Stockholm, 7 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA MAKIN KEPEPET TIDAK TAHU BAGAIMANA MEMBELA YUDHOYONO UNTUK TERUS MENJAJAH ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN MAKIN JELAS ITU MUBA YANG MENYURUK DI PARIS MAKIN KEPEPET TIDAK TAHU BAGAIMANA MEMBELA YUDHOYONO UNTUK TERUS MENJAJAH ACHEH

"Basi basi !! Kamu cuma mengulang-ulang sejarah yang tak berguna dan tidak diakui satu negarapun di dunia ini. Fakta menunjukkan bahwa RI diterima jadi anggota PBB tanpa syarat. Jadi, negara aceh merdeka itu mimpi. Hoi bangun !. Tiro banci yang sekarat itu dibebaskan karena alasan kemanusiaan, bukan karena bukti kesalahan dia nggak mendukung. Orang yang bentar lagi mati mau diadili, jelas Swedia tidak mau ambil resiko dicaci orang-orang kalo Tiro banci sekarat itu mati di kursi pengadilan. Ini Fakta loh, alasan kemanusiaan !! Jangan geer dong. Ih, memalukan. Eh, kalo dia mati, yang gantiin siapa? Kamu? Jelas nggak mungkin, wong kualitasmu hanya penjual kacang rebus kok.!"(Muba ZR, mbzr00@yahoo.com , Sun, 6 Feb 2005 17:01:26 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Membaca tanggapan Muba Jawa satu ini, makin kelihatan dengan jelas bahwa Muba memang sudah kepepet dalam usaha membela dan membantu Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto, Widodo Adi Sutjipto yang mereka juga sama-sama orang Jawa, untuk terus berusaha setengah mati mempertahankan Negeri Acheh yang telah dirampok ditelan, diduduki, dan dijajah Soekarno dengan RIS-nya, agar supaya tetap berada dalam dekapan selimut gombal UU No.18/2001 dan tetap berada dalam sangkar rapuh RI jelmaan NKRI melalui sulapan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 melalui tangan Soekarno.

Nah, ketika Ahmad Sudirman telah melambungkan kronologis jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Asaat atau Negara RI Bagian RIS atau Negara RI hasil leburan RIS atau Negara RI yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, ternyata itu Muba Jawa ini tidak mampu memberikan tanggapannya yang memiliki dasar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas dan terang tentang Negeri Acheh merupakan bagian jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI ini. Selain Muba Jawa ini hanya memberikan komentar singkat: "Ha ha Basi basi !! Kamu cuma mengulang-ulang sejarah yang tak berguna dan tidak diakui satu negarapun di dunia ini."

Jelas, dengan tampilnya tanggapan singkat dari Muba yang otaknya sudah jadi otak udang, memang mudah saja menjawab kronologis jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Negeri Acheh hanya dengan menyatakan: "Ha ha Basi basi !!". Persis seperti itu wartawan gombal Jawa Pos Matius Dharminta, yang juga tidak mampu memberikan kronologis jalur pertumbuhan dan pekembangan Negara RI dihubungkan dengan Negeri Acheh.

Kemudian, mengenai syarat untuk menjadi anggota PBB, itu sebagaimana yang tertuang dalam Resolusi DK PBB No. 86 tahun 1950 yang diadopsi pada tanggal 26 September 1950 menjadikan dasar "Article 4 of the Charter of the United Nations". Jadi bukan tanpa syarat untuk menjadi anggota PBB. Hanya itu syarat yang diajukan oleh pihak DK PBB telah diolah sedemikian rupa oleh Soekarno, dimana agar upaya pihak Negara RI Negara Bagian RIS yang menelan Negara-Negara Bagian RIS lainnya, dan mencaplok Negeri Acheh serta Republik Maluku Selatan yang ada diluar de-jure dan de-facto RIS tidak akan menjadi suatu hambatan, maka usaha untuk menjadi anggota PBB ditunggu sampai usaha penelanan dan pencaplokan 15 Negara bagian RIS selesai, dan pencaplokan Negeri Acheh dan Republik Maluku Selatan tuntas.

Dengan dasar itulah mengapa Soekarno bersama RIS-nya (bukan RI) telah diakui kedaulatannya oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, yang didalamnya tidak termasuk Negeri Acheh, karena Negeri Acheh berada diluar wilayah de-facto dan de-jure Negara RI dan bukan anggota Negara federasi RI (RIS)

Dimana itu syarat untuk menjadi anggota PBB adalah "1. Membership in the United Nations is open to all other peace-loving states which accept the obligations contained in the present Charter and, in the judgment of the Organization, are able and willing to carry out these obligations. 2. The admission of any such state to membership in the United Nations will be effected by a decision of the General Assembly upon the recommendation of the Security Council." (Article 4 of the Charter of the United Nations)

Nah agar Negara RI dimasukkan kedalam golongan "a peace-loving State", maka itu Soekarno Cs menjadikan untaian kata yang merupakan dasar hukum Negara RI sebagai daya tarik untuk mengikat para anggota Dewan Keamanan PBB yang berbunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan"

Memang dari Resolusi DK PBB No. 86 tahun 1950 yang diadopsi pada tanggal 26 September 1950 telah terpancar gambar peta wilayah RI hasil leburan RIS, ditambah dengan Negeri Acheh dan Republik Maluku Selatan yang dicaplok Soekarno.

