Stockholm, 26 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

APAKAH YUDHOYONO MAU DAMAI DI ACHEH ATAU HANYA KEDOK SETELAH DAPAT PINJAMAN CGI US$ 3,4 MILIAR ?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

APAKAH SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, JUSUF KALLA, WIDODO AS, NOER HASSAN WIRAJUDA SETELAH MENGANTONGI PINJAMAN UTANG CGI SEBANYAK US$ 3,4 MILIAR UNTUK MENUTUP DEFISIT APBN 2005 MAU BERUNDING DENGAN ASNLF ?

"Consultative Group on Indonesia (CGI) yang beranggotakan 32 negara kreditor sepakat memberikan utang baru sebesar US$ 3,4 miliar dan bantuan hibah untuk rekonstruksi pasca-Tsunami sebesar US$ 1,7 miliar, yang diajukan pihak pemerintah RI dalam sidang CGI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Januari 2005" (sidang ke dua CGI,Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Januari 2005)

Dari apa yang diputuskan oleh pihak Consultative Group on Indonesia (CGI) dalam sidangnya di Jakarta dengan memberikan pinjaman utang baru sebesar US$ 3,4 miliar atau 31.108.300.000.000,00 rupiah kepada RI dimana sebesar US$ 2,8 miliar atau 25.618.600.000.000,00 rupiah dipergunakan untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2005, sedang sisanya dipergunakan untuk membiayai kebutuhan nonbujet, hibah untuk Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pemerintah Daerah.

Adapun bantuan yang berupa hibah yang diberikan oleh negara-negara anggota CGI itu sekitar US$ 1 miliar akan dipergunakan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh akibat gempa dan tsunami. Dimana biaya untuk membangun kembali Acheh diperkirakan mencpai Rp 42,7 triliun. Biaya tersebut menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati diperkirakan setelah mencatat 1,3 juta rumah dan gedung hancur, delapan pelabuhan dan empat depot bahan bakar musnah, rusaknya jalan sepanjang 120 kilometer dan hancurnya 18 jembatan, serta sekitar 92 persen sistem sanitasi hancur.

Kemudian ketika pada tanggal 20 Januari 2005 pihak RI telah mengantongi pinjaman utang dari CGI yang telah cukup untuk menutupi defisit APBN 2005 yang dianggarkan mencapai 63.728,70 miliar dengan dibiayai melalui pembiayaan dalam negeri sebesar 37.085,80 miliar dan penarikan pinjaman luar negeri dari CGI (bruto) sebesar 26.642,90 miliar atau (neto) sebesar 20.193,60 miliar, ternyata sehari sebelumnya, 19 Januari 2005, pihak RI melalui Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda menyatakan siap berunding kembali dengan pihak ASNLF dimana dan kapan saja.

Memang taktik dan strategi pihak Susilo Bambang Yudhoyono Cs dalam rangka mengantongi bantuan utang luar negeri untuk menutup defisit APBN 2005 salah satunya menjadikan korban gempa dan tsunami serta konflik Acheh sebagai modal untuk disodorkan kepada pihak Consultative Group on Indonesia (CGI) guna mendapatkan kelicinan kucuran uang pinjaman.

Karena memang telah menjadi suatu tradisi dan budaya bagi pihak Pemerintah RI untuk menutupi defisit APBN adalah dengan melalui cara penarikan panjaman luar negeri. Artinya, membayar utang dengan cara mengutang.

Nah sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pihak RI dibawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto, Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin dalam berunding dengan pihak ASNLF dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Stafnya, Teungku Malik Mahmud dan Dr Zaini Abdullah Cs adalah hanya sekedar kedok untuk mendapatkan pinjaman utang CGI guna menutupi defisit APBN 2005 ataukah memang ingin menyelesaikan konflik Acheh yang aman dan damai ?

Tentu saja, jawabannya sudah akan terjawab, dari apa yang ada dalam saku masing-masing tim juru runding RI yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto, yaitu dalam saku mereka hanya ada kartu NKRI, kartu UU No.18/2001 dan kartu gombal amnesti made in Susilo Bambang Yudhoyono yang akan diberikan kepada anggota ASNLF dan TNA yang menyerah, serta ada tambahan kartu gombal satu lagi yaitu kartu yang dibuat oleh Noer Hassan Wirajuda yang berisikan penghentian proses hukum terhadap 3 tokoh GAM di Swedia (Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah).

Jadi, jelas dengan hanya modal empat kartu tersebut, itu pihak tim juru runding RI yang langsung dipimpin oleh Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto akan mengalami kedodoran, dan sekaligus membuktikan bahwa mereka datang ke Helsinki, Finlandia itu adalah dalam rangka show bisnis tsunami setelah mendapat bantuan kucuran pinjaman utang sebesar US$ 3,4 miliar dan dan hibah sebesar US$ 1,7 miliar dari Consultative Group on Indonesia (CGI).

Memang benar Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto, Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin datang ke perundingan di Helsinki, Finlandia hanyalah untuk menunjukkan kepada pihak anggota negera-negara yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) bahwa pihak RI mau berunding, tetapi caranya berunding menurut enak udelnya sendiri, sebagaimana yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya.

Dan tentu saja, perdamaian di Acheh adalah sangat jauh, selama pihak RI masih menjadikan konflik Acheh sebagai bisnis untuk mencari utang guna menutupi defisit APBN-nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

CGI Mengabulkan Utang Baru Indonesia

20/1/2005 20:28 - Organisasi dan negara kreditor yang tergabung dalam CGI memberikan utang baru bagi Indonesia sebesar US$ 3,4 miliar. CGI juga memberikan hibah sebesar US$ 1,7 miliar untuk rekonstruksi pasca-Tsunami.

Liputan6.com, Jakarta: Sejumlah organisasi dan negara kreditor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) menyepakati utang baru yang diajukan oleh pemerintah Indonesia. Dalam sidang terakhirnya di Jakarta, Kamis (20/1) petang, CGI sepakat memberikan pinjaman sebesar US$ 3,4 miliar. CGI juga memberikan bantuan untuk rekonstruksi pasca-Tsunami senilai US$ 1,7 miliar.

Besaran pinjaman itu sesuai dengan permintaan pemerintah Indonesia pada awal sidang. Dari jumlah itu, US$ 2,8 miliar di antaranya untuk membiayai dan menutup defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negera (APBN) dan US$ 500 juta untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan nonbujeter atau nonanggaran lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah daerah [baca: Presiden Membuka Pertemuan CGI]. Namun pada sidang sepanjang hari ini, CGI sempat menawarkan utang sekitar US$ 2,5 miliar hingga US$ 3 miliar. Alasannya disesuaikan dengan kebutuhan untuk menutupi defisit APBN.

Setelah sesi-sesi pemaparan dari pihak Indonesia, maka para kreditor akhirnya sepakat mengabulkan permintaan pemerintah Indonesia. Hanya, pihak pemberi utang meminta supaya pemerintah Indonesia lebih serius menangani sejumlah masalah, terutama menyangkut pemberantasan korupsi.

Bank Dunia memberikan pinjaman terbesar, yakni sebesar US$ 730 juta disusul Jepang senilai US$ 715 juta. Sedangkan Jerman yang memberikan pinjaman senilai US$ 150 juta juga memelopori pemberian keringanan utang dan bantuan pasca-Tsunami. Kebijakan Jerman ini diikuti kreditor lainnya dengan memberikan bantuan sebesar US$ 1,7 miliar, US$ 1,2 miliar di antaranya berupa hibah.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
http://www.liputan6.com/fullnews/94103.html
----------