Stockholm, 7 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

AKHIRNYA MEMANG ITU MUBA TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TERBUKTI AKHIRNYA ITU MUBA ZR JAWA MEMANG TIDAK MAMPU MEMPERTAHANKAN ACHEH

"Mad Kamu coba deh baca yang baik itu berita. Ngerti nggak maksudnya? Itu pertemuan informal, bukan "berunding". Apa yang perlu dirundingkan? Perundingan itu (bah ! aku jadi benci dengan kata "perundingan" ini jadinya gara-gara kamu sih Mad) bisa terjadi kalo ada dua belah pihak yang bersengketa dan keduanya punya bargaining position yang seimbang. Nah, kalian, gerombolan warga negara Swedia yang bikin rakyat Aceh selama 30 tahun (menurut Sofyan Djalil yang Aceh) atau 50 tahun (claim penulis skenario tooneel yang hidup mewah di Stockholm), mana punya itu bargaining position? Wong cuma belasan orang aja teriak-teriak kok diambil pusing. Delegasi RI cukup ngomong ke kalian, "Mau terima otonomi nggak? "Kalo kamu jawab "Tidak", delegasi RI cuma cukup bilang: "Ya sudah, artinya kamu memang mmm apa ya yang tepat untuk kalian bodoh, pandir, pemimpi, atau ya, pokoknya yang kayak gitu deh!" (Muba ZR, mbzr00@yahoo.com ,Mon, 7 Feb 2005 09:19:00 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Muba Jawa, kalian memang makin pusing tujuh keliling, kehabisan pegangan, tidak ada lagi yang dapat kalian jadikan alasan dasar untuk bisa menumbangkan ASNLF wadah perjuangan pembebasan Negeri Acheh yang ditelan, diduduki dan dijajah RI.

Dari apa yang kalian kemukakan Muba Jawa, memang kelihatan bahwa kalian itu memang otak kalian otak udang, sehingga tidak mampu mencerna dan melihat lebih kedalam arti, maksud, tujuan dari perundingan Helsinki 28-29 tersebut.

Muba Jawa, itu kalau Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil mengatakan bahwa pertemuan atau pembicaraan atau perundingan antara RI dengan ASNLF di Helsinki sifatnya tidak formal atau informal, itu tidak mengurangi pentingnya isi dan bobot dari pertemuan atau pembicaraan atau perundingan antara RI dengan ASNLF yang formal.

Justru yang biasa terjadi dalam dunia diplomasi bahwa pertemuan atau pembicaraan atau perundingan yang informal inilah yang menjadi batu titian untuk dijadikan landasan berjalan bagi pihak-pihak yang berkepentingan ketika sudah saatnya dilakukan pertemuan atau pembicaraan atau perundingan yang formal. Artinya, kesepakatan yang diambil dan ditandatangani berdasarkan apa yang telah dibicarakan atau dirundingkan sebelumnya yang sifanya informal.

Jadi, Muba Jawa gombal, itu pertemuan atau pembicaraan atau perundingan antara RI dengan ASNLF di Helsinki sifatnya tidak formal atau informal perlu dilakukan bukan hanya sekali goyang, melainkan perlu berkali kali dalam upaya untuk menerobos jaringan pemisah yang sudah sedemikian kuat untuk bisa diterobos dengan hanya satu kali terobosan.

Karena itulah, Muba Jawa gombal, kedua belah pihak melakukan penjajagan babak pertama melalui tatap muka dan bicara langsung berhadapan muka, tidak lagi melalui mediator.

Nah dalam cara pertemuan atau pembicaraan atau perundingan demikianlah yang bisa diharapkan membuka jalan dan mengenyampingkan rambu-rambu yang tadinya menghalangi jalan yang akan dilalui, agar supaya dengan mudah dapat dilalui sehingga bisa menemukakan hasil yang mengarah kepada jalur kesamaan yang bisa memberikan ketenangan, keamanan dan ketemtraman seluruh rakyat Acheh di Acheh.

