Stavanger, 25 November 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MASALAH PENYEMBELIHAN BANGSA ACHEH - DAYAK DAN NASIONALISME
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

MENYOROT MASALAH PENYEMBELIHAN BANGSA ACHEH - DAYAK DAN NASIONALISME

Ketika penyembelihan massal jutaan Ummat Komunis, para buruh Tani yang miskin dan buruh Fabrik yang tidak cukup makan oleh ABRI-TNI/POPLRI, Tentara Nasional Penjajah Indoneisa Jawa atau si Belanda Hitam, maka yang kuat meneriaki kejahatan itu diluar negeri adalah mereka-mereka dari Partai Komonis Tan Malaka atau Adam Malik atau Leon Trotskys, dari Perancis dan Ialia, tetapi tidak ada suara apapun dari Partai Komunis Tiongkok-China, walaupun ramai mereka para kamerat-kamerat birokratis Partai Komunis Indonesia Jawa sedang berkeliaran disana, termasuk Ibrahim Isa Bijlmer.

Dulu, semasa Soekarno, si Penipu licik berkuasa, dia merestui Partai Komunis Indonesia Jawa menggencet Partai Komunis Tan Malaka atau Murbaisnya Adam Malik, sebaik saja mereka selesai mengadakan Kongress Nasional Partai Murbais itu di Gedung Olah Raga (Gelora) di Medan.

Bagi saya, ketika menanggapi sebuah tulisan saudara Zaidi Ahmad al Bakir, mengenai keheranannya mengapa tidak seorangpun yang masih ada di Tiongkok-China, di Perancis, di Belanda, di Swedia dan dimana saja para kamerat-kamerat dari Birokratis Senioran Partai Komunis jenjang atas juga tidak mau menarik bendera setengah tiang, sebagai protes atau solidaritas tahunan terhadap kejahatan para Jenderal-Jenderal ABRI.-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam dengan Panca Sila Saktinya yang telah menyembelih 1.000.000 hingga 3.000.000 jiwa Ummat Komunis, para buruh Tani yang miskin dan buruh Fabrik yang tidak cukup makan?

Suharto Kleptokracy diantaranya telah memakai tangan Kolonel Sarwo Eddy, bapak mertua Susilo Bambang Yudhyono untuk melakukan kejahatan yang terkutuk itu, khususnya di Jawa Tengah dan umumnya diseluruh Pulau Jawa.

Tangan Sarwo Eddy lah yang menjagal kepala Dipo Negoro Aidit dan kemudian menenteng kepala itu ke dalam Istana Merdeka! (Suara Angkatan Bersenjata)

Yang beginipun tidak juga bisa menggerakkan tangan Sobron Aidit untuk menggerekkan bendera setengah tiang atas prilaku bapak mertua Susilo Bambang Yudhoyono keatas korbannya saudara lelakinya itu, sebagai menunjukkan solidaritas! Dia pun asyik selalu dengan hidangan-hidangan yang melupakan, apalagi dengan hidangan kepala ikan!

Bukankah ini, kesemua ini tidak terhalang karena Nasionalisme? Sobron Aidit terhalang kerana tiga kilo besarnya kepala ikan?

Juga dulu, ketika Soekarno si Penipu licik berkuasa dia juga telah menyembelih lebih 2.000.000 Ummat Islam Nusantara, tetapi Tengku Hasan di Tiro bangun berdiri menunjukkan solidaritasnya, walaupun Dipo Negoro Aidit dari Pulau Bangka-Belitung menonggakkan kepalanya seperti gaya Farah Aidit dari Somalia-Afrika Horn!

Sokarno si Penipu licikpun pernah memakai tangan (Letnan Kolonel) Suharto Kleptokracy dengan serdadu-serdadunya anak-anak komunis aliran spirituail Mbah Suro, menyembelih ribuan bangsa Acheh dari Acheh Pidie hingga ke Acheh Utara di tahun 1958-1959. Nah ketika itu mengapakah tidak ada solidaritas, sejak 17 tahun sebelum Negara Acheh Sumatra diproklamsikan kembali pada 4 Desember, 1976 atau sebelum dikumandangkan kembali Nasionalisme Acheh? Tetapi Nasionalismenya Islam Indonesia!

Korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru adalah sebab Soekarno si Penipu licik dan Dipo Negoro Aidit dengan Angkatan ke V-nya mau membariskan Ibrahim Isa Bijlmer dalam barisan Dewan Jenderalnya dari Dwi Negara Tiongkok China - Indonesia Jawa atau mengkomunis-Internasionalismekan!

Pelanggaran HAM sifatnya adalah Internasionalisme! Komunis dengan cita-cita manifestonya juga Internasionalisme! Aguswandi pun saya kira hendak menghumanis-internasionalismekan.

