Stockholm, 12 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HEDIYANTO PAPARKAN TESIS, ANTITESIS & SINTESIS GOMBAL TENTANG PENEGAKKAN ISLAM DI RI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG KELIHATAN ITU BAMBANG HEDIYANTO MENCOBA MEMAPARKAN TESIS, ANTITESIS & SINTESIS GOMBAL TENTANG PENEGAKKAN ISLAM DI RI

"Bung Ahmad Sudirman. Tanggapan balik saudara semakin kebakaran jenggot saja, saya nggak menyerang ASNLF kok, justru kalo ASNLF makin kuat, itu akan memperlemah kekuatan RI sehingga kebijakannya jadi ngawur dan tidak konsisten. Dan saran saya, mohon dialektikanya dipertajam, jangan kaku begitu, terlalu text book hingga tidak sadar kondisi. Di dalam perjuangan yang namanya kritik itu perlu, saya welcome saja terhadap opini saudara tentang Madinnah Indonesia. Anda kelihatan seperti orang sedang frustasi, benarkah? Saya hanyalah sedang memaparkan sedikit tentang sisi lain perjuangan mentegakan Islam oleh Madinnah Indonesia. Dan dikarenakan garis kahfi, saya menyampaikan yang prinsip-prinsip saja dengan dialektikanya. Yaitu gambaran prospek sebuah perjuangan dengan resensinya dan resistensinya. Jadi tidak usah kebakaran jenggot gitu, dan hilangkan bahasa-bahasa hardikan, orang bilang tidak elok lho" (Bambang Hediyanto, heda1912@yahoo.com , 12 januari 2005 04:03:58)

Baiklah saudara Bambang Hediyanto atau Hedaya di Jakarta, Indonesia.

Saudara Hediyanto, kalau Ahmad Sudirman memberikan tanggapan, itu artinya bukan kebakaran jenggot. Melainkan itu hasil pemikiran yang dilandaskan oleh adanya penalaran atau pemikiran atau pengetahuan yang dilambungkan melalui cara diskusi atau dialog yang merupakan salah satu alat untuk mengadakan penyelidikan sesuatu masalah yang sedang dibicarakan. Nah itulah yang dinamakan dialektika yang dikembangkan dan dikemukakan oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Jadi, kalau mau melambungkan sesuatu hal dalam bentuk dialektik, maka perlu adanya seni berpikir, seni nalar secara logis, teliti dan teratur dengan menampilkan tesis atau pernyataan-pernyataan yang didukung oleh argumentasi-argumentasi untuk membenarkan pernyataan-pernyataan itu, yang nantinya akan dibenturkan dengan antitesis yaitu usaha untuk melakukan bantahan atau sanggahan dari tesis tersebut, sehingga dari adanya bantahan dan sanggahan-sanggahan tersebut akan menghasilkan sintesis yaitu suatu paduan atau campuran dari berbagai pernyataan dengan argumentasinya dan hasil bantahan-batahannya guna membangun bangunan kesatuan yang selaras.

Nah cara penampilan atau pemaparan sesuatu hal yang begitulah yang kalau kalian Hendiayanto mau "memaparkan tentang sisi lain perjuangan mentegakan Islam oleh Madinnah Indonesia" dengan melalui bentuk bangunan dialektika.

Kalau kalian Hediyanto menyatakan: "saran saya, mohon dialektikanya dipertajam, jangan kaku begitu, terlalu text book hingga tidak sadar kondisi."

Itu yang dimaksud dengan dialektika adalah seperti yang Ahmad Sudirman jelaskan dan terangkan diatas.

Jelas, kalau mau menampilkan sesuatu hal dengan bentuk bangunan dialektika, maka itu hasil pemikiran yang dilandaskan oleh adanya penalaran atau pemikiran atau pengetahuan yang dilambungkan harus didasarkan kepada adanya tesis yaitu pernyataan-pernyataan yang didukung oleh argumentasi-argumentasi yang didasarkan kepada referensi-referensi yang kuat dan benar, baik itu yang digali dari sumber-sumber perpustakaan, ataupun sumber-sumber umum untuk membenarkan pernyataan-pernyataan tersebut, yang nantinya bisa didialogkan guna dilakukan penyelidikan yang lebih dalam dan lebih detail, dan diuji oleh antitesis untuk membenarkan segala pernyataan tersebut, supaya nantinya bisa menghasilkan sintesis atau perpaduan pernyataan dengan segala bantahannya, yang akan menghasilkan bangunan pemikiran yang selaras.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman dalam usaha berdialektika ini mendasarkan argumentasinya kepada sumber-sumber referensi yang benar dan kuat, itu menandakan bukan suatu sikap text book thinking, melainkan itu adalah merupakan suatu sikap untuk melahirkan sintesis yang harmonis dan benar dari tesis dan antitesis yang dilambungkan.

