Stockholm, 15 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO MASIH SULIT MENCERNA PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM YANG KAFAH DALAM NEGARA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN MEMANG SUMITRO MASIH SULIT MENCERNA PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM YANG KAFAH DALAM NEGARA

"Komentarku hanya tersenyum saja aku. Soalnya jawabannya tidak mencakup secara keseluruhan dimana satu pihak Ahmad menyatakan bahwa Rakyat Aceh berjuang bukan untuk mendirikan syariat Islam di Aceh namun ingin membebaskan diri dari penjajahan dan juga mengenai penerapan hukum Islam itu sendiri di Aceh tergantung dari kesepakatan rakyat Aceh nantinya apabila sudah merdeka. Dilain pihak seperti dalam tulisan yang kita bahas sekarang dan kemarin ahmad menyatakan bahwa GAM dalam hal ini Ishak Daud berjuang atas nama Islam makanya Ahmad berani menetapkan Ishak digolongkan dalam mati shahid. Wah wah wah Ahmad loncat sana-loncat sini sehingga suatu waktu dia akan jatuh kedalam jurang yang penuh dengan kebohongan karena itu wahai Ahmad sadarlah dan tobatlah." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Fri, 15 Oct 2004 16:23:56 +0700)

Baiklah Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Kelihatannya memang Sumitro ini masih sulit untuk memahami perjuangan Rasulullah saw dalam mengembangkan risalahnya. Terbukti ketika menampilkan pemikirannya siang ini, dengan bunyi: "satu pihak Ahmad menyatakan bahwa Rakyat Aceh berjuang bukan untuk mendirikan syariat Islam di Aceh namun ingin membebaskan diri dari penjajahan dan juga mengenai penearapan hukum Islam itu sendiri di Aceh tergantung dari kesepakatan rakyat Aceh nantinya apabila sudah merdeka. Dilain pihak seperti dalam tulisan yang kita bahas sekarang dan kemarin Ahmad menyatakan bahwa GAM dalam hal ini Ishak Daud berjuang atas nama Islam makanya Ahmad berani menetapkan Ishak digolongkan dalam mati shahid."

Sumitro sebagaimana yang telah berulang kali Ahmad Sudirman katakan bahwa penegakkan dan pelaksanaan dasar hukum Islam yang kafah perlu adanya perangkat kelembagaan negara. Artinya sudah tersedia lembaga-lembaga hukum dan perangkat peradilannya, sehingga dasar hukum Islam dapat ditegakkan dan dijalankan.

Nah sekarang, rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila sedang melalui proses pembebasan negeri dari pendudukan Negara Pancasila.

Jadi dalam tahap sekarang ini, Sumitro, itu Daulah yang akan menjadi pelindung dan tempat berdirinya lembaga-lembaga kenegaraan yang didalamnya termasuk lembaga peradilan agama belum wujud di Acheh. Bagaimana mau bisa menegakkan dan menjalankan syariat Islam yang kafah sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

Karena itu Ahmad Sudirman mengatakan bahwa dalam langkah awal sekarang ini rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila bukan mau menegakkan dan menjalankan syariat Islam, melainkan sedang berjuang untuk pembebasan Negeri yang sedang diduduki dan dijajah oleh Negara Pancasila, mempertahankan harta milik dari rampasan dan rampokan pihak penjajah Negara Pancasila, dan mempertahankan Islam dari pencampuradukkan syariat Islam dengan sistem hukum thaghut pancasila.

Nah sampai disini apakah saudara Sumitro paham dan mengerti apa yang diungkapkan oleh Ahmad Sudirman ?. Nah kalau sudah paham dan mengerti. Ahmad Sudirman akan lanjutkan lagi.

Kemudian, kalau Daulah Acheh telah berdiri berdaulat di Acheh, maka untuk membangun, mengisi, dan menjalankannya perlu dilibatkan seluruh rakyat Acheh. Nah disaat itulah dibicarakan secara menyeluruh dari mulai asas dan dasar sampai kepada masalah program-program pembangunan yang diperlukan dalam membina Daulah Acheh.

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw, begitu sampai pada saatnya, yaitu ketika Rasulullah saw sampai di Yatsrib, kemudian membangun tali ikatan bersama diantara seluruh kabilah-kabilah melalui wakil-wakilnya yang ada di Yatsrib untuk mengadakan pakta perjanjian bersama membangun bangunan Daulah Islamiyah diatas fondasi konstitusi Undang Undang Madinah yang didalamnya mengacu apabila timbul persoalan maka harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Nah, rakyat Acheh belum sampai ketingkat itu. Masih sedang melalui jalur proses perjuangan pembebasan negeri dari cengkraman kuku penjajah Negara Pancasila.

Jadi saudara Sumitro, kalau saudara mau sedikit saja mempelajari lebih dalam tentang apa yang dikatakan oleh Ahmad Sudirman itu, maka Sumitro tidak akan mudah saja mengambil kesimpulan yang dangkal.

