Stockholm, 2 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SDR MUBA DARI PERANCIS COBA PERTAHANKAN ACHEH TETAPI DASAR PIJAKANNYA KEROPOS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG KELIHATAN ITU SAUDARA MUBA DARI PERANCIS MENCOBA PERTAHANKAN ACHEH TETAPI DASAR PIJAKANNYA SANGAT KEROPOS

"Anda itu selalu mengacu Perjanjian Renville sebagai status final Indonesia, padahal semua negara di dunia ini mengakui bahwa wilayah Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke, sesuai dengan yang telah ditetapkan para founding father menjelang dan pasca 17 Agustus 1945. Selanjutnya acuan anda itu macem-macem, tergantung mana yang menguntungkan anda. Ironisnya anda sering sekali mengacu buku-buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, yang tentu saja maksudnya Indonesia proklamasi 17 Agustus 1945, padahal Indonesia menurut anda adalah Indonesia Renville. Jika anda seseorang mengacu sumber lain, dan itu menyulitkan posisi anda dan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Aceh pimpinan the dreamer Hasan Tiro, maka anda sebutkan bahwa sumber yang diacu orang itu sebagai sampah, atau orang itu telah kena racun Soekarno." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com ,Wed, 2 Feb 2005 06:43:50 -0800 (PST))

Baiklah saudara Muba Zir di Perancis.

Saudara Muba alias Mubazir kalau saudara memahami dan mengerti apa yang ditulis oleh Ahmad Sudirman tentang kronologis jalur proses pertumbuhan dan perkembangan negara RI dihubungkan dengan Negeri Acheh, maka itu pejanjian Renville 17 Januari 1948 adalah merupakan salah satu dasar hukum dalam jalur proses pertumbuhan dan perkembangan negara RI.

Itu Ahmad Sudirman telah mengupas sampai detail dari mulai Negara RI diproklamasikan 17 Agustus 1945 hingga pasca Soeharto dan sampai detik sekarang ini yang dihubungkan dengan Negeri Acheh.

Kemudian itu Ahmad Sudirman menganalisa dan menggali fakta dan bukti yang dimuat dalam buku yang berjudul 30 tahun Indonesia Merdeka adalah untuk membuktikan apakah memang benar itu Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua barat adalah masuk kedalam wilayah RI yang diklaim Soekarno. Ternyata setelah ditelusuri, digali, dipelajari, itu ternyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI yang diproklamasikan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945 dari sejak awalnya sampai detik sekarang ini kalau dilihat dari sudut fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum, itu Negara RI yang sekarang ini bukan Negara RI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Moh. Hatta, melainkan Negara yang tumbuh dan berkembang melalui jalur proses penelanan, peleburan wilayah Negara-Negara dan Daerah-Daerah RIS dan penalanan, pencaplokan, pendudukan wilayah negeri-negeri diluar wilayah de-facto dan de-jure RI dan de-facto dan de-jure RIS seperti Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua barat.

Itu Soekarno cs ketika memproklamasikan RI 17 Agustus 1945 daerah wilayahnya hanya merupakan hasil pengklaiman diatas kertas saja. Jadi kalau hanya sekedar mengklaim wilayah, siapa saja bisa mengklaim, tetapi dalam kenyataannya dilihat dari sudut hukum dan fakta, itu Negara RI dari sejak 17 Agustus 1945 tidaklah mencakup dari Sabang sampai Merauke. Itu kalau ada yang mengatakan wilayah RI dari sejak 17 Agustus 1945 dari Sabang sampai Merauke itu hanyalah orang yang mimpi disiang hari bolong yang percaya dengan pengklaiman Soekarno cs saja.

Kemudian itu saudara Muba menyatakan: "Banyak sumber yang menyatakan bahwa Hasan Tiro adalah seorang desident kelompok Daud Beureuh, sedangkan hampir semua intelektual Indonesia tetap hormat kepada Daud Beureuh. Sejarah juga mengatakan bahwa DI (Darul Islam) Aceh adalah bagian dari DI Kartosuwiryo, sehingga tidak jelas, sejak kapan dan atas dasar apa anda dan GPK Aceh itu menyebut Aceh tidak menjadi bagian dari negara manapun."

Persoalannya, itu Soekarno cs dan para penerusnya merasa puas dan gembira melihat proses pertumbuhan dan perkembangan NII yang dimaklumatkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh sampai timbulnya "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh". Dimana itu NII yang dimaklumatkan pada tanggal 20 September 1953, ternyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya akhirnya masuk kedalam jerat Soekarno. Dan karena Teungku Muhammad Daud Beureueh berhasil masuk kedalam jerat Soekarno, maka itulah yang banyak ditepuki dan disambut gembira oleh Soekarno dan para penerusnya.

