Stockholm, 2 November 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SYAFII MA'ARIF KUTUK THAILAND TETAPI BUTA KUTUK RI YANG MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SYAFII MA'ARIF DUKUNG SOLIDARITAS RAKYAT PATANI UNTUK MERDEKA DAN KUTUK THAILAND TETAPI BUTA KUTUK RI YANG MENJAJAH ACHEH DAN MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH

"Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu, 27 Oktober 2004, di Jakarta, mengeluarkan empat pernyataan sikap yang mengutuk peristiwa tersebut. Pertama, mengutuk keras "aksi dehumanisasi" yang dilakukan aparat keamanan Thailand terhadap kaum Muslim di Thailand selatan dan menuntut agar tragedi itu disebutkan sebagai kejahatan kemanusiaan. Kedua, Muhammadiyah mendesak Pemerintah Thailand agar menindak keras dan kongkret aparat keamanannya yang telah melakukan pembantaian. Ketiga, mendesak Pemerintah Thailand bersikap arif dan bijaksana terhadap aspirasi masyarakat Muslim Thailand Selatan yang mengeluhkan tindakan diskriminatif dalam soal pendidikan dan pekerjaan. Keempat, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat keamanan Thailand agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan budaya dialog dalam menyelesaikan setiap kemelut sosial politik dalam negerinya. Pernyataan sikap PP Muhammadiyah ini dibuat sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan serta sebagai upaya mewujudkan tatanan dunia yang damai tanpa kekerasan." (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu, 27 Oktober 2004, di Jakarta)

Memang kelihatan dengan jelas itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu, 27 Oktober 2004, di Jakarta, mengeluarkan empat pernyataan sikap yang mengutuk peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Penjajah Thailand terhadap rakyat muslim Patani yang menuntut kemerdekaan atas Negeri Patani yang diduduki dan dijajah Thailand.

Pada awalnya Kerajaan Melayu Patani telah mencapai masa kejayaannya pada zaman pemerintahan raja-raja Perempuan (1584-1624). Kekuatan ekonomi Patani dan ditambah dengan kestabilan politik dalam negeri telah menjadikan Patani sebagai sebuah negeri yang kuat dan dihormati oleh negeri-negeri tetangga. Pengaruh politik Patani telah meluas ke beberapa kerajaan Melayu di Semenanjung, seperti Pahang dan Johor-Riau.

Dimana terbukti kekuatan Patani ketika Raja Ungu, Raja Patani VIII (1624-1635) memutuskan memutuskan hubungan politik dengan Siam, menggugurkan gelaran kebesaran Siam 'Pera Chau' (Phrao Cao) dan membatalkan tali pertunangan antara Raja Kuning, anaknya dan bakal Raja Patani, dengan Okaphaya Deca, anakGabenor Ligor. Kemudian Kerajaan Siam mencoba menyerang Patani tetapi gagal.

Pada tahun 1630, Kerajaan Patani dengan bantuan Johor dan Pahang membalas serangan Siam dan serangan Siam dapat dipatahkan. Tetapi kejayaan dan kekuatan Kerajaan Patani tidak kekal. Pada zaman akhir pemerintahan Raja Kuning (1635-88), Kerajaan Patani mulai merosot. Dimana Raja Kuning mulai berbaikan dengan Kerajaan Siam, dengan cara menghantar bunga Mas dan Perak ke Ayuthia pusat Kerajaan Siam, dan Raja Kuning menerima gelaran Phrao Cao. Ketika Raja Kuning meninggal, tidak ada pengganti raja yang berwibawa di Patani. Disaat Patani dalam menghadapi kelemahan dan kekacauan politik dalam Kerajaan, timbul perang antara Siam dengan Burma. Dimana secara tidak langsung telah melibatkan Patani yang menjadi daerah rebutan. Dalam perang antara Siam dengan Burma, Raja Phya Taksin dari Siam mampu mengalahkan Burma di Ayuthia pada tahun 1776. Setelah Siam berhasil mematahkan serangan Burma di Ayuthia, mulai Siam mengadakan ekspansi ke Negeri-Negeri di Semenanjung Selatan, seperti Ligor, Songkhla dan Pattalung. Karena Raja-raja dari Negeri-negeri tersebut minta perlindungan kepada Patani, maka pihak Kerajaan Siam mendesak Patani untuk menyerahkan Raja-raja tersebut.

