Stockholm, 8 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

FAUZAN TAMPILKAN UANG CINA JAJAH KABINET YUDHOYONO SAMA DENGAN CINA JAJAH RI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MENURUT FAUZAN DI TURKI UANG CINA JAJAH KABINET SUSILO BAMBANG YUDHOYONO SAMA DENGAN CINA JAJAH RI

"Bung Ahmad, akar masalah lebih dari soal legal bung. Konstitusi terlalu abstrak. Kabinet dan presiden juga nga peduli itu. Mereka fokus ekonomi. Dibidang ini dominasi uang Cina jajah kabinet--bukan soal ras tapi serakah akan duit. Itu akar masalah. Ganti konstitusi Indonesia dng konstitusi US tidak menolong. Krn soal utama sekarang transnasional--kuasa segelintir taipan atas lembaga pemerintah lewat loby2 dan orang2 kunci. Semua orang kunci Indonesia di perbankan, kehakiman, kepolisian, di legislatif dll ditangan Cina. Cina2 it bicara ttg management dan paradigma Sun Tzu. Mereka tidak kelihatan tapi ada di mana2, Tidak muncul tapi kuasai semua. Ini sumber akar kekalahan 200 juta melayu muslim di Indonesia yang bicara monoton soal negara Islam melulu." (Fauzan, fzn_1@yahoo.com , Tue, 8 Feb 2005 00:28:31 -0800 (PST))

Baiklah saudara Fauzan di Istanbul, Turki.

Kelihatan itu saudara Fauzan menampilkan akar masalah orang Cina menjajah Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono karena para anggota Kabinet serakah akan uang, sehingga hidung para anggota Kabinet, seperti Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie cs bisa ditarik oleh para taipan baik yang ada di Jakarta atau yang ada di Singapura, dan akibatnya itu Susilo Bambang Yudhoyono pusing tujuh keliling untuk menjerat para taipan tersebut kalau tidak menandatangani perjanjian ekstradisi Singapura-RI.

Kalau memang itu gambaran yang ditampilkan oleh saudara Fauzan tentang orang Cina menjajah RI yang akar utama penyebab penjajahan Cina itu karena pihak anggota kabinet telah bisa dibeli oleh para taipan Jakarta dan Singapura, satu-satunya jalan adalah diberlakukan hukuman mati untuk para koruptor dan para penerima suap dari para taipan tersebut.

Masa hukuman mati hanya berlaku kepada orang yang menyelundupkan narkoba saja. Coba itu buat dasar hukum tentang KKN dengan hukuman maksimal hukuman mati. Sekarang itu hukuman bagi orang koruptor paling hanya beberapa tahun saja. Sudah dijatuhi hukuman, masih juga orang yang dijatuhi hukuman ongkang-ongkang dilaur LP. Persis seperti dagelan gombal saja.

Memang disini ada permasalahan yang ganda, yaitu pertama pelaksana hukum masih hijau matanya kalau melihat sodoran buntelan uang dari para taipan. Kedua, karena memang itu dasar hukum untuk KKN adalah sangat ringan.

Ahmad Sudirman mendengar di Turki yang sekuler itu juga sama dengan di RI mengenai masalah korupsi, dan Kabinet Turki dikuasai orang-orang mafia Turki.

Kalau di Swedia, mana bisa hidup itu para taipan, paling itu taipan-taipan dari mbahnya Yahudi dari Negara-negara Eropah yang sebelum pecah perang Dunia I sudah beremigrera ke Swedia. Hanya itu para taipan Yahudi ini dalam praktekya berhadapan dengan benteng tangguh hukum yang pelaksanaannya konsekwen dijalankan. Jadi sangat susah itu para taipan Yahudi bergerak main suap-sogok di Swedia seperti yang dilakukan oleh para taipan di Jakarta.

Jadi, saudara Fauzan, untuk memberantas para taipan Jakarta ini memang jalannya harus mencontoh cara-cara yang dlakukan di negara-negara yang tingkat korupsinya rendah atau nol, seperti di Swedia, Norwegia, Swiss, Finlandia.

Jangan meniru cara-cara pemberantasan taipan seperti di Turki atau di negara-Negara Amerika Latin dan di Afrika sana.

Memang hukuman bagi para KKN di Swedia tidak sampai hukuman mati. Karena itu orang-orang Swedia alergi hukuman mati. Tetapi, yang paling ampuh untuk memberantas KKN dan suap-sogok para taipan ini adalah kontrol keuangan harus ketat, ditambah para pelaksana hukum dan kotrol itu sendiri harus sudah diberi obat pahit kalau melihat buntelan uang yang disodorkan oleh para taipan. Karena itulah di Swedia orang yang korupsi bisa dihitung dengan jari. Yang jelas itu Kabinet Swedia Goran Persson tidak ada yang bisa dikutak-katik dengan buntelan uang yang disodorkan oleh para taipan Yahudi.

Jadi saran Ahmad Sudirman, itu Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono harus belajar bagaimana memberantas para taipan dan para KKN kepada Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Swiss. Jangan belajar kepada Turki atau negara-negara Amerika latin lain-nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 8 Feb 2005 00:28:31 -0800 (PST)
From: fauzan 1 fzn_1@yahoo.com
Subject: Akar Masalah
To: ahmad@dataphone.se

Bung Ahmad,

Akar masalah lebih dari soal legal bung. Konstitusi terlalu abstrak. Kabinet dan presiden juga nga peduli itu. Mereka fokus ekonomi. Dibidang ini dominasi uang Cina jajah kabinet--bukan soal ras tapi serakah akan duit. Itu akar masalah.

Ganti konstitusi Indonesia dng konstitusi US tidak menolong. Krn soal utama sekarang transnasional--kuasa segelintir taipan atas lembaga pemerintah lewat loby2 dan orang2 kunci.

Semua orang kunci Indonesia di perbankan, kehakiman, kepolisian, di legislatif dll ditangan Cina.

Cina2 it bicara ttg management dan paradigma Sun Tzu. Mereka tidak kelihatan tapi ada di mana2, Tidak muncul tapi kuasai semua.

Ini sumber akar kekalahan 200 juta melayu muslim di Indonesia yang bicara monoton soal negara Islam melulu.

Wassalam

Fauzan

fzn_1@yahoo.com
Istanbul, Turki
----------