Stockholm, 2 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN MAZDA ITU SALAFIYYAH ALIAS WAHHABIYAH BELUM WUJUD SEBELUM MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB MUNCUL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS WAHABIYIN MAZDA ITU GERAKAN SALAFI ALIAS WAHABI YANG KALIAN PERJUANGKAN BELUM WUJUD SEBELUM MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB MUNCUL KEPERMUKAAN DI HARYAMLA

"Untuk Ahmad Sudirman sama seperti yang sudah-sudah, diapun tidak bisa memberikan suatu bantahan yang ilmiah yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunnah, bahkan yang saya dapati hanya omongan emosional yang berusaha lari dari permasalahan. Salah satu hal yang sering kita lihat ucapan Ahmad Sudirman yang sangat alergi dengan Ulama Ahlussunnah atau disebut juga Firqatun Najiyah atau sekarang yang lebih dikenal dengan sebutan As Salaf atau Salafy. Alih-alih menghindar dari pokok bahasan Ahmad Sudirman seperti biasa langsung vonis ini Wahabi. Taruhlah kalo iya ini wahabi andapun (Ahmad Sudirman) tidak bisa memberikan satu argumen berdasar Al Qur'an dan As Sunnah justru anda terlihat lari sambil mengatakan saudara Mazda hanya pintar copy paste. Disinilah fakta yang kita lihat pada kerancuan dan penampakan kebingungan dan kebobrokan pemahaman Ahmad Sudirman selama ini." (Mazda , mazda_ok@yahoo.com , Tue, 30 Nov 2004 22:53:24 -0800 (PST))

Baiklah wahabiyin Mazda di Surabaya, Indonesia.

Wahabiyin Mazda, itu yang namanya gerakan salafi atau salafiyyah, yaitu suatu gerakan pembaharuan dalam ketauhidan, yang kalian anut sekarang ini belum wujud sebelum Muhammad bin Abdul Wahab muncul dipermukaan Haryamla (1115 H - 1206 H / 1703 M - 1792 M) dengan ide pemikirannya yang mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan, yang banyak dipengaruhi oleh hasil pemikiran Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awal 66l H (22 Januari 1263 M) di Harran dan meninggal pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H. (25 September 1328 M) dalam penjara. Ibnu Taimiyah memang keluar masuk penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir.

Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab menjadi kuat setelah bertemu dan bekerjasama dengan Amir Muhammad bin Saud penguasa negeri Dar'iyah. Bahkan putra Amir Muhammad bin Saud dikawinkan dengan putri Muhammad bin Abdul Wahab pada tahun 1744 M.

Setelah mereka berdua bersatu dalam perjuangan, maka terpancar dari pikiran Muhammad bin Abdul Wahab untuk penyebarluasan ide dan pemikiran pembaharuan dalam ketauhidan dengan membentuk barisan Muwahhidin atau gerakan pemurnian tauhid dalam bentuk pembasmian syirik, bid'ah dan khurafat, sedangkan dari Amir Muhammad bin Saud terpancar gerakan politik yang bergerak kearah ekspansi kekuasaan ke daerah diluar daerah kekuasaan de jure dan de facto Dar'iyah yang dikuasai oleh Khilafah Islamiyah Utsmani.

Nah gerakan pemurnian tauhid ini merupakan juga gerakan salafiyyah yaitu suatu pergerakan pembaharuan di bidang ketauhidan yang bertujuan untuk memurnikan kembali ketauhidan yang dianggap telah dicemari oleh syirik, bid'ah dan khurafat. Atau dengan kata lain gerakan pemurnian tauhid sebagaimana yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw dan dituruti oleh para sahabatnya, dan diteruskan oleh para pengikut sahabatnya dan seterusnya.

Jadi gerakan salafiyyah atau yang dikenal salafi adalah gerakan yang dimotori oleh ide dan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang sangat menggandrungi dan banyak dipengaruhi oleh hasil pemikiran Ibnu Taimiyah.

