Stockholm, 8 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KING FAHD MEMBUTAKAN DIRI TIDAK MAU MELIHAT ITU ACHEH DIJAJAH RI DIBAWAH YUDHOYONO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SEBENARNYA KING FAHD BIN ABDUL AZIZ MELALUI PUTRA MAHKOTA ABDULLAH BIN ABDUL AZIZ AL SAUD MENGETAHUI ITU DI ACHEH SEDANG ADA KONFLIK

King Fahd bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud dari Kerajaan wahhabi Saudi Arabia sudah lama mengetahui bahwa di Acheh sedang berlangsung pelanggaran Hak Hak Azasi Manusia yang dilancarkan oleh pihak Pemerintah Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono.

Tetapi, karena di Kerajaan wahhabi Ibnu Saud ini tidak dikenal istilah Hak Hak Azasi Manusia, maka apa yang dilakukan oleh pihak Penguasa RI yang diawali oleh Soekarno, sejak lebih dari setengah abad yang lalu, melalui cara menduduki dan menjajah Negeri Acheh, ternyata dianggap angin lalu saja oleh King Faisal bin Abdul Aziz, King Khalid bin Abdul Aziz, King Fahd bin Abdul Aziz, dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud. Dan dianggap itu perbuatan Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tindakan biasa saja, seperti tindakan terhadap para kriminil, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh pihak penguasa Kerajaan Ibnu Saud terhadap rakyatnya yang mencoba meluruskan tindakan Raja-Rajanya yang sudah menyerahkan hidup dan pertahanan Kerajaannya kepada para Presiden Amerika, khususnya kepada Presiden Bush dan Presiden George W. Bush.

Mana itu dikenal dan dibesar-besarkan oleh Raja-Raja Kerajaan wahhabi Saudi Arabia ini bahwa sebelum terjadi gelombang tsunami di Acheh telah terjadi pembunuhan rakyat Acheh dan pelanggaran Hak Hak Azasi Manusia yang dilakukan oleh pasukan TNI/Polri atas perintah Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Paling itu Raja-Raja Kerajaan wahhabi Saudi Arabia tutup mulut dan membutakan mata saja melihat kelakuan kejam dan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh pihak TNI/Polri atas perintah Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Hanya setelah terjadi gempa tektonik dan gelombang tsunami menghantam, Acheh, Sri Lanka, Somalia, India, Thailand, Malaysia, Maladewa, pada 26 Desember 2004, barulah menggeliat King Fahd bin Abdul Aziz, Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud, dan Pangeran Sultan bin Abdul Aziz, itupun setelah hampir dua minggu berlalu, untuk mengumpul dana, melalui acara TV yang diberi nama acara penggalangan dana kebajikan yang dilakukan pada hari Kamis, 6 Januari 2005 hingga hari Jumat, 7 Januari 2005, dengan mengumpulkan uang sumbangan lebih dari setengah triliun rupiah.

Tentu saja uang tunai yang cukup untuk dipakai membangun ribuan rumah-rumah pasang jadi untuk puluhan ribu keluarga yang kehilangan rumah, untuk penyiapan air bersih, untuk pemulihan listrik di Banda Acheh, di Meulaboh, dan didaerah lainnya, jangan masuk kedalam kantong cukong-cukong di Departemen Sosial, Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum yang melakukan tender pembuatan rumah pasang jadi, pemulihan air leding, dan listrik itu.

Kalau uang itu diserahkan secara simbolik dari Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, itu sudah dipastikan, uang itu akan menguap secara cepat begitu turun ke Departemen Keuangan, Departemen Sosial, Departemen Pekerjaan Umum.Dan yang sampai ke rakyat Acheh hanyalah sebagian kecil saja.

Dan terakhir, yang kita kritik terhadap pihak King Fahd bin Abdul Aziz, Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud, dan Pangeran Sultan bin Abdul Aziz adalah mereka tidak membuka mulutnya untuk menyampaikan inisiatif pemecahan konflik Acheh.

