Stockholm, 6 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PENGKIASAN ASNLF DIBAWAH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN PERANG KHANDAQ TIDAK BENAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SAUDARA NUR ABDURRAHMAN ITU PENGKIASAN ASNLF DIBAWAH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN PERANG KHANDAQ ADALAH TIDAK BENAR

"Selama lebih dari dua tahun Teungku Hasan Muhammad di Tiro berjuang dihutan Negeri Aceh menghadapi gempuran TNI dibawah perintah Jenderal Soeharto, puncaknya ialah pada tanggal 29 Maret 1979, terpaksa Teungku Hasan Muhammad di Tiro berhijrah dari Aceh keluar Aceh. Pada puncak peristiwa menghadapi gempuran TNI tak ubahnya dengan gempuran pasukan Al Ahzab (konfederasi) dalam perang Khandaq. Inilah sebenarnya yang ana pertanyakan dalam ana punya postingan terdahulu. RasuluLlah SAW tetap bertahan di Madinah dalam keadaan genting itu, sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro meninggalkan Aceh, meninggalkan pasukannya, tidak tetap memimpin perlawanan di bumi Aceh, sebagaimana RasuluLlah SAW tidak meninggalkan Madinah, RasuluLlah SAW tetap tinggal di Madinah memimpin perlawanan." (H. M. Nur Abdurrahman, nur-abdurrahman@telkom.net , 6 januari 2005 04:05:08)

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Makasar, Indonesia.

Setelah Ahmad Sudirman membaca tanggapan saudara Nur Abdurrahman, ternyata saudara Nur Abdurrahman memiliki kesalahan yang sangat mendasar dalam usahanya membuat kias atau pengibaratan antara perjuangan Rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasia dengan perjuangan Rasulullah saw di Yatsrib setelah berdirinya Negara Islam pertama yang dibangun Rasulullah saw di Yatsrib pada tahun 1 H atau 622 M. Mengapa ?

Karena, pengkiasan ASNLF atau Acheh Sumatera National Liberation Front yang wilayah Negeri Acheh masih dijajah oleh pihak RI dibawah Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono dengan Rasulullah saw yang wilayah de-facto dan de-jure-nya di Yatsrib telah berdiri berdaulat bebas dari pengaruh kekuasaan penguasa Quraisy Mekkah.

Nah, disinilah dasar yang paling utama kesalahan saudara Nur Abdurrahman dalam memberikan tanggapannya.

Tidak mungkin Teungku Hasan Muhammad di Tiro bisa bergerak secara penuh dan berdaulat sebagaimana Rasulullah saw bergerak dengan Nergara Islam pertamanya yang telah bedaulat di Yatsrib dalam menghadapi serangan pihak pasukan Pemerintah Quraisy dari Mekkah, baik dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Nah, pengkiasan yang dilakukan oleh saudara Nur Abdurrahman inilah yang cukup menyesatkan dan menjadikan kabur permasalahan mengenai konflik di Negeri Acheh ini, kalau dilihat dari sudut perjuangan Rasulullah saw dengan Daulah Islamiyah pertamanya di Yatsrib atau Madinah sekarang.

Justru kesalahan dalam mengambil pengibaratan atau pengkiasan antara ASNLF yang negeri Acheh masih diduduki dan dijajah RI dengan Rasulullah saw yang Daulah Islamiyah-nya di Yatsrib telah berdiri berdaulat penuh, yang mengakibatkan analisa saudara Nur Abdurrahman menjadi salah kaprah dan ngawur tidak menentu.

Karena itulah mengapa Ahmad Sudirman mengambil pengibaratan atau pengkiasan perjuangan ASNLF dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ketika para sahabat Rasulullah dan para pemeluk Islam pertama di Mekkah mendapat perlakuan kejam, bengis, dan pembunuhan dari pihak Penguasa Quraisy Mekkah, dan meminta izin kepada Rasulullah saw untuk berhijrah keluar dari Mekkah menyebrangi Laut Merah menuju ke Abyssinia atau Ethiopia pada tahun ke 5 ke-Nabian. Dan Rasulullah saw mengizinkan permintaan para sahabat tersebut.

Nah, justru pengkiasan atau pengibaratan hijrah ke Abyssinia atau Ethiopia inilah yang lebih mendekati dan sesuai dengan perjuangan ASNLF yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro melakukan taktik dan strategi perjuangan bukan dari Mekkah melainkan dari luar Mekkah. Dan alhamdulillah sampai detik sekarang ini pihak Teungku Hasan Muhammad masih tetap kuat dan tetap melakukan perjuangan yang gigih dalam usaha membebaskan Negeri, Agama, dan harta yang dirampas, dirajah, diduduki, dan dijajah oleh pihak RI.

Jadi, apapun yang saudara Nur Abdurrahman tampilkan sebagai argumentasi untuk mempertahankan pendapat saudara, tetapi kalau dasar pengkiasan atau pengibaratan yang saudara ambil salah kaprah, maka hasilnyapun menjadi gombal alias kosong.