Karena itu, yang namanya salafi yang sekarang dianut dan diikuti oleh salah satunya wahabiyin Mazda memang muncul ketika Muhammad bin Abdul Wahab bersama Amir Muhammad bin Saud melancarkan gerakan pemurnian ketauhidan dan gerakan ekspansi wilayah diluar wilayah kekuasaan Dar'iyah.

Nah sekarang, gerakan muwahhidin atau salafiyyah atau wahhabiyah adalah gerakan yang asal mulanya dilahirkan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab.

Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa gerakan salafi atau salafiyyah atau wahhabiyah atau barisan muwahhidin timbul sebelum munculnya Muhammad bin Abdul Wahab, maka itu merupakan hasil pemikiran yang salah kaprah.

Kemudian ketika Muhammad bin Abdul Wahab bersama Amir Muhammad bin Saud melancarkan gerakan pemurnian ketauhidan dan gerakan ekspansi wilayah diluar wilayah kekuasaan Dar'iyah, itu Khilafah Islamiyah Utsmani sedang berkuasa ( 679 H - 1341 H /1281 M - 1924 M). Dimana wilayah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani mencakup 29 provinsi yang masing-masingnya dipimpin oleh Gubernur Jenderal, yaitu Rumelia, Anatolia, Roma, Karamanid, Mesir, Syria, Diyarbekir, Kurdistan, Dulgadir, Pulau Aegean (The Aegean Islands), Erzerum, Van, Shehrizor, Baghdad, Buda, Bosnia, Kanizsa, Ochakov, Trebizond (Trabzon), Tripoli, Cyprus, Tunisia, Morea, Algeria, Al-Hasa, Aleppo, Mosul, Basra, Hejaz. Sedangkan Wallachia, Moldavia, dan Crimea merupakan daerah yang berada dalam wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani yang wajib membayar pajak (tributary). Adapun wilayah Transylvania langsung dibawah pemerintahan pusat Khilafah (suzerainty).

Melihat dari provinsi-provinsi yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani, itu provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) berada dibawah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) inilah yang direbut dan diduduki oleh Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah yang disokong penuh oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan barisan muwahhidinnya, gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya, dan yang juga dibantu oleh pemerintah kerajaan kafir Inggris. Celakanya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) justru memakai alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan. Padahal sebenarnya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) dengan alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan telah dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud , Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud untuk menyerang Mekkah, Madinah, Jeddah dari tangan kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani dan sekaligus ingin mendirikan kerajaan Saudi. Satu-satunya kerajaan di dunia yang memakai nama keluarga, yaitu nama ibnu Saud.

Selanjutnya, itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya dibawah kaum wahabi Saudi inilah yang setelah Kerajaan Ibnu Saud berdiri gencar menyebarkan paham wahhabinya dengan mempergunakan kekuasaan yang ada ditangan Raja-Raja keturunan Ibnu Saud, dari mulai Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud, Raja Saud bin Abdul Aziz, Raja Faisal bin Abdul Aziz, Raja Khalid bin Abdul Aziz, dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Celakanya itu Raja-Raja keturunan Abdul Aziz ini tidak mampu membasmi syirik, bid'ah dan khurafat sebagaimana dipropagandakan oleh barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya.

Sekarang mengapa barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya dibawah kaum wahabi Saudi yang muncul setelah tahun 1703 M dibawah Muhammad bin Abdul Wahab menghubungkan gerakannya dengan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah ?

Karena kaum wahabi ini memaklumkan dan mendeklarkan bahwa gerakan dakwah salafiyah-nya atau dakhwah wahhabiyahnya berdiri diatas Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan Al-Qur'an dan Sunnah wajib dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiit tabi'in. Dan didasarkan juga kepada Ibnu Taymiyyah yang berkata:"...mereka adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Nah kalau kita lihat itu yang dideklarkan oleh kaum wahabi dengan dakhwah wahhabiyah atau salafiyyahnya yang menganggap diri mereka lebih dari Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang lainnya adalah karena kaum wahabi ini menyatakan harus memahami Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiit tabi'in. Artinya sampai ke tabiit tabi'in atau para pengikut tabiin yang hidup antara tahun 100 H - 300 H / 790 M - 913 M . Atau sampai ke masa Khilafah Islamiyah dibawah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Muqtadir 908 M - 932 M. Inilah yang dinamakan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut salafus shalih menurut paham wahabi dari kaum wahabi Saudi.

