Stockholm, 10 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SDR NUR ABDURRAHMAN ITU SECARA DE-FACTO ASNLF DAN ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW DAN DAULAH ISLAMIYAH-NYA

"Ana tidak sependapat dengan akhi Ahmad Sudirman tentang pengkiasan atau pengibaratan hijrah ke Abyssinia atau Ethiopia yang lebih mendekati dan sesuai dengan perjuangan ASNLF yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, yang melakukan taktik dan strategi perjuangan bukan dari Mekkah melainkan dari luar Mekkah. Mengapa ana tidak sependapat? Oleh karena: Mengkiaskan hijrah Teungku Hasan Muhammad di Tiro ke Swedia denganhijrah ke Abyssinia berarti akhi Ahmad Sudirman bervisi bahwa perjuangan ASNLF masih dalam taraf periode Makkah. Kalau masih dalam periode Makkah maka itu berarti RauluLlah SAW masih berada di Makkah bersama-sama ummat Islam melawan pemerintahan kafir Quraisy, tidak seperti Teungku Hasan Muhammad di Tiro melakukan perjuangan bukan di Aceh, melainkan dari luar Aceh yaitu dari Swedia. RasuluLlah SAW tidak hijrah ke Abessinia, tidak berjuang di Abessinia di luar Makkah." (H. M. Nur Abdurrahman , nur-abdurrahman@telkom.net ,9 januari 2005 0:12:13)

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Makasar, Indonesia.

Dari apa yang ditampilkan oleh saudara M Nur Abdurrahman diatas, menggambarkan bahwa kelihatannya saudara Nur Abdurrahman tidak memahami dan tidak mengerti apa yang dinamakan negara berdaulat dan tidak memahami mengenai Rasulullah saw pada tanggal 1 H / 622 M telah membangun dan mendirikan Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib yang berdaulat penuh bebas dari pengaruh kekuasaan Penguasa Quraisy Mekkah.

Pemerintah yang dipimpin oleh Rasulullah saw di Yatsrib secara de-facto dan de-jure adalah berdaulat penuh, artinya memiliki kekuasaan penuh untuk memerintah Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib. Penguasa Quraisy Mekkah tidak ada memiliki kekuasaan di Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib ini.

Sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara de-facto, jelas tidak memiliki kedaulatan di Acheh, karena wilayah Acheh masih tetap berada dibawah penjajahan RI.

Jadi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini, pihak ASNLF dengan Acheh-nya tidak bisa dikiaskan kepada Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib yang dideklarkan, dibangun, didirikan oleh Rasulullah saw yang bebas merdeka dari pengaruh kekuasaan Penguasa Quraisy Mekkah.

Kemudian, Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak bisa disamakan dengan Rasulullah saw. Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah pengikut Rasulullah saw. Bukan semisal atau setaraf Rasulullah saw. Apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw, itulah yang diikuti oleh para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in, juga oleh umat Islam sampai detik sekarang ini, termasuk oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Selanjutnya, perjuangan Rasulullah saw di Mekkah adalah perjuangan yang diawali secara tertutup dan diam-diam, tetapi, setelah turunnya deklarasi QS, Al-Hijr, 15: 94 yang memerintahkan menyampaikan risalah secara terang-terangan dan supaya berpaling dari orang-orang musyrik, maka mulailah Rasulullah saw tampil dengan penuh semangat tanpa merasa takut lagi berhadapan dengan orang-orang musyrik Mekkah. Dengan adanya Deklarasi QS, Al-Hijr, 15: 94 inilah timbul penentangan dan sikap permusuhan dari pihak penguasa Quraisy Mekkah atas misi Rasulullah saw dalam menyebarkan risalahnya. Dimana cacian, hinaan, kutukan, yang dilontarkan oleh penduduk Mekkah, tetapi Rasulullah saw tetap dengan tegas dan gamblang menyampaikan risalahnya.

Sekarang, taktik strategi Rasulullah saw dalam berdakhwah ini adalah secara terbuka, tegar, tanpa mundur, kalau diserang orang, balik menangkis dengan senjata dakhwahnya. Akhirnya setelah banyak yang memeluk Islam karena metode dakhwah yang terang-terangan dan berani ini, ternyata memberikan akibat yang menegangkan yang menimbulkan permusuhan dari kalangan kaum Quraisy yang sangat berpengaruh di Mekkah.

