir.

Jadi untuk mengetahui hasil penelusuran jalur proses yang terbentuk dari dasar nash dan pegangan ulama Islam ini, maka sekarang kita akan masuki jalur:

Pertama, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena hukum ini lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Kedua, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena hukum ini sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengan hukum ini dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Ketiga, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Keempat, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22)

Nah sekarang, dengan dasar pegangan nash diatas inilah dapat memberikan gambaran dan pegangan yang jelas dalam usaha melihat apakah seseorang itu dinamakan kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam nash Al-Maidah: 44 "Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maidah: 44)

Jadi kalau kita berpijak dan mengembalikan semuanya kepada dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT, maka tidak akan terperosok kedalam keracuan dalam berpikir menyangkut masalah takfir atau pengkafiran terhadap seseorang." (Ahmad Sudirman, 15 September 2004)

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 8 Oct 2004 05:56:22 -0700 (PDT)
From: tati - <narastati@yahoo.com>
Subject: Re: HADI YANG MENYESATKAN ITU PENCAMPURAN HUKUM ISLAM KEDALAM SISTEM THAGHUT PANCASILA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Assalaamu 'alaikum Wr.Wb

Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman Tidak Berani Menampilkan Artikel Kiriman Sdr Sumitro

Selamat pagi kang Ahmad di Swedia, saya akan membicarakan tentang keraguan Teguh Harjito yang ditujukan kepada pak Rokhmawan ataupun rekannya yg dibandung itu.

O yaaa kang ahmad bisa juga menanggapinya. Hmmm sebelumnya ijinkan saya untuk memanggil anda seperti judul di atas yaitu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman (he he he he).

Seandainya anda keberatan tetap saja saya memanggil anda dengan gelar yang dicantumka pak Rokhmawan dan rekan-rekan maupun ulama-ulamanya.

Begini ya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman di mana anda telah menampilkan komentar dari sdr Teguh Harjito tentang kerancuan. Dimana sebenarnya kerancuan anda telah dijawab oleh pak Mitro dengan hadist yg terdapat di buku riyadlus solihin tersebut, namun perlu saya perkuat dengan hadist Rosululloh yg artinya, " Tidak dibenarkan kamu (para sahabat) pergi ke medan perang semuanya, harus ada sebagian yang menuntut ilmu agama (majlis ilmu) dan berdakwah" (mutafakun 'alaih).

Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs dan Teguh Harjito untuk memudahkan anda semua berfikir marilah saya bantu penjelasan dari hadist tersebut. Di dunia hanya ada dua situasi yaitu situasi aman ( antara muslim dan non-muslim ada dan terikat perjanjian damai ) dan situasi perang ( muslimin berperang melawan kafir harby benar-benar karena agama ).

Nah anggap saja di Indonesia ini sedang terjadi peperangan agama antara islam dan non-islam, menurut hadist hasan di atas jelas sekali kita tidak diperbolehkan pergi ke medan perang semuanya ( semua kaum laki-laki yg sudah baligh dan kuat tanpa udzur berbondong-bondong pergi ke medan perang ) akan tetapi di antara kita harus ada sebagia yang tinggal di rumah untuk menuntut ilmu agama, berdakwah dan ber amar ma' ruf nahi munkar. Coba seandainya semua laki-laki tersebut pergi ke medan perang, bagaimana aktifitas dakwah, amar ma' ruf nahi munkar termasuk menghidupkan sunnah rosululloh. Belum lagi kalau ternyata banyak diantaranya yg mati syahid atau mengalami kekalahan ( Anggap saja seperti GAM/TNA yg kalah melawan TNI ) maka dengan kekalahan tersebut mengakibatka para alim ulama, hafidz qur 'an, ahli tafsir dll banyak yg berguguran dan berakibat tidak ada generasi penerusnya. Bahkan islam bisa tidak akan berkembang seandainya benar-benar ilmuwan agama dll bayak yg syahid.

Dan yang jelas itu situasi perang tidak selamanya berlangsung pasti ada masa-masa damai. Nah untuk masa damai ( seperti di indonesia ) jelas tidak diperbolehkan untuk mengadakan perang (jihad) melainkan semuanya harus menuntut ilmu agama dan berdakwah termasuk menyampaikan sunnah Roslulloh.