Dimana batas RI ditunjukkan dalam gambar peta yang menyangkut beberapa bekas Negara dan Daerah Bagian RIS yang telah dilebur kedalam isi perut Negara RI, yaitu di Pulau Jawa meliputi wilayah Negara Pasundan, wilayah Negara Jawa Timur, dan Daerah Yogyakarta (Daerah wilayah kekuasaan RI-Jawa-Yogya, menurut perjanjian Renville) Jawa Tengah. Terus meluas ke wilayah Negara Indonesia Timur, kemudian wilayah Negara Madura, tembus ke Pulau Sumatra yang meliputi wilayah Negara Sumatra Selatan dan Negara Sumatera Timur. Lalu masuk wilayah Daerah Riau, menjalar ke wilayah Daerah Bangka, masuk ke wilayah Daerah Belitung. Seterusnya masuk Kalimantan yang meliputi wilayah Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Daerah Kalimantan Tenggara dan Daerah Kalimantan Timur.

Nah itulah gambar peta wilayah RI secara de facto dan de jure menurut hasil penelanan dan peleburan sampai tanggal 19 Mei 1950. Dan pada tanggal 14 Agustus 1950 itu Negeri Acheh yang berada diluar Negara bagian RI tidak luput menjadi sasaran politik ekspansi wilayah made in Soekarno ini. Kemudian pada tanggal 15 Agustus 1950 itu Soekarno sebagai Presiden RIS menjelmakan Negara bagian RI yang telah gemuk itu menjadi NKRI.

Nah sekarang, itu Negeri Acheh yang telah ditelan Soekarno dengan memakai tangan RIS dan mulut Sumatera Utara ini, dan yang telah dilaporkan kepada DK PBB sebagai wilayah miliknya, dan tentu saja, itu pihak anggota DK PBB, yang telah berhasil ditipu oleh Soekarno, meloloskan RI sebagai anggota PBB ke-60. Tetapi, tiga tahun kemudian, 20 September 1953, itu Teungku Muhammad Daud Beureueh menyatakan secara jelas dan terang pembebasan Negeri Acheh dari pengaruh dan kekuasaan Negara Pancasila dengan Maklumatnya yang berbunyi:

Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam. Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja.

1. Djangan menghalang2i gerakan Tentara Islam Indonesia, tetapi hendaklah memberi bantuan dan bekerdja sama untuk menegakkan keamanan dan kesedjahteraan Negara.
2. Pegawai2 Negeri hendaklah bekerdja terus seperti biasa, bekerdjalah dengan sungguh2 supaja roda pemerintahan terus berdjalan lantjar.
3. Para saudagar haruslah membuka toko, laksanakanlah pekerdjaan itu seperti biasa, Pemerintah Islam mendjamin keamanan tuan2.
4. Rakjat seluruhnja djangan mengadakan Sabotage, merusakkan harta vitaal, mentjulik, merampok, menjiarkan kabar bohong, inviltratie propakasi dan sebagainja jang dapat mengganggu keselamatan Negara.
Siapa sadja jang melakukan kedjahatan2 tsb akan dihukum dengan hukuman Militer.
5. Kepada tuan2 bangsa Asing hendaklah tenang dan tentram, laksanakanlah kewadjiban tuan2 seperti biasa keamanan dan keselamatan tuan2 didjamin.
6. Kepada tuan2 yang beragama selain Islam djangan ragu2 dan sjak wasangka, jakinlah bahwa Pemerintah N.I.I. mendjamin keselamatan tuan2 dan agama jang tuan peluk, karena Islam memerintahkan untuk melindungi tiap2 Umat dan agamanja seperti melindungi Umat dan Islam sendiri. Achirnja kami serukan kepada seluruh lapisan masjarakat agar tenteram dan tenang serta laksanakanlah kewadjiban masing2 seperti biasa.

Negara Islam Indonesia

Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja.
MUHARRAM 1373
Atjeh Darussalam
September 1953

Nah dari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum ini, jelas itu Negeri Acheh telah dimaklumatkan secara jelas dan gamblang oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh keluar dari Negara pancasila atau Negara RI atau NKRI dan membentuk Negeri yang bebas dari cengkraman Soekarno.

Dengan lahirnya Maklumat NII di Acheh ini, membuktikan bahwa Negara RI yang telah dilaporkan kepada pihak DK PBB dengan dasar fakta, bukti, sejarah dan hukum yang tidak benar dan penuh dengan kelicikan, maka akhirnya terbongkar dan terbuka ke dunia inernasional.

