Stockholm, 19 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

JOKO RIYANTO MEMANG JELMAAN ROKHMAWAN DARI KAUM SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KARENA MEMANG JOKO RIYANTO RENDAH CARA BERPIKIRNYA, MAKA KETIKA MEMBACA KATA JELMAAN, JADILAH SALAH KAPRAH DAN SALAH MENYIMPULKAN.

"Selamat siang pak Ahmad di Swedia nun jauh disana. Bagaimana puasa anda sekeluarga dan sudah berapa juz kah anda membaca Al Qur 'an di bulan romadlon yang menginjak hari ke empat ini ?. Semoga anda diberi kemudahan Alloh untuk beramal kebaikan di bulan yang mulia ini. Begini pak, pagi dan siang ini saya mencoba untuk mampir ke ruangannya pak Rokhmawan, tentunya ingin membuka email saya dan sudah saya baca komentar dari pak Ahmad, namun saya begitu heran dan tidak percaya atas sikap pak Ahmad, dimana bapak menuduh kalau pak Rokhmawan adalah Joko Riyanto. Padahal seingat saya hal ini sudah dijelaskan oleh beliau pak Rokhmawan dimana Joko Riyanto bukan pak Rokhmawan dan sebaliknya." (Joko Riyanto , mas_rey_2004@yahoo.com , Sun, 17 Oct 2004 22:07:54 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Joko Riyanto di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Saudara Joko Riyanto, kalau Ahmad Sudirman menyatakan: "saudara Joko Riyanto jelmaan Wahabiyin Rokhmawan dari Yayasan Bukhori Solo, Jawa Tengah" (Ahmad Sudirman, 11 Oktober 2004).

Disini artinya adalah pemikiran saudara Joko Riyanto merupakan gambaran pemikiran saudara Rokhmawana. Atau dengan kata lain pemikiran saudara Rokhmawan tergambar atau terlukis dalam tulisan yang dibuat oleh saudara Joko Riyanto.

Ketika saudara Joko Riyanto menyatakan: "saya begitu heran dan tidak percaya atas sikap pak Ahmad, dimana bapak menuduh kalau pak Rokhmawan adalah Joko Riyanto. Padahal seingat saya hal ini sudah dijelaskan oleh beliau pak Rokhmawan dimana Joko Riyanto bukan pak Rokhmawan dan sebaliknya."

Nah, kelihatan disini saudara Joko Riyanto memang tidak memahami arti atau maksud dari kata jelmaan, menjelma, terjelma, penjelmaan.

Seterusnya saudara Riyanto mengatakan: "Bagaimana puasa anda sekeluarga dan sudah berapa juz kah anda membaca Al Qur 'an di bulan romadlon yang menginjak hari ke empat ini ?."

Ahmad Sudirman membaca Al-Qur'an bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, melainkan setiap hari kalau tidak membaca selepas shalat magrib, maka dilakukan selepas shalat 'isha. Jadi, itu membaca Al-Qur'an terus menerus, walaupun dua atau tiga ruku sekali membacanya, tetapi, berkesinambungan. Karena itu Ahmad Sudirman membaca Al-Qur'an bukan hanya pada hari-hari bulan Ramadhan, melainkan setiap hari.

Saudara Joko, saudara memang sangat sempit pandangan dan pikiran saudara. Mengapa ? Karena seperti apa yang saudara Riyanto katakan: "Sekilas didalam pikiran saya yang memandang ulah atau tuduhan pak Ahmad yang tanpa dasar itu merupakan sedikit gambaran bagaiman nanti dunia kehakiman di NAD apabila Aceh merdeka. Misal saja Aceh benar-benar merdeka dan hukum Islam dapat ditegakkan secara kaffah (hukum rajam de el el), maka jelas menurut pak Rokhmawan, anda cs akan kembali lagi ke Aceh bukankah begitu ?. Nah, karena lewat mimbar bebas ini saja terlihat begitu asal main tuduh yang dilontarkan oleh pak Ahmad ke pak Rokhmawan dan sudah dijelaskan beliau apa yg sebenarnya tetapi tetap pak Ahmad dan GAM lainnya tidak perduli, bagaimana kalau seandainya orang-orang seperti pak Ahmad, Hasan Tiro de el el (anggota GAM ) memimpin NAD ? Sangat mengerikan dan menyengsarakan umat Islam jika kita lihat dari diskusi di mimbar bebas ini."

