Stockholm, 11 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

FAUZAN & PABUM, ITU SEKARANG ACHEH DIJAJAH RI, BUKAN RI DIJAJAH SEGELINTIR TAIPAN CINA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

FAUZAN & PABUM, ITU YANG JELAS SEKARANG ACHEH SEDANG DIJAJAH RI, BUKAN RI YANG DIJAJAH SEGELINTIR TAIPAN ORANG CINA

"Bang Ahmad Sudirman. Berikut ini terusan tulisan pabum; menurut abang apakah ini hanya omong kosong meski bahasanya bahasa pasaran?" (Fauzan, fzn_1@yahoo.com , Thu, 10 Feb 2005 18:14:27 -0800 (PST))

"Mereka sebenarnya tidak suka kekerasan, tetapi trick bisnis mereka tanpa aturan, menaikkan harga semaunya, tidak wajar katakanlah megambil untuk 10% sesuai norma etika. Mereka banyak omong tetapi hatinya penakut, menjilat penguasa, dan yang paling payah menjilat pantat ABRI. Paling payah lalu mencuri, berapa yang dilarikan oleh Eddy Tanzil dan kakaknya, berapa kekayaan indonesia yang sudah di transfer oleh Liem Soie Liong ke RRC, oleh Prayoga Pangestu, oleh Bob Hasan, oleh Haryati Murdaya, oleh The Nan King, untuk memakmurkan negara RRC ataupun Singapura?." (Pabum, pabum@yogya.wasantara.net.id , Thu, 10 Feb 2005 18:14:27 -0800 (PST))

Baiklah saudara Fauzan di Istanbul, Turki dan saudara Pabum di Yogyakarta, Indonesia.

Sebenarnya dalam tulisan sebelum ini Ahmad Sudirman telah menyatakan bahwa "pecahkan dulu masalah yang mendasar tentang kesukuan ini di negeri mbahnya Susilo Bambang Yudhoyono, sebelum saudara Fauzan menjiplak cara Dr Mahathir dalam menyelesaikan ekonomi di RI ini. Kalau saudara Fauzan sudah mampu dengan gemilang memecahkan masalah pembagian suku ini di RI, silahkan tampilkan obat mujarab made in Mahathir Mohammad yang telah dipakai dan diberikan kepada rakyat Malaysia itu di negara RI made in Soekarno ini." (Ahmad Sudirman, 9 Februari 2005)

Ternyata hari ini Ahmad Sudirman menerima kiriman saudara Fauzan yang melampirkan tulisan saudara Pabum dari Yogyakarta, yang isinya merupakan fenomena-fenomena tentang orang Cina di RI.

Setelah Ahmad Sudirman pelajari itu fenomena-fenomena orang Cina tersebut, ternyata isinya adalah merupakan perilaku suku minoritas yang berjuang untuk hidupnya dengan caranya sendiri untuk dapat hidup berdasarkan jalan pikiran dan ajaran-ajarannya sendiri yang sebagai warganegara RI dan yang didepan hukum mendapat perlakuan hukum yang sama.

Persoalannya sekarang, adanya kemampuan dari segelintir orang Cina dalam hidup dan bisnisnya yang disesuaikan dengan cara dan model bisnisnya sendiri telah melahirkan pengelompokan kekuatan keuangan yang menonjol dikalangan orang Cina dibanding dengan kelompok lainnya. Dan inilah yang menimbulkan perbedaan dan percikan-percikan api pertentangan dan sikap yang bertentangan antara segelintir orang cina tersebut dengan pihak atau kelompok lainnya.

Nah fenomena-fenomena ini bukan merupakan dasar untuk menyatakan bahwa RI dijajah segelintir orang Cina atau taipan-taipan Cina menjajah RI, sebagaimana yang dikatakan oleh saudara Fauzan.

Yang justru sedang menjajah sekarang adalah pihak RI terhadap Negeri Acheh, Papua dan Maluku Selatan. Kalau sekarang masalah penjajahan yang dilakukan pihak RI terhadap Acheh dialihkan oleh saudara Fauzan kepada masalah atau isu para taipan Cina menjajah RI dalam bidang keuangan, maka masalah isu penjajahan taipan Cina terhadap RI ini adalah isu yang tidak kena.