Dari mulai sejak itulah terbongkar kelicikan dan penipuan yang dilakukan oleh Soekarno dengan RIS-nya dan RI-nya dan mengakibatkan bumerang bagi para penerusnya sampai detik sekarang ini.

Kemudian, proses perjuangan rakyat Acheh terus berlangsung sampai detik sekarang ini. Walapun NII yang telah menjelma menjadi RIA menyerah kepada Soekarno bulan Desember 1962, tetapi Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah mendeklarkan ulang Negara Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan asing RI yang berpusat di Jakarta. Dan perjuangan pembebasan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ASNLF-nya masih terus berlangsung sampai detik sekarang ini. Wilayah Negeri Acheh masih berada dalam pendudukan dan penjajahan RI, dan rakyat Acheh dengan ASNLF-nya masih terus berjuang untuk tegaknya Negeri Acheh yang bebas merdeka dari cengkaraman penjajah RI.

Seterusnya, itu Muba Jawa ini menyinggung: "Tiro banci yang sekarat itu dibebaskan karena alasan kemanusiaan, bukan karena bukti kesalahan dia nggak mendukung. Orang yang bentar lagi mati mau diadili, jelas Swedia tidak mau ambil resiko dicaci orang-orang kalo Tiro banci sekarat itu mati di kursi pengadilan. Ini Fakta loh, alasan kemanusiaan!! Jangan geer dong. Ih, memalukan. Eh, kalo dia mati, yang gantiin siapa? Kamu? Jelas nggak mungkin, wong kualitasmu hanya penjual kacang rebus kok.!"

Jelas, Muba Jawa gombal, agar supaya pihak Megawati waktu itu sebagai Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, Noer Hassan Wirajuda, Da'i Bahtiar melalui tangan Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand tidak kehilangan muka, maka dinyatakan bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro dibebaskan karena kesehatan, padahal sebenarnya karena memang fakta dan bukti hukum yang disodorkan pihak RI adalah lemah dan keropos. Mengapa ? Karena memang fakta dan bukti hukumnya sama dengan yang disodorkan untuk menjerat Teungku Zaini Abdullah dan Teungku Malik Mahmud. Dimana Teungku Zaini Abdullah dan Teungku Malik Mahmud sebulan sebelumnya sudah dibebaskan oleh Tim Hakim dari segala tuduhan yang dilancarkan ole pihak RI.

Seterusnya, soal estapet kepemimpinan ASNLF itu kalian Muba tidak perlu tahu, itu semua urusan ASNLF. Kalian boleh saja komentar dari luar, karena itu hak kalian untuk bercuap.

Seterusnya lagi itu Muba Jawa gombal menyambung lagi: "Perdana menteri" dan "menlu" gerombolan itupun belum bebas Mad, tuduhan belum dicabut, tunggu aja tanggal mainnya, ha ha. Ini juga FAKTA, jaksa bilang kasusnya belum ditutup kan? Kamu loh yang bilang jangan nuduh aku ya."

Kalau memang belum dicabut, memang itu merupakan alasan politis saja. Buktinya, mana itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf kalla, Noer Hassan Wirajuda, Da'i Bahtiar menampilkan dan menyodorkan bukti dan fakta hukum baru yang kuat kepada pihak Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand. Yang jelas, itu Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf kalla, Noer Hassan Wirajuda, Da'i Bahtiar bukan mengumpulkan fakta dan bukti hukum baru yang kuat, melainkan mereka justru berunding dengan pihak ASNLF di Helsinki 28-29 Januari 2005 dan mengakui status ASNLF sebagai suatu wadah perjuangan pembebasan Negeri Acheh.

Kan gombal jadinya, kalau itu Muba Jawa satu ini masih juga ngotot mau mempertahankan penjeratan kepada pihak petinggi ASNLF. Karena memang fakta dan buktinya, itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf kalla, Noer Hassan Wirajuda, Da'i Bahtiar melalui juru rundingnya justru saling bertatap muka membicara perdamaian di Acheh di Helsinki, Finlandia.

Kemudian, karena memang itu Muba Jawa gombal ini sudah tidak mampu lagi mencari alasan lain yang kuat, akhirnya hanya mampu menyatakan: "Tokyo, Geneva, dll jadi tempat "perundingan" (jijik aku nulis kata "perundingan" ini kalo harus dikaitkan dengan gerombolan pengacau keamanan rakyat aceh), bukan berarti Jepang dan Swiss mendukung apalagi mengakui gerombolan. Mana ada sih negara yang mau berhubungan dengan gerombolan? Gaya jualan kalian nggak meyakinkan sih. Tapi bisa dimengerti sih, wong kualitas penjual kacang rebus kok."

