Stockholm, 8 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

AGOOSH ITU YUDHOYONO LAKUKAN DIPLOMASI TUTUPI ACHEH BUKAN BUKAKAN ACHEH KE DUNIA INTERNASIONAL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

AGOOSH YOOSRAN ITU SUSILO BAMBANG YUDHOYONO MELAKUKAN DIPLOMASI MENUTUPI ACHEH BUKAN MEMBUKAKAN ACHEH KE DUNIA INTERNASIONAL

"Masalah Aceh, terlepas dari adanya "pendzoliman" terhadap sejarah yang sesungguhnya dari asal muasal Aceh menjadi bagian NKRI, diplomasi Indonesia masih kurang terlihat di dunia internasional dibandingkan para petinggi ASNLF yang ada di Swedia sana. Lobby-lobby yang langsung ke negara-negara Eropa yang sangat baik, makin melemahkan posisi Indonesia di mata internasional. Hal ini lebih karena, bahwa masalah Aceh adalah masalah dalam negeri Indonesia. Menurut saya pribadi, hal tersebut adalah kesalahan terbesar Indonesia. Jika tidak dimulai sejak dini lobby-lobby para diplomat kita ke negara-negara atau lembaga-lembaga internasional, someday, saya yakin, jika jajak pendapat dilakukan di bumi Aceh, Aceh akan lepas dari Indonesia dan Indonesia akan menelan pengalaman pahit kedua setelah Timor Timur." (Agoosh Yoosran, a_yoosran@yahoo.com , Tue, 8 Feb 2005 00:45:52 -0800 (PST))

Baiklah saudara Agoosh Yoosran di Jakarta, Indonesia.

Membaca komentar saudara Agoosh Yoosran tentang kelemahan pihak RI di dunia internasional tentang posisi Acheh yang disebabkan oleh lemahnya lobby ke masyarakat inernasional.

Memang sebenarnya masalah Acheh ini adalah masalah internasional. Artinya bahwa konflik yang terjadi di Acheh telah menjadi isu internasional. Dimana masyarakat internasional telah ikut terlibat dalam masalah penyelesaian konflik Acheh ini. Seperti masalah perundingan di Geneva, Tokyo dan Helsinki. Disamping itu masyarakat dunia yang menjadi negera-negara donor bagi Indonesia sering mengajukan syarat penyelesaian konflik Acheh sebagai sarat untuk dapat diberi pinjaman bantuan guna menutupi defisit APBN. Seperti contohnya negara-negara kreditor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) yang salah satu negara kreditornya adalah Jepang dan Swedia itu dalam memberikan bantuan hutangnya kepada Indonesia untuk menutupi defisit APBN-nya, jelas itu didalamnya ada salah satu sarat mengenai penyelesaian konflik Acheh. Jadi, kalau masih juga ada orang yang memandang masalah Aceh adalah masalah domestik atau masalah dalam negeri Indonesia, maka pandangan orang tersebut memang masih sempit.

Adapun mengenai adanya kelemahan lobby dari pihak RI di dunia internasional tentang Acheh memang itu disebabkan oleh adanya sikap dari pihak RI yang menganggap masalah Acheh adalah masalah domestik. Jadi tidak perlu untuk diperdebatkan dan dibicarakan dalam pembicaraan internasional. Dan sikap ini timbul memang sejalan dengan kebijaksanaan polisi pihak RI yang berusaha untuk menutupi masalah Acheh agar tidak muncul kepermukaan.

Memang ada usaha-usaha dari pihak RI sejajar dengan diluncurkannya tentang keadaan Darurat Militer dan Darurat Sipil di Acheh yang perlu diberitahukan kepada negara-negara tentangga, tetapi itu sebatas pemberitahuan bahwa konflik Acheh adalah konflik internal Indonesia.

Nah, tentu saja, adanya usaha dari pihak RI untuk menjadikan masalah Acheh adalah masalah internal, dan sebisa mungkin apa yang terjadi di Acheh tidak bocor keluar, maka dikeluarkan Keppres No.43/2003. Kebijaksanaan politik dan keamanan tersebut menandakan bahwa pihak RI bagaimanapun berusaha untuk menyelesaikan konflik Acheh secara domestik.

