Stockholm, 29 November 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN MAZDA ITU YUDHOYONO TIDAK MENGAKUI HUKUM ALLAH DIJADIKAN SUMBER HUKUM DI RI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

WAHABIYIN MAZDA ITU SOEKARNO, SOEHARTO, BJ HABIBIE, ABDURRAHMAN WAHID, MEGAWATI DAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO TIDAK MENGAKUI DAN TIDAK MENERIMA DENGAN PENUH KESADARAN HUKUM ALLAH DIJADIKAN SUMBER HUKUM DI RI

"Jika mereka memperhatikan dengan seksama penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu'anhu yang lalu, akan nampak bagi mereka bahwa sesungguhnya orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tidaklah memiliki makna kafir secara mutlak yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun tergantung dari keadaan mereka ketika menjadikannya sebagai hukum selain dari hukum Allah tersebut. Apakah mereka melakukan hal tersebut karena menganggap halal berhukum dengan selain hukum Allah atau disebabkan karena mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka?!. Inilah penjelasan tafsir mengenai surat Al Maidah: 44, dari penjelasan ini maka jelaslah runtuhnya dalil manhaj khawarij dari para pemberontak dan orang-orang yang sepemikiran dengan mereka yang mana dalam hal ini saya tujukan kepada para gembong NII dan GAM serta orang-orang yang bergabung dan sepemikiran dengan mereka" (Mazda , mazda_ok@yahoo.com , Sun, 28 Nov 2004 02:20:08 -0800 (PST))

Baiklah wahabiyin Mazda di Surabaya, Indonesia.

Kelihatan itu wahabiyin Mazda yang ngaku datang dari Acheh, terus berusaha dengan mencomoti paham wahabinya untuk dipakai sebagai benteng guna menutupi Susilo Bambang Yudhoyono dengan lembaga Eksekutifnya, Agung Laksono dengan lembaga Legislatif DPR-nya, dan Hidayat Nurwahid dengan lembaga Legislatif MPR-nya dari ketekadan dan keyakinan mereka untuk tidak mengakui dan tidak mengesahkan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah diterapkan dalam kehidupAn kenegaraan di RI ini.

Jelas kelihatan bahwa itu Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid telah secara sadar dan penuh tanggung jawab dan membenarkan atau menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah SWT.

Dan jelas inilah yang benar-benar telah menjerumuskan mereka kelembah kekafiran yang menjurus kepada pengeluaran dari jalur Islam.

Itu Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid benar-benar seperti apa yang telah digariskan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw sebagaimana yang di Firmankan Allah SWT: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu. Dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS An Nisa, 4: 115).

Nah sekarang untuk membuktikannya, apakah itu Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid masuk kedalam golongan orang-orang yang mengangkat, menjalankan hukum dan sumber hukum Allah SWT dan Rasulnya, atau golongan yang "yattabi' ghaira sabiilil mu'miniin" (mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin), yaitu orang-orang yang tidak ingin dan dengan kesadarannya tidak mengangkat, menegakkan, menjalankan, menerapkan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw dalam kehidupan bernegara dan berpemerintahan di RI ini ?

Dari fakta, bukti, dan hukum yang berlaku di RI menunjukkan bahwa itu Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid adalah orang-orang yang dari ketekadan dan keyakinan mereka untuk tidak mengakui dan tidak mengesahkan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah diterapkan dalam kehidupan kenegaraan di RI ini. Atau dengan kata lain Susilo Bambang Yudhoyono, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid adalah orang-orang yang tidak ingin dan dengan kesadarannya tidak mengangkat, menegakkan, menjalankan, menerapkan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw dalam kehidupan bernegara dan berpemerintahan di RI ini.

Jadi wahabiyin Mazda yang ngaku dari Acheh ini, kalian hanyalah mencaplok apa yang dituliskan oleh ustazd kalian saja tanpa kalian mampu melihat secara mendalam dalam penerapannya dalam kehidupan dalam negara dan pemerintah yang kalian sekarang hidup didalamnya.

