Stockholm, 25 Oktober 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN HADI DANGKAL MEMAHAMI ASAS NEGARA ISLAM ATAU KHILAFAH ISLAMIYAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN DENGAN JELAS ITU WAHABIYIN HADI DARI KAUM WAHABI SAUDI DANGKAL DALAM MEMAHAMI ASAS NEGARA ISLAM ATAU KHILAFAH ISLAMIYAH

"Nah jelas menurut pak Rokhmawan cs pada saat khilafah Ustmaniyah di turki dan lain-lain jelas sudah menyimpang dari syarat-syarat khilafah. Di mana di khilafah Utsmaniah dll terdapat banyak khurofat, bid 'ah, pertempuran sesama Islam dll. Nah apakah menurut kamu si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman khilafah Islam itu hanya sekedar UUD nya berdasarkan Al-Qur 'an dan Al-Hadist, kalau itu jawabannya memang benar tetapi ketahuilah bahwasanya Al-Qur 'an dan Al-hadist tidak pernah menyeru hambanya untuk melakukan bid 'ah, khurofat, pertempuran sesama muslim dll. Sedangkan mengapa anda si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tetap bersikeras menganggap khilafah Islam runtuh sejak runtuhnya khilafah Ustmani di turki atau khilafah Ustmani di Turki termasuk khilafah Islamiyah ? menurut pandangan saya dikarenakan pada masa itu (khilafah ustmani di Turki dll) hukum rajam, potong tangan dll telah dan berlangsung dalam pemerintahan tersebut. Nah inilah letak kesalah pahaman umat Islam yang mengatakan khilafah Ustmani dll termasuk khilafah Islam menurut kriteria seperti firman Allah sebagaimana tertera di atas." (Hadi , hadifm@cbn.net.id , Sun, 24 Oct 2004 17:18:08 +0700)

Baiklah Wahabiyin Hadi di Jakarta, Indonesia.

Wahabiyin Hadi, itu kalau kalian membaca Al-Qur'an bukan hanya sekedar membaca dengan mulut yang cepat tanpa memahami dan meresapi apa yang terkandung didalamnya. Kalau membaca Al-Qur'an seperti kereta api ekspres, itulah membaca Al-Qur'an hanya sampai ditenggorokan saja.

Membaca Al-Qur'an harus secara tartil, betul, memahami apa yang terkandung didalam isinya, membayangkan, menganalisa, dan mengamalkan. "wa rattil al Qur'an tartiila. Inna sanulqi 'alaika qaulan tsaqila" (Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.) (QS Al Muzammil, 73: 4-5)

Kalau kalian hanya mengejar juz saja, itu artinya kalian hanyalah membaca Al-Qur'an dengan mulut saja, bukan dengan hati dan pikiran yang mendalam.

Kalian wahabiyin Hadi harus mengerti dan memahami bahwa Al-Qur'an itu tidak diturunkan sekaligus, melainkan Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati menjadi kuat dan tetap. "Kadalika linustabbita bihi fuadaka wa rattalnahu tartila" (demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)). (QS Al Furqaan, 25: 32)

Mengapa kalian terburu-buru membaca Al-Qur'an. Apakah kalian wahai wahabiyin Hadi sudah mengerti dan sudah memahami apa yang terkandung didalam Al-Quran yang kalian baca itu ?

Jangan seperti keledai yang membawa kitab.

Tetapi cobalah menjadi orang yang benar-benar memahami, mengerti, mendalami, menghayati, melaksanakan setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an itu. Karena ayat-ayat Al-Qur'an itu adalah qaulan tsaqila atau perkataan yang berat.

Kalian wahabiyin Hadi menganggap enteng saja membaca Al-Qur'an. Kalian kejar secara ekspres dalam membaca Al-Qur'an. Ketika ditanya apa yang terkandung didalamnya, kalian bengong, melongo seperti orang budek, tidak tahu apa isinya.

Terbukti kalian wahabiyin Hadi, ketika Ahmad Sudirman menampilkan dua ayat "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa, 58-59).

Nah, ketika kalian wahabiyin Hadi membaca dua ayat diatas, ternyata hasilnya nol besar. Mengapa?