Saudara Joko, yang namanya lembaga peradilan hukum, itu bukan atas nama pribadi. Melainkan atas nama lembaga hukum. Karena itu adalah suatu kebodohan kalau saudara Joko menyimpulkan : "karena lewat mimbar bebas ini saja terlihat begitu asal main tuduh yang dilontarkan oleh pak Ahmad ke pak Rokhmawan dan sudah dijelaskan beliau apa yg sebenarnya tetapi tetap pak Ahmad dan GAM lainnya tidak perduli, bagaimana kalau seandainya orang-orang seperti pak Ahmad, Hasan Tiro de el el (anggota GAM ) memimpin NAD ? Sangat mengerikan dan menyengsarakan umat Islam jika kita lihat dari diskusi di mimbar bebas ini."

Dalam peradilan hukum, itu yang namanya tuduhan, tidak bisa dijadikan sebagai fakta dan bukti, melainkan harus benar-benar fakta dan bukti yang bisa dilihat, didengar, dibaca, dan dipertanggungjawabakan.

Pemimpin eksekutif tidak dibenarkan ikut serta terlibat dalam proses jalannya peradilan yang dipegang oleh badan lembaga peradilan. Kalau pimpinan eksekutif ikut melibatkan dalam proses jalannya peradilan hukum, itu namanya bukan menegakkan hukum yang adil, melainkan meruntuhkan hukum.

Jadi, adalah suatu kekeliruan dari cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan oleh saudara Joko dengan mengatakan: "bagaimana kalau seandainya orang-orang seperti pak Ahmad, Hasan Tiro de el el (anggota GAM ) memimpin NAD ? Sangat mengerikan dan menyengsarakan umat Islam jika kita lihat dari diskusi di mimbar bebas ini."

Saudara Joko, apa yang saudara katakan dan simpulkan itu adalah merupakan hasil dari daya pikir yang dangkal dari saudara Joko yang banyak dipengaruhi oleh jalan pikiran Rokhmawan, alias Joko Riyanto merupakan jelmaan Rokhmawan.

Selanjutnya saudara Joko karena memang rendah cara berpikirnya, ketika membaca istilah jelmaan, langsung saja diartikan tuduhan, sehingga tanpa dipikir panjang dihubungkan dengan tuduhan melakukan zina.

Saudara Joko, lain kali harus dipikirkan dahulu, kalau ingin menanggapi tulisan Ahmad Sudirman.

Begini, disini saya akan mengupas sedikit tentang zina, menuduh seseorang berbuat zina, saksi, dan hukuman zina. Dalam melihat masalah zina ini Ahmad Sudirman mempergunakan kacamata Bidayatu'l Mujtahid-nya Ibnu Rusyd.

Dimana ada dua golongan yang memandang dan beranggapan pada hukum zina dan penerapan pada palakunya.

Golongan pertama, yang tidak membedakan apakah pezina itu muhshan (sudah kawin) atau tidak-muhshan (belum kawin). Muhshan ialah dewasa, merdeka, sudah kawin. Dimana keduanya dijatuhi hukuman 100 kali dera berdasarkan surat An Nuur, ayat 2: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman" (An Nuur, 24:2)

Dan Golongan kedua, yang memisahkan pezina berdasarkan muhshan atau tidak-muhshan. Bagi pezina yang muhshan dijatuhi hukuman rajam, artinya dilempar dengan batu. Sedangkan bagi pezina yang tidak-muhshan (belum kawin, masih muda) dijatuhi hukuman dengan didera 100 kali sebagaimana tertulis dalam surat An Nuur, 24:2. Disini mereka mengkhususkan Al Quran surat An Nuur, 24:2 dengan Hadits.