Dengan uraian di atas maka dapat disimpulkan jihad dalam arti perang terhadap kafir harby jelas dilakukan pada saat-saat tertentu saja kendati demikian tidak boleh semuanya pergi ke medan perang, harus ada sebagian yg menuntut ilmu agama, dakwah dan amar ma' ruf nahi munkar termasuk menyampaikan sunnah Rosul. Sedangkan menuntut ilmu agama, dakwah dll termasuk menyampaikan sunah harus dilakukan setiap keadaan baik dalam kodisi perang lebih-lebih dalam kondisi damai.

O yaa Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman mengapa sampai saat ini anda tidak menampilkan artikel pak mitro di bawah ini ? takut ya...saya copykan lagi nich

Wahai Kang Ahmad Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah atau sdr teguh harjito, tanggapi dengan baik yaa... ( tampilkan ke mimbar bebas ini ).

Wassalaam

Tati

narastati@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Apa Hukum Perkataan Fulan Syahid ?
Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.

Hukum Bersumpah Atas Nama Selain Allah

Bersumpah atas nama selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti mengatakan "Demi hidupmu", "Demi hidupku", "Demi Tuan Pimpinan", atau "Demi Rakyat", semua itu diharamkan bahkan termasuk syirik sebab jenis pengagungan seperti ini hanya boleh dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi musyrik. Akan tetapi manakala si orang yang bersumpah ini tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah, maka dia tidak melakukan syirik besar tetapi syirik kecil.

Bersumpah Atas Nama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Al-Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah meriwayatkan adanya ijma' (konsensus) tentang tidak bolehnya bersumpah atas nama selain Allah. Demikian pula, telah terdapat hadits-hadits yang shahih berasal dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang melarang hal itu dan mengkatagorikannya sebagai kesyirikan sebagaimana terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla melarang kalian bersumpah atas nama nenek moyang kalian ; barangsiapa ingin bersumpah, maka hendaknya bersumpahlah atas nama Allah atau lebih baik diam"
 

BERMULA DARI PENGKAFIRAN, AKHIRNYA PELEDAKAN

BAYAN HAI'AH KIBAR AL-ULAMA FI DZAMMI AL-GHULUWWI FI AT-TAKFIR [Penjelasan Lembaga Perkumpulan Ulama Besar Saudi Arabia Tentang Celaan Terhadap Sikap Ghuluw -ekstrim- Dalam Mengkafirkan Orang Lain]
Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Alhalabi Al-Atsari
Bagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]

PENJELASAN HAI'AH KIBAR AL-ULAMA

Lembaga Perkumpulan Tokoh-Tokoh Ulama Saudi Arabia [1]
Sesungguhnya Majelis Hai'ah Kibar Al-Ulama, pada pertemuannya yang ke 49 di Thaif, yang dimulai tanggal 2/4/1419H [2] telah mengkaji apa yang kini berlangsung di banyak negeri-negeri Islam dan negeri-negeri lain, tentang takfir (penetapan hukum kafir terhadap seseorang) dan tafjir (peledakan) serta konsekwensi yang diakibatkannya, berupa penumpahan darah dan perusakan fasilitas-fasilitas umum.

Karena berbahayanya persoalan ini, begitu pula akibat yang ditimbulkannya, berupa melenyapkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah, perusakan harta benda yang mestinya terpelihara, menimbulkan rasa takut bagi banyak orang dan menimbulkan keresahan bagi keamanan serta ketentraman orang banyak, maka majelis Hai'ah memandang perlu untuk menerbitkan penjelasan ini, guna menerangkan hukum sebenarnya dari persoalan tersebut. Sebagai nasihat bagi Allah, bagi hamba-hambaNya dan sebagai pelepas tanggung jawab di hadapan Allah, serta sebagai upaya menghilangkan kerancuan pemahaman di kalangan orang-orang yang kacau pemahamannya.

Maka dengan taufik Allah kami katakan.

PERTAMA

Takfir (menetapkan hukum kafir/mengkafirkan) merupakan hukum syar'i. Tempat kembalinya adalah Allah dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti halnya penetapan hukum halal dan haram, kembalinya kepada Allah dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam ; begitupula penetapan hukum kafir.

Tidak setiap perkataan atau perbuatan yang disebut kufur, berarti kufur akbar yang mengeluarkan (pelakunya) dari agama.[3] Karena sumber penetapan hukum pengkafiran kembalinya kepada Allah dan RasulNya, maka kita tidak boleh mengkafirkan seseorang, kecuali jika Al-Qur'an dan Sunnah telah membuktikan kekafirannya dengan bukti yang jelas. Maka (mengkafirkan orang) tidak cukup hanya berdasarkan syubhat dan dugaan-dugaan saja, sebab akan berakibat pada konsekwensi hukum-hukum yang berbahaya.

