Stavanger, 20 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PLUS + II MASALAH PENYEMBELIHAN BANGSA ACHEH - PAN DAYAK BORNEO DAN NASIONALISME
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

MASIH TETAP MENYOROT MASALAH PENYEMBELIHAN BANGSA ACHEH - PAN DAYAK BORNEO DAN NASIONALISME

Disini saya katakan bahwa masalah pelanggaran HAM di Acheh dan di Papua hari ini, dengan pelanggaran HAM keatas buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan buruh Tani yang miskin, yang kemudian dikenal sebagai: Korban Peristiwa 1965 dan Korban Pulau Buru, 40 tahun yang lalu. adalah mutlak berbeda!

Malahan kalau saudara Ibrahim Isa Bijlmer, mau kembali mempelajari dengan jujur apa itu Nasionalisme dan apa itu Komunisme, maka akan tampak semakin jelas pula bagaimana struktur hakiki Nasionalisme dan bagaimana struktur hakiki Komunisme termasuk struktur hakiki perbedaan mutlak dari pelanggaran HAM atas penyembelihan kejam 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh di Acheh dan 100.000 jiwa lebih bangsa Papua di Papua yang sedang berjuang, memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan hendak mendaulatkan negara mereka, dibandingkan dengan pelanggaran HAM atas pembunuhan kejam keatas 3.000.000 jiwa lebih buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan buruh Tani yang miskin yang kesemua mereka tidak pernah bersalah. Sejak 40 tahun yang lalu dengan nisbah yang sangat jelas, dan pasti-pasti, sekalipun kesemua korban-korban itu, disembelih atau dibunuh dengan kejamnya oleh algojo yang sama: ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam!

Makanya jika saudara Ibrahim Isa Bijlmer mau mencoba untuk menelaah kembali apa itu nasionalisme, ini akan berarti, usaha saudara yang sedemikian rupa itu, akan disifatkan sebagai sedang mengajak diri saudara sendiri untuk kembali lagi menelaah akar sejarah (the root of history) bangsa Acheh, bangsa Papua atau bangsa-bangsa di luar Pulau Jawa, agar nasionalisme ala Ernest Renant yang pernah disodorkan oleh Soekarno si Penipu licik itu pada 1 Juni, 1945, atau yang kini coba dicaplak kembali oleh saudara Dr J J Kusni, tidaklah juga menjadi pegangan ikutan saudara Ibrahim Isa Bijlmer, karena model itu out of date dan tidak universil!

Saudara Ibrahim Isa Bijlmer! Itu nasionalisme model Ernest Renant, yang dipilih oleh Soekarno si Penipu licik, sesuai untu kesimpulan dari sebuah cerita sejarah bagi para migrant yang telah berhasil mendirikan sebuah negara atau dalam konteks ini untuk alat propaganda bagi para "broker sejarah" atau pun kemudian hanya akan digunakan sebagai applikasi substantive!

Itulah yang digunakan oleh broker kemerdekaan seperti Soekarno si Penipu licik atau yang lebbih dikenal sebagai broker beras merah Ranngoon! Si Broker minum sebotol, dibilangkan mabuk selusin!

Atau apakah saudara Dr J J Kusni, sebagaimana juga anda, saudara Ibrahim Isa Bijlmer, masih belum punya indra yang kuat untuk meresapi apakah itu ketulenan sebuah nasionalisme?

Ataupun pernahkah suadara Ibrahim Isa Bijlmer, mempelajari kebangkitan nasionalismenya Dr Theodor Herzl dan 200 rakan-rakan, setelah peristiwa Alfred Dreyfus dimahkamahkan di Perancis? Adakah tanah-wilayah negara mereka? Adakah bahasa kebangsaan mereka? Yang ada rasa cinta kebangsaan mereka, yang ada jiwa nasionalisme mereka, yang ada keinginan mereka untuk mempunyai sebuah tanah airnya sendiri! Itulah Nasionalisme!

