Stockholm, 1 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MATIUS DHARMINTA EKORNYA YUDHOYONO MEMANG TIDAK PUNYA JALAN KELUAR DARI KONFLIK ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU MATIUS DHARMINTA ORANG KRISTEN DAN EKORNYA YUDHOYONO MEMANG TIDAK PUNYA JALAN KELUAR DARI KONFLIK ACHEH SELAIN MENERIAKKAN TUJUAN AKHIR POLITIK GAM BUKAN KEMERDEKAAN

"Namun, tetap terdapat perbedaan kepentingan yang sangat jauh antara RI dan GAM. Bagi pemerintah RI, operasi pemulihan keamanan, ada atau tidak ada bencana alam, merupakan masalah domestik. Tidak ada negara mana pun, apalagi GAM, yang boleh mencampuri kebijakan keamanan dalam negeri RI. Sedangkan bagi GAM, gencatan senjata itu penting, dengan tidak ada operasi pemulihan keamanan, diharapkan bisa menyelamatkan anggotanya yang masih tersisa atau selamat dari bencana tsunami. Tapi bukan berarti jalan untuk damai udah buntu. Bisa saja perundingan damai diteruskan kelak di mana pun tempatnya. Tetapi, dengan syarat, misalnya, GAM, dengan tujuan akhir perjuangan politiknya bukan lagi kemerdekaan. Sedangkan dari pihak RI mengurangi operasi pemulihan keamanannya, atau bahkan dihentikan sama sekali." (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Tue, 1 Feb 2005 00:11:46 -0800 (PST))

Baiklah saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia

Membaca apa yang dilambungkan oleh saudara Matius Dharminta tentang hasil perundingan Helsinki 28-29 Januari 2005, kelihatan itu saudara Matius tidak memiliki jalan keluar yang cukup fleksibel dari jalan buntu yang ditemukan dalam perundingan Helsinki tersebut, selain dengan mengemukakan: "GAM, dengan tujuan akhir perjuangan politiknya bukan lagi kemerdekaan. Sedangkan dari pihak RI mengurangi operasi pemulihan keamanannya, atau bahkan dihentikan sama sekali"

Jelas kelihatan itu saudara Matius masih terkungkung oleh belenggu sejarah gombal yang dihembus-hembuskan oleh Soekarno tentang wilayah Negeri Acheh bagian RI. Dan memang itu saudara Matius dari sejak muncul di mimbar bebas ini tidak mempunyai daya pemikiran dan daya nalar untuk mencari akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, selain dari hanya menelan dan melalap apa yang tertulis dalam sejarah gombal made in Soekarno dan para penerusnya saja.

Nah, karena saudara Matius Dharminta yang orang kristen dari Surabaya ini masih tetap saja mengekor Soekarno dan membuntuti Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal konsep gombal NKRI final dan konsep gombal UU No.18/2001 made in Megawati dan anggota DPR pada masa Akbar Tandjung dan Amien Rais, maka ketika adanya perbenturan benteng antara GAM dan RI, langsung saja melambungkan pikirannya yang usang dengan bunyi: "GAM, dengan tujuan akhir perjuangan politiknya bukan lagi kemerdekaan"

Memang logis, kalau itu saudara Dharminta setelah terpojok, melontarkan pemikiran model demikian, karena memang tidak ada jalan lain lagi yang bisa ditampilkan, selain UU No.18/2001 atau konsep NKRI final yang gombal dan usang itu, atau menuntut dan meneriakkan: "tujuan akhir perjuangan politik GAM bukan lagi kemerdekaan".

Nah sekarang, karena memang secara fakta mereka ini, termasuk juga saudara Dharminta sudah terpatri pemikirannya oleh jejak langkah dan kebijaksanaan politik ekspansi Soekarno, maka sangat sulit untuk keluar dengan memakai cara penggunaan pemikiran yang segar, terang, dan jelas berdasarkan pengoreksian dan penulisan kembali jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Negeri Acheh dalam usaha untuk melihat akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh ini.

Nah bagi orang-orang yang ingin melihat dan menegakkan keadilan dan kebijaksanaan yang jujur dan terbuka, sebenarnya kalau diantara kedua pihak, RI dan GAM ditemukan memiliki dasar argumentasi yang kontradiksi dan sangat sulit untuk disatukan, maka jalan keluarnya adalah mengambil jalan yang paling bijaksana dan jalan tersebut selalu dilakukan oleh rakyat dan pemerintah di negara-negara lain, yaitu melalui langkah plebisit, yakni penentuan sikap yang diberikan kepada rakyat untuk memutuskan masalah yang tidak bisa diputuskan oleh wakil-wakilnya yang ada di parlemen.

Sekarang, karena memang antara pihak RI dan GAM ada perbedaan yang sangat prinsipil dan sangat jauh, maka jalan keluarnya yang paling bijaksana dan paling adil dan tidak menumpahkan darah adalah dengan cara menyerahkan persoalan Negeri Acheh dan masa depan Negeri Acheh kepada seluruh rakyat Acheh untuk memberikan sikap dan pendapatnya secara bebas dan rahasia dengan diawasi oleh lembaga internasional PBB.

Tinggal sekarang, kelihatannya pihak RI yang keberatan untuk melakukan dan menyerahkan kepada seluruh rakyat Acheh guna melakukan plebisit dengan alasan kalau pihak RI menyerahkan kepada seluruh rakyat Acheh melalui cara plebisit, maka pihak RI khawatir bahwa rakyat Acheh akan menentukan sikap memisahkan diri dari pihak RI, sebagaimana yang telah terjadi dan terbukti ketika dilakukan plebisit di Timor Timur. Karena pihak RI mengetahui dengan penuh kesadaran bahwa sebenarnya pihak rakyat Acheh masih tetap merasa ditindas, ditekan, diabaikan, dan dijadikan sebagai korban oleh pihak RI.