Kalian wahabiyin Mazda hanya pandai mengutip dan mengkopi pendapat-pendapat ulama wahabi kalian tetapi kalian buta tidak tahu dan tidak paham bagaimana menerapkan itu kata-kata ulama wahabi kalian itu.

Lihat dan perhatikan apa yang terjadi di tempat kaum wahabi sendiri di Saudi, apakah keturunan Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab itu adalah tetap memiliki komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah, padahal dalam kenyataannya itu penguasa Saudi sudah sedemikian terjerumus bersama penguasa kafir George W Bush pembela Israel menghancurkan kaum muslimin dan Negara Islam Afghanistan, Negara Irak, dan juga secara langsung terhadap rakyat Palestina. Apakah model penguasa yang demikian yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin, para Khilafah dari bani Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, dan Utsmaniyah. Apakah penguasa model keturunan Ibnu Saud dan penguasa Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dari negara kafir RI yang kalian wahibiyin Mazda anggap memiliki komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah ?

Jangan mimpi wahabiyin Mazda yang ngaku datang dari Acheh. Kalian memang telah terjerumus kedalam jurang paham wahabi dan telah teracuni gumpalan racun sistem thaghut pancasila, sehingga kalian tidak mampu lagi melihat apa yang terjadi dan menimpa dalam lingkungan para penguasa negara kafir RI, dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai masalah konflik Acheh.

Jelas wahabiyin Mazda, itu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono adalah para penguasa negara kafir RI yang dengan penuh kesadaran, dan tidak mengangkat dan tidak menjalankan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw dalam kehidupan bernegara dan berpemerintahan di RI ini. Mereka menetapkan, memutuskan bahwa aturan, hukum, undang-undang yang mereka buat adalah lebih benar dan bisa diterima ketimbang aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Coba wahabiyin Mazda yang nagku datang dari Acheh, tunjukkan di mimbar bebas ini bahwa itu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono adalah komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah ?

Sampai kiamat kalian wahabiyin Mazda tidak akan mampu memberikan jawabannya yang benar dan pasti, bahwa itu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono adalah komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berpemerintahan di RI ini.

Jadi, wahai wahabiyin Mazda dari kaum wahabi Saudi yang pandainya hanya mengkopi dan mengkutip apa yang ustazd kalian katakan dan tuliskan, tetapi kalian buta dalam penerapannya, sehingga kalian dengan seenak udel sendiri terus saja menutupi itu kelakuan Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono dan para penguasa kerajaan Saud yang telah menyimpang dan tidak lagi komitmen terhadap apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah penerusnya dalam hal penegakkan, pengangkatan, pelaksanaan, dasar dan sumber hukum Islam.

Kalian wahai wahabiyin Mazda, itu kalau kalian hanya melihat dan hanya bisa menerapkan apa yang dicontohkan Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin kulitnya saja, maka memang wajar kalian akan terjerumus kedalam jurang kepicikan, kesesatan, dan tersungkur kedalam lumpur sistem thaghut pancasila dan sistem thaghut yang dibuat oleh para penguasa raja Ibnu Saud dari kerajaan Saud yang telah merusakkan sendi-sendi persatuan umat Islam di seluruh dunia, karena raja-raja kalian dari kaum wahabi telah dengan ketalnya bersekongkol dan bersekutu dengan pemimpin thaghut Geoge W. Bush untuk menghancurkan negara Islam Afghanistan, Negara Irak, dan Palestina dengan mendukung kebijaksanaan Israel yang dibuat oleh George W. Bush.

Kalian wahabiyin Mazda terus saja berputar-putar sekitar QS Al-Maidah, 5: 44 untuk dikutak-katik guna dipakai sebagai alat pelindung dan penutup para penguasa Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang telah secara jelas dan penuh kesadaran dan memakai pemikirannya serta dengan usaha yang setengah mati untuk tidak komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah melalui cara pembuatan, penetapan, pengesyahan aturan, hukum, undang-undang yang tidak didasarkan dan tidak diacukan kepada aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT.