Karena itu apa yang ditampilkan dengan kejadian perang Badar, Uhud dan Khandaq, itu semuanya tidak kena dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar alasan untuk dijadikan sebagai argumentasi guna menghantam pihak ASNLF dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: H. M. Nur Abdurrahman <nur-abdurrahman@telkom.net>
Date: 6 januari 2005 04:05:08
To: "Ahmad Sudirman" ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Re: SDR NUR ABDURRAHMAN JANGAN HANYA MENCOMOT CERITA BUATAN SOEKARNO & KACUNGNYA...

Assalamu 'alaykum wr.wb.

Ana ingin menanggapi yang ini:

"Selama lebih dari dua tahun Teungku Hasan Muhammad di Tiro berjuang dihutan Negeri Acheh menghadapi gempuran TNI dibawah perintah Jenderal Soeharto. Dan pada tanggal 29 Maret 1979, terpaksa Teungku Hasan Muhammad di Tiro berhijrah dari Acheh keluar Acheh untuk meneruskan perjuangan dengan melalui taktik dan strategi yang lebih luas dan jitu dalam rangka menghadapi pihak penjajah RI." (Ahmad Sudirman, 5 Januari 2004)

Namun sebelum itu ana kemukakan dahulu Seri 637 seperti berikut:
----------

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
637. Perang Khandaq

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah maka dibentuklah Negara Islam Madinah. Rakyatnya terdiri atas kaum Muhajirin (mereka yang hijrah), kaum Anshar (penduduk Islam Madinah), dan penduduk Madinah yang lain, yaitu yang tidak beragama Islam terdiri atas orang-orang Arab Madinah dan orang-orang Yahudi. Baik Madinah maupun Makkah pada waktu itu berupa Negara Kota (City States), yang dalam keadaan perang. Pada waktu informasi yang didapatkan oleh jaringan intel pihak Madinah bahwa tentara Makkah sudah siap untuk menyerbu Madinah guna membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar, maka Rasulullah sebagai Kepala Negara dan Panglima Perang mengumpulkan penduduk Madinah untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah itu diputuskanlah bahwa pasukan Quraisy dari Makkah harus dihadang diluar kota dengan posisi bukit Uhud sebagai benteng alam yang melindungi pasukan Madinah dari belakang. Berbeda dengan hasil Perang Badar, Perang Uhud ini hasilnya tidak ada yang menang atau kalah, sehingga kaum kafir Quraisy membentuk pasukan konfederasi Quraisy, Ghatafan dan Yahudi Banu Nadhir dari lembah Khaibar dengan kekuatan di antara 18.000 hingga 20.000 orang.

Ada bagian Kota Madinah yang terlindung oleh benteng-benteng Yahudi Banu Quraizhah dan pepohonan kurma. Akan tetapi ada pula bagian yang terbuka sama sekali. Atas saran Salman Al Farisi pada bagian terbuka itu dibuat lini pertahanan dengan menggali parit (khandaq). Itulah sebabnya perang melawan konfederasi Quraisy, Ghatafan dan Yahudi Banu Nadhir yang datang menyerbu Madinah itu disebut dalam sejarah dengan "Perang Khandaq". Pasukan konfederasi yang datang menyerbu Madinah dari arah bagian Kota Madinah yang terbuka tertegun menjumpai lini pertahanan berupa parit yang belum pernah mereka jumpai selama ini. Maka pasukan konfederasi berkemah pada bagian luar dari parit itu. Ada beberapa kali pasukan konfederasi berupaya untuk menembus lini, bahkan sempat menyeberangi parit, namun dalam penyerangan tsb 'Amr bin 'Abd.Wudd mati ditangan keponakannya sendiri yaitu Ali bin Abi Thalib. Beberapa hari berlalu, namun tidak ada perubahan. Serangan demi serangan dapat dihalau oleh kaum Muslimin. Itu adalah tahap kedua dalam Perang Khandaq, 1200 Muslimin melawan pasukan konfederasi yang berkekuatan antara 18.000 hingga 20.000 orang itu. Adapun tahap pertama Perang Khandaq ialah penggalian parit oleh penduduk Madinah diperkirakan sekitar 3000 orang terdiri atas laki-laki, perempuan dan anak-anak.

