Stockholm, 31 Januari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SDR AGOOSH ITU MENLU DAN KETUA KOMISI I DPR MEMANG BUTA & BUDEK DAN ITU BUKAN PENGHINAAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SAUDARA AGOOSH YOOSRAN ITU MENLU NOER HASSAN WIRAJUDA DAN KETUA KOMISI I DPR THEO L SAMBUAGA MEMANG BUTA & BUDEK DAN ITU BUKAN PENGHINAAN

"Saya baru sempat baca ulasan Ustadz di bawah ini. Ah ternyata Ustadz Ahmad sama saja dengan Omar Puteh. Janganlah menjadikan forum ini menjadi forum caci maki dan forum pembenaran sepihak. Jadikanlah forum ini forum pencerahan sejarah asal usul bangsa Aceh, dan akar permasalahan konflik di Aceh selama ini. Kalau cara Ustadz Ahmad memberikan komentar2nya dengan cara caci maki dan penghinaan seperti itu, ya berarti status Ustadz yang selalu mengusung Islam sebagai landasan berpikir, saya rasa kurang cocok jika melampiaskan kekesalannya dalam bentuk tulisan2 yang menghina seperti itu." (Agoosh Yoosran, agoosh_yoosran@mahaka.com , Mon, 31 Jan 2005 14:47:04 +0700)

"Saya lumayan sudah beberapa kali berkorespondensi dengan saudara Reyza Zain yang berada di Amerika. Setelah membaca ulasan sejarah Ustadz (mungkin benar mungkin tidak, saya sendiri tidak tahu karena saya terlahir di akhir tahun 60an yang sesungguhnya tidak tahu persis kebenaran sejarah bangsa Aceh menjadi bagian NKRI), saya berpendapat, yang patut menentukan apakah bangsa Aceh menjadi bagian NKRI atau mau menjadi negara merdeka berdaulat adalah bangsa Aceh sendiri (termasuk orang2 keturunan Aceh, baik yang ada di Indonesia atau di belahan bumi lainnya) dan bukan elit2 yang sekarang tinggal dan menjadi warga negara Swedia, Singapura dsb." (Agoosh Yoosran, agoosh_yoosran@mahaka.com , Mon, 31 Jan 2005 14:36:18 +0700)

Terimakasih saudara Agoosh Yoosran di Jakarta, Indonesia.

Itu ketika Ahmad Sudirman menulis "Komisi I DPR, Wirajuda, Ryacudu memang tetap buta melihat akar utama konflik Acheh" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/050127.htm ) isinya bukan mencaci-maki dan menghina Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda yang orang Sunda itu, dan bukan merendahkan Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga dari Golkar. Melainkan memang suatu kenyataan, itu Noer Hassan Wirajuda dan Theo L Sambuaga adalah buta dan telinganya tersumbat oleh sejarah tentang Acheh yang dilambungkan oleh Soekarno Cs.

Lihat saja masih tertutupnya mata Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda dengan menyatakan bahwa "karena GAM tidak diakui otoritas internasionalnya, sehingga bukan bagian dari diplomasi". Tetapi, apa yang dikerjakan oleh tim juru runding RI di Helsinki, Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, dan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil, itu mereka langsung duduk berhadapan muka dengan para petinggi ASNLF, Perdana Menteri Teungku Malik Mahmud, Menteri Luar Negeri Teungku Zaini Abdullah. Mereka sibuk membicarakan perundingan. Jadi dilihat dari status kedudukan secara politis mereka adalah satu tingkat, dan tidak dipertanyakan itu otoritas internasional ASNLF baik oleh pihak tim juru runding RI maupun oleh pihak mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari.

Jadi, sebenarnya apa yang dikemukakan oleh pihak Noer Hassan Wirajuda adalah merupakan sikap politis yang merupakan adanya sikap perbedaan pendangan antara Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda dengan pihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang para petinggi ASNLF ini.

Karena itu memang wajar kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa itu Noer Hassan Wirajuda memang buta atau matanya tertutup melihat status politik dan otoritas dari para petinggi ASNLF dalam perundingan Helsinki 28-29 Januari 2005 ini.

Jadi, bukan merupakan sikap caci-maki dan penghinaan dari Ahmad Sudirman, melainkan memang kenyataan bahwa benar itu pihak Noer Hassan Wirajuda tidak melihat alias buta terhadap status politik dan otoritas sebenarnya dari para petinggi ASNLF di dunia internasional.