Selanjutnya itu kalian wahabiyin Mazda menyodorkan pendapat ulama kaum wahabi kalian: "Barangsiapa yang amalannya kufur karena menyelisihi syariat dan sesuai dengan apa yang diyakini dalam hatinya berupa kekafiran, maka itu kufur i'tiqadi yang tidak diampuni Allah dan dikekalkan pelakunya dalam neraka selamanya." (Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Nah sekarang itu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono ketika menetapkan dan memutuskan aturan, hukum, undang-undang yang tidak menurut apa yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya, dan mereka bersikeras dan membangkang, serta dengan penuh kesadaran untuk tidak menerima dan tidak mau mengakui bahwa aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya untuk diterapkan, dan dijalankan dalam kehidupan bernegara, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw dalam Daulah Islamiyah petama di Yatsrib, dan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam Khilafah Islamaya. Itu kalau kalian wahabiyin Mazda konsekuen dengan ulama kalian, maka itu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono telah berusaha dengan tekad dan hatinya untuk tidak menegakkan, tidak mengangkat, tidak menjalankan aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dan Rasul-Nya. Nah itulah mereka yang digolongkan kedalam kufur i'tiqadi. Mengapa ?

Karena kalau memang Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono itu menyadari, konsekuen, komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah, maka mereka akan segera mengangkat, menjalankan, menerapkan, dan melaksanakan aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam kehidupan roda pemerintah negara RI. Tetapi kenyataannya tidak demikian, bahkan mereka makin membangkang dan keras kepala. Mereka justru meleparkan aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dan Rasul-Nya ketempat sampah dan digantikan dengan aturan, hukum, undang-undang gombal yang mengacu kepada sistem thaghut pancasila hasil kocekan jamu gado-gado penipu licik Soekarno.

Terakhir, kalian wahabiyin Mazda yang ngaku datang dari Acheh, kalau kalian hanya pandai sekedar mengutip dan mengkopi cerita ulama-ulama kaum wahabi Saudi kalian, tetapi kalian buta dalam penerapannya, maka akibatnya kalian wahai wahabiyin Mazda akan makin tersungkur kedalam kesesatan. Dan celakanya kalian memang sekarang telah tersungkur dan terjerumus kedalam sistem thaghut pancasila, sehingga kalian bingung untuk keluar dari sistem thaghut pancasila hasil kocekan Soekarno perampok, penjarah, pencaplok, dan penjajah di Negeri Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 28 Nov 2004 02:20:08 -0800 (PST)
From: maz da mazda_ok@yahoo.com
Subject: KERANCUAN SEPUTAR BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH
To: ahmad@dataphone.se

BISMILLAHIRRAHMANIROHIM

KERANCUAN SEPUTAR BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH
Mazda

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya meminta pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri dan kejelekan-kejelekan amalan kami, dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah tidak akan ada yang bisa menyesatkannya dan barang siapa disesatkan Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada-Nya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak yang wajib disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun sesudah itu:

Setelah membaca tulisan Ahlul Bid'ah wa Ahlul Ahwa' Muhammad Al Qubro beserta yang species dengannya dalam menyikapi risalah yang telah saya kirim beberapa waktu yang lalu, terlihatlah bagaimana sebenarnya barisan para pemberontak ini dengan kebakaran jenggot mencoba membela diri dan keyakinan serta pemikiran sesatnya yang telah menyebabkan jatuhnya korban dikalangan kaum muslimin dengan sia-sia.

Segala pemikiran yang mereka tuangkan baik dalam tulisan Muhammad Al Qubra maupun Ahmad Sudirman dan juga para pentolan NII lainnya dan juga para pentolan GAM yang bersembunyi dibawah kolong dan ketiak negeri-negeri kafir, bermula dari penafsiran ayat-ayat Al Qur'an yang berkenaan dengan berhukum dengan selain hukum Allah, yang dalam risalah ini kita bahas firman Allah Ta'ala:

"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir." (QS Al Maidah: 44).

