Stockholm, 10 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SDR HEDIYANTO & SDR ABDURRAHMAN BELAJAR LAGI TATANEGARA & SEJARAH DAULAH ISLAMIYAH PERTAMA DI YATSRIB
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SEBAIKNYA SDR HEDIYANTO & SDR ABDURRAHMAN SEBELUM MENERUSKAN DEBAT DI MIMBAR BEBAS INI, LEBIH BAIK DALAMI DULU TATANEGARA & SEJARAH DAULAH ISLAMIYAH PERTAMA DI YATSRIB

"Menurut ana punya pandangan, setelah ASNLF dimakmumkan bukankah itu sudah lengkap sebagai negara yang berdaulat, punya pemerintahan, punya wilayah, punya rakyat dan punya angkatan perang? Bukankah wilayah yang dikuasai ASNLF pada waktu dimaklumkan sudah merupakan daerah de fakto dan de jure? Bukankah tidak seluruh Aceh yang dikuasai RI pada waktu ASNLF dimaklumkan?" (H. M. Nur Abdurrahman , nur-abdurrahman@telkom.net , Mon, 10 Jan 2005 07:42:56 +0700)

"Sdr. Ahmad Sudirman, Jika demikian kenyataanya, apalah artinya perjuangan ASNLF ?, sebab pada intinya perjuangan (jihad fisabililah) itu atas DINN-nya, di mana Allah telah mensyariatkan DINN, bukan atas nama kedaulatan rakyat Aceh melainkan kedaulatan Tuhan. Dan mengacu pada sunatullah dan rosulnya, tidak ada cara lain, melainkan menduplikasi 100% langkah-langkah rosul-rosul Allah menegakkan Dinnul Islam. Statemen "Secara de-facto ASNLF & Acheh-nya tidak sama dengan Rasulullah saw & Daulah Islamiyah-nya", membuktikan bahwa perjuangan ASNLF tidak memiliki Ruhul Jihad, karena mengambil hanya sebagian-sebagian dari dasar hukum Al-quran yang dianggap perlu dan pada sisi lain dikondisikan / di bawah kondisi." (Bambang Hediyanto, heda1912@yahoo.com , Sun, 9 Jan 2005 17:22:33 -0800 (PST))

"Islam hanya dijadikan Isu atau Materi Propaganda ASNLF untuk berdaulat sendiri, saya tidak peduli apakah akan lepas dari RI sekalipun, tapi bahwa dikarenakan penduduk Aceh itu Muslim maka mereka berhak atas perlindungan Daulah Islamiyah bagi yang sudah berhijrah aqidahnya dari RI ke Daulah Islamiyah. Di pihak lain kuantitas muslim itu hanya dijadikan objek untuk propaganda ASNLF. (Secara de-facto ASNLF & Acheh-nya tidak sama dengan Rasulullah saw & Daulah Islamiyah-nya), saya Haqqul Yaqin. Bila suatu saat nanti Daulah Islamiah tegak secara defacto dan dejure (RI gulung tikar), saya yakin ASNLF tidak akan mau tunduk terhadap Daulah Islamiyah tersebut apabila kita melihat dan mengamati Isu yang diperjuangkan ASNLF dewasa ini." (Bambang Hediyanto, heda1912@yahoo.com , Sun, 9 Jan 2005 22:34:26 -0800 (PST))

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Makasar, Indonesia dan saudara Bambang Hediyanto atau Hedaya di Jakarta, Indonesia.

Setelah dibaca apa yang disampaikan saudara Nur Abdurrahman, ditemukan bahwa saudara Abdurrahman, memang kurang memahami bagaimana sebenarnya proses pertumbuhan dan perkembangan satu negara.

Ternyata ketika Ahmad Sudirman menyatakan bahwa secara de-facto itu ASNLF tidak mempunyai kedaulatan penuh atas Negeri Acheh. Artinya ASNLF tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintah secara penuh atas Acheh yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara lain.

Ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro memaklumatkan kembali Negeri Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila pada tanggal 4 Desember 1976, itu wilayah kekuasaan Negeri Acheh secara de-facto berada dalam jajahan RI.

Jadi, secara de-facto itu wilayah yang dinyatakan bagian Negeri Acheh masih tetap berada dalam wilayah de-facto RI, walaupun rakyat Acheh ada.

Sedangkan Rasulullah saw, setelah hijrah ke Yatsrib, pada tahun 1 H / 622 M, itu wilayah daerah Yatsrib adalah wilayah secara de-facto bebas dari pengaruh jajahan Penguasa Quraisy Mekkah. Ketika Rasulullah saw mendeklarkan wilayah Yatsrib sebagai wilayah Daulah Islamiyah pertama dengan Undang Undang Madinahnya, maka secara de-facto dan de-jure itu Rasulullah saw memerintah penuh atas wilayah Yatsrib, tanpa adanya pengaruh dan campur tangan dari Penguasa Quraisy.

Karena itulah Ahmad Sudirman menyatakan "Secara de-facto ASNLF & Acheh-nya tidak sama dengan Rasulullah saw & Daulah Islamiyah-nya".

Jadi, tidak mungkin untuk membahas ASNLF dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang tidak memiliki kedaulatan penuh atau tidak memiliki kekuasaan memerintah penuh atas wilayah Acheh, dikiaskan kepada Rasulullah saw yang telah memiliki kedaulatan atau kekuasaan memerintah penuh atas wilayah Yatsrib.

Kalau mau dikiaskan, harus kedua-duanya memiliki status yang sama, artinya secara de-facto kedua pemerintahan itu memiliki kedaulatan penuh atas wilayah yang dikuasainya atau wilayah yang diperintahnya.

Oleh karena itu, Ahmad Sudirman menyatakan, hijrahnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro keluar Acheh, sebagaimana hijrahnya para sahabat Rasulullah ke Abyssinia atau Ethiopia pada tahun ke 5 ke-Nabian di Mekkah.

Kemudian, kalau Ahmad Sudirman membaca komentar saudara Hediyanto, mengenai apa yang ditulis: "Secara de-facto ASNLF & Acheh-nya tidak sama dengan Rasulullah saw & Daulah Islamiyah-nya". Kelihatan itu saudara Hediyanto memang tidak mengerti tatanegara, sehingga ketika membaca judul tulisan itu, langsung saja memberikan komentar yang isinya ngawur. Mengapa ?

Karena saudara Hediyanto hanya berpikir dangkal, maka ketika membaca judul tulisan Ahmad Sudirman itu, tanpa berpikir panjang langsung melambungkan kata-katanya: "membuktikan bahwa perjuangan ASNLF tidak memiliki Ruhul Jihad, karena mengambil hanya sebagian-sebagian dari dasar hukum Al-quran yang dianggap perlu dan pada sisi lain dikondisikan / di bawah kondisi. Dengan demikian, membicarakan ASNLF dalam paradigma Daulah Islamiah menjadi tidak standar / Tidak Level. Jadi sekali lagi, pembicaraan yang panjang lebar mengenai ASNLF selama ini sangat tidak memiliki arti apapun, Tidak Level"

Jelas itu kelihatan tanggapan yang ngaco.

Memang dibandingkan dengan saudara Nur Abdurrahman, itu saudara Nur Abdurrahman paham dan mengerti akan judul tulisan Ahmad Sudirman itu, hanya kurang memahami proses jalur pertumbuhan dan perkembangan pembentukan negara saja.

Saudara Hediyanto, sebaiknya, saudara kalau mau terus berdebat di mimbar bebas ini tentang Daulah Islamiyah Rasulullah dan juga masalah ASNLF, maka sebaiknya, saudara kaji dahulu lebih dalam mengenai Daulah Islamiyah pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw ini. Jangan hanya main raba-raba, dan mencampur adukkan serta menafsirkan seenak sendiri saja. Begitu juga dengan proses pertumbuhan dan perkembangan ASNLF dan Negeri Acheh-nya. Kalian saudara Hediyanto masih bingung dalam memahami Daulah Islamiyah pertama yang dibangun dan dikembangkan oleh Rasulullah saw.