Nah kan kelihatan itu Muba Jawa gombal otaknya memang otak udang. Mana ada negara internasional yang mendeklarkan bahwa ASNLF adalah gerombolan atau teroris. Belum pernah ada, kecuali itu pihak Jenderal Ryamizard Ryacudu dengan Raider gombalnya. Mengapa ? Karena sekarang itu Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf kalla, Noer Hassan Wirajuda, Da'i Bahtiar justru melakukan perundingan dengan ASNLF. Jadi memang hanya Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu satu itu yang tetap gombal dan ngotot untuk terus berperang di Acheh dan membunuh rakyat Acheh, yang didukung pula oleh Muba Jawa gombal itu.

Kemudian masih itu Muba Jawa memberikan komentar: "Kamu boleh menganggap pemilu 2004 tidak sah (Gus Dur juga bisa kok nganggap begitu loh), tapi fakta menunjukkan partisipasi rakyat Aceh RI tinggi, tinggi sekali. Ha ha. Kuacian deh kamu maunya kamu kan rakyat Aceh boikot itu pemilu. Hua ha ha. Rakyat Aceh itu pro RI, Mad, kecuali gerombolannya yang mungkin hanya 1% dari seluruh rakyar Aceh. Seneng aku dengan fakta ini."

Kalian memang budek dan buta Muba Jawa. Itu Pemilu legislatif 5 April 2004 di Negeri Aceh adalah Pemilu tipuan dan akal bulus saja, karena jelas itu Keppres No.28 Tahun 2003 dan Keppres No.43 Tahun 2003 yang dijadikan dasar pijakan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya pada waktu itu. Dimana itu Mayjen TNI Endang Suwarya dengan seenak udelnya sendiri melakukan tekanan dan ancaman, siapa yang tidak ikut mencoblos itulah anggota GAM. Nah, cara-cara itulah yang dilakukan pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh ketika Pemilu legislatif 5 April 2004 di Negeri Aceh berlangsung. Jadi, mana itu pemilu namanya, kalau Endang Suwarya yang orang Sunda itu main ancam dan gertak kepada rakyat Acheh untuk ikut mencoblos. Karena itu, kalau itu Muba Jawa menyatakan: "partisipasi rakyat Aceh RI tinggi, tinggi sekali" itulah pernyataan gombal model Soekarno penipu licik.

Kemudian lagi itu Muba Jawa yang berkomentar: "Kamu itu geer banget sih dengan "perundingan" seperti ini. Menhankam RI (yang termasuk Aceh itu, Mad catet ini baik-baik aku ulangi ya RI yang termasuk Aceh !!) sudah bilang akan menolak kasus ini diinternasionalisasi."

Jelas, Muba Jawa, itu yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kelahiran Ciamis, Jawa barat ini, yang menyatakan: "Jangan terlalu khawatir ada upaya untuk internasionalisasikan Aceh" (Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Rabu, 2 Februari 2005) menggambarkan bahwa sebagai taktik untuk meredam orang-orang model Muba Jawa yang otaknya telah penuh dengan racun gombal sejarah Acheh made ini Soekarno. Mengapa ? Karena itu Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono hanya mengikut apa kata Susilo Bambang Yudhoyono saja dalam soal perundingan RI-ASNLF. Jadi, kalau itu Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan maju berunding di Helsinki, jelas itu Juwono Sudarsono tidak akan menolaknya. Nah, dengan disuruhnya atau keluarnya perintah untuk berunding dengan pihak ASNLF membuktikan bahwa persoalan konflik Acheh harus diselesaikan bukan melalui orang yang ada di Acheh, melainkan dengan pemimpin tertingi ASNLF yang ada dipengasingan di Swedia.
 

Jadi, Muba Jawa, sekali lagi, itu Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyatakan: "Jangan terlalu khawatir ada upaya untuk internasionalisasikan Aceh" adalah bukan berani atau tidaknya menyatakan pernyataan itu. Melainkan itu pernyataan adalah disesuaikan dengan apa yang telah diputuskan oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden.

Dan Muba budek, justru dengan lahirnya perintah untuk berunding dari pihak Susilo Bambang Yudhoyono kepada tiga menterinya, itu menandakan bahwa masalah konflik Acheh memang tidak bisa diselesaikan dengan cara dalam negeri. Kalau memang itu konflik Acheh bisa diselesaikan dalam negeri, itu jelas sudah lama di Acheh pihak TNI tidak lagi ditempatkan di Acheh dan melakukan pembunuhan terhadap rakyat Acheh. Tetapi kenyataanya tidak demikian. Tetap saja lebih dari 50.000 pasukan non-organik TNI ditempatkan di Acheh untuk melakukan pembunuhan dan pendudukan di Negeri Acheh.

Dibandingkan dengan Amerika menyerang Irak dan mendudukinya sampai detik ini. Jelas itu penyerangan George W.Bush terhadap Irak dengan alasan gombal Saddam Husein membuat senjata pemusnah dan membantu teroris, jelas itu alasan gombal yang tidak kuat. Dan ditentang di DK PBB. Tetapi itu George W. Bush memang keras kepala, terus saja melakukan serangan ke Irak. Mentang-mentang negara super power. Dan apa yang terjadi sampai detik ini di Irak, jelas itu tidak seperti yang diduga oleh George W. Bush yang penuh kebohongan dan penipuan tentang demokrasi di Irak, adanya senjata pemusnah buatan Saddam Husein di Irak. Semuanya hanya bualan kosong George W. Bush yang mengambil faktanya dari hasil kumpulan CIA-nya.