Jadi, kalau Soekarno si Penipu licik itu mengambil nasionallisme ala Ernest Renant itu, maka jelaslah anak Jawa itu, coba mengibulin anak-anak bangsa lain dari luar Pulau Jawa!

Dalam lembaran yang lalu (Masalah Penyembelihan Bangsa Acheh-Dayak Dan Nasionalisme: Thursday, 25 Nov.2004) saya telah menuliskan bahwa nenek moyang bangsa Acheh telah mendidik nasionalisme kepada anak-cucu dan keturunannya yang laki dan yang perempuan sejak dari buaian sehingga rebah-syahid (lengkapnya mengenai nasionalisme ini, telah termuat pada sebuah tulisan saya yang berjudul: Wanita Acheh Pelopor Emansipasi Di Asia?, yang pernah saya kirimkan ke Seminar: Perempuan Dan Kekuasaan di Cologne, 7-9 Juni, 2002, Germany, di Jerman), yang tidak perlu teraba-raba lagi, yang berbeda seperti yang baru diperkenalkan (dipropaganda/dipromosikankan) oleh Soekarno si Penipu licik dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni, 1945 itu, atau seperti yang dikutip kembali oleh saudara Dr J J Kusni.

Dari hakikat Pendidikan Nasionalisme nenek moyang bangsa Acheh inilah, yang kermudian telah menyedari sepenuhnya kembali Dr Tengku Hasan di Tiro, Wali Negara, Negara Acheh Sumatra, akan bagaimana sebenarnya Nasionalisme Acheh itu, sehingga beliau mencampakkan "nasionalisme Ernest Renant" malahan beliau mencampakkan buku karya beliau sendiri: "Demokracy for Indonesia" yang disifatkan sebagai tidak bermakna apa-apa lagi! No use! No Jum! Hana meumakna sapeue pih l‚!

Saya, pribadi telah mengatakan kepada Tengku Hasan di Tiro: "Tengku! Hari ini saya telah menerima hakikat diri saya sebagai bangsa Acheh! Sampai mati, sampai kiamat saya tidak akan menukar hakikat saya sebagai bangsa Acheh, siapapun tidak bisa menukar hakikat saya sebagai bangsa Acheh sekalipun dengan perintah Tengku"!

Demikian juga telah berulangkali saya katakan kepada rakan-rakan atau saudara-saudara saya bangsa Acheh, di Acheh, di Malaysia, di Norwegia dan seluruh dunia, bahwa hakikat kita sebagai bangsa Acheh, tidak siapapun bisa mengubahnya, sekalipun dengan perintah Tengku Hasan di Tiro! Dan sekarang ini saya sampaikan via media e-mail ini, kepada anda, saudara Ibrahim Isa Biljmer! Nah, itulah konsekwensi Nasionalisme Acheh itu! Dan itulah Nasionalisme Acheh!

Semua para Nasionalis-Nasionalis Acheh, telah menerima hakikat mereka sebagai bangsa Acheh! Semua para Nasionalis-Nasionalis Acheh, baik mereka sebagai sipil, maupun sebagai militer, tidak akan mengubah hakikat mereka sebagai bangsa Acheh, sekalipun dengan perintah Wali Negara, Tengku Hasan di Tiro, sehingga mereka rebah-syahid!!!

Saudara Yusra Habib Abdul Gani, telah mengarah kepada seluruh pemuda Acheh Gayo: Siapapun Pemuda-Pemuda Acheh Gayo yang tidak mau menjadi TNA, Tentara Negara Acheh untuk memerdekakan bangsa Acheh dan mendaulatkan Negara Acheh Sumatra, silakan pakai rok, jadikan diri sebagai perempuan!

Intulah Nasionalime Acheh!

Makanya tidaklah perlu saudara Ibrahim Isa Bijlmer, dengan angkuh dan sombongnya mengatakan Acheh itu, Papua itu, Maluku sebagai seperatis.

