Stockholm, 18 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ITU YANG NAMANYA FAHAM WAHHABI ATAU SALAFI LAHIR DARI IDE SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU YANG NAMANYA FAHAM WAHHABI ATAU SALAFI LAHIR DARI IDE SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB YANG BANYAK DIPENGARUHI OLEH IDE IBNU TAIMIYAH

"Setelah mengamati penjelasan dan komentar bung Ahmad dan saya bandingkan dengan penjelasan makna salaf dan sejarahnya maka saya dapati perbedaan yang mencolok, bahwa bung Ahmad memandang salaf atau salafy dari sudut lahirnya gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabia, sedangkan dari sejarahnya sendiri salaf telah populer jauh sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ada, dan kata salaf telah dipopulerkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan generasi selanjutnya sebagai pembeda dari kelompok yang mengaku Sunni tapi ternyata sempalan. Inilah letak perbedaan sudut pandang yang terjadi. Dan saya kira hal ini sudah jelas. Terutama bagi saya pribadi yang dhoif ini. Dan saya berharap bahasan mengenai surat Al Maidah yang menjadi pokok bahasan antara bung Ahmad dan Mazda bisa kembali kita bahas. Karena saya menganggap disinilah letak bahasan pokok pertentangan antara saudara Mazda dengan Ahmad Sudirman." (Johan Pahlawan , johan_phl@yahoo.com , Fri, 17 Dec 2004 14:36:28 -0800 (PST))

Baiklah saudara Johan Pahlawan di Jakarta, Indoneisa.

Memang itu salaf berasal dari kata dasar salifa yang berarti sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu.

Nah mengapa itu kata salaf atau salifa atau sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu dihubungkan dengan gerakan yang dikembangkan oleh pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ?

Karena ide pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada 1. Al-Qur'an. 2. Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih). 3. Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in.

Dimana memang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak dipengaruhi oleh ide yang dikembangkan oleh Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awal 66l H (22 Januari 1263 M) di Harran dan meninggal pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H. (25 September 1328 M) dalam penjara, karena Ibnu Taimiyah memang beberapa kali keluar dan masuk penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir. Dimana Ibnu Taymiyyah berkata:"...mereka (tabi'in dan tabiut tabi'in) adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Jadi kata salaf atau salifa atau sabiq ini oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikenakan kepada orang-orang Islam pertama pada masa Rasulullah saw, atau yang dinamakan para sahabat, dan para pengikut sahabat atau yang disebut dengan tabi'in, serta mereka para pengikut tabi'in, yang disebut tabiut tabi'in. Nah mereka itulah yang disebut orang-orang terdahulu, atau orang sabiq atau orang salifa atau orang salaf oleh para pengikut paham wahhabi atau salafi yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdull Wahhab.

Nah sekarang, itu kaum wahhabi atau salafi ini yang gerakannya adalah gerakan wahhabiyah atau salafiyyah adalah bertujuan untuk memperbaiki tauhid dan memperbaharui tauhid berdasarkan kepada Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut yang dipahami oleh para sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiut tabi'in.

Kemudian menyinggung masalah pemahaman QS Al Maidah, 5: 44: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulkafiruun". QS Al Maidah, 5: 45: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humudzalimuun". QS Al Maidah, 5: 47: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulfasiquun".

Dimana itu ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 adalah ayat-ayat muhkamaat atau ayat yang terang dan jelas artinya, yang diturunkan ketika Haji Wadaa'. Selanjutnya QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 yang telah ditetapkan Allah SWT dan diberlakukan kepada kaum Yahudi (ayat 44, 45), dan Nasrani (ayat 47), tetapi oleh Al Qur'an dibenarkan dan tidak dimansukhkan, maka syariat untuk kaum Yahudi dan Nasrani itu berlaku kepada kaum muslimin juga. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat-ayat ini.

Nah secara hukum, itu syariat yang telah ditetapkan bagi kaum Yahudi dan Nasrani berlaku juga bagi kaum Muslimin. Hal ini diperkuat oleh ayat 48 : "wa anjalnaa ilaikal kitaba bil haqqi mushaddikan lima baina yadaihi minal kitabi wa muhaimina 'alaihi fahkum bainahum bima anzala Allahu wa la tattab'i ahwaa ahum 'amma jaa aka minal haqqi..." (QS Al Maidah,5: 48).

Karena itu lengkaplah sudah, pertama, Al-Quran telah membenarkan syariat kaum Yahudi dan kaum Nasyrani dan tidak memansukhkan. D kedua, QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 diperkuat dengan ayat 48.

Disebabkan dalam QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 ini menyangkut masalah dasar hukum, yang sangat penting dan paling mendasar dalam kehidupan umat manusia didalam bermasyarakat, dan bernegara. Sehingga itu surat Al Maidah diturunkan ketika Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw. Mengapa QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 ini diturunkan setelah Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw ?