Sekarang, apakah kelompok Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mengikuti, mempelajari, menggali apa yang dipelajari oleh para sahabat Rasulullah saw, pengikut sahabat dimasa Khilafah Islamiyah Umayyah, dan juga pengikut para pengikut sahabat pada masa Khilafah Islamiyah Umayyah dimana Khilafah Islamiyah Abbasiyah, tetapi bukan dari golongan kaum wahabi akan dianggap sebagai bukan golongan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang salafus shalih ?.

Jelas itu pemahaman kaum wahabi Saudi ini memang lebih merasa lurus tauhidnya ketimbang dari orang-orang Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mereka memahami, mempelajari, mendalami apa yang dipahami atau diajari oleh para tabi'in, dan tabiit tabi'in.

Contohnya saja tentang pemahaman QS Al Maidah, 5: 44: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulkafiruun". QS Al Maidah, 5: 45: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humudzalimuun". QS Al Maidah, 5: 47: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulfasiquun". Dimana memang sudah jelas itu ayat-ayat adalah ayat-ayat muhkamaat atau ayat yang terang dan jelas artinya. Dimana Surat Al Maidah ini diturunkan ketika Haji Wadaa'. Hanya persoalannya sekarang adalah itu kaum wahabiyin yang hidup diabad modern ini termasuk wahabiyin Mazda memang tidak memahami dan tidak mengerti tentang ayat muhkamaat yang berbunyi "lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulkafiruun".

Kemudian QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 yang telah ditetapkan Allah SWT dan diberlakukan kepada kaum Yahudi (ayat 44, 45), dan Nasrani (ayat 47), tetapi oleh Al Qur'an dibenarkan dan tidak dimansukhkan, maka syariat untuk kaum Yahudi dan Nasrani itu berlaku kepada kaum muslimin juga. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat-ayat ini. Jadi secara hukum itu syariat yang telah ditetapkan bagi kaum Yahudi dan Nasrani berlaku juga bagi kaum Muslimin. Apalagi dengan diperkuat oleh ayat 48 : "wa anjalnaa ilaikal kitaba bil haqqi mushaddikan lima baina yadaihi minal kitabi wa muhaimina 'alaihi fahkum bainahum bima anzala Allahu wa la tattab'i ahwaa ahum 'amma jaa aka minal haqqi..." (QS Al Maidah,5: 48). Jadi lengkaplah sudah, pertama Al-Quran telah membenarkan syariat kaum Yahudi dan kaum Nasyrani dan tidak memansukhkan, dan kedua diperkuat dengan ayat 48.

Selanjutnya tergambar dengan jelas bahwa masalah hukum adalah masalah yang paling mendasar dalam kehidupan umat manusia didalam bermasyarakat, dan bernegara. Sehingga itu surat Al Maidah diturunkan ketika Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw. Diatas hukum itulah keadilan ditegakkan. Diatas hukumlah perdamaian bisa ditegakkan. Diatas hukumlah keamanan bisa terjamin dan terlaksana. Sehingga Rasulullah saw sendiri tidak ada mengeluarkan hadits tentang ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini. Mengapa ? Karena memang sudah jelas arah dan maksudnya.

Nah ketika QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini diturunkan, itu memang Daulah Islamiyah telah berdiri. Karena itu sudah jelas dan pasti bahwa bagi penguasa dalam Daulah Islamiyah dan dalam Khilafah Islamiyah yang menetapkan, memutuskan, menjalankan aturan, hukum, undang-undang dengan penuh kesadaran dan dengan i'tikadnya tanpa menurut aturan, hukum yang diturunkan Allah SAW dan yang dicontohkan Rasul-Nya, maka penguasa Daulah Islamiyah itu sudah menjurus kepada kafir (QS Al Maidah, 5: 44).