Tetapi, sebaliknya dari pihak ASNLF yang berada diluar dan telah memiliki hubungan internasional yang sudah cukup baik. Dimana dunia internasional telah melihat kegiatan dan aktifitas politik dari ASNLF yang bertujuan untuk penentuan nasib sendiri di Acheh, sehingga membuka mata dunia internasional untuk bersama-sama menyelesaikan konflik Acheh ini. Sehingga lahirlah perundingan-perundingan yang dilaksanakan di Geneva, Tokyo dan Helsinki.

Dengan lahirnya kegiatan dan aktifitas politik ASNLF melalui kegiatan perundingan-perundingan tersebut makin membawa konflik Acheh keluar dari jalur domestik yang telah dipasang oleh pihak RI, sehingga akhirnya persoalan pemenyelesaian konflik Acheh tidak bisa hanya diselesaikan secara internal saja, melainkan harus secara internasional. Kenyataan politik ini telah disadari oleh pihak Susilo Bambang Yudhoyono. Apalagi setelah terjadi gempa dan tsunami di Acheh, dimana Consultative Group on Indonesia (CGI) telah banyak memberikan bantuan kepada pihak RI terutama dalam hal penutupan defisit APBN dan dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh. Apabila dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh ini mengalami hambatan keamanan disebabkan konflik Acheh masih terus berlangsung, maka jelas usaha rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh ini akan mengalami hambatan. Dan tentu saja pihak negara-negara donor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) yang dipelopori oleh Jepang dengan bantuan dan pemberian hutangnya paling besar kepada Indonesia menginginkan di Acheh secepatnya diselesaikan dengan cara aman dan damai.

Dengan dasar pertimbangan inilah mengapa itu Susilo Bambang Yudhoyono berusaha untuk secara cepat menyelesaikan konflik Acheh ini. Karena kalau tidak selesai konflik Acheh ini akan menyebabkan terganggunya rehabilitasi dan rekonstruksi Acheh pasca tsunami ini.

Kemudian saudara Agoosh menyinggung: "Dunia internasional, terutama negara-negara barat, sangat tidak suka jika ada sebuah negara (sebesar dan seluas Indonesia) menjadi rukun, damai dan sejahtera."

Ahmad Sudirman melihat bahwa pandangan saudara Agoosh ini sangat tidak beralasan. Karena tidak ada pemerintah di dunia ini yang ingin melihat timbulnya konflik dalam satu negara.

Justru yang menjadi kekhawatiran negara-negara diluar Indonesia dengan melihat apa yang terjadi di Acheh adala apabila konflik di Acheh terus berlangsung. Persoalan yang ingin dibantu penyelesaiannya adalah bagaimana dan dengan cara apa agar segera konflik di Acheh itu bisa diselesaikan secara aman dan damai. Dengan alasan inilah mengapa adanya usaha dunia internasional membantu terlaksananya perundingan di Geneva, Tokyo dan Helsinki itu.

Jadi, masyarakat Internasional bukan merasa tidak suka dan tidak senang kalau melihat Indonesia menjadi rukun. Justru sebaliknya negara-negara diluar Indonesia mengingin bahwa di RI menjadi aman dan damai. Permasalahannya adalah justru pihak RI sendirilah yang tidak mampu menciptakan perdamaian dengan cara aman dan damai di Acheh.

Sebagaimana yang telah berpuluh kali Ahmad Sudirman menjelaskan di mimbar bebas ini bahwa sampai detik sekarang ini antara RI dan ASNLF masih terdapat perbedaan yang sangat jauh tentang bagaimana menyelesaikan konflik Acheh ini. Dan sangat sulit untuk bisa disatukan dan dipecahkan dalam waktu yang sangat singkat atau hanya dengan beberapa kali pertemuan atau pembicaraan atau perundingan RI-ASNLF.

Karena itulah dalam usaha mendobrak rintangan-rintangan yang ada didepan jalan yang menuju kepada perdamaian harus setahap demi setahap perlu dibersihkan melalui cara pertemuan atau pembicaraan atau perundingan antara RI-ASNLF untuk mencapai kesepakatan timbulnya perdamaian di Acheh.