Dan tentu saja, sikap diamnya itu King Fahd bin Abdul Aziz, Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud, dan Pangeran Sultan bin Abdul Aziz tentang konflik Acheh ini adalah merupakan lampu hijau bagi Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto, dan Ryamizard Ryacudu untuk terus menduduki, menjajah dan membunuh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Sedangkan mereka yang menjadi korban meninggal akibat gelombang tsunami menurut pandangan Susilo Bambang Yudhoyono adalah bukan pasukan TNA, melainkan puluhan ribu pasukan TNI/Polri seserta para keluarganya, karena mereka tinggal di dekat pantai di Banda Acheh, sedangkan pasukan TNA berada jauh didalam hutan dan digunung yang tidak dikunjungi gelombang tsunami. Jadi selama TNA masih kuat, maka selama itu Ryamizard Ryacudu terus geram dan terus mempropagandakan perang modern gombal-nya itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

http://www.kompas.com/utama/news/0501/07/154121.htm

Bantu Indonesia,Arab Saudi Galang Dana Terbesar di Dunia
Sana'a, Jumat

Kampanye penggalangan dana terbesar di dunia yang dilakukan Arab Saudi di seluruh daerah atas instruksi Raja Fahd Bin Abdul Aziz, berlangsung Kamis (6/1) hingga Jumat (7/1) dini hari waktu setempat yang juga melibatkan sejumlah ulama dan disiarkan langsung stasiun TV setempat.

"Kita lebih berhak membantu saudara-saudara kita di Indonesia tempat komunitas Muslim terbesar di dunia. Jemaah haji terbesar juga datang dari Indonesia, dan Indonesia yang paling parah menderita akibat tsunami," ujar seorang ulama, Dr. Sheikh Abdullah.

Berdasarkan pemantauan hingga pukul 23.45 waktu setempat atau Jumat pagi WIB, jumlah uang tunai yang terkumpul telah mencapai lebih dari 242 juta riyal atau sekitar Rp 593 miliar. Jumlah tersebut dipastikan melonjak cepat hingga Jumat dini hari.

Sebagai contoh pada pukul 23.00 uang tunai yang terkumpul sekitar 129 juta riyal, belum satu jam kemudian telah terkumpul lebih dari 242 juta riyal.

Raja Fahd pribadi menyumbang 20 juta riyal, Putra Mahkota Pangeran Abdullah menyumbang 10 juta riyal, dan Deputi II PM/Menhan Pangeran Sulthan menyumbang sebesar 5 juta riyal.

Sementara Pangeran Waleed Bin Talal yang juga seorang pengusaha dan milyarder Saudi menyumbang senilai 70 juta riyal, di antaranya 15 juta uang tunai, sejuta set pakaian dan 3 ribu tenda senilai 55 juta riyal.

"Kita ingin buktikan bahwa sangkaan media Barat umat Islam enggan membantu saudaranya yang ditimpa musibah adalah tidak benar, mari secepatnya kita ramai-ramai menyumbang dengan segala kemampuan yang ada. Kita buktikan umat Islam adalah umat rahmah bagi sekalian manusia tanpa pandang agama, ras dan bangsa," ujar Sheikh Abdullah.

Menurut dia, hamlah tabaaru'at (penggalangan dana kebajikan) juga sebagai dakwah di lapangan bahwa Islam tidak sebagaimana yang dituding Barat. "Kita buktikan di lapangan Islam bukan teroris seperti yang ditundingkan," katanya.

"Seandainya yayasan-yayasan kebajikan yang kita miliki tidak dalam keadaan sulit (karena tudingan yayasan donor gerakan terorisme oleh Barat), mereka sudah jauh lebih dahulu menuju tempat bencana dibandingkan Barat," tegasnya.

"Apakah dengan pemandangan yang kita saksikan saat ini, kita masih dituding teroris. Kita menggalang dana untuk para korban tanpa pandang agama, ras dan bangsa.

Inilah ajaran Islam yang cinta damai dan kasih sayang sesama anak Adam," kata ulama lainnya.

Hingga menjelang larut malam, pusat-pusat penggalangan dana kebajikan di seluruh propinsi di negeri kaya minyak Teluk itu nampak masih terus didatangani banyak penyumbang, sementara para petugas terus mengihitung jumlah uang tunai. Selain uang tunai, juga mobil, perhiasan, pakaian, bahan makanan dan obat-obatan juga nampak menggunung di pusat-pusat pengumpulan dana. Sebelumnya pemerintah Saudi juga telah menjanjikan bantuan dana 30 juta dollar.(Ant/Nik)
----------