Begitu juga dengan pendudukan dan pemusnahan Putin terhadap Chehnya. Itu merupakan tindakan pendudukan dan penjajahan yang jelas ditentang oleh dunia internasional. Tetapi, celakanya itu Putin hanya menutup mata saja, mentang-mentang punya senjata nuklir.

Juga oleh serbuan Inggris terhadap Argentina mengenai konflik Falkland yang masing-masing saling mengklaim. Tetapi yang jelas, siapa yang memiliki kekuatan senjata dan pasukannya maka itulah yang menang. Dan itu diselesaikan bukan dengan perundingan, melainkan melalui moncong senjata dan kanon.

Seterusnya itu Muba gombal menulis: "Orang Aceh kan nyumbang Seulawah buat kemerdekaan RI. Inget nggak? Dari emas rakyat Aceh loh. Begitu cintanya saudaraku rakyat Aceh itu (kecuali para pedagang kacang rebusnya, hiy jijay aku kalo harus barsaudara sama gerombolan itu amit-amit jabang tutuka) kepada NKRI kan. Ini fakta. Tentang Seulawah ini diajarkan loh di pelajaran sejarah SD."

Disinilah rupanya itu pelajaran tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh dengan hanya memberikan cerita "Orang Aceh kan nyumbang Seulawah buat kemerdekaan RI. Dari emas rakyat Aceh"

Tetapi, itu sejarah tidak membeberkan secara keseluruhan dan secara kronologis, melainkan hanya mencomot yang dianggap menguntungkan Soekarno saja. Padahal kalau diteliti secara mendalam bahwa itu sumbangan yang berupa bantuan finansial untuk membeli 2 buah pesawat bukan suatu fakta dna bukti hukum yang bisa menjadikan dasar hukum Acheh masuk wilayah RI.

Coba saja, apakah ketika NKRI yang dibentuk dari bekas Negara/Daerah bagian Republik Indonesia Serikat dan penelanan Negeri Acheh pada tangal 14 Agustus 1950 didasarkan kepada dasar hukum yang berisikan karena dengan adanya bantuan finansial untuk membeli 2 buah pesawat, maka itu Negeri Acheh merupakan bagian dari Negara RI Negara bagian RIS ?. Kan tidak ada itu dinyatakan demikian oleh Soekarno. Yang ada adalah itu Soekarno mengeluarkan dasar hukum sepihak PP RIS No.21/1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi pada tanggal 14 Agustus 1950.

Jadi, sebenarnya itu bantuan dari pihak Acheh kepada pihak RI ketika pihak RI telah terpepet akibat serangan Dr Beel ke wilayah RI di Yogyakarta. Dan juga setelah perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948. Dimana ternyata wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-jure Negara RI adalah di Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Jadi, akibat dari ditandatangani Perjanjian Renville inilah kekuasaan wilayah RI hanya di Yogyakarta dan daerah sekitarnya, dan daerah wilayah Negeri Acheh berada diluar wilayah kekuasaan de-facto Negara RI.

Kemudian ketika RI sudah terkurung dan memang sudah lemah, maka itu Soekarno datang berkunjung ke Acheh pada tanggal 17 Juni 1948, lima bulan setelah ditandatanginya perjanjian Renville, yang secara de-facto dan de-jure antara Negara RI dengan Negeri Acheh tidak punya hubungan struktur pemerintahan. Karena Negara RI secara de-facto dan de-jure wilayahnya tidak melingkupi wilayah Negeri Acheh. Ketika Soekarno datang ke Acheh pada saat itu untuk "mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Acheh untuk menyelamatkan Republik Indonesia", karena Negara RI sudah digencet dan terkurung di Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Tentu saja, karena Soekarno meminta pertolongan, maka pihak rakyat Acheh memberikan bantuan. Dimana bantuan keuangan dalam bentuk emas agar bisa dijual, dimana hasil penjualan emas itu bisa dipakai untuk membeli pesawat. Jadi kalau dilihat dari sudut hukum, itu bantuan keuangan untuk membeli pesawat bukan merupakan bukti hukum Negeri Acheh masuk kedalam wilayah RI. Itu hanya merupakan rasa solidaritas rakyat Acheh kepada Soekarno dengan RI-nya dan orang Jawa-nya di Yogyakarta.

Seterusnya lagi itu Muba Jawa menyatakan: "kamu tahu kan, para "perunding" pihak kamu dulu akhirnya sekarang di Sukamiskin. Iya, dipenjara. Gampang banget loh, ketika mau berangkat melakukan perundingan, ditangkaplah mereka. Ya memang gampang dan sah kok. Mereka kan bukan warga negara Swedia, dan jelas-jelas termasuk gerombolan. Tapi, toh tak ada satupun negara yang protes? Itu Fakta loh, fakta bahwa tak ada negara yang mendukung apalagi mengakui gerombolan.!!"