Sekarang kalau melihat di Negara RI, dimana dasar dan sumber hukum RI mengacu kepada pancasila, bukan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka sudah jelas itu yang namanya pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif, seperti Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Abdurrahman Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang menetapkan, memutuskan, menjalankan aturan, hukum, undang-undang dengan penuh kesadaran dan dengan i'tikadnya tanpa berdasarkan aturan, hukum yang diturunkan Allah SAW dan yang dicontohkan Rasul-Nya, ditambah dengan para pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif tersebut tidak mau mengakui, tidak mau menerima dan menganggap aturan, hukum, undang-undang yang dibuat oleh lembaga Eksekutif dan Legislatif lebih baik dari pada aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw, maka para pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif tersebut sudah menjurus kepada kafir (QS Al Maidah, 5: 44).

Seterusnya kalau itu wahabiyin Mazda yang mengacungkan paham wahabinya menerapkan pemahaman QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 terhadap keadaan dalam pemerintahan di negara RI ini, maka sudah jelas, itu wahabiyin Mazda dengan kaum wahabinya menganggap para pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif, seperti Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Abdurrahman Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang menetapkan, memutuskan, menjalankan aturan, hukum, undang-undang dengan penuh kesadaran dan dengan i'tikadnya tanpa berdasarkan aturan, hukum yang diturunkan Allah SAW dan yang dicontohkan Rasul-Nya, ditambah dengan para pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif tersebut tidak mau mengakui, tidak mau menerima dan menganggap aturan, hukum, undang-undang yang dibuat oleh lembaga Eksekutif dan Legislatif lebih baik dari pada aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw, maka para pimpinan tertinggi lembaga Eksekutif tersebut tidak menjurus kepada kafir.

Tetapi, celakanya itu wahabiyin Mazda tidak berani mengatakan hal tersebut diatas. Mengapa ?. Karena kalau itu wahabiyin Mazda mengatakan seperti yang dikatakan diatas, dianggap sebagai manusia munafik dan yang telah terkena racun sistem thaghut pancasila, serta dianggap sebagai orang yang menghalangi tegaknya hukum Islam, dan dianggap sebagai orang yang bekerjasama dalam melakukan kesyirikan, kekhurafatan, dan kebid'ahan. Atau paling menampilkan pendapat ulama wahabinya bahwa kalau memberikan saran kepada pihak penguasa harus secara diam-diam dan tertutup, jangan terbuka.

Jadi, itu wahabiyin Mazda, dalam saat sekarang hanyalah sebatas melambungkan kata-kata para ulama kaum wahabi Saudi saja. Tetapi ketika ditanya untuk diterapkan di negara RI, ia akan mati kutu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 30 Nov 2004 22:53:24 -0800 (PST)
From: maz da mazda_ok@yahoo.com
Subject: M AL QUBRO DAN AHMAD SUDIRMAN MENCOBA LARI
To: a_kjasmine@yahoo.com, aapjakarta@attglobal.net, abu_dipeureulak@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com, abuguntur@hotmail.com, abupase@yahoo.com, acheh_karbala@yahoo.com, acheh_karbala@yahoo.no, achehmerdeka@yahoo.com,
aditjond@psychology.newcastle.edu.au, afdalgama@hotmail.com, agus_smur@yahoo.com, ahmad@dataphone.se, ahmedjpr@yahoo.com, ainul@bouraq.com, alchaidar@yahoo.com, alexandra_raihan@yahoo.com.sg, alue_meriam@yahoo.com, aneuk_pasee@yahoo.com, arie_wo@yahoo.com

BISMILLAHIRRAHMANIROHIM
M AL QUBRO DAN AHMAD SUDIRMAN MENCOBA LARI
Mazda

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya meminta pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri dan kejelekan-kejelekan amalan kami, dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah tidak akan ada yang bisa menyesatkannya dan barang siapa disesatkan Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada-Nya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak yang wajib disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa salam adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun sesudah itu:

Sesungguhnya Setelah membaca komentar Muhammad Al Qubro dan Ahmad Sudirman tidak saya dapati pada keduanya komentar yang bisa mematahkan hujjah secara ilmiah terhadap risalah yang telah saya sampaikan, bahkan yang saya dapati hanya bogem kosong yang tak berisi sama sekali.