Coba perhatikan ketika Rasulullah saw naik ke bukit Shafa untuk menjalankan dakhwahnya yang terang-terangan ini, banyaklah orang yang datang termasuk paman Rasulullah saw, Abu Lahab, tetapi apa yang dikatakan Abu Lahab kepada Rasulullah saw sambil berteriak: "Celaka engkau hai Muhammad. Hanya untuk inikah engkau panggil kami?". (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 200).

Kaum Quraisy yang nenek moyangnya bernama Fihr bin Malik terbagi kedalam beberapa bani diantaranya bani Hasyim yang menurunkan keturunan Rasulullah saw. Bani Umayyah, bani Naufal, bani Asad, Bani Ta'im, bani Makhdzum, bani Adi. Karena Rasulullah saw dari keluarga bani Hasyim, maka menimbulkan ketidak senangan dari bani Umayyah yang didukung oleh Walid bin Mughirah pemimpin kaum Quraisy dari bani Makhdzum, Abu Jahal sepupu Walid bin Mughirah.

Apalagi setelah meninggalnya Abul Muththalib dari bani Hasyim yang memegang kekuasaan bangsa Quraisy, menimbulkan perebutan kekuasaan, dengan tujuan untuk menduduki jabatan tertinggi pemimpin pemerintahan Quraisy. Hampir semua tokoh-tokoh utama Quraisy menentang kepada Rasulullah saw. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 316)

Berbagai usaha yang dilakukan oleh para tokoh utama kaum Quraisy ini untuk meredam dan membujuk Rasulullah saw agar supaya tidak meneruskan dakhwah tauhid dan aqidah Islam-nya. Dan berbagai usaha dari pihak kaum Quraisy dalam bentuk tindakan-tindakan yang berupa penyiksaan, usaha pembunuhan, penganiayaan, penghinaan terhadap Rasulullah saw dan orang-orang yang baru masuk Islam. Para pimpinan penguasa Quraisy pada turun tangan untuk melakukan tindakan yang menjurus kepada penghinaan, penyiksaan, penganiayaan. Seperti Abu Jahal yang pada suatu hari meletakkan kotoran-kotoran unta dileher Rasulullah saw ketika beliau sedang melakukan sujud dalam shalat. Sedangkan Uqbah bin Muhhit mencoba melilitkan tali kain keleher Rasulullah saw dengan maksud untuk mencekiknya. Abu Lahab, Walin Bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Ash bin Wa'il adalah mereka yang sangat keras menentang kepada misi risalah Rasulullah saw. (Muhammad Yusuf Kandzlawi, Hayatus Shahabah, Jil. I, hal. 241-286)

Setelah penguasa dan tokoh-tokoh Quraisy melakukan penyiksaan, penghinaan, percobaan pembunuhan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam, dilanjutkan dengan pemboikotan terhadap bani Hasyim dan seluruh keluarganya. Dimana seluruh pimpinan Quraisy Mekkah membuat suatu kesepakatan bersama untuk melakukan pemboikotan terhadap keluarga bani Hasyim. Tidak seorangpun dibenarkan untuk melakukan hubungan dengan bani Hasyim. Termasuk menjual bahan-bahan makanan. (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 208-209; Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. I, hal. 350). Dimana pemboikotan ini berlangsung selama 3 tahun. (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 209)

Nah, dari apa yang digambarkan diatas terlihat dengan jelas bahwa di Mekkah, ketika Rasulullah saw sedang menjalankan dakhwah risalahnya secara terbuka dan terang-terangan ini, telah membangkitkan situasi yang penuh permusuhan dan tindakan kekejaman yang dijalankan oleh pihak Penguasa kaum Quraisy Mekkah terhadap Rasulullah saw dan para sahabatnya yang baru masuk Islam.

Disaat-saat genting dan penuh dengan ketegangan inilah, pada tahun ke 5 ke-Nabian, Rasulullah saw memberikan izin kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke Abyssinia atau Ethiopia.

Kejadian yang sangat menyayat hati dan penuh dengan pembunuhan dan penyiksaan ini, terjadi ketika di Mekkah, sebelum Daulah Islamiyah pertama berdiri di Yatsrib.

Inilah dasar landasan hukum, yang dipakai oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ASNLF-nya ketika menghadapi tindakan kekerasan, pembunuhan, penyiksaan yang dilakukan oleh pihak TNI/Polri yang diperintahkan oleh Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, serta KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Dimana Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah melakukan hijrah, sebagaimana yang telah diizinkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke Abyssinia atau Ethiopia.

