Stockholm, 19 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MENDRISON ITU KAUM EVANGELIS AMERIKA AKAN COBA BINA ANAK-ANAK ACHEH KORBAN TSUNAMI TAPI GAGAL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DALAM LANGKAH PERTAMANYA KAUM EVANGELIS AMERIKA UNTUK MENCOBA MEMBINA ANAK-ANAK ACHEH KORBAN TSUNAMI DENGAN PAHAM EVANGELIS TERNYATA GAGAL

"Mana tangapan saudara tentang 300 anak Aceh yg di bawa ke panti kristen. Saudara ngomong doank ber belit2. Tolong buktiin." (Mendrison Doank, mendrison@yahoo.com , Tue, 18 Jan 2005 18:28:17 -0800 (PST))

"Pak Ahmad Sudirman. Saya mohon tanggapan dari saudara tentang masalah di bawah ini. Bagaimana perasaan saudara setelah membaca berita ini. "300 Anak Aceh Akan Dirawat di Panti Asuhan Kristen" Saya tidak mau kalau saudara2 kita di Aceh sampai kayak begini. Bagaimana tangapan saudara." (Mendrison Doank, mendrison@yahoo.com ,Thu, 13 Jan 2005 18:05:58 -0800 (PST))

Baiklah saudara Mendrison di Jakarta, Indonesia.

Sebenarnya itu kasus "300 Anak Aceh Akan Dirawat di Panti Asuhan Kristen" yang berawal dari pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer melalui email yang diforwardkan kepada Washington Post yang digembar-gemborkan oleh pihak kaum Evangelis yang tergabung dalam organisasi misi Evangelis World Help yang berpusat di Virginia, USA, dengan alamat P.O. Box 501, Forest, VA 24551, dan anggota dari The Evangelical Fellowship of Mission Agencies (EFMA) yang didirikan pada tahun 1947 dan berkedudukan di Georgia, USA, yang beralamat di 4201 N Peachtree Rd, Atlanta, GA 30341-1207.

Dimana pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer tersebut dipublikasikan oleh Washington Post melalui tangan Staf penulis Washington Post Alan Cooperman pada tanggal 14 Januari 2005 dengan judul berita "Tsunami Orphans Won't Be Sent to Christian Home"

Celakanya itu sumber berita yang diambil oleh Presiden World Help Vernon Brewer diambil dari email yang dikirimkan oleh Henry Lantang, lulusan dari Dallas Theological Seminary, kepada kawannya Eric Vess, dari World Help. Dimana Henry Lantang ini mempunyai sekolah Bible di Manado, Sulawesi Utara, yang dibantu oleh anaknya, Roy, seorang warganegara Amerika, lulusan Institut Bible Moody di Chicago.

Jadi, berita tentang anak-anak Acheh korban tsunami yang kehilangan kedua orang tuanya akan diasuh di panti asuhan anak-anak yatim milik organisasi kaum Evangelis dibawah kontrol World Help yang mempunyai link kepada Henry Lantang dan Roy dari sekolah Bible Manado, Sulawesi Utara, yang dimuat oleh Washington Post, ternyata telah menimbulkan isu yang sangat peka. Sehingga menimbulkan udara panas dalam bentuk berbagai protes yang dilambungkan oleh pihak-pihak dari umat Islam yang ada di Acheh dan di RI, seperti dari pihak Majelis Ulama. Begitu juga dari pihak Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tampil dengan argumentasi bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan pihak kaum Envangelis yang tergabung dalam World Help yang berkedudukan di Virginia, USA yang sekarang berada dibawah perintah Vernon Brewer. Kedua organisasi Kristen ini untuk menutupi mereka menyatakan penolakan atas usaha yang menghubungkan antara misi kemanusiaan dengan misi pengkristenisasian.

Jelas, setelah adanya protes keras dari kalangan muslim, dan penolakan dari pihak Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), maka pihak World Help melalui Presiden-nya, Vernon Brewer menyatakan bahwa anak-anak Acheh tersebut tidak pernah dibawa pindah. Begitu juga Henry Lantang menyatakan bahwa pada awalnya memang ia dan anaknya, Roy akan memindahkan anak-anak Acheh korban tsunami ini ke Jakarta, tetapi setelah adanya larangan dari pihak RI, maka usaha itu tidak dilanjutkan, bahkan rencana itupun tidak pernah dibicarakan dan tidak pernah melakukan kontak dengan pihak RI. Dimana pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer dan Henry Lantang ini dipublikasikan oleh pihak Washington Post pada tanggal 15 Januari 2005 melalui tulisan Alan Sipress dengan judul "WorldHelp Partner in Indonesia Says No Steps Were Taken to Obtain 300 Children"

Dengan adanya usaha dari kaum Evangelis Amerika, khususnya melalui kelompok World Help dibawah pimpinan Vernon Brewer dan kompanyonnya, Henry Lantang, dari sekolah Bible di Manado, Sulawesi Utara untuk berusaha menerapkan ajaran Evangelisnya kepada anak-anak keluarga muslim Acheh yang kehilangan kedua orang tuanya akibat tsunami, jelas itu merupakan usaha secara terang-terangan pendobrakan kepada pihak muslim Acheh.