Dengan dasar inilah mengapa itu Susilo Bambang Yudhoyono walapun ia mencoba untuk tidak terlalu berani maju kedepan dengan meninggalkan pegangan UU No.18/2001-nya, tetapi dengan menampilkan pikirannya yang mengarah kepada perlu adanya persiapan agenda yang lebih matang. Itu menggambnarkan bahwa perlu dari kedua belah pihak mempersiapkan agenda-agenda yang lebih jelas, konkrit dan terarah yang bisa menyatukan berbagai jalur menjadi satu arah jalur menuju kepada perdamaian yang bisa memberikan rasa aman dan damai bagi seluruh rakyat Acheh.

Begitu juga dengan Sofyan Djalil, yang juga orang Acheh telah berusaha menerobos jaringan-jaringan kuat yang ada didalam negeri, maupun yang ada di luar negeri, sehingga ia menyatakan: "tidak mungkin masalah Aceh yang sudah hampir tiga dekade ini akan selesai dalam satu pertemuan saja" (Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil, Komisi I DPR di ruang Komisi I, gedung DPR, Jakarta, Senin, 7 Februari 2005).

Munculnya pemikiran Sofyan Djalil didepan Komisi I DPR tersebut menggambarkan bagaimana susah dan sukarnya untuk membuka tabir hitam penutup jalan yang sudah sedemikian lama tidak bisa ditembus oleh kedua belah pihak, RI dan ASNLF.

Jadi Muba Jawa, kalau memang kalian ingin melihat keadaan damai dan aman di Acheh, kalian itu jangan picik dalam melihat konflik Acheh. Jangan hanya mengekor saja kepada apa yang telah dipropagandakan tentang Negeri Acheh oleh mbahmu Soekarno penipu licik yang konyol.

Kemudian Muba Jawa, kalau kalian hanya mengikuti jalur pikiran yang tanpa didasari oleh kemampuan nalar kalian yang tinggi tentang akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, maka kalian Muba Jawa budek akan mudah tergelincir kedalam jalur pikiran gombal seperti yang kalian tampilkan dimimbar bebas ini dengan bunyi: "kalian, gerombolan warga negara Swedia yang bikin rakyat Aceh selama 30 tahun (menurut Sofyan Djalil yang Aceh) atau 50 tahun (claim penulis skenario tooneel yang hidup mewah di Stockholm), mana punya itu bargaining position? Wong cuma belasan orang aja teriak-teriak kok diambil pusing. Delegasi RI cukup ngomong ke kalian, "Mau terima otonomi nggak? "Kalo kamu jawab "Tidak", delegasi RI cuma cukup bilang: "Ya sudah, artinya kamu memang mmm apa ya yang tepat untuk kalian bodoh, pandir, pemimpi, atau ya, pokoknya yang kayak gitu deh!"

Muba Jawa, karena kalian memang kalau bercuap hanya sekedar bercuap, sehingga ketika berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas inipun tidak kepalang tanggung dengan pikiran kalian yang cetek : "mana punya itu bargaining position? Wong cuma belasan orang aja".

Nah Muba Jawa, itu istilah bargaining position yang kalian tampilkan ini, justru kalau pihak Susilo Bambang Yudhoyono cs mempertimbangkannya adalah berbeda dengan hasil kesimpulan yang kalian Muba Jawa gombal tampilkan disini.

Itu Susilo Bambang Yudhoyono melihat posisi RI dan ASNLF adalah dua kubu yang seimbang dalam hal posisi untuk mempertahankan masing-masing kekuatan dan taktik strategi mengenai konflik Acheh ini. Dengan fakta dan bukti yang jelas bahwa selama lebih dari setengah abad itu konflik Acheh tidak bisa diselesaikan dengan tuntas, aman dan damai.

Dengan melihat latar belakang inilah mengapa itu Susilo Bambang Yudhoyono melakukan langkah yang oleh pihak model-model Muba Jawa tidak akan pernah bisa dimengerti dan dipahami.

Itu Susilo Bambang Yudhoyono telah meluncurkan taktik dan strategi dengan mengirimkan kekuatan menteri-menterinya untuk siap mengadu kekuatan di meja perundingan atau pertemuan atau pembicaraan menghadapi pihak ASNLF yang sampai detik sekarang ini masih tetap wujud tanpa tergoyahkan baik dilapangan militer maupun di dunia politik dan hukum.

