Stockholm, 13 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SDR INDRA APAKAH SUKU GAYO MAU MEMISAHKAN DIRI DARI ACHEH TETAPI TETAP DIBAWAH PENJAJAH RI ?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

APAKAH SUKU GAYO INGIN MEMISAHKAN DIRI DARI ACHEH DAN MEMBENTUK PROVINSI SENDIRI TETAPI TETAP BERADA DI BAWAH PENJAJAH RI ?

"Begitu muluk apa yang telah saya baca di website Anda dan mimpi Anda tentang kemerdekaan Aceh, sehingga saya hanya bisa berucap bull shit. Saya tidak tahu berapa lama anda telah berada di Swedia sehingga Anda buta sama sekali tentang keadaan Aceh. Anda hanya berteriak penindasan HAM rakyat Aceh oleh TNI. Bahwa Indonesia telah menindas rakyat Aceh dan bla bla bla. Tapi Anda lupa bahwa Tentara Anda telah menindas suku kami dari Gayo. Dan ini fakta yang Anda sendiripun sangat tidak bisa membantahnya ! Betapa kami melihat orang-orang kami dibantai oleh tentara Aceh, bahkan bayi yang berusia 6 bulan pun menjadi sasaran kebuasan tentara-tentara Anda !. Saya tidak mengerti dengan Anda yang menggaungkan kata-kata Islam, tentang HAM, tapi Anda sendiri menginjak-injaknya. Jangan bilang ini hanya kesalahan segelintir tentara GAM, jangan bilang ini hanya fitnah, jangan bilang bukan sebuah fakta, dan jangan bilang otak saya telah teracuni oleh Soekarno, Susilo, atau yang lain-lainnya. Otak Anda-lah sebenarnya yang telah teracuni oleh idealisme Anda sendiri, sehingga Anda buta terhadap fakta ini! Beranikah Anda menuliskan di website Anda tentang fakta ini? Bull shit." (Indra , pazhinko@yahoo.com , Wed, 12 Jan 2005 17:44:45 -0800 (PST))

Baiklah saudara Indra di Bandung, Indonesia.

Memang benar di Acheh telah tinggal dan hidup berbagai suku, baik itu suku pendatang dari luar Acheh ataupun suku-suku yang ada di Acheh itu sendiri. Disamping suku Acheh, ada suku Gayo yang hidup dan tinggal di Acheh Tengah dan Acheh Timur. Dimana suku Gayo ini juga terbagi kedalam dialek, seperti suku Gayo Lut yang berdomisili di daerah Danau Lut Tawar, suku Gayo Luwes, suku suku Gayo Linge, suku Gayo Seberjadi yang tinggal disekitar Lokop juga sampai ke Acheh Timur dan suku Gayo Johar di Sumatera Timur. Suku Alas di Acheh Tenggara, suku Simeulue di Pulau Simeulue, suku Singkil di Acheh Singkil, suku Tamiang, suku Anek Jamee. Sedangkan pendatang dari luar Acheh seperti dari Jawa, Sunda, Minangkabau, Makasar, Palembang, Arab, China, dan India. Bagi orang-orang pendatang yang asalnya dari Jazirah Arab, mereka banyak yang memakai nama Said dan Habib. Adapun yang datang dari India kebanyakan datang dari wilayah Gujarat di India.

Sekarang menyinggung suku Gayo ini memang mereka telah memiliki kerajaan yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empuberu, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah yang berkuasa pada tahun 1012 M -1038 M. Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge dibantu oleh perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Thjik Serule.

Pada tahun 1292 Marco Polo sekembali dari perjalanan ke Tiongkok atau China sekarang, pernah singgah di Peureulak dan menemukan penduduk Peureulak telah memeluk Islam. Ada juga penduduk yang tidak bersedia masuk Islam, berpindah ke pedalaman. Dimana dipedalaman itu didapatkan satu kerajaan kecil dan laut kecil.

Jadi kalau mempelajari dari sejarah singkat Kerajaan Linge yang dibangun oleh Adi Genali ini membuktikan memang suku Gayo ini memiliki sejarah yang panjang. Sebagaimana sejarah Kesultanan Samudera Pasai yang dibangun oleh Merah Silu yang berkuasa antara tahun 1275 M - 1297 M yang berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh setelah memeluk Islam. Juga Kesultanan Acheh yang dibangun pertama kali di wilayah Acheh paling utara oleh Sultan Johan Syah pada abad 12, sekitar tahun 601 H / 1205 M.

Kemudian sejalan dengan perkembangan sejarah, Sultan Ali Mughayat Syah yang menguasai Kesultanan Acheh dari tahun 1514 M - 1528 M berhasil menyatukan Kesultanan Samudra Pasai kedalam wilayah kekuasaan Kesultanan Acheh pada tahun 1524 M, yaitu satu tahun sebelum Kerajaan Majapahit dihancurkan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1525 M.

Ketika pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H / 3 April 1607 M, Iskandar Muda dinobatkan sebagai Sultan. Dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda inilah Benteng Deli bisa ditembus dan diduduki. Daerah Natal, Tiku, Pariaman dan Pulau Nias diduduki. Johor dikuasi pada tahun 1613, Pahang dikuasai pada tahun 1618, Kedah dikuasai pada tahun 1619 dan Tuah dikuasai pada tahun 1620. Jadi ketika masa Sultan Iskandar Muda berkuasa inilah wilayah Kesultanan Acheh meluas yang asalnya disekitar Acheh bagian utara meluas sampai melingkupi Sumatera, Pulau Nias, semenanjung Malaka, Johor, Pahang dan Kedah. Sultan Iskandar Muda wafat pada 29 Rajab 1046 H / 27 Desember 1636.

Nah disaat Sultan Iskandar Muda inilah itu Sumatera berada dibawah kekuasaan Kesultanan Acheh, termasuk didalamnya Kerajaan Linge yang dibangun oleh Adi Genali dan para keturunannya yang terletak di daerah Gayo di Acheh Tengah dengan wilayah laut tawarnya.

Memang bisa dimengerti bahwa suku Gayo yang memiliki sejarah kerajaan Linge-nya ini merasa bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Acheh. Dan suku Gayo ini merasa diduduki oleh pihak Sultan Iskandar Muda. Dan memang bisa dimengerti bahwa suku Gayo adalah merasa sebagai suku minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya suku Acheh. Dimana menurut para akhli antropologi, itu budaya suku Gayo ini dikelompokkan kedalam budaya suku Batak. Karena terbukti dalam kenyataannya bahasa dan adat istiadat suku Gayo, seperti kesenian Didong dengan bahasa Gayo, Pepongoten, Sebuku, melengkan, munenes, saer adalah berbeda dengan seni budaya yang ditampilkan oleh suku Acheh

Dan memang pada tahun-tahun terakhir ini suku Gayo yang bergabung dengan Suku Alas yang menguasai Acheh Tenggara ditambah dengan suku Singkil dari wilayah Singkil Acheh Selatan telah bersatu untuk membangun wilayahnya sendiri bebas dari wilayah Acheh. Dimana orang-orang dari suku Gayo, Alas dan Singkil ini merasa bukan orang Aceh dan siap membentuk wilayahnya sendiri yang dinamakan wilayah Leuser Antara. Leuser adalah nama gunung yang tingginya 3149 meter yang terletak di antara Acheh Tenggara dan Acheh Selatan. Gunung Leuser kelihatan berdiri tegak seperti penjaga antara suku Gayo di Acheh Tengah dan suku Alas di Acheh Tenggara.

Jelas, persoalan sejarah, suku, budaya, adalah sangat besar berpengaruh dalam kehidupan manusia, bukan hanya di Acheh saja, tetapi juga diluar wilayah Acheh. Karena itu bisa dimengerti bahwa kalau suku Gayo, Alas, dan Singkil merasa berbeda dengan suku Acheh yang mayoritas. Dan tentu saja, adanya sikap dari suku Gayo yang berpusat di Takengon, suku Alas yang berpusat di Kutacane, dan suku Singkil yang berpusat di Singkil ini memang harus dihormati dan perlu dijaga.

Permasalahannya sekarang yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya antara suku Acheh yang mayoritas dan suku Gayo, Alas, dan Singkil untuk bersatu mengarahkan perjuangan kepada pembebasan Negeri Acheh dari pendudukan dan penjajahan RI. Karena kalau pihak suku Gayo, Alas, dan Singkil ini bersatu hanya untuk pembentukan wilayahnya sendiri dengan membentuk provinsi sendiri, tetapi masih tetap berada dalam payung Negara RI, maka sudah jelas itu usaha yang menguntungkan pihak penjajah RI.

Karena bisa jadi, melihat dari keuntungan dan kerugiannya, itu pihak RI, lebih baik membagi Acheh menjadi dua provinsi, ketimbang memberikan Acheh kepada suku Acheh yang mayoritas di Acheh.

Tetapi, kalau memang suku Gayo, Alas, dan Singkil ini bersatu dengan suku Acheh memperjuangkan Negeri Acheh yang telah dipersatukan oleh Sultan Iskandar Muda, walaupun suku Gayo, Alas, dan Singkil merasa wilayah kerajaan Gayo Linge berada dibawah pendudukan Sultan Iskandar Muda, maka persoalan perbedaan sejarah, suku, budaya ini bisa dipecahkan dan diselesaikan bersama secara kekeluargaan Islam dan ukhuwah Islamiyah. Yang jelas usaha yang pertama adalah berjuang membebaskan Negeri Acheh dari pendudukan dan penjajahan RI. Setelah itu persoalan diantara suku Acheh dengan suku Gayo, Alas, dan Singkil bisa diselesaikan melalui jalur musyawarah dan kekeluargaan Islam.

Tetapi sekali lagi, kalau memang suku Gayo, Alas, dan Singkil ini hanya ingin memisahkan diri dari wilayah Acheh dan membentuk wilayah provinsi sendiri dan tetap berada dalam wilayah kekuasaan RI, maka jelas itu usaha suku Gayo, Alas, dan Singkil justru akan menguntungkan pihak RI.

Menyinggung masalah yang dikemukakan oleh saudara Indra: "Tapi Anda lupa bahwa Tentara Anda telah menindas suku kami dari Gayo. Dan ini fakta yang Anda sendiripun sangat tidak bisa membantahnya ! Betapa kami melihat orang-orang kami dibantai oleh tentara Aceh, bahkan bayi yang berusia 6 bulan pun menjadi sasaran kebuasan tentara-tentara Anda !. Saya tidak mengerti dengan Anda yang menggaungkan kata-kata Islam, tentang HAM, tapi Anda sendiri menginjak-injaknya"

Dalam hal ini perlu ditampilkan akar penyebab mengapa timbul kejadian seperti yang saudara Indra sebutkan itu. Karena kalau dilihat dari sejarah, fakta dan bukti, memang suku Gayo ingin melepaskan diri dari wilayah Acheh dan membentuk daerah wilayah sendiri. Hanya permasalahannya sekarang, apakah keinginan saudara Indra yang mau membebaskan diri dari Acheh, tetapi tetap ingin berada dibawah pihak penjajah RI, atau tidak ?

Kalau saudara Indra dari suku Gayo, ingin membebaskan diri dari Acheh yang memang sejak Sultan Iskandar Muda berkuasa telah berada dibawah kekuasaannya, kemudian setelah saudara memisahkan dari wilayah Acheh, masih tetap berada dalam lingkungan wilayah kekuasaan RI, maka jelas, itu merupakan suatu usaha penghambatan perjuangan pembebasan Negeri Acheh dari pihak penjajah RI.

Apakah tidak lebih baik dan bijaksana, apabila perjuangan suku Gayo bersama suku Acheh saling bahu membahu untuk membebaskan Negeri Acheh dari penjajah RI, kemudian setelah itu diselesaikan secara bijaksana melalui penyerahan kepada rakyat yang ada di Negeri Acheh, bagaimana baiknya untuk membangun Negeri Acheh, apakah akan hidup bersama dengan suku Acheh, ataukah ingin berdiri sendiri, ataukah ingin membangun secara federasi. Itu semuanya bisa dibicarakan setelah Negeri Acheh bebas dari cengkraman kuku penjajah RI. Karena memang menurut sejarah suku Gayo punya sejarah Kerajaannya sendiri di Buntul Linge, di Acheh Tengah. Berbeda dengan sejarah Sultan Johan Syah yang membangun Kesultanan Acheh di Banda Acheh. Ataupun berbeda dengan Kesultanan Samudera Pasai yang dibangun oleh Sultan Malik al Saleh di wilayah Samudera di Acheh Utara.

Jadi, faktor penyebab timbulnya kejadian seperti yang ditampilkan saudara Indra perlu juga ditampilkan sebab-sebabnya, karena tidak akan mungkin timbul kejadian tersebut dengan tanpa sebab. Coba, tampilkan kronologis timbulnya kejadian seperti yang diceritakan oleh saudara Indra itu, agar dapat dipelajari secara seksama dan diambil kesimpulannya dengan bijaksana.

Suku Acheh, Gayo, Alas dan Singkil wilayahnya sama-sama sedang dijajah oleh pihak RI. Apakah memang dari suku Gayo, Alas dan Singkil tidak merasa wilayah Acheh di jajah oleh pihak RI ?. Ataukah suku Gayo, Alas, dan Singkil merasa wilayahnya hanya dijajah oleh suku Acheh, tetapi tidak merasa dijajah oleh pihak RI yang meyoritas dari suku Jawa ?

Jadi saudara Indra, coba tampilkan visi dan misi saudara di mimbar bebas ini yang dihubungkan dengan wilayah Acheh, suku Acheh dan pihak penjajah RI, agar kita bisa membicarakannya dengan seksama.

Ahmad Sudirman menunggu jawaban saudara Indra dari suku Gayo.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 12 Jan 2005 17:44:45 -0800 (PST)
From: Indra pazhinko@yahoo.com
Subject: Begitu muluk
To: ahmad@dataphone.se

Begitu muluk apa yang telah saya baca di website Anda dan mimpi Anda tentang kemerdekaan Aceh, sehingga saya hanya bisa berucap BULL SHIT.

Saya tidak tahu berapa lama anda telah berada di Swedia sehingga Anda BUTA sama sekali tentang keadaan Aceh. Anda hanya berteriak penindasan HAM rakyat Aceh oleh TNI. Bahwa Indonesia telah menindas rakyat Aceh dan bla bla bla. Tapi Anda lupa bahwa Tentara Anda telah menindas suku kami dari Gayo. Dan ini fakta yang Anda sendiripun sangat tidak bisa membantahnya !!!!! Betapa kami melihat orang-orang kami dibantai oleh tentara Aceh, bahkan bayi yang berusia 6 bulan pun menjadi sasaran kebuasan tentara-tentara Anda !. Saya tidak mengerti dengan Anda yang menggaungkan kata-kata Islam, tentang HAM, tapi Anda sendiri menginjak-injaknya.

Jangan bilang ini hanya kesalahan segelintir tentara GAM, jangan bilang ini hanya fitnah, jangan bilang bukan sebuah fakta, dan jangan bilang otak saya telah teracuni oleh Soekarno, Susilo, atau yang lain-lainnya. Otak Anda-lah sebenarnya yang telah teracuni oleh idealisme Anda sendiri, sehingga Anda BUTA terhadap fakta ini!!! Beranikah Anda menuliskan di website Anda tentang fakta ini? BULL SHIT.

Indra

pazhinko@yahoo.com
Bandung, Indonesia

NB : Maaf apabila kata2 saya terlalu kasar.
----------