Penjelasan mufradat ayat "alkafirun". Asal makna kufur adalah menutupi sesuatu. Dikatakan petani itu "kafir" karena dia menutupi biji (dengan tanah). Dan dinamakan malam dengan "kafir" karena ia menutupi segala sesuatu (dengan kegelapan). Pengertian kufur secara bahasa ini seperti yang terdapat dalam surat Al Hadid ayat 20.

Adapun makna secara istilah syar'i adalah bahwa kekafiran itu terbagi menjadi dua:
a. Kufur Akbar yaitu menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka.
b. Kufur Asghar yaitu kekafiran yang menyebabkan pelakunya berhak mendapatkan ancaman tanpa dikekalkan (dalam neraka). (Al Qaulul Mufid, hal 103)

Sebab Turunnya Ayat
Al Imam Ahmad dan Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhu dan beliau menyebutkan sebab turunnya ayat ini: Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat ini berkenaan tentang dua kelompok dikalangan Yahudi di masa jahiliyyah, dimana salah satu kelompok telah menguasai yang lainnya sehingga mereka ridha. Mereka berdamai (mengikat perjanjian) dengan ketentuan bahwa bila ada orang dari kelompok yang mulia membunuh (seseorang) dari kelompok yang hina maka (dia) diharuskan membayar diyat sebesar 50 wasq (1wasq kurang lebih 130 kg, pen). Sementara bila ada orang dari kelompok yang hina membunuh (seseorang) dari kelompok yang mulia maka diyat-nya sebesar 100 wasq.

Mereka tetap memegangi hukum (perjanjian) ini sampai Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam tiba di Madinah. Kedua kelompok tersebut merasa hina dengan kedatangan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam (padahal) beliau belum mengetahui di saat (mereka) melakukan perjanjian damai. (Suatu ketika) ada orang dari kelompok yang hina membunuh seseorang dari kelompok yang mulia.

Maka kelompok yang mulia mengirim utusan kepada kelompok hina agar mereka membayar 100 wisq. Berkata yang hina: "Beginikah cara dua kampung yang agamanya satu, nasab keturunannya satu, negerainya satu? sedangkan diyat sebagian mereka setengah diyat sebagian yang lain?! Sesunggunya kami hanya memberikan kamu (jumlah diyat tersebut) karena penganiayaan kalian terhadap kami dan kami takut terhadap kalian. Adapun jika Muhammad (Shalallahu 'Alaihi Wa salam) telah datang, maka kami tidak memberikan ini kepada kalian." (Sikap kelompok yang hina ini) hampir menyebabkan peperangan berkobar di antara mereka. Kemudian mereka memutuskan untuk menjadikan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam (sebagai hakim) diantara mereka.

Kelompok yang mulia (di antara mereka) berkata: "Demi Allah, Muhammad tidak akan memberikan kepada kalian dari mereka (kelompok hina) dua kali lipat dari apa yang diberikan mereka kepada kalian (selama ini). Sungguh mereka telah benar, mereka tidaklah memberikan kepada kita (diyat tersebut) melainkan karena penganiayaan kita dan kekuasaan kita atas mereka. Maka hendaklah kalian menyelidiki Muhammad untuk mengecek pendapatnya. Jika dia memberikan kepada kalian apa yang kalian inginkan maka kalian boleh mengangkatnya jadi hakim. Dan jika tidak memberikan kepadamu, maka kalian waspada dan janganlah kalian jadikan dia sebagai hakim."

Maka mereka pun menyusupkan beberapa orang dari kalangan munafiqin kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam untuk mengecek pendapat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam. Ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam datang, Allah mengabarkan Rasul-Nya tentang seluruh perkara mereka dan apa yang mereka kehendaki. Allah pun menurunkan firman-Nya:

"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir." (Al Maidah: 44).

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata: "Demi Allah, untuk mereka turun ayat ini dan mereka yang dimaksud oleh Allah Azza Wa Jalla." (Asy Syaikh Al Albani rahimahullah menghasankannya dalam Ash Shahihah 6/109-110).