Muba Jawa, itu kalau Ahmad Sudirman melihat bahwa memang pihak Presiden Megawati pada waktu itu, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu , Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada waktu itu, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung pada waktu itu, Ketua MPR Amien Rais pada waktu itu, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong pada waktu itu secara sepihak telah mengagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 diganti dengan penerapan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang telah ditetapkan beberapa hari sebelum perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 dilaksanakan.

Nah ketika perundingan itu digagalkan pihak RI, kemudian pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya yang dibantu oleh Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh waktu itu telah menangkap para Juru Runding ASNLF, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe, Teungku Sofyan Ibrahim Tiba, Teungku Nasruddin Ahmad, Teuku Kamaruzzaman SH, Teungku Amni Ahmad Marzuki.

Dimana para Juru Runding ASNLF, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe, Teungku Sofyan Ibrahim Tiba, Teungku Nasruddin Ahmad, Teuku Kamaruzzaman SH, Teungku Amni Ahmad Marzuki telah diajukan kedepan Pengadilan Negeri Banda Aceh dan dijatuhkan hukuman penjara antara 12 sampai 15 tahun penjara karena telah didakwa melakukan tindak pidana makar yang melanggar Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang, pasal 6,7,8,9,10,11,12,15 dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan dipidana sebagai pelaku tindak pidana: mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta (KUHP, pasal 55, ayat 1 ke-1). Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka dijatuhkan hanya satu pidana. Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancam terhadap perbuatan itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana yang trerberat ditambah sepertiga. (KUHP, pasal 65, ayat 1, ayat 2).

Nah sekarang, para juru runding ASNLF yang tertangkap dan diadili itu memang para pejuang rakyat Acheh yang sedang memperjuangkan Negeri Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Kemudian soal dijatuhi hukuman oleh pihak Pengadilan Negeri Banda Aceh, itu adalah sama dengan dijatuhi hukuman oleh pihak penjajah RI.

Pihak penjajah RI bisa saja seenak udel menangkap, memenjarakan, membunuh rakyat Acheh dan menjajah Negeri Acheh. Hanya cukup dengan memakai dasar hukum gombal
Undang-Undang RI Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, menjadi Undang-Undang, dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Kemudian, jelas ada protes dari pihak dunia inernasional seperti dari pihak Senat Amerika, pada tanggal 28 Juni 2004, yang menulis surat ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan yang sebagian isinya:

"Tuan Sekretaris Jenderal Yang Terhormat, Kami menulis surat ini untuk mendesak Tuan supaya mengangkat seorang Wakil Khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Indonesia bagi memantau dan melaporkan keadaan di Acheh dan di Papua. Wakil Khusus ini nantinya akan memberikan rekomendasi kepada Dewan Keamanan PBB (Security Council) dan Majlis Umum (General Assembly) dalam langkah-langkah yang mungkin diambil untuk menghentikan konflik yang sangat merisaukan dan banyak membawa maut yang terus membakar kawasan-kawasan tersebut itu.).

Di Acheh, sejak pemberlakukan Darurat Militer selama setahun yang berakhir bulan Mei lalu dan dilanjutkan dengan Darurat Sipil, telah jatuh korban jiwa yang sangat luar biasa. Walaupun sangat sulit sekali untuk mengetahui jumlah pasti korban penahanan dan pembunuhan sewenang-wenang yang terjadi, laporan-laporan saksi menunjukkan bahwa lebih dari 2000 orang telah terbunuh sejak tahun lalu, kebanyakannya penduduk sipil. Tim ad-hoc Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia (Komnas HAM) untuk Acheh baru-baru ini melaporkan bahwa "adanya serangan terhadap masyarakat sipil tidak bersenjata, para korban dibunuh, disiksa, dilecehkan secara seksual dan diperkosa, terdapat juga korban-korban lainnya dari kalangan yang dinyatakan pemberontak yang belum diputuskan kedudukannya oleh pengadilan".

Laporan itu juga menjelaskan adanya penculikan, pelecehan terhadap anak-anak, pembakaran dan perampokan. Tim ad-hoc Komnas HAM menuduh bahwa kekerasan ini sebagian besar dilakukan oleh Tentara dan Polisi Indonesia, termasuk oleh pejabat tinggi militer dan sipil, walaupun beberapa kematian dituduhkan juga kepada Gerakan Acheh Merdeka. Konflik Acheh juga telah menyebabkan terjadinya aliran pengungsian secara besar-besaran ke negara-negara tentangga, sementara beribu-ribu lainnya tetap berada sebagai pengungsi di dalam negeri mereka sendiri. Walaupun Darurat Militer secara resmi telah dicabut, namun kehadiran tentara dalam jumlah yang sangat besar masih berlanjut, demikian pula dengan larangan-larangan yang diberlakukan selama Darurat Militer. (United States Senate, Washington, DC 20510, June 28, 2004) ( http://www.dataphone.se/~ahmad/040702.htm )

Ternyata akhirnya terbongkar juga kejahatan pelanggaran hak asasi manusia yang telah dijalankan oleh Pemerintah RI dan TNI-nya dalam bentuk serangan terhadap masyarakat sipil tidak bersenjata, para korban dibunuh, disiksa, dilecehkan secara seksual dan diperkosa, korban-korban lainnya dari kalangan yang dinyatakan pemberontak yang belum diputuskan kedudukannya oleh pengadilan, adanya penculikan, pelecehan terhadap anak-anak, pembakaran dan perampokan.