Karena kalian wahabiyin Hadi tidak memahami, mendalami, menghayati, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan apa yang terkandung dalam dua ayat diatas.

Itu lima dasar yang asasi yang menjadi fondari berdirinya Khilafah Islamiyah, yaitu amanah, keadilan, Ketuhanan, ulil amri, dan mengengacu kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Lima asas inilah telah berlaku dalam Negara Islami atau Daulah Islamiyah pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw di Yatsrib pada tahun 1 Hijrah atau 622 M dan diteruskan dan dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib)(11 H-40 H, 632 M-661 M), Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah, Khilafah Pathimiyah, Khilafah Umayah andaluzie, Khilafah Usmaniyah.

Kemudian menyangkut ajaran dan paham wahabi mengenai syirik, khurafat, bid 'ah itu adalah menyangkut kepada keyakina individu dalam daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah.

Jadi kalau timbul syirik, khurafat, bid 'ah itu bukan dari kesalahan asas daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah, melainkan kesalahan terletak kepada keyakinan, ketauhidan dari individu itu sendiri.

Untuk menghancurkan syirik, khurafat, bid 'ah bukan harus dihancurkan Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah-nya, melainkan keyakinan dan kesalah ketauhidan yang dianut oleh individu itu sendiri.

Nah, terbukti sekarang, apakah setelah Khilafah Islamiyah Ustmaniyah dihancur leburkan oleh salah satunya persekutuan keluarga Ibnu Saud, Ibnu Abdul Wahab dan pemerintah Kerajaan kafir Inggris dan melahirkan Kerajaan Saud, telah mampu menghancurkan syirik, khurafat, bid 'ah yang dianut oleh individu muslim ?

Jelas jawabannya tidak, dan itu syirik, khurafat, bid 'ah makin merajalela.

Lihat di Negara sekuler Pancasila, itu bid'ah merajalela dalam lembaga Negara seperti dalam Departemen Agama. Pencampuradukkan hukum Islam dengan hukum sistem thaghut pancasila dengan semua tururnannya.

Mereka tidak menyadari bahwa dengan dihancurkannya asas Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah yang mengacu dan bersumberkan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka syirik, bid'ah, khurafat telah merasuk kedalam tubuh kenegaraan di Negara sekuler Pancasila.

Celakanya itu orang-orang di Negara sekuler Pancasila tidak menyadarinya.

Kalian wahabiyin Hadi, itu Khilafah Islamiyah Ustmaniyah dianggap sebagai Khilafah yang didalamnya "terdapat banyak khurofat, bid 'ah, pertempuran sesama Islam dll."

Alasan itu adalah alasan yang dangkal dan bukan alasan naqli dan aqli yang kuat. Mengapa ?

Karena seperti yang sudah dijelaskan diatas masalah syirik, bid'ah, khurafat adalah bukan termasuk asas untuk berdirinya Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah, melainkan itu termasuk kedalam bidang dan ruang lingkup keyakinan dan ketauhidan dari setiap individu muslim dalam Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah.

Untuk meluruskan dan menghilangkan syirik, bid'ah, khurafat bukan harus dihancurkan Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah yang asasnya mengacu dan bersumberkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, melainkan yang harus dikikis habis adalah keyakinan dan penyimpangan ketauhidan yang dianut oleh setiap individu Muslim.

Sekarang celakanya adalah sudahlah asas Negara atau Kerajaan bukan lagi mengacu kepada dasar dan sumber Al-Qur'an dan Sunnah, ditambah makin merajalelanya perbuatan syirik, bid'ah, khurafat.

Lihat saja di Negara sekuler Pancasila, apakah itu syirik, bid'ah, khurafat sudah bisa dihancurkan ?
Jangan mimpi wahabiyin Hadi. Justru makin sulit dan makin tidak mungkin untuk menghancurkan syirik, bid'ah, khurafat dalam Negara sekuler Pancasila ini, karena dasar dan sumber hukum Negara sekuler Pancasila bukan mengacu kepada sumber hukum Al-Qur'an dan Sunnah. Lihat saja dalam Departemen Agama itu bid'ah dan khurafat merajalela. Kalian wahabiyin Hadi tidak menyadari dan melihatnya.