Jadi, sekali lagi ditekankan disini, bahwa Acheh dibawah ASNLF secara de-facto belum berdaulat penuh sedangkan Rasulullah saw secara de-facto dan de-jure berdaulat penuh atas pemerintah Daulah Islamiyah pertamanya di Yatsrib. Kemudian, Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak bisa disamakan dengan Rasulullah saw. Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah pengikut Rasulullah saw. Penyiksaan, pembunuhan, penghinaan yang dilakukan oleh pihak TNI/Polri terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila bisa dikiaskan atau diibaratkan kepada keadaan ketika Penguasa kaum Quraisy Mekkah melakukan penyiksaan, penghinaan, pembunuhan terhadap para pengikut Rasulullah saw ketika di Mekkah. Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan sebagian rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila melakukan hijrah, sesuai dengan apa yang diizinkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya, ke Abyssinia atau Ethiopia pada tahun ke-5 ke-Nabian.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: H. M. Nur Abdurrahman nur-abdurrahman@telkom.net
Date: 9 januari 2005 10:12:13
To: "Ahmad Sudirman" ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Re: PENGKIASAN ASNLF DIBAWAH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN PERANG KHANDAQ...

Assalamu 'alaykum wr.wb.

Ana tidak sependapat dengan akhi Ahmad Sudirman tentang pengkiasan atau pengibaratan hijrah ke Abyssinia atau Ethiopia yang lebih mendekati dan sesuai dengan perjuangan ASNLF yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di
Tiro, yang melakukan taktik dan strategi perjuangan bukan dari Mekkah melainkan dari luar Mekkah. Mengapa ana tidak sependapat? Oleh karena:

1. Mengkiaskan hijrah Teungku Hasan Muhammad di Tiro ke Swedia denganhijrah ke Abyssinia berarti akhi Ahmad Sudirman bervisi bahwa perjuangan ASNLF masih dalam taraf periode Makkah.

2. Kalau masih dalam periode Makkah maka itu berarti RauluLlah SAW masih berada di Makkah bersama-sama ummat Islam melawan pemerintahan kafir Quraisy, tidak seperti Teungku Hasan Muhammad di Tiro melakukan perjuangan bukan di Aceh, melainkan dari luar Aceh yaitu dari Swedia. RasuluLlah SAW tidak hijrah ke Abessinia, tidak berjuang di Abessinia di luar Makkah.

3. Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada hari Sabtu, 30 Oktober 1976, dari Pasi Lokh, pantai utara Aceh hijrah ke pedalaman Aceh dan selama lebih dari dua tahun Teungku Hasan Muhammad di Tiro berjuang di hutan Negeri Aceh menghadapi gempuran TNI dibawah perintah Jenderal Soeharto. Menurut ana punya visi Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah mengikuti perjuangan RasuluLlah SAW, yaitu hijrah pada 30 Okrober 1976 dari Pasi Lokh yang dikuasai RI ke hutan di negeri Aceh yang tidak dikuasai oleh RI dan berjuang di hutan Negeri Aceh melawan gempuran TNI dari RI, sebagaimana RasuluLlah SAW hijrah dari Negara Kota Makkah ke Madinah yang tidak dikuasai oleh pemerintahan Quraisy, dan RasuluLlah SAW berjuang di Madinah menghadapi gempuran Quraisy yang memerintah Negara Kota Makkah.

4. Pada tanggal 29 Maret 1979, keadaan di Aceh mencapai kritis, sehingga Teungku Hasan Muhammad di Tiro keluar Aceh untuk meneruskan perjuangan yang lebih luas dari luar Aceh. Keadaan kritis inilah di mana negeri Aceh dikepung TNI dari segala penjuru ana kiaskan dengan keadaan kritis di Madinah dimana Madinah dikepung oleh pasukan al Ahzab pada perang Kahndaq. Teungku Hasan Muhammad di Tiro keluar Aceh pada waktu kritis itu meninggalkan pasukannya di Aceh yang ana katakan tidak mengikuti jejak atau cara RasuluLlah, di mana RasuluLlah SAW tinggal bersama pasukan Islam tetap bertahan di Madinah.

Tolong akhi Ahmad Sudirman meneruskan postingan ana ini ke semua alamat di bawah, berhubung ana tidak terdaftar sebagai anggota dari milis-milis tersebut, sehingga kalau ana teruskan ke milis-milis tersebut tentu tidak akan sampai.

Wassalam,

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Makasar, Indonesia
----------