Perkara untuk menetapkan zina.

Para ulama telah sepakat bahwa untuk menetapkan zina berdasarkan kepada pengakuan dan adanya saksi-saksi. Tetapi masih adanya perbedaan pendapat dalam masalah syarat-syarat pengakuan dan syarat-syarat saksi. Kemudian adanya perbedaan pendapat mengenai penentuan zina berdasar kehamilan pada wanita yang tidak (belum) kawin.

Kemudian mengenai bilangan pengakuan melakukan zina, juga timbul perbedaan yang menyangkut bilangan pengakuan.

Imam Malik dan Imam Syafi'i berpendapat bahwa satu kali pengakuan sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman. Pendapat ini dikemukakan juga oleh Ibnu Dawud, Abu Tsaur, Ath-Thabari.

Sedangkan Imam Abu Hanifah beserta pengikutnya, IbnuAbi Laila, Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa hukuman zina baru bisa dijatuhkan apabila adanya pengakuan empat kali yang dikemukakan satu persatu ditempat yang berbeda-beda.

Imam Syafi'i dan Imam Malik mendasarkan kepada sabda Nabi saw dalam hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid ra. "Pergilah kamu, hai Unais (panggilan untuk sahabat Anas bin Malik), kepada istri orang ini. Jika ia mengaku, maka rajamlah ia". Kemudian Unais pergi kepadanya, dan iapun mengakui perbuatannya. Maka Nabi saw menyuruh perempuan itu didatangkan, kemudian ia pun dirajam".

Sedangkan Imam Abu Hanifah mendasarkan kepada hadits Sa'id bin Jubair ra. dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw: "Sesungguhnya Nabi saw menolak (pengakuan) Ma'iz sehingga ia mengaku empat kali, kemudian beliau menyuruh merajamnya".

Seterusnya tentang mencabut kembali pengakuan.

Dimana jumhur fuqaha berpendapat bahwa jika seseorang mengaku berbuat zina, kemudian ia mencabut kembali pengakuannya, maka pencabutannya itu dapat diterima. Kecuali Ibnu Abi Laila dan Utsman al-Batti yang menolak pencabutan itu.

Imam Malik mengadakan pemisahan dalam pencabutan pengakuan ini. Jika pencabutan itu didasarkan kepada keragu-raguan, maka pencabutan itu bisa diterima. Tetapi jika pencabutan itu tidak didasarkan kepada keragu-raguan (syubhat), maka dalam hal ini ada dua riwayat daripadanya. Yang pertama dapat diterima, dan ini adalah pendapat yang terkenal daripadanya. Sedangkan yang kedua tidak dapat diterima pencabutannya kembali.

Mengenai saksi-saksi. "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak membawa empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik" (An Nuur, 24:4)

Dimana sifat-sifat saksi itu harus adil. Kesaksian harus dinyatakan dengan kata-kata yang jelas. Berdasar kepada penyaksian alat kelamin laki-laki berada pada alat kelamin perempuan. Kesaksian itu tidak berbeda-beda waktu maupun tempatnya.

Menyangkut kehamilan.

Dalam hal kehamilan ada perbedaan diantara para fuqaha mengenai penjatuhan hukuman zina berdasarkan pada tampaknya kehamilan.

Menurut Imam Malik hukuman dijatuhkan kepada perempuan yang menunjukkan kehamilan, kecuali kalau perempuan itu dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa ia dipaksa. Kalau mengaku sudah kawin, maka ia harus dapat mendatangkan saksi atas perkawinannya itu.

Imam Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa timbulnya kehamilan dan pengakuan telah dipaksa menyebabkan tidak dilaksanakannya hukuman terhadap perempuan itu.