Pada tahun 1779, Sultan Muhammad dari Patani dipaksa untuk membantu Raja Siam Phraya Chakri guna menentang Burma. Ketika Sultan Muhammad menolak permintaan Phraya Chakri, ia memerintahkan adiknya, Putera Surasi, yang dibantu oleh Phraya Senaphutan, Gabenor Pattalung, Palatcana dan Songkhla untuk menyerang Patani pada tahun 1785 (Gresick 1976, 127; Thadeus & Chadin Flood 1978, 15 dan Wenks 1968,101). Dalam perang itu Sultan Muhammad syahid pada tahun 1786. Setelah Patani jatuh ketangan Siam, Teungku Lamidin, Raja Bendang Badan, dilantik oleh Siam sebagai Raja Patani yang baru. Walaupun Teungku Lamidin dilantik oleh Siam, tetapi pada tahun 1791, Teungku Lamidin bersekutu dengan Raja Annam yang beragama Islam, Okphaya Cho So, dan bangkit melawan pasukan Siam di Tiba, Chanak, Songkhla dan Saiburi. Dalam perlawanan itu Teungku Lamidin dibantu oleh Sheikh Abdul Kamal, seorang ulama berasal dari Mekah, tetapi perlawanan Teungku Lamidin dapat dipatahkan.

Selanjutnya pihak Siam mengangkat Datuk Pengkalan sebagai Raja Patani. Tetapi sekali lagi pada tahun 1808 Datuk Pengkalan bangkit menentang Siam, walaupun akhirnya penentangan Datuk Pengkalan dapat dipatahkan oleh pasukan Siam. Seterusnya Siam membagi Patani menjadi tujuan wilayah Negeri. Setiap wilayah Negeri diangkat Raja-raja baru oleh Siam. (Bonney, R 1971, 79). Dimana ketujuh Raja-raja itu adalah Patani Tuan Sulung, Teluban Nik Dir, Nongchik Tuan Nik, Jalor Tuan Yalor, Jambu Nai Pai, Rangae Nik Dah, Reman Tuan Mansur. Kekuasaan Siam atas wilayah Patani ini diakui oleh pihak Kerajaan Inggris yang tertuang dalam Perjanjian Burney pada tahun 1826.

Nah itu sejarah ringkas diatas tentang Patani yang dikuasai, diduduki, dijajah Siam atau yang sekarang bernama Thailand, jelas menggambarkan bahwa rakyat Patani tetap terus berjuang untuk membebaskan Negeri Patani dari cengkraman kekuasaan penguasa Siam atau Thailand.

Jadi, apa yang terjadi pada hari Senin, 25 oktober 2004 di depan kantor polisi di distrik Takbai, Narathiwat terhadap para pengunjuk rasa yang memprotes penangkapan 6 warga Patani Muslim yang oleh polisi dituduh telah menyediakan senjata untuk para pejuang muslim Patani, tidak terlepas dari usaha dan perjuangan rakyat Patani yang sedang berjuang untuk memerdekakan negeri Patani yang sedang dijajah oleh penguasa Thailand. Sehingga 6 orang mati tewas kena tembakan, sedangkan 78 warga Patani lainnya tewas ketika sekitar 1300 orang Patani dijejalkan ke dalam 6 truk polisi yang tidak cukup mendapakan oksigen untuk bernapas ketika diangkut ketempat Penjara yang memerlukan 5 jam waktu perjalanan.

