Stockholm, 19 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HUTOMO ITU VISI SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928 BERTENTANGAN DENGAN VISI MADINAH 622 M
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAMBANG HUTOMO ITU HAMKA HAQ TERPERANGKAP DALAM CAIRAN RACUN NASIONALISME SOEKARNO CS YANG TERBUNGKUS DALAM RAMUAN SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928

"Tulisan Bp. Hamka Haq yg dapat dijadikan masukan dalam diskusi yang tidak berujung ini." (Bambang Hutomo W , bambang_hw@rekayasa.co.id , 19 januari 2005 04:37:58)

"Kalau kita mau menelusuri jejak sejarah kebangsaan kita, maka makna Sumpah Pemudalah yang harus dikaji, dihayati kemudian diaktualkan selama-lamanya dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Sebab, dalam makna Sumpah Pemuda kita memahami seperti apa keinginan generasi bangsa ketika itu menyangkut makna kebangsaan dan tujuan hidup bernegara. Maknanya, tidak lain adalah sebuah cita-cita yang tiada henti untuk membangun nasionalisme dan kesatuan, tanpa membedakan suku, bahasa, budaya dan agama. Artinya, negara yang dikehendaki oleh para penggerak motor perjuangan itu ialah negara yang dibangun di atas landasan kebangsaan, inilah sebuah komitmen awal dari pembangunan bangsa dan negara kita. Semangat Sumpah Pemuda, yang diemban oleh generasi Muslim di tahun 1928, sebagai manifestasi rahmatan lil alamin seperti pula yang pernah diemban oleh Rasulullah SAW di Negara Madinah, menjelaskan visi negara dan masyarakat yang dikehendaki oleh ajaran Islam, yakni sebuah negara yang damai, bersatu, dan rukun di tengah pluralitas." (Hamka Haq, Ketua MUI Sulawesi Selatan)

Baiklah saudara Bambang Hutomo W di Jakarta, Indonesia.

Ternyata saudara Bambang Hutomo dalam usaha untuk melihat konflik Acheh hubungannya dengan Negara RI, telah melambungkan pemikiran saudara Hamka Haq Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan yang menulis "Sumpah Pemuda, Komitmen Umat Islam"

Setelah Ahmad Sudirman membaca tulisan saudara Hamka Haq ini, ternyata saudara Hamka Haq telah melambungkan dasar pemikiran yang salah dan merupakan kesalahan fatal yang terdapat dalam bangunan pikiran saudara Hamka Haq yang tertuang dalam tulisan "Sumpah Pemuda, Komitmen Umat Islam". Mengapa ?

Karena, sedikitnya ada dua poin yang menjadi kesalahan besar dalam pemikiran saudara Hamka Haq ini kalau dilihat dari sudut contoh Rasulullah saw dalam membangun masyarakat muslim di Madinah dibawah naungan Daulah Islamiyah pertama Rasulullah saw di Yatsrib.

Dimana kesalahan fatal pertama adalah ketika saudara Hamka Haq melambungkan pemikirannya yang berbunyi: "Semangat Sumpah Pemuda, yang diemban oleh generasi Muslim di tahun 1928, sebagai manifestasi rahmatan lil alamin seperti pula yang pernah diemban oleh Rasulullah SAW di Negara Madinah, menjelaskan visi negara dan masyarakat yang dikehendaki oleh ajaran Islam, yakni sebuah negara yang damai, bersatu, dan rukun di tengah pluralitas."

Inila kesalahan fatal yang menyesatkan umat Islam baik yang ada di Acheh ataupun yang ada di Nusantara ini. Mengapa ?

Karena, itu isi dari Sumpah Pemuda adalah sebagian besar isi yang dilahirkan oleh pikiran kelompok Nasionalis dibawah komando Soekarno dan kawan-kawannya, seperti Tjipto Mangoenkusumo, Ishaq Tjokrohadisoerjo, Sartono, Budiardjo, Sunarjo, Anwar dari Partai Nasional Indonesia-nya yang berhaluan kepada nasionalisme-radikal, percaya kepada diri sendiri, dan tidak mau kerjasama dengan pihak penjajah, yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Dimana setahun kemudian telah menjalar dan mempengaruhi Organisasi Pemuda yang dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta melahirkan ikrar sumpah pemuda yang isinya: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. (RH Saragih, J.Sirait, M.Simamora, Sejarah Nasional, Penerbit Monora Medan, Januari 1987, hal. 141-142)

Nah, setelah digali isi dari Sumpah Pemuda itu, kemudian dibandingkan apa yang telah dideklarasikan oleh Rasulullah saw pada tahun 1 H / 622 M di Yatsrib, ternyata sangat bertolak belakang dan kedudukannya sangat jauh sekali. Mengapa ?