Penafsiran Ayat
Ayat Allah yang mulia ini telah ditafsirkan oleh ahli tafsir dari kalangan shahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam yaitu Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu anhu yang telah dido'akan oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa salam untuk diajari tafsir Al Qur'an. Tafsiran beliau tentang ayat tersebut diikuti oleh paar muridnya, dan begitu seterusnya generasi demi generasi para ulama tafsir Ahlus Sunnah selalu mengikuti beliau seperti Ibnu Jarir Ath Thabari, Al Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, Asy Syinqithi, As Sa'di, Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy Sayikh Al Albani, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin dan lainnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas beliau berkata: "Dengan perbuatan itu adalah kekafiran, namun bukan kafir terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya." Dalam riwayat lain beliau berkata: "Bukan (yang dimaksud) adalah kekufuran yang mereka inginkan. Sesungguhnya maksud (ayat ini) bukan kekufuran yang mengeluarkan dari agama, (namun) kekufuran kufrun duna kufrin (kekufuran dibawah kekufuran, yaitu tidak mengeluarkan dari Islam)." (Dikeluarkan oleh Al Hakim dan berkata: sanadnya Shahih, dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Terdapat jalan lain, silakan lihat dalam Silsilah Ash Shahihah oleh Al-'Allamah Al Albani, 6/113-114).

Berhukum dengan selain hukum Allah
Telah meyebar dikalangan sebagian kaum muslimin dan orang-orang yang terkena penyakit kelompok Hamas (yaitu semangat tapi tanpa ilmu), suatu fikrah (pemikiran) bahwa setiap yang berhukum dengan selain hukum Allah, maka dia kafir dan keluar dari Islam. Dengan alasan ini, mereka berkesimpulan bahwa mayoritas bahkan seluruh pemerintahan di negara-negara Islam adalah pemerintahan kafir. Dengan demikian para pejabatnya pun kafir, orang-orang (dalam hal ini rakyat) yang tidak turut mengkafirkan mereka pun kafir.

Muncullah fitnah yang dimaksud dengan fitnah at-takfir (fitnah pengkafiran) yang sampai kepada tingkat pengkafiran masyarakat muslim. Kelompok ini yang masyhur sebagai kelompok khawarij.

Terjerumusnya mereka ke dalam kesesatan ini disebabkan dua hal: Pertama, sedikitnya ilmu. Kedua, mereka tidak memahami kaidah-kaidah syariat yang benar yang merupakan asas dakwah Islam. Setiap kalangan dari kelompok sesat, yang keluar dari asas tersebut maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman: "Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah ia kuasai itu. Dan kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisa: 115).

Allah memberikan penekanan yang tegas dengan firmannya: "Mengikuti selain jalan kaum mukminin." Kalimat ini merupakan point yang sangat penting untuk membedakan antara orang-orang yang benar-benar memiliki komitmen terhadap Al Qur'an dan As Sunnah. Yaitu mereka yang senantiasa mengikuti jalan kaum mukminin dari kalangan para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang mengikutinya dengan baik, dengan kelompok yang "mengaku" berpegang di atas Al Qur'an dan As Sunnah namun mereka menyelisihi jalan kaum mukminin tersebut. Orang-orang demikian mendapat ancaman kesesatan dan siksaan yang pedih.

Ayat ini menjadi pemisah antara golongan yang jujur dengan kelompok sempalan yang menjadikan Al Qur'an dan As Sunnah hanya sebagai slogan semata. Kandungan ayat tersebut sangat mirip dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam dalam hadits tentang perpecahan ummat dan yang selamat hanya satu yaitu: "Siapa yang berjalan diatas jalanku dan jalan para shahabatku." (lihat perkataan Al-'Alamah Al Albani rahimahullah dalam kitab Fitnatut Takfir, hal 14-18).

Jika mereka memperhatikan dengan seksama penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu'anhu yang lalu, akan nampak bagi mereka bahwa sesungguhnya orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tidaklah memiliki makna kafir secara mutlak yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun tergantung dari keadaan mereka ketika menjadikannya sebagai hukum selain dari hukum Allah tersebut. Apakah mereka melakukan hal tersebut karena menganggap halal berhukum dengan selain hukum Allah atau disebabkan karena mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka?!.