Kalau memang pihak RI itu yakin dan percaya bahwa rakyat Acheh berada dipihak RI, maka pihak RI tidak akan menolak mentah-mentah plebisit bagi seluruh rakyat Acheh. Karena pihak RI merasa yakin dengan segala fakta dan bukti bahwa rakyat Acheh telah diperlakukan sebagaimana rakyat dalam satu negara yang menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Tetapi masalahnya sekarang, karena itu pihak RI baik ketika dibawah Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono, itu rakyat Acheh merasa keamanan, keselamatan, keadilan, kebebasan mereka telah dirampas oleh pihak RI, maka sudah pasti pihak RI ketakutan bila dilakukan plebisit di Acheh.

Jadi, hanya satu jalur yang bisa dilakukan oleh pihak RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dalam usaha menyelesaikan konflik Acheh yaitu dengan cara terus dengan gencar mendengungkan konsep NKRI final, menyodorkan UU No.18/2001 dan tetap memakai dasar hukum gombal Darurat Sipil. Tidak ada jalan lain yang fleksibel yang bisa ditawarkan lagi oleh pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan para pengikutnya termasuk saudara Matius Dharminta orang kristen dari Surabaya ini.

Karena itu memang wajar kalau Matius Dharminta ketika telah terbentur dalam perundingan Helsinki, langsung saja melambungkan hasil perasan otak udangnya yang berbunyi: "dengan syarat, misalnya, GAM, dengan tujuan akhir perjuangan politiknya bukan lagi kemerdekaan."

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 1 Feb 2005 00:11:46 -0800 (PST)
From: "matius dharminta" mr_dharminta@yahoo.com
Subject: Re: SELAMA PIHAK RI MAJUKAN PERUNDINGAN DENGAN KONSEP TERMINASI KONFLIK YANG KAKU TIDAK AKAN BERHASIL
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Serambi Indonesia" <serambi_indonesia@yahoo.com>, "balipost" <balipost@indo.net.id>, "waspada" <newsletter@waspada.co.id>, "PR" <redaksi@pikiran-rakyat.com>, "Pontianak" <editor@pontianak.wasantara.net.id>, "Hudoyo" <hudoyo@cbn.net.id>, "JKT POST" <jktpost2@cbn.net.id>, "Redaksi Kompas" <redaksi@kompas.com>, "Redaksi Satu Net" <redaksi@satunet.com>, "Redaksi Waspada" redaksi@waspada.co.id

Sudah diduga sebelumnya, bahwa perundingan di Helsinki itu tidak akan banyak memberikan hasil bagi perdamaian abadi di Aceh.

Terlalu jauh perbedaan kepentingan antara RI dan GAM. RI maju ke meja perundingan dalam kerangka negara kesatuan. Dengan kata lain, GAM harus menghentikan kekerasan tanpa syarat politik yang membuka peluang bagi pemisahan Aceh dari RI.

Sedangkan GAM maju ke meja perundingan juga dengan satu tujuan, perdamaian perlu membuka jalan bagi penghentian kontak senjata. Karena itu, syaratnya membuka peluang bagi pemisahan Aceh dari RI.

Memang, pihak GAM tidak membicarakan soal kemerdekaan yang diperjuangkannya. Dalam pembicaraan itu GAM menitikberatkan pada perlunya gencatan senjata dalam rangka pemulihan kondisi Aceh setelah tertimpa musibah tsunami pada 26 Desember 2004.

Namun, tetap terdapat perbedaan kepentingan yang sangat jauh antara RI dan GAM. Bagi pemerintah RI, operasi pemulihan keamanan, ada atau tidak ada bencana alam, merupakan masalah domestik. Tidak ada negara mana pun, apalagi GAM, yang boleh mencampuri kebijakan keamanan dalam negeri RI.

Sedangkan bagi GAM, gencatan senjata itu penting, dengan tidak ada operasi pemulihan keamanan, diharapkan bisa menyelamatkan anggotanya yang masih tersisa atau selamat dari bencana tsunami.

Jika syarat gencatan senjata, misalnya, bisa disetujui dalam perundingan, GAM berharap masih memiliki anggota militernya yang tersisa dapat melanjutkan perjuangan di kemudian hari.

Dengan perbedaan kepentingan yang sangat jauh itu, perundingan damai tidak akan banyak bermanfaat untuk dilanjutkan. Sebab, tampaknya, sangat kecil kemungkinan syarat-syarat dari kedua pihak bisa menemukan kompromi.

Tapi bukan berarti jalan untuk damai udah buntu. Bisa saja perundingan damai diteruskan kelak di mana pun tempatnya. Tetapi, dengan syarat, misalnya, GAM, dengan tujuan akhir perjuangan politiknya bukan lagi kemerdekaan.

Sedangkan dari pihak RI mengurangi operasi pemulihan keamanannya, atau bahkan dihentikan sama sekali.

Tapi ingat, jika masih ada ancaman keamanan bagi rakyat Aceh, pemerintah RI wajib melindungi rakyat Aceh. Keamanan warga Aceh merupakan tanggung jawab penuh pemerintah RI. Sebab, daerah Serambi Makkah itu adalah wilayah sah yang menjadi bagian dari kedaulatan negara RI.

Hanya dengan perspektif seperti itu perundingan damai antara RI dan GAM bisa dilanjutkan. Tanpa itu, perundingan akan tetap sia-sia. Buang-buang waktu & biaya aja.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------