Karena diatas hukum itulah keadilan bisa ditegakkan. Diatas hukumlah itu perdamaian bisa ditegakkan. Diatas hukumlah itu keamanan bisa terjamin dan terlaksana. Sehingga Rasulullah saw sendiri tidak ada memberikan komentar terhadap ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini. Mengapa ? Karena memang ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 sudah jelas arah dan maksudnya.

Nah ketika QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini diturunkan, itu Daulah Islamiyah telah berdiri. Karena itu sudah jelas dan pasti bahwa bagi penguasa dalam Daulah Islamiyah atau alam Khilafah Islamiyah yang menetapkan, memutuskan, menjalankan aturan, hukum, undang-undang dengan penuh kesadaran dan dengan i'tikadnya tanpa menurut aturan, hukum yang diturunkan Allah SAW dan yang dicontohkan Rasul-Nya, maka penguasa Daulah Islamiyah itu sudah menjurus kepada kafir (QS Al Maidah, 5: 44).

Sekarang itu menyinggung soal menghukum atau menjatuhkan vonis seseorang kafir adalah harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Kita tidak punya hak untuk mengkafirkan atau menyatakan seseorang keluar dari keyakinan keIslamannya, kecuali semuanya dikembalikan kepada dasar hukum Allah SWT yang telah diturunkan Allah SWT.

Seseorang sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS, At-Taubah, 9: 115).

Berdasarkan dasar hukum ayat diatas dinyatakan bahwa seseorang tidak akan diazab oleh Allah karena kesesatannya, kecuali jika orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya.

Begitu juga "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS, Al-Isra, 17: 15).

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS, An-Nisa, 4: 115)

Selanjutnya, "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS, Al-Maidah: 44).

Nah orang-orang kafir yang divonis Allah SWT ini adalah karena mereka benci dan ingkar kepada hukum Allah.

Menurut Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz: "Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan: Pertama, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Kedua, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Ketiga, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka ia kafir dengan kekafiran yang besar. Keempat, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22)

Sekarang, dari apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz diatas kita hubungkan dengan kehidupan pemerintahan dalam satu negara, misalnya di Negara RI.

Yaitu apabila para pelaksana lembaga negara seperti anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR menyatakan bahwa berhukum dengan hukum, undang-undang DPR, karena hukum, undang-undang itu lebih utama dari syariat Islam, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Juga apabila para anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR menyatakan bahwa berhukum dengan hukum, undang-undang DPR, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Begitu juga apabila para anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR berhukum dengan hukum, undang-undang DPR, namun menyatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Jadi untuk mengetahui apakah kafir para pelaksana lembaga negara RI itu, maka semuanya harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Karena manusia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atau hukuman kafir kepada seseorang.

Jadi sekarang, dengan dasar pegangan nash diatas inilah dapat memberikan gambaran dan pegangan yang jelas dalam usaha melihat apakah seseorang itu dinamakan kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam nash Al-Maidah: 44.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 17 Dec 2004 14:36:28 -0800 (PST)
From: Johan Pahlawan johan_phl@yahoo.com
Subject: Salaf dan Wahabi ?
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, at_taqwa@telkom.net, husaini54daud@yahoo.com, universityofwarwick@yahoo.co.uk, fahrida@rad.net.id, hadifm@cbn.net.id, jkamrasyid@aol.com, lampohawe@yahoo.com, nacara2004@yahoo.com, om_puteh@hotmail.com, teguhharjito@yahoo.com, acheh_karbala@yahoo.no, mazda_ok@yahoo.com, abu_dipeureulak@yahoo.com, ahmedjpr@yahoo.com, abuguntur@hotmail.com, achehmerdeka@yahoo.com, aditjond@psychology.newcastle.edu.au, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>, bahtiar@gmail.com, chelives@gmail.com, duta_acheh@yahoo.com, info@asnlf.cjb.net, info@atjehtimes.com, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, dewisifa@yahoo.com, editor@jawapos.com, warzain@yahoo.com, Hassan Wirajuda <hassan.wirajuda@ties.itu.int>, zul@mucglobal.com

Assalamu'alaikum

Setelah mengamati penjelasan dan komentar bung Ahmad dan saya bandingkan dengan penjelasan makna salaf dan sejarahnya maka saya dapati perbedaan yang mencolok, bahwa bung Ahmad memandang salaf atau salafy dari sudut lahirnya gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabia, sedangkan dari sejarahnya sendiri salaf telah populer jauh sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ada, dan kata salaf telah dipopulerkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan generasi selanjutnya sebagai pembeda dari kelompok yang mengaku Sunni tapi ternyata sempalan.

Inilah letak perbedaan sudut pandang yang terjadi. Dan saya kira hal ini sudah jelas. Terutama bagi saya pribadi yang dhoif ini.

Dan saya berharap bahasan mengenai surat Al Maidah yang menjadi pokok bahasan antara bung Ahmad dan Mazda bisa kembali kita bahas. Karena saya menganggap disinilah letak bahasan pokok pertentangan antara saudara Mazda dengan Ahmad Sudirman.
Ini saja dulu email saya.

Wassalamu'alaikum

Johan Pahlawan

johan_phl@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------