Karena, yang menjadi semangat dasar lahirnya Sumpa Pemuda dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta yaitu sikap kebangsaan ternyata tidak kena dan tidak sesuai dengan dasar dan semangat yang mendasari lahirnya deklarasi yang dideklarkan oleh Rasulullah saw bersama para kabilah yang datang dari Mekkah yang dinamakan kaum Muhajirin, dan para kabilah yang ada di Yatsrib yang dinamakan kaum Anshar, ditambah dengan beberapa kabilah dari kaum Yahudi yang ada di Yatsrib, yaitu ikatan kesamaan dalam aqidah atau kesamaan dalam keyakinan dengan menghormati keyakinan yang lain.

Jadi, dasar kebangsaan yang dipakai oleh Soekarno cs ketika melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ternyata tidak dipakai oleh Rasulullah saw beserta kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi ketika mendeklarasikan lahirnya ikatan dan berdirinya Daulah Islamiyah petama di Yatsrib. Rasulullah saw beserta kaum Muhajirin, Anshar dan Yahudi melahirkan deklarasi berdasarkan kepada kesamaan ikatan keyakinan atau aqidah dengan menghormati keyakinan penganut agama lain, seperti keyakinan kaum Yahudi, sedangkan Soekarno cs dari kaum nasionalis hanya mendasarkan kepada semangat kebangsaan saja.

Jelas, disini ada keparadokan atau pertentangan yang sangat mendasar. Dimana kalau melihat dari sudut para pelahir deklarasi di Yatsrib di bawah kepeloporan Rasulullah saw justru kabilah-kabilah atau suku-suku atau bangsa-bangsa tidak dijadikan sebagai landasan ikatan untuk menyatukan orang-orang yang melakukan dan melahirkan deklarasi Madinah atau Yatsrib ini, melainkan yang menjadi tali ikatan adalah karena adanya kesamaan keyakinan atau aqidah dengan menghormati keyakinan para pemeluk agama lain.

Nah sekarang, kalau kembali kepada apa yang dilambungkan oleh saudara Hamka Haq mengenai: "Sikap dan semangat kebangsaan yang telah dipatrikan oleh generasi Muslim 1928, kemudian terus dilanjutkan oleh generasi 1945, sebenarnya itulah yang harus dilestarikan dalam bentuk perjuangan baru membangun bangsa dan negara dewasa ini. Membangun organisasi ataupun partai politik yang berbasis keagamaan, itu adalah hak asasi warga negara yang dijamin oleh konstitusi."

Jelas itu dasar pemikiran saudara Hamka Haq adalah sangat lemah, rapuh dan bertentangan dengan apa yang telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi di Yatsrib atau Madinah sekarang.

Kesalahan saudara Hamka Haq dalam menggali dan memahami serta menganalisa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang dihubungkan dengan deklarasi Madinah atau Undang Undang Madinah oleh Rasulullah saw inilah yang melahirkan kesesatan dan menyesatkan umat Islam baik di Acheh ataupun di Nusantara.

Selanjutnya kesalahan fatal kedua, adalah dimana saudara Hamka Haq melambungkan dasar pemikirannya yang berbunyi: "dalam makna Sumpah Pemuda kita memahami seperti apa keinginan generasi bangsa ketika itu menyangkut makna kebangsaan dan tujuan hidup bernegara. Maknanya, tidak lain adalah sebuah cita-cita yang tiada henti untuk membangun nasionalisme dan kesatuan, tanpa membedakan suku, bahasa, budaya dan agama. Artinya, negara yang dikehendaki oleh para penggerak motor perjuangan itu ialah negara yang dibangun di atas landasan kebangsaan, inilah sebuah komitmen awal dari pembangunan bangsa dan negara kita"

Jelas disini saudara Hamka Haq telah terjerat oleh para penggerak atau motor yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang digerakkan oleh Soekarno Cs. Dimana saudara Hamka Haq telah tertipu dengan semangat dan ideologi nasionalisme yang dikembangkan oleh Soekarno Cs dengan Partai Nasional Indonesia-nya.

