Stavanger, 13 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TSUNAMI RIS-DEN HAAG BELANDA DAN TSUNAMI NKRI-JAKARTA
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

MENYOROT SEKILAS AKIBAT GELOMBANG PASANG TSUNAMI RIS-DEN HAAG BELANDA DAN TSUNAMI NKRI-JAKARTA.

Setelah Tsunami Acheh/Asian menelan korban 100.000 jiwa lebih bangsa Acheh dan telah memusnahkan hampir seluruh sendi-sendi hidup dan kehidupannya, lantas selepas ini, kita coba menanyakan kepada masyarakat dunia, bagaimanakah tanggung jawab mereka terhadap nasib bangsa Acheh dimasa depan, apakah akan terus membiarkan nasib mereka terus patah-bersambung dan tindih-bertindih dengan korban-korban baru lain akibat kekejaman Penjajahan Indonesia Jawa lagi?

Ini, karena masyarakat dunia, sudah melihat sendiri dengan mata kepala mereka, betapa kejamnya Penjajah Indonesia Jawa memperlakukan bangsa Acheh dan korban Tsunami Acheh/Asian. Mereka tidak memperdulikan apapun terhadap korban yang hilang dan mati, malahan tidakpun mau meminta bantuan dunia, sehingga korban yang mati terus mennggelembung dan hitam membusuk, sehingga yang terluka parah menyusul mati, sehingga yang terluka ringan berputus asa! Dan hari-hari terakhir ini, kita lihat leher jenazah-jenazah itu dipancung dan anggota badan dikoyak dan dicabik excavator.

Itulah kemanusiaannya Pancasila Indonesiaan Jawa dan itulah kemanusiaan Penjajah Indonesia Jawa atau itulah kemanusiaan si Belanda Hitam!

Seluruh pemimpin Dunia marah, kemanusiaan mereka tersentak dan merekapun bagai tersungkit, bangkit serentak!.

Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush-pun ikut tersungkit dan lantas bangkit dengan ucapan kemanusiaannya, yang sangat melegakan hati bangsa Acheh, Thailand, Burma, Maladive, Sri Lanka, India, Mauritania, Tanzania, Somalia dan Kenya itu, setelah meberitahukan dunia bahwa Mr Collin Powel, Mentri Luarnya, sedang bekerja keras kearah usaha-usaha membantu korban tsunami Acheh/Asian dan memerintahkan USS Abraham Lincoln dari Guam masuk segera keperairan Negara Acheh Sumatra!

Perdana Menteri Tengku Malik Mahmud-pun, selaku pemimpin pemerintahan Negara Acheh Sumatra in exile, ikut tersungkit dan latas bangkit dan mengarahkan TNA, Tentara Negara Aceh, segera melaksanakan gencatan senjata sepihak. Sekaligus menyerukan agar ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam segera ikut serta melaksanakan gencatan senjata, demi kemanusiaan.

Tengku Malik Mahmud mengucapkan ribuan terima kasih kepada Amerika Serikat, Japan, Australia, China, negara-negara di Asia Tenggara, New Zealand PBB, NGO-NGO. Thanks you world!!!

Masyarakat dunia, nampaknya bagaimanapun tidak akan diam dan akan bertindak, menindak tingkah laku biadab, ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam yang telah menyembelih 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh disebalik "secret war" nya di Acheh disebalik kejahatan mereka membiarkan 100.000 jiwa lebih jenazah-jenazah korban TsunamiAcheh/Asian, yang telah menggelembung dan hitam membusuk dan terkapar berserakan.

Tingkah laku biadab militer Indonesia Jawa yang sedemikan rupa itu, telah pernah disifatkan oleh Prof Jeffrey Winters dari Northwestern University, sebagai Military Terrorist, sebagai Indonesian Military Terrorist, juga mengikut respon yang telah pernah diberikan oleh beberapa senator-senator Amerika, Indonesian military is terrorist! Selain, sebagaimana telah dibuktikan di Acheh, di Maluku, di Papua Barat dan di Timor Timur (Timor Leste), juga di tempat-tempat lain, apa yang disebut Indonesia Jawa.

Atau sebagaimana telah dikatakan oleh Wali Negara (Presiden) Negara Acheh Sumatra, Dr Tengku Hasan di Tiro: Indonesia is Terrorist State!

Untuk ini, maka marilah kita melihat sejenak keserentetan peristiwa setelah Reproklamasi 4 Desember, 1976, lewat "secret war" nya: DOM, DM dan kini DS, Penjajah Indonesia Jawa cq ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam telah menyembelih 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh! Masyarakat dunia tolong rekod dan renungkanlah ini!

Dan pada 26 Desember, 2004 karena hempasan gelombang Tsunami Acheh/Asian, maka telah terkorban 100.000 jiwa lebih bangsa Acheh! Masyarakat dunia telah merekod dan merenungkannya!