Saudara Fauzan, Ahmad Sudirman telah berkali-kali menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah pengelompokan dan pemusatan kekuatan uang dalam satu tangan atau kelompok, maka caranya melalui pengaturan hukum. Masa itu anggota lembaga Legistalif DPR, MPR dan lembaga Eksekutif Pemerintah dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan lembaga Yudikatif Peradilan bisa dikalahkan oleh hanya beberapa gelintir taipan orang Cina ? Kan suatu hal yang bodoh dan tidak masuk akal.

Mengapa Ahmad Sudirman mengatakan hal ini ? Karena itu yang namanya orang Cina di Swedia atau di Negara Eropah lainnya mana ada yang bisa menguasai kekuatan keuangan dalam tangannya atau kelompoknya sehingga bisa menyetir roda politik pemerintahan. Kecuali hanya di RI saja. Mengapa ? Karena memang itu pihak Eksekutif, TNI/Polri, Anggota lembaga Legislatif dan Yudikatif masih hijau kalau melihat buntelan rupiah yang disodorkan taipan-taipan Cina ini. Disamping itu hukum tentang KKN inipun sangsinya sangat ringan dan pelaksanaannya yang pincang.

Jadi, saudara Fauzan, apakah itu anggota DPR yang berjumlah 550 orang itu dan Pemerintah dibawah Susilo Bambang Yudhoyono tidak mampu melawan beberapa gelintir taipan Cina ini yang oleh saudara Fauzan dianggap menjajah RI ?.

Persoalananya sekarang adalah apakah itu uang sogokan para taipan dan pengikutnya atau konco-konconya yang diberikan kepada para anggota DPR, Polisi, anggota Kabinet bisa diketahui atau tidak oleh pihak Kepolisian dan pihak Kejaksaan ?.

Misalnya kalau ada taipan Cina yang bisnis judi dan Night Club atau narkoba kemudian sebagian hasilnya diberikan sebagai alat sogok kepada Polisi dan anggota hakim Kejaksaan dan beberapa wartawan, dan hal ini terus berlangsung lama, tidak ada orang yang berani melaporkan kepada Susilo Bambang Yudhoyono atau Jusuf Kalla ?

Nah, jelas contoh yang demikianlah yang terjadi sekarang di kota-kota besar di RI ini, saudara Fauzan. Makanya itu para taipan Cina ini bisa saja membentak-bentak dan menginjak-nginjak itu orang-orang Kejaksaan dan Kepolisian, karena memang asap dapurnya diisi oleh uang dari para taipan Cina ini.

Persoalannya lagi, apakah bisa dibuktikan secara hukum itu bahwa uang siluman yang diberikan oleh para taipan Cina kepada Polisi, TNI, anggota hakim Kejaksaan dan beberapa wartawan ada tanda buktinya ?. Jelas ini juga merupakan masalah yang sangat rumit. Karena mana ada itu uang silmuan diberikan tanda bukti penerimaannya.

Wajar saja kalau para taipan Cina dan para pengikutnya bisa petentengan unjuk taring kepada pihak Kepolisian, Kejaksaan, media massa dan lainnya, karena mereka telah berhasil memberikan uang siluman.

Nah sekali lagi, walaupun masalah ini adalah sangat sulit ditembus dan dibutikannya secara fakta dan hukum, tetapi kalau usaha pemberantasan KKN yang tampak dan bisa dibuktikan secara hukum bisa dijalankan dengan benar dan jujur oleh pihak Kepolisian dan Kejaksaan dan Hakim Peradilan, maka itu secara perlahan uang-uang siluman yang diobral oleh pihak taipan Cina ini akan berkurang. Apalagi kalau itu perjudian bisa dibebaskan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan kota-kota di seluruh RI.

Jadi saudara Fauzan, tidak perlu mengalihkan isu penjajahan RI terhadap Acheh, Papua dan Maluku Selatan, kepada isu taipan Cina menjajah RI. Itu isu taipan Cina menjajah RI adalah karena kesalahan mbah Soeharto, mbah Abdurrahman Wahid, mbak Megawati dan tentu saja kelemahan mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan para Jenderal TNI-nya yang bisnis dengan para taipan Cina.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 10 Feb 2005 18:14:27 -0800 (PST)
From: fauzan 1 fzn_1@yahoo.com
Subject: Cina Licik?
To: ahmad@dataphone.se

Bang Ahmad Sudirman,

Berikut ini terusan tulisan pabum; menurut abang apakah ini hanya omong kosong meski bahasanya bahasa pasaran?