Semangat nasionalisme, kebangsaan, kesukuan adalah semangat yang sangat rapuh, apalagi kalau itu dihubungkan dengan kelompok suku yang mayoritas seperti kelompok suku Jawa, suku dimana Soekarno Cs berasal dan menguasai gelanggang politik dan pemerintahan.

Justru dengan lahirnya semangat kebangsaan yang lahir karena adanya dorongan idealisme yang berbentuk nasionalisme yang dihasilkan oleh pemikiran dari orang-orang dari suku yang mayoritas di Nusantara ini, yaitu suku Jawa, yang mendominasi suku lainnya yang minoritas, ternyata dalam jalur proses pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya membuktikan bahwa memang benar pengaruh dari suku mayoritas dari sukunya Soekarno Cs inilah yang mendominasi dan menjadi dasar nasionalisme dan kebangsaan yang timbul di wilayah Nusantara ini.

Jadi, sebenarnya yang dinamakan bangsa Indonesia adalah bangsa yang merupakan hasil leburan suku-suku lainnya kedalam suku Jawa dibawah komando Soekarno Cs dengan memakai kedok Sumpah Pemuda yang digodok melalui Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, yang melahirkan tiga komponen yaitu, bangsa, tanah, bahasa, yang mengendap dalam satu muara yaitu muara kebangsaan atau kesukuan yang mayoritas, atau dengan kata lain kebangsaan yang didalamnya menggelembung nilai-nilai ke-Jawa-an.

Taktik dan strategi Soekarno Cs ini memang terbukti dengan melihat hasil manipulasi politik taktik dan strategi Soekarno dengan bangunan RIS-nya yang telah secara licik dan penuh kelihaian telah berhasil menggarap Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara bagian RIS masuk kedalam gua Negara RI, sehingga menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, dan selang beberapa tahun kemudian kembali menjelma menjadi RI lagi melalui proses pengkarbitan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dengan mempelajari dua poin diatas terbukti bahwa saudara Hamka Haq secara sadar telah menceburkan diri kedalam kepalsuan dan kesesatan hasil olahan Soekarno Cs yang didalamnya terlihat bangunan yang dibangun dari tiang-tiang bangunan Negara RI yang asalnya merupakan hasil olahan dan leburan suku-suku yang ada di Nusantara kedalam suku Jawa dan leburan dari tiang-tiang bangunan Negara-Negara dan Daerah-Daerah bagian RIS yang membentuk tubuh RI dan menjelma jadi NKRI yang kemudian beringkarnasi jadi RI kembali dengan memancarkan budaya dan kehidupan alam Jawa yang memperlihatkan gelembung-gelembung yang mewarnai dan melapisi tali ikatan rakyat yang dinamakan ikatan kebangsaan.

Jadi kesimpulan yang dapat ditarik dari apa yang telah dijelaskan diatas berdasarkan apa yang ditulis oleh saudara Hamka Haq Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan bahwa semangat Sumpah Pemuda, yang diemban oleh generasi Muslim di tahun 1928 adalah sangat lemah, rapuh dan bertentangan dengan apa yang telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi di Yatsrib atau Madinah.Dimana kesalahan dalam menggali dan memahami serta menganalisa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang dihubungkan dengan deklarasi Madinah atau Undang Undang Madinah oleh Rasulullah saw inilah yang melahirkan kesesatan dan menyesatkan umat Islam baik di Acheh ataupun di Nusantara. Dan yang dinamakan bangsa Indonesia adalah bangsa hasil leburan suku-suku lainnya kedalam suku Jawa dibawah komando Soekarno Cs dengan memakai kedok Sumpah Pemuda yang melahirkan tiga komponen yaitu, bangsa, tanah, bahasa hasil godogan kawah Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, dan membentuk cairan kebangsaan yang didalamnya mengandung cairan mayoritas ke-Jawa-an, atau dengan kata lain kebangsaan yang didalamnya menggelembung nilai-nilai ke-Jawa-an.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Bambang_HW bambang_hw@rekayasa.co.id
Date: 19 januari 2005 04:37:58
To: <politikmahasiswa@yahoogroups.com>, <padhang-mbulan@egroups.com>, <PPDI@yahoogroups.com>, <oposisi-list@yahoogroups.com>, <mimbarbebas@egroups.com>, <fundamentalis@eGroups.com>, <Lantak@yahoogroups.com>, <kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com>, <acehkita@yahoogroups.com>, <achehnews@yahoogroups.com>, <communitygallery@yahoogroups.com>, asnlfnorwegia@yahoo.com
Subject: RE: [politikmahasiswa] SAGIR ALVA ITU PASUKAN NON-ORGANIK TNI/POLRI DI ACHEH ALAT UNTUK MENDUDUKI DAN..