Kemudian soal pertempuran sesama Islam, ini pernah terjadi ketika masa Khilafah Islamiyah dibawah Khalifah Ali bin Abi Thalib, seperti perang jamal, shiffin, dan nahrawan adalah didasarkan kepada motivasi politik terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, kepemimpinan atau kekhalifahan dengan terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, dan sikap terhadap Ali bin Abi Thalib dari sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib yang tidak menerima cara pelaksanaan hasil tahkim.

Timbulnya perang itu sebagian besar didasarkan kepada masalah politik, dan kepemimpinan atau Kekhalifahan, bukan menyangkut masalah ketauhidan dan keyakinan.

Jadi, inilah satu contoh dimana kalian wahabiyin Hadi ketika membaca Al-Qur'an itu hanyalah sampai ditenggorokan saja, yang kalian kejar hanyalah banyaknya juz, sehingga ketika membaca An Nisaa, 58-59 yang dihubungkan dengan Khilafah Islamiyah Ustmaniyah menjadi ngaco dan salah kaprah.

Kalian wahabiyin Hadi tidak memahami dan tidak mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT ketika membaca, menganalisa, mendalami, menghayati, apa yang terkandung dalam Al-Qur'an, yaitu dengan cara "wa rattil al Qur'an tartiila. Inna sanulqi 'alaika qaulan tsaqila".

Seterusnya pernah Ahmad Sudirman menyinggung dalam tulisan sebelum ini yaitu tentang adanya sikap dan tindakan dari Muhammad ibnu Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Muhammad bin Abdul Wahab dan keturunannya yang bersekongkol dengan pemerintah Kerajaan kafir Inggris salah satunya menghancurkan Dinasti Kekhilafahan Usmaniyah Turki sehingga hancur lebur hanya karena ingin mendirikan Kerajaan Saud yang tidak mencontoh kepada apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Jelas dengan adanya sikap dan perbuatan penentangan dan pemberontakan dari pihak kaum wahabi yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan keturunannya yang bersekutu dengan Muhammad Ibnu Saud dan keturunannya yang bersekongkol dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris menghancurkan Kekhilafahan Islam Usmaniyah guna membangun Kerajaan Saud, maka kalian itu semua adalah termasuk golongan khawarij yang dikutuk. Sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syihristani: "Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi'in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa" (Al-Milal wan Nihal, hal. 114)

Jadi berdasarkan dalil diatas membuktikan bahwa kalian kaum wahabi yang ikut bersama pimpinan Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, Abdullah bin Saud, Ibnu Saud melawan Kekhilafahan Islam Usmaniyah untuk keluar dan membentuk kerajaan Saudi adalah tidak ada bedanya dengan kaum khawarij.

Selanjutnya, kalian wahabiyin Hadi dan wahabiyin Rokhmawan masih belum memberikan jawaban atas pertanyaan dan pendapat dari saudara Teguh Harjito yang pernah dikemukakan di mimbar bebas ini menyangkut pendapat dan pemikiran saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung yang berjudul : "Nasehat untuk Salafiyyin" telah menulis: "Perkara yang tidak diragukan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama. Menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang melakukannya kecuali warosatul anbiya." (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari 2004)

Dimana masalah yang dikemukakan oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari inilah yang jadi persoalan dan dimasalahkan oleh saudara Teguh Harjito

Ketika saudara Teguh Harjito telah memberikan tanggapan terhadap apa yang dikemukakan oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari, yang hanya menekankan pada "pembantahan atas kesyirikan dan kesesatan, penghancuran syubhat-syubhat, dan pelenyapan fitnah syahwat, adalah merupakan amalan yang paling utama, menurut saudara Abu Hamzah Al Atsari.

