Stockholm, 31 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SEBAGIAN BESAR RAKYAT RI TERUS DITIPU OLEH PEMIKIRAN SOEKARNO DALAM HAL ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN SEBAGIAN BESAR RAKYAT DI RI MASIH TERUS DITIPU OLEH PEMIKIRAN SOEKARNO DALAM HAL ACHEH

"Saya mengamati bahwa GAM mendeklarasikan musuh secara fisik, sedangkan Islam mendeklarasikan musuh secara akidah, artinya akidah itulah yang harus diperangi sehingga mereka berakidah islam 100%, dan itu non sense dengan melalui propaganda, apalagi referendum seperti yang dituntut GAM selama ini yang menggambarkan dengan jelas ananiyah-nya. Dan bahkan dari opini di website ini masih ada kesan mengambil keuntungan dengan bencana Tsunami di Aceh kita atas musuhnya (RI), atau barangkali itu sebagai gambaran keputusasaan, syok dan bingung, kenapa Allah menurunkan azab yang teramat berat." (Hedaya, heda1912@yahoo.com , Date: Fri, 31 Dec 2004 22:41:48 +0900)

Terimakasih saudara Hedaya atas tanggapan dan pikirannya.

Kalau saudara Hedaya mau jujur dan mau mendalami secara mendalam mengapa rakyat Acheh tampil memperjuangkan negeri, agama dan hartanya ?

Karena secara fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum menggambarkan bahwa Negeri Acheh sejak tanggal 14 Agustus 1950 telah diduduki dan dijajah oleh pihak Soekarno dengan RIS-nya yang diteruskan sampai detik ini oleh Susilo Bambang Yudhoyono Cs bersama TNI/Polri, serta DPR dan MPR-nya.

Inilah yang menjadi akar permasalah yang mendasar mengapa timbul konflik Acheh.

Jelas bagi rakyat Acheh itu pihak RI adalah merupakan penjajah yang telah menelan, menduduki dan menjajah Negeri Acheh melalui cara yang licik yang dilakukan oleh Soekarno sebagai Presiden RIS pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 dengan menelannya memakai mulut provinsi Sumatera Utara.

Sebagian besar rakyat di Negara RI tidak melihat dari sudut ini, melainkan dari sudut pihak penjajah RI, sehingga ketika melihat konflik Acheh menjadi ngawur dan salah kaprah.

Perjuangan rakyat Acheh sekarang adalah memperjuangkan negerinya, agama dan hartanya yang sedang diduduki dan dijajah oleh pihak RI. Kemudian sebelum Negeri Acheh bebas merdeka sebagaimana Negeri Yatsrib yang bebas dari pihak pengaruh kekuasaan de-facto dan de-jure kaum Quraisy Mekkah, maka sudah jelas di Negeri Acheh masih belum bisa ditegakkan dan dijalankan dasar, sumber hukum dan konstitusi berdasarkan apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah dalam Undang Undang Madinahnya.

Memang untuk menyatukan rakyat dalam Daulah Islamiyah sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam UU Madinahnya adalah aqidah Islam. Dan itu aqidah Islam yang dituangkan dalam UU Madinah adalah terwujud setelah Rasulullah saw berhasil berhijrah ke Yatsrib, yaitu daerah yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure kaum penguasa Quraisy Mekkah.

Sekarang, perjuangan rakyat Acheh sedang mengarah ke arah itu. Sedangkan rakyat Negara RI sekarang sedang berada dalam kungkungan sistem thaghut pancasila. Dimana sebagian besar rakyat di Negara RI baik secara sadar atau tidak sadar telah masuk kedalam lumpur sistem thaghut pancasila. Dan inilah yang menyesatkan dan menghancurkan aqidah dan ketauhidan ummat Islam di Negara RI. Yang mana Negara RI bisa dimasukkan kedalam golongan negara kafir. Dengan alasan dasar, sumber hukum dan konstitusinya tidak mengacu kepada dasar dan sumber hukum Islam yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw dalam UU Madinah-nya ketika Rasulullah saw membangun dan mendirikan Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib pada tahun 1 H atau 622 M.

Selanjutnya, kalau saudara Hedaya menyatakan bahwa "fase sekarang ini sudah memasuki fase hudaibiyah, sebuah fase intelektual, dimana kita bisa membunuh akidah lawan yang besar sekalipun hanya dengan sepidol, papan tulis dan air putih untuk melegakan tenggorokan, kenapa harus bersusah payah masuk hutan dan minta suaka di negeri pengasingan dengan perang opini kalo akhirnya harus kalah dan gagal."