Selanjutnya, itu Muba Jawa yang memang otaknya sudah dipenuhi oleh racun-racun sejarah gombal Acheh yang disebar luaskan oleh Soekarno ini dengan pengklaiman dan pengakuan itu Negeri Acheh telah menjadi milik mbahnya Soekarno dan bagian RI, walapun dalam kenyataannya itu Negeri Acheh masih tetap menjadi wilayah konflik yang tidak berkesudahan, masih tetap saja bercuap: "Mad. Sudah berulang kali aku katakan, itu mimpimu itu aneh bin ajaib! Wong rakyat Aceh tenang-tenang aja, kok ini belasan warga negara Swedia menginginkan Aceh merdeka. Landasannya hanya sejarah usang"

Kelihatan disini itu Muba Jawa memang dalam melihat konflik Acheh hanya melihat diatas permukaan saja, sehingga dengan seenak udelnya sendiri menyatakan bahwa rakyat Aceh tenang-tenang aja, hanya belasan warga negara Swedia menginginkan Aceh merdeka.

Nah disini, makin kelihatan itu Muba Jawa ini memang bicara di mimbar bebas tidak lebih dan tidak kurang hanya untuk mencoba memberikan suara dukungan kepada pihak Soekarno dan para pendukungnya agar dengan segala cara untuk tetap mempertahankan Negeri Acheh yang telah dirampas, ditelan dan diduduki oleh Soekarno penipu licik dengan RIS-nya itu, dengan harga dan cara apapun.

Karena itu wajar saja kalau itu Muba Jawa ini ketika mencoba untuk mempertahankan Acheh hanya bercuap-cuap tanpa isi, dan mendasarkan garis pertahanannya kepada apa yang telah dilakukan oleh mbahnya Soekarno yang secara mentah-mentah telah mengunyah Negeri Acheh masuk kedalam usus Negara RI-nya. Sehingga ketika mendengar dan membaca bahwa ada orang yang melakukan usaha pelurusan dan pembetulan dari setiap langkah Soekarno cs dalam hal kebijaksanaan ekspansi politiknya terhadap Negeri Acheh yang dihubungkan dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI, maka langsung saja itu Muba Jawa gombal berteriak: "Landasannya hanya sejarah usang".

Nah dengan dilambungkannya alasan "Landasannya hanya sejarah usang", itu menggambarkan bahwa memang Muba Jawa ini tidak mampu memberikan kontra alasan yang bisa dijadikan sebagai senjata untuk dipakai menandingi kekuatan argumentasi yang telah dilambungkan di mimbar bebas oleh Ahmad Sudirman.

Jelas, bagi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila telah memiliki cara taktik dan strategi sendiri dalam usaha menghadapi penjajah RI, dan usaha memperjuangkan kemerdekaan negeri Acheh dari kungkungan dan penjajahan pihak RI. Taktik dan strategi perjuangan untuk pembebasan Negeri Acheh adalah disesuaikan dengan taktik dan strategi para endatu rakyat Acheh dari sejak perjuangan awal menghadapi para penjajah sebelum RI, yaitu Portugal, Belanda dan Jepang.

Karena itu kalau itu Muba Jawa bercuap-cuap dan membandingkan dengan Argentina, Irak, Palestina, Chehnya, jelas itu cuapan Muba Jawa hanyalah menunjukkan bagaimana sebenarnya ia tidak bisa melihat dan membedakan dalam usaha untuk melihat masing-masing kekhususan dalam hal perjuangan dari masing rakyat yang sedang membebaskan negerinya dari pendudukan dan penjajahan penjajah. Teungku Hasan Muhammad di Tiro mempunyai taktik dan strategi tersendiri dalam perjuangan membebaskan Negeri Acheh. Yasser Arafat almarhum, sekarang diteruskan oleh Mahmud Abbas memiliki taktik dan strategi sendiri dalam usaha memperjuangkan Negeri Palestina. Syamil Basayev mempunyai taktik dan strategi sendiri dalam memperjuangkan Negeri Chahnya dari pendudukan dan penjajahan Rusia. Nur Misauri memiliki tantik dan strategi tersebdiri dengan Moro National Libaration Frotn-nya. Jadi masing-masing pemimpin pergerakan kemerdekaan memiliki sifat dan ciri-cirinya tersendiri. Satu sama lain berbeda. Tetapi ada kesamaannya yaitu memerdekakan negerinya masing-masing dari penjajah yang menjajah negerinya.