Dimana yang dikemuakan oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung ini adalah merupakan paham wahabi alias paham salafi yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Paham wahabi inilah yang dibantah oleh saudara Teguh Harjito dengan menyinggung bahwa pengamalan paham wahabi alias salafi itu bukan amalan yang paling utama. Melainkan yang paling utama adalah jihad fi sabilillah. Sebagaimana yang di Firmankan Allah SWT: "tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang2 yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang2 yang duduk satu derajat. Kepada masing2 mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang2 yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, yaitu beberapa derajat daripada-Nya serta ampunan dan rahmat. Dan adalah Allah maha pengampun lagi maha penyayang." [QS. An-Nisaa':95-96] . "...jika kamu tidak berangkat berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan ditukarnya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudlaratan kepada-Nya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu." [QS. At-Taubah:39] . "...maka berperanglah pada jalan Allah. tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. muddah-mudahan Allah menolak serangan orang2 kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-Nya." [QS. An-Nisaa':84] . "Mereka rela berada bersama orang2 yang tidak pergi berperang (wanita, anak2, orang sakit dan prang tua), dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad. tetapi Rasul dan orang2 yang beriman bersama dia, berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang2 yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang2 yang beruntung." [QS. At-Taubah:87-88] " (Teguh Harjito, 30 September 2004).

Begitu juga menurut hadits Rasulullah saw: "ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling tinggi derajatnya?" Rasulullah Muhammad saw menjawab, "seorang beriman yang berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya." [Shahih Al-Bukhari 4/45] . "berdiri satu jam dalam medan pertempuran di jalan Allah lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun." [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Adii dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah (4/6165); Shahih Jami' As-Saghir no.4305] . "berjuang di jalan Allah selama pagi atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." [Shahih Al-Bukhari 4/50] . "ada ratusan ketinggian derajat di Syurga yang disediakan Allah kepada mereka yang bertempur di jalan-Nya. jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya membentang jauh seperti jarak antara langit dan bumi." [Shahih Al-Bukhari 4/48] . "ibadah yang paling tinggi nilainya dalah jihad." [hadits shahih dari Muadz bin Jabal, Shahih At-Tirmidzi] . "barangsiapa yang tidak berangkat berjihad, atau tidak menolong mempersiapkan perlengkapan bagi para mujahid, atau tidak menyantuni dengan baik keluarga para mujahid ketika mereka tengah berjihad, maka Allah pasti akan menimpakan kepadanya bencana besar pada hari pengadilan kelak." [hadits hasan, hadits marfu' dari Abu Umamah. Abu Daud 3/22; Ibnu Majah 2/923] " (Teguh Harjito, 30 September 2004).

Nah sampai detik ini tidak ada satupun jawaban dari wahabiyin Hadi, wahabiyin Rokhmawan dan saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung.

Apakah kalian tidak sanggup menjawabnya. Jawab dulu tanggapan dan sanggahan dari saudara Teguh Harjito, sebelum meloncat kepada hal-hal lain.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: "H4D!" hadifm@cbn.net.id
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad_sudirman@hotmail.com>, "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "gatra" <gatra@gatra.com>, <JKamrasyid@aol.com>, "KOMPAS" <kompas@kompas.com>, <koran@tempo.co.id>, <koransp@suarapembaruan.com>, <maop_004@yahoo.com.au>, "Matius Dharminta" <mr_dharminta@yahoo.com>, <mazda_ok@yahoo.com>, <mediacenter@sby-oke.com>, <mimbarbebas@egroups.com>, <mitro@kpei.co.id>, "MT Dharminta" <editor@jawapos.co.id>, <om_puteh@hotmail.com>, "Redaksi Waspada" <redaksi@waspada.co.id>, <redaksi@forum.co.id>, <redaksi@manajemenqolbu.com>, <redaksi@sinarharapan.co.id>, <rpidie@yahoo.com>, "warwick aceh" <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, <rokh_mawan@yahoo.com>, "H4D!" hadifm@cbn.net.id
Subject: DONGENG SEJARAH PICISAN AHLUL BID"AH AHMAD SUDIRMAN DI CERITAKAN KEMBALI
Date: Sun, 24 Oct 2004 17:18:08 +0700

Assalamualaikum wr wb

KELIHATAN JELAS DONGENG SEJARAH PICISAN AHLUL BID"AH AHMAD SUDIRMAN DI CERITAKAN KEMBALI DAN PUBLIKASIKAN DI : http://www.dataphone.se/~ahmad

