Sandnes, 8 November 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ANTARA ACHEH DAN JAWA SEPERTI HABIL DAN QABIL
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

QABIL SYMBOL PEMBUNUH, PENINDAS DAN PENJAJAH

Tulisan ini tidak saya tujukan kepada Joko Riyanto (duplikat Rohkmawan) atau orang-orang semacamnya. Sebab mereka termasuk orang-orang yang sudah tertutup mata hati untuk memahami kebenaran Al-Qur-an (QS.56:79).

Tulisan ini saya tujukan kepada orang orang yang mempunyai mata hati yang benar (orang yang benar-benar beriman) dan orang-orang yang sedang mencari kebenaran, apakah dia orang Jawa atau orang apasaja. Kepada orang-orang yang saya sebutkan terachirlah, tulisan ini bermanfaat yang dicatat oleh malaikat pencatat.

Dimilis ini ada dua kutub pemikiran, yaitu kutub Habil dan kutub Qabil.

Yang pertama diwakili oleh Ustaz Ahmad Sudirman, Ahmad Latif, Husaini Daud dan lain-lain. Sedangkan kutub Qabil diwakili oleh Rohkmawan, Sumitro, Joko Riyanto (duplikat Rohkmawan) dan lain-lain.

Kedua kutub tersebut meyakininya bahwa kutub merekalah yang benar. Untuk menganalisa siapa yang benar diantara dua kutub tersebut mustahil dilakukan oleh kutub Qabil sebab mereka termasuk orang-orang munafiq, mereka tidak mampu mengambil kesimpulan yang benar terhadap apa yang telah diwahyukan Allah (QS. 56:79). Justru orang-orang yang berimanlah yang mampu menganalisa siapa yang benar dan siapa yang salah.

Ketika saya katakan mereka termasuk orang-orang yang tidak beriman atau munafiq, mereka bagaikan cacing kepanasan. Tentusaja mereka membantahnya menurut kemampuan yang ada pada mereka. Lihatlah bagaimana kalapnya mereka membantah ayat-ayat Allah dalam surah Al - Maidah, 44, 45 dan 47 dengan mengemukakan "hadist-hadist" sebagai argumentasinya.

Andaikata mereka tidak tertutup mata hatinya, pasti demikian mudahnya memahami bahwa Hadist mustahil dapat memansukhkan Al Qur-an. Saking membabibutanya untuk membela diri mereka memberi gelaran kepada ustaz Ahmad Sudirman dengan "si ahlul hawa dan bid-ah", padahal justru merekalah yang termasuk orang-orang yang bergantung kepada hawa nafsu serta penuh dengan bid-ah-bid-ah namun mereka tidak pernah sadar.

Qabil dan Habil adalah anak dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Kedua insan ini di didik oleh seorang Rasul Allah yang tidak lain adalah ayah mereka sendiri. Mereka di didik dalam agama yang sama metoda yang sama dan oleh guru yang sama. Namun hasilnya berbeda 180 derajat. Yang satu menjadi "Pembunuh" sementara yang lainnya menjadi "korbannya" Habil sebagai pewaris idiologi ayah nya, dibendung Qabil dengan menghabisi nyawanya. Tak ada alasan yang logis bagi Qabil untuk membenarkan tindakan kejinya kecuali demi nafsu shaithannya (QS.5:30).

Qabil adalah pembunuh manusia yang pertama didunia. Dia merupakan "simbolisasi" daripada pembunuh manusia dimanapun dan kapansaja. Membunuh seorang manusia seolah-olah telah membunuh manusia seluruhnya (kecuali haq disisi Allah) sementara memelihara seorang manusia seolah-olah telah memelihara manusia seluruh nya (QS.5:32)

Qabillah yang telah membawa manusia kepada dua kutub, yaitu kutub penindas / pembunuh / penjajah dan kutub yang tertindas / korban pembunuhan / korban penjajahan.

Dari dulu sampai sekarang kita dapat menyaksikan sepak terjang manusia-manusia "Qabil" terhadap manusia-manusia "Habil". Kini kita saksikan sendiri bagaimana sepak terjang Qabil-Qabil Hindunesia Jawa mewarisi Qabil-Qabil dari the White Dutchmen terhadap Habil-Habil Acheh - Sumatra, Maluku dan Papua Barat.

Hal ini sangat jelas kelihatan bagi orang-orang yang beriman namun sebaliknya sangat kabur bahkan gelap bagi orang-orang seperti Rohkmawan, Madza, Kamrasyid, Sumitro, Joko Riyanto (duplikat Rohkmawan), ulama-ulama gadongan (Bal-am) yang banyak sekali bergentayangan dalam system Thaghut Hindunesia -.Jawa dan lain-lain sebagainya.

Bagi orang-orang yang berafala ta`qilun dan berafala yatazakkarun, masih perlukah kita pertanyakan apakah Qabil-Qabil yang berse kongkol dalam system thaghut Hindunesia - Jawa itu, Islam atau bukan. Kalau mereka senantiasa mendakwakan dirinya sebagai Islam , logis atau tidak. Yang namanya pembunuh, penindas dan penjajah masih layakkah kata "Islam" kita sandarkan kepada mereka?.

Andaikata Rohkmawan cs berdalih bahwa mereka tidak termasuk golongan "Qabil" (baca system Jawa) dan juga tidak termasuk dalam golongan "Habil"(baca system Acheh yang belum exis), mau kemanakah mereka?. Adakah golongan yang lain diantara yang "haq" dan yang "bathil"? Andaikata ada bukankah golongan tersebut termasuk dalam golongan yang bathil juga ? (baca Al Qur-an surah Al Mujadilah). Bagaimana mungkin mereka (baca Rohkmawan cs) membela penjajah di milis ini kalau mereka tidak termasuk bagian dari penjajah itu sendiri, mungkinkah Orang Islam membela penjajah matimatian macam Rohkmawan cs? Betapa sesatnya.

Andaikata duplikat-duplikat Rohkmawan tidak tertutup mata hati, takperlu demikian lama berdebat dengan ustaz Sudirman, tentu mampu menganalisa kenapa "GAM" muncul di Acheh - Sumatra, yang umumnya mereka berasal dari anak-anak, yang orang tuanya telah dibunuh oleh sipa-i-Jawa. Kini setelah mereka menjadi pemuda, mampu memahami bahwa dengan jalan memanggul senjatalah "Qabil-qabil" itu dihalau dari tanah Rencong, bukan dengan airmata. Mereka berkata:" Buatlah apa yang kalian suka hai penjajah Hindunesia - Jawa, tapi ingat! kami orang Acheh - Sumatra memiliki character yang unik yaitu: "The more you fight them, the more they will fight you back" (semakin banyak kalian membunuh mereka, semakin kuat perlawanan yang akan kalian terima).

Ingatlah, sesungguhnya orang orang Acheh yang bersatupadu dalam GAM lah yang benar-benar orang Acheh yang sadar sebagai manusia yang merdeka. Merekalah yang tidak dapat di perbudak bangsa lain. Mereka memilih mati daripada tunduk dibawah penjajah yang munafiq itu. Kalian boleh saja membunuh mereka tapi ingatlah kalian takakan pernah merasakan aman mulai di dunia ini sampai di akhirat kelak, ingatlah hai penjajah munafiq !!!

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra.

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia.
----------