Selanjutnya saudara Agoosh menulis: "Buat mereka, akan lebih mudah menguasai Indonesia jika Indonesia tidak sebesar sekarang. Mereka akan lebih melakukan penetrasi jika berhadapan dengan raja-raja kecil daripada harus menghadapi satu raja besar. Contohnya Cina, Amerika pun tidak akan berani sewenang-wenang terhadap Cina. Kalau Indonesia sudah terbagi-bagi menjadi negara-negara kecil, maka dengan mudahnya imperialisme merajai bumi pertiwi ini."

Nah disini yang perlu diluruskan jalan pikiran saudara Agoosh adalah bahwa tidak ada negara di dunia ini yang akan melakukan tindakan militer berupa penyerangan terhadap negara lain tanpa adanya sebab yang bisa menggangu kestabilan internasional atau mengancam kestabilan keamanan negara tersebut. Misalnya Amerika merasa terancam keamanan internasional dan nasionalnya apabila Negara Korea Utara mengembangkan senjata nuklirnya yang diarahkan kepada keamanan Amerika. Begitu juga Amerika akan mendeklarkan perang kepada Cina apabila pertahanan senjata nuklir Cina diarahkan kepada pertahanan Amerika. Begitu juga Amerika akan menyerang Iran apabila Iran berhasil membangun senjata nuklirnya yang diarahkan kepada Amerika. Begitu juga seperti yang sudah terjadi Amerika telah menghancurkan pemerintahan Afghaniatan dibawah Taliban yang dianggap dan dituduh Amerika bahwa Afghanistan bersama al Qaida mengancam dan telah meluluhkan pertahanan Amerika. Begitu juga Irak diserang Amerika karena Amerika menganggap walaupun buktinya tidak benar bahwa Irak dibawah Saddam Husein mengancam keamanan Amerika dengan senjata pemunahnya, seperti dengan senjata kimia dan racun-nya.

Jadi, tidak akan ada satu negara asing yang akan menyerang RI kalau memang pihak RI tidak mengganggu keamanan internasional. Tetapi kalau pihak RI melakukan tindakan militer yang terus makin menggila di Acheh dan mengganggu kestabilan internasional di wilayah negara-negara tetangganya jelas hal ini akan menimbulkan ketegangan dan ketidak stabilan regional di wilayah Asia tenggara dan Asia Pasifik. Karena itu apabila masalah di Acheh sampai menimbulkan konflik yang meluas, maka Australia akan turun tangan dan Malaysia juga akan terlibat. Bukan hanya Australia dan Malaysia yang terlibat melainkan juga Jepang dan Amerika. Jepang dan Amerika mempunyai kepentingan yang besar di Acheh dengan gas dan minyak Acheh.

Karena itu bisa saja RI diserang oleh negara lain seandainya RI menciptakan konflik militer yang hebat di Acheh dan menggangu kestabilan keamanan dan ekonomi di wilayah Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

Terakhir saudara Agoosh menyatakan: "kenapa saya minta agar e-mail saya dihapus dari mailing list forum ini, adalah karena isi dari komentar-komentar Bapak, terasa kurang pas buat saya pribadi. Memang saya menyadari bahwa forum ini merupakan mimbar bebas, namun buat saya pribadi, etika berkorespondensi pun harus tetap dijaga.Kesan saya selama mengikuti forum ini adalah, Bapak terlalu mendikte orang lain yang mempunyai pemikiran berbeda dengan Bapak dengan menambahkan kata-kata hinaan seperti "budek", "otak udang", "orang jawa", "orang kristen" dan sebagainya itulah yang saya rasa kurang pas."

Memang secara sepintas komentar-komentar yang dilambungkan Ahmad Sudirman terasa kurang pas dan keras. Tetapi sebenarnya kalau ditelusuri lebih kedalam apa yang diungkapkan oleh Ahmad Sudirman yang diformulasikan dalam bentuk kata-kata yang kurang biasa didengar seperti kata "budek", "otak udang", "orang jawa", "orang kristen" adalah bukan merupakan kata-kata yang kurang pas dan kasar.