Tentang masalah kedaulatan rakyat dan kedaulatan Allah SWT saja kalian masih bingung dan kurang memahami. Sebagaimana yang telah dijelaskan Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini, itu yang dinamakan kedaulatan Allah SWT sebagaimana yang dicontohkan Rasululla saw ketika membangun Daulah Islam Rasulullah saw, adalah mengembalikan segala urusan kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad saw. Dimana dasar, sumber hukum serta konstitusi negara diacukan kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Dan tidak ada itu istilah trias politika yang merupakan pembagian kekuasaan administrasi Negara.

Adapun yang dinamakan kedaulatan rakyat, adalah melalui rakyat atau wakilnya yang punya hak untuk membuat aturan, hukum, undang-undang tanpa melibatkan dan mengacukan kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw. Rakyat atau wakilnya bebas menetapkan, memutuskan, membuat aturan, hukum, undang-undang yang sesuai menurut jalur jalan pikirannya.

Itu yang kalian saudara Hediyanto nyatakan: "Islam hanya dijadikan Isu atau Materi Propaganda ASNLF untuk berdaulat sendiri, saya tidak peduli apakah akan lepas dari RI sekalipun, tapi bahwa dikarenakan penduduk Aceh itu Muslim maka mereka berhak atas perlindungan Daulah Islamiyah bagi yang sudah berhijrah aqidahnya dari RI ke Daulah Islamiyah. Di pihak lain kuantitas muslim itu hanya dijadikan objek untuk propaganda ASNLF."

Nah kelihatan, karena saudara Hediyanto ini memang hanya terpokus kepada apa yang ada pada dirinya atau kelompoknya yang telah menganggap membangun Daulah Islamiyah di wilayah de-facto negara kafir RI, maka hasilnya menjadi ngawur. Apalagi menafsirkan trias politika yang disejajarkan dengan pemahaman dan penafsiran tauhid yang salah kaprah, dan menyesatkan. Tentang hal ini telah Ahmad Sudirman telah mengupasnya dalam tulisan "Sdr Hediyanto itu ASNLF wadah untuk membebaskan negeri, agama, harta yang dijajah RI " (Ahmad Sudirman, 10 Januari 2004). Ditambah dengan masalah penafsiran hijrah yang tidak mencontoh apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Kalau hanya berhijrah model saudara Hediyanto, maka tidak perlu kalian mencontoh apa yang dicontohkan Rasulullah di Mekkah dan di Yatsrib.

Nah kesalahan dalam menafsirkan hijrah Rasulullah saw inipun, menyebabkan makin sempit dan tertutupnya saudara Hediyanto dalam memahami proses pertumbuhan dan perkembangan Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib yang harus dijadikan acuan bagi siapapun umat Islam yang mukmin yang mengikuti Rasulullah saw dalam menegakkan, menjalankan, menerapkan, melaksanakan dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Tidak ada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum itu di Mekkah berdiri Daulah Islamiyah, kecuali setelah Rasulullah saw hijrah ke Yatsrib yang bebas dari pengaruh kekuasaan Penguasa Quraisy di Mekkah. Dan setelah berdiri Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib itulah baru dalam proses pertumbuhan dan perkembangan Daulah Islamiyah di Yatsrib ini selanjutnya, itu Mekkah dapat dibebaskan dan di dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-jure Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Jadi, jangan hanya mengarang-ngarang seenak udel sendiri saudara Hediyanto, dalam mengupas dan mendalami proses pertumbuhan Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib ini. Karena nantinya, kalian bisa salah kaprah dan ngaco dalam membangun Daulah Islamiyah ini.

