Stockholm, 11 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HEDIYANTO, KALAU MENGIKUTI JALUR PROSES PERTUMBUHAN NII ACHEH TIDAK MASUK WILAYAH NII JAWA BARAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAMBANG HEDIYANTO, ITU KALAU MENGIKUTI JALUR PROSES PERTUMBUHAN & PERKEMBANGAN NII ACHEH TIDAK MASUK WILAYAH NII JAWA BARAT

"Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 memaklumatkan Negeri Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila atau negara RI atau NKRI. (Ahmad Sudirman, 10 Februari 2005). Yang belum dijelaskan secara detail adalah bahwa sejak tanggal tersebut di atas, secara de facto dan de jure Aceh menjadi bagian dari Daulah Islamiah Indonesia yang diproklamasikan 7 Agustus 1949 / 12 Syawal 1368, tepat pada saat Indonesia vacum Kekuasaan - menyerah kepada Belanda. Dus ini berarti bahwa Aceh adalah merupakan wilayah kekuasaan Daulah Islamiah Indonesia, bukan kekuasaan NKRI maupu ASNLF. Daulah Islamiah Indonesia, sampai saat ini masih berdiri dengan tegaknya. Jadi, Aceh adalah wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah Indonesia yang diobok-obok oleh RI - Sukarno dan ASNLF - Hasan Tiro." (Bambang Hediyanto, heda1912@yahoo.com , Thu, 10 Feb 2005 18:34:24 -0800 (PST))

Baiklah saudara Bambang Hediyanto atau Hedaya di Jakarta, Indonesia.

Kalau dari cara mempelajari dan mendalami seperti apa yang dikemukakan dan disimpulkan oleh saudara Bambang Hediyanto itu, maka akan timbul penafsiran dan pengambilan kesimpulan yang salah fatal. Mengapa ?

Karena, saudara Hediyanto kelihatan tidak memahami dan mengerti bagaimana itu jalur proses pertumbuhan dan perkembangan NII yang diproklamasikan oleh Imam SM Kartosoewirjo di Jawa Barat dan NII yang dimaklumatkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh di Acheh.

Dimana menurut fakta dan bukti yang ada pada pihak NII memang dari pihak Imam SM Kartosoewirjo telah menjadikan wilayah Acheh sebagai wilayah TII Divisi V-Tjik di Tiro dengan mengangkat dan di bai'at Teungku Muhammad Daud Beureueh (a.i) sebagai Panglima Divisi TII Divisi V-Tjik di Tiro pada tahun 1953 oleh Panglima Tertinggi Angkatan Perang NII (S.M.K.).

Dimana Panglima Tertinggi Angkatan Perang NII (S.M.K.) adalah Abdul Fattah Wirananggapati (almarhum) yang tertangkap sepulang membai'at Teungku Muhammad Daud Beureueh, diasingkan ke Nusakambangan, lalu pada tahun 1963 dibebaskan setelah Soekarno mengeluarkan amnesti abolisi tahun 1961, tetapi pada tahun 1975 ditangkap kembali oleh pihak RI dan dibebaskan tahun 1983, diangkat sebagai Imam NII penerus Imam NII SM Kartosoewirjo pada tahun 1987 berdasarkan Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT) Nomor 11 tahun 1959, dari sejak itu NII dijaharkan melalui Attibyan yang ditulis oleh Abdul Fattah Wirananggapati pada tanggal 13 Mei 1987 yang dipublikasikan oleh Eksekutif Sentral Daulah Islam Indonesia Bidang Publikasi Ummat (Eksen Disina) pada tanggal 15 Mei 1987.

Nah, memang pada tahun 1953 secara de-jure dan de-facto wilayah NII Acheh merupakan bagian NII Jawa Barat dibawah Imam SM Kartosoewirjo.

Tetapi ternyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan NII di Acheh selanjutnya kelihatan bahwa pada tanggal 8 Februari 1960 diputuskanlah pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang berbentuk federasi yang diantara anggota Negara Bagiannya adalah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara dan M. Natsir Cs, NII Acheh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh, Perjuangan Semesta (Permesta), yang mana RPI ini dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara sebagai Presiden RPI.

Dimana ide untuk membangun Negara yang berbentuk federasi yang didalamnya terdiri dari berbagai aliran yang terdapat dalam setiap Negara bagian Federasi ini disponsori oleh M.Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara dengan tujuan untuk menampung sebanyak mungkin Daerah-Daerah lainnya yang menginginkan berdiri sendiri dan bergabung dalam RPI sebagai alternatif dari Negara Kesatuan Republik Indonesia made in Soekarno. Ide yang dilontarkan oleh M.Natsir ini diterima oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sehingga NII masuk menjadi Negara bagian Republik Persatuan Indonesia (RPI).

Nah, dari sini sudah kelihatan, bahwa dengan masuknya NII Acheh pada tanggal 8 Februari 1960 menjadi Negara Bagian RPI dibawah M Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, maka secara de-jure dan de-facto NII Acheh telah terlepas dari NII Jawa Barat dibawah Imam SM Kartosoewirjo. Dan wilayah TII Divisi V-Tjik di Tiro secara de-jure dan de-facto tidak lagi masuk kedalam wilayah NII Jawa Barat, melainkan telah hilang dan masuk menjadi wilayah de-jure dan de-facto RPI.