Begitu juga jika disertai pengakuan telah kawin, meski ia tidak mendatangkan tanda-tanda dalam pengakuannya bahwa ia telah dipaksa, atau mendatangkan saksi dalam pengakuannya bahwa ia telah kawin. Ini didasarkan kepada riwayat Umar ra, bahwa ia menerima kata-kata orang perempuan yang mengaku bahwa tidurnya nyenyak sekali, dan seorang lelaki telah menyetubuhinya, kemudian lelaki itu pun pergi, sementara ia sendiri tidak tahu, siapakah lelaki itu.
Tidak ada perselisihan diantara para fuqaha bahwa perempuan yang dipaksa berzina itu tidak dijatuhi hukuman.

Hukuman bagi pezina.

Hukuman bagi penzina muhshan adalah dengan di rajam berdasar kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar ra. Yakni hadits yang telah disepakati shahihnya: "Sesungguhnya Rasulullah saw merajam seorang Yahudi perempuan dan seorang Yahudi Laki-laki yang keduanya telah berzina, karena persoalan keduanya dilaporkan kepada Nabi oleh seorang Yahudi". Kemudian jumhur fuqaha berpegang kepada hadits dibawah ini yang dikeluarkan dalam kitab-kitab shahih: "Sesungguhnya Rasulullah saw merajam seseorang yang bernama Ma'iz dan merajam seorang perempuan dari kabilah Juhainah, dan merajam pula dua orang Yahudi dan seorang perempuan dari kabilah Amir dari suku Azd".

Sedangkan hukuman untuk pezina tidak-muhshan (orang muda, belum kawin) adalah dengan 100 kali dera sesuai dengan surat An Nuur, 24:2.

Kemudian dalam menghukum pezina tidak-muhshan ini ada perbedaan diantara para fuqaha, yaitu mengenai hukum pengasingan disamping hukum dera (jilid) berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh para penyusun kitab-kitab shahih dari Abu Hurairah ra. dan Zaid bin Khalid al-Juhani ra, bahwa keduanya berkata: "Sesungguhnya seorang lelaki dusun datang kepada Nabi saw. Ia berkata: "Ya Rasulullah, demi Allah aku meminta kepadamu agar engkau memberikan keputusan kepadaku berdasarkan Kitabullah". Maka berkatalah lawannya, sedang ia lebih pandai dari lelaki tersebut, "Ya, putusilah diantara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku berbicara." Maka berkatalah Nabi saw kepadanya, "Katakanlah". Lalu berkatalah lelaki dusun itu, "Sesungguhnya anak lelakiku bekerja (menjadi buruh) pada orang ini, kemudian ia berzina dengan istrinya, lalu aku diberitahu bahwa anakku dikenai hukum rajam. Maka kutebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang hamba perempuan kecil. Kemudian aku bertanya kepada ahli ilmu, dan mereka mengabarkan padaku bahwa anakku dikenakan hukum jilid (dera) seratus kali dan diasingkan satu tahun, dan bahwa istri orang ini dikenai hukum rajam". Maka berkatalah Rasulullah saw, "Demi Dzat yang menguasai diriku, aku akan memberikan keputusan diantara kamu berdua berdasarkan Kitabullah. Mengenai hamba perempuan kecil dan kambing, maka kembali kepadamu, sedang terhadap anak lelakimu ini dikenai hukuman seratus kali dera (jilid) dan pengasingan satu tahun. Pergilah kamu, hai Unais (panggilan untuk sahabat Anas bin Malik), kepada istri orang ini. Jika ia mengaku, maka rajamlah ia". Kemudian Unais pergi kepadanya, dan iapun mengakui perbuatannya. Maka Nabi saw menyuruh perempuan itu didatangkan, kemudian ia pun dirajam".

Menurut hadits ini ada hukum pengasingan disamping hukum dera (jilid). Tetapi ada beberapa perbedaan pendapat diantara para fuqaha. Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa tidak ada pengasingan disamping jilid. Imam Syafi'i berpendapat bahwa setiap pezina harus dikenakan pengasingan disamping hukum jilid. Yakni bagi laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa pengasingan hanya dikenakan kepada pezina laki-laki dan tidak dikenakan kepada pezina perempuan.