Nah akibat dari kesalahan dalam memahami dan mendalami bagaimana berdirinya dan berkembangnya Daulah Islamiyah di Yatsrib dan bagaimana proses hijrah Rasulullah saw itu sendiri sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT, maka saudara Hediyanto dalam mengupas masalah musuh Ummat Islam, dan agama Islam, serta Daulah Islamiyah di Yatsrib, langsung saja, melambungkan ide bahwa "yang disebut perang fisik dalam sejarah rosul karena dilandasi pada perbedaan aqidah di satu sisi aqidah Madinnah dengan Daulah Islamiyahnya di pihak lain aqidah Mekah (semua isme yang tidak 100% Al-quran, firqah-firqah dsb.)"

Nah disinilah kesalahan mendasar yang dilambungkan oleh Saudara Hediyanto ini tentang musuh yang mendeklarkan perang terhadap Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Memang dari sejak Rasulullah saw mendeklarkan dan menyatakan risalahnya di Mekkah itu sudah merupakan perbenturan antara keyakinan tauhid yang disampaikan Rasulullah saw dengan kepercayaan yang dipeluk oleh kaum Quraisy Mekkah pada saat itu.

Sama juga seperti sekarang di Negara kafir RI. Kalian dakhwahkan Islam, kalian nyatakan syariat Islam, kalian serang itu sistem thaghut pancasila dan UUD 1945 sekuler, tetapi itu tidak berarti suatu pendeklaran perang terhadap pihak Penguasa RI dari kalian. Dan tentu saja pihak Penguasa RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono tidak menganggap kalian musuh. Coba tanya itu Susilo Bambang Yudhoyono, apakah ia mengangap kalian musuh, ketika kalian obrak abrik itu sistem thaghut pancasila, kalian teriakkan itu UUD 1945 sekuler, dan yang lainnya. Jelas, itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan menganggap kalian musuh.

Tetapi terhadap pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara pancasila, itu Susilo Bambang Yudhoyono Cs telah mendeklarkan perang, dengan berlandaskan dasar hukum PP No.2/2004. Dimana pihak Susilo Bambang Yudhoyono menganggap musuh terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara pancasila. Dan sampai detik sekarang antara pihak RI dan ASNLF sedang terjadi perang.

Jadi, saudara Hediyanto, yang bisa dinyatakan sebagai musuh itu bukan karena diakibatkan oleh adanya perbedaan atau perbenturan aliran paham, ideologi, aqidah. Melainkan kalau adanya suatu sikap penentangan dari satu atau beberapa kelompok atau pemerintah dengan diringi kekuatan dan dideklarkan secara nyata terhadap kelompok lain atau pemerintah lain.

Kemudian, itu Mekkah jatuh ketangan Rasulullah saw dan umat Islam memang setelah adanya perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar oleh Penguasa Quraisy Mekkah dan adanya kekuatan angkatan perang umat Islam yang kuat yang dipimpin oleh Rasulullah saw.

Jadi jangan kalian tafsirkan dengan seenak udel sendiri bahwa Rasulullah saw membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib dan mempertahankan Agama, Negara, rakyat, hanya melalui perang intelekual saja, atau perang pola pikir saja.

Memang ada mengadu kekuatan melalui cara adu pola pikir dan ada saatnya mengadu kekuatan untuk mempertahankan Negara, Agama, dan kaum Muslimin yang berada dibawah lindungan Daulah Islamiyah. Misalnya memakai cara adu kekuatan pikir, adalah melalui perundingan-perundingan. Salah satunya perundingan Hudaibiyah. Itu hasil menggunakan dan melaksanakan penggunaan akal dan pikiran.

Kemudian saudara Hediyanto menyatakan: "Allah tidak menyukai kesempitan, maka berlapang-lapanglah, RI tidak usah diperangi secara fisik, buatlah Madinnah/ Daulah Islamiyah dengan sungguh-sungguh (Jihad - Jahada - Jiadah) dengan mewakafkan harta dan diri di dalamnya, buatlah semaju-majunya, secanggih-canggihnya, buatlah uswatun hasannah, niscaya RI akan hancur dengan sendirinya, itulah Futuh Mekah/ RI. sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, bisakah ASNLF melihat pertolongan itu? sedangkan di depannya berdiri bencana yang sangat mengerikan/ Tsunami, tetapi tidak dijadikan pelajaran, dan justru mempropagandakannya."