Kemudian dalam proses pertumbuhan dan perkembangan RPI yang didalamnya ada NII selanjutnya, ternyata RPI tidak bertahan lama. Karena pada tanggal 17 Agustus 1961, Presiden RPI Sjafruddin Prawiranegara menyerah kepada Soekarno. Tetapi sebelum Republik Persatuan Indonesia (RPI) bubar pada tanggal 17 Agustus 1961, itu NII Acheh dibawah pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureueh keluar dari RPI dan membentuk Republik Islam Acheh (RIA) pada tanggal 15 Agustus 1961.

Disini lagi kelihatan makin jelas, bahwa yang namanya NII Acheh dari sejak 20 September 1953, ternyata telah menjelma menjadi Republik Islam Acheh (RIA) pada tanggal 15 Agustus 1961.

Sedangkan NII Imam SM Kartosoewirjo masih tetap berdiri sendiri berjuang menghadapi gempuran pasukan TNI dari Siliwangi jawa Barat. Sampai Imam SM Kartosoewirjo tertangkap pada tanggal 4 Juni 1962 dan mencapai syahidnya pada tanggal 16 Agustus 1962 ketika dijatuhkan hukuman mati terhadapnya.

Nah sekarang, dengan mendasarkan kepada fakta, bukti, sejarah tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan NII Acheh dan NII Jawa Barat itu, maka bisa ditarik garis lurus bahwa dari tahun 1953 sampai tanggal 7 Februari 1960 wilayah NII Acheh secara de-facto dan de-jure merupakan wilayah NII Jawa Barat. Dari 8 Februari 1960 sampai 14 Agustus 1961 NII secara de-facto dan de-jure merupakan Negara Bagian RPI. Dari tanggal 15 Agustus 1961 sampai Desember 1962 NII yang menjelma menjadi RIA secara de-jure dan de-facto berdiri sendiri. Dan pada bulan Desember 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh dan RIA-nya mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diselenggarakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. Dimana Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh ini adalah merupakan prosesnya lanjutan dari taktik Soekarno dengan amnesti dan abolisi yang ditawarkan kepada mereka yang dianggap menentang Soekarno dengan NKRI-nya yang dilambungkan sampai batas akhir 5 Oktober 1961.

Dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh ke Masyarakat dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh tersebut membuktikan secara de-jure dan de-facto RIA yang diperjuangkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh telah hilang, karena telah dianggap kembali kepada NKRI dengan pancasilanya.

Setelah Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan RIA-nya dianggap selesai oleh Soekarno, ternyata 14 tahun kemudian, pada tanggal 4 Desember 1976, Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ASNLF (Acheh Sumatra National Liberation Front) tampil untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI dalam bentuk deklarasi ulangan berdirinya Negara Aceh Sumatera.

Nah, dari apa yang diungkapkan diatas kelihatan bahwa pihak ASNLF tidak mengobok-obok NII Acheh ataupun Negeri Acheh, sebagaimana yang disimpulkan oleh saudara Hediyanto diatas yang berbunyi: "Aceh adalah wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah Indonesia yang diobok-obok oleh RI - Sukarno dan ASNLF - Hasan Tiro".

Dan jelas, itu wilayah de-facto dan de-jure NII Acheh yang telah menjelma menjadi RIA tidak lagi merupakan wilayah de-facto dan de-jure NII Jawa Barat berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 10 Feb 2005 18:34:24 -0800 (PST)
From: Bambang Hediyanto heda1912@yahoo.com
Subject: Re: M NUR ITU, TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH PEJUANG BESAR ISLAM ACHEH TETAPI MUDAH DIJERAT TIPU LICIK SOEKARNO, ------ ACEH ADALAH WILAYAH KEKUASAAN DAULAH ISLAMIAH INDONESIA -------
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 memaklumatkan Negeri Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila atau negara RI atau NKRI. (Ahmad Sudirman, 10 Februari 2005)

Yang belum dijelaskan secara detail adalah bahwa sejak tanggal tersebut di atas, secara de facto dan de jure Aceh menjadi bagian dari Daulah Islamiah Indonesia yang diproklamasikan 7 Agustus 1949 / 12 Syawal 1368, tepat pada saat Indonesia VACUM Kekuasaan - menyerah kepada Belanda. Dus ini berarti bahwa Aceh adalah merupakan wilayah kekuasaan Daulah Islamiah indonesia, bukan kekuasaan NKRI maupu ASNLF. Daulah Islamiah Indonesia, sampai saat ini masih berdiri dengan tegaknya.

Jadi, ACEH ADALAH WILAYAH KEKUASAAN DAULAH ISLAMIAH INDONESIA yang diobok-obok oleh RI - Sukarno dan ASNLF - Hasan Tiro.

Regard

Hedaya

heda1912@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------