Stockholm, 8 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SDRI LIZA ITU MEMANG PERLU DIKUTUK RI DAN TNI-NYA YANG TERUS MENDUDUKI ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SELAMA YUDHOYONO TIDAK MENCABUT PP NO.2/2004 & KEPPRES NO.43/2003, TIDAK MENARIK SELURUH PASUKAN ANORGANIK TNI/POLRI DARI ACHEH, MAKA SELAMA ITU PERANG TERUS AKAN BERLANGSUNG DI ACHEH

"Sebelumnya saya mengucap belasungkawa sedalam2nya bagi korban tsunami di Aceh. Saya tidak tahu banyak ttg GAM, namun setelah bencana tsunami ini saya melakukan banyak search di internet dan akhirnya menemukan site bapak. Saya sungguh sangat mengutuk semua perlakuan sadis dan tidak berperikemanusiaan yg dilakukan oleh oknum TNI (yg selalu bapak sebut dengan jawa hindu etc). Bukan hanya itu saya mengutuk semua perbuatan mengambil nyawa orang lain yg bukan haknya...hanya Allah lah yg berhak sepenuhnya akan itu. Saya juga mengutuk pemerintah yg korup yg tidak hanya memperlakukan Aceh secara tidak adil tapi juga kepada seluruh bangsa Indonesia (termasuk orang JAWA kebanyakan seperti saya)." (Liza Williams , hayje01@yahoo.com ,Fri, 7 Jan 2005 23:23:44 -0800 (PST))

Baiklah saudari Liza Williams di Oakland CA, USA.

Dan terimakasih atas ucapan belasungkawa dari saudari Liza Williams atas musibah yang menimpa rakyat Acheh di Negeri Acheh. Semoga Allah SWT menerima dan meridhai amal ibadah mereka, dan ditempatkan disisi-nya, amin.

Dari apa yang dikemukakan oleh saudari Liza diatas menggambarkan bagaimana sikap saudari Liza terhadap sikap dan kebijaksanaan politik, pertahanan, dan keamanan yang telah dijalankan oleh pihak Pemerintah RI terhadap pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila.

Memang bagi kebanyakan masyarakat yang ada di Amerika yang asalnya dari Indonesia tidak mengenal perjuangan rakyat Acheh yang sedang memperjuangkan pembebasan Negerinya, agama dan hartanya dari pendudukan dan penjajahan pihak RI sejak lebih dari setengah abad yang lalu.

Hal ini disebabkan karena masalah konflik Acheh yang walaupun sudah puluhan tahun wujud dipermukaan, tetapi karena pihak Pemerintah AS dan massmedia yang ada di AS tidak begitu banyak yang mempublikasikan, kecuali kalau ada kesempatan yang cukup menarik seperti perundingan antara ASNLF dengan pihak RI, atau seperti kejadian gempa tektonik dan gelombang tsunami yang melanda daerah wilayah Acheh yang sedang bergejolak konflik Acheh ini.

Karena itu, bagi saudari Liza, yang sebelumnya tidak banyak mengetahui tentang masalah ASNLF atau GAM di Acheh, dengan adanya berita kejadian gempa tektonik dan gelombang tsunami, akhirnya terkuak dan mendapat banyak informasi mengenai keadaan sebenarnya apa yang terjadi selama lebih dari lima puluh tahun di Negeri Acheh ini.

Setelah saudara Liza membaca berita tentang sikap kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan yang dijalankan oleh pihak RI terhadap Acheh, baik dari media lainnya dan juga dari situs yang diasuh oleh Ahmad Sudirman, akhirnya saudari Liza menemukan sumber utama akar masalah yang menimbulkan konflik Acheh ini.

Akhirnya lahirlah kutukan dari saudari Liza terhadap pihak RI yang telah menjadikan TNI/Polri-nya sebagai alat untuk terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh yang bukan haknya itu dan mengutuk pihak Pemerintah RI yang korup yang tidak hanya memperlakukan Aceh secara tidak adil tapi juga kepada seluruh bangsa Indonesia.