Sebenarnya apa yang saudara Hedaya nyatakan itu salah besar. Mengapa ?

Karena sebenarnya Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw dan dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin dengan Khilafah Islamiyahnya yang disusul oleh para khalifah dari Umayah, Abbasiyah, Fathimiyah, Utsmaniyah, sampai hancurnya Khilafah Islamiyah masa Utsmani tahun 1924.

Jadi, sejak tahun 1924 sampai detik ini, itu Khilafah Islamiyah telah tiada, yang ada hanyalah sebagian besar Negara-negara yang ada di dunia adalah negara sekuler termasuk negara RI ini.

Memang sejak 12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949 telah diproklamasikan Negara Islam Indonesia oleh Imam NII SM Kartosoewirjo, tetapi ternyata oleh Soekarno dan para pengikutnya dihancur leburkan.

Justru sekarang adalah perjuangan membangun dan mengembangkan kembali Daulah Islamiyah dan Khilafah Islamiyah yang telah dihancurleburkan oleh kaum kafir dari Pemerintah kafir Negara-negara sekuler seperti Kerajaan Inggris dan Negara Perancis. Jadi bukan hanya terus ikut didalam sistem thaghut pancasila dalam Negara sekuler RI atau Negara kafir RI.

Mana bisa membangun kembali Negara Islam di Negara kafir RI melalui cara perubahan konstitusi atau UUD 1945 sekuler secara parlementer, itu sampai kiamat tidak akan mungkin terbentuk. Mengapa ? Karena hal demikian tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Membangun Daulah Islamiyah pertama yang dicontohkan Rasulullah saw adalah melalui hijrah keluar dari Negara kafir Quraisy Mekkah menuju Daerah wilayah bebas di Yatsrib.

Kalau hanya hijrah dalam Negara kafir RI itu namanya bukan hijrah yang dicontohkan Rasulullah saw ketika Rasulullah saw membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Di Negara kafir RI tidak akan mungkin berdiri Daulah Islamiyah, kecuali dilakukan setelah hijrah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan setelah melakukan perang secara pisik menghadapi negara yang mendeklarkan perang kepada ummat Islam yang sedang membangun Negara Islam-nya.

Itu penguasa di Negara kafir RI dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono terus melakukan perang melawan ummat Islam yang sedang berjuang menegakkan Daulah Islamiyahnya dan tegaknya syariat Islam.

Menyinggung bencana hebat di Acheh adalah merupakan azab dari Allah SWT kepada para penguasa di Negara RI yang telah membangkang kepada Allah SWT dengan tidak mengikuti apa yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Para pimpinan di Negara RI, dimana didalamnya dari lembaga Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, semuanya tidak menetapkan aturan, hukum, undang-undang menurut apa yang telah diturunkan Allah SWT dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Mereka semuanya memang membangkang. Ditambah mereka itu terus melakukan pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh. Sehingga akibatnya rakyat Acheh menjadi korban akibat ulah maksiat dan kesesatan yang dilakukan oleh para penguasa di Negara RI yang digolongkan kedalam golongan negara kafir dan negara sekuler.

Dan karena Negeri Acheh sedang diduduki dan dijajah oleh pihak RI, dan pihak RI masih terus melakukan perang terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila ini, maka dalam hal menangani korban gempa tektonik dan gelombang tsunami ini tidak melalui jalur yang telah ditetapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla dan TNI/Polri-nya, melainkan melalui jalur tersendiri dan kanal tersendiri.

Terakhir menyinggung referendum itu jelas merupakan penentuan sikap yang bukan untuk menentukan dan membuat hukum. Karena itu untuk penentuan sikap ini adalah merupakan taktik dan strategi dalam perjuangan, dan hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw pada tahun ke tiga hijrah, ketika kaum kaffir Mekkah akan menyerang Madinah, membuat musyawarah dengan para sahabatnya untuk mengambil keputusan dalam menghadapi serangan kaum kaffir Mekkah itu. Dimana dalam musyawarah itu sebagian berpendapat bahwa sebaiknya mempertahankan Yatsrib dan berperang dari dalam dan pendapat ini lebih disenangi Rasulullah saw, sedangkan sebagian besar atau mayoritas berpendapat untuk pergi keluar dan berperang di medan terbuka. Karena dengan adanya desakan dan keinginan mayoritas dari para sahabatnya, maka Rasulullah memutuskan untuk mengikuti keinginan mereka yang mayoritas itu (Ibnu Sa'd, Ath-Thabaqat al-Kubra, Beirut, 1960).