Nah disinilah kelemahan dari cara berpikir saudara Hediyanto yang salah kaprah. Bagaimana bisa itu Negara kafir RI hancur, kalau tidak ada perlawanan dari umat Islam secara frontal, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw sewaktu di Mekkah, dan dilanjutkan ketika setelah Rasulullah hijrah ke Yatsrib dengan membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Apakah itu Penguasa Quraisy Mekkah dan Negeri Mekkah jatuh ketangan Rasulullah saw dan umat Islam tanpa sebelumnya terjadi berpuluh kali perang besar dan perang kecil antara kaum Muslimin dari Daulah Islamiyah di Yatsrib dengan pasukan dari Penguasa Quraisy di Mekkah.

Itu selama Rasulullah saw di Yatsrib hampir tidak henti-hentinya Rasulullah saw memimpin perang besar dan perang kecil. Apakah hanya dengan melakukan perang intelektual saja, itu Mekkah bisa ditumbangkan?. Jelas tidak, saudara Hediyanto. Selama sepuluh tahun Rasulullah saw hampir tidak henti-hentinya mengatur siasat dan strategi untuk menghadapi ancaman musuh yang datang dari luar Daulah Islamiyah di Yatsrib.

Mekkah, jatuh ke tangan Rasulullah saw dan kaum muslimin setelah Rasulullah saw dan kaum muslimin dari mulai di Mekkah selama tiga belas tahun dengan kekuatan perang aqidah sampai ke Yatsrib dengan berjuang mengangkat senjata selama sepuluh tahun, sehingga akhirnya Mekkah jatuh ketangan Rasulullah saw dan umat Islam.

Jadi, itu kalau saudara Hediyanto hanya menyuarakan tegakkan Daulah Islamiyah tanpa mencontoh apa yang telah dijalankan dan dicontohkan Rasulullah saw, maka kalian tidak akan berhasil, paling kalian hanya hanyut dalam lumpur hitam sistem thaghut pancasila di Negara kafir RI.

Celakanya, tanpa kalian sadari, kalian telah dijadikan sebagai kacungnya Susilo Bambang Yudhoyono untuk menghancurkan ASNLF dan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Terbukti dengan tampilnya kalian di mimbar bebas ini dengan sikap kalian yang sama seperti sikap Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: "H. M. Nur Abdurrahman" nur-abdurrahman@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Subject: Re: SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA
Date: Mon, 10 Jan 2005 07:42:56 +0700

Assalamu 'alaykum wr.wb.

Menurut ana punya pandangan, setelah ASNLF dimakmumkan bukankah itu sudah lengkap sebagai negara yang berdaulat, punya pemerintahan, punya wilayah, punya rakyat dan punya angkatan perang? Bukankah wilayah yang dikuasai ASNLF pada waktu dimaklumkan sudah merupakan daerah de fakto dan de jure? Bukankah tidak seluruh Aceh yang dikuasai RI pada waktu ASNLF dimaklumkan?

Wassalam,

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Makasar, Indonesia
----------

Date: Sun, 9 Jan 2005 17:22:33 -0800 (PST)
From: Bambang Hediyanto heda1912@yahoo.com
Subject: Re: SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Sdr. Akhmad Sudirman,

Jika demikian kenyataanya, apalah artinya perjuangan ASNLF ?, sebab pada intinya perjuangan (jihad fisabililah) itu atas DINN-nya, di mana Allah telah mensyariatkan DINN, bukan atas nama kedaulatan rakyat Aceh melainkan kedaulatan Tuhan. Dan mengacu pada sunatullah dan rosulnya, tidak ada cara lain, melainkan MENDUPILKASI 100% langkah-langkah rosul-rosul Allah menegakkan Dinnul Islam.