Wahai Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman sebenarnya saya tahu mengapa Anda selalu menyebut-nyebut nama-nama seperti Rokhmawan, Tati, Sumitro dll di mimbar bebas ini padahal mereka hampir semuanya sudah tidak berkeinginan menanggapi igauan dan Cerita Dongeng Picisan Khilafah Islam Utmaniyah ataupun dongeng sejarah murahan Indonesia yang di sodorkan dan di publikasikan di http://www.dataphone.se/~ahmad .Semua hanya Dongeng yang dahulu dapat meninabobokan anak kita menjelang tidur, tapi karena Globalisasi Internet, TV Kabel dll Anak anak kita sudah tidak nyenyak lagi kalau kita ceritakan dongeng tersebut, mereka kebanyakan lebih senang di ceritakan kisah para nabi dan Khalifahtul Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali) ketimbang dongeng Ahmad Tersebut. Maklum lah anak anak sekarang lebih pintar dari anak dahulu, bukannya benar begitu wahai Alul Bid'ah Ahmad Sudirman.

Wahai Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman dari pada kamu mendongeng dan berbicara tidak menentu tanpa arah tujuan lebih baik gunakan untuk mengaji atau membaca Al-Qur 'an dan sedekah atau amal salih yang lainnya, ingat ini bulan yang suci yaitu bulan Ramadhan di mana pahala mengerjakan amalan shalih dilipat-gandakan dari pada bulan-bulan yg lain (masak kamu di bulan ramadhan ini hanya mampu membaca Al-Qur 'an 3 ruku' seperti hari-hari di bulan puasa). Apakah ini ustadz yang di maksud Allah ? Saya kira tidak. Mengapa bisa demikian ? jelas sekali di hari-hari yang lain dari bulan Ramadhan saja itu seorang ustadz hakiki minimal membaca Al-qur an 1/2 atau 3/4 juz. Atas dasar apa saya mengatakan demikian ? coba anda Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tanyakan masalah ini kepada ustadz yang sudah anda kenal baik di swedia sana maupun yang ada di Indonesia.

Nah apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, jelas mereka seorang ustadz yang hakiki akan membaca Al-qur 'an lebih dari 1 juz per hari.

Dan para generasi pendahulu kita seperti Imam Syafii mengatakan Al-qur 'an harus dikatamkan minimal 4 kali dalam setahun. Sedangkan Imam abu Hanifah maupun Imam Ahmad Bin Hambal mengatakan, Al-qur 'an sekurang-kurangnya dikatamkan 2 kali dalam satu tahun. Seorang tabi 'in bahkan juga pernah mengatakan mengatamkan Al-Qur 'an dalam setiap 40 hari berarti dia telah berlambat-lambat dalam hal kebaikan.

Nah tentunya hai Si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman para imam tersebut dalam mengamalkannya bisa mengatamkannya melebihi dari apa yang mereka ucapkan sedangkan yang diucapkannya itu jelas untuk orang Islam biasa seperti kita yang sudah lancar membaca Al-Qur 'an atau juga untuk para ustadz di sepanjang masa. Sekarang bagaimana dengan kamu Si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman ?.

Wahai Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman saya akan menjawab tentang keragauan anda mengenai apa yang dituliskan pak Rokhmawan bahwasanya itu khilafah Islam sudah runtuh sejak khilafah Ali bin Abu Tholib berakhir. Sebenarnya dalam uraian pak Rokhmawan sudah ada alasannya mengapa itu bisa terjadi tetapi mungkin karena memang anda emosional sekali terhadap pak Rokhmawan jadi andapun mengomentari dengan tulisan ini, " Jelas itu yang diungkapkan oleh wahabiyin Rokhmawan adalah tidak ditunjang oleh dalil daruri dan dalil nadhari".

Kemudian anda juga menantang pak Rokhmawan dengan tulisan kamu seperti ini, "Nah sekarang untuk wahabiyin Rokhmawan, atas dasar apa wahabiyin Rokhmawan menyatakan bahwa "Khilafah Islamiyah sudah runtuh sejak runtuhnya ke khilafahan Ali Bin Abu Tholib", coba tunjukkan dalil naqli dan aqlinya, jangan hanya berbicara dimulut dengan dorongan khawa nafsu saja. Dan jangan mengada-ada bid'ah".