Cara melaksanakan hukuman bagi pezina yang tidak-muhshan didera.

Menurut Imam Malik yang didera adalah punggung dan seputarnya serta harus menanggalkan baju. Menurut Imam Syafi'i yang didera seluruh anggota badan, kecuali kelamin dan muka yang harus dihindarkan serta penanggalan baju. Menurut Abu Hanifah seluruh anggota badan, kecuali kelamin, muka dan kepala serta penanggalan baju.

Bagi pezina yang muhshan dikenakan rajam.

Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah bahwa orang yang dirajam tidak ditanam separuh badan. Sedangkan Imam Syafi'i memberikan pilihan antara ditanam dan tidak ditanam. Tetapi diriwayatkan daripadanya bahwa yang ditanam separuh badan hanya orang perempuan saja. Para fuqaha yang berpendapat tidak menanamnya berpegang kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir ra. Ia berkata: "Maka kami merajamnya di mushalla. Tetapi tatkala batu itu menimbulkan rasa sakit padanya, ia pun lari. Maka kami menangkapnya di al-Harrah, kemudian kami memukulnya dengan batu".

Sedangkan para fuqaha yang berpendapat pezina harus ditanam separuh badan ketika waktu dirajam adalah berdasarkan kepada hadits dari Ali ra. tentang Syurahah al-Hamdaniyyah ketia ia menyuruh merajamnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Tsaur: "Maka tatkala telah datang hari Jum'at, ia (Ali ra.) mengeluarkannya (Syurahah), kemudian menggali lubang untuknya. Lalu dimasukkanlah ia kedalamnya, dan orang banyakpun mengelilinginya untuk melemparinya. Maka berkatalah Ali ra., "Bukan begitu cara merajam. Aku khawatir sebagian kalian akan mengenai sebagian yang lain. Akan tetapi berbarislah kalian sebagaimana kalian berbaris dalam shalat".

Kemudian ia berkata pula: "Rajam itu ada dua macam, rajam sembunyi dan rajam terbuka. Pada rajam yang dijatuhkan karena pengakuan, maka orang yang pertama merajam adalah imam (penguasa), kemudian baru orang banyak. Sedang pada rajam karena saksi, maka orang yang pertama-tama merajam ialah saksi, kemudian imam dan kemudian orang banyak".

Selanjutnya menurut jumhur fuqaha, bahwasanya disunatkan agar imam mendatangkan orang banyak pada saat dilaksanakan hukuman, berdasarkan surat An Nuur, 24:2 "...dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman" (An Nuur, 24:2).

Sedangkan mengenai waktu pelaksanaan hukuman, jumhur fuqaha berpendapat bahwa hukuman tidak boleh dilaksanakan pada saat hari sangat panas atau dingin. Dan tidak pula dilaksanakan atas orang yang sedang sakit.

Tetapi para fuqaha lainnya berpendapat harus dilaksanakan juga meskipun dalam keadaan sakit. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dan Ishaq.

Bagi para fuqaha yang memandang kepada suruhan melaksanakan hukuman secara mutlak tanpa kecuali, maka mereka berpendapat bahwa orang sakit tetap dijatuhi hukuman pada saat sakitnya itu.
Sedangkan bagi para fuqaha yang memandang kepada pengertian hukum, yakni sebagai pengajaran, maka mereka berpendapat bahwa orang sakit tidak dijatuhi hukuman sampai ia sembuh. Begitu juga ketika cuaca sedang sangat panas atau sangat dingin.
( Ibnu Rusyd, Bidayatu'l Mujtahid, Juz 3, Bab II, Bab III, hal. 617-633, Cetakan pertama 1991, Edisi Malaysia, Victory Agencie, Kuala Lumpur).

