Stockholm, 2 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MEMBAYAR PAJAK KEPADA NEGARA YANG TIDAK BERSYARIAT ISLAM TIDAK DILINAI SEBAGAI INFAQ
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PAJAK DITENTUKAN & DIWAJIBKAN OLEH PEMERINTAH SEDANGKAN INFAQ TIDAK DIWAJIBKAN DALAM SATU NEGARA

"Ikut berbela sungkawa atas wafatnya Ibunda tersayang Bapak Ustad Ahmad Hakim Sudirman (Hajah Sukmara binti Haji Abas Soedarja) Pada hari Senin, 29 November 2004 / 16 Syawal 1425 H, jam 14.30 WIB, semoga segala amal ibadah almarhumah diterima disisi Allah SWT. dan semoga Allah tempatkan bersama para suhada, shiddiqin dan para shalehin dan keluarga yang ditinggalkan khususnya Bapak Ahmad Hakim Sudirman tetap dalam limpahan Rahmat dan Taufiq serta istikomah dalam mengemban amanah Allah dan risalah Rosulullah SAW. Amin! Membaca jawaban yang disampaikan oleh Bapak atas pertanyaan Bapak Teguh Harjito berkenaan dengan sumber keuangan di dalam Daulah Islamiyah, tertangkap oleh saya istilah pajak dengan infaq sama arti dan maknanya, antara istilah pajak dan infaq ada dalam sistem Daulah Islamiyah , mohon dijelaskan ? Dan bagaimana kalau selama ini saya bayar pajak kepada Daulah yang tidak bersyariat Islam apakah bisa bernilai infaq fisabilillah atau tidak ? mohon penjelasannya juga!" (Ahmad Jupri, ahmedjpr@yahoo.com , Wed, 1 Dec 2004 01:18:29 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Ahmad Jupri di Jakarta, Indonesia atas ucapan bela sungkawanya.

Menyinggung masalah infaq yang asal katanya anfaqa yang memiliki pengertian mengeluarkan harta untuk kepentingan sesuatu. Dimana infaq menurut terminologi (ma'na ishtilahi) syariat adalah mengeluarkan sebagian harta untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam.

Infaq berbeda dengan zakat. Dimana infaq tidak mengenal nisab atau jumlah harta yang ditentukan secara hukum, dan tidak harus diberikan mustahik tertentu, melainkan kepada siapapun, misalnya orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Berbeda dengan zakat yang harus memenuhi nisabnya dan diberikan kepada mustahik tertentu.

Dalil naqli yang mendasari infaq adalah sebagaimana yang tertuang dalam dasar hukum infaq QS Ali 'Imran, 3: 134 : "Alazina yunfikuuna fiissarraai wadhdharraai...(Orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit...)" (QS Ali 'Imran, 3: 134). Dan juga dalam QS Al Baqarah, 2: 215: "...maa anfaktum min khairi falil walidaini wal aqrabiina wal masakiin wabnissabiil... (apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan..." (QS Al Baqarah, 2: 215)

Sedangkan pajak atau dharibah, seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini yaitu harta yang wajib dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Khilafah Islamiyah dan pihak yang diwajibkan atas mereka, seandainya keuangan Baitul Mal tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Timbulnya pajak yang dipungut oleh pemerintah Khilafah Islamiyah apabila pengeluaran atau belanja Khilafah Islamiyah untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat dan jalannya roda pemerintahan Khilafah Islamiyah tidak bisa ditutupi oleh keuangan hasil penerimaan yang ada dalam Baitul Mal, maka kewajiban yang dibebankan kepada Baitul Mal untuk memenuhi perbelanjaan pemerintah Khilafah Islamiyah ditanggung oleh seluruh rakyat dengan melalui Khilafah mewajibkan pajak atau dharibah sesuai dengan kebutuhan. Jadi pajak atau dharibah diwajibkan atas kelebihan harta apabila Baitul Mal tidak mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk perbelanjaan Khilafah guna memenuhi kehidupan rakyat dan lajunya roda pemerintahan Khilafah Islamiyah.

Selanjutnya saudara Ahmad Jupri bertanya: "bagaimana kalau selama ini saya bayar pajak kepada Daulah yang tidak bersyariat Islam apakah bisa bernilai infaq fisabilillah atau tidak ?"

Pembayaran pajak yang diwajibkan oleh Daulah yang tidak bersyariat Islam tidak bisa dinilai sebagai infak. Mengapa ?

Karena pajak yang telah ditetapkan dan diwajibkan oleh pemerintah Daulah yang tidak bersyariat Islam tidak bisa dinilai dan disamakan dengan infaq yang memiliki dasar naqlinya yang jelas dan dikeluarkannya infaq secara sukarela yang diberikan kepada siapapun, sebagaimana yang tertuang dalam QS Al Baqarah, 2: 215.

Pajak yang telah ditetapkan dan diwajibkan oleh pemerintah Daulah yang tidak bersyariat Islam telah ditetapkan nisabnya sesuai dengan hasil keputusan dan keketapan pemerintah Daulah yang tidak bersyariat Islam. Dan hal ini sangat bertentangan dengan infak itu sendiri yang tidak mengenal nisab dan diberikan kepada siapapun, tanpa harus melalui Pemerintah.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 1 Dec 2004 01:18:29 -0800 (PST)
From: ahmad jupri ahmedjpr@yahoo.com
Subject: Ikut bela sungkawa
To: ahmad@dataphone.se

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Ikut berbela sungkawa atas wafatnya Ibunda tersayang Bapak Ustad Ahmad Hakim Sudirman (Hajah Sukmara binti Haji Abas Soedarja) Pada hari Senin, 29 November 2004 / 16 Syawal 1425 H, jam 14.30 WIB, semoga segala amal ibadah almarhumah diterima disisi Allah SWT. dan semoga Allah tempatkan bersama para suhada, shiddiqin dan para shalehin dan keluarga yang ditinggalkan khususnya Bapak Ahmad Hakim Sudirman tetap dalam limpahan Rahmat dan Taufiq serta istikomah dalam mengemban amanah Allah dan risalah Rosulullah SAW. Amin!

Bapak Ahmad Hakim Sudirman yang dirahmati Allah SWT.

Saya adalah yang termasuk aktif membaca artikel yang disampaikan oleh Bapak dan banyak manfaat yang dapat saya ambil, Insya Allah saya bukan semodel Wahabiyyin Rohmawan yang dari awal diskusi telah memposisikan diri sebagai " Anna kholaqtahu minnar wakholaqtahu mintin" (alias sombong) sehingga dalam diskusi ini tidak sedikitpun dia mengambil manfaat.

Bapak Ahmad Hakim Sudirman yang Insya Allah dirahmati Allah SWT.

Membaca jawaban yang disampaikan oleh Bapak atas pertanyaan Bapak Teguh Harjito berkenaan dengan sumber keuangan di dalam Daulah Islamiyah, tertangkap oleh saya istilah pajak dengan infaq sama arti dan maknanya, antara istilah pajak dan infaq ada dalam sistem Daulah Islamiyah , mohon dijelaskan ?

Dan bagaimana kalau selama ini saya bayar pajak kepada Daulah yang tidak bersyariat Islam apakah bisa bernilai infaq fisabilillah atau tidak ? mohon penjelasannya juga ..!

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Ahmad Jupri

ahmedjpr@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------