Inilah penjelasan tafsir mengenai surat Al Maidah: 44, dari penjelasan ini maka jelaslah runtuhnya dalil manhaj khawarij dari para pemberontak dan orang-orang yang sepemikiran dengan mereka yang mana dalam hal ini saya tujukan kepada para gembong NII dan GAM serta orang-orang yang bergabung dan sepemikiran dengan mereka.

Kemudian saya juga akan berikan jawaban atas pertanyaan Teguh Harjito alias Abdul Fatah dengan csnya. Ketahuilah bahwasannya Najasyi adalah seorang penguasa atau raja di Habasyah (Eithopia), waktu itu ia telah masuk Islam namun tidak berhukum dengan hukum Allah karena keadaan tertentu. Apakah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam menganggapnya kafir?? Jawabnya adalah Tidak! Bahkan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa salam melakukan shalat ghaib ketika Najasyi meninggal. Apakah Najasyi hidup di negara Islam?? Apakah Najasyi tidak berhukum dengan hukum Allah pada satu dua perkara saja?? Tentu jawabnya tidak. Ambillah petunjuk wahai orang-orang yang melihat.

Fatwa Ulama tentang Berhukum dengan selain hukum Allah Al-'Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata setelah menjelaskan sebab kesesatan: "Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka tidak boleh menerapkan ayat-ayat ini kepada sebagian pemerintah kaum muslimin dan para hakim mereka yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah berupa undang-undang buatan manusia. Saya berkata: "Tidak boleh mengkafirkan mereka dan mengeluarkannya dari agama, jika mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Walaupun mereka berdosa dengan sebab berhukum dengan selain yang diturunkan Allah. Sebab walaupun mereka seperti Yahudi dari sisi berhukum tersebut, namun mereka menyelisihinya dari sisi yang lain, yaitu keimanan mereka dan pembenaran mereka dengan apa yang diturunkan Allah. Berbeda dengan Yahudi yang kafir, mereka mengingkari (hukum Allah)."

Beliau berkata pula: "Kekufuran terbagi menjadi 2 macam: kufur i'tiqadi dan amali. Adapun i'tiqadi tempatnya di hati. Sedangkan amali tempatnya di jasmani. Barangsiapa yang amalannya kufur karena menyelisihi syariat dan sesuai dengan apa yang diyakini dalam hatinya berupa kekafiran, maka itu kufur i'tiqadi yang tidak diampuni Allah dan dikekalkan pelakunya dalam neraka selamanya. Adapun bila perbuatan tersebut menyelisihi yang diyakini dalam hati, maka dia mukmin dengan hukum Rabb-nya. Namun penyelisihannya dalam hal amalan, maka kekafirannya adalah amali saja dan bukan kufur i'tiqadi. Dia berada dibawah kehendak Allah, jika Dia menghendaki maka diampuni." (lihat Silsilah Ash Shahihah karya Al-'Allamah Al Albani rahimahullah, 6/111-112).

Al-'Allamah Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah karena meremehkan atau menganggap hina, atau meyakini bahwa yang lainnya lebih mendatangkan kemaslahatan dan lebih bermanfaat bagi makhluk atau yang semisalnya, maka dia kafir dan keluar dari Islam. Diantara mereka adalah orang-orang yang berperan dalam pembuatan undang-undang yang menyelisihi syariat Islam agar dijadikan sebagi sistem yang dianut masyarakat. Sebab, tidaklah mereka membuat undang-undang yang menyelisihi syariat melainkan mereka yakin bahwa hal tersebut lebih bermaslahat dan bermanfa'at bagi makhluk. Karena telah diketahui secara fitrah dan dengan logika yang pasti, tidaklah manusia berpaling dari suatu sistem ke sistem lain yang bertentangan, melainkan dia meyakini adanya keutamaan sistem (baru) yang dia cenderungi dan adanya kelemahan dari sistem yang dia anut sebelumnya. Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah namun dia tidak merendahkan dan meremehkannya, dan tidak meyakini bahwa hukum yang selainnya lebih mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya atau yang semisalnya, maka dia dzalim dan tidak kafir. Dan berbeda tingkatan kedzalimannya, tergantung yang dijadikan sebagai hukum dan perantaraan hukumnya. Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah bukan karena merendahkannya hukum Allah, tidak pula meremehkan dan tidak myakini bahwa hukum lainnya lebih mendatangkan maslahat dan lebih bermanfaat bagi makhluknya atau semisalnya, namun dia berhukum dengannya karena adanya nepotis terhadap yang dihukum, atau karena suap, atau kepentingan dunia yang lainnya, maka dia fasiq dan tidak kafir. Dan berbeda pula tingkatan kefasiqannya, tergantung kepada ada yang dia jadikan sebagai hukum dan perantaraan hukumnya."