Nah atas kejadian itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif mengutuk peristiwa tersebut dengan empat kutukan, yaitu pertama, mengutuk keras "aksi dehumanisasi" yang dilakukan aparat keamanan Thailand terhadap kaum Muslim di Thailand selatan dan menuntut agar tragedi itu disebutkan sebagai kejahatan kemanusiaan. Kedua, Muhammadiyah mendesak Pemerintah Thailand agar menindak keras dan kongkret aparat keamanannya yang telah melakukan pembantaian. Ketiga, mendesak Pemerintah Thailand bersikap arif dan bijaksana terhadap aspirasi masyarakat Muslim Thailand Selatan yang mengeluhkan tindakan diskriminatif dalam soal pendidikan dan pekerjaan. Keempat, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat keamanan Thailand agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan budaya dialog dalam menyelesaikan setiap kemelut sosial politik dalam negerinya. Pernyataan sikap PP Muhammadiyah ini dibuat sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan serta sebagai upaya mewujudkan tatanan dunia yang damai tanpa kekerasan." (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu, 27 Oktober 2004, di Jakarta)

Tetapi, itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif tidak melakukan kutukan terhadap pihak RI yang telah menelan, merampok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh dari sejak 14 Agustus 1950 melalui Presiden RIS Soekarno dan dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Seharusnya itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif kalau memang ia seorang yang jujur dan adil, maka ia tidak hanya mengutuk penjajah Thailand yang menduduki dan menjajah Negeri Patani, melainkan juga ia seharusnya mengutuk penjajah RI yang menduduki dan menjajah Negeri Acheh dan membunuh rakyat muslim Acheh dari sejak setengah abad yang lalu sampai detik sekarang ini. Atau dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

PP Muhammadiyah Kutuk Tragedi di Thailand Selatan
Jakarta, Rabu

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengutuk keras perlakuan aparat keamanan Thailand sehingga mengakibatkan 84 warga Muslim di selatan negara itu.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu (27/10), di Jakarta, mengeluarkan empat pernyataan sikap yang mengutuk peristiwa tersebut.

Pertama, mengutuk keras "aksi dehumanisasi" yang dilakukan aparat keamanan Thailand terhadap kaum Muslim di Thailand selatan dan menuntut agar tragedi itu disebutkan sebagai kejahatan kemanusiaan.

Kedua, Muhammadiyah mendesak Pemerintah Thailand agar menindak keras dan kongkret aparat keamanannya yang telah melakukan pembantaian.

Ketiga, mendesak Pemerintah Thailand bersikap arif dan bijaksana terhadap aspirasi masyarakat Muslim Thailand Selatan yang mengeluhkan tindakan diskriminatif dalam soal pendidikan dan pekerjaan.

Keempat, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat keamanan Thailand agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan budaya dialog dalam menyelesaikan setiap kemelut sosial politik dalam negerinya. Pernyataan sikap PP Muhammadiyah ini dibuat sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan serta sebagai upaya mewujudkan tatanan dunia yang damai tanpa kekerasan.

Seperti diberitakan AFP dan Reuters, korban tewas yang sedikitnya 84 Muslim itu terjadi menyusul gerakan protes sekitar 1.500 Muslim di provinsi selatan Thailand tersebut. Enam tewas tertembak aparat keamanan dalam aksi langsung dan 78 lainnya dinyatakan Pemerintah Thailand akibat sesak napas saat diangkut menuju tahanan di Pattani.

Temuan forensik Pemerintah Thailand menyebutkan korban tewas akibat kesulitan bernapas, di antaranya ada yang patah tulang leher. Saat diangkut, sejumlah 1.300 tawanan itu ditumpuk-tumpukkan dengan tangan terikat ke atas enam truk militer dengan menempuh lima jam perjalanan antara Narathiwat dan Pattani.

Dengan jatuhnya korban-korban terakhir, sejak Januari lalu sudah 492 warga Muslim di provinsi-provinsi selatan Thailand tewas, termasuk akibat bentrokan dan pengepungan mesjid bersejarah di Porvinsi Pattani dengan 108 korban tewas April lalu.(Ant/Nik)
( http://www.kompas.com/utama/news/0410/27/110325.htm )
----------