I have never seen anything like this........kata Collin Powel, Mentri Luar Negeri Amerika Serikat, setelah menyaksikan bagaimana dahsyatnya kemusnahan bumi Acheh, yang baru dilanggar hempasan kuat Tsunami Acheh/Asian, pada 26 Desember, 2004 yang baru lalu.

Apalagi selari dengan kejadian itu, beliau melihat dan menyaksikan, bagaimana mayat yang sudah menggelembung dan hitam membusuk, masih lagi terkapar dan terhampar dimana-mana.

Dan tak syak lagi, pastilah beliau juga dapat merasakan bagaimana sesungguhnya penderitaan lain bangsa Acheh sejak dulu dan kini, yang setiap hari disiksa, diperkosa, dipenjarakan, dibunuh dan dihilangkan, terutama anak-anak muda kampung yang pusaranya mungkin didasar sungai atau mungkin didasar laut atau dilempar kedalam lembah-lembah , ketika bangsa itu, sedang berjuang untuk mengusir penjajahan Indonesia Jawa demi kemerdekaan bangsa dan kedaulatan negaranya.

Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto dan Ryamizard Ryacudu, ketiga-tiga penjahat prang ini dan sebagai arsitek -arsitek genocide utama Darurat Militer dan Darurat Sipil di Acheh, seyogianya musti bertanggungjawab penuh atas kejahatan mereka bertiga, karena membiarkan korban yang sakit atau yang lapar atau yang terluka parah atau yang menjadi kritis tetapi tidak diberikan bantuan segera, sedangkan yang telah mati mereka bertiga biarkan terus terkapar, menngelembung, menghitam dan membusuk!

Kebandelan dan kedegilan mereka bertiga, dengan mengambil sikap terus diam-membukam, tidak mau meminta bantuan luar, telah disifatkan sebagai pengecut, kejam dan tidak berpriemanusaan!!!.

Selain itu, ketiga-tiga penjahat prang itu, masih terus menutup rapat-rapat pintu masuk para jurnalis lokal dan luar, badan-badan kemanusiaan, untuk mendekati lokasi kejadian, walaupun mereka yang datang kesana dengan niat semata-mata untuk membantu korban Tsunami Acheh/Asian yang sakit dan yang tercedera, !

Inilah diantara kejahatan Susilo Bambang Yudhoyono terhadap korban Tsunami Acheh/Asian! Inilah kejahatan Endrriartono Sutarto terhadap korban Tsunami Acheh/Asian! Dan inilah diantara kejahatan Ryamizad Ryacudu terhadap korban Tsunami Acheh/Asian!

Terhadap ketiga-tiga penjahat prang ini, sememangnya perlu segera diseret ke Mahkamah Trbunal International, ke mahkamah International Criminal Court of Justice, sebaik reda kerja-kerja penyelamat kemanusiaan korban Tsunami Acheh/Asian di Acheh!

Kita perlu mengatakan semua dan segala-galanya kepada Yth. Tuan Collin Powel.

Tuan Collin Powel, sebagaimana Tuan ketahui bahwa bangsa Acheh yang kini sedang dijajah oleh Penjajah Indonesia Jawa ini, sebenarnya telah pernah hidup bebas, merdeka dan berdaulat penuh sejak Kerajaan (Negara) Acheh itu, dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528) atau 4 tahun setelah Christopher Columbus mendarat di Columbia, di Sentral Amerika atau 100 tahun sebelum (Penjajah) Belanda mulai menjajah Indonesia Jawa atau ketika (Penjajah) Belanda itu sendiri, masih lagi sebagai sebuah wilayah Provinsi dari Kerajaan (Negara) Spanyol atau 453 tahun sebelum Penjajah Belanda menyerahkan ex-wilayah kekuasaan jajahannya kepada Penjajah Indonesia Jawa ex mercenarynya, ex tentara upahannya anak-anak Jawa Madura atau si Belanda Hitam pada tanggal 27 December, 1949.

Wilayah Kerajaan (Negara) Achehpun, ketika itu telah terikut sama diserahkan bulat-bulat di Koferensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda kepada Penjajah Indonesia Jawa!.

Melihat kepada sejarah penyerahan Wilayah Kerajaan (Negara) Acheh oleh Penjajah Belanda, di Den Haag, kepada Penjajah Indonesia Jawa, di Jakarta sama seperti sejarah Penjajah Jerman menyerahkan Wilayah Negara Namibia, kepada South Afrika, di Yohanesburg.

Acheh bukan kepunyaan Belanda sama seperti Namibia bukan kepunyaan Jerman dan begitu juga, Indonesia Jawa di Jakarta itu sebagai negara asing bagi bangsa Acheh dan begitu juga halnya South Afrika, di Yohanesburg itu, sebagai negara asing bagi bangsa Namibia.