Tetapi tentu saja, usaha pendobrakan terhadap muslim Acheh melalui rencana penerapan ajaran Evangelis kepada anak-anak yatim dari keluarga muslim Acheh akibat gempa dan tsunami yang akan dilakukan oleh kaum Evangelis Amerika melalui World Help ini ternyata mengalami kebobolan. Karena memang kalau dilihat dari sudut kehidupan bersama diantara berbagai penganut agama, maka adanya sikap ekspansi penyebaran ajaran agama dari satu penganut agama kepada penganut agama lain adalah menunjukkan suatu usaha pendeklarasian konfrontasi langsung dalam kehidupan antar agama. Dan inilah yang harus dicegah dan diluruskan.

Saudara Mendrison dengan adanya pernyataan dari pihak World Help tentang rencana mereka untuk menangani dan sekaligus mengasuh anak-anak dari keluarga muslim Acheh dalam linkungan alam Evangelis ternyata dibatalkan dengan alasan adanya sikap dan tentangan keras dari pihak kaum muslimin.

Nah disini perlu dilihat dan dipelajari mengapa itu kelompok Evangelis Amerika, dibanding dengan kelompok Kristen lainnya, begitu semangat ingin menyebarkan paham Evangelisnya keseluruh dunia ? Karena mereka memang dari pusatnya di Amerika telah berhasil menjadikan George W. Bush sebagai ujung tombak penyebaran propaganda Evangelis. George W. Bush adalah salah seorang Presiden Amerika yang berhasil dijadikan ujung senjata dan dijadikan sebagai alat untuk memperkuat kuku cengkraman paham Evangelis di Amerika dan di Dunia. George W. Bush adalah pilihan kaum Evangelis di Amerika. Dan George W. Bush adalah salah seorang Presiden Amerika yang mengobarkan perang salib dan membawa-bawa paham Evangelis dalam administrasi-nya, baik ketika masih menjadi Gubernur di Texas, ataupun setelah menguasai Gedung Putih.

Jadi, Saudara Mendrison, untuk pemecahan bagi penanganan dan pemeliharaan ribuan anak-anak Acheh yang kehilangan orang tuanya akibat tsunami ini, kita bantu oleh kita sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tentu saja, bagi rakyat Acheh yang ada di Luar Negeri seperti yang ada di Amerika, negara-negara Eropah, Australia, Jepang, dan di negara-negara Arab bisa juga ikut membantu sebagai keluarga angkat untuk membantu-anak-anak Acheh ini. Begitu juga keluarga-keluarga muslim yang ada di luar Acheh dan diluar Negara RI, seperti dari Malaysia, Brunai, dapat membantu untuk menjadi keluarga angkat bagi anak-anak Acheh ini.

Sekarang tergantung kepada kesiapan pihak Susilo Bambang Yudhoyono Cs untuk memberikan kemudahan kepada keluarga muslim yang ada diluar Acheh dan diluar RI untuk bisa mengangkat atau mengadopsi anak-anak Acheh ini dalam mengarungi kehidupan dan pendidikannya dimasa depan.

Memang jelas, proses untuk melakukan pengangkatan atau pengadopsian ini memerlukan proses waktu yang lama, tetapi tentu saja kalau memang ada keterbukaan dari pihak RI dalam hal ini, maka akan mudah untuk direalisasikan dan dijalankan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 18 Jan 2005 18:28:17 -0800 (PST)
From: Mendrison Doank mendrison@yahoo.com
Subject: Re: SAGIR ALVA ITU PASUKAN NON-ORGANIK TNI/POLRI DI ACHEH ALAT UNTUK MENDUDUKI DAN MENJAJAH ACHEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Mana tanggapan saudara tentang 300 anak Aceh yg di bawa ke panti kristen.
Saudara ngomong doank ber belit2.
Tolong buktiin.

Mendrison

mendrison@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Thu, 13 Jan 2005 18:05:58 -0800 (PST)
From: Mendrison Doank mendrison@yahoo.com
Subject: Re: OMAR PUTEH: TSUNAMI RIS-DEN HAAG BELANDA DAN TSUNAMI NKRI-JAKARTA
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Assalamualaikum wr wb,

Pak Ahmad Sudirman.
Saya mohon tangapan dari saudara tentang masalah di bawah ini. Bagaimana perasaan saudara setelah membaca berita ini. "300 Anak Aceh Akan Dirawat di Panti Asuhan Kristen"

Saya tidak mau kalau saudara2 kita di Aceh sampai kayak begini. Bagaimana tangapan saudara.

