Stockholm, 4 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA ITU YUDHOYONO & DA'I BAHTIAR GAGAL BERTARUNG DIMEDAN LAGA HUKUM SWEDIA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUBA, MANA BISA ITU SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DAN DA'I BAHTIAR MELAKUKAN TINDAKAN PERINGKUSAN PETINGGI ASNLF DI LUAR WILAYAH NEGARA PENJAJAH RI

"Apa faktanya bahwa rakyat Aceh itu sudah memilih lepas dari NKRI. Punya data? Sudah survey? Berapa margin errornya? Bentar lagi petinggi-petinggi GPK di Stockholm itu akan berhasil diringkus, dan (mauku sih) diserahkan kepada rakyat Aceh, biar dikuliti. Gitu kan kemajuan penyelidikan Tiro banci yang membuat keonaran di Aceh NKRI..? Kamu mau kemana kalo Tiro dkk ketangkep? Jadi penjual kacang rebus aja deh, kan kamu punya banyak kertas-kertas tak berguna dan sudah lapuk." (Muba ZR, mbzr00@yahoo.com , Thu, 3 Feb 2005 17:20:27 -0800 (PST))

Baiklah Muba ZR di Perancis.

Memang makin lama, Muba yang menyuruk di Perancis ini makin kedodoran saja. Coba saja perhatikan, ketika Ahmad Sudirman menyatakan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Itu artinya karena masih ada rakyat yang tinggal di Acheh yang orang-orang Jawa yang didatangkan melalui proses kebijaksanaan politik transmigrasi Soeharto. Dan sebagian rakyat Acheh yang sekarang bangkit sedang berjuang untuk pembebasan negeri Acheh dari penjajahan RI itulah yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Nah, kalau memang kalian Muba, mau mengetahui berapa banyak rakyat Acheh yang telah menyadari untuk penentuan nasib sendiri dan untuk penentuan masa depan negerinya, dari sejak dulu itu Ahmad Sudirman telah menyatakan bahwa untuk memberikan kepada seluruh rakyat Acheh kebebasan dalam hal pemberian pendapat dan siakpnya dalam bentuk plebisit, guna menentukan sikap Ya berpisah dari RI atau Tidak berpisah dari RI. Persis seperti plebisit yang dilakukan oleh rakyat dari Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999 yang lalu dengan disaksikan oleh PBB.

Yang jelas Muba, karena memang kalian dari Jawa, dan takut kehilangan itu Negeri Acheh yang mbah kalian Soekarno telah merampasnya dari rakyat Acheh, mana mau itu melakukan seperti apa yang telah dilakukan dan diberikan kepada rakyat Timor Timur. Mengapa itu kalian Muba dan Susilo Bambang Yudhoyono Cs ketakutan diadakan itu plebisit di Acheh ? Karena memang itu Susilo Bambang Yudhoyono dan termasuk juga kalian Muba, ketakutan rakyat Acheh itu akan menyatakan sikapnya bahwa kalian dari Jawa memang tidak pantas lagi ikut dan terus-terusan menduduki, merajah, dan menjajah Negeri Acheh.

Jadi Muba, kalau mau tahu hasil survey, itu kalian dan pimpinan kalian Susilo Bambang Yudhoyono harus mencabut itu dasar hukum gombal PP No.2/2004 dan mencabut itu Keppres No.43/2003, lalu berikan kepada itu seluruh rakyat Acheh kebebasan menetukan sikapnya bagi masa depan mereka. Nah, kemudian lihat hasilnya. Kalau memang kalian orang Jawa yakin banwa itu rakyat Acheh yang menurut kalian ada dibelakang Susilo Bambang Yudhoyono, maka hasilnya akan kelihatan banyak yang berada dibelakang ekor Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi, kalau hasilnya hanya beberapa orang saja berada dibelakang ekor Susilo Bambang Yudhoyono, itu menandakan rakyat Acheh sebagian besar sudah tidak mau lagi berada bersama pihak Susilo bambang Yudhoyono dan TNI/polri-nya.

Untuk sementara ini, itu rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri kelihatan dalam bentuk perilaku dan sikapnya yang ditampilkan dan ditunjukkan dalam bentuk perjuangan pembebasan Negeri Acheh yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad itu.

Dengan adanya itu rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila, maka itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI-nya dibawah pimpinan komando Jenderal TNI Endriartono Sutarto dan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak mampu menghancurkan pihak TNA sampai detik sekarang ini.

Nah, itu menandakan, kalau memang mata kalian Muba tidak buta, bahwa karena adanya rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila, maka itu perjuangan pembebasan negeri Aceh yang dijajah oleh mbah kalian Soekarno dan para penerusnya masih terus berlangsung sampai detik sekarang ini.