Acheh kepunyaan bangsa Acheh dan begitu juga Namibia kepunyaan bangsa Namibia!

Belanda keluar dari Acheh, maka Acheh harus dikembalikan kepada bangsa Acheh, bukan kepada Penjajah Indonesia Jawa! Jerman keluar dari Namibia, maka Namibia harus dikembalikan kepada bangsa Namibia, bukan kepada Penjajah South Afrika!
Ex injuria jus non oritur. Right cannot originate from wrong!

Bangsa Namibia terpaksa berperang, berjuang menuntut kemerdekaan bangsa dan negaranya kepada pemerintahan Penjajah South Afrika, di Yohanesburg, maka demikianlah nasib bangsa Acheh hari ini, terpaksa berperang berjuang menuntut kemerdekaannya kepada pemerintah Penjajah Indonesia Jawa, di Jakarta!

Demikian pula sejarah penyerahan ex-Wilayah Penjajahan Hindia Belanda kepada Penjajahan Indonesia Jawa lewat RIS inilah yang kemudian menjadi malapetaka bagi bangsa-bangsa diluar Pulau Jawa!

Petaka inilah, kemudian telah diperkatakan sebagai: Tsunami RIS Penjajah Hindia Belanda!

Persis 55 tahun yang lalu, pada 26 Desember, 1949, sehari sebelum Penjajah Belanda menyerahkan kedaulatan negara-negara diluar Pulau Jawa, secara rasmi (formal) lewat RIS kepada Penjajah Indonesia Jawa, di Konferensi Meja Bundar, di Den Haag-Belanda, telah tercatat sebagai terjadinya sebuah "gempa bumi", Gempa bumi dari gegeran dua dekapan: si Penjajah Belanda berdekapan dengan si Penjajah Indonesia Jawa sehari sebelum "Tsunami RIS Penjajah Hindia Belanda 27 Desember, 1949", menghempaskan "pantai-pantai kedaulatan" negara-negara (kerajaan-kerajaan) di luar Pulau Jawa!

Acheh, sepatutnya tidak dilanggar "Tsunami RIS Penjajah Hindia Belanda 27 Desember, 1949", karena Acheh berada diluar radius RIS! Karena Penjajah Belanda sudah keluar dari Acheh dan tidak pernah kembali lagi.

Tetapi kemudian gelombang pasang (tidal wave) dari episenter "Tsunami RIS Penjajah Hindia Belanda 27 Desember, 1949" di Konferansi Meja Bundar, Den Haag, sesampainya di "pantai" Pulau Jawa, pada tanggal 15 Agustus, 1950 telah berobah dan bertukar pula menjadi "Tsunami NKRI Penjajah Indonesia Jawa 15 Agustus, 1950".

Sebelum "Tsunami RIS Penjajah Hindia Belanda 27 Desember, 1949" berobah menjadi "Tsunami NKRI Penjajah Indonesia Jawa 15 Agustus,1950, maka Penjajah Indonesia Jawa, coba mencaplok Acheh, sehari sebelum lahirnya "Tsunami NKRI Penjajah Indonesia Jawa, 15 Agustus, 1950 dengan menghempas Acheh dengan "Tsunami RIS 27 Desember, 1949", seolah-olah Acheh pernah ikut diserahkan oleh Penjajah Hindia Belanda kepada Penjajah Indonesia Jawa, ketika di Den Haag dulu.

Disini perlu diingatkan kembali bahwa Acheh bukan kepunyaan Penjajah Hindia Belanda. Dan Penjajah Indonesia Jawapun tidak pernah punya hak apapun terhadap (bumi) Acheh.

Petaka "Tsunami Penjajah Indonesia Jawa, 15 Agustus, 1950" ini, kemudian menjadi malapetaka yang besar atas bangsa-bangsa atau negara-negara di luar Pulau Jawa!

Tsunami NKRI Penjajah Indonesia Jawa 15 Agustus, 1950 adalah The Blue Print of The Political Structure of Javanese Colonialism, yang menghancur dan memusnahkan semua sendi-sendi struktur kehidupan sosio-politik, sosio-ekonomi, sosio-kultur bangsa-bangsa di luar Pulau Jawa, dan telah disifatkan sebagai hempasan dahsyat gelombang genocide, terutama terhadap bangsa Acheh Sumatra, bangsa Maluku dan bangsa Papua Barat!

Republik Indonesia Serikat, sepatutnya harus dipandang sebagai sebuah alert warning system, bagi sesiapa yang sedang bermain di pantai-pantai kedaulatan Indosnesos?

(bersambung PLUS I + TSUNAMI RIS-DEN HAAG BELANDA DAN TSUNAMI NKRI- JAKARTA)

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
Norway
----------