Nah itulah saudara Joko Riyanto kalau mau menggali sedikit lebih dalam tentang bagaimana melihat dan memecahkan, serta memutuskan tentang zina yang dilakukan dalam peradalam hukum di Negara islamiyah.

Jadi saudara Joko Riyanto, kalau memang benar kasus zina itu ajukan dalam lembaga peradilan hukum Islam, kaka tidak akan timbul kerancuan dan menyengsarakan umat Islam.

Terakhir saudara Joko menyatakan: "Kemudian beranikah pak Ahmad menjamin kalau NAD jika merdeka akan memberlakukan hukum Islam secara kaffah ? Dan bagaimana kalau ternyata ada sebagian dan bahkan kebanyakan orang tidak atau belum setuju dengan keputusan itu ?. Pak Ahmad anda harus tahu kondisi Aceh dimana di sanapun ternyata juga banyak walaupun tidak sebanyak di Jawa, kemaksyiatan yang dilakukan warga Aceh sediri (pemerkosaan, perzinahan, prostitusi dll)."

Memang manusia itu tidak sempurna. Tetapi kalau dibandingkan antara rakyat Acheh dengan rakyat di Jawa, maka jelas itu kemaksiatan di Jawa adalah sangat melampui batas, dibading dengan di Acheh. Lagi pula kalaupun ada kemasiatan di Acheh, itu diakibatkan oleh adanya kebijaksanaan politik Pemerintah pusat dan daerah Acheh yang membiarkan kemaksiatan. Lihat saja apa yang dilakukan oleh pihak anggota TNI di Acheh, membunuh, memperkosa, menyiksa, itu adalah akibat dari politik penjajahan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah pusat dan dijalankan oleh pihak Pemerintah daerah Acheh yang merupakan tangan kanannya pemerintah pusat.

Jadi, timbulnya kemaksiatan, perkosaan, pelacuran, pembunuhan, itu semuanya sebagian besar diakibatkan oleh kebijaksanaan politik penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah Megawati yang sekarang diteruskan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Tentang penegakkan syariat Islam di Acheh, akan ditegakkan dengan kaffah, apabila Daulah Acheh telah berdiri berdaulat. Dan semuanya diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh yang muslim dan mukmin. Bukan seperti rakyat pancasila di Negara RI, yang campur aduk. Di negara RI yang rakyatnya campur aduk, mana bisa ditegakkan syariat Islam. Paling hanya bid'ah, khurafat, dan syirik saja yang ada. Lihat saja itu kerja Departemen Agama, comot sana comot sini secuil hukum Islam, kemudian direbus dan digodog dalam DPR, maka jadilah hukum rebus pancasila, tetapi disebutnya hukum Islam.

Nah, itu lah yang dinamakan bid'ah dan khurafat ang seharusnya oleh kaum wahabi Saudi di Negara RI diprotes dan dikutuk. Tetapi kenyataannya tida. Lihat saja itu Rokhmawan, diam saja, melihat kelakuan orang-orang di Departemen Agama dan DPR ketika mereka menetapkan UU No. 18 tahun 2001 yang mencampuradukkan pelaksanaan hukum Islam dengan hukum thaghut pancasila dengan turunannya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 17 Oct 2004 22:07:54 -0700 (PDT)
From: joko riyanto mas_rey_2004@yahoo.com
Subject: Gambaran Hukum di NAD ( Jika Merdeka ) Sangat Menyengsarakan Umat Islam
To: ahmad@dataphone.se
Cc: hadi@cbn.net.id

Assalaamu 'alaikum

Kerancuan dan Gambaran Hukum di NAD (Jika Merdeka) Sangat Menyengsarakan Umat Islam.

Selamat siang pak Ahmad di Swedia nun jauh disana. Bagaimana puasa anda sekeluarga dan sudah berapa juz kah anda membaca Al Qur 'an di bulan romadlon yang menginjak hari ke empat ini ?. Semoga anda diberi kemudahan Alloh untuk beramal kebaikan di bulan yang mulia ini.