Terakhir, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ahmad Sudirman sebelum ini, bahwa bagi rakyat Acheh yang ada di luar Acheh telah berusaha untuk ikut membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Melalui saluran dan kanal-kanal tertentu yang penting sampai kepada yang memerlukan bantuan. Pihak rakyat Acheh yang ada diluar Acheh tidak perlu menggembar gemborkan bantuan, yang terang dan penting, bantuan itu harus sampai dan diterima oleh yang memerlukannya. Dan seluruh rakyat Acheh yang ada di luar Acheh merasa ikut berduka dengan adanya musibah gempa dan tsunami ini. Semoga Allah SWT dengan telah ditimpakannya musibah ini menjadi pelajaran besar bagi pihak Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Endriartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu, Da'i Bahtiar, Agung Laksono, untuk menyadari bahwa dengan melakukan salah satunya tindakan menyesatkan umat Islam Acheh dengan melalui penetapan UU No.18/2001 dan pembunuhan rakyat Acheh dan penjajahan di Negeri Acheh adalah benar-benar suatu malapetaka bagi pihak sipembuat UU No.18/2001 dan si penjajah dan juga tentu saja bagi orang yang dipaksa untuk mematuhinya yang dipaksa untuk tunduk kepada pihak penjajah RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 6 Feb 2005 17:01:26 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: MUBA TERUS TERSUNGKUR KARENA MEMAKAI ALASAN GOMBAL UNTUK PERTAHANKAN ACHEH DALAM DEKAPAN YUDHOYONO
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, narastati@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, mitro@kpei.co.id

Ha ha Basi basi !! Kamu cuma mengulang-ulang sejarah yang tak berguna dan tidak diakui satu negarapun di dunia ini.

1. FAKTA menunjukkan bahwa RI diterima jadi anggota PBB tanpa syarat. Jadi, negara aceh merdeka itu mimpi. Hoi banguuuunnn !!

2. Tiro banci yang sekarat itu dibebaskan karena alasan kemanusiaan, bukan karena bukti esalahan dia nggak mendukung. Orang yang bentar lagi mati mau diadili, jelas Swedia tidak mau ambil resiko dicaci orang-orang kalo Tiro banci sekarat itu mati di kursi pengadilan. Ini FAKTA loh... alasan kemanusiaan..!! Jangan geer dong... Ih, memalukan... Eh, kalo dia mati, yang gantiin siapa? Kamu? Jelas nggak mungkin, wong kualitasmu hanya penjual kacang rebus kok.!

3. "Perdana menteri" dan "menlu" gerombolan itupun belum bebas Mad, tuduhan belum dicabut, tunggu aja tanggal mainnya, ha ha. Ini juga FAKTA, jaksa bilang kasusnya belum ditutup kan? Kamu loh yang bilang jangan nuduh aku ya.

4. Tokyo, Geneva, dll jadi tempat "perundingan" (jijik aku nulis kata "perundingan" ini kalo harus dikaitkan dengan gerombolan pengacau keamanan rakyat aceh), bukan berarti Jepang dan Swiss mendukung apalagi mengakui gerombolan. Mana ada sih negara yang mau berhubungan dengan gerombolan? Gaya jualan kalian nggak meyakinkan sih. Tapi bisa dimengerti sih, wong kualitas penjual kacang rebus kok.

5. Kamu boleh menganggap pemilu 2004 tidak sah (Gus Dur juga bisa kok nganggap begitu loh), tapi FAKTA menunjukkan partisipasi rakyat Aceh RI tinggi, tinggiiiiii sekaliiii. Ha ha. Kuaciaaaaan deh kamu maunya kamu kan rakyat Aceh boikot itu pemilu. Hua ha ha. Rakyat Aceh itu pro RI, Mad, kecuali gerombolannya yang mungkin hanya 1% dari seluruh rakyar Aceh. Seneng aku dengan FAKTA ini.