Nah berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah saw diatas, merupakan dasar hukum untuk bisa dipakai dalam hal penentuan pendapat atau referendum dalam menetapkan dan memutuskan apakah sebagian besar rakyat Acheh ingin bebas dari RI atau tetap ingin berada dalam sangkar Negara RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

To: ahmad@dataphone.se
From: heda1912@yahoo.com
Date: Fri, 31 Dec 2004 22:41:48 +0900
Subject: Site Posting: Husaini Daud: Hikmah dibalik gempa tektonik dan gelombang tsunami 26 Desember 2004

Saudara-saudara sekalian,

Saya mengamati bahwa GAM mendeklarasikan musuh secara fisik, sedangkan Islam mendeklarasikan musuh secara akidah, artinya akidah itulah yang harus diperangi sehingga mereka berakidah islam 100%, dan itu non sense dengan melalui propaganda, apalagi referendum seperti yang dituntut GAM selama ini yang menggambarkan dengan jelas ananiyah-nya. Dan bahkan dari opini di website ini masih ada kesan mengambil keuntungan dengan bencana Tsunami di Aceh kita atas musuhnya (RI), atau barangkali itu sebagai gambaran KEPUTUSASAAN, SYOK dan BINGUNG, kenapa Allah menurunkan azab yang teramat berat.

Bisa dipertanyakan, kontribusi apa yang bisa dilakukan GAM atas tsunami Aceh ? yang selama ini aceh dan rakyatnya dijadikan bahan propaganda baik di Indonesia maupun di negeri pengasingannya Swedden. Maka buatlah sumur-sumur air bersih, sarana pendidikan, pusat ekonomi dsb setelah bencana ini, mampukah GAM ? tidak harus terang-terangan, kahfi saja cukup, tapi ... mampukah GAM ?

Islam dengan Al-qurannya itu cerdas, sehinnga barisan Islam bisa berstrategi di negeri sendiri (hijrah) dengan membangun sarana dan prasarana di depan hidung musuh (RI), namun mereka (RI) tak bisa menyentuh, sebab barisan Islam itu kokoh dalam membangun bukti nilai dan tatanan yang universal dan bukannya menghancurkan dengan diwarnai kekerasan, dan mengapa pulaharus dari negeri asing yang masih kafir pula. Sebab para rosul dulu berhijrah ke suatu tempat, maka di tempat itu dibuatlah Madinnah (Tempat Tatanan Allah), sedangkan swedden? dan jika kembali bertauhid, kembali mencerna akar sejarah, maka fase sekarang ini sudah memasuki fase hudaibiyah, sebuah fase intelektual, dimana kita bisa membunuh akidah lawan yang besar sekalipun hanya dengan sepidol, papan tulis dan air putih untuk melegakan tenggorokan, kenapa harus bersusah payah masuk hutan dan minta suaka di negeri pengasingan dengan perang opini kalo akhirnya harus kalah dan gagal.

Maka, kembalilah kepada Islam yang satu, Madinnah Indonesia tidak hanya untuk Indonesia melainkan noktah yaitu sebagai ruh kebangkitan Islam untuk 3/3 dunia kelak, dengan akal dan kecerdasan yang dilandasi iman, dan berlapang-lapanglah, karena Allah tidak menyukai kesempitan.

Sekali lagi, untuk masa depan, dari sisi aktualisasi Dinnul Islam di Indonesia akan lebih baik membuat suatu kesimpulan yang jelas, bahwa bencana di Aceh kita adalah azab Allah atas kesalahan kolektif manusia Indonesia, dan akan lebih bijak dengan menyatukan barisan Madinnah Indonesia seperti yang dimaui Al-quran dengan akal dan budi daya, dan bertilawah atas orang Jahiliyah untuk bertaubat, berbondong-bondong hijrah di jalan Allah (Madinnah Indonesia) dan berjihad dengan diri dan hartanya, niscaya akan dikaruniai keselamatan dan rizki yang mulia serta ditinggikan derajat bangsa ini.

Terima kasih.

Hedaya

heda1912@yahoo.com
----------