Acheh itu berjuang dengan nasionalismenya! Papua itupun, berjuang dengan nasionalismenya! Maluku itupun juga berjuang dengan nasionalismenya!

Ibrahim Isa Bijlmer! Acheh itu, Papua itu dan Maluku itu tidak bisa disamakan dengan PRRI atau Permesta atau OSM (Operasi Sabang Meurauke)! Sebagaimana saudara Ibrahim Isa Bijlmer, perlu mempelajari kembali apakah itu nasionalisme apa itu komunisme maka perlu juga mempelajari apakah itu gerakan pemisahan atau seperatis (NKRI keluar dari RIS), apakah itu pemberontakan (PRRI, Permesta, OSM), apakah itu Gerakan Tiga Poeloeh September (1965)-Gestapoe/PKI dan apakah itu perjuangan kemerdekaan seperti Acheh Sumatra, Papua Barat dan Republik Maluku Selatan atau Pan Dayak Borneo.

Masalah Negara Acheh Sumatra, Negara Papua Barat, Negara Republik Maluku Selatan dan Negara Pan Dayak Borneo masih dapat dibawa seperti ke forum "Seminar Indonesia" , Den Haag tanggal 16 September, 2004 yang lalu di gedung Koninklijke Schowburg, Den Haag, Belanda itu atau mana forum dunia lainnya. Forum HAM sedemikian rupa itu sememangnya forum untuk bangsa Acheh, bangsa Papua Barat, bangsa Maluku atau bangsa Pan Dayak Borneo dan bukan forumnya untuk kasus seperti HAMnya Gestapoe/PKI!

Masalah-masalah seperti PRRI, Permesta, OSM dan Gestapoe/PKI, forumnya adalah DPR atau MPR Penjajah Indonesia Jawa! Karena PRRI, Permesta, OSM dan Gestapoe dipandang oleh konstitusi Penjajah Indonesia Jawa adalah Pemberontak!

Sama seperti masalah perjuangan PNI masa Soekarno si Penipu licik dulu, yang dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Hindia Belanda, karena Volksraad ketika hendak "diciptakan" oleh pemerintah Penjajah Hindia Belanda, telah mendapat restu terlebih dahulu dari Haji Said Tjokroaminoto, ex bapak mertua Soekarno si Penipu licik itu sendiri.

Atau dalam kata lain, termasuk masalah saudara Ibrahim Isa Bijlmer sendiri, sebagai anggota Gestapoe/PKI adalah disifatkan sebagai masalah anggota pemberontak! Juga perlu disampaikan ke DPR atau MPR Penjajah Indonesia Jawa!

Apalagi Megawati Soekarno Putripun telah berhasil menggunakan saluran mahkamah Pengadilan merehabitir Hak-Hak Azasi Manusia (HAM) dari 30.000.000 jiwa mereka-mereka Korban Peristiwa 1965 dan Korban Pulau Buru serta sanak keluarga atau dengan kata lain ex anggota Gestapoe/PKI!

Malahan sebelum Gus Dur Abdurrahman Wahid mengusulkan TAP MPR yang jahat itu dicabut, kesemua 30.000.000 jiwa mereka-mereka Korban Peristiwa Peristiwa 1965 dan Korban Pulau Burupun atau ex anggota Gestapoe/PKI telah menggunakan hak dan kewajiban mereka menyokong Gusdur Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri, hingga dapat menduduki kerosi Presiden dan Wakil Presiden Penjajah Indonesia Jawa.

Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono menduduki kerosi kepresidennannya baru-baru inipun juga atas sebab sokongan kuat dan bertenaga dari 30.000.000 suara rakan-rakan anda ex-anggota Gestapoe/PKI, kalau tidak masa bisa dia menang.

Susilo Bambang Yuhoyono membaca dan mengetahuinya dengan baik sokongan penuh dan padu itu, makanya dia perlu menempatkan Prof Yusri Ihza Mahendra sebagai Sekretaris Negara, siapa orangnya yang sangat kuat anti komunis itu, untuk mengamati gerak-maju mereka, gerak-maju anda sekalian ex anggota Gestapoe/PKI!

