Stockholm, 20 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DASAR, SUMBER HUKUM & KONSTITUSI YANG JADI UKURAN APAKAH ITU NEGARA ISLAM ATAU NEGARA KAFIR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PENEGAKKAN, PENERAPAN, PELAKSANAAN DASAR DAN SUMBER HUKUM DALAM NEGARA MENJADI UKURAN BAGI PENGUASA & RAKYATNYA UNTUK DIJATUHI VONIS KAFIR ATAU BUKAN

"Nampaknya ada satu perkara lagi yang perlu di perjelas dalam diskusi kita di forum ini, pak Ahmad. Yaitu perbedaan fakta masyarakat dan individu muslim dari sisi status kekufurannya. Dalam satu tanggapan ada disebutkan bahwa untuk menyatakan "status kafir bagi seorang tidaklah ditetapkan dengan mudah, sehingga bagaimana mungkin kita akan mudah menyatakan bahwa R.I (misalnya) sebagai sebuah negara kafir". Maaf saya lupa tanggapan dari siapa, dan saya tidak meluangkan waktu untuk mencarinya kembali di forum ini. Dengan kata lain, dengan anggapan diatas maka manakala kita menyatakan suatu daulah sebagai kufur, maka otomatis dianggap sebagai takfir terhadap muslim yang berada di wilayah daulah tadi. Padahal bukankah tidak demikian yang kita maksudkan." (Derry Adrian S , derryadrian@sctvnews.com , Sat, 18 Dec 2004 16:30:17 +0700 (JAVT))

Baiklah saudara Derry Adrian S di Bandung, Indonesia.

Sebenarnya dengan mengacu kepada Daulah Islamiyah pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw di Yatsrib atau Madinah, yang kemudian berkembang melalui Khilafah Islamiyah oleh Khulafaur Rasyidin, dan diteruskan oleh para Khalifah Islamiyah dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, Utsmaniyah sampai runtuhnya Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1924 M, maka sudah dapat gambaran bahwa daulah yang dasar dan sumber serta konstitusi negaranya mengacu kepada dasar dan sumber Islam, itulah yang dinamakan Daulah Islam. Adapaun daulah yang dasar dan sumber hukum serta konstitusi negaranya tidak mengacu kepada dasar dan sumber Islam, itulah yang dinamakan daulah kufur.

Nah disini yang menjadi ukuran untuk melihat apakah daulah itu Daulah Islamiyah atau daulah kufur adalah dilihat dari sudut dasar dan sumber hukum serta konstitusi yang dijadikan landasan berdirinya daulah tersebut.

Karena itulah, mengapa semua aturan, hukum, yang menyangkut kehidupan keluarga, masyarakat, pemerintahan dan negara diturunkan oleh Allah SWT ketika Daulah Islamiyah pertama telah dibangun oleh Rasulullah saw di Yatsrib.

Dan dengan dasar dan sumber hukum Islam yang dipakai dalam satu negara inilah yang dijadikan tolak ukur untuk mengetahui apakah orang, rakyat, penguasa, pimpinan dalam negara telah melanggar dan tidak mau mengikuti aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.

Karena itulah dasar dan sumber hukum QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 dijadikan dasar tolak ukur untuk menguji dan mengukur apakah memang orang, rakyat, penguasa, pimpinan dalam negara telah melanggar dan tidak mau mengikuti aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw, ataukah memang orang, rakyat, penguasa, pimpinan dalam negara telah mengikuti aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw dalam kehidupan bermasyarakat, berpemerintahan dan bernegara.

Sekarang dengan berdasarkan dasar dan sumber hukum serta konstitusi yang diacukan dan dipakai dalam satu negara, dapat dilihat apakah orang, rakyat, penguasa, pimpinan dalam negara tersebut bisa dijatuhi hukuman atau vonis sebagai kafir atau tidak, sebagaimana dijelaskan dalam dasar dan sumber hukum QS Al Maidah, 5: 44.

Jadi mengenai bagaimana untuk melihat status kekufuran dalam hal Negara dan rakyatnya adalah semuanya dikembalikan kepada dasar dan sumber hukum serta konstitusi yang dipakai dalam negara tersebut yang diacukan kepada dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw serta konstitusi Daulah Islamiyah yang dibangun oleh Rasulullah saw di Yatsrib.

Selanjutnya menyinggung masalah bahwa "benar-benar kita hidup di zaman ini. Kita hidup di zaman dimana tiada kholifah yang dapat kita bai'at. Maka sesuai sekali dengan fakta kita saat ini yang hidup bagaikan di saat masyarakat Islam belum terbentuk di madinah. Dimana kita tidak dianggap sebagai orang kafir, kemusliman kita tetap dalam keislaman yang nyata, tetapi Islam sebagai sebuah "jasadil wahiid" memang belum eksis." (Derry Adrian S , derryadrian@sctvnews.com , Sat, 18 Dec 2004 16:30:17 +0700 (JAVT))

Jelas, gambaran dan fakta yang dikemukakan oleh saudara Derry Adrian diatas itu adalah tidak kena. Mengapa ?