Begini pak, pagi dan siang ini saya mencoba untuk mampir ke ruangannya pak Rokhmawan, tentunya ingin membuka email saya dan sudah saya baca komentar dari pak Ahmad, namun saya begitu heran dan tidak percaya atas sikap pak Ahmad, dimana bapak menuduh kalau pak Rokhmawan adalah Joko Riyanto. Padahal seingat saya hal ini sudah dijelaskan oleh beliau pak Rokhmawan dimana Joko Riyanto bukan pak Rokhmawan dan sebaliknya.

Begini pak, saya ini masih muda (alumni Sties thn 2001) dan anda sendiri pasti bisa menebak umur pak Rokhmawan di mana beliau seperti bapak sudah punya istri dan beberapa anak. Sedangkan Joko Riyanto masih bujang (bukan biro jodoh lhoo). Apa bapak masih belum percaya ?. Terserah pak Ahmad lah. Oo yaa katanya pak Ahmad tidak mempermasalahkan yang satu ini, kenapa bapak sampai saat ini menganggap kalau Joko Riyanto adalah pak Rokhmawan. Pak, ingat ini bulan puasa lho, jangan berkata kotor dan menuduh yang bukan-bukan bisa-bisa puasa bapak tidak ada nilainya di sisi Alloh atau karena ulah pak Ahmad demikian tadi maka hanyalah lapar dan dahaga yg pak Ahmad peroleh, ingat lho pak Ahmad, Rosululloh mengingatkan umatnya agar jangan sampai puasanya sia-sia.

Sekilas didalam pikiran saya yang memandang ulah atau tuduhan pak Ahmad yang tanpa dasar itu merupakan sedikit gambaran bagaiman nanti dunia kehakiman di NAD apabila Aceh merdeka. Misal saja Aceh benar-benar merdeka dan hukum Islam dapat ditegakkan secara kaffah (hukum rajam de el el), maka jelas menurut pak Rokhmawan, anda cs akan kembali lagi ke Aceh bukankah begitu ?. Nah, karena lewat mimbar bebas ini saja terlihat begitu asal main tuduh yang dilontarkan oleh pak Ahmad ke pak Rokhmawan dan sudah dijelaskan beliau apa yg sebenarnya tetapi tetap pak Ahmad dan GAM lainnya tidak perduli, bagaimana kalau seandainya orang-orang seperti pak Ahmad, Hasan Tiro de el el (anggota GAM ) memimpin NAD ? Sangat mengerikan dan menyengsarakan umat Islam jika kita lihat dari diskusi di mimbar bebas ini.

Misal saja suatu hari kebetulan pak Rokhmawan diberi tugas oleh ketua yayasannya untuk mengadakan study banding ke Negari Aceh yang sudah merdeka. Tetapi oleh pihak negara Aceh beliau ditolaknya bahkan di tangkap dan diinterogasi karena mereka (pemerintahan Aceh/GAM) mencurigai pak Rokhmawan sebagai teroris. Kemudian beliau pak Rokhmawan menerangkan siapa dirinya sebenarnya dan tidak ada satu buktipun yang menyatakan dirinya sebagai teroris kecuali tuduhan dari pemerintahan Aceh/GAM. Eeee, malah beliau dimasukkan ke penjara.

Misalnya lagi ada seorang suami (di Aceh) dituduh oleh istrinya telah melakukan perselngkuhan atau katakanlah zina dan ternyata si istri tersebut hanya berdasarkan praduga belaka atau isu miring tentang suaminya tadi. Dan suaminya pun telah berkata sejujur-jujurnya bahwa dia tidak pernah melakukannya. Kemudian si istri tetap tidak percaya, akhirnya sang istri melaporkan dengan segala tuduhan dan intrik ke pihak yang berwajib di Aceh sana. Sang istri berbohong bahwa dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri dan disaksikan oleh beberapa orang sebagai saksi atas perzinahan tersebut. Karena bukti sudah kuat maka si suami di tangkap polisi Aceh/GAM, namun berkali-kali sang suami tadi menjelaskan apa yang sebenarnya (dirinya tidak pernah berzina), namun tetap saja dia di hadapkan ke meja hijau (sidang kehakiman). Berhubung pak hakim sudah mendapat hasutan dari sang istri tadi termasuk beberapa saksi palsu maka sang suami tetap saja dianggap telah berzina dan dihukum dengan hukuman rajam. Sangat mengerikan sekali.