Kami Bangsa Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia
Kami Bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia
Kami bangsa Indonesia, Bertanah air satu, Tanah air Indonesia

Di bawah ini tulisan Bp. Hamka Haq yg dapat dijadikan masukan dalam diskusi yang tidak berujung ini.

Bambang Hutomo W

bambang_hw@rekayasa.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

Sumpah Pemuda, Komitmen Umat Islam
Hamka Haq; Ketua MUI Sulawesi Selatan

Kalau kita mau menelusuri jejak sejarah kebangsaan kita, maka makna Sumpah Pemudalah yang harus dikaji, dihayati kemudian diaktualkan selama-lamanya dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Sebab, dalam makna Sumpah Pemuda kita memahami seperti apa keinginan generasi bangsa ketika itu menyangkut makna kebangsaan dan tujuan hidup
bernegara. Maknanya, tidak lain adalah sebuah cita-cita yang tiada henti untuk membangun nasionalisme dan kesatuan, tanpa membedakan suku, bahasa, budaya dan agama.

Artinya, negara yang dikehendaki oleh para penggerak motor perjuangan itu ialah negara yang dibangun di atas landasan kebangsaan, inilah sebuah komitmen awal dari pembangunan bangsa dan negara kita.

Penulis ingin menggarisbawahi bagaimana peran aktif pemuda Islam ketika itu. Sejarah luhur kita mencatat bahwa dari organisasi persatuan kepemudaan yang aktif mengambil bagian dalam deklarasi Sumpah Pemuda itu ialah Yong Islamiten Bond; organisasi pemuda lainnya adalah Yong Yava, Yong Ambon, Yong Sumatera dan lain-lain.

Dalam organisasi-organisasi yang tersebut ini pun sebahagian, kalau bukan sebahagian besarnya adalah menganut Islam. Ini artinya sejak awal perjuangan membangun bangsa dan negara Indonesia, pemuda Islam telah menyatakan visinya tentang model bangsa dan model negara yang mereka pandang sesuai dengan cita-cita keislaman, yakni negara nasional Indonesia, yang kini populer dengan istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi kalau kemudian dalam pergerakan selanjutnya, khususnya pada awal-awal kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dan sebuah negara, tak dapat dipungkiri muncul gagasan dari sebahagian tokoh-tokoh pergerakan keislaman ingin memasukkan kalimat "menjalankan syariat Islam" sebagai bahagian dari Pancasila, anggap saja keinginan itu sebagai dinamika
pemikiran.

Sebab, terbukti gagasan itu pun tidak menjadi kenyataan, karena semua pelaku perjuangan ketika itu kembali sadar bersepakat untuk memperkokoh nasionalismenya sebagai dasar pembangunan negara. Mereka kembali ke semangat nasionalisme Sumpah Pemuda.

Bagi sebahagian tokoh pergerakan keislaman, selalu saja hal ini dianggap sebagai kekalahan, padahal sebenarnya tidak dicantumkannya "menjalankan syariat Islam" dalam sila pertama Pancasila itu merupakan penerusan keinginan historis generasi Muslim yang telah berjasa melahirkan Sumpah Pemuda, sebagai bahagian historis sejarah panjang membangun bangsa dan negara ini. Dengan kata lain, paham nasionalisme yang dihayati oleh generasi Muslim di era 1928, tetap tumbuh dan tidak dikhianati oleh generasi yang datang kemudian.

Sikap dan semangat kebangsaan yang telah dipatrikan oleh generasi Muslim 1928, kemudian terus dilanjutkan oleh generasi 1945, sebenarnya itulah yang harus dilestarikan dalam bentuk perjuangan baru membangun bangsa dan negara dewasa ini. Membangun organisasi ataupun partai politik yang berbasis keagamaan, itu adalah hak asasi warga negara yang dijamin oleh
konstitusi.

Namun harus disadari selalu, bahwa organisasi dan partai berasas keagamaan itu, sama sekali bukan untuk membawa bangsa dan negara ini dikuasasi oleh satu agama tertentu, melainkan hanya untuk menunjukkan bagaimana umat beragama yang mendirikan organisasi, partai politik ataupun yayasan itu memberi kontribusinya dalam pembangunan negara yang nasionalis.