Kemudian itu soal dukungan dari pihak pemerintahan asing kepada pihak ASNLF jelas itu sudah banyak buktinya. Contohnya saja bagaimana itu Pemerintah Finlandia melalui Menteri Luar Negeri Erkki Tuomioja yang telah mendukung dan memberikan jaminan keamanan, akomodasi untuk terselenggaranya perundingan RI-ASNLF dari 27 sampai 29 Januari 2005 yang dipasilitasi oleh mantan Presiden Martti Ahtisaari dengan Crisis Management Initiative (CMI). Bukan hanya dari pihak Pemerintahan Finlandia saja, melainkan juga dari pihak Pemerintah Swedia yang memberikan kemudahan dan kelancaran bagi tim juru runding ASNLF untuk menjalankan misinya di Helsinki.

Jadi, sebenarnya itu semua merupakan satu fakta dan bukti bahwa pihak asing telah memberikan bantuan, sokongan, dorongan kepada ASNLF untuk menjalankan dan melaksanakan perundingan damai di Acheh.

Kemudian kalau itu 20 orang para Senator AS menulis surat kepada Sektretaris Jenderal PBB Koffi Annan 28 Juni 2004, tentang desakan mereka untuk mengangkat seorang Wakil Khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Indonesia bagi memantau dan melaporkan keadaan di Acheh dan di Papua. Jelas, usaha dari pihak Asing, dalam hal ini pihak Senator AS membuktikan bagaimana sebenarnya mereka melihat keadaan di Acheh dan Papua hubungannya dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang diakibatkan oleh adanya kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan Pihak RI di Acheh dan di Papua.

Tentu saja terlaksananya itu permohonan para Senator AS ini tergantung kepada pihak Sekjen PBB Konfi Annan. Tetapi kalau memang pihak Megawati yang waktu itu sebagai Presiden dan Noer Hassan Wirajuda sebagai Menteri Luar Negeri tidak memberikan respon positif, itu memang haknya Megawati dan Noer Hassan Wirajuda. Tetapi, hakekatnya, justru dari pihak asing ada usaha dan langkah yang telah dilakukan untuk membantu menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di Acheh dan di Papua.

Selanjutnya Muba Jawa, kalau kalian mengatakan: "shummum bukmum 'umyun fahum la yarji'un (Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar)" (QS Al Baqaraah, 2: 18). Nah ini ayat yang diturunkan di Yatsrib setelah Rasulullah saw membangun Daulah Islam pertama di Yatsrib. Kemudian kalau dihubungkan dengan kelakuan Soekarno dan para penerusnya dalam hal penjajahan di Negeri Acheh, maka itu para penerus Soekarno termasuk Muba Jawa ini setelah diberitahukan bahwa apa yang telah dibuat oleh Soekarno terhadap Negeri Acheh adalah suatu pelanggaran hukum internasional dan nasional dan telah memporak porandakan rakyat muslim Acheh dari sejak Teungku Muhammad Daud Beureueh dan dilanjutkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan menduduki serta menjajah Negeri Acheh, tetapi para penerus Soekarno termasuk Muba Jawa ini tetap saja budek alias tuli, bisu alias bicaranya ngaco hanya sekedar cuap-cuap saja, dan mata buta alias tidak bisa melihat akar utama timbulnya konflik Acheh yang sebenarnya, dimana yang terlihat hanya itu kelakuan busuk dan jahat Soekarno menelan dan mencaplok Negeri Acheh dengan melalui tangan RIS yang dianggapnya perbuatan dan kebijaksaan ekspansi politik yang baik dan bisa diterima.

Terakhir itu Muba Jawa menyatakan: "Aku tak perlu bersusah payah mempertahankan Aceh dalam NKRI. Aku hanya berusaha menyadarkan seseorang yang mengaku muslim. That's all. Rakyat Aceh sendiri telah memilih NKRI."