Lama sebelum Perang Khandaq dalam Piagam Madinah termaktub pakta di antara
beberapa qabilah di Madinah. Di antaranya pakta antara Kaum Muslimin dengan banu Quraizhah yang antara lain berbunyi: Jika ada musuh menyerang Madinah banu Quraizhah bersama-sama kaum Muslimin mempertahankan Madinah dan masing-masing mengeluarkan biaya untuk peperangan mempertahankan kota. Karena Yahudi banu Quraizhah ada perjanjian dengan kaum Muslimin untuk saling membantu tersebut, maka pihak konfederasi menempuh taktik licik untuk membujuk banu Quraizhah supaya memutuskan perjanjian dengan kaum Muslimin. Huyay bin Akhthab, kepala banu Nadhir yang diasingkan keluar Madinah ke lembah Khaibar, karena percobaan pembunuhan atas Nabi Muhammad SAW, dipilih oleh konfederasi untuk tugas negosiasi dengan banu Quraizhah. Huyyay terpilih karena ia juga orang Yahudi dan selain itu ia adalah aktivis dalam menggalang terbentuknya konfederasi Arab Quraisy, Ghatafan dan Yahudi Banu Nadhir. Huyay berhasil membujuk banu Quraizhah untuk memutuskan pakta dengan kaum Muslimin dan bersedia menohok Madinah dari belakang lini. Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak menempatkan pasukan di garis belakang untuk melindungi perempuan dan anak-anak, karena beliau percaya kepada banu Quraizhah yang terikat dengan pakta pertahanan bersama itu. Tatakala banu Quraizhah telah memutuskan untuk bergabung ke dalam konfederasi, maka disepakati bahwa banu Quraizhah harus mengambil taktik bergabung secara diam-diam, jangan sampai apabila kaum Muslimin mengetahui konspirasi jahat itu akan memperkuat pula penjagaan pada sisi benteng-benteng banu Quraizhah. Disepakati pula akan bersama serempak Yahudi menohok dari belakang sementara itu pasukan Arab menyerbu menembus lini. Suatu konspirasi jahat yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin.

Sementara menunggu hari H penyerangan bersama itu banu Quraizhah menugaskan
seorang mata-mata untuk mencari tahu pos-pos penjagaan perempuan dan anak-anak, yang sebenarnya tidak ada itu pos-pos, seperti dikatakan di atas, bahwa Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak menempatkan pasukan di garis belakang untuk melindungi perempuan dan anak-anak, karena beliau percaya kepada banu Quraizhah yang terikat dengan pakta pertahanan bersama itu. Untunglah datang pertolongan Allah, yaitu Shafiyah, bibi RasuluLlah SAW dapat memergoki mata-mata itu. Dan Allah memberikan keberanian serta kemampuan kepada Shafiyah bersama-sama dengan perempuan lainnya mengeroyok mata-mata itu lalu membunuhnya. Mata-mata itu tidak lagi mendapat kesempatan untuk melaporkan kepada banu Quraizhah bahwa tidak ada sama sekali pasukan yang ditugaskan untuk menjaga perempuan-perempuan dan anak-anak di belakang lini. Namun demikian, tatkala insiden dengan mata-mata itu dilaporkan kepada RasuluLlah SAW, beliau memutuskan untuk mengirim 500 orang ke garis belakang untuk menjaga perempauan dan anak-anak. Ini adalah tahap ketiga Perang Khandaq, hanya tinggal 700 orang saja kaum Muslimin yang mempertahankan parit di garis depan menghadapi pasukan konfederasi yang berkekuatan antara 18.000 hingga 20.000 orang itu.

Maka dalam kedaan kritis ini, terdapatlah satu golongan di antara pasukan Muslim yang mempertahankan parit muncul sikap mendua. Ini disebutkan dalam Al Quran: WYSTAaDZ FRYQ MNHM ALNGY YQWLWN AN BYQTNA 'AWRt WMA HY B'AWRt AN YRUYDWN AL FRARA (S. ALAhZAB, 33:14), dibaca: wayasta'zinu fari-qun minhumun nabiyya yaqu-lu-na inna buyu-tana- 'auratun wama- hiya bi'auwratin iyyuri-du-na ilaa- fira-ran (s. al ahza-b), artinya: Dan satu golongan di antara mereka meminta izin kepada Nabi (dengan alasan): rumah kami rusak; padahal bukanlah (rumah) itu rusak, melainkan hanya hendak lari (dari medan perang).

Pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya insya Allah dalam seri berikutnya. WaLlahu a'lamu bishshawab.
Makassar, 8 Agustus 2004
----------

Selama lebih dari dua tahun Teungku Hasan Muhammad di Tiro berjuang dihutan Negeri Aceh menghadapi gempuran TNI dibawah perintah Jenderal Soeharto, puncaknya ialah pada tanggal 29 Maret 1979, terpaksa Teungku Hasan Muhammad di Tiro berhijrah dari Aceh keluar Aceh. Pada puncak peristiwa menghadapi gempuran TNI tak ubahnya dengan gempuran pasukan Al Ahzab (konfederasi) dalam perang Khandaq. Inilah sebenarnya yang ana pertanyakan dalam ana punya postingan terdahulu. RasuluLlah SAW tetap bertahan di Madinah dalam keadaan genting itu, sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro meninggalkan Aceh, meninggalkan pasukannya, tidak tetap memimpin perlawanan di bumi Aceh, sebagaimana RasuluLlah SAW tidak meninggalkan Madinah, RasuluLlah SAW tetap tinggal di Madinah memimpin perlawanan. Sekian dahulu.

Wassalam,

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Makasar, Indonesia
----------