Kontribusi seperti inilah yang menjadi komitmen awal organisasi pemuda yang bernama Yong Islamiten Bond, ketika turut aktif dalam perumusan deklarasi Sumpah Pemuda. Jadi, label "Islamitten Bond" tidak membat kaum pemuda Islam menjadi eksklusif, atau tidak membuat mereka memikirkan hanya nasib dan kepentingan umat Islam, tetapi berpikir inklusifisme untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Prinsip seperti itulah yang seharusnya diemban oleh para pemimpin organisasi dan partai politik Islam sekarang ini. Bahwa membentuk partai ataupun organisasi, ataupun yayasan yang berbasis Islam, itu semua bukan untuk kepentingan umat Islam saja, tetapi untuk kepentingan bangsa ini.

Bahwa betul ormas, parpol, dan yayasan itu dibangun, diurus, dan didanai oleh umat Islam, tetapi ajaran Islam yang menjadi asasnya menghendaki agar umat Islam di mana dan kapan pun berada tampil menjadi rahmatan lil alamin. Di sini dituntut kepeloporan dan kenegarawanan umat Islam, mencontoh kepeloporan Yong Islamiten Bond, pemuda Islam di era 1928-an.

Lebih utama lagi mencontoh kepemimpinan dan kepeloporan Nabi Muhammad SAW ketika membangun negara Madani di Yatsrib, sebuah negara moderen awal yang mengakui pluralitas, Muslim, Yahudi, Kristen dan kepercayaan lainnya waktu itu, yang kemudian negaranya populer bernama Madinah.

Semangat Sumpah Pemuda, yang diemban oleh generasi Muslim di tahun 1928, sebagai manifestasi rahmatan lil alamin seperti pula yang pernah diemban oleh Rasulullah SAW di Negara Madinah, menjelaskan visi negara dan masyarakat yang dikehendaki oleh ajaran Islam, yakni sebuah negara yang damai, bersatu, dan rukun di tengah pluralitas.

Di atas dasar kedamaian itulah, interaksi sosial manusia, atau bangsa, ataupun negara yang beradab dan berperadaban dapat dibangun. Beradab karena kedamaiannya, yang menghargai martabat kemanusiaan yang cinta damai dan persatuan, kemudian berperadaban karena mampu membangun kemajuan sains dan teknologi yang membawa kemakmuran umat manusia.

Sudah seringkali penulis kemukakan dalam berbagai kesempatan, lewat tulisan, maupun seminar dan ceramah, bahwa kelanjutan asas madani (kedamaian dan pluralitas), yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah, ternyata itulah yang menjadi awal kemajuan sains dan teknologi yang diukir oleh Dinasti Islam, khususnya Dinasti Abbasiah yang dahulu
berpusat di Baghdad.

Ketika itu Khalifah Al-Makmun melakukan transformasi budaya dan peradaban secara besar-besaran, dengan upayanya menghimpun sedemikian banyaknya buku-buku yang diambil dari peninggalan Yunani, India, dan Tionghoa. Langkah berikutnya ialah menerjemahkan buku-buku itu ke dalam bahasa Arab, di bawah sebuah lembaga khusus penerjemahan yang
dibentuknya.

Lembaga ini dikepalai oleh seorang Kristen tulen bernama Hunayn Ibn Ishak bersama putranya bernama Ishak ibn Hunayn. Jadi, alih teknologi apapun yang akan dilakukan selalu menghendaki kerjasama semua bangsa, yang melibatkan semua komunitas manusia, tak peduli apa agama dan etnisnya.

Keinginan seperti itu pulalah yang menjadi spirit perjuangan Yong Islamiten Bond ketika aktif bersama dengan organisasi kepemudaan lain di tahun 1928 mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Tak ada alih teknologi yang dapat terjadi di atas landasan permusuhan dan eksklusifisme. Di atas permusuhan, dendam, dan kerusuhan antar etnis apalagi atar umat
beragama, satu-satunya keahlian yang bisa ditransfer ialah kepiawaian merakit bom untuk sebuah proses penghancuran manusia dan kemanusiaan tanpa akhir.

Akhirnya lewat bulan suci Ramadan ini, mari kita umat Islam mensucikan diri kemudian diisi sebuah kebesaran jiwa di atas prinsip inklusifisme kedamaian semua etnis dan semua agama di seluruh bahagian dunia.

Camkanlah firman Allah SWT, Surah Al-Mumtahinah (60) ayat 7: "Allah tidak melarang kamu terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari negerimu, untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan kepada mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil". Wallahu A`lam bi al-Shawab.
----------