Kemudian beliau berkata: "Masalah ini, yaitu masalah berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, termasuk permasalahan besar yang menimpa para hakim (pemerintah) di zaman ini. Hendaklah seseorang tidak terburu-buru dalam memberi vonis (kafir) kepada mereka dengan apa yang mereka tidak pantas mendapatkannya, sampai jelas baginya kebenaran, karena maslaah ini sangatlah berbahaya -kita memohon kepada Allah untuk memperbaiki pemerintahan muslimin dan teman dekat mereka-. Sebagimana pula wajib atas seseorang yang Allah berikan kepadanya ilmu, untuk menjelaskan kepada mereka supaya ditegakkan kepada mereka hujjah dan keterangan yang jelas, agar seseorang binasa di atas kejelasan dan seseorang selamat di atas kejelasan pula. Jangan dia menganggap rendah dirinya untuk menjelaskan dan jangan pula dia segan kepada siapapun, karena sesungguhnya kemulian itu milik Allah, Rasul-Nya, dan milik kaum mukminin." (lihat Syarah Tsalatsatul Ushul, Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin, hal. 158-159. lihat pula kitab Fitnatut Takfir, hal. 98-103).

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah. Mereka ditanya: "Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah apakah dia muslim atau kafir kufur akbar (yang mengeluarkannya dari Islam) dan tidak diterima amalannya?' Mereka menjawab: "Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah adalah orang-orang kafir." (QS. Al Maidah: 44). "Barangsia tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang dzalim." (QS. Al Maidah: 45). "Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq." (QS. Al Maidah: 47). Namun apabila dia meyakini kebolehannya, maka ini kufur akbar, dzalim akbar, dan fasiq akbar yang mengeluarkan dari agama. Adapun jika dia melakukan itu karena suap atau karena maksud lain, dan dia meyakini haramnya hal tersebut, maka dia berdosa, termasuk kufur ashgar, dzalim ashgar, dan fasiq ashgar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut. Semoga Allah memberi taufiq, dan shalawat serta salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa salam, keluarga, dan para shahabatnya.

Atas nama: Ketua: Abdul Aziz bin Baz, Wakil ketua: Abdurazzaq Afifi, Anggota: Abdullah Ghudayyan (lihat Fitnatut Takfir, hal 104-105)

Demikianlah risalah ini yang mana aku ambilkan dari tulisan Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi Al Atsari dari majalah Asy Syari'ah no 8 1425 H hal 38-41 dengan beberapa penambahan dan komentar dariku mudah-mudahan risalah ini bermanfaat bagi diriku dan kaum muslimin pada umumnya..

Ya Allah tunjukkanlah kaumku, dan kembalikanlah mereka ya Rabb ke jalan-Mu yang lurus serta ke jalan kekasih-Mu Al Musthofa Shalallahu 'Alaihi Wa salam sebagaimana Engkau firmankan: "Katakanlah ini adalah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108). Dan yang telah Engkau perintahkan untuk mengatakan dengan firman-Mu: "Dan (bahwa yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (Al-An'am: 153).

Wallahu ta'ala a'lam bishawab.
Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Mazda

mazda_ok@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------