Stockholm, 26 November 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MBAH LIM ITU SYAFII MA'ARIF TIDAK PERNAH MENGUTUK RI YANG MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS MBAH LIM ITU SYAFII MA'ARIF TIDAK PERNAH MENGUTUK RI YANG MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH

"Assalaamu'alaikum. Terima kasih mas, atas balasannya. Yang saya persoalkan bukanya bagaimana Pak Syafii, tetapi alur logika artikel yang anda buat. Di artikel anda bilang Pak Syafii diam. Padahal jelas sekali tidak diam (yang mas akui juga melalui email ini), meskipun menurut mas hanya kulitnya saja. Tapi tidak diam kan? Isi artikelnya mas kan menceritakan secara penjang lebar tentang pendapat Pak Syafii mengenai kasus Thailad itu. Namun secara tiba-tiba kesimpulan dari artikel itu adalah bahwa Pak Syafii diam soal Aceh. Jadi alur logika artikelnya terputus. Harapan pembaca kan Mas menulis argumen tentang Pak Syafii dan Aceh secara jelas. Jadi logikanya tidak melompat. Memang, saya akui, mas berniat membawa pembaca menyimpulkan bahwa Pak Syafii diam soal Aceh, tetapi batang tubuh artikelnya mas tidak mendukung itu. Jadi, dalam dunia penulisan, artikelnya mas memiliki ada semacam Jumping." (Mbah Lim , ziembah2003@yahoo.com , Wed, 24 Nov 2004 02:17:29 -0800 (PST))

Baiklah Mbah Lim di Yogyakarta, Indonesia.

Mbah Lim kalau belajar ilmu logika atau ilmu mantik itu harus benar. Apa yang dilontarkan oleh Mbah Lim: "Yang saya persoalkan bukanya bagaimana Pak Syafii, tetapi alur logika artikel yang anda buat. Di artikel anda bilang Pak Syafii diam. Padahal jelas sekali tidak diam (yang mas akui juga melalui email ini), meskipun menurut mas hanya kulitnya saja. Tapi tidak diam kan?"

Itu jelas kelihatan bahwa Mbah Lim memang tidak bisa menerapkan ilmu logika atau ilmu mantik berdasarkan apa yang telah Ahmad Sudirman sodorkan. Mengapa ?

Karena dari apa yang telah Ahmad Sudirman kemukakan tentang kutukan Syafii Ma'arif yang ditulis pada 2 November 2004 dimana isinya sebagai berikut:

"Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif mengutuk peristiwa tersebut dengan empat kutukan, yaitu pertama, mengutuk keras "aksi dehumanisasi" yang dilakukan aparat keamanan Thailand terhadap kaum Muslim di Thailand selatan dan menuntut agar tragedi itu disebutkan sebagai kejahatan kemanusiaan. Kedua, Muhammadiyah mendesak Pemerintah Thailand agar menindak keras dan kongkret aparat keamanannya yang telah melakukan pembantaian. Ketiga, mendesak Pemerintah Thailand bersikap arif dan bijaksana terhadap aspirasi masyarakat Muslim Thailand Selatan yang mengeluhkan tindakan diskriminatif dalam soal pendidikan dan pekerjaan. Keempat, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat keamanan Thailand agar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan budaya dialog dalam menyelesaikan setiap kemelut sosial politik dalam negerinya. Pernyataan sikap PP Muhammadiyah ini dibuat sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan serta sebagai upaya mewujudkan tatanan dunia yang damai tanpa kekerasan." (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif, Rabu, 27 Oktober 2004, di Jakarta)

Kemudian Ahmad Sudirman menyatakan lagi:

"Tetapi, itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif tidak melakukan kutukan terhadap pihak RI yang telah menelan, merampok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh dari sejak 14 Agustus 1950 melalui Presiden RIS Soekarno dan dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Susilo Bambang Yudhoyono." (Ahmad Sudirman, 2 November 2004)

Nah ternyata sekarang, kalau itu Mbah Lim paham ilmu logika atau ilmu mantik, maka dari dua pernyataan Amad Sudirman diatas, akan bisa disimpulkan yaitu "Syafii Ma'arif kutuk Thailand tetapi buta kutuk RI yang membunuh rakyat muslim Acheh"

Tetapi karena Mbah Lim memang buta ilmu mantik atau logika, maka apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman diatas tidak melekat dalam otak kepala Mbah Lim. Mengapa ?

Karena, sudah jelas, tidak pernah itu terjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif melakukan kutukan terhadap pihak RI yang telah menelan, merampok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh dari sejak 14 Agustus 1950 melalui Presiden RIS Soekarno dan dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Pernahkah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif mengutuk Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono yang melalui Inspres No.4/2001, Inspres No.7/2001, Inspres No.1/2002, Keppres No.28/2003, Keppres No.43/2003, Keppres No.43/2004, dan PP No.2/2004 melakukan pembunuhan terhadap rakyat muslim Acheh ?

Sampai detik ini Ahmad Sudirman belum pernah mendengar itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma'arif mengutuk pihak RI melakukan pembunuhan terhadap rakyat muslim Acheh, dengan alasan pihak RI yang telah menelan, merampok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh dari sejak 14 Agustus 1950 melalui Presiden RIS Soekarno.

Nah inilah yang Ahmad Sudirman katakan: "Syafii Ma'arif kutuk Thailand tetapi buta kutuk RI yang membunuh rakyat muslim Acheh".

Jadi, Mbah Lim coba belajar lagi apa itu ilmu mantik atau ilmu logika, biar tidak keseleo lagi ketika menanggapi tulisan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 25 Nov 2004 20:02:45 -0800 (PST)
From: Mbah Lim ziembah2003@yahoo.com
Subject: Re: MBAH LIM ITU SYAFII MA'ARIF BICARA ACHEH HANYA KULITNYA SAJA
To: ahmad@dataphone.se

Assalaamu'alaikum

Terima kasih mas, atas balasannya.

Yang saya persoalkan bukanya bagaimana Pak Syafii, tetapi alur logika artikel yang anda buat. Di artikel anda bilang Pak Syafii diam. Padahal jelas sekali tidak diam (yang mas akui juga melalui email ini), meskipun menurut mas hanya kulitnya saja. Tapi tidak diam kan?

Isi artikelnya mas kan menceritakan secara penjang lebar tentang pendapat Pak Syafii mengenai kasus Thailad itu. Namun secara tiba-tiba kesimpulan dari artikel itu adalah bahwa Pak Syafii diam soal Aceh. Jadi alur logika artikelnya terputus.

Harapan pembaca kan Mas menulis argumen tentang Pak Syafii dan Aceh secara jelas. Jadi logikanya tidak melompat.

Memang, saya akui, mas berniat membawa pembaca menyimpulkan bahwa Pak Syafii diam soal Aceh, tetapi batang tubuh artikelnya mas tidak mendukung itu. Jadi, dalam dunia penulisan, artikelnya mas memiliki ada semacam Jumping.

Nasrun minallah wa fathun qoriib.
Wassalaamu'alaikum.

Salam
Mbah Lim

ziembah2003@yahoo.com
Yogyakarta, Indonesia
----------