Begitu juga dengan Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga dan anggota Komisi I DPR Suparlan dari PDIP, dimana mereka berdua itu memang buta dan pekak telinganya atau budek, karena tersumbat sampah-sampah cerita sejarah tentang Acheh buatan Soekarno.

Bagaimana tidak. Itu akar utama konflik Acheh bukan karena adanya kemiskinan dan bagaimana kemiskinan di Aceh dihilangkan. Juga bagaimana caranya, pemerintah harus memberantas praktik korupsi, sebagaimana dilambungkan leh Suparlan.

Jelas, kalau itu Anggota Komisi I DPR Suparlan memberikan alasan dan argumentasi yang demikian tentang konflik Acheh, maka itu menandakan bahwa Suparlan memang budek, artinya telinganya sudah penuh tersumbat oleh sampah-sampah cerita gombal Acheh made in Soekarno.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman mengatakan budek itu Suparlan, bukan suatu caci-maki, melainkan memang realita Suparlan itu begitu. Kalau memang tidak mau disebut budek atau telinga tersumbat, maka cobalah gali itu akar utama penyebab konflik Acheh ini dengan cara yang benar, jujur, dan adil. Bukan hanya mengorek dari tempat sampah yang dikumpulkan dan diaduk oleh Soekarno Cs.

Begitu juga dengan Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga yang menyatakan bahwa perundingan dengan GAM tidak perlu ada perantara dari luar.

Nah disinipun, bagaimana Ahmad Sudirman tidak mengatakan budek kepada pihak Ketua Komisi I DPR ini. Karena memang jelas-jelas itu Theo L Sambuaga memang telinganya tersumbat alias budek dan matanya tertutup alias buta ketika melihat kenyataannya, karena itu kenyataannya masalah Acheh sudah menjadi masalah internasional.

Tidak ada di dunia ini, negara-negara anggota PBB yang tidak mengetahui bahwa di Acheh itu telah timbul konflik, kendatipun pemerintah negara-negara anggota PBB tidak semua mengetahui akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh. Tetapi, mereka mengetahui dan mengenal bahwa di Acheh sedang timbul konflik.

Apalagi ketika dilangsungkan perundingan-perundingan sebelumnya, baik di Geneva ataupun di Tokyo, Jepang, dan di Helsinki, Finlandia, itu pihak pemerintahan Internasional ikut terlibat.

Jadi adalah suatu alasan gombal atau kosong kalau itu Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga melambungkan pendapat bahwa perundingan dengan GAM tidak perlu ada perantara dari luar.

Karena itu wajar saja kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa itu Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga memang budek alias telinganya tersumbat, dan matanya buta alias tidak bisa melihat konflik Acheh yang sebenarnya.

Jadi, itu yang dikatakan oleh Ahmad Sudirman bukanlah kata-kata caci-maki dan penghinaan, melainkan suatu kenyataan yang nampak dengan mata kepala, bahwa memang benar itu Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda, Ketua Komisi IDPR Theo L Sambuaga dan Anggota Komisi I DPR Suparlan memang buta, budek dan salah kaprah dalam melihat akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh.

Selanjutnya saudara Agoosh Yoosran menanyakan: "siapa sih Omar Puteh itu? Begitu menggebu-gebunya. Ia, sampai mengeluarkan tulisan-tulisan yang tidak beretika? Kepala boleh panas, tapi hati tetap dijagalah. Tidak usahlah sumpah serapah. Ia keluarkan hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Jangan terkesan rasist begitulah."

Itu saudara Omar Puteh adalah orang Acheh yang sekarang tinggal di Stavanger, Norwegia. Ketia ia menulis "Plus I + Tsunami RIS-Den Haag Belanda dan tsunami NKRI_Jakarta" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/050126a.htm ) itu isinya bukan sumpah serapah dan melampiaskan kekesalan hatinya, melainkan memang itulah fakta dan bukti yang telah dilakukan oleh pihak Soekarno terhadap rakyat dan wilayah-wilayah yang berada dilaur wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Negara RI.

Kalau saudara Omar Puteh menyinggung Soekarno perilakunya seperti Hitler dalam hal pembunuhan dan penguasaan wilayah-wilayah, memang benar adanya. Kalau memang itu para pengikut Soekarno mau membantah pendapat saudara Omar Puteh, cobalah tampilkan dan bantah bahwa tidak benar itu yang dikatakan saudara Omar Puteh tentang taktik dan strategi Soekarno terselubung taktik dan strategi kerangka pikiran Adolf Hitler yang memimpin Gestapo Nazi, untuk mewujudkan Jawa sebagai bangsa Aria-Nusantra, dari garis keturunan "Javamen". Jadi jangan hanya cukup melambungkan pemikiran bahwa saudara Omar Puteh adalah rasist.