Komentar Muhammad qubro adalah salah satu contoh dari seorang yang terlalu banyak omong sana sini dan omongannya sendiri telah menjadi senjata makan tuan bagi dirinya. Sesungguhnya saya dan pembaca seluruhnya dapat melihat siapakah yang kosong ilmunya dan sesat pemahamannya, Muhammad qubro hanyalah seorang laki-laki yang panjang lidahnya, jelek akhlaqnya dan amat sedikit ilmunya tapi besar semangatnya, tapi sayang beribu sayang semangat tingginya tidaklah sepadan dengan pemahamannya yang amburadul alias bobrok akut ditambah jeleknya akhlaq dan panjangnya lidah.

Dalam komentarnya ia mecoba memvonis peguasa negeri kami yang muslim yang mana pemerintahannya tidak berhukum dengan hukum Allah, sekan-akan dia sudah tau isi hati manusia sehingga dengan mudahnya menjatuhkan vonis, ketahuilah Muhammad qubro bahwa dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya."

Dalam satu riwayat lain: "Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan."

Dan dalam riwayat lainnya lagi dari Abu Dzar radhiallahu anhu Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: "Wahai musuh Allah, sementara orang yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya." Hadits diatas kesemuanya terdapat dalam Shahih Muslim.

Sedangkan untuk Ahmad Sudirman sama seperti yang sudah-sudah, diapun tidak bisa memberikan suatu bantahan yang ilmiah yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunnah, bahkan yang saya dapati hanya omongan emosional yang berusaha lari dari permasalahan. Salah satu hal yang sering kita lihat ucapan Ahmad Sudirman yang sangat alergi dengan Ulama Ahlussunnah atau disebut juga Firqatun Najiyah atau sekarang yang lebih dikenal dengan sebutan As Salaf atau Salafy.

Alih-alih menghindar dari pokok bahasan Ahmad Sudirman seperti biasa langsung vonis ini Wahabi. Taruhlah kalo iya ini wahabi andapun (Ahmad Sudirman) tidak bisa memberikan satu argumen berdasar Al Qur'an dan As Sunnah justru anda terlihat lari sambil mengatakan saudara Mazda hanya pintar copy paste. Disinilah fakta yang kita lihat pada kerancuan dan penampakan kebingungan dan kebobrokan pemahaman Ahmad Sudirman selama ini.

Penyebutan Wahabi telah masyhur dikalangan para Ahlul Bid'ah dan kelompok Islam sempalan lainnya dalam mengecap para pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, penyebutan ini sendiri dipopulerkan oleh kaum Sufi yang mana dulu berpusat di Turki terutama dimasa dinasti Turki Utsmani yang mana mereka merasa terdesak dengan gencarnya dakwah yang disampaikan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang menda'wahkan untuk kembali kepada pemahaman Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih dan membersihkan kebid'ahan yang telah meraja lela serta mensucikan Tauhid dari noda-noda syirik.

Tetapi permasalahan yang perlu kita cermati adalah bahwasannya Ahmad sudirman dengan yang species dengannya hanya melihat dari kaca mata kelompok sempalan dan tidak melihat dengan diatas dasar-dasar yang kuat bahkan dasar yang mereka gunakan dapat dengan mudah kita bantah dan kita patahkan karena dasar mereka seperti sarang laba-laba.

Dan inilah bedanya juga antara kami Ahlus Sunnah Wal Jama'ah atau disebut juga Firqatun Najiyah atau As Salafy dengan kalian. Bahwa kami tidak berbicara dengan hawa nafsu tetapi kami selalu berusaha untuk kembali kepada Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman para Shahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang mana mereka selalu memperingatkan ummat akan kesesatan pemahaman kelompok Islam sempalan seperti Syiah Rafidhah, Khawarij, Murji'ah, Qadariyah dan Jahmiyah, yang kemudian kelima kelompok Islam sempalan ini berkembang menjadi berbagai macam kelompok dengan nama dan label berbeda-beda tetapi sebenarnya berujung kembali kepada kelima kelompok sesat tadi.