Fauzan

fzn_1@yahoo.com
Istanbul, Turki
----------

pabum@yogya.wasantara.net.id

1. Sejak Majapahit, maka runtuhnya Majapahit karena masuknya Cina di Indonesia dengan cara yang halus dan tanpa kekerasan. Mereka selalu beralasan untuk perdagangan.

2. Selama penjajahan di Indonesia, Cina tidak aktif melawan penjajah tetapi hanya berdagang. Selama perjuangan 1945, tidak ada Cina yang ikut angkat senjata berperang melawan Belanda/Inggeris/Sekutu.

3. Jaman Orde lama, masih ada cina yang mau main sepakbola, menjadi pemain PSSI, sekarang tidak ada.

4. Kalau anda pernah ke negara-negara Eropa atau Amerika, pasti ada Chinesse Town. Gerak mereka dibatasi pada ruang area tertentu. Karena sangat berbahaya.

5. Kenapa berbahaya, mereka pakai ilmu binatang, jadi wataknya seperti binatang. Kalau ada keributan (api menyala) akan lari menyingkir, nanti kalau sudah tentram, akan datang lagi dan menggerogoti tanaman. Ilmu Cina, semacam Shio, ilmu silat dengan jurus2nya, berorientasi pada binatang. Bagi anda yang mempunyai kemampuan metafisika, lihat saja apa yang ada di
belakang kenampakan makam Gunung Kawi, anda nanti maklum sendiri. Obat2an Cina juga memakai elemen2 dari binatang, sedangkan obat2an pribumi dari elemen2 dedaunan.

6. Kesalahan Orde Baru yaitu terlalu mengumbar Cina sebebas bebasnya, akhirnya tanaman habis digerogoti binatang. Kami juga heran, dulu putus hubungan diplomatik dengan RRC, eeh .. tahu-tahu baikan lagi. Katanya Orba anti komunis, malah membuka hubungan diplomatik dengan negara komunis terbesar di dunia.

7. Kenapa Cina memakai nama tiga suku kata? Karena sesuai dengan keyakinan mereka, yaitu Tritunggal (Sam Kouw, campuran Konfusius, Taoisme, dan Buddhisme), juga disesuaikan dengan AUM (teori pernafasan meditasi). Kenapa jarang wanita Cina yang mau diperistri pribumi, takut kalau nanti akan terbongkar rahasia kelemahan mereka.

8. Mereka sebenarnya tidak suka kekerasan, tetapi trick bisnis mereka tanpa aturan, menaikkan harga semaunya, tidak wajar katakanlah megambil untuk 10% sesuai norma etika. Mereka banyak omong tetapi hatinya penakut, menjilat penguasa, dan yang paling payah menjilat pantat ABRI. Paling payah lalu mencuri, berapa yang dilarikan oleh Eddy Tanzil dan kakaknya, berapa kekayaan indonesia yang sudah di transfer oleh Liem Soie Liong ke RRC, oleh Prayoga Pangestu, oleh Bob Hasan, oleh Haryati Murdaya, oleh The Nan King, untuk memakmurkan negara RRC ataupun Singapura?.

9. Mereka masuk ke semua jaringan, agama, kebatinan dsb. Bahkan Yayasan Krishnamurti Indonesia juga menjadi kedok sindikasi Cina di Indonesia, termasuk Kho Ping Ho pernah menterjemahkan buku Krishnamurti. Oleh karenanya Gerakan Krishnamurti Indonesia - Yogyakarta (pribumi tulen, termasuk anak2 keluarga ABRI), merasa perlu melakukan tindakan counter attack terhadap Cina di Indonesia.

10. Mana ada Cina mau ronda. Mereka Tuhannya adalah uang. Lihat upacara kematian Cina, ada uang kertas (palsu) untuk sesaji, malaikat saja mau disogok, apalagi cuma pejabat yang hanya manusia biasa. Itulah gaya berpikir Cina di Indonesia. Mereka cuma banyak omong dan mengandalkan duwitnya. Kami dukung semua gerakan perang urat syaraf melawan sikap WNI-Cina di Indonesia.
----------