Mengapa Megawati Soekarno Putri tidak lagi diberi sokongan, karena anak perempuan Soekarno si Penipu licik itu bodoh! Bodohnya setaraf bibik jamu gendong! Apalagi kepengecutannya yang tidak bisa dimengerti sehingga tidak mampu menyeret Suharto Kleptokracy dan Jenderal-Jenderal algojo Orba biadabnya itu ke mahkamah HAM!

Berbalik ke masalah 3.000.000 jiwa buruh Fabrik yang tidak cukup makan itu dan buruh Tani yang miskin yang tidak bersalah itu, yang telah dibunuh dengan kejam dan tidak berprikemanusiaan oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam, sejak 40 tahun yang lalu, sekali lagi perlu diulang bahwa ianya bukan lagi untuk dibicarakan dalam forum-forum seperti forum "Seminar Indonesia" yang berlangsung pada tanggal 16 Desember, 2004 di Den Haag, Belanda itu, sebagaiman telah disebutkan diatas, tetapi anda berdua Ibrahim Isa Bijlmer dan Dr J.J. Kusni perlu terus melobby di forum-forum lain seperti di Geneva atau di New York, sehingga Diktator Soeharto Kleptokracy, si Pencuri itu dan semua Jenderal-Jenderal Indonesia Orbanya, yang telah melalukan Kejahatan Terhadap Manusia dan Kemanusiaan (Criminal Against Humanity) dan Kejahatan Terhadap Hak-Hak Azasi Manusia (Human Rights Violence) bisa diseret segera ke Mahkamah Keadilan Internasional atau International Criminal Court of Juctice di Den Haag ataupun dimana-manapun Tribunal PBB lainnya ataupun cari badan-badan yang peduli pada tingkat kejahatan atas kemanusiaan seperti itu, seperti yang telah banyak dilakukan oleh masyarakat korban penindasan Nazi Jerman atau seperti yang akan dianjurkan oleh Kofie Annan , untuk memperingati ulang tahun korban dari kem-kem maut seperti Kem Austwitchz pada pertengahan January, 2005 yad. Pulau Buru adalah Indonesia's Camp Austwitchz!

Itupun kalau saudara Ibrahim Isa Bijlmer dan Dr J.J. Kusni mau mengatakan Diktator Suharto Kleptokracy , si Pencuri itu dengan Orde Barunya yang berlambangkan Pancasila Sakti sama seperti Adolf Hitler dengan Gestaponya berlambang Swastika! Tetapi ingat! Jangan sebutkan Soekarno si penipu licik itu, ketua Gestapoe Jawa!

Selain itu saya perlu tanyakan, kepada anda berdua, saudara :Ibrahim Isa Bijlmer dan saudara Dr J.J. Kusni, apakah kedua anda pernah menangis, seperti menangisnya Nyonya Carmel Budihardjo, ketika mendapatkan jawaban dari si Gus Dur Abdurrahman Wahid, yang tidak akan mau menyeret Diktator Suharto Kleptokracy , si Pencuri itu ke Mahkamah Keadilan atas kejahatannya membunuh dengan kejamnya 3.000.000 jiwa lebih buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan buruh Tani yang miskin yang tidak bersalah atau melemparkan sebahagian mereka ke Pulau Buru, ke Indonesia's Camp Austwitchz, tetapi sebaliknya akan memberi pengampunan jika uang curian dari kekayaan bangsa Acheh Sumatra, Pan Dayak Borneo, Poso, Minahasa dan Gorontalo, Maluku dan Papua Barat yang berjumlah US 3.5 billion dollars lebih mau dikembalikan? Jiwa saya sendiri pernah tergugah-sendu ketika pertama sekali membaca cerita beliau itu.