Akan saya coba jawab dengan segala kemampuan yang ada. Sebenarnya apa yang kamu Si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman menampilkan dalil naqli demikian, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa, 58-59). Disini ada empat dasar yang asasi untuk membentuk Khilafah, pertama amanah, kedua keadilan, ketiga Ketuhanan dan keempat ulil amri".

Nah jelas menurut pak Rokhmawan cs pada saat khilafah Ustmaniyah di turki dan lain-lain jelas sudah menyimpang dari syarat-syarat khilafah. Di mana di khilafah Utsmaniah dll terdapat banyak khurofat, bid 'ah, pertempuran sesama Islam dll. Nah apakah menurut kamu si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman khilafah Islam itu hanya sekedar uud nya berdasarkan Al-Qur 'an dan Al-Hadist, kalau itu jawabannya memang benar tetapi ketahuilah bahwasanya Al-Qur 'an dan Al-hadist tidak pernah menyeru hambanya untuk melakukan bid 'ah, khurofat, pertempuran sesama muslim dll. Sedangkan mengapa anda si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tetap bersikeras menganggap khilafah Islam runtuh sejak runtuhnya khilafah Ustmani di turki atau khilafah Ustmani di Turki termasuk khilafah Islamiyah ? menurut pandangan saya dikarenakan pada masa itu ( khilafah ustmani di Turki dll ) hukum rajam, potong tangan dll telah dan berlangsung dalam pemerintahan tersebut.

Nah inilah letak kesalahpahaman umat islam yang mengatakan khilafah Ustmani dll termasuk khilafah Islam menurut kriteria seperti firman Allah sebagaimana tertera di atas.

Nah itu An-nisa' 58-59 seperti yang anda lampirkan saya kira cukup untuk di kaji bagaimana kondisi khilafah ustmani di turki dll dimana didalamnya banyak kesyirikan, kebid 'ahan (keshufian), khurofat, fitnah besar, keonaran dll.

Jelas apa yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama ibnu saud tidak bisa disalahkan 100 % apalagi sampai anda mengatakan khowarij. Alangkah lancangnya anda Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman yang telah berani mengatakan seorang ulama rabbani termasuk khowarij.

Berarti dengan anda mengatakan demikian di atas anda telah mencaci maki ulama rabbani. Memangnya anda lebih pandai dari Syeikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahab ? mana hormat anda terhadap ulama besar ?

Rasulullah bersabda kurang lebih , "Barangsiapa yang mencaci atau menghina ulama berarti bukan golonganku". Kemudian beliau juga bersabda, "barang siapa yang memuliakan ulama maka dia akan di muliakan Allah".

Tentunya yang dimaksud ulama oleh rosul adalah ulama rabbani (anti bid 'ah, anti khurofat, anti syirik, menguasai berbagai ilmu agama islam dengan baik dan benar serta bisa mengamalkannya dll).

Kemudian seandainya pada saat itu Syeikhul islam Muhammad bin Abdul Wahab beserta ibnu Saud tidak memerangi pemerintahan Ustmani di turki maka bisa diramalkan kesyirikan, kebid 'ahan dan ke kkhurofatan memenuhi dunia dan bisa dipastikan tidak ada manusia islam yang terbebas darinya.

Seharusnya kamu si ahlul bid 'ah Ahmad Sudirman harus berterimakasih dengan tumbangnya khilafah shufiyah di turki. Jika itu khilafah Ustmaniah di Turki masih subur sampai saat ini juga belum tentu kamu si ahlul bid 'ah Ahmad Sudirman tidak mengutamakan kesyirikan, kekhurofatan.

Walaupun khilafah Ustmani sudah tumbang tetapi kebid 'ahan dan ke ahwaan kamu masih terjaga dengan suburnya.

Justru pada saat khilafah Ustmani inilah yang lebih berbahaya dibandingkan di Saudi arab jaman sekarang atau di Indonesia.

Dengarkan penjelasan berikut ini.