Nah Muba Jawa, kalau kalian memang sudah tidak mempunyai lagi dasar argumentasi yang benar dan jelas dalam hal Acheh hubungannya dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI, maka memang wajar kalian Muba Jawa menyatakan: "Aku tak perlu bersusah payah mempertahankan Aceh dalam NKRI". Karena kalau juga kalian mencoba untuk mempertahankan dan menolong itu Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu atau Jenderal TNI Endriartono Sutarto mempertahankan Acheh, tetap saja kalian Muba Jawa, kalian akan tersungkur kelembah hitam pekat sistem thaghut pancasila hasil kutak-katik Soekarno. Kemudian kalau sekarang kalian Muba Jawa menyatakan: "Aku hanya berusaha menyadarkan seseorang yang mengaku muslim" Jelas, itu bisa diterima, kalau juga kalian Muba Jawa menyadari bahwa dengan kalian memberikan dukungan terhadap terlaksananya dan diterapkannnya dasar hukum gombal yang menyesatkan UU No.18/2001 di Acheh adalah juga kalian telah ikut besama-sama pihak Susilo Bambang Yudhoyono menjerumuskan rakyat muslim Aceh kelembah kesesatan. Coba baca lagi itu isi UU No.18/2001, kalau kalian Muba Jawa tidak paham apa yang dikatakan Ahmad Sudirman ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 7 Feb 2005 09:19:00 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: SOFYAN DJALIL KELAHIRAN PEUREULAK ACHEH TIMUR POSITIF BERUNDING DENGAN ASNLF DI HELSINKI
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, narastati@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, mitro@kpei.co.id

Mad, Mad Kamu coba deh baca yang baik itu berita. Ngerti nggak maksudnya? Itu pertemuan informal, bukan "berunding". Apa yang perlu dirundingkan? Perundingan itu (bah..! aku jadi benci dengan kata "perundingan" ini jadinya gara-gara kamu sih Mad) bisa terjadi kalo ada dua belah pihak yang bersengketa dan keduanya punya bargaining position yang seimbang.

Nah, kalian, gerombolan warga negara Swedia yang bikin rakyat Aceh selama 30 tahun (menurut Sofyan Djalil yang Aceh) atau 50 tahun (claim penulis skenario tooneel yang hidup mewah di Stockholm), mana punya itu bargaining position? Wong cuma belasan orang aja teriak-teriak kok diambil pusing. Delegasi RI cukup ngomong ke kalian, "Mau terima otonomi nggak? "Kalo kamu jawab "Tidak", delegasi RI cuma cukup bilang: "Ya sudah, artinya kamu memang mmm apa ya yang tepat untuk kalian bodoh, pandir, pemimpi, atau ya, pokoknya yang kayak gitu deh!

Gini loh, Mad. Sudah berulang kali aku katakan, itu mimpimu itu aneh bin ajaib! Wong rakyat Aceh tenang-tenang aja, kok ini belasan warga negara Swedia menginginkan Aceh merdeka. Landasannya hanya sejarah usang, persis yang dipake alasan oleh Irak waktu menyerang Kuwait dan Argentina waktu menyerang Falkland. Belasan orang Mad kalian itu, CUMA BELASAN ORANG. Lagian kalian tidak tinggal di Aceh "berjuang bersama rakyat Aceh", ha ha. Wong orang Aceh tentrem aja kok. Kamu contoh tuh para pejuang kemerdekaan yang berjuang di tengah2 rakyatnya: Arafat dari Palestina, Shamil Basayev dari Chehnya, Nur Misauri dari Moro. Basayev sampai diamputasi tuh kakinya kena pelor. Tiro? Dia bentar lagi mati karena kekenyangan dan kebanyakan tidur. Nah, kalian enak-enakan hidup tenang di negeri kaya? Gimana mau bisa ngerasain sedih rakyat Aceh? Atas bencana tsunami aja kamu cuma bilang: "Kami seperti rakyat Aceh lainnya juga merasa sedih" Cuuuiiihh ! Katanya berjuang untuk rakyat Aceh. Buang itu ambisi tak masuk akal itu untuk menjadi seorang presiden, perdana menteri, menlu, dan menmud urjanmud di sebuah negara itu. Wong upaya kalian itu nol. YOU DID NOTHING FOR MY BELOVED PEOPLE IN ACEH. You are chicken, man!