Dan yang lebih jelas lagi Ahlus Sunnah selalu berjalan dengan bimbingan para Ulamanya dan tidak berbicara dengan hawa nafsu kecuali kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman para Shahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka Ahlus Sunnah selalu memperingatkan kesesatan pemahaman dan membersihkannya dengan keterangan dan bantahan guna membungkam syubhat-syubhat yang ditebarkan oleh para penyempal. Ahlus Sunnah tidak mengenal basa basi dengan memihak ini dan itu, tetapi Ahlus Sunnah akan tetap memperingatkan ummat dari kesesatan suatu kelompok atau individu walauapun orang banyak tidak menyukainya.

Sedangkan kelompok sesat lainnya mereka tidak memiliki Ulama satupun kecuali yang ada hanya para pemikir-pemikir sesat yang berbicara dengan akalnya dan dengan hawa nafsunya. Dan bisa kita lihat bagaimana mereka mengambil Al Qur'an dan As Sunnah sebagai dalil atas pemahaman sesatnya dan untuk mengkibuli ummat mereka nebeng/menyandarkan diri kepada Ulama Ahlus Sunnah agar ummat bisa menerima pemikiran dan pemahaman sesatnya, mereka cantumkan perkataan para Ulama Ahlus Sunnah seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, Al Imam Al Barbahari dan sederetan ulama Ahlus Sunnah lainnya bahkan diantara mereka juga mencoba mencari legitimasi dengan meminta fatwa dari Ulama Ahlus Sunnah seperti yang pernah dilakukan oleh Jama'ah Tabligh kepada Syaikh kami Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang kemudian fatwa beliau dicabut kembali setalah mendapat teguran dan masukan dari para Ulama Ahlus Sunnah lainnya mengenai kesesatan Jama'ah Tabligh.

Alhamdulillah Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu menurunkan Ulama-Ulama Ahlus Sunnah disetiap masa dan zaman untuk mematahkan hujjah-hujjah kelompok sempalan dan menda'wahkan serta membimbing kepada ummat untuk kembali kepada pemahaman yang benar.

Dan sebagai penutup risalah saya, saya kutipkan perkataan para pendahulu kita tentang bagaimanakah akhir perjalanan Ahli Bid'ah yang diambil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur oleh Abu Abdilah Jamal bin Furaihan Haritsi.

Dari Abu Qilabah rahimahullah, beliau berkata: "Tidak ada seseorang yang mengadakan kebid'ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin, atau memberontak kepada pemerintah)." (Al I'tisham, 1/112, Ad Darimi, 1/58 no 99).

Ayyub rahimahullah biasa menamakan ahli bid'ah itu sebagai khawarij. Beliau mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang Khawarij itu hanya berbeda dalam hal nama dan julukan, namun mereka bersepakat dalam menghalalkan darah kaum muslimin." (Al I'tisham, 1/113).

Ada seseorang berkata kepada Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu: "Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsu kami berjalan diatas hawa nafsu kalian (yakni para shahabat)." Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu segera menimpali, "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu itu. Ia dinamakan hawa karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka." (Asy Syarhu wal Ibanah hal 123 no 62). (Diambil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur oleh Abu Abdilah Jamal bin Furaihan Haritsi).

Ya Allah tunjukkanlah kaumku, dan kembalikanlah mereka ya Rabb ke jalan-Mu yang lurus serta ke jalan kekasih-Mu Al Musthofa Shalallahu 'Alaihi Wa salam sebagaimana Engkau firmankan: "Katakanlah ini adalah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108). Dan yang telah Engkau perintahkan untuk mengatakan dengan firman-Mu: "Dan (bahwa yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (Al-An'am: 153).

Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Mazda

mazda_ok@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------