Statemen "SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA", membuktikan bahwa perjuangan ASNLF tidak memiliki RUHUL JIHAD, karena mengambil hanya sebagian-sebagian dari dasar hukum Al-quran yang dianggap perlu dan pada sisi lain dikondisikan / di bawah kondisi. Dengan demikian, membicarakan ASNLF dalam paradigma Daulah Islamiah menjadi tidak standar / TIDAK LEVEL. Jadi sekali lagi, pembicaraan yang panjang lebar mengenai ASNLF selama ini sangat tidak memiliki arti apapun, TIDAK LEVEL.

Terima kasih.

Hedaya

heda1912@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Sun, 9 Jan 2005 22:34:26 -0800 (PST)
From: Bambang Hediyanto heda1912@yahoo.com
Subject: Re: SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Saya merasa yakin :

Pertama
Islam hanya dijadikan Isu atau Materi Propaganda ASNLF untuk berdaulat sendiri, saya tidak peduli apakah akan lepas dari RI sekalipun, tapi bahwa dikarenakan penduduk Aceh itu Muslim maka mereka berhak atas perlindungan Daulah Islamiyah bagi yang sudah berhijrah aqidahnya dari RI ke Daulah Islamiyah. Di pihak lain kuantitas muslim itu hanya dijadikan objek untuk propaganda ASNLF. (SECARA DE-FACTO ASNLF & ACHEH-NYA TIDAK SAMA DENGAN RASULULLAH SAW & DAULAH ISLAMIYAH-NYA) ----- saya Haqqul Yaqin.

Kedua
Bila suatu saat nanti Daulah Islamiah tegak secara defacto dan dejure (RI gulung tikar), saya yakin ASNLF tidak akan mau tunduk terhadap Daulah Islamiyah tersebut apabila kita melihat dan mengamati Isu yang diperjuangkan ASNLF dewasa ini.

Ketiga
Apapun yang disebut perang fisik dalam sejarah rosul karena dilandasi pada perbedaan aqidah di satu sisi aqidah Madinnah dengan Daulah Islamiyahnya di pihak lain aqidah Mekah (semua isme yang tidak 100% Al-quran, firqah-firqah dsb.). Perang fisik hanyalah suatu cara/ strategi, dan masih banyak setrategi-setrategi lainnya, diantaranya adalah perang pola pikir/ intelektual secara kahfi (paska Hudaibiyah) yang pada akhirnya juga bermuara pada kemenangan bila dilandasi Alquran 100%, ITU PASTI.

Keempat
Allah tidak menyukai kesempitan, maka berlapang-lapanglah, RI tidak usah diperangi secara fisik, buatlah Madinnah/ Daulah Islamiyah dengan sungguh-sungguh (Jihad - Jahada - Jiadah) dengan mewakafkan harta dan diri di dalamnya, buatlah semaju-majunya, secanggih-canggihnya, buatlah uswatun hasannah, niscaya RI akan hancur dengan sendirinya, itulah Futuh Mekah/ RI. sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, bisakah ASNLF melihat pertolongan itu? sedangkan di depannya berdiri bencana yang sangat mengerikan/ Tsunami, tetapi tidak dijadikan pelajaran, dan justru mempropagandakannya.

Kelima
Dari pada hanya berpropaganda, lebih baik KERJA ... KERJA .....dan KERJA, hidupi, pertahankan, dan tegakkan Daulah Islamiyah. Saya terdorong berkomentar karena ASNLF ini terlalu hiperaktif berpropaganda seperti SUKARNO Cs dulu kala .... sementara strategi Iman( 9:33)---- Taubat, Hijrah (61:9)----- Masuk Barisan, dan Jihad (48:28) ----- menang , ditinggalkan begitu saja, hanya untuk mengejar Kedaulatan Nafsu yang mengatasnamakan umat islam Aceh.

Keenam
RI pasti hancur, demikian juga isme-isme lainnya selain Islam 100%. ASNLF ????

Terima kasih

Hedaya

heda1912@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------