Apakah memang demikian pak Ahmad yang asal main tuduh tanpa bukti, saksi padahal yang namanya bukti serta saksipun bisa dibuat. Apakah pak Ahmad tetap menuduh pak Rokhmawan adalah Joko Riyanto ? Silakan jawab dengan gamplang di mimbar bebas ini.

O yaa pak Ahmad, pasti anda sudah faham sekali yaaa mengenai hukum Islam yang kaffah ini. Saya mau bertanya bagaimana seandainya si suami tersebut benar-benar telah berzina tetapi tetap tidak mau mengakuinya, kebetulan sang istri tidak bisa membuktikan sendiri dan tidak bisa menghadirkan empat saksi mata. Dalam hukum Islamkan kalau sang istri atau suami menuduh salah satu dari mereka telah berzina maka sebagai bahan penguat harus menghadirkan empat saksi dan kesemuanya harus benar-benar tahu proses keluar masuknya alat kelaminnya. Kalau seandainya menggunakan kecanggihan alat deteksi atau penelitian seperti yang terjadi di kehakiman untuk menguatkan tuduhan, itu namanya bukan hukum Islam.

Setahu saya bagi mereka yang tidak bisa menghadirkan empat saksi mata (yang tidak dibuat-buat) maka harus diminta bersumpah atas nama Alloh begitu sebaliknya dengan si tertuduh dan akhirnya semuanya diserahkan kepada Alloh yang maha tahu kemudian bebaslah atau ditutuplah kasus ini.

Menurut saya memang benar apa yang diucapkan oleh beliau pak Rokhmawan bahwasanya untuk memberlakukan hukum Islam di suatu negara harus atas perjanjian warga negara tersebut sebagaimana perjanjian masyarakat Madinnah (Nasrani, Yahudi, Islam ) ketika daulah Islam di Madinnah berhasil dibentuk. Kalau warga ataupun pejabat di negara tersebut masih enggan maka menurut pak Rokhmawan harus dilakukan dakwah secara global.

Kita kembali lagi ke kasus di atas (suami atau istri yang berzinah), kalau memang demikian (bebas karena tidak bisa menghadirkan 4 saksi), maka suasana dan keadaan di Aceh sana semakin tidak terkontrol (memangnya ada berzina di tempat umum, memangnya ada pemerkosaan dilakukan di pasar dll).

Coba pak Ahmad jawablah pertanyaan saya ini sesuai dengan beberapa kasus di atas dan ingat ini bulan puasa janganlah bapak berkata kotor dan main tuduh.

Kemudian beranikah pak Ahmad menjamin kalau NAD jika merdeka akan memberlakukan hukum Islam secara kaffah ? Dan bagaimana kalau ternyata ada sebagian dan bahkan kebanyakan orang tidak atau belum setuju dengan keputusan itu ?. Pak Ahmad anda harus tahu kondisi Aceh dimana di sanapun ternyata juga banyak walaupun tidak sebanyak di Jawa, kemaksyiatan yang dilakukan warga Aceh sediri (pemerkosaan, perzinahan, prostitusi dll).

Saya tunggu jawaban pak ahmad sendiri (maaf kalau menyinggung perasaan bapak).
Kalau bisa sekaliyan bunyi terjemahan ayat yang berkenaan dengannya (tuduhan zina dll).

Joko Riyanto

mas_rey_2004@yahoo.com
Solo, Jawa Tengah, Indonesia
----------