Wassalam

Mendrison

mendrison@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2005/01/14/brk,20050114-05,id.html

300 Anak Aceh Akan Dirawat di Panti Asuhan Kristen
Jum'at, 14 Januari 2005 | 06:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebanyak 300 orang anak Aceh akan dirawat di panti asuhan Kristen di Jakarta. Washingtonpost.com edisi Kamis (13/1) memberitakan WorldHelp sebuah kelompok misionaris yang berasal dari Virginia, Amerika Serikat, menyatakan pihaknya akan menerbangkan ke-300 anak tersebut untuk ditempatkan di panti asuhan Kristen pada pekan ini.

WorldHelp adalah salah satu dari sekian banyak lembaga kemanusiaan yang membantu korban gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember lalu. ?Sebelumnya, Banda Aceh tertutup bagi orang asing dan sangat religius. Tapi karena bencana ini, rekan-rekan kami mempunyai akses ke sana,? ujar perwakilan dari WorldHelp pada saat acara pengumpulan dana melalui website WorldHelp minggu ini.

Dia menjelaskan WorldHelp telah bekerja dengan orang-orang Kristen di Indonesia yang menginginkan, ?penanaman ajaran-ajaran Kristen sedini mungkin? pada ke-300 anak-anak Aceh tersebut. Semua anak tersebut yang berumur kurang dari 12 tahun telah kehilangan orang tua mereka akibat tsunami.

"Anak-anak ini sudah tidak lagi mempunyai rumah, miskin, trauma, yatim piatu, dan tanpa tujuan, tidak ada tempat untuk tinggal dan tidak punya makanan. Jika kita bisa menempatkan mereka di dalam panti asuhan anak-anak Kristen, kepercayaan mereka terhadap Kristus akan tumbuh dan menular ke masyarakat Aceh," katanya.

Dari acara pengumpulan dana ini terkumpul sekitar US$ 70.000 dengan target US$ 350.000. "Rencananya dana tersebut akan digunakan untuk membangun panti-panti asuhan," ujar Vernon Brewer, Presiden WorldHelp ketika dihubungi washingtonpost.com melalui telepon.

Brewer mengatakan bahwa pemerintah Indonesia memberikan izin agar anak-anak tersebut dapat diterbangkan ke Jakarta minggu lalu dan tahu bahwa anak-anak tersebut akan dijadikan umat Kristen.

Namun informasi Brewer itu dibantah Departemen Luar Negeri Indonesia. "Kami sama sekali tidak mengetahui hal ini,? ujar juru bicara Deplu, Marty Natalegawa, di Jakarta. "Jika benar, itu merupakan pelanggaran serius terhadap peraturan pemerintah yang melarang pengadopsian anak-anak Aceh," ujarnya. Marty tidak percaya jika ada pejabat di Indonesia yang setuju pemindahan anak-anak tersebut.

Menurut Brewer, pihaknya tidak berusaha memisahkan anak-anak dari keluarganya yang masih tersisa dan mengubah budaya dan adat istiadat. Anak-anak ini, katanya, akan dibesarkan dalam lingkungan Kristen. "Itu bukan jaminan mereka akan memilih untuk menjadi seorang Kristiani," lanjutnya.

Partner utama WorldHelp di Indonesia, menurut Brewer, adalah Henry dan Roy Lanting, sebuah kelompok yang terdiri dari ayah dan anak yang mengelola panti asuhan dan sekolah di Jakarta. Roy Lanting juga alumni dari universitas yang sama dengan Brewer, yakni Liberty University.

"Pertama dan paling utama, Kami tidak bermaksud untuk mengajarkan mereka Evangelis tetapi untuk menunjukkan cinta kasih Yesus Kristus melalui perbuatan kami," kata Brewer.

"Kita tidak menggunakan kesempatan akibat bencana ini untuk mengajarkan ajaran Kristen," ujar Arthur B. Keys Jr., presiden Arlington-based International Relief and Development, sebuah yayasan non-agama yang memiliki kontrak dari pemerintah AS untuk membangun kembali sistem air dan sanitasi di Banda Aceh.

Keys juga menjelaskan ketakutannya jika penyebaran ajaran Kristen malah akan mendapat serangan balik. "Saya kira akan muncul bahaya dengan adanya hal ini," ujarnya. "Saya pikir kita harus keluar dari upaya ini untuk meyakinkan semua pihak jika kita di sana memang untuk menolong," lanjut dia.
----------