6. Kamu itu geer banget sih dengan "perundingan" seperti ini. Menhankam RI (yang termasuk Aceh itu, Mad catet ini baik-baik aku ulangi ya RI yang termasuk Aceh !!) sudah bilang akan menolak kasus ini diinternasionalisasi. Nah, kalo memang RI itu invader terhadap Aceh, mana berani Menhankam bilang begitu? Eh, masalah "pencaplokan" RI atas Aceh yang aku bandingkan dengan Irak, Argentina, dan Rusia, kok nggak ditanggapi? Wah wah curang kamu. Nggak aci dong nggak boleh gicu. Nggak bisa nanggepin ya? Udah deh kalo gitu jangan sok ngomong sejarah, kan aku udah bilang, jadilah kamu tukang kacang rebus yang baik, dengan menjadikan kertas-kertas usang sejarah yang sudah ketinggalan jaman itu sebagai bungkusnya. Inget pesanku, ya Nak He he. Itu FKTAA (tuh kan, aku jadi salah deh nulisnya, maksudku FAKTA) bahwa RI tidak pernah mencaplok Aceh.

7. Orang Aceh kan nyumbang Seulawah buat kemerdekaan RI. Inget nggak? Dari emas rakyat Aceh loh. Begitu cintanya saudaraku rakyat Aceh itu (kecuali para pedagang kacang rebusnya, hiiiyyy jijay aku kalo harus barsaudara sama gerombolan itu amit-amit jabang tutuka) kepada NKRI kan. Ini FAKTA. Tentang Seulawah ini diajarkan loh di pelajaran sejarah SD. Kuaciaaaann deh kamu, tidak bisa memberikan indoktrinasi kepada generasi muda penerus perjuangan. Coba deh kreatif dikit, tulis sejarah versi kalian, terus bukunya usulkan ke Mendiknas RI, ha ha (kalo menteri itu ada negaranya, Mad, bukan cuma corat-coret di kertas... kalo gitu sih aku juga bisa... nih dengerin: "Saudara Ahmad Sudirman saya tetapkan sebagai Menmud Urjanmud". Nah, resmi tuh kamu jadi menteri. Bilang sana sama Tiro bahwa kamu udah diangkat jadi menteri oleh Presiden Muba. Nggak perlu ada negara lah, wong Tiro juga begitu. Tapi, tahu nggak urusan kamu sebagai Menmud Urjanmud? Iya, Menteri Muda Urusan Janda Muda, hua ha ha. Atau kamu pilih jadi Menteri Kewanitaan? Menteri Muda Urusan Perdagangan Wanita, ha ha Siapapun bisa NGARANG, Mad. Nah, itu tadi contonya, aku ngarang sebagaimana Tiro mengarang).

8. Eh, kamu tahu kan, para "perunding" pihak kamu dulu akhirnya sekarang di Sukamiskin. Iya, dipenjara. Gampang banget loh, ketika mau berangkat melakukan perundingan, ditangkaplah mereka. Ya memang gampang dan sah kok. Mereka kan bukan warga negara Swedia, dan jelas-jelas termasuk gerombolan. Tapi, toh tak ada satupun negara yang protes? Itu FAKTA loh, FAKTA bahwa tak ada negara yang mendukung apalagi mengakui gerombolan...!! Buka dong mata kamu...!! Kamu minus berapa sih? Apa tambah silindris atau trapesium? Ha ha.

9. Waduh, kamu tega bener sih, masa "rakyatmu" kena tsunami cuma bisa sedih doang? Masa sih nggak bisa ngapa-ngapain? Eh, Mad, aku bilangin ya, hidup ini harus terdiri dari 3 hal: upaya, doa, tawakal. Tidak boleh hilang salah satunya. Sedih tidak termasuk loh. Nah, ada upaya kamu untuk rakyat Aceh? Ada doamu? Ada tawakalmu? Aku haqqul yaqin itu Tiro dkk bakal dikuliti orang Aceh kalo berani datang ke sana. YOU DID NOTHING FOR THEM, MAN. FOR MY BELOVED BROTHERS. Aku di sini ikut nyumbang dan juga bergerak dengan anak-anak PPI Paris UNTUK ACEH KAMI !!! Jadi, kalo kamu DID NOTHING, mana mungkin kalian menjadi kebanggan mereka. Andaikan SBY hari ini bilang: "Ya, Tiro boleh menjadi presiden Aceh", pasti rakyat Aceh berontak. Wong FAKTA menunjukkan partisipasi politik mereka untuk NKRI kok iya, lewat pemilu itu. Nggak ada tuh peserta pemilu Aceh yang protes dengan UU Pemilu. Kalian aja yang nggak tahu apa-apa yang protes itu. Kamu dengan protesmu itu "persis kayak onta", kata Gombloh almarhum. Iya, dengan muka ditekuk, geram tapi tak ada daya dan pendukung. Kuaciaaaaan deh.

10 Apalagi ya? Coba deh kamu baca baik-baik postinganku yang sebelum-sebelumnya. Banyak yang belum ditanggapi tuh!! Otakmu terbatas ya? Mangkanya jangan NGEHAYAL melulu, lakukan yang konstruktif, misalnya ah, jangan tersinggung ya yaitu tadi, jualan kacang rebus, hua ha ha.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------