Berapa banyaknya rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri, untuk detik sekarang ini, kelihatan dengan melihat keadaan dimana itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI-nya masih tetap menduduki dengan pasukan non-organik TNI/Polri-nya yang lebih dari 50.000 pasukan itu. Artinya, walaupun belum diadakan plebisit, itu rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya dimasa depan dan juga bagi negerinya Acheh di masa depan, masih cukup kuat, sehingga itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto, dan Ryamizard Ryacudu harus memperkuat kedudukan pasukan non-organik TNI-nya di Acheh.

Kemudian, itu sudah dikatakan oleh Ahmad Sudirman, kalau mau ikutan berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas ini harus memahami dan mengerti itu tatabahasa bahasa mbahmu dari Jawa, jangan hanya seenak udel sendiri menafsirkannnya. Kemudian kalau sudah diberitahu, jangan merasa sok pintar, seperti dengan mengatakan: "Tak perlu kamu mengajari aku bahasa Indonesia."

Itu tandanya, kalian Muba, memang dasar orang Jawa yang sok pandai, tetapi kelakuan kalian memang budek dan degil serta otak kalian memang otak udang, kerjanya dan pandainya hanya menjilat dan melalap sejarah gombal Acheh yang dikucak-kocek oleh Soekarno dan mbah kalian dari Jawa sana.

Seterusnya, itu mengenai TNI. Sudah jelas itu TNI bukan baru saja diturunkan satu atau dua tahun ke Acheh, tetapi sudah lebih dari setengah abad, dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi apa hasilnya di Acheh ? Apakah habis itu pasukan TNA ? Apakah habis itu ASNLF atau GAM ? Kan jelas tidak. Jadi yang memang banci atau bencong itu adalah para pimpinan TNI-nya, yang kalian Muba dukung, untuk membunuh rakyat muslim Acheh.

Dan celakanya kalian dari para pimpinan Negara RI, itu para pasukan TNI dicekoki dengan propaganda gombal bhineka tunggal ika, pancasila yang rapuh hasil olahan gombal Soekarno, kemanunggalan dengan rakyat yang hanya propaganda gombal saja, membantu dan mempertahankan keamanan bagi rakyat yang hanya slogan gombal yang tidak berarti saja.

Nah dengan adanya perbedaan antara pimpinan kalian seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan alat pembunuh kalian yaitu TNI, yang sudah dicekoki dengan berbagai sumpah gombal pancasila dan UUD 1945 itu jelas akan berhadapan dengan rakyat Acheh yang sampai detik sekarang ini sedang berjuang untuk membebaskan negerinya dari pendudukan dan penjajahan RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI/Polri-nya.

Seterusnya itu yang dilontarkan Muba: "Bentar lagi petinggi-petinggi GPK di Stockholm itu akan berhasil diringkus, dan (mauku sih) diserahkan kepada rakyat Aceh, biar dikuliti. Gitu kan kemajuan penyelidikan Tiro banci yang membuat keonaran di Aceh NKRI..? Kamu mau kemana kalo Tiro dkk ketangkep? Jadi penjual kacang rebus aja deh, kan kamu punya banyak kertas-kertas tak berguna dan sudah lapuk."

Itu usaha dari pihak Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Da'i Bahtiar yang dilakukan pada tahun lalu untuk mematahkan dan memboyong para petinggi ASNLF dari Swedia ke wilayah penjajah RI gagal total. Mengapa ? Karena memang pihak Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Da'i Bahtiar adalah budek. Mereka tidak memiliki dasar fakta dan bukti hukum yang kuat untuk dipakai bertanding adu kekuatan hukum di gelanggang hukum Swedia.

Jadi, mana bisa itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono, Da'i Bahtiar, dan Ryamizard Ryacudu menangkap para petinggi ASNLF. Kalau hanya berkoar dimulut saja, itu mana ada kekuatannya, Muba. Jangan menjadi orang yang budek dan gombal.

Terakhir, itu soal penyaluran bantuan ke rakyat di Acheh, bukan didasarkan atas tindakan kebijaksanaan seratus persen politik, melainkan didasarkan atas kebijaksanaan bantuan kemanusiaan. Yang bego dan gombal adalah pihak RI dan TNI-nya yang ketakutan terus oleh pihak TNA. Sehingga dimanfaatkan untuk pembagian bantuan bagi rakyat Acheh korban gempa dan tsunami dengan pertimbangan politik gombal penjajahan. Jadi, apa yang kalian Muba katakan: "Kemaren ada berita bahwa AS salah ngedrop bantuan, bukannya ke rakyat Aceh, tapi ke GPK. Trus ketika sudah tahu itu salah, mereka nyesel loh, dan janji nggak ngulang kesalahan lagi. Nah, apa ini artinya AS ngedukung GPK? "

Itu tandanya bahwa pihak RI dan TNI-nya memang telah melakukan seratus persen bantuan pihak asing untuk kepentingan politik penjajah RI. Mana tahu itu pihak relawan militer dan sipil Amerika bahwa, yang ini orang ASNLF, yang itu bukan anggota ASNLF, kalau tidak dicekoki oleh pihak gombal TNI di lapangan.