Apabila hukum hudud (pidana) saja dapat terhapus dengan adanya syubhat (ketidak jelasan bukti) -padahal konsekwensinya lebih ringan daripada takfir-, apalagi masalah pengkafiran orang, tentu lebih dapat terhapuskan lagi dengan adanya syubhat (ketidak jelasan bukti).

Itulah sebabnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar jangan sampai menghukumi kafir kepada seseorang yang tidak kafir. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Siapapun orang yang mengatakan kepada saudaranya 'Hai Kafir', maka perkataan itu akan mengeneai salah satu diantara keduanya. Jika perkataannya benar, (maka benar). Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya" [Muttafaq 'alaih, dari Ibnu Umar].

Kadang di dalam Al-Qur'an dan Sunnah terdapat nash yang dapat difahami darinya, bahwa perkataan ini, perbuatan itu atau keyakinan itu adalah kufur, tetapi orang yang melakukannya tidak kafir, disebabkan adanya penghalang yang menghalangi kekafirannya.

Hukum pengkafiran ini, sama seperti hukum-hukum lainnya. Yaitu tidak akan terjadi, kecuali jika sebab-sebab serta syarat-syaratnya ada [4] dan penghalang-penghalangnya tidak ada. Umpamanya dalam masalah waris. Sebabnya (misalnya) adalah adanya hubungan kerabat. Kadang-kadang seseorang (yang mempunyai hubungan kerabat) tidak bisa mewarisi disebabkan oleh adanya penghalang, yaitu perbedaan agama. Begitu pula masalah kekafiran. Seorang mukmin dipaksa melakukan perbuatan kufur -misalnya-, maka ia tidak kafir karenanya.

Kadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur disebabkan oleh kesalahan lidah karena sangat gembiranya, atau sangat marahnya atau karena sebab-sebab lainnya. Iapun tidak kafir karenanya. Sebab ia tidak sengaja mengucapkannya. Seperti kisah orang yang mengatakan : "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu".( Dia tidak kafir -red). Dia salah mengucapkan kalimat itu karena sangat gembiranya (menemukan ontanya yang hilang ditengah kesendiriannya, -red).[5] [Hadits Shahih Riwayat Muslim, dari sahabat Anas bin Malik]

Tergesa-gesa menghukumi kafir terhadap seseorang akan mengakibatkan banyak perkara yang berbahaya. Di antaranya menghalalkan darah dan harta Muslim, dilarangnya saling mewarisi, pembatalan pernikahan dan lain-lain yang merupakan konsekwensi hukum-hukum orang murtad

Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin boleh lancang menetapkan hukum kafir hanya berdasarkan syubhat yang sangat sederhana sekalipun ?

Dan apabila ternyata (tuduhan kafir, -red) ini ditujukan kepada para penguasa [6], maka persoalannya jelas lebih parah lagi. Sebab akibatnya akan menimbulkan sikap pembangkangan terhadap penguasa, angkat senjata melawan mereka, menebarkan isu kekacauan, mengalirkan darah dan membuat kerusakan terhadap manusia dan negara.

Karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang penentangan kepada penguasa. Beliau bersabda. "Artinya : ... Kecuali bila kalian lihat kekafiran yang nyata (bawaah), yang tentangnya kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah" [Muttafaq 'alaih, dari Ubadah]

[a] Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (kecuali jika kalian lihat), memberikan pengertian bahwa tidak cukup (pengkafiran, -red) hanya berdasarkan dugaan dan isu.

[b] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (kekafiran), memberikan pengertian bahwa tidak cukup (penentangan terhadap penguasa, -red) hanya karena fasiknya penguasa, walau kefasikannya besar seperti zhalim, meminum khamr, berjudi dan dominan berbuat perkara haram.

[c] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (nyata), memberikan pengertian bahwa tidaklah cukup kekafiran yang tidak nyata. Arti (bawaah) ialah jelas dan nyata.

[d] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (kalian memiliki bukti jelas mengenai kekafiran yang nyata dari Allah). Ini memberikan pengertian bahwa pengkafiran harus berdasarkan dalil yang sharih (jelas dan terang). Dalil itu harus shahih adanya dan sharih (jelas dan terang) pembuktiannya. Sehingga tidak cukup bila dalil itu lemah sanadnya atau tidak tegas pembuktiannya.

