Stockholm, 2 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YUDHOYONO BISA DIGETOK BUSH SEHINGGA PINTU BESI SABANG DAN BANDA ACHEH AKHIRNYA DIBUKA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BUSH GETOK YUDHOYONO AKHIRNYA PINTU DAN JERUJI BESI SABANG DAN BANDA ACHEH TERBUKA UNTUK KAPAL INDUK ANGKATAN PERANG LAUT AS MASUK KE NEGERI ACHEH

"Mohon pencerahan. Hamba agak bingung. Dalam salah satu e-mail abang bilang bahwa Indonesia adalah negera kafir, terbukti bahwa mereka memberi ucapan selamat natal. Dan banyak terjadi kemaksiatan didalam kehidupannya. Karena Indonesia adalah negara kafir, maka Indonesia pantas dilaknat. dan semua tindakan Indonesia adalah tindakan kafir yang pantas untuk di adzab. Tak ada yang benar dari Indonesia. Lalu Amerika Syarikat, Australia atau bahkan Sweden itu sendiri negara apa bang? Mereka bukan hanya memberi ucapan selamat natal lho, tapi juga sekaligus merayakan natal. Dan seluruh kehidupan mereka penuh dengan maksiat. Hamba terus mengikuti tulisan-tulisan abang. Tapi semakin lama semakin bingung. Abang terlalu banyak berstandar ganda. Prinsip yang anda pegang memang sangat lurus, bahkan cenderung radikal. Namun penilaian benar atau salah dari abang nampaknya mengikuti kebutuhan. Kalau perlu dukungan Amerika, maka abang puji2 mereka untuk suatu langkah a, tapi kalau saat tertentu abang mendewa-dewakan Amerika untuk langkah a tersebut. Kalau langkah a itu dilakukan Indonesia maka itu pasti salah. Mohon petunjuk bang." (Sutan Latief , sutanlatief@yahoo.com , Date: 2 januari 2005 10:43:16)

Baiklah saudara Sutan Latief di Jakarta, Indonesia.

Kalau Ahmad Sudirman membaca komentar saudara Sutan Latief yang berbunyi: "Namun penilaian benar atau salah dari abang nampaknya mengikuti kebutuhan. Kalau perlu dukungan Amerika, maka abang puji2 mereka untuk suatu langkah a, tapi kalau saat tertentu abang mendewa-dewakan Amerika untuk langkah a tersebut. Kalau langkah a itu dilakukan Indonesia maka itu pasti salah."

Ternyata saudara Sutan Latief masih kurang memahami dalam melihat satu masalah bersama akar masalahnya.

Kalau Ahmad Sudirman melihat kebijaksanaan politik luar Negeri George W. Bush mengenai masalah penyelamatan dan pemulihan rakyat Acheh yang terkena gempa tektonik dan gelombang tsunami yang hebat ini yang berada di Negeri Acheh yang didutup dengan pintu dan jeruji besi oleh Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya, maka dalam hal ini sikap Ahmad Sudirman terhadap kebijaksanaan politik luar negeri George W. Bush ketika membantu penyelamatan dan pemulihan rakyat Acheh dengan cara membuka pintu dan jeruji besi yang dipasang Susilo Bambang Yudhoyono di Sabang dan Banda Acheh melalui gedoran angkatan perang Bush yang ada di Samudera Pasifik, bisa menerima.

Sikap politik luar negeri George W. Bush dalam hal masalah konflik Acheh mengarah kepada jalan perdamaian yang harus diterima oleh kedua belah pihak, bukan melalui jalur militer dan kekuatan senjata dengan berbagai dasar hukum seperti Inpres, Keppres atau PP-nya sebagaimana yang dilakukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Sikap kebijaksanaan politik luar negeri George W. Bush tentang konflik Acheh inilah yang Ahmad Sudirman anggap masih netral dan bisa diterima.

Menyinggung masalah bantuan uang, pangan dan obat-obatan yang diberikan oleh Pemerintahan George W. Bush untuk penyelamatan dan pemulihan korban rakyat Acheh melalui jalur langsung ke Sabang dan Banda Acheh adalah suatu usaha pendobrakan yang dilakukan oleh George W. Bush terhadap pintu dan jeruji besi yang dipasang oleh Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya di wilayah Negeri Acheh. Dimana pihak Penguasa dari Negara-Negara lain tidak mampu menundukkan keras kepalanya Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu dan Widodo AS dalam hal politik pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh melalui cara mendobrak Keppres No.43/2003 dan PP No.2/2004.