Dimana itu NII yang dimaklumatkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam proses pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, pada tanggal 8 Februari 1960 ketika Republik Persatuan Indonesia (RPI) dibangun dengan bentuk federasi yang anggota Negaranya adalah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara dan M. Natsir Cs, NII Teungku Muhammad Daud Beureueh, Perjuangan Semesta (Permesta) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Kemudian sebelum Republik Persatuan Indonesia bubar pada tanggal 17 Agustus 1961, NII Teungku Muhammad Daud Beureueh keluar dari RPI dan membentuk Republik Islam Aceh pada tanggal 15 Agustus 1961.

Ketika Soekarno memberikan amnesti dan abolisi kepada mereka yang dianggap Soekarno melakukan pemberontakan terhadap pihak NKRI dengan batas akhir 5 Oktober 1961. Ternyata pada tanggal 4 Oktober 1961 datang 28 orang delegasi dari wakil-wakil semua lapisan masyarakat, para ulama, pemuda, pedagang, tokoh-tokoh adat, termasuk wakil pemerintah resmi sipil dan militer menjumpai Teungku Muhammad Daud Beureueh di Markasnya dengan misi meminta kepada Teungku Muhamad Daud Beureueh demi untuk kepentingan masyarakat Aceh seluruhnya agar sudi kembali ketengah-tengah masyarakat untuk memimpin mereka. Batas waktu tanggal 5 Oktober berakhir, dan pada tanggal 9 Mei 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama stafnya kembali kemasyarakat dibawah pimpinan Soekarno dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin pada bulan Desember tahun 1962.

Nah dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh ke pihak Soekarno dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, maka secara de-jure dan de-facto RIA yang diperjuangkannya telah hilang, karena telah dianggap kembali kepada Soekarno dengan NKRI dan pancasilanya.

Nah itulah yang membuat Soekarno dan para penerusnya meresa gembira dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh kedalam pangkuan Soekarno dengan NKRI dan pancasilanya.

Selanjutnya, NII Teungku Muhammad Daud Beureueh dan NII Imam SM Kartosoewirjo secara de-facto dan de-jure tidak punya hubungan struktur pemerintahan. Coba saja perhatikan ketika NII Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 8 Februari 1960 masuk menjadi Negara Bagian Republik Persatuan Indonesia (RPI), jelas dari sini saja, sudah kelihatan antara NII Teungku Muhammad Daud Beureueh dan NII Imam SM Kartosoewirjo tidak punya hubungan struktur pemerintahan.

Dan dengan masuknya NII Teungku Muhammad Daud Beureueh kedalam RPI membuktikan bahwa hubungan dan kerjasama antara NII Imam SM Kartosoewirjo dengan NII Teungku Muhammad Daud Beureueh kurang begitu terlihat dan memang tidak ada.

Sedangkan NII Imam SM Kartosoewirjo masih tetap berdiri sendiri berjuang menghadapi gempuran pasukan TNI dari Siliwangi jawa Barat. Sampai Imam SM Kartosoewirjo tertangkap pada tanggal 4 Juni 1962 dan mencapai syahidnya pada tanggal 16 Agustus 1962 ketika dijatuhkan hukuman mati terhadapnya.

Nah, setelah Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan RIA-nya menyerah pada bulan Desember 1962 melalui cara mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, ternyata 14 tahun kemudian pada tanggal 4 Desember 1976 Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan Negara Aceh Sumatera bebas dari pengaruh kekuasaan Asing atau dari pengaruh kekuasaan NKRI, maka dari sejak itu secara de-jure dan de-facto Negara Aceh Sumatera telah berdiri kembali.

Dimana deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera pada 4 Desember 1976 ini adalah sebagai penerus dan pelanjut Negara Aceh Sumatera yang pada waktu itu dipimpin oleh Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang meninggal dalam perang Alue Bhot, Tangse tanggal 3 Desember 1911. Dimana Teungku Tjheh Maat ini adalah cucu dari Teungku Tjhik di Tiro atau paman dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sejak gugurnya Panglima Perang Teungku Tjheh Maat ditembak serdadu Belanda pada tanggal 3 Desember 1911, maka berakhirlah secara de-jure dan de-facto kekuasaan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang memimpin Negara Aceh Sumatera dan jatuh secara de-facto dan de-jure ke tangan Belanda.

Nah, sebagai pelanjut dari Negara Aceh Sumatera yang telah hilang secara de-facto dan de-jure pada tanggal 3 Desember 1911 dari tangan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat, maka Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 meneruskan dan menghidupkan kembali Negara Aceh Sumatera melalui deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menduduki dan menjajah Negeri Aceh dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 melalui tangan Presiden RIS Soekarno dengan menggunakan dasar hukum PP RIS No. 21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

Jadi deklarasi pada tanggal 4 Desember 1976 adalah merupakan deklarasi ulangan dari Negara Aceh yang secara de-facto diduduki oleh Belanda dan diteruskan oleh pihak RI yang menjelma menjadi NKRI.