Karena memang di froum ini bebas untuk mengemukakan pemikiran dan pendapat. Kalau ada sedikit suhu panas, anggap saja itu sedang musim panas. Jadi jangan diasosiasikan dengan adanya sikap yang mengarah kepada caci-maki atau penghinaan.

Selanjutnya saudara Agoosh melambungkan pikiran: "saya berpendapat, yang patut menentukan apakah bangsa Aceh menjadi bagian NKRI atau mau menjadi negara merdeka berdaulat adalah bangsa Aceh sendiri (termasuk orang2 keturunan Aceh, baik yang ada di Indonesia atau di belahan bumi lainnya) dan bukan elit2 yang sekarang tinggal dan menjadi warga negara Swedia, Singapura dsb."

Memang benar, bahwa masa depan Acheh harus ditentukan dan diputuskan oleh seluruh rakyat Acheh melalui plebisit yang disaksikan oleh masyarakat internasional dan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bukan ditentukan oleh pihak pusat dari Jakarta dengan UU No.18/2001 dan Keppres No.43/2003 serta PP No.2/2004-nya.

Dan terakhir apa yang dikemukakan saudara Agoosh: "Saya rasa yang mengakui Teungku Hasan di Tiro sebagai pimpinan wali negara Aceh ya hanya segelintir elit di luar negeri dan tentara GAM di Aceh. Tidak semua orang Aceh sependapat bahwa pimpinan bangsa Aceh itu Teungku Hasan di Tiro. Karena saya yakin, legitimasi beliau, patut dipertanyakan. Oleh karena itu, saya rasa dengan telah lamanya konflik di tanah Aceh dan sudah banyak bangsa Aceh yang melakukan kawin campur dengan suku bangsa lain di Indonesia, bangsa Aceh akan lebih fair dalam menentukan nasibnya. Karena apa yang nantinya mereka pilih, mereka pula lah yang akan merasakan konsekwensi dari pilihannya."

Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah pemimpin gerakan penentuan nasib sendiri untuk membebaskan diri dari pengaruh kekuasaan pusat Jakarta RI dengan mempergunakan wadah ASNLF.

Soal adanya rakyat Acheh yang tidak sependapat dan tidak setuju dengan kepemimpinan Teungku Hasan di Tiro dalam memimpin perjuangan kemerdekaan Acheh, itu adalah hak dari setiap individu di Acheh. Yang penting dan menjadi fakta dan bukti sampai sekarang bahwa perjuangan rakyat Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro terus berlangsung tanpa mundur setapakpun.

Sedangkan soal sikap dan pendapat rakyat Acheh untuk menentukan masa depan dan nasib mereka sendiri melalui plebisit yang disaksikan oleh lembaga PBB, itu adalah hak setiap rakyat Acheh, dan hasil plebisit itu bisa dianggap final. Bukan seperti sekarang itu Susilo Bambang Yudhoyono Cs menyatakan RI sudah final.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 31 Jan 2005 14:47:04 +0700
From: "Agoosh Yoosran" agoosh_yoosran@mahaka.com
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Serambi Indonesia" <serambi_indonesia@yahoo.com>, "balipost" <balipost@indo.net.id>, "waspada" <newsletter@waspada.co.id>, "PR" <redaksi@pikiran-rakyat.com>, "Pontianak" <editor@pontianak.wasantara.net.id>, "Hudoyo" <hudoyo@cbn.net.id>, "JKT POST" <jktpost2@cbn.net.id>, "Redaksi Kompas" <redaksi@kompas.com>, "Redaksi Satu Net" <redaksi@satunet.com>, "Redaksi Waspada" <redaksi@waspada.co.id>, "Waspada" <waspada@waspada.co.id>, "Detik" <webmaster@detik.com>,"KOMPAS" kompas@kompas.com
Subject: Re: KOMISI I DPR, WIRAJUDA, RYACUDU MEMANG TETAP BUTA MELIHAT AKAR UTAMA KONFLIK ACHEH

Assalamu'alaikum,

Yth. Ustadz Ahmad Sudirman,

Saya baru sempat baca ulasan Ustadz di bawah ini. Ah ternyata Ustadz Ahmad sama saja dengan Omar Puteh. Janganlah menjadikan forum ini menjadi forum caci maki dan forum pembenaran sepihak. Jadikanlah forum ini forum pencerahan sejarah asal usul bangsa Aceh, dan akar permasalahan konflik di Aceh selama ini.