Begitu juga dengan adanya usaha dari Perdana Menteri Australia John Howard yang secara informil merupakan wakil sheriff George W. Bush di Asia Pasifik, dimana kedua orang ini bisa secara langsung menggetuk kepala Susilo Bambang Yudhoyono untuk membukakan pintu dan jeruji besi yang dipasang di Banda Acheh agar kapal perang induk USS Abraham Lincoln yang membawa 11 helikopter Sea Hawk-nya bisa berlabuh di Dermaga Malahayati, Sabang dan helikopter Sea Hawk-nya bisa langsung mendarat di bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Acheh.

Nah kebijaksanaan politik luar negeri George W. Bush dalam masalah penyelamatan dan pemulihan korban rakyat muslim Acheh di Acheh inilah yang bisa diterima oleh Ahmad Sudirman.

Lain halnya dengan Susilo Bambang Yudhoyono, dimana kebijaksanaan politik Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya mengenai Acheh ini bukan kebijaksanaan politik untuk penyelamatan dan pemulihan korban rakyat muslim Acheh, melainkan merupakan suatu propaganda untuk terus mengikat Negeri Acheh tetap berada dalam sangkar penjajahan RI.

Nah kebijaksanaan politik Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya mengenai Acheh inilah yang tidak bisa diterima oleh Ahmad Sudirman.

Jadi dalam hal ini Ahmad Sudirman tidak mendasarkan "penilaian benar atau salah mengikuti kebutuhan". Justru Ahmad Sudirman memberikan penilaian benar atau salah berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang dihubungkan dengan proses jalur pertumbuhan dan perkembangan Negeri Acheh dikaitkan dengan jalur pertumbuhan dan perkembangan Negara RI.

Ahmad Sudirman tidak akan menentang mati-matian kebijaksanaan politik Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya dalam hal Acheh, kalau memang dasar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang dimiliki oleh pihak RI adalah benar mengenai masalah status dan kedudukan Negeri Acheh dihubungkan dengan Negara RI.

Tetapi karena dasar fakta, bukti, sejarah dan hukum yang dimiliki oleh pihak RI adalah lemah dan gombal tentang Negeri Acheh dihubungkan dengan Negara RI, maka sudah jelas Ahmad Sudirman akan terus menentang dan menolaknya.

Nah inilah, mengapa Ahmad Sudirman bersikap positif terhadap kebijaksanaan politik luar negeri George W. Bush dalam hal penyelamatan dan pemulihan korban rakyat muslim Acheh dibandingkan dengan kebijaksanaan politik yang dilancarkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono bersama TNI/Polri-nya dalam hal penyelamatan dan pemulihan korban rakyat muslim Acheh di Negeri Acheh akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami 26 Desember 2004.

Memang Ahmad Sudirman tidak semua positif terhadap kebijaksanaan politik luar Negeri George W. Bush ini. Misalnya dalam masalah konflik Palestina, masalah teroris yang diarahkan kepada ummat Islam, masalah Afghanistan, dan masalah Irak, jelas Ahmad Sudirman sangat menentang kepada kebijaksanaan politik luar negeri dalam masalah-masalah tersebut yang dilancarkan oleh George W. Bush ini.

Jadi dalam hal ini, Ahmad Sudirman menampilkan sikap dan dukungan itu berdasarkan penglihatan, penelitian, pendalaman secara menyeluruh dari konflik dan akar masalah yang menimbulkan konflik itu sendiri.

Kemudian menyinggung masalah kemaksiatan dan kesesatan yang dilakukan di Negara RI, Amerika, Australia, Swedia dan lainnya yang kesmuanya termasuk kedalam negara-negara sekuler, juga masuk kedalam golongan negara kafir, karena dasar dan sumber hukum serta konstitusi negaranya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.

Allah SWT dalam memberikan azab ini dalam berbagai bentuk, ada dalam bentuk banjir, hujan batu, gempa, penyakit, kehancuran negeri. Jadi, yang kena azab Allah SWT bukan hanya para penguasa yang membangkang terhadap aturan, petunjuk, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw yang berada di Negara RI saja, melainkan penguasa di negara-negara lainnya termasuk rakyatnya yang kena getah dan akibatnya, yang memang terbukti secara penuh kesadaran mereka itu melakukan pembangkangan terhadap aturan, petunjuk, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.

Lihat saja akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami ini bukan hanya menimpa Indonesia di Acheh saja, melainkan korban-korban berjatuhan di Sri Lanka, India, Thailand, Malaysia, Maladewa, Somalia, Burma, Bangladesh, Australia, Jerman, Swedia, Finlandia, Perancis, Inggris, Italia.