Sebenarnya kata-kata tersebut selalu dilambungkan Ahmad Sudirman karena memang kata-kata itu adalah kata-kata bisa. Tetapi karena memang jarang didengar dan ditulis, maka seolah-olah kata-kata itu kurang pas dan kasar. Misalnya itu pengertian kata "budek" sebenarnya sama dengan "tidak mendengar" alias "tuli". Jadi kalau Ahmad Sudirman mengatakan bahwa saudara Agoosh budek, itu sama juga dengan kalau Ahmad Sudirman mengatakan itu telinga saudara Agoosh sudah tersumbat racun-racun jamu pancasila hasil olahan Soekarno.

Begitu juga kalau Amad Sudirman menyatakan itu otak saudara Agoosh memang sudah dipenuhi oleh ramuan sejarah made in Soekarno yang kosong. Itu sama pengertiannya dengan kalau Ahmad Sudirman menyatakan itu otak Saudara Agoos otaknya otak udang. Jadi antara pengertian "otak udang" dengan "otak kosong" adalah tidak berbeda.

Seterusnya kalau Ahmad Sudirman mengatakan itu Agoosh orang Jawa, jelas sama juga dengan kalau Ahmad Sudirman mengatakan itu Agoosh orang Sunda atau orang Acheh.

Jadi, sebenarnya adanya tambahan kata yang mengandung pengertian etnis atau suku, bukan merupakan kata penghinaan atau kata merendahkan, melainkan kata penguat bagi orang tersebut.

Ahmad Sudirman beberapa kali menulis di mimbar bebas ini dengan mengatakan itu Sofyan Djalil yang orang Acheh. Tidak pernah itu Ahmad Sudirman mendapat kritikan dari Sofyan Djalil, dan merasa dihina atau direndahkan oleh adanya Ahmad Sudirman menyambungkan kata "orang Acheh" dibelakang nama Sofyan Djalil.

Selanjutnya, Ahmad Sudirman pernah menulis itu Matius orang kristen, atau itu Ahmad Sudirman orang muslim. Jelas dengan disambungkannya kata orang kristen bagi Matius dan kata orang muslim bagi Ahmad Sudirman. Jelas itu bukan suatu penghinaan atau merendahkan atau mengelompokkan berdasarkan agama. Justru dengan ditampilkannya Ahmad Sudirman orang muslim, jelas Ahmad Sudirman merasa gembira bahwa Ahmad Sudirman adalah seorang muslim yang mukmin. Begitu juga kalau memang itu Matius orang kristen, jelas ia akan merasa gembira ada yang menghargai dirinya dipanggil sebagai orang kristen.

Jadi saudara Agoosh, dengan dipopulerkan kata-kata gombal alias kosong, budek alias telinga tersumbat, buta alias mata tidak melihat, picik alias pandangan sempit, otak udang alias pikiran kurang cerdas, bodoh alias pikiran masih dibawah normal. Diharapkan tidak lagi asing kalau ditempat lain ada yang berteriak, hai Agoosh otak udang !. Itu artinya hai Agoosh yang pikirannya masih perlu diasah dengan membaca sejarah yang benar tentang Acheh bukan hanya menjiplak hasil karangan Soekarno saja. Biar nanti kalau berdebat lagi tentang Acheh melawan Ahmad Sudirman tidak lagi disebut otak udang.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 8 Feb 2005 00:45:52 -0800 (PST)
From: Agoosh Yoosran a_yoosran@yahoo.com
Subject: Re: UJUNGNYA ITU MUBA JAWA PELUK TNI UNTUK DIPAKAI ALAT MEMBUNUH RAKYAT ACHEH & MENDUDUKI ACHEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Wa'alaikum salaam,

Terima kasih atas kesediaan Bapak. Pada intinya, saya setuju forum ini diteruskan dan dipertahankan, karena ada manfaatnya. Buktinya, saya mempunyai bahan referensi baru dari penjelasan sejarah versi ASNLF yang paling tidak, saya mempunyai balancing atas sejarah yang saya dapat dan pelajari selama di bangku sekolah.