Yang namanya khilafah Islam, semua kehidupan di negara tersebut baik hukum, politik, ekonomi, sosial dan budaya harus sesuai dengan Al-qur 'an dan Al-hadist. Sangat lucu sekali orang yang mengatakan suatu khilafah dikatakan khilafah Islam tetapi hanya melihat dari hukum rajam, potong tangan dll lah yang berlaku di negara tersebut sedangkan kriteria yang lainnya seperti kondisi sesama islam dalam keadaan damai dll dilupakan.

Nah pada saat itu jelas hukum Alloh telah diterapkan oleh khilafah Ustmani di Turki tetapi sayang hanya hukum yang berkenaan dengan jasmaniah saja seperti zina, mencuri dll.

Sedangkan kemaksyiatan yang lebih besar di biarkan bahkan di sebarluaskan keseluruh penjuru dunia (syirik, khurofat, bid 'ah dll).

Menurut hemat saya jelas orang-orang islam yang hidup pada pemerintahan khilafah Ustmani di Turki dll lebih berilmu di banding dengan orang-orang islam pada saat ini tetapi sangat lucu sekali dimana punya ilmu yang tinggi tetapi banyak melanggar peraturan Alloh yang lainnya seperti bid 'ah, khurofat, syirik dll.

Suatu saat ada sahabat yang bertanya kepada Rosululloh, siapakah makhluk yang paling buruk ?. Maka beliau bersabda, "janganlah kau tanyakan kepada saya mahkluk yang paling buruk ?. Makhluk yang paling buruk adalah ulama yang jahat, dlolim".

Pengertian jahat, dlolim disini bukan saja berarti yg merugikan orang lain tetapi termasuk juga perbuatan yang melanggar aturan Alloh terutama dalam hablum minalloh.

Sedangkan di Indonesia jelas hukum yang berlaku bukan hukum Islam melainkan hukum pancasila beserta UUD nya. Dan orang Islamnya pun ilmu agamanya kalah dibanding orang islam pada saat pemerintahan khilafah Ustmani.

Ya telah saya akui di Indonesiapun banyak kesyirikan, kebid 'ahan dan khurofat tetapi yang melakukannya sebagian besar adalah orang Islam yang tidak berilmu secara baik dan benar.

Jadi tidak bisa disamakan orang yang berilmu yg melanggar larangan Allah dengan orang yg tidak, belum berilmu yg melanggar larangan Allah. Dosanya jelas lebih berat orang yg berilmu tetapi melanggar larangan Alloh. Masak hukum Islam dicapur dengan khurofat, bid 'ah, syirik..entar jadi apa itu hukum Islam kalau dicampur campur. Sedangkan di Indonesia kan hukumnya belum hukum islam yaa kalau ada kesyirikan, khurofat, bid 'ah dll harap sedikit maklum tetapi bukan berarti kita membiarkannya. Justu Kita menentangnya lewat dakwah agar mereka itu semua sadar.

O...ya hampir lupa saya...hm...si ahlul bid 'ah Ahmad Sudirman kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dari saya beberapa waktu yang lalu ?. Begini pertanyaannya kemaren mengapa banyak amalan utama yang Allah cintai selain jihad ?. Terangkan alasan anda. Anda jangan membohongi publik, semua hadist yang berkenaan dengan amalan yang utama dan di cintai Allah sebagaimana yang saya utarakan kemarin adalah hadist shahih.

Dan ternyata tidak hanya satu amalan yang melebihi jihad ( perang ) seperti menyampaikan sunnah atau berdakwah, pahala orang sabar dan masih ada satu amalam lagi yang lebih besar pahalanya dari jihad bahkan di katakan di dalam tidak ada satu amalan lagi yang dapat melebihinya sehingga beramal seperti amalan tersebut. Nah sebagai PR anda cs silakan cari amalan apa yang dimaksud Rosululloh (yang terakhir ini).

Kenapa anda tidak mengomentari argumen mengenai pentingnya dakwah, amar ma'ruf nahi munkar termasuk menyampaikan sunnah dimana lebih mulia dari pada jihad ingat pahalnya 100 mati syahid.

Klau kamu Si Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman tetap tidak mau mengomentarinya berarti anda setuju atasnya.

Wassalam.

Hadi

hadifm@cbn.net.id
Jakarta, Indonesia
----------