Kalau dihubungkan antara proklamasi NII Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan deklarasi Negara Aceh Sumatera adalah sangat berbeda. NII Teungku Muhammad Daud Beureueh dimaklumatkan pada tanggal 20 September 1953 dan mulai berdiri, dan menyerah kepada Soekarno pada bulan Desember 1962, sedangkan deklarasi Negara Aceh Sumatera pada tanggal 4 Desember 1976 merupakan deklarasi ulangan dari Negara Aceh Sumatera yang secara de-facto telah diduduki dan dijajah oleh Belanda dan diteruskan oleh pihak RI atau NKRI.

Kemudian Pemerintah Negara Aceh Sumatera dalam pengasingan wujud sampai detik ini di Stockholm, Swedia.

Jadi tidak benar kalau saudara Muba menyatakan: "Banyak sumber yang menyatakan bahwa Hasan Tiro adalah seorang desident kelompok Daud Beureuh"

Terakhir saudara Muba alias Mubazir menyatakan: "Saya sarankan, anda dan GPK Aceh berhentilah bermimpi tentang negara aceh. Janganlah terus melakukan masturbasi sambil membayangkan berdirinya negara aceh. Itu tidak akan pernah terjadi. Bencana tsunami telah memperlihatkan kepada anda bahwa semua rakyat Indonesia bersatu padu membantu Aceh, saudaranya itu. Saya tidak melihat kelompok GPK Aceh Stockholm melakukan kebaikan itu. Maaf, saya kira tak pantas menyampaikan salam kepada anda dan kelompok GPK Aceh Stockholm."

Sebenarnya, hanya para penerus Soekarno seperti saudara Muba inilah yang memang pandangannya picik alias sempit, telinganya tersumbat alias budek, tidak bisa dan tidak mau memahami dan mengerti apa yang dilakukan oleh Soekarno terhadap Negeri Acheh dan rakyat Acheh adalah suatu tindakan kejahatan internasional dan pelanggaran dasar hukum nasionalnya sendiri. Itu hak seluruh rakyat Acheh untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila dibawah Susilo Bambang Yudhoyono yang didukung oleh saudara Muba alias Mubazir yang sekarang sedang menyuruk di Perancis.

Kemudian itu soal membantu kepada korban gempa dan tsunami, tidak perlu digembar-gemborkan kepada saudara, yang penting itu bantuan bisa diterima dan sampai kepada yang berhak menerimanya, bukan hanya menumpuk dan dikuasai oleh pihak TNI/Polri saja itu bantuan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 2 Feb 2005 06:43:50 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Renville
To: ahmad@dataphone.se

Anda itu selalu mengacu Perjanjian Renville sebagai status final Indonesia, padahal semua negara di dunia ini mengakui bahwa wilayah Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke, sesuai dengan yang telah ditetapkan para founding father menjelaang dan pasca 17 Agustus 1945.

Selanjutnya acuan anda itu macem-macem, tergantung mana yang menguntungkan anda. Ironisnya anda sering sekali mengacu buku-buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, yang tentu saja maksudnya Indonesia proklamasi 17 Agustus 1945, padahal Indonesia menurut anda adalah Indonesia Renville. Jika anda seseorang mengacu sumber lain, dan itu menyulitkan posisi anda dan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Aceh pimpinan the dreamer Hasan Tiro, maka anda sebutkan bahwa sumber yang diacu orang itu sebagai sampah, atau orang itu telah kena racun Soekarno.

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Hasan Tiro adalah seorang desident kelompok Daud Beureuh, sedangkan hampir semua intelektual Indonesia tetap hormat kepada Daud Beureuh. Sejarah juga mengatakan bahwa DI (Darul Islam) Aceh adalah bagian dari DI Kartosuwiryo, sehingga tidak jelas, sejak kapan dan atas dasar apa anda dan GPK Aceh itu menyebut Aceh tidak menjadi bagian dari negara manapun.

Saya sarankan, anda dan GPK Aceh berhentilah bermimpi tentang negara aceh. Janganlah terus melakukan masturbasi sambil membayangkan berdirinya negara aceh. Itu tidak akan pernah terjadi. Bencana tsunami telah memperlihatkan kepada anda bahwa SEMUA rakyat Indonesia bersatu padu membantu Aceh, saudaranya itu. Saya tidak melihat kelompok GPK Aceh Stockholm melakukan kebaikan itu.

Maaf, saya kira tak pantas menyampaikan salam kepada anda dan kelompok GPK Aceh Stockholm.

Muba Zir

mbzr00@yahoo.com
Perancis
----------