Makanya kalaulah saudara Aguswandi dari London coba membuat gapaian mengenai penderitaan Acheh dengan Palestina itu adalah mungkin karena saudara Aguswandi sendiri sedang tidak terlihat kepada struktur sejarah yang berbeda.

Nasioanalisme Acheh, telah mula terbina secara kulturil sejak pemerintahan Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528) hingga hari ini, atau sebaik saja putra-putri Acheh selesai di-azan atau diqamatkan, mulai dari buaian hingga rebah syahid di medan prang ketika mempertahankan nasionalisme Acheh dan membela generasinya sebagaimana yang sedang dilakukan oleh ASNLF, Acheh Sumatra Nasional Liberation Front atau GAM , Gerakan Acheh Merdeka bersama-sama TNA, Tentara Negara Acheh, tentara reguler Negara Acheh Sumatra!

Sedangkan nasionalisme Palestina baru dimulai sejak 1948! Walaupun background sejarahnya lebih jauh kebelakang.

Jadi kalau kita akan ikut membicarakan masalah Palestina sudah pasti kita juga perlu membicarakan masalah Israel. Makanya ia akan menjangkau jauh, dan akan sungguh sangat menarik lagi fantastik, sedangkan saya, dalam pedekatan ini, lebih suka membatasi diseputaran kita saja, apalagi saudara Ibrahim Isa Bijmerpun mau seperti itu, seperti maunya J.J Kusni sang putra Dayak yang tidak tertarik dengan Pan Dayak Borneo Merdeka, yang tidak tertarik untuk menjadi Tuan di Pan Dayak Borneo Merdeka, tetapi tertarik melihat Jawa Madura menjadi Raja disana, terutama di Pelangka Raya?

Adakah saudara Ibrahim Isa Bijlmer tidak pernah coba memberikan solidaritas untuk membandingkan sedikit penderitaan bangsa Pan Dayak Borneo Merdeka yang disembelih melebihi 3000 jiwa di Pontianak dan sekitarnya ?

Begitu juga adakah saudara Ibrahim Isa Bijlmer dan JJ Kusni ikut merasakan penderitaan ketika gerakan penyembelihan dan pembersihan digelombang kedua setelah sebahagian Jawa Madura dikapalkan?

Adakah masalah kemanusiaan ini juga dipagari nasionalisme ke-Indonesia Jawa-an itu?

Lagi-lagi saya katakan bahwa masalah kemanusiaan bukanlah dapat dipagari oleh jenis apapun nasionalisme itu. Kemanusian itu, sekali lagi sifatnya internasionalisme-universil!

Saya coba menanyakan kepada saudara Ibrahim Isa Bijlmer atau J J Kusni: Sejauh dan sedalam manakah anda pernah mempelajari struktur kemanusiaan dan kemanusiannya, sehingga begitu sulit melemparkan solidaritas keatas penderitaan bangsa Acheh, Maluku atau Papua untuk disamakan dengan Palestina, sehingga begitu sukar memahami apa sebenarnya yang sedang dilakarkan oleh saudara Aguswandi yang mula meng-amnestykan jiwanya, walaupun ianya masih muda lagi? Terima kasih untuk semua yang berjiwa sama!

Saudara Ibrahim Isa Bijlmer, sebenarnya apa yang sedang dialami oleh bangsa Acheh hari adalah sama seperti apa yang dibayangkan oleh saudara JJ Kusni dalam tulisannya yang beruntun dan berkejar-kejaran dengan tulisan anda: Bangsa Acheh dan bangsa Pan Dayak Borneo mau menjadi Tuan di Tanah nenek moyangnya! Bangsa Acheh mau bebas-merdeka sama seperti bangsa Pan Dayak Borneo , sama seperti bangsa Poso, sama seperti bangsa Minahasa-Gorontalo, sama seperti bangsa Maluku, sama seperrti bangsa Papua dari penjajahan Negara Kolonialis Repulblik Indonesia Jawa!

Kesamaan untuk merdeka itulah maka mereka punya kesamaan penderitaan kemanusiaannya, sama seperti penderitaan kemanusiaannya Palestina!

Mengapakah Ibrahim Isa Bijlmer menjadi berkontradiksi dengan JJ Kusni, seperti JJ Kusni juga berkontradiksi dengan dirinya sendiri sebagai anak Pan Dayak Borneo Merdeka untuk memperjuangkan nasib bangsanya sendiri-selfdetermination rights, sebagaimana yang dipaparkan sebagai bahan diskusi setiap harinya oleh Ustadz Ahmad Sudirman, sehingga Susilo Bambang Yudhoyono meletakkan ahli Hukum Ketatanegaraannya pula sebagai Mensesneg Prof Yusri Ihza Mahendra?

(bersambung ke Plus + I Masalah Penyembelihan Bangsa Acheh-Pan Dayak Borneo Dan Nasionalisme).

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
Norway
----------