Kalau cara Ustadz Ahmad memberikan komentar2nya dengan cara caci maki dan penghinaan seperti itu, ya berarti status Ustadz yang selalu mengusung Islam sebagai landasan berpikir, saya rasa kurang cocok jika melampiaskan kekesalannya dalam bentuk tulisan2 yang menghina seperti itu.

Kembali lagi pada diri Ustadz sekarang, apakah perjuangan hak ini harus dikotori dengan cara-cara yang tidak elegan seperti itu. Kita manusia wajib berikhtiar, namun Allah Swt jualah yang menentukan, harus seperti apa akhir dari konflik berkepanjangan ini. Sekian.

Wassalamu'alaikum.

Agoosh Yoosran

agoosh_yoosran@mahaka.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Mon, 31 Jan 2005 14:36:18 +0700
From: "Agoosh Yoosran" agoosh_yoosran@mahaka.com
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Serambi Indonesia" <serambi_indonesia@yahoo.com>, "balipost" <balipost@indo.net.id>, "waspada" <newsletter@waspada.co.id>, "PR" <redaksi@pikiran-rakyat.com>, "Pontianak" <editor@pontianak.wasantara.net.id>, "Hudoyo" <hudoyo@cbn.net.id>, "JKT POST" <jktpost2@cbn.net.id>, "Redaksi Kompas" <redaksi@kompas.com>, "Redaksi Satu Net" <redaksi@satunet.com>, "Redaksi Waspada" <redaksi@waspada.co.id>, "Waspada" <waspada@waspada.co.id>, "Detik" <webmaster@detik.com>, "KOMPAS" kompas@kompas.com
Cc: om_puteh@hotmail.com
Subject: Re: OMAR PUTEH: PLUS I + TSUNAMI RIS-DEN HAAG BELANDA DAN TSUNAMI NKRI-JAKARTA

Assalamu'alaikum,

Yth. Ustadz Ahmad Sudirman,

Mohon tanya, siapa sih Omar Puteh itu? Begitu menggebu-gebunya. Ia, sampai mengeluarkan tulisan-tulisan yang tidak beretika? Kepala boleh panas, tapi hati tetap dijagalah. Tidak usahlah sumpah serapah. Ia keluarkan hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Jangan terkesan rasist begitulah. Di tulisan "beliau" menyinggung soal Presiden Soekarno yang berperilaku seperti Hitler (yg rasist). Sedangkan tulisan "beliau" jelas2 mencerminkan "beliau" itu orang yang rasist. Jadi saya rasa, Omar Puteh itu membuat tulisan tanpa dipikir korelasi tulisan dengan pikirannya (mungkin). Forum ini sebenarnya baik untuk memberikan pencerahan sejarah, bukan forum caci maki.

Sekian dulu Ustadz.

Saya lumayan sudah beberapa kali berkorespondensi dengan saudara Reyza Zain yang berada di Amerika. Setelah membaca ulasan sejarah Ustadz (mungkin benar mungkin tidak, saya sendiri tidak tahu karena saya terlahir di akhir tahun 60an yang sesungguhnya tidak tahu persis kebenaran sejarah bangsa Aceh menjadi bagian NKRI), saya berpendapat, yang patut menentukan apakah bangsa Aceh menjadi bagian NKRI atau mau menjadi negara merdeka berdaulat adalah bangsa Aceh sendiri (termasuk orang2 keturunan Aceh, baik yang ada di Indonesia atau di belahan bumi lainnya) dan bukan elit2 yang sekarang tinggal dan menjadi warga negara Swedia, Singapura dsb.

Saya rasa yang mengakui Teungku Hasan di Tiro sebagai pimpinan wali negara Aceh ya hanya segelintir elit di luar negeri dan tentara GAM di Aceh. Tidak semua orang Aceh sependapat bahwa pimpinan bangsa Aceh itu Teungku Hasan di Tiro. Karena saya yakin, legitimasi beliau, patut dipertanyakan. Oleh karena itu, saya rasa dengan telah lamanya konflik di tanah Aceh dan sudah banyak bangsa Aceh yang melakukan kawin campur dengan suku bangsa lain di Indonesia, bangsa Aceh akan lebih fair dalam menentukan nasibnya. Karena apa yang nantinya mereka pilih, mereka pula lah yang akan merasakan konsekwensi dari pilihannya. Sekian.

Wassalamu'alaikum.

Agoosh Yoosran

agoosh_yoosran@mahaka.com
Jakarta, Indonesia
----------