Namun kenapa saya minta agar e-mail saya dihapus dari mailing list forum ini, adalah karena isi dari komentar-komentar Bapak, terasa kurang pas buat saya pribadi. Memang saya menyadari bahwa forum ini merupakan mimbar bebas, namun buat saya pribadi, etika berkorespondensi pun harus tetap dijaga.

Kesan saya selama mengikuti forum ini adalah, Bapak terlalu mendikte orang lain yang mempunyai pemikiran berbeda dengan Bapak dengan menambahkan kata-kata hinaan seperti "budek", "otak udang", "orang jawa", "orang kristen" dan sebagainya itulah yang saya rasa kurang pas. Bukan saya tidak terima kritikan, tapi kritikan atau sanggahan itu menurut saya pribadi dapat disampaikan dengan cara yang lebih baik, elegan dan beretika.

Be fair, orang-orang Indonesia kelahiran tahun 60an (mungkin lebih tua lagi) banyak yang tidak tahu mengenai sejarah berdirinya NKRI. Sejarah yang saya pelajari dan menurut saya mayoritas generasi saya pelajari adalah sejarah bahwa NKRI adalah dari Sabang sampai Merauke. Mengenai lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi adalah lebih dikarenakan besarnya campur tangan asing dan kurang siapnya tim lobby-lobby Indonesia di dunia internasional. Karena selalu menganggap bahwa persoalan disintegrasi bangsa Indonesia adalah persoalan dalam negeri saja, tanpa mempertimbangkan bahwa peranan Public Relation Indonesia di luar negeri sangat penting.

Kekalahan Indonesia pada saat jajak pendapat di Timor Timur adalah kekalahan diplomasi para diplomat kita di luar negeri. Sebenarnya pekerjaan diplomasi tersebut harus bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh para Duta Besar kita di negara-negara sahabat, dengan lobby-lobby yang kuat di negara-negara sahabat, posisi Indonesia di pergaulan internasional akan semakin kuat dan diperhitungkan.

Masalah Aceh, terlepas dari adanya "pendzoliman" terhadap sejarah yang sesungguhnya dari asal muasal Aceh menjadi bagian NKRI, diplomasi Indonesia masih kurang terlihat di dunia internasional dibandingkan para petinggi ASNLF yang ada di Swedia sana. Lobby-lobby yang langsung ke negara-negara Eropa yang sangat baik, makin melemahkan posisi Indonesia di mata internasional. Hal ini lebih karena, bahwa masalah Aceh adalah masalah dalam negeri Indonesia. Menurut saya pribadi, hal tersebut adalah kesalahan terbesar Indonesia. Jika tidak dimulai sejak dini lobby-lobby para diplomat kita ke negara-negara atau lembaga-lembaga internasional, someday, saya yakin, jika jajak pendapat dilakukan di bumi Aceh, Aceh akan lepas dari Indonesia dan Indonesia akan menelan pengalaman pahit kedua setelah Timor Timur.

Dunia internasional, terutama negara-negara barat, sangat tidak suka jika ada sebuah negara (sebesar dan seluas Indonesia) menjadi rukun, damai dan sejahtera. Buat mereka, akan lebih mudah menguasai Indonesia jika Indonesia tidak sebesar sekarang. Mereka akan lebih melakukan penetrasi jika berhadapan dengan raja-raja kecil daripada harus menghadapi satu raja besar. Contohnya Cina, Amerika pun tidak akan berani sewenang-wenang terhadap Cina. Kalau Indonesia sudah terbagi-bagi menjadi negara-negara kecil, maka dengan mudahnya imperialisme merajai bumi pertiwi ini.

Dengan era globalisasi saat ini, yang diperlukan sekarang adalah rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh, dan bukan rasa saling membenci satu sama lain, rasa ingin menang sendiri, rasa bahwa merasa diri yang paling benar dan sejenisnya.

Anyway, saya rasa saya sudah terlalu banyak berkomentar dan untuk itu, saya cukupkan dulu komentar saya saat ini, dan insya ALLAH kita sambung di waktu-waktu mendatang.

Wassalamu'alaikum.

Agoosh Yoosran

a_yoosran@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------