Jika tidak bisa menangis seperti itu, sepert tangisan sendu Nyonya Carmel Budihardjo, maka tutuplah sajalah cerita kalian berdua itu!

Saudara Ibrahim Isa Bijlmer dan saudara Dr J.J Kusni anda berdua perlu sadari kembali, bahwa Pelanggaran HAM : Korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru adalah akibat benturan dua kekuatan besar Angkatan Ke - V dengan TRPnya, Tentara Rakyat Proletarnya terhadap Angkatan Orde Baru dengan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam dan hanya semata-mata dengan maksud dan tujuan untuk mengsaktikan Pancasila dan untuk duduk disinggahsana!

Perjuangan saudara sekalian bukan perjuangan nasionalisme atau bukan perjuangan kemerdekaan! Bukan perjuangan Kemanusiaan. Tetapi perjuangan komunistis-birokratis!

Disini kembali saya memulakan lagi membicarakan perihal nasib bangsa Acheh di Acheh sebagai korban pelanggran berat HAM, yang telah dilakukan oleh pemerintah Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa cq ABRI-TNI/POLRI, Tentra Teroris Nasional Penjajah Indoneisia Jawa atau si Belanda Hitam yang telah coba dikretariakan seperti nasib korban HAM di Palestina oleh saudara Aguswandi anak muda dari London itu atau yang kemudian saya ketahui bahwa Aguswandi dari Tapol London itu ikut hadir bersama saudara Otto Syamsuddin dari Imparsial Jakarta ke" Seminar Indonesia" 16 Desember, 2004 di Den Haag itu, walaupun kedua mereka itu bukan mewakili nasioanlis-nasionalis Acheh atau kedua mereka itu bukan nasionalis-nasionalis Acheh!

Tetapi mengapakah kami, nasionalis-nasionalis Acheh belum lagi memberikan sebarang respon negatip kepada badan penyelenggara Seminar Indonesia di Den Haag itu, seperti yang anda telah lakukan, seperti "strong attack" seperti yang dikatakan oleh seorang rakan dari London: Mr Alex Flor?

Nah lagi, saudara Ibrahim Isa Bijlmer dan Dr J.J. Kusni, mengapakah Aguswandi dari Tapol London dan Otto Syamsuddin dari Imparsial Jakarta itu, yang kedua-dua mereka, anak etnis Acheh dan masih lagi sebagai warga negara Indonesia Jawa itu, seperti anda berdua, tetapi mereka berdua itu dengan gigih dan bersemangat tidak ada sebarang halangan mau membela korban pelanggaran HAM di Acheh dan di Papua, dan mau membela perjuangan nasionalis-nasionalis Acheh dan Papua, sedangkan anda berdua sebaliknya, malahan coba "mencibirkan" nasionalis-nasionalis Acheh dan Papua serta nasionalisme mereka, dengan sombong sambil mengatakan mereka sebagai seperatis?

Sekalipun demikian, saya masih mau mengucapkan terima kasih atas kecaman keras anda terhdap kekejaman dan keberutalan Negara Kolonialis Republik Indonesia c.q. ABRI-TNI/POLRI, Tentra Troris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam menyembelih bangsa Acheh dan Papua!

Kemudian adakah anda punya cukup berkemampuan untuk menjelaskan apakah itu seperatis, apakah itu pemberontakan dan apakah itu perjuangan kemerdekaan?

Sehubungan dengan perkara atau masalah ini saya telah pernah menjelaskan sejelas-jelasnya apakah itu, penjajah, atau apakah itu penjajah Indonesia Jawa atau apakah itu penjajah Jawa! Exploitaion de nation par nation! Exploitaion de l'home par l'home! apakah itu Freedom Fighter, apakah itu Seperatis dan apakah itu Rebeller!