Karena Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib pada tahun 622 telah dibangun dan dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, Utsmaniyah, tetapi itu Daulah Islam dan Khilafah Islamiyah dihancurkan sehingga runtuh pada tahun 1924.

Jadi, dalam hal ini kita tidak bisa memberikan alasan dan dalil bahwa "fakta kita saat ini yang hidup bagaikan di saat masyarakat Islam belum terbentuk di madinah". Mengapa ? Karena kita telah mengetahui berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan hukum bahwa Daulah Islamiyah pertama telah berdiri dan berkembang menjadi Khilafah Islamiyah sampai tahun 1924.

Dan sekarang yang jelas dan pasti adalah itu Daulah Islamiyah pertama yang telah berdiri dan dikembangkan serta menjadi Khilafah Islamiyah telah dihancurkan oleh kita sendiri bersama kaum kafir dari pemerintahan negara kafir, dan sekarang kita tidak mau dan tidak ridha untuk membangun kembali Daulah Islamiyah ini.

Nah disinilah kunci permasalahannya. Kita bersama kaum kafir telah menghancurkan Khilafah Islamiyah terakhir pada tahun 1924, kemudian ngotot tidak mau membangun kembali Daulah Islamiyah, seperti di Indonesia ini, kalaupun sudah ada diproklamasikan Negara Islam Indonesia, tetapi dihancurkan oleh Soekarno Cs termasuk oleh para penerusnya sekarang ini.

Jadi bagaimana mungkin para penguasa RI yang dipelopori Soekarno dan penerusnya sampai Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ini ingin membangun kembali Daulah Islamiyah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw, dan juga bagaimana mungkin para penguasa RI yang dipelopori Soekarno dan penerusnya sampai Susilo Bambang Yudhoyono ini ingin menegakkan dasar dan sumber hukum Islam kalau ternyata mereka sendiri tidak mengikuti aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.

Nah orang atau mereka inilah yang dijatuhi hukuman atau vonis sebagaimana yang tertuang dalam dasar dan sumber hukum QS Al Maidah, 5: 44.

Kalau ada orang-orang yang membantah, justru orang-orang yang membantah itulah termasuk kedalam golongan orang-orang yang divonis Allah SWT berdasarkan dasar dan sumber hukum Islam QS Al Maidah, 5: 44.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 18 Dec 2004 16:30:17 +0700 (JAVT)
Subject: Darul Kufr dan Status kafirnya seorang Individu.
From: "Derry Adrian S" derryadrian@sctvnews.com
To: ahmad@dataphone.se

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

Nampaknya ada satu perkara lagi yang perlu di perjelas dalam diskusi kita di forum ini, pak Ahmad. Yaitu perbedaan fakta masyarakat dan individu muslim dari sisi status kekufurannya.

Dalam satu tanggapan ada disebutkan bahwa untuk menyatakan "status kafir bagi seorang tidaklah ditetapkan dengan mudah, sehingga bagaimana mungkin kita akan mudah menyatakan bahwa R.I (misalnya) sebagai sebuah negara kafir". Maaf saya lupa tanggapan dari siapa,... dan saya tidak meluangkan waktu untuk mencarinya kembali di forum ini.

Dengan kata lain, dengan anggapan diatas maka manakala kita menyatakan suatu daulah sebagai kufur, maka otomatis dianggap sebagai takfir terhadap muslim yang berada di wilayah daulah tadi. Padahal bukankah tidak demikian yang kita maksudkan.

Paling tidak inilah yang saya pahami setelah mengkaji beberapa judul buku seperti An-Nadhah, Dirasat Fiqril Islam, Mafahim Islamiyyah. Dengan kata lain, cocok dengan hadits "Man maata fa laisa fi unuqihi bai'atun maata mitatan jahiliyyatan"

Barang siapa yang mati dan tiada baiat dalam pundaknya maka kematiannya bagai dalam mati jahiliyyah.

Saat tidak ada bai'at di pundak kita, saat tidak ada yang bisa kita bai'at untuk menjalankan seluruh hukum Islam, dengan kata lain saat tiada kehidupan islam sebagai sebuah sistem yang saling berkaitan,... maka benar-benar kita hidup di zaman ini. Kita hidup di zaman dimana tiada kholifah yang dapat kita bai'at. Maka sesuai sekali dengan fakta kita saat ini yang hidup bagaikan di saat masyarakat Islam belum terbentuk di madinah. Dimana kita tidak dianggap sebagai orang kafir, kemusliman kita tetap dalam keislaman yang nyata, tetapi Islam sebagai sebuah "jasadil wahiid" memang belum eksis.

Derry Adrian S

derryadrian@sctvnews.com
Bandung, Jakarta
----------