Kalian Muba, memang buta dan budek kalau membaca cerita tentang Acheh yang ditulis di media massa negara penjajah RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 3 Feb 2005 17:20:27 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: MUBA ZR ITU PIHAK RYACUDU DAN SUTARTO MANA BERHASIL MENGHANCURKAN ASNLF
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

1. Tak perlu kamu mengajari aku bahasa Indonesia. Aku cuma menyatakan bahwa awal kalimat kamu: "Jelaslah bahwa sumitro itu mengekor", itu not make sense. Harusnya kamu mengawalinya dengan analisa, misalnya: "Perkataan Sumitro itu adalah bla bla bla dan mengacu kepada ilmu bla bla bla itu dikatagorikan sebaga bla bla bla. Karena itu JELASLAH bahwa bla bla bla. Kamu bisa melakukan analisa nggak? Atau cuma ngumpulin bahan bacaan yang sudah layak masuk keranjang sampah seperti Renville itu.

2. Rasanya tidak pernah tuh TNI-Polri yang perkasa itu kalang kabut oleh GPK yang nggak tahu banyak tentang taktik perang (dan nggak pernah tahu untuk apa mereka perang). Dalam setiap pertempuran, selalu saja banyak GPK yang konyol. Ya, konyol, karena mereka tidak tahu untuk apa dan untuk siapa perang. Mereka dicekoki tentang syahid membela Tiro banci itu. Ya, Tiro banci, karena dia tidak pernah mau menginjakkan kakinya di "tanah airnya" (wah, idungmu pasti mengembang aku bilang "tanah air" itu, ha ha. kuaciaaan ddeehhh.

3. Kamu belum menjawab pertanyaanku: Apa faktanya bahwa rakyat Aceh itu sudah memilih lepas dari NKRI. Punya data? Sudah survey? Berapa margin errornya? Tahu margin error nggak sih? Beda loh dengan margarin, apalagi dengan bemo, jauh sekali bedanya. Aku punya banyak sahabat orang Aceh, bahkan awal tahun 90-an aku sempat kerja di Aceh selama setahun (di Rantau, Kuala Simpang). Waktu itu banyak bangkai GPK. Nggak ada yang ngambilin tuh, busuk begitu aja dikeruti laler. Itu pertanda masyarakat Aceh nggak peduli kepada GPK. Mereka memang benci GPK yang selalu mengganggu ketenangan hidup mereka. Jad mana data kamu itu?

4. Pemakaian kata "abdul" di depan asmaul husna, kan aku udah bilang, kenapa menjelaskan yang sudah jelas? Apa itu saja bisamu? Kata-kata pujian Abdullah Syafei yang konyol itu kepada Tiro yang banci itu, menggunakan asmaul husna (tanpa ada "abdul"-nya loh, dia bahkan menyebutnya dengan awalan "al", definite prefix itu, just for Allah), belum kamu bahas sih? Trus terang memang aku meragukan keislaman kalian, para GPK Stockholm itu yang enak-enakan di sono sementara "rakyatnya" (ha ha, jangan ngembang lagi idungmu) disuruh pegang AK-47. dan begitulah, karena memang latihannya kurang, akhirnya satu persatu mati konyol.

5. Eh, tahu nggak? Kemaren ada berita bahwa AS salah ngedrop bantuan, bukannya ke rakyat Aceh, tapi ke GPK. Trus ketika sudah tahu itu salah, mereka nyesel loh, dan janji nggak ngulang kesalahan lagi. Nah, apa ini artinya AS ngedukung GPK? Hi hi.

6. Bentar lagi petinggi-petinggi GPK di Stockholm itu akan berhasil diringkus, dan (mauku sih) diserahkan kepada rakyat Aceh, biar dikuliti. Gitu kan kemajuan penyelidikan Tiro banci yang membuat keonaran di Aceh NKRI..? Kamu mau kemana kalo Tiro dkk ketangkep? Jadi penjual kacang rebus aja deh, kan kamu punya banyak kertas-kertas tak berguna dan sudah lapuk. Ha ha.

Gitu dulu deh.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Perancis
----------