Mengenai hal yang menggelitik hati saudari Liza seperti yang dinyatakannya: "tidak semua orang Jawa seperti yg kebanyakan digambarkan dalam tulisan bapak. Ada tulisan di milis LANTAK ttg ketidaksudian untuk membiarkan anak yatim korban tsunami untuk diasuh dipondok pesantren di jawa...Insya Allah mereka tulus pak. Menjalankan hukum agama untuk memelihara anak yatim agar tidak jatuh ke lembah kekufuran karena kemiskinan. Janganlah bapak menyamaratakan semua oknum TNI (yg mayoritas memang orang Jawa) yg berperilaku seperti binatang di Aceh dengan semua orang Jawa. Tidak sama pak. Bapak sendiri juga orang Sunda bukan seperti saya yg hanya darahnya saja Jawa tapi besar dan lahir di Bandung. Bicara pun saya seperti orang Sunda"

Memang, yang disalahkan dan dikutuk adalah kebijaksanaan pihak penguasa RI dan para pendukungnya yang telah menjalankan politik ekspansinya dan politik penjajahannya di Negeri Acheh, dimana yang telah memakan ratusan ribu korban yang dibunuh hanya untuk mempertahankan politik penjeratan dan pendudukan di Negeri Acheh.

Bagi rakyat di Indonesia, apapun sukunya, apabila tidak mendukung dan tidak menyokong politik ekspansinya dan politik penjajahannya pemerintah RI di Negeri Acheh, jelas tidak akan dikutuk oleh pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebasd dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila.

Jadi, bagi saudari Liza, walaupun darah saudari dari etnik Jawa, tetapi karena saudari lahir dan besar di Bandung, ditambah tidak ikut mendukung dan menyokong pihak RI dalam menduduki dan menjajah Acheh, maka jelas saudari Liza tidak dianggap sebagai pengikut atau ekornya Susilo bambang Yudhoyono yang meneruskan kebijaksanaan politik penjajahan di Negeri Acheh.

Kemudian menyinggung anggota TNI/Polri, itu tugas mereka menjadi TNI/Polri adalah untuk mempertahankan RI, dan harus patuh, tunduk, tidak boleh melawan kepada atasannya.

Saudari Liza tidak perlu sedih melihat pasukan TNI/Polri yang ditempatkan di Acheh, karena memang tugas TNI/Polri adalah alat untuk mempertahankan RI. Dan para pasukan TNI/Polri ini telah menyadari dan mengetahui dengan pasti, dari sejak awal diterima sebagai anggota TNI/Polri.

Jadi, apakah pasukan TNI/Polri ini dianggap sebagai pion atau peluru oleh para pimpinannya, termasuk oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dengan ditugaskan dan ditempat di Acheh serta diperintahkan untuk membunuh rakyat Acheh, itu memang adalah tugas dan kewajiban pasukan TNI/Polri.

Permasalahannya sekarang adalah yang harus dikutuk adalah para pimpinan RI, dari mulai Susilo Bambang Yudhoyono sampai kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, juga KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang telah memberikan perintah kepada TNI untuk membunuh rakyat Acheh.

Kemudian, itu soal perang, jelas akan terjadi selama umat manusia masih wujud dimuka bumi ini. Lihat saja apa yang dilakukan oleh George W. Bush di Afghanistan dan Irak.

Memang dengan adanya musibah gempa tektonik dan gelombang tsunami yang melanda wilayah pantai di sekitar samudra India dan yang telah membawa korban meninggal lebih dari 130.000 jiwa dan jutaan rakyat yang kehilangan rumah dan pekerjaannya, di Acheh, Sri Lanka, India, Thailand, Somanila, Malaysia, Myanmar, jelas ini merupakan peringatan dan juga sekaligus sebagai azab dari Allah SWT. Dan bagi pihak Pemerintah RI yang telah memperlakukan negeri dan rakyat Acheh sebagai tempat jajahan dengan aturan hukum yang menyesatkan, seperti contohnya dasar hukum UU No.18/2001, Keppres No.43/2003, dan PP No.2/2004 adalah merupakan hukum-hukum yang menyesatkan bagi rakyat Acheh dan membuat rakyat Acheh menjadi makin sengsara. Dengan adanya gempa tektonik dan gelombang tsunami ini, bukan hanya hancurnya infrastruktur di Acheh, dan 100.000 rakyat Acheh yang menjadi korban, dan ratusan ribu yang kehilangan rumah, pekerjaan, harta, melainkan juga lumpuhnya roda pembangunan Negara RI.

Terakhir menganai yang disarankan oleh saudari Liza: "Hentikanlah dahulu perang ini. Memang menyakitkan pak, namun untuk ketenteraman semua pihak. Kasihan sudah nasib anak2 janda2 dan rakyat jelata yg tidak tau apa2 yg hanya tau bangun pagi petang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga."