[e] Kemudian sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (dari Allah), memberikan pengertian bahwa perkataan ulama manapun (dalam pengkafiran, -red) tidak bisa dianggap, meski betapapun tinggi ilmu dan sikap amanahnya, apabila perkataannya tidak berdasarkan dalil yang sharih (nyata dan terang) pembuktiannya dan shahih berasal dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ikatan-ikatan syarat-syarat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (dalam hadits) di atas menunjukkan betapa pentingnya permasalahan takfir (pengkafiran terhadap seseorang).

Kesimpulan.

Tergesa-gesa menghukumi seseorang sebagai kafir mempunyai bahaya yang besar. Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla. "Artinya : Katakanlah : Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau yang tersembunyi, dan (mengharamkan) perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (juga mengharamkan kalian) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (juga mengharamkan) kalian mengada-adakan perkataan terhadap Allah apa yang kalian tidak ketahui" [Al-A'raf : 32]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50]
_________
Foote Note.

[1] Tentang penjelasan lembaga ini, saya (Syaikh Ali Hasan) telah memberikan catatan dan penjelasan pada sebuah risalah tersendiri yang saya beri judul 'Kalimatun Sawa' Fi An-Nushrati Wa Ats-Tsana'i 'Ala Bayan Hai'ah Kibar Al-Ulama, Wa Fatwa Al-Lajnah Da'imah Lil Ifta' Fi Naqdhi Ghuluwwi At-Tafkir Wa Dzammi Dhalalati Al-Irja'. Risalah ini sedang dicetak, Alhamdulillah. Di dalamnya digabungkan pula Fatwa Lajnah Da'imah tentang celaan terhadap firqah Murji'ah dan faham Murji'ah.

[2] Wafatnya guru kami, Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, ialah pada tanggal 27/1/1420H

[3] Sesungguhnya kufur terbagi menjadi dua. Kufur asghar (kecil), tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan kufur akbar (besar), mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kufur akbar ini ada beberapa macam, yaitu : menghalalkan (terhadap perkara yang jelas haramnya,-red), penolakan, pengingkaran, pendustaan, (menolak untuk percaya), munafik, dan ragu-ragu (terhadap kebenaran yang sudah jelas, -red). Dalam hal ini ada beberapa sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam kufur akbar itu. Yaitu sebab-sebab yang berupa perkataan, perbuatan dan keyakinan.

[4] Pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa XIV/118 terdapat penjelasan tentang syarat-syarat itu. Beliau Rahimahullah, berkaitan dengan hukum orang yang berbicara tentang kekafiran, telah mengatakan : "Adapun bila orang tersebut : (1) mengetahui atau memahami apa yang diucapkannya, maka bila ia (2) dengan senang hati (tidak terpaksa) dan (3) sengaja dalam mengucapkan apa yang dikatakannya ; maka inilah yang perkataanya terhitung ...." (maksudnya, pengkafiran terhadap orang itu dapat dianggap). Saya (Syaikh Ali Hasan) berkata, "Sebagai kebalikannya adalah penghalang-penghalangnya".

[5] Jadi kegembiraan yang luar biasa itulah yang menjadi sebab adanya penghalang yang menghalangi hukum kafir terhadapnya, yaitu : ketidak sengajaan. Maksudnya, ia tidak bermaksud melakukan kekafiran. Perhatikanlah ini hendaknya. Jika tidak, sesungguhnya orang yang sengaja -dan tanpa ada unsur paksaan- mengucapkan perkataan sejenis yang dapat menyebakan kekafiran -yaitu yang sama sekali berlawanan dengan keimanan dari segala sisi- baik secara ucapan maupun secara perbuatan, misalnya ; mencaci Allah atau RasulNya atau yang semisalnya, maka orang ini kafir, keluar dari agama. Murtad.

[6] Yaitu para penguasa Muslim -semoga Allah memperbaiki negara dan hamba Allah- melalui tangan mereka. Tentang dalil yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang menyimpang untuk mengkafirkan para penguasa secara total, yaitu firman Allah : "Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oelh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir" [Al-Maidah : 44]. Maka tidak ada jawaban mencakup yang lebih indah dari pada perkataan Imam Ahmad Rahimahullah. (Beliau berkata) : "(Maksud ayat itu ialah), kufur yang tidak mengeluarkan dari agama. Seperti halnya iman, sebagaimana lebih rendah dari sebagian yang lain (bertingkat-tingkat, -red), demikian pula kufur. Sampai akhirnya datang suatu bukti yang tidak diperselisihkan lagi didalamnya". (Termuat dalam) Majmu' Fatawa Syaikhul Islam VII/254
----------