Sekali lagi disini Ahmad Sudirman menekankan bahwa perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Acheh sekarang ini adalah perjuangan dalam rangka menentukan nasib mereka sendiri memelihara Islam agar jangan dicampur adukkan dengan sistem thaghut pancasila, dan mempertahankan negeri tempat lahir mereka, serta menjaga harta milik dari usaha pendudukan dan penjajahan yang dilakukan oleh Rezim Penguasa Negara Pancasila. Syariat Islam bisa ditegakkan, dijalankan, dilaksanakan secara kafah apabila perangkat lembagaan peradilan yang diperlukan telah tersedia dalam naungan Daulah yang berdaulat.

Jadi Sumitro, Ahmad Sudirman tidak seperti yang Sumitro katakan: "Ahmad loncat sana-loncat sini sehingga suatu waktu dia akan jatuh kedalam jurang yang penuh dengan kebohongan".

Persoalannya adalah karena Sumitro tidak memahami dan tidak mengerti apa yang diungkapkan oleh Ahmad Sudirman, dan Sumitro tidak mengerti dan tidak memahami bagaimana menegakkan, menjalankan, melaksanakan syariat Islam yang kafah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Selanjutnya Sumitro mengatakan: "Bang Ahmad, kok enggak di komentari sich masalah tawanan khan katanya perjuangna Ishak Daud dan GAM berjuang atas nama Islam kata ente terus kok beda masalah tawanan antara Rasulullah dengan GAM lah iyah lah khan kata ente GAM berjuang karena Islam berarti perjuangan Islam (agama) itu khan harus berdasarkah apa yang telah dicontohkan Rasulullah kok malah GAM bertolak belakang caranya."

Nah ini juga salah satu contoh lainnya dimana Sumitro memang tidak mengerti dan tidak memahami apa yang sedang berjalan dan berlaku dalam proses perjuangan rakyat Acheh dihubungkan dengan pembinaan dan pengembangan roda pemerintahan Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Jelas, itu perlakuan terhadap para tawanan yang dilakukan oleh Rasulullah saw karena akibat timbulnya perang, jelas tidak akan mungkin bisa diterapkan dalam keadaan dan situasi rakyat Acheh yang sedang berjuang yang belum memiliki naungan Daulah yang berdaulat.

Jadi, ketika Rasulullah saw menghadapi dan memecahkan persoalan para tawanan, itu didasarkan atas pertimbangan Rasulullah saw dibawah naungan Daulah Islamiyah yang berdaulat. Peraturannya telah diatur sedemikian rupa, tempat para tahanan sudah dipersiapkan dengan baik. Semuanya memang telah dipersiapkan dan disediakan dalam Daulah Islamiyah di Yatsrib.

Sedang bagi rakyat Acheh dalam ASNLF atau GAM, karena Daulah berdaulat belum berdiri, masih dalam keadaan gerilya, bagaimana bisa menerapkan aturan hukum Islam untuk memperlakukan tawanan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Sumitro, coba berpikir yang sedikit masuk diakal dan logis, jangan hanya mudah membanding-banding, tanpa melihat situasi dan kondisi.

Disinilah Ahmad Sudirman memperhatikan bahwa Sumitro itu masih dangkal dalam masalah penerapan aturan-aturan hukum Islam yang ada hubungannya dengan masalah tawanan ketika terjadi perang dalam negara Islam yang berdaulat, dihubungkan dengan keadaan situasi dan kondisi perang gerilya yang dilancarkan oleh satu badan kekuatan yang belum memiliki negara yang berdaulat penuh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>,
ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>,
Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>,Redaksi Kompas redaksi@kompas.com
Cc: Sumitro <mitro@kpei.co.id>, ahmad@datapone.se
Subject: ahmad sebaiknya tobat
Date: Fri, 15 Oct 2004 16:23:56 +0700

Ass. War.Wab.

Komentarku hanya tersenyum saja aku. Soalnya jawabannya tidak mencakup secara keseluruhan dimana satu pihak Ahmad menyatakan bahwa Rakyat Aceh berjuang bukan untuk mendirikan syariat Islam di Aceh namun ingin membebaskan diri dari penjajahan dan juga mengenai penearapan hukum Islam itu sendiri di Aceh tergantung dari kesepakatan rakyat Aceh nantinya apabila sudah merdeka. Dilain pihak seperti dalam tulisan yang kita bahas sekarang dan kemarin ahmad menyatakan bahwa GAM dalam hal ini Ishak Daud berjuang atas nama Islam makanya Ahmad berani menetapkan Ishak digolongkan dalam mati shahid. Wah wah wah Ahmad loncat sana-loncat sini sehingga suatu waktu dia akan jatuh kedalam jurang yang penuh dengan kebohongan karena itu wahai Ahmad sadarlah dan tobatlah.

Bang Ahmad, kok enggak di komentari sich masalah tawanan khan katanya perjuangna Ishak Daud dan GAM berjuang atas nama Islam kata ente terus kok beda masalah tawanan antara Rasulullah dengan GAM lah iyah lah khan kata ente GAM berjuang karena Islam berarti perjuangan Islam (agama) itu khan harus berdasarkah apa yang telah dicontohkan Rasulullah kok malah GAM bertolak belakang caranya. Katanya mau berjuang untuk mendirikan Daulah Islam ? kok caranya bertentangan masih mendingan kami dengan cara damai dan sopan. Jawab donk jangan selalu lari dari masalah.

Demikian

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------