Aku jadi penasaran dengan mimpi dan corat-coret kertas kamu itu. Aku yakin kamu itu lulusan cinematografi ya? Skenariomu itu nyaris sempurna, cuma dikit aja kelemahannya, tidak masuk akal! Seenak udelnya ngomong tentang proklamasi, wali negara, perdana menteri, menlu, kudeta, perubahan radikal. Kan semuanya omong kosong, hanya ada di kertas kalian. Aku kan bisa melakukan hal yang sama. Sudah kamu lapor ke Tiro bahwa kamu sekarang jadi Menmud Urjanmud Kabinet Muba? Hm, kamu sekarang harus sopan kepada presidenmu ini, oke?

Kalian sama sekali tidak mendapat dukungan dari negara manapun. Mana itu nota diplomatik yang mengatakan Jepang, Swiss, bahkan Swedia mendukung kalian? Kamu tahu nota diplomatik? Pasti tidak tahu kan? Nggak mungkin lah kalian tahu itu, wong nerima aja nggak pernah, kan? Mana ada negara yang mau ngirim nota diplomataik ke sekelompok pemain tooneel. Paling kamu berkirim-kiriman "nota tooneel" dengan yang sebaya dengan kamu, yaitu gerombolan warga negara Belanda yang meng-claim sebagai RMS. Wah, pada mimpi kalian. Tapi lumayanlah, ada temen tuh. Orang Jawa bilang harus "eman-eman" agar temen satu itu nggak kabur dari kamu, habislah kamu.

Oke, kamu bangga ada yang kontak dengan PBB yang mengatakan: "Kami khawatir dengan situasi di Aceh dengan operasi militer yang meningkat", seperti postingmu itu. Aku nggak tahu, apa itu dikumen benar-benar ada apa nggak. Tapi, okelah, tarohlah itu ada (nah, kurang gimana baik aku kan?), trus apa apresiasi isi kontak itu terhadap kalian? Nggan ada, Mad. Paling follow up-nya ke RI kan? Tapi mereka juga nggak bisa menekan RI, wong seluruh dunia mengakui Aceh sebagai bagian integral RI. Tidak ada satu negarapun yang mempermasalahkan integritas Aceh ini.

Trus kamu bilang tentang kasus Falkland: "Yang menang ya yang militernya lebih kuat". Sepertinya kamu mendukung Argentina. Masuk akal sih, karena kalian dan Argentina dalam kasus Falkland, ada kasamaan, kalian mendasarkan ambisi kalian pada sejarah usang, persis seperti claim Argentina itu. Tapi jangan salah loh, TNI itu tidak kuat-kuat amat, tapi kenapa tidak terjadi penyerangan ke RI oleh negara apapun atas kelakuan RI "menginvasi" Aceh? Biasanya USA, sang kampiun demokrasi itu, pasti deh nyerang. Dia kan gatelan, kayak perempuan Yahudi yang membuat Tiro banci itu pernah takluk padanya. Ini FAKTA apa, Mad? Fakta TNI paling kuat sedunia sehingga tidak ada yang berani nyerang RI? Atau fakta bahwa invasi itu tidak pernah ada? Kamu tahu, TNI bukan yang terkuat di dunia, jadi kesimpulannya? Ah, masa sih hal cetek begini kamu tidak bisa menyimpulkan.

Aku khawatir kalian itu yang dimaksudkan Allah dalam Al-Baqarah 18: Summum bukmum 'umyun fahum la yarji'un. Think about that carefully, jangan menyesal nanti di akhirat. Kelakuan dan ambisi kalian telah membuat banyak sekali rakyat Aceh yang tak berdosa mati sia-sia. Termasuk "tentara" kalian yang menjadi sasaran empuk TNI. Aku ingatkan lagi, jangan salahkan serdadu TNI. "Serdadu itu seperti peluru, tekan picu melangkah tak ragu". Tapi jangan khawatir, setiap "tentara" kalian terbunuh, pasti TNI memperlakukan mayat itu dengan layak, paling tidak menyerahkannya kepada keluarganya.

Oh ya. Aku tak perlu bersusah payah mempertahankan Aceh dalam NKRI. Aku hanya berusaha menyadarkan seseorang yang mengaku muslim. That's all. Rakyat Aceh sendiri telah memilih NKRI. Don't forget the fact: "Hampir seluruh rakyat Aceh ikut dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden kemaren". Mereka menitipkan harapannya kepada para anggota legislatif dan presiden pilihan pribadinya. NOT TO YOU !!! So, your game is over.!

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------