Nah sekarang, kalau kalian Hediyanto menyatakan: "Saya hanyalah sedang memaparkan sedikit tentang sisi lain perjuangan mentegakan Islam oleh Madinnah Indonesia. Dan dikarenakan garis kahfi, saya menyampaikan yang prinsip-prinsip saja dengan dialektikanya. Yaitu gambaran prospek sebuah perjuangan dengan resensinya dan resistensinya"

Maka kalian Hediyanto, perlu menampilkan argumentasi-argumentasi yang didasarkan pada referensi-referensi yang bisa menunjang dan memperkuat pernyataan-pernyataan kalian tentang sisi lain perjuangan menegakkan Islam oleh Madinnah Indonesia.

Nah, kalau argumentasi-argumentasi kalian itu tidak didasarkan kepada argumentasi yang memiliki dalil naqli dan aqli yang kuat dan benar yang menyangkut penegakkan dan pembangunan Daulah Islamiyah pertama yang dibangun Rasulullah saw, maka ketika kalian dihadapkan kepada antitesis-nya, maka kalian akan menemukan sistesis yang salah kaprah, alias gombal, dan tidak menentu. Mengapa ?

Karena, itu tesis yang kalian kemukakan tidak ditunjang oleh argumentasi berdasarkan referensi yang kuat menurut apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam hal menegakkan dan membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib. Sehingga, sebagai contoh, ketika kalian Hediyanto melambungkan gencatan senjata sebagai hasil perjanjian Hudaibiyah, ternyata kalian mengambil sintesis, yang penuh dengan kepalsuan atau tidak ditunjang oleh adanya dasar referensi yang kuat, yaitu adanya fakta dan bukti yang berupa isi dari perjanjian Hudaibiyah tersebut.

Oleh sebab itu, ketika Ahmad Sudirman melambung antitesis atas tesis yang kalian kemukakan tentang aplikasi dan penerapan gencatan senjata dari perjanjian Hudaibiyah ini, ternyata benteng pertahanan tesis yang dibangun dari argumentasi-argumentasi kalian itu dapat dihancurleburkan.

Nah, kalau kalian Hediyanto mau mengetahui, justru cara kalian melambungkan tesis dengan sintesis-nya itulah yang dinamakan dengan bentuk bangunan pikiran dialektika yang kaku.

Jadi, kalau kalian yang melambungkan bangunan pemikiran yang berbentuk dialektika yang kaku, jangan disalahkan Ahmad Sudirman dengan tuduhan bahwa Ahmad Sudirman "sedang frustasi". Jelas, tuduhan kalian itu makin menambah bangunan pemikiran dialektika kalian yang lebih kaku dan gombal.

Selanjutnya, kalau Ahmad Sudirman menampilkan dan menuliskan kata-kata bodoh, budek, otak udang, gombal, itu adalah kata-kata yang biasa berlaku dalam kehidupan percakapan sehari-hari, yang maknanya hampir sama semuanya, yaitu kurang cerdas.

Sekarang, kalau Ahmad Sudirman menulis budek, itu sama dengan kurang cerdas, karena memang ada dalam telinga yang menyumbat dalam bentuk sumbatan racun sistem thaghut pancasila. Juga kalau Ahmad Sudirman menulis otak udang, itu sama saja dengan otak kepala yang sudah terkena racun sampah pancasila hasil kutak-katik Soekarno. Begitu juga kalau Ahmad Sudirman menulis gombal, itu artinya karena memang otak sudah kosong termakan habis racun pancasila idologinya Susilo Bambang Yudhoyono. Sama juga kalau Ahmad Sudirman menulis bodoh, itu artinya memang otak kerdil tidak mau menggali sumber referensi yang kuat dan benar untuk mengetahui sejarah yang benar tentang Daulah Islamiyah pertama yang dibangun Rasulullah saw di Yatsrib.