Soal perang itu tergantung penuh kepada pihak RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI/Polri-nya. Selama itu Susilo Bambang Yudhoyono tidak mencabut PP No.2/2004, Keppres No.23/2003, dan tidak menarik seluruh pasukan anorganik TNI/Polri dari Negeri Acheh, serta tidak memberikan kebebasan bagi seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap dan nasib mereka sendiri untuk masa depan, maka selama itu di Negeri Acheh akan terus berlangsung perang. Atau yang disebut dengan perang modern, sebagaimana yang selalu digembar-gemborkan oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 7 Jan 2005 23:23:44 -0800 (PST)
From: liza williams hayje01@yahoo.com
Subject: Simpati buat Aceh
To: ahmad@dataphone.se

Assalamu'alaikum wr wbr.

Bpk Ahmad Sudirman yg terhormat,

Sebelumnya saya mengucap belasungkawa sedalam2nya bagi korban tsunami di Aceh. Saya adalah orang Jawa yang muslim.Kebetulan sepupu saya menikah dengan orang Aceh, sebagian besar keluarganya masih tinggal di Banda Aceh dan juga menjadi korban tsunami yg baru lalu. Setelah menikah dengan African American muslim saya saat ini tinggal di Oakland California USA setelah sebelumnya lahir besar di Bandung.

Saya tidak tahu banyak ttg GAM, namun setelah bencana tsunami ini saya melakukan banyak search di internet dan akhirnya menemukan site bapak. Saya sungguh sangat mengutuk semua perlakuan sadis dan tidak berperikemanusiaan yg dilakukan oleh oknum TNI (yg selalu bapak sebut dengan jawa hindu etc). Bukan hanya itu saya mengutuk semua perbuatan mengambil nyawa orang lain yg bukan haknya...hanya Allah lah yg berhak sepenuhnya akan itu. Saya juga mengutuk pemerintah yg korup yg tidak hanya memperlakukan Aceh secara tidak adil tapi juga kepada seluruh bangsa Indonesia (termasuk orang JAWA kebanyakan seperti saya).

Ada beberapa hal mengegelitik dari tulisan mengenai orang JAWA...tidak semua orang JAWA seperti yg kebanyakan digambarkan dalam tulisan bapak. Ada tulisan di milis LANTAK ttg ketidaksudian untuk membiarkan anak yatim korban tsunami untuk diasuh dipondok pesantren di jawa...Insya Allah mereka tulus pak. Menjalankan hukum agama untuk memelihara anak yatim agar tidak jatuh ke lembah kekufuran karena kemiskinan. Seperti halnya komunitas Indonesia di USA (yg mayoritas adalah Orang Jawa!) yg dengan tulus memberi bantuan kepada rakyat Aceh. Saya sendiri merasa rakyat Aceh adalah saudara saya sesama muslim yg bila satu tersakiti yg lain akan merasakan.

Janganlah bapak menyamaratakan semua oknum TNI (yg mayoritas memang orang Jawa) yg berperilaku seperti binatang di Aceh dengan semua orang Jawa. Tidak sama pak. Bapak sendiri juga orang Sunda bukan seperti saya yg hanya darahnya saja Jawa tapi besar dan lahir di Bandung. Bicara pun saya seperti orang Sunda. Insya Allah bantuan dari relawan di Indonesia tulus adanya pak. Sama seperti bantuan dari pihak asing.

Sangat sedih saya melihat para prajurit TNI yg bagaikan pion yg harus maju kemedan perang duluan sedang pemimpin enak2 ongkang2 kaki di jakarta dengan segala kemewahan..Kadang mereka tidak diberi gaji yg cukup makan kurang dan penuh stress. Saya sangat tidak mendukung adanya perang dimanapun hanya menyedihkan menyisakan anak2 tanpa ayah dan ibu.

Seharusnya kita semua berkaca dari bencana tsunami yg baru lalu memohon ampun kepada Allah ta'ala atas segala dosa. Hentikanlah dahulu perang ini. Memang menyakitkan pak, namun untuk ketenteraman semua pihak. Kasihan sudah nasib anak2 janda2 dan rakyat jelata yg tidak tau apa2 yg hanya tau bangun pagi petang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Semoga pemimpin dapat dibukakan pintu hatinya untuk lebih berlaku adil. Hentikan korupsi karena Allah tidak pernah tidur....Dan mohon tolong penggunaan kata jawa hinduisme untuk dikurangi..tahukah bapak kalo perkembangan islam sudah semakin pekat diantara deru hedonisme? dan itu terjadi di jawa oleh orang jawa juga..Jadi sebagai sesama muslim tolong perkuatlah tali silaturahmi jangan hanya terputuskan oleh fanatisme kesukuan.

Dari saya yg bodoh ini

Liza Williams

hayje01@yahoo.com
Oakland CA, USA
----------