Kemudian mengenai yang dipertanyakan saudara Sutan Latief selanjutnya: "Abang ini radikal. Lalu bagaimana abang bisa menjadi satu dengan masyarakat Sweden?. Hamba tahu negara Sweden tidak mengusik keyakinan abang. Tapi apa mungkin kalau dalam bergaul dengan masyarakat Sweden abang berbalik menjadi moderat, atau bahkan ber-haleluya dan minum minum bersama mereka untuk bisa survive. Ini menarik sekali bang. Sebab hamba ingin melanjutkan studi di Sweden tahun depan. Dapat bea siswa Ericsson bang."

Memang benar pihak Pemerintah Swedia tidak mengusik keyakinan beragama Ahmad Sudirman. Karena kebebasan beragama dijamin dalam undang undang dasar Kerajaan Swedia.

Dengan adanya jamiman kebebasan beragama bagi seseorang rakyat yang tinggal di Kerajaan Swedia, justru memberikan kebebasan untuk menerapkan dan menjalankan aturan, hukum agama sebisa mungkin dalam kehidupan pribadi dan keluarga.

Jadi dengan adanya kebebasan beragama ini, jelas bagi Ahmad Sudirman tidak akan melibatkan diri dengan kelakuan maksiat dan kesesatan menurut pandangan sudut Islam, seperti minum-minum, ber-haleluya, atau perbuatan maksiat lainnya.

Kalau ada orang-orang yang melakukan maksiat dengan minum-minum, dan lainnya, dan memang menurut hukum Kerajaan Swedia di benarkan, tetapi bagi Ahmad Sudirman tidak akan melakukan hal maksiat itu. Mengapa ? Karena bertentangan dengan aturan dan hukum yang berlaku dalam Islam.

Jadi, mudah saja bagi Ahmad Sudirman, kalau mereka minum sampai mabuk, Ahmad Sudirman tidak perlu ikutan mereka, ambil saja minuman air jeruk atau air putih, atau air teh. Karena dengan tidak ikut-ikutan minum dan ber-haleluya , toh buktinya Ahmad Sudirman tetap survive di Kerajaan sekuler Swedia ini.

Terakhir, kalau saudara Sutan Latief diizinkan Allah SWT sampai di Swedia untuk maksud belajar, nanti bisa melihat bagaimana kehidupan di Kerajaan sekuler Swedia ini. Dan bagaimana kehidupan Ahmad Sudirman dari dekat.

Sekarang saudara Sutan Latief jangan dulu membuat analisa dan kupasan yang tanpa dasar tentang kehidupan Ahmad Sudirman di Kerajaan sekuler Swedia, sebelum bertemu dengan Ahmad Sudirman di Swedia.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: sutanlatief sutanlatief@yahoo.com
Date: 2 januari 2005 10:43:16
To: Lantak@yahoogroups.com
Subject: [Lantak] MALIK MAHMUD: THANK YOU WORLD. AHMAD SUDIRMAN: "USA ADALAH NEGERA KAFIR"

Assalamu'alaikum bang Ahmad.

Mohon pencerahan. Hamba agak bingung. Dalam salah satu e-mail abang bilang bahwa Indonesia adalah negera kafir, terbukti bahwa mereka memberi ucapan selamat natal. Dan banyak terjadi kemaksiatan didalam kehidupannya. Karena Indonesia adalah negara kafir, maka Indonesia pantas dilaknat. dan semua tindakan Indonesia adalah tindakan kafir yang pantas untuk di adzab. Tak ada yang benar dari Indonesia.

Lalu Amerika Syarikat, Australia atau bahkan Sweden itu sendiri negara apa bang? Mereka bukan hanya memberi ucapan selamat natal lho, tapi juga sekaligus merayakan natal. Dan seluruh kehidupan mereka penuh dengan maksiat. Hamba terus mengikuti tulisan-tulisan abang. Tapi semakin lama semakin bingung. Abang terlalu banyak berstandar ganda. Prinsip yang anda pegang memang sangat lurus, bahkan
cenderung radikal. Namun penilaian benar atau salah dari abang nampaknya mengikuti kebutuhan. Kalau perlu dukungan Amerika, maka abang puji2 mereka untuk suatu langkah a., tapi kalau saat tertentu abang mendewa-dewakan Amerika untuk langkah a tersebut. Kalau langkah a. itu dilakukan Indonesia maka itu pasti salah. Mohon petunjuk bang.

Abang ini radikal. Lalu bagaimana abang bisa menjadi satu dengan masyarakat Sweden?. Hamba tahu negara Sweden tidak mengusik keyakinan abang. Tapi apa mungkin kalau dalam bergaul dengan masyarakat Sweden abang berbalik menjadi moderat, atau bahkan ber-haleluya dan minum minum bersama mereka untuk bisa survive. Ini menarik sekali bang. Sebab hamba ingin melanjutkan studi di Sweden tahun depan. Dapat bea siswa Ericsson bang.
Sampai sini dulu bang.

Wassalam.

Sutan Latief

sutanlatief@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------