Disini saya tujukan lagi pertanyaan kepada saudara Ibrahim Isa bijlmer dan saudara Dr J. J. Kusni : Apakah anda tahu tentang sejarah kolonialisme dan imperialisme Indonesia Jawa atau Jawa? Kalau anda berdua tahu, maka sudah tentu dan pasti anda akan tahu apakah itu gerakan nasionalisme di Acheh, di Pan Dayak Borneo, di Maluku dan di Papuua Barat! Dan andakah kedua anda tahu level-tingkatan pelanggaran HAM disana?

Dan lagi, kalau anda benar seorang komunis tulen, maka anda akan juga menentang Kolonialisme Indonesia Jawa atau Kolonialisme Jawa itu atau Negara Kolonialisme Republik Indonesia Jawa (NKRI) itu, sebagaimana seluruh manifesto perjuangan komunis sedunia menentang Feodalisme, Kapitalisme, Imperialismedan dan semua bentuk Oppotunisme dan embel-embelannya!

Catatan besar:

Saudara Ibrahim Isa Bijlmer! Bagaimanakah anda bisa mengenal nasionalis-nasionalis GAM yang datang hadir kesana? ASNLF/GAM itu uniform atau baju seragamnya bagi nasionalis-nasionalis Acheh!!! Makanya kalau anda telah bisa mengenal GAM, maka itu, menjadi sebuah pertanda bagi anda bahwa ASNLFatau GAM itu telah didaftarkan dikornea setiap mata masyarakat dunia dan tidak sekali-kali didaftarkan di DPR atau MPR Penjajah Indonesia Jawa sebagaimana PNI atau baju seragamnya nasionalis-nasionalis Jawa mendaftarkan perjuangan mereka dengan Akta Notaris dan di Volkraads Penjajah Hindia Belanda!

Jadi, untuk catatan besar anda pula, walaupun bukan mengambil dari beberapa kesimpulan anda diatas, maka sesiapapun yang bukan GAM, itu berarti bukan Nasionalis Acheh! Atau dalam konteks ini, dalam masalah HAM, maka sebenarnya GAMlah atau nasionalis-nasionalis Achehlah yang lebih tahu, dengan sebenar-benar tahu, sampai-sampai pada kesemua titik-titik akupunkturis pelanggaran HAM di Acheh!!!

Saudara Ibrahim Isa Biljmer dan saudara Dr J.J. Kusni, perlu anda berdua saya yakinkan lagi bahwa sebenarnya Soekarno si Penipu licik itu bukan seorang Nasionalis tetapi sang Diktator itu adalah seorang Komunis! Dipakaikannya terompah kayu kekaki "Pak Marhen" lantas pada 1927 ditungganginya!

Dan begitu jugalah setelah disuruhnya buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan buruh Tani yang miskin makan pangan "Jagung" pada tahun 1965 lantas dia dan Dipo Negoro Aidit sambil menggeranyangi paha ayam goreng juga lantas menungganginya! Apakah ini perlu saya uraikan sampai habis dan menjelimet?

Saudara Ibrahim Isa Bijlmer, itu rakan anda Dr J J Kusni sedang mengamati pelanggaran berat HAM yang sedang dilakukan oleh Penjajah Indonesia Jawa terhadap pejuang-pejuang kemerdekaan atau nasionalis-nasionals Acheh dan Papua. Beliau tampak Penjajah Indonesia Jawa itu, sedang meneguk darah bangsa Acheh dan Papua dan daging orang-orang pulau diluar Pulau Jawa sebagai ganti air kacang kedele ataupun susu disarapan pagi mereka! Lihat Ibrahim Isa Bijlmer, betapa tajam mata HAMnya J J Kusni??

Atau katanya Nasionalisme Indonesia Jawa sedang membuatkan daging bangsa Acheh dan Papua dan daging orang-orang pulau di luar Pulau Jawa menjadi semur dan rendang untuk santapan makan malamnya. Alangkah tajam mata HAMnya J J Kusni!

(bersambung ke Plus + III Masalah Penyembelihan Bangsa Acheh-Pan Dayak Borneo Dan Nasionalisme)

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
Norway
----------