Jadi kalian Hediyanto, janganlah pura-pura halus berbahasa, coba buka itu kamus besar bahasa Indonesia, itu semua kata-kata yang kalian kelompokkan kedalam kelompok "hardikan" adalah justru kata-kata yang biasa dan masuk kedalam daftar kata-kata dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Jangan munafik dalam berbahasa, saudara Hediyanto. Belajar lagi itu bagaimana berbahasa Indonesia dan mempergunakan bahasa Indonesia itu sendiri.

Terakhir, itu soal yang kalian Hediyanto katakan: "Mari kita buat bukti keberhasilan".

Itu soal hasil, kalau itu menyangkut rakyat Acheh adalah setelah selesainya proses jalur pertumbuhan dan perkembangan perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila, yaitu dimana Negeri Acheh telah bebas, agama bisa ditegakkan secara kaffah, rakyat Acheh telah kembali membangun diri, masyarakat, pemerintah dan negearanya sendiri dibawah pemerintah sendiri tanpa adanya ikut campur tangan pihak luar.

Nah, kalau itu proses jalur pertumbuhan dan perkembangan perjuangan rakyat Acheh masih berlangsung, maka hasilnya belum bisa terlihat.

Kemudian, kalau kalian Hediyanto mempertanyakan: "tapi pernyataan saya yang belum terjawab, bila mana nanti Daulah Islamiyah Madinnah Indonesia tegak berdasarkan Al-quran 100% (menang atas RI), maukah ASNLF tunduk dibawahnya? (kita berandai-andai saja dulu.)"

Dalam masalah penegakkan dan pembangunan kembali Daulah Islamiyah yang mengacu kepada Daulah Islamiyah pertama yang dibangun Rasulullah saw, tidak ada istilah berandai-andai. Kalau kalian Hediyanto memperjuangkan Daulah Islamiyah benar-benar mengacu kepada Rasulullah saw dalam hal membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib, maka jelas, setiap muslim yang mukmin harus mentabi'i-nya, tanpa kecuali. Karena itulah Sunnah Rasulullah saw dalam bentuk hasil perbuatannya.

Tetapi, kalau kalian Hediyanto menegakkan dan membangun daulah-daulahan dengan hasil penipuan dan pencatutan dengan berkedok Daulah Islamiyah, maka jelas, tidak akan muslim yang mukmin mentabi'i-nya, kecuali hanyalah orang-orang bodoh yang telah kalian tipu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Bambang Hediyanto heda1912@yahoo.com
Date: 12 januari 2005 04:03:58
To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Re: AKHIRNYA KELIHATAN ITU HEDIYANTO ADALAH KACUNGNYA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Bung Ahmad Sudirman.

Tanggapan balik saudara semakin kebakaran jenggot saja, saya nggak menyerang ASNLF kok, justru kalo ASNLF makin kuat, itu akan memperlemah kekuatan RI sehingga kebijakannya jadi ngawur dan tidak konsisten. Dan saran saya, mohon dialektikanya dipertajam, jangan kaku begitu, terlalu text book hingga tidak sadar kondisi. Di dalam perjuangan yang namanya kritik itu perlu, saya welcome saja terhadap opini saudara tentang Madinnah Indonesia. Anda kelihatan seperti orang sedang frustasi, benarkah?

Saya hanyalah sedang memaparkan sedikit tentang sisi lain perjuangan mentegakan Islam oleh Madinnah Indonesia. Dan dikarenakan garis kahfi, saya menyampaikan yang prinsip-prinsip saja dengan dialektikanya. Yaitu gambaran prospek sebuah perjuangan dengan resensinya dan resistensinya. Jadi tidak usah kebakaran jenggot gitu, dan hilangkan bahasa-bahasa hardikan, orang bilang tidak elok lho.

Mari kita buat bukti keberhasilan, tapi pernyataan saya yang belum terjawab, bila mana nanti Daulah Islamiyah Madinnah Indonesia tegak berdasarkan Al-quran 100% (menang atas RI), maukah ASNLF tunduk dibawahnya? (kita berandai-andai saja dulu)

Terima kasih.

Hedaya

heda1912@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------