Stockholm, 15 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YUDHOYONO DAN SUTARTO SODORKAN NOTA DAMAI TETAPI ACHEH TERUS DIJEJALI TNI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PANGLIMA TNI JENDERAL ENDRIARTONO SUTARTO TEKAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO UNTUK MENJEJALI ACHEH DENGAN RIBUAN PASUKAN TNI

Jusuf Kalla yang memegang tanggung jawab sebagai Ketua Badan Koordinasi Nasional penanggulangan bencana gempa tektonik dan gelombang tsunami di Acheh telah mengetahui dengan jelas dan pasti bahwa pihak TNI dan Polri memang tidak mampu untuk melakukan penyelamatan, penanggulangan, pemulihan dan rehabilitasi para korban gempa dan tsunami, karena puluhan ribu pasukannya tertelan gelombang tsunami, sehingga ketika Komando Pasifik Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Kepala Staf Gabungannya, Jenderal Myers, dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Australia Jenderal Peter Cosgrove, mengerahkan pasukan armadanya ke Sabang dan Banda Acheh, pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Endriartono Sutarto hanya menyerah saja.

Karena bantuan penyelamatan dan pemulihan korban tsunami ini tidak bisa dilakukan secara efektif oleh tenaga sipil, maka tenaga militerlah yang diutamakan. Karena itu setelah Amerika, Australia, Jepang dan Singapura mengirimkan tenaga militernya ke Banda Acheh, seperti Jepang yang telah memberangkatkan Kapal Kuruma dari Pasukan Bela Diri Luat (Maritime Self-Defense Force) berbobot mati 5.200 ton yang membawa 330 personil dari pangkalananya di Sasebo di Prefektur Nagasaki menuju Sabang dan menerbangkan sebuah pesawat transport C-130 Hercules menuju Banda Aceh membawa personil dan bantuan kemanusiaan, maka pihak Jusuf Kalla sebagai Ketua Badan Koordinasi Nasional penanggulangan bencana gempa tektonik dan gelombang tsunami di Acheh pada hari Rabu, 12 Januari 2005 di Jakarta melambungkan ultimatum kepada pihak asing yang telah mengirimkan bantuan militernya dengan menyatakan bahwa masa tiga bulan cukup, lebih cepat lebih baik.

Ultimatun Jusuf Kalla ini diluncurkan setelah Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Selasa, 11 Januari 2005 memerintahkan kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kapolri Jenderal (Pol) Da'i Bahtiar untuk menambah pasukannya ke Acheh. Dimana tambahan pasukan TNI yang direncanakan menambah tiga batalyon sekitar 3000 pasukan ditambah dengan 1000 taruna TNI, sedangkan Polri menambah satu batalyon Brigade Mobil. Ternyata, itu Sutarto justru meminta tambahan pasukan dari tiga batalyon menjadi 12 batalyon, sehingga menjadi 12.000 pasukan TNI, dan Susilo Bambang Yudhoyono menyetujuinya.

Kelihatan memang itu pihak Endriartono Sutarto merasa tersisihkan dan merasa terpukul dengan adanya pasukan militer asing yang telah berhasil secara efektif memberikan bantuan dan penyelamatan serta penyaluran makanan dan obat-obatan kepada para korban. Sedangkan pihak TNI memang lumpuh dan memang benar-benar terpukul habis, apalagi puluhan ribu pasukannya telah tersapu tsunami.

Dengan diawali keluarnya perintah Susilo Bambang Yudhoyono untuk menambah pasukan TNI dan Polri ke Acheh, kemudian disusul dengan ultimatum Jusuf Kalla dengan pemberian jangka waktu 3 bulan kepada pihak pasukan asing, sampai akhir Februari 2005, menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI dan Polrinya sudah pulih kembali, dan Acheh tidak perlu bantuan pasukan asing lagi, kecuali bantuan sipil saja.

Dan Acheh akan kembali kepada kehidupan semula dengan PP No.2/2004 dan Keppres No.43/2003 yang sebelumnya sempat didobrak oleh Amerika dan Australia.

Adapun pihak Susilo Bambang Yudhoyono menyodorkan nota damai melalui perundingan dengan pihak ASNLF itu hanyalah merupakan usaha propaganda cari muka dan cari dukungan internasional, terutama kepada pihak Swedia, Singapur, Jepang, Amerika, dan Inggris, kalau bisa dengan model gempa tektonik dan gelombang tsunami itu akar utama penyebab konflik Acheh bisa dialihkan dan diarahkan dari masalah penentuan nasib sendiri kepada masalah penyerahan diri kepada pihak RI dengan umpan amnesti.

Adalah suatu taktik dan strategi yang salah kaprah, kalau pihak Susilo Bambang Yudhoyono menyodorkan akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami sebagai suatu alasan untuk melakukan prundingan dan meminta rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara RI menyerah dengan memakai umpan amnesti. Gempa tektonik dan gelombang tsunami tidak ada hubungan dan kaitannya dengan masalah pendudukan dan penjajahan RI terhadap Negeri Acheh.

Justru, kalau memang pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Endriartono Sutarto menyadari bahwa konflik Acheh yang hampir berlangsung lebih dari setengah abad ini, adalah disebabkan pihak RI yang hanya terus mempertahankan strategi cengkraman dan pengikatan wilayah-wilayah yang sebelumnya bukan wilayah de-facto dan de-jure Negara RI, atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Kalau pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Endriartono Sutarto menyadari dan ingin melakukan perdamaian di Acheh, maka itu konsep cengkraman dan pengikatan wilayah-wilayah yang sebelumnya bukan wilayah de-facto dan de-jure Negara RI, atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya harus dibuang diganti dengan kosep strategi rukun dan damai dengan menghormati keinginan dan sikap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan pemerintah RI.

Kalau pihak Susilo Bambang Yudhoyono mengormati dan menghargai seluruh rakyat Acheh, maka sudah pasti itu Susilo Bambang Yudhoyono dan Endriartono Sutarto akan memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap dan keinginannya guna menentukan nasib mereka dimasa depan dan kelangsungan Negerinya.

Jadi sebenarnya, kalau sekarang pihak Susilo Bambang Yudhoyono mau damai, tetapi dengan menutupi borok dan kelicikan yang telah dilakukan oleh pendiri Negara RI Soekarno ini, maka jelas itu di Acheh tidak akan timbul perdamaian. Dan sekali lagi akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan perundingan dan melupakan akar utama timbulnya konflik Acheh